Anda di halaman 1dari 39

2017

MODUL PEMETAAN
TOPOGRAFI

PT. Suropati Hidro Energi


Jalan Cisitu Lama Komplek Sangkuriang No. A2
Bandung Telp. (022) 2504665
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... 1


1. PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 2
2. PEMBUATAN TITIK KONTROL PEMETAAN....................................................................... 3
3. PENGUKURAN KERANGKA DASAR.................................................................................... 5
a. Kerangka Dasar Horisontal ...................................................................................................... 5
b. Kerangka Dasar Vertikal Metode Sipat Datar ...................................................................... 10
c. Kerangka Dasar Vertikal Metode Trigonometris................................................................. 18
5. PENGUKURAN DETAIL SITUASI ........................................................................................ 26
a. Perlengkapan ........................................................................................................................... 26
b. Penentuan Titik Detail ............................................................................................................ 26
c. Pengukuran Titik Detail .......................................................................................................... 28
d. Perhitungan Titik Detail ......................................................................................................... 30
6. PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA ........................................................................... 32
a. Pengolahan Data ..................................................................................................................... 32
b. Penyajian Data ........................................................................................................................ 36
REFERENSI ....................................................................................................................................... 38

1
1. PENDAHULUAN

Pemetaan merupakan proses pembuatan dan penggambaran dari


sebagian maupun seluruh permukaan bumi pada bidang dua dimensi
dengan menggunakan skala dan sistem proyeksi tertentu (Soendjojo dan
Riqqi, 2012). Peta dengan informasi ketinggian disebut sebagai peta
topografi. Sejalan dengan perkembangan teknologi hasil
akhir dari kegiatan pemetaan tidak hanya berupa peta
cetak dua dimensi saja, namun dapat berupa peta digital
yang dengan mudah dapat mengatur skala, dapat di
gabungkan dengan data lain untuk analisis lebih lanjut,
dan lebih mudah untuk diperbarui. Peta topografi
merupakan peta yang merepresentasikan posisi
horisontal dan vertikal dari objek-objek alam maupun
buatan manusia yang berada pada permukaan bumi
yang dipetakan sesuai dengan maksud dan tujuan
pembuatan peta (Soendjojo dan Riqqi, 2012).

Peta topografi dapat disebut juga sebagai peta dasar karena peta
topografi menyajikan semua unsur yang ada pada permukaan bumi, dan
peta topografi dapat digunakan sebagai dasar (base map) dalam
pembuatan peta tematik untuk berbagai tujuan. Peta topografi yang
akan dihasilkan dalam format digital sehingga dapat dengan mudah
diintegrasikan dengan data lain, seperti data jaringan drainase yang
sudah ada, jaringan jalan, dan pembangunan di area pekerjaan.

Pemetaan topografi dapat dilakukan


dengan berbagai metode, baik secara
terestris maupun ekstraterestris. Pada
modul ini akan dibahas mengenai
metode pemetaan topografi secara
terestris menggunakan alat berupa
Total Station. Pada dasarnya Total
Station merupakan alat ukur sudut
dan jarak menggunakan prinsip laser,
sudut dan jarak yang didapatkan akan
dijadikan masukan dalam menghitung
koordinat setiap titik yang dipetakan.

2
2. PEMBUATAN TITIK KONTROL PEMETAAN

Sebelum pelaksanaan survei pemetaan terlebih dahulu dilakukan survei


pendahuluan atau rekonaisans dan monumentasi atau pembuatan titik
kontrol pemetaan. Survei pendahuluan dilakukan untuk mencari lokasi
yang terbaik untuk penempatan titik-titik kontrol pemetaan serta
mengumpulkan informasi terkait yang diperlukan nantinya untuk proses
monumentasi maupun pengukuran/pengamatan. Proses monumentasi
dimaksudkan untuk membuat monumen/tugu/Benchmark yang
merepresentasikan titik kontrol di lapangan.

Lokasi titik kontrol yang dipilih sebaiknya


memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Distribusinya sesuai dengan desain jaringan
yang telah dibuat,
b. Kondisi dan struktur tanahnya yang stabil,
c. Mudah dicapai (lebih baik dengan kendaraan
bermotor) dan mudah ditemukan kembali,
d. Sebaiknya ditempatkan di tanah milik negara,
e. Tidak mengganggu (terganggu oleh) fasilitas
dan utilitas umum,
f. Ditempatkan pada lokasi pekerjaan sehingga monumen tidak mudah
terganggu atau rusak, baik akibat gangguan manusia, binatang,
ataupun alam,
g. Penempatan titik pada suatu lokasi juga harus memperhatikan
rencana penggunaan lokasi yang bersangkutan dimasa yang akan
datang,
h. Titik-titik kontrol harus dapat diikatkan ke beberapa titik yang telah
diketahui koordinatnya dari orde yang lebih tinggi, untuk keperluan
perhitungan, pendefinisian datum, dan penjagaan konsistensi dan
homogenitas dari datum dan ketelitian titik-titik dalam jaringan.

Untuk pengamatan dengan sistem navigasi berbasis satelit (GNSS),


persyaratan berikut harus diperhatikan:
a. Mempunyai ruang pandang langit yang bebas ke segala arah di atas
elevasi 15o,
b. Jauh dari objek-objek reflektif yang mudah memantulkan sinyal GPS,
untuk meminimalkan atau mencegah terjadinya multipath,
c. Jauh dari objek-objek yang dapat menimbulkan interferensi elektris
terhadap penerimaan sinyal GPS.

Jika pada proses rekonaisans posisi titik kontrol yang telah direncanakan
harus dipindah karena ternyata lokasi tersebut tidak baik dan memadai

3
untuk pelaksanaan pengamatan, pihak pelaksana harus membuat
laporan kepada petugas penanggung jawab teknis untuk memastikan
bahwa perubahan tersebut tidak akan mempengaruhi fungsi titik
kontrol. Dalam proses pelaksanaan rekonaisans ini, untuk setiap lokasi
titik tim lapangan harus mengisi secara lengkap semua informasi yang
diminta pada formulir rekonaisans titik pada saat berada di lokasi,
termasuk :
a. Sketsa lokasi yang akurat dan deskripsi lokasi ,
b. Aksesibilitas (pencapaian) lokasi,
c. Diagram obstruksi,
d. Foto dari empat arah (utara, timur, selatan, dan barat) sehingga bisa
didapatkan gambaran latar belakang lokasi dari setiap arah.

Berikut adalah contoh pilar/BM dengan klasifikasi orde 4:

4
3. PENGUKURAN KERANGKA DASAR

Kerangka Dasar Pemetaan merupakan titik-titik yang memiliki nilai


koordinat fiks atau nilai koordinatnya dicari terlebih dahulu sebelum
melakukan pemetaan situasi. Fungsi dari kerangka dasar pemetaan
adalah sebagai referensi atau acuan posisi dari setiap titik yang
dipetakan, sebagai pengikat titik-titik yang dipetakan, dan sebagai acuan
dari kegiatan setelah pemetaan seperti rekonstruksi, pembangunan,
monitoring, dan lain sebagainya (Soedomo, A. S., 2004).

Pengukuran kerangka dasar pemetaan umumnya terbagi menjadi dua,


pengukuran untuk kerangka dasar horisontal dan pengukuran untuk
kerangka dasar vertikal.

a. Kerangka Dasar Horisontal

1. Pembuatan Kerangka

Titik-titik kerangka untuk pembuatan kerangka dasar horizontal dibuat


sedemikian rupa sehingga sudut-sudut dalam yang terbentuk tidak sama
dengan 180o. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembedaan sudut
yang didapatkan, apakah itu sudut dalam atau sudut luar.

2. Spek Teknis Pengukuran

- Melakukan pengukuran untuk salah indeks di awal dan di


akhir untuk setiap harinya.
- Pengukuran sudut dalam keadaan teropong biasa dan luar
biasa.
- Selisih antara βBiasa dan βLuarBiasa ≤ 20”

3. Teknis Pengukuran

a. Alat yang diperlukan :


- ETS
- Reflektor
- Statif
- Baterai cadangan
- Formulir pengukuran
- Sketsa kerangka dasar

5
b. Dirikan alat seperti sketsa dibawah ini :

1 3

i. Dirikan ETS pada titik 2, lakukan centering dan leveling :


- Buat statif kira-kira
mendatar dan berada
dia atas paku/pin dari
patok
- Letakan ETS pada statif
- Dekatkan tanda
lingkarang pada alat
dengan titik pada
patok dengan cara
menggeserkan statif
- Jika sudah mendekati,
antara tanda lingkaran
dan titik pada patok,
putar kiap untuk
menghimpitkannya
- Nivo kotak center-kan
dengan cara naik-turun
statif secara halus
- Nivo tabung center-kan dengan memutar kiap
 2 kiap sejajar alat
 Putar 90o alat terhadap 2 kiap sejajar pertama, putar kiap
ketiga
 (jika belum center, maka ulang dari 2 kiap sejajar lagi lalu
putar 90o lagi)
- Putar ke sembarang arah untuk mengecek apakah gelembung
pada nivo tabung sudah di tengah
- Nivo tabung, nivo kotak sudah center, cek antara titik pada
patok dan tanda lingkarang di alat apakah masih berhimpit
atau tidak, jika tidak, longgarkan alat lalu geser (lakukan
translasi)

ii. Dirikan reflector di titik 1 dan 3, lakukan centering dan leveling


pada reflektor

6
iii. Lakukan pengukuran salah indeks, bidik suatu objek yang
jaraknya jauh sehingga terlihat hanya „titik‟, baca dalam kondisi
teropong biasa dan luar biasa
iv. Lakukan bidikan terhadap simpul benang pada reflector untuk
mendapatkan nilai sudut vertical dan jarak (SD) serta bidik tanda
Δ pada reflector untuk mendapatkan nilai sudut horizontal
v. Bidik titik 1 dalam keadaan biasa, catat bacaan SD, vertical, dan
horizontal
vi. Bidik titik 3 dalam keadaan biasa, catat bacaan SD, vertical, dan
horizontal
vii. Bidik titik 3 dalam keadaan luar biasa, catat bacaan SD , vertical
dan horizontal
viii. Bidik titik 1 dalam keadaan luar biasa, catat bacaan SD , vertical
dan horizontal
ix. Jika ketika diputar kondisi luar biasa nivo tabung bergeser, maka
atur dengan memutar kiap lagi
x. Cek toleransi sudut dalam hasil bacaan biasa (βBiasa ) dan sudut
dalam hasil bacaan luar biasa (βLuar Biasa):

ǀ βBiasa – βLuar Biasa ǀ ≤ 20”

Jika tidak memenuhi toleransi, maka lakukan pengukuran ulang


xi. Pindahkan ETS dengan cara :
Lepas ETS dari kunci tribragh, biarkan statif tetap berada di
tempatnya. Lepas reflector yang ada di titik 1 (statif tetap berada
di tempat) sehingga tidak diperlukan centering dan pemasangan
statif seperti di awal. Sedangkan statif pada titik 3, pindahkan
statif dengan reflektornya ke titik selanjutnya, sebut saja itu titik 4
sesuai dengan rencana pengukuran
xii. Lakukan pengukuran seperti langkah diatas hingga semua titik
terselesaikan dan telah sesuai dengan toleransi sudutnya
xiii. Lakukan pengukuran untuk salah indeks di akhir pengukuran

4. Pengisian Formulir Data Ukuran

- Pengisian formulir harus menggunakan pulpen


- Tulisan tidak terlalu besar (masih ada space kosong, sehingga bisa
dipakai untuk menulis ketika terjadi kesalahn
pembacaan/penulisan), tidak terlalu kecil, dan jelas untuk dibaca
- Kesalahan dalam penulisan, hanya boleh dicoret sekali (360o
menjadi 359o 20‟ 31”)
- Penulisan sudut hingga detik (359o 20‟ 31.02” dituliskan 359o 20‟
31”)
- Penulisan jarak hingga ketelitian mm (3 angka dibelakang koma)

7
- Isi secara lengkap bagian “identitas”
- Jika ada medan yang sulit dan pengukuran tidak yakin, berilah
tanda berupa keterangan pada tempat tersebut
- Membuat sketsa kerangka untuk memudahkan analisis data (cek
hasil sudut luar atau sudut dalam)

5. Pengolahan Data Kerangka Dasar Horizontal

a. Menghitung salah indeks dan salah kolimasi


Salah indeks dan salah kolimasi adalah kesalahan sistematik yang
bersumber dari alat ukur yang digunakan, dalam hal ini adalah
ETS (Electronic Total Station), karena kesalahan tersebut bersifat
sistematic maka nilainya dapat diestimasi menggunakan
persamaan matematis, kemudian dikoreksikan terhadap nilai
ukuran sehingga didapatkan satu nilai yang sudah terhindar dari
kesalahan sistematik berupa salah indeks dan salah kolimasi.

Salah indeks digunakan untuk mengoreksi sudut vertikal


sedangkan salah kolimasi digunakan untuk mengoreksi sudut
horisontal. Berikut penghitungannya:

- Masukan data pengukuran dari formulir pengukuran kedalam


ms. excel
- Hitung salah ideks dengan rumus :

Salah indeks:

- Lakukan pada setiap bacaan sudut vertikal dengan salah indeks

VS = VU – si

Salah indeks yang digunakan adalah salah indeks yang telah


dirata-ratakan, salah indeks awal dan akhir

- Hitung sudut dalam (β) dengan bacaan sudut yang telah


dikoreksi dengan salah indeks dan jarak horizontal (HD)
- Jarak horizontal yang dipakai adalah HD rata-rata dari kondisi
teropong biasa dan luar biasa.

8
Sedangkan untuk menghitung salah kolimasi menggunakan
rumus:

NB: Salah kolimasi tidah perlu dihitung jika pembacaan sudut


dilakukan dalam keadaan biasa dan luar biasa.

6. Penamaan Titik Kerangka Dasar

Terdiri dari 4-6 digit untuk BM dan 2-3 digit untuk titik poligon,
(XXXXYY) untuk nama BM XXXX umumnya kode yang dapat
menjelaskan lokasi (misal dekat masjid maka MSJD atau di Cilegon
maka CLGN) dan YY untuk nomor urut BM di lokasi tersebut.
Sedangkan nama titik poligon umumnya merupakan kode titik dan
nomor urut titik seperti P01, P02, P03, dst. atau S01, S02, dst.

7. Keselamatan Untuk Pengukuran KDH

a. Alat

Jika terjadi gerimis ataupun hujan :


- alat ETS segera di payungi dan dipasangkan sarung pembungkus
(rain cover) alat yang ada pada box. Setelah dipasangkan,
pindahkan dan simpan ETS pada box.
- Refelektor juga dipindahkkan ke dalam box. Namun prioritas
utama adalah ETS, karena reflekor tidak akan rusak jika terkena
air, sedangkan ETS akan sangat sensiitif karena adanya komponen
elektronik pada ETS.

Ketika memindahkan alat, jika medan:


- licin, lumpur, terjal, alat (ETS dan reflektor) disimpan kembali ke
dalam box nya untuk menghindari jatuhnya alat.

9
- Jika medan di rasa aman untuk berjalan dan jarak perpindahan
tidak terlalu jauh, maka alat ETS dan reflektor boleh dibawa
tanpa box. Jika ETS terpasang dengan statif, maka ETS dibawa
di pundak dalam posisi miring untuk menjaga prisma alat tetap
dalam kondisi yang baik.

b. Data

- Lakukan pemotretan formulir pencatatan data pengukuran


setelah selesai melakukan pengukuran sebagai data back up jika
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
- Simpan formulir pengukuram dalam map yang waterproof.

8. Perhatian Teknis

- Pengukuran dan pembacaan data untuk KDH (centering,


pembacaan sudut dan jarak) dilakukan oleh satu orang saja. Hal ini
ditujukan untuk menghasilkan data yang konsisten sehingga
nantinya akan mendapatkan hasil pengkuran yang akurat dan
presisi.
- Pencatatan data dilakukan oleh satu orang saja untuk menjaga
keakuratan data.
- Setelah data dicatat, pengukur diminta mengulangi kembali untuk
menyebutkan data bacaan pengukuran. Hal ini ditujukan untuk
menghindari terjadinya kesalahan pembacaan dan pencatatan data
hasil pengukuran.
- Jika pengukuran KDH dan KDV dilakukan bersamaan, maka
kemungkinan akan terdapat kekurangan statif tempat berdiri
reflektor. Reflektor ini nantinya bisa diganti dengan benang
berunting-unting yang dipasang pada kaki tiga.

b. Kerangka Dasar Vertikal Metode Sipat Datar

1. Kelengkapan Alat

Alat yang harus dibawa ketika melakukan pengkuran sipatdatar,


antara lain:
a. Waterpass/Sipatdatar 1 buah
b. Statif 1 buah
c. Rambu ukur 2 buah
d. Stratpot 2 unit
e. Formulir pengukuran
f. Papan jalan dan alat tulis 1 set
g. Payung

10
2. Persiapan Pengukuran

a. Penempatan Alat

1. Dirikan rambu ukur pada dua titik yang akan diukur beda
tingginya dengan menggunakan stratpot.

Stratpot digunakan jika kondisi tanah tempat meletakkan rambu


tidak stabil, penggunaan stratpot harus konsisten jika rambu
depan menggunakan rambu belakang juga harus menggunakan.

2. Letakkan alat sipat datar di antara titik rambu didirikan.


- Tempatkan pada tempat yang relatif stabil.
- Tempat alat tidak harus pada garis lurus atau sejajar dari
kedua rambu.
- Tempatkan sedemikian rupa, dengan kira-kira jarak ke rambu
belakang dan depan sama.
- Jika tempat yang akan digunakan berada pada medan yang
miring, letakkan 2 kaki statif di bagian yang lebih rendah dan
1 kaki di bagian yang lebih tinggi

3. Setelah alat sipat datar didirikan, atur menggunakan statif


terlebih dahulu untuk menempatkan gelembung nivo mendekati
lingkaran tengah.
4. Gunakan bantuan kiap untuk menempatkan gelembung nivo
tepat pada lingkaran tengah.

b. Pembacaan Rambu

Prosedur pembacaan rambu dilakukan dengan membaca bacaan


tengah dari rambu belakang terlebih dahulu, kemudian bacaan
atas, dan bacaan bawah. Setelah itu baru membaca rambu muka.

- Pastikan nilai orde desimeter (dm) pada pembidikan, yaitu nilai


yang ditunjukan dengan angka
- Tentukan nilai orde centimeter (cm), dengan melihat posisi
benang tengah pada kotak merah keberapa.
- Tentukan nilai orde millimeter (mm), dengan memperkirakan
posisi benang.
- Ulangi untuk pembacaan benang atas dan bawah.
- Lakukan dengan satu kali pembidikan.

11
c. Kesalahan Garis Bidik

Kesalahan yang besar pengaruhnya dalam pengukuran metoda ini


adalah kesalahan garis bidik, yaitu kesalahan akibat dari
pendataran garis bidik yang tidak baik.

Besar salah garis bidik, diamati dengan cara sebagai berikut :


- Alat ditempatkan condong pada rambu pertama, lakukan
pendataran alat
- Lakukan pembacaan data, yang terdiri dari BT , BA dan BB ke
arah kedua rambu
- Pindahkan alat pada tempat II (condong ke rambu kedua),
lakukan pendataran alat
- Lakukan pembacaan data, yang terdiri dari BT , BA dan BB ke
arah kedua rambu

12
di mana :
C = besar kesalahan garis bidik
Di = 100 ( BAi – BBi )
I = dudukan i ( I , II )

Bila C = 1 mm/m , berarti besarnya kesalahan pembacaan BT


adalah 1 mm untuk jarak alat ke rambu sebesar 1 m. Untuk jarak
ke rambu adalah 10 m, maka kesalahan pembacaan adalah
sebesar 10 mm.

3. Prosedur Pengukuran

Setelah melakukan penempatan dan pendataran (levelling) alat,


langkah-langkah yang harus dilakukan untuk pengkuran KDV adalah
sebagai berikut:

i. Pengukuran dilakukan dengan


membidik rambu belakang terlebih
dahulu, kemudian mencatat benang
tengah, benang atas, dan benang
bawah dalam satu kali pembidikan.
Pembacaan bacaan tengah, atas, dan
bawah dilakukan sekaligus dengan
mata tetap melihat ke teropong.
ii. Pengukuran dilakukan dengan
mengarahkan alat ke rambu depan,
kemudian membidiknya, dan melakukan pencatatan sama seperti
sebelumnya.
iii. Melakukan double stand, dengan cara memindahkan sedikit posisi
alat sipat datar dan melakukan lev elling kembali.
iv. Pembidikan dilakukan terhadap rambu muka terlebih dahulu,
kemudian mencatat benang tengahnya saja.

4 langkah di atas dilakukan pada setiap slag

v. Pengukuran dilakukan dengan memindahkan semua alat ke posisi


pengukuran slag berikutnya. Untuk alat rambu ukur, gunakan
sistem rambu loncat.

13
Sistem ini dapat memperkecil/menghilangkan pengaruh kesalahan
yang bersumber dari peralatan yaitu salah nol rambu dan
perbedaan titik tempat rambu dari titik sebelumnya.
vi. Ulangi langkah 1 s.d. 5.

4. Ketentuan Teknis Pengukuran

a. Jarak rambu dengan alat sipat datar minimal 2,5 meter.


b. Pembacaan skala rambu yaitu maksimal 2,5 meter.
c. Untuk mengurangi kesalahan sistematis, perbedaan jarak alat
dengan rambu belakang dan rambu depan ± 2 m.
d. Pembacaan ketiga benang diafragma (BA, BT, BB) toleransi kontrol
bacaan harus memenuhi :

| BT−((BA+BB)/2)| ≤ 2mm

Dimana:
BT = Bacaan Benang Tengah
BA = Bacaan Benang Atas
BB = Bacaan Benang Bawah

e. Beda tinggi pada stand 1 dan stand 2,


toleransi perbedaan yang
diperbolehkan harus memenuhi :

| ΔBT1 – ΔBT2 | ≤ 2mm

ΔBT = Beda tinggi yang diperoleh dari pengukuran stand 1


ΔBT = Beda tinggi yang diperoleh dari pengukuran stand 2

Jika nilai beda tinggi pada stand 1 dan stand 2 lebih dari 2 mm,
membuat stand 3 dengan prosedur yang sama dengan double
stand dan hanya dibaca bacaan tengahnya saja kemudian dipilih 2
bacaan dengan selisih terkecil untuk dirata-ratakan.
f. Pengukuran dilakukan dengan pergi-pulang pada satu hari yang
sama, dan toleransi yang diperbolehkan untuk perbedaan
ketinggian antara pengukuran pergi dan pengukuran pulang harus
memenuhi:
𝝈 = 15√d
d = Jarak pergi atau pulang pengukuran (km)

Jarak yang digunakan adalah jarak terpendek dari pengukuran


pergi atau pulang.

14
g. Perhitungan toleransi pergi dan pulang dilakukan untuk metode
yang sama yaitu sipat datar dan ETS.
h. Toleransi salah penutup untuk satu kring untuk setiap pengukuran
pergi dan pengukuran pulang harus memenuhi:
𝝈 = 15√d
d = Jarak pergi atau pulang pengukuran (km)

Jarak yang digunakan adalah jarak terpendek dari pengukuran


pergi atau pulang.

5. Ketentuan Teknis Lapangan

a. Setiap surveyor harap mematuhi titik awal dilaksanakannya


pengukuran yang sudah disepakati dalam briefing sebelum
pengukuran berlangsung.
b. Setiap surveyor diharap memperhatikan durasi pengukuran total
dalam melaksanakan pengukuran KDV secara pergi pulang. Jika
durasi sudah menunjukkan setengah dari durasi total pengukuran
diharap segera melakukan pengukuran KDV untuk sesi pulang.
Atau dengan kata lain durasi total dibagi menjadi dua untuk
melaksanakan pengukuran KDV sesi pergi dan pulang.
c. Pengukuran kesalahan garis bidik dilakukan dua kali setiap
melakukan pengukuran yaitu sebelum memulai pengukuran dan
setelah pengukuran dan harus dilakukan di tempat
pengukuran/pemetaan. Nilai koreksi garis bidik yang akan
digunakan dalam proses perhitungan adalah hasil rata-rata dari
kedua pengukuran.
d. Setiap surveyor harap memperhatikan kondisi cuaca saat
melakukan pengukuran, jika langit dirasa mulai mendung
diharapkan segera melakukan pengukuran pulang. Jika sudah
terlanjur hujan pengukuran harap dihentikan, jika memungkinkan
untuk menunggu hingga reda kembali silahkan melanjutkan
pengukuran ulang, tetapi jika pengukuran tidak bisa dilanjutkan
pengukuran harus diulang dari awal. Tetapi data hasil pengukuran
sebelumnya jangan dihilangkan, dan bisa digunakan sebagai
pembanding data pengukuran selanjutnya.
e. Setiap rambu harap diletakkan di atas stratpot.
f. Karena rambu tidak dilengkapi dengan nivo maka cara memegang
rambu harap diperhatikan sehingga benar-benar tegak, cara
memegang ini diharapkan dengan menggunakan kedua tangan
tanpa menutupi bacaan saat pembidikan pada rambu.

15
g. Jika cuaca sedang panas dan terik, diharapkan untuk memayungi
alat sipat datar yang digunakan.
h. Pengukuran dan pembacaan data untuk KDV (levelling,
pembacaan benang) dilakukan oleh satu orang saja. Hal ini
ditujukan untuk menghasilkan data yang konsisten sehingga
nantinya akan mendapatkan hasil pengkuran yang akurat dan
presisi.
i. Pencatatan data dilakukan oleh satu orang saja untuk menjaga
keakuratan data.
j. Setelah data dicatat, pencatat diminta mengulangi kembali untuk
menyebutkan data bacaan pengukuran. Hal ini ditujukan untuk
menghindari terjadinya kesalahan pembacaan dan pencatatan data
hasil pengukuran.

6. Pengisian Formulir Pengukuran

a. Untuk semua pengisian formulir, diharapkan ditulis dengan


menggunakan bolpoin.
b. Tulisan tidak terlalu besar (masih ada space kosong, sehingga bisa
dipakai untuk menulis ketika terjadi kesalahan
pembacaan/penulisan), tidak terlalu kecil, dan jelas untukdibaca
c. Jika terjadi kesalahan dalam penulisan pada formulir cukup dicoret
tanpa menghilangkannya.
d. Pengisian data pada formulir untuk bacaan tengah, atas, dan
bawah serta jarak dan beda tinggi menggunakan satuan desimeter.
e. Penulisan data hingga ketelitian mm (2 angka dibelakang koma).
f. Bagian “identitas” harap diisi dengan lengkap.
g. Jika ada medan yang sulitdan pengukuran tidak yakin, berilah
tanda berupa keterangan pada tempat tersebut.
h. Pembaca rambu diharapkan menggunakan angka yang jelas tanpa
menyebutkan jenis angka ratusan, puluhan atau satuan.

Contoh : 35,8 dm dibaca tiga lima koma delapan bukan tiga


puluh lima koma delapan.

i. Membuat sketsa pengukuran dan disertakan dalam formulir


pengukuran.

7. Pengolahan Data

a. Jarak optis dapat diperoleh dengan

D = 100 x (BA-BB)

16
b. Beda tinggi
Untuk menyatakan perbedaan tinggi dari slag adalah sebagai
berikut:
ΔH = BT1 – BT2

dimana:
ΔH = beda tinggi slag
BT1 = bacaan benang tengah rambu belakang
BT2 = bacaan benang tengah rambu muka

c. Koreksi garis bidik pada beda tinggi slag


Berdasarkan nilai kesalahan garis bidik yang sudah didapatkan dan
nilai beda tinggi setiap slag, maka untuk koreksi pada beda tinggi
slag dapat dituliskan sebagai berikut:

Dimana:

ΔHslag= beda tinggi slag setelah dikoreksi (mm)


ΔHuslag = beda tinggi slag ukuran (mm)
Db = jarak alat ke rambu belakang (m)
Dm = jarak alat ke rambu muka (m)
C = besar salah garis bidik (mm/m)

d. Seksi (beda tinggi yang akan ditentukan ) dinyatakan sebagai:

dimana:

ΔHsseksi = beda tinggi seksi.


ΣΔHslag = jumlah beda tinggi slag yang sudah terkoreksi dalam satu
seksi tersebut.

e. Hitungan ketinggian titik


Untuk menghitung ketinggian suatu titik dari titik ikat diterapkan
persamaan:

HB = HA + ΔHAB

17
Dimana:
HB = ketinggian titik yang akan ditentukan ketinggiannya
HA = ketinggian titik yang telah diketahui ketinggiannya

ΔHAB = beda tinggi hasil ukuran

f. Hitungan rangkaian seksi dengan koreksi


Apabila pengukuran terdiri dari beberapa seksi yang titik awal dan
titik akhirnya berupa titik ikat maka akan timbul syarat geometri
yang harus dipenuhi sebagai berikut:

Hakhir - Hawal = ∑ΔHuseksi - FH


Dimana:
Hakhir = ketinggian titik akhir pengukuran
Hawal = ketinggian titik awal pengukuran
∑ΔHuseksi = jumlah beda tinggi ukuran tiap seksi
FH = salah penutup ketinggian

Bentuk kring yang digunakan menyebabkan titik awal pengukuran


akan sama dengan titik akhir pengukuran sehingga:

atau

c. Kerangka Dasar Vertikal Metode Trigonometris

1. Kelengkapan Alat

Alat yang harus dibawa ketika melakukan pengkuran sipat datar,


antara lain:
a. Ets
b. Statif 2 buah
c. Reflektor
d. Pita Ukur
e. Baterai cadangan
f. Formulir pengukuran

18
g. Papan jalan dan alat tulis 1 set
h. Payung

2. Persiapan Pengukuran

a. Penempatan Alat
i. Dirikan ETS pada titik 1 (titik awal), lakukan
2
centering dan leveling dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
- Buat statif kira-kira mendatar dan berada
dia atas paku/pin dari patok. 1 3
- Letakan ETS pada statif.
- Dekatkan tanda lingkarang pada alat dengan titik pada patok
dengan cara menggeserkan statif.
- Nivo kotak ditengahkan dengan cara naik-turun statif secara
halus.
- Jika sudah mendekati, antara tanda lingkaran dan titik pada
patok, putar kiap untuk menghimpitkannya
- Nivo tabung ditengahkan dengan memutar kiap
 2 kiap sejajar alat
 Putar 90o alat terhadap 2 kiap sejajar pertama, putar
kiap ketiga
 (jika belum center, maka ulang dari 2 kiap sejajar lagi
lalu putar 90o lagi)
- Putar ke sembarang arah untuk mengecek apakah gelembung
pada nivo tabung sudah di tengah
- Nivo tabung, nivo kotak sudah center, cek antara titik pada
patok dan tanda lingkarang di alat apakah masih berhimpit atau
tidak, jika tidak, longgarkan alat lalu geser (lakukan translasi)

ii. Dirikan reflector di


titik 2, lakukan
centering dan
leveling pada
reflektor

19
b. Salah Indeks
Perhitungan salah indeks dengan rumus:
- Untuk sudut zenit

- Untuk sudut miring

Keterangan:
ZB = Bacaan susut vertikal zenit biasa
ZLB = bacaan sudut vertikal zenit luar biasa
mB = Bacaan sudut vertikal miring biasa
mLB = Bacaan sudut vertikal miring luar biasa

3. Prosedur Pengukuran

1. Lakukan pengukuran salah indeks, bidik suatu objek yang jaraknya


jauh sehingga terlihat hanya seperti titik, baca dalam kondisi
teropong biasa dan luar biasa. (Bisa dengan membidik Reflektor)
2. Lakukan pengukuran tinggi alat ETS dan juga reflektor dengan
menggunakan pita ukur kemudian catat hasilnya.
3. Lakukan bidikan terhadap simpul benang pada reflector untuk
mendapatkan nilai sudut vertical dan jarak (SD) dengan
pendekatan dari kanan.
4. Bidik titik 2, catat bacaan SD, HD, VD, dan sudut vertikal.
5. Lakukan prosedur 3 dan 4 untuk melakukan pembidikan reflektor
dengan pendekatan dari kiri (seri ganda), cukup membaca SD, dan
sudut vertikal saja.
6. Jika ketika diputar kondisi luar biasa nivo tabung bergeser, maka
atur dengan memutar kiap lagi
7. Pindahkan ETS dengan cara :
Lepas ETS dari kunci tribragh, biarkan statif tetap berada di
tempatnya. Lepas reflector yang ada di titik 1 (statif tetap berada di
tempat) sehingga tidak diperlukan centering dan pemasangan statif
seperti di awal.
8. Lakukan pengukuran seperti langkah diatas hingga semua titik
terselesaikan.

20
9. Untuk pengukuran pulang lakukan semua langkah di atas tetapi
dengan membalik posisi ETS pada titik 2 dan reflektor pada titik 1.

4. Ketentuan Teknis Pengukuran

a. Pengukuran dilakukan dengan seri ganda yaitu pembacaan


dilakukan dengan pendekatan kanan dan kiri.
b. Selisih antara bacaan sudut vertikal pada bacaan pertama dan
kedua harus memenuhi syarat

V1 - V2 ≤ 20”

c. Perbedaan jarak miring yang didapat melalui bacaan melalui


pendekatan kanan dan kiri (seri ganda) melalui harus memenuhi
persyaratan:

|SD1 − SD2 | ≤ 2mm

Dengan:
SD1 = Jarak miring yang diperoleh dari bacaan pertama
SD2 = Jarak miring yang diperoleh dari bacaan kedua

d. Perbedaan jarak vertikal yang didapat melalui bacaan jarak vertikal


dari ETS dan juga hitungan dengan sudut vertikal harus memenuhi
persyaratan:

|VD1 − VD2 | ≤ 2mm

Dengan:
VD1 = Jarak vertikal yang diperoleh dari bacaan langsung ETS
(VD)
VD2 = Jarak vertikal yang diperoleh dari perhitungan dengan
sudut vertikal

e. Pengukuran dilakukan dengan pergi-pulang pada satu hari yang


sama, dan toleransi yang diperbolehkan untuk perbedaan
ketinggian antara pengukuran pergi dan pengukuran pulang harus
memenuhi:

21
𝝈 = 15√d mm
Dimana:
d = Jarak mendatar pergi atau pulang pengukuran (km)

Jarak yang digunakan adalah jarak terpendek dari pengukuran


pergi atau pulang hasil perhitungan jarak mendatar dengan sudut
vertikal. Dalam hal ini pengukuran pergi adalah pengukuran beda
tinggi dari titik 1 ke titik 2 dan pengukuran pulang adalah dari titik
2 ke titik 1.

f. Perhitungan toleransi pergi dan pulang dilakukan untuk metode


yang sama yaitu sipat datar dan ETS.
g. Toleransi salah penutup untuk satu kring untuk setiap pengukuran
pergi dan pengukuran pulang harus memenuhi:

𝝈 = 15√d mm
Dimana:
d = Jarak pergi atau pulang pengukuran (km)

Jarak yang digunakan adalah jarak terpendek dari pengukuran


pergi atau pulang.

5. Ketentuan Teknis Lapangan

a. Keselamatan pengukuran:
Jika terjadi gerimis ataupun hujan :
- alat ETS segera di payungi dan dipasangkan sarung pembungkus
alat yang ada pada box. Setelah dipasangkan, pindahkan dan
simpan ETS pada box.
- Refelektor juga dipindahkkan ke dalam box. Namun prioritas
utama adalah ETS, karena reflekor tidak akan rusak jika terkena
air, sedangkan ETS akan sangat sensitif karena adanya
komponen elektronik pada ETS.

Ketika memindahkan alat, jika medan


- licin, lumpur, terjal, alat (ETS dan reflektor) disimpan kembali ke
dalam box nya untuk menghindari jatuhnya alat.

22
- Jika medan di rasa aman untuk berjalan dan jarak perpindahan
tidak terlalu jauh, maka alat ETS dan reflektor boleh dibawa
tanpa box. Jika ETS terpasang dengan statif, maka ETS dibawa
di pundak dalam posisi miring untuk menjaga prisma alat tetap
dalam kondisi yang baik.

b. Pengukuran salah indeks cukup dilakukan satu kali saja setiap


melakukan pengukuran yaitu sebelum memulai pengukuran atau
setelah pengukuran dan harus di tempat pengukuran dalam satu
hari yang sama.
c. Setiap surveyor harap memperhatikan kondisi cuaca saat
melakukan pengukuran, jika langit dirasa mulai mendung
diharapkan segera melakukan pengukuran pulang. Jika sudah
terlanjur hujan pengukuran harap dihentikan, jika memungkinkan
untuk menunggu hingga reda kembali silahkan melanjutkan
pengukuran ulang, tetapi jika pengukuran tidak bisa dilanjutkan
pengukuran harus diulang dari awal. Tetapi data hasil pengukuran
sebelumnya jangan dihilangkan, dan bisa digunakan sebagai
pembandung data pengukuran selanjutnya.
d. Pengukuran dan pembacaan data untuk KDV (centering, pmbacaan
sudut dan jarak) dilakukan oleh satu orang saja. Hal ini ditujukan
untuk menghasilkan data yang konsisten sehingga nantinya akan
mendapatkan hasil pengkuran yang akurat dan presisi.
e. Pencatatan data dilakukan oleh satu orang saja untuk menjaga
keakuratan data.
f. Setelah data dicatat, pencatat diminta mengulangi kembali untuk
menyebutkan data bacaan pengukuran. Hal ini ditujukan untuk
menghindari terjadinya kesalahan pembacaan dan pencatatan data
hasil pengukuran.
g. Jika cuaca sedang panas dan terik, diharapkan untuk memayungi
alat sipat datar yang digunakan.

6. Prosedur Pengisian Formulir

a. Pengisian formulir harus menggunakan pulpen.


b. Tulisan tidak terlalu besar (masih ada space kosong, sehingga bisa
dipakai untuk menulis ketika terjadi kesalahan
pembacaan/penulisan), tidak terlalu kecil, dan jelas untuk dibaca

23
c. Kesalahan dalam penulisan, hanya boleh
dicoret sekali (60o menjadi 59o 20‟ 31”)
d. Penulisan sudut hingga detik (59o 20‟
31.02” dituliskan 59o 20‟ 31”)
e. Pengisian data pada formulir untuk jarak
mendatar, jarak miring dan beda tinggi
menggunakan satuan desimeter.
f. Penulisan jarak hingga ketelitian mm (2
angka dibelakang koma).
g. Isi secara lengkap bagian “identitas”
h. Jika ada medan yang sulit dan
pengukuran tidak yakin, berilah tanda berupa keterangan pada
tempat tersebut
i. Membuat sketsa kerangka untuk memudahkan analisis data.

7. Pengolahan Data

a. Lakukan koreksi salah indeks pada setiap bacaan sudut vertical


dengan salah indeks

Vs = Vu - si
Keterangan:
Vs = sudut vertikal setelah dikoreksi
Vu = sudut vertikal ukuran

b. Lakukan perhitungan rata-rata dari sudut vertikal dan jarak miring


(SD) dari bacaan satu dan bacaan dua dengan cara:

c. Lakukan pengukuran HD dan VD atau jarak mendatar dan beda


tinggi untuk semua titik dengan cara:
- Untuk sudut vertikal sebagai sudut zenit

HD = SD sin z
VD = SD cos z

24
- Untuk sudut vertikal sebagai sudut miring

HD = SD cos m
VD = SD sin m

Sudut vertikal yang digunakan adalah sudut yang sudah dikoreksi


dengan salah indeks dan juga sudah dirata-rata antara bacaan satu
dan bacaan dua. SD (jarak miring) yang digunakan adalah jarak
yang sudah dirata-rata dari bacaan satu dan bacaan dua.

d. Pengukuran beda tinggi antar titik.


Beda tinggi yang didapat sebelumnya adalah beda tinggi antar
teropong ETS dan reflektor sehingga untuk mendapatkan beda
tinggi antar titik dapat dilakukan dengan cara:

BT = TA + VD – TR

Keterangan:
BT = Beda tinggi antara titik 1 dan 2 (dm)
TA = Tinggi ETS (dm)
VD = Jarak vertikal antara titik 1 dan 2 (dm)
TR = Tinggi Reflektor (dm)

VD
TA

BT TR
1

25
5. PENGUKURAN DETAIL SITUASI

Pengukuran titik detail situasi merupakan pengukuran atau penentuan


posisi dari titik-titik detail. Titik detail merupakan titik-titik yang
membentuk unsur-unsur penyusun bentuk alam maupun buatan. Unsur-
unsur tersebut dapat berupa rumah, jalanan, pohon, dan sebagainya.
Kuantitas titik detail yang ada bergantung kepada :

1. Skala peta
2. Kondisi lapangan
3. Tujuan penggunaan peta

Objek yang harus tergambar/disajikan pada peta :

1. Relief muka bumi (topografi daerah)


2. Objek muka Bumi (secara umum) yang perlu diketahui oleh
pembaca peta, baik objek alam maupun buatan.

a. Perlengkapan

Pada pengukuran titik detail situasi, peralatan yang digunakan adalah:


1. ETS
2. Statif
3. Jalon
4. Prisma
5. Unting-unting
6. Pita Ukur
7. Payung
8. Alