Anda di halaman 1dari 8

Penyediaan , karakterisasi dan aktivitas antibakteri dari kitosan

nanopartikel dengan minyak sereh wangi


1,2
Harry Agusnar,1,2 Cut Fatimah Zuhra dan 1,2Irwana Nainggolan
1
Departemen Kimia
Fakultas Matematika danIlmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara
2.
PUI Kitosan dan Material Maju
Universitas Sumatera Utara

Email, harryagusnar@yahoo.com

Abstrak
Penggunaan minyak esensial sebagai antimikroba sudah selalu digunakan dalam bidang kesehatan .
Telah dilakukan penelitian kitosan nanopartikel dengan minyak sereh wangi yang disiapkan dalam
larutan emulsi dengan metode ikatan silang dengan menggunakan gluraldehide. Efek minyak sereh
wangi dilihat dari konsentrasi awal glutaraldehida dan ukuran partikel kitosan serta morfologi dalam
distribusi ukuran partikel telah diselidiki. Selain itu, pengaruh parameter minyak sereh wangi dengan
kitosan nanopartikel juga dilakukan analisis uji. Pada partikel kitosan menunjukkan ukuran nano
dengan ikatan silang glutaraldehid yang digunakan. Kitosan nanopartikel tampak mengikat minyak
sereh wangi dengan kosentrasi yang berbeda dan terjadi menurun dengan adanya ikatan silang
glutaraldehid. Itu menunjukkan bahwa konsentrasi glutaraldehid tidak berpengaruh tetapi peningkatan
konsentrasi awal minyak sereh wangi meningkatkan tingkat enkapsulasi minyak esensial ini dalam
kitosan nanopartikel. Semua kitosan nanopartikel yang mengandung minyak esensial sereh wangi
menunjukkan aktivitas antimikroba yang signifikan terhadap Staphylococcus aureus ATCC
25923,Esherichia coli ATCC 25922, Candida albicans ATCC 24433 dan Enterococcus faecalis ATCC
25929. Penelitian ini menunjukkan potensi besar penggunaan kitosan nanopartikel dengan minyak
esensial sereh wangi sebagai antimikroba, terutama dalam sistem antimikroba aktif.

Kata kunci : Kitosan, nanopartikel, Sereh wangi, antibakteri,

Abstract
The use of citronella oil as an antimicrobial has always been used in the health sector. Research on
chitosan nanoparticles has been carried out with fragrant citronella oil prepared in an emulsion solution
by crosslinking method using gluraldehyde. The effect of citronella oil from the initial concentration of
glutaraldehyde and chitosan particle size and morphology in particle size distribution was investigated.
In addition, the effect of fragrant citronella oil parameters with chitosan nanoparticles was also carried
out a test analysis. The chitosan particles show the size of nano with the glutaraldehyde cross bond
used. Chitosan nanoparticles appear to bind citronella oil with different concentrations and occur
decreasing with the presence of glutaraldehyde cross bonds. It showed that the concentration of
glutaraldehyde had no effect but an increase in the initial concentration of citronella oil increased the
rate of encapsulation of this essential oil in chitosan nanoparticles. All nanoparticle chitosan containing
citronella essential oil showed significant antimicrobial activity against Staphylococcus aureus ATCC
25923, Esherichia coli ATCC 25922, Candida albicans ATCC 24433 and Enterococcus faecalis ATCC
25929. This study showed the great potential for using nanoparticle chitosan with fragrant citronella
essential oil as antimicrobial , especially in active antimicrobial systems.
Keyword : Chitosan, nanoparticle, citronella, antimicrobia
PENDAHULUAN

Minyak atsiri adalah merupakan tanaman dengan struktur yang sangat kompleks berdasarkan
pada zat terpenoid yang ada, juga mempunyai aktivitas antibakteri yang hebat [1]. Daun sereh
adalah salah satu tanaman yang mudah tumbuh di daerah katulistiwa yang diketahui
mempunyai bahan antibakteri dapat,memperbaiki kulit dengan mengurangi jerawat. Daun
sereh mempunyai substansi lipofilik yang dapat menembus membran sel bakteri. Efek
antibakteri daun sereh disebabkan adanya beberapa senyawa aktif dari daun sereh. Daun sereh
mengandung senyawa kimia yaitu alkaloid, flavonoid, dan polifenol [2]. Tanaman sereh
memiliki aktivitas antibakteri yang dapat dibuat sediaan yang aman, nyaman dan praktis untuk
digunakan pada kulit , misalnya sedian gel[3]. Penelitian ini memanfaatkan ekstrak daun
sereh(Cymbopogon nardus L. Rendle) untuk dijadikan sebagai bahan aktif sediaan gel dan
dilakukan uji kestabilan sediaan yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji
viskositas, dan uji aktivitas antibakteridengan variasi konsentrasi ekstrak 5%, 10%, 15%, 20%
dan karbopol sebagai basis gel dengan konsentrasi 0,5%, 1% dan 2%[4].
Bahan polimer alam yang dapat digunakan sebagai antibakteri adalah kitosan. Kitosan dapat
diterapkan dalam berbagai bidang industri modern, misalnya farmasi, biokimia, kosmetika,
industri pangan, dan industri tekstil. Pemerintah terus mendorong para peneliti dan praktisi
industri untuk terus memanfaatkan produk kitosan, termasuk melakukan modifikasi kitosan
secara kimia atau fisik. Modifikasi fisik pada kitosan mencakup perubahan ukuran partikel
menjadi lebih kecil untuk pemanfaatan yang lebih luas. Perkembangan modifikasi fisik
mengarah ke bentuk nano-partikel. Nanopartikel mempunyai keunggulan dibandingkan
dengan material sejenis dalam ukuran besar (bulk) karena ukuran nano-partikel memiliki nilai
perbandingan antara luas permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan
bahan sejenis dalam ukuran besar, sehingga nano-partikel bersifat lebih reaktif. Reaktivitas
material ditentukan oleh atomatom dipermukaan, karena atom-atom tersebut yang bersentuhan
langsung dengan material lain [5]. Penelitian nano-kitosan sampai saat ini masih terus
dikembangkan, baik dalam penentuan komposisi maupun pencarian metode yang sesuai.
Pembuatan nano-kitosan yang stabilitas tinggi memerlukan metode yang cukup sulit, maka
dilakukan metode yang efektif dan sederhana untuk membuat nano kitosan dengan tingkat
keseragaman ukuran dan stabilitas yang tinggi. Pembuatan nanokitosan menggunakan metode
gelasi ionik dan pengecilan ukuran (sizing) dalakukan karena prosesnya yang sederhana dan
dapat dikontrol dengan mudah. Penelitian ini bertujuan untuk membuat nano-kitosan melalui
proses gelasi ionik serta pengecilan ukuran (sizing) dengan magnetic stirrer dan menentukan
karakteristik nano-kitosan meliputi morfologi dan ukuran nano-partikel[6]. Pada penelitian ini
adalah untuk mengeksplorasi potensi chitosan sebagai pembawa enkapsulasi minyak sereh
wangi. Untuk tujuan ini, dilihat efek dari konsentrasi minyak sereh wangi dan ikatan silang
glutaraldehida pada ukuran partikel dan distribusi ukuran, morfologi dan enkapsulasi efisiensi.
Pengujian aktivitas antimikroba in vitro dioptimalkan nanopartikel kitosan dan minyak minyak
sereh wangi itu sendiri, serta untuk mengontrol nano kitosan kosong dan sebagai
pembandingkan.

BAHAN DAN METODE

Kitosan berbobot molekul menengah (75–85% derajat deasetilasi ), dibuat dari Laboratorium
Penelitian FMIPA USU . Asam asetat, asam laktat, dan glutaraldehid dibeli dari E. Merck
Chemicals Co. (Darmstadt, Jerman). Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan nano-
kitosan terdiri dari NaOH serbuk, asam asetat (CH3 COOH), akuades, HCl, Natrium
Tripoliphospat (TPP), dan surfaktan (Tween 80). Bahan-bahan lain meliputi bahan untuk
analisis karakteristik kitosan, nano-kitosan, dan proksimat terdiri dari gliserol, methanol, asam
borat, K2 SO4, HgO, H2 SO4, dan HNO3 . Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
magnetic stirer, spray drying (Labconco), Particle Size Analyzer (PSA) (DelsaTM Nano,
Cordoun), Viscometer (Brookfield LV), Fourier Transform Infrared Spectrophotometer (FTIR)
(Bruker Tensor Tipe MBQ00), Scanning Electron Microscopy (SEM) (JEOL JSM-6360-LA).

Penyediaan Nano Kitosan

Nano-kitosan dibuat menggunakan metode gelasi ionik, yaitu kompleksasi polilektrolit antara
kitosan yang bermuatan positif dengan tripolifosfat yang bermuatan negatif. Larutan kitosan
konsetrasi 0,2% dibuat dengan cara melarutkan kitosan kedalam larutan asam asetat 1%,
kemudian dihomogenkan menggunakan magnetic stirrer pada suhu ruang selama 1 jam.
Larutan Tripolyphosphate (TPP) konsentrasi 0,1% dibuat dengan cara melarutkan TPP
kedalam akuades, kemudian disaring untuk menghilangkan sisa partikel tidak terlarut. Nano-
kitosan dibuat dengan cara: larutan kitosan sebanyak 50 mL dituangkan ke dalam beaker,
kemudian diaduk menggunakan magnetic stirrer. Larutan TPP pada pada rasio volume kitosan
TPP 5:1 ditambahkan secara perlahan-lahan ke dalam larutan kitosan, sehingga terbentuk
suspensi nano-partikel. Pengadukan terus dilanjutkan selama 1 jam agar proses ikatan silang
berlangsung sempurna. Suspensi nano-partikel yang terbentuk kemudian dikarakterisasi.

Karakterisasi Kitosan

Larutan suspensi kitosan nano-partikel yang terbentuk kemudian dilakukan karakterisasi


dengan partikel size analisis (PSA) menggunakan sinar tampak yang ditembakkan dan
memanfaatkan prinsip penghamburan cahaya tampak . Analisis morfologi dilakukan dengan
Scanning Elektron Microscope (SEM) menggunakan elektron dan cahaya tampak sebagai
sumber cahayanya. Elektron menghasilkan gelombang yang lebih pendek dibandingkan cahaya
foton dengan ukuran 0,1 nm dan menghasilkan gambar dengan resolusi yang lebih agar
hasilnya terlihat jelas harus dilakukan pelapisan dengan emas yang bersifat konduktor [7]

Analisis Aktivitas Antibakteri

Untuk tujuan pengujian in vitro aktivitas antimikroba pada minyak sereh wangi dan Nano
kitosan dengan mkinyak sereh wangi digunakan bakteri standar dan jamur (ATCC - American
Type Culture Koleksi): Staphylococcus aureus ATCC 25923, Esherichia coli ATCC 25922,
Candida albicans ATCC 24433 dan Enterococcus faecalis ATCC 29212. Alat yang digunakan
dalam penelitian ini disterilkan terlebih dahulu dalam oven pada suhu 170°C selama kira-kira
satu jam (sterilisasi kering). Media disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 25
menit (sterilisasi basah). Bahan yang digunakan ialah: Brain Heart Infusion Broth (BHI-B),
Nutrient Agar (NA), media Brian Heart Infusion Broth (BHI-B), larutan baku Mc Farland
(terdiri atas dua komponen yaitu larutan BaCl2 1% dan H2SO4 1%)[8].
HASIL DAN PEMBAHASAN

Produksi Kitosan dari Cangkang Belangkas

Produksi kitin dari cangkang belangkas menghasilkan rendemen 20% dan kitosan diperoleh
dari kitin sebanyak 70%. Sebanyak 2000 g cangkang belangkas yang melalui proses
demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi dihasilkan kitosan sebanyak 400.4 g sehingga
rendemen kitosan sebesar 20%. Rendemen yang dihasilkan cukup besar karena pada proses
demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi tidak banyak kitin dan kitosan yang hilang oleh
pelarut maupun saat hidrolisis. Proses pencucian dan penetralan dengan akuades juga
dilakukan secara hati-hati sehingga penyusutan bobot kitin dan kitosan dapat dikurangi. Dan
ini sudah memenuhi standart kitosan [9].

Uji Scaning Elektron Mikroskop (SEM)

Untuk mengetahui besarnya partikel pada umumnya menggunakan SEM dilihat dari analisis
gambar atau beberapa jenis penghitungan partikel. Berdasarkan hasil uji SEMmenunjukkan
bahwa nilai rata-rata ukuran nano kitosan yaitu . Menurut Mohanraj [10] mengemukakan
bahwa nanopartikel merupakan partikel yang berbentuk padat dengan kisaran ukuran 10-1000
nm. Metode preparasi sangat berpengaruh dalam teknologi pembuatan nanopartikel.
Pengecilan ukuran dengan magnetic stirrer dapat menghasilkan partikel yang lebih stabil
dengan ukuran yang lebih merata, dibawah 1000 nm, bahwa pengaruh pengecilan ukuran
partikel dengan magnetic stirrer pada kecepatan tinggi dapat menyamaratakan energy yang
diterima oleh seluruh bagian larutan, sehinnga ukuran partikel semakin homogen. Penambahan
tripolipospat yang tepat dapat menurunkan ukuran nanopartikel dan meningkatkan kekuatan
matriks kitosan sehingga membuat nanopartikel semakin kuat dan sulit terpecah. Larutan
kitosan yang telah tercampur dengan tripolipospat ditambah dengan Tween 80.

Gambar 1. Permukaan kitosan nanopartikel dari SEM dengan perbesaran


10000 kal
Analisis Fourir Tranformasi Infra Merah

Pada gambar 2, menunjukkan spektrum FTIR dari Kitosan nanopartikel dimana bilangan
gelombang antara 3,462 cm-1 dan 3,441 cm-1 terkait dengan vibrasi peregangan gugus amino
dari NH-amina. Bilangan gelombang antara 1.632 cm-1 dan 1.597 cm-1 berhubungan dengan
gugus karbonil yang dikaitkan dengan C = C peregangan kelompok amina aromatik terkait
dengan peregangan serat karbon dalam protein[11] Ini menunjukkan bahwa kitosan yang
digunakan adalah kitosan nanopartikel
100
90
80
70
60

3931.42
3913.84
3882.06
3866.73
3833.91
3800.90
3780.05
3759.94
3716.24
3684.12
3443.87

3107.52

2927.59
2883.55

2399.70
2319.35

2157.96

1658.45
1557.46

1424.26
1378.54
1317.44
1259.38
1204.10
1157.62
1116.55
1072.02
1024.26
951.18
895.65

750.82
702.20
611.16

3500 3000 2500 2000 1500 1000 500


Wavenumber cm-1

C:\OPUS_7.0.129\PPKS\EK\K BLK.4 K BLK Instrument type and / or accessory 17/04/2015

Gambar 2. Spektrum FTIR Kitosan Nanopartikel


Page 1/1
Uji Aktivitas Antibakteri

Uji efek anti jamur dari kitosan nanopartikel ditunjukkan pada Gambar 3 menunjukkan ada
efek anti-jamur Penggunaan kitosan nanopartikel dan sereh wangi didapati ada nilai zona
hambat yang diperoleh pada (A2, A4, dan A5) diuji terhadap E. coli, E. coli O157: H7, P.
aeruginosa, S. aureus, dan MRSA, telah ditunjukkan pada gambar 3 jika diamati dari zona
inhibisi dihitung sebagai nilai rata-rata dalam menunjukkan bahwa kitosan nanopartikel
mampu menghambat aktivitas antibakteri serupa terhadap Gram-negatif dan Bakteri gram
positif. Karena ukuran mereka nano partikel bisa dengan mudah mencapai ke segala arah
karena didapati luas permukaan yang besar, di mana kontak dengan bakteri adalah yang
terbesar.74,75 Ini bisa menjadi alasan mengapa nanopartikel ini memiliki efek antibakteri
terbaik [12].

Ganbar 3. Aktivitas antibakteri dengan kitosan nanopartikel dan minyak sereh


Kesimpulan

Kitosan nanopartikel berhasil disiapkan dari cangkang belangkas. Pada Spektrum serapan
UV-terlihat menunjukkan karakteristik puncak dari ikatan resonansi permukaan plasmon
Pada SEM menunjukkan bahwa morfologi eksternal untuk kitosan nano partikel telah diukur
dan didapati menujukkan nano. Aktivitas antibakteri yang berbeda telah menunjukkan
antibakteri yang kuat aktivitas melawan bakteri Gram-positif dan Gram-negatif.
Hasil ini menunjukkan bahwa resistensi antibakteri dapat dimodifikasi sesuai dengan ukuran
dan menurun dengan peningkatan ukuran partikel. Daya hambat bakteri menunjukkan tinggi
sekali bahan gabungan kitosan dan minyak sereh wangi
DAFTAR PUSTAKA

[1]. Jamekhorshid, A., Sadrameli, S.M., Farid, M., 2014. A review of microencapsulation
methods of phase change materials (PCMs) as a thermal energy storage (TES) medium.
Renew.Sust. Energ. Rev. 31, 531-542.

[2]. Donsi, F., Annunziata, M., Sessa, M., Ferrari, G., 2011. Nanoencapsulation of essential
oils to enhance their antimicrobial activity in foods. LWT - Food Sci. Technol. 44, 1908-
1914.
[3]. S. Karaman, M. Digrak, U. Ravid, A.,2001.Ilcim, Antibacterial and antifungal activity of
The essential oils of Thymus revolutus Celak from Turkey, J. Ethnopharmacol. 76.183–
186.
[4]. X Huang, Y Feng, Y Huang and H Li.,2013. Chemical composition, antioxidant and the
possible use as skin-care ingredient of clove oil (Syzygium aromaticum (L.) Merr. &
Perry) and citronella oil (Cymbopogon goeringii) from China. J. Essent. Oil Res.,
25, 315-23.
[5]. WC Hsieh, CP Chang and YL Gao.,2006. Controlled release properties of chitosan
encapsulated volatile citronella oil microcapsules by thermal treatments. Colloids Surf. B
Biointerfaces ; 53, 209-14.

[6]. F. Bakkali, S. Averbeck, D. Averbeck, M. Idaomar., 2008. Biological effects of essential


oils –A review, Food Chem. Toxicol. 46 : 446–475.

[7]. W.C. Hsieh, C.P. Chang, Y.L. Gao., 2006. Controlled release properties of chitosan
encapsulated volatile citronella oil microcapsules by thermal treatments, Colloids
Surfaces, B 53: 209–214.

[8]. Chen, S.P.; Wu, G.Z.and Zeng, H.Y., 2005.Preparation of high antimicrobial activity
thiourea chitosan-Ag+ complex. Carbohydr. Polym., 60, 33 38.

[9]. Kyriacou SV, Brownlow WJ, Xu XN., 2004. Using nanoparticle optics assay for direct
observation of the function of antimicrobial agents in single live bacterial cells.
Biochemistry;43:140–147.
[10]. Lara HH, Ayala-Nuñez NV, Ixtepan-Tur rent L, Rodriguez- Padilla C.,2010. Mode of
antiviral action of silver nanoparticles against HIV-1. J Nanobiotechnology ;8:1–10.

[11]. Shameli K, Ahmad MB, Yunus WMZW.,2010. Green synthesis of silver/


montmorillonite/ chitosan bionanocomposites using the UV irradiation method and
evaluation of antibacterial activity. Int J Nanomedicine. 5:875–887.

[12]. Holtz RD, Filho AGS, Brocchi M, Martins D, Durán N, Alves OL.,2010. Development
of nanostructured silver vanadates decorated with silver nanoparticles as a novel
antibacterial agent. Nanotechnology;21:1–8.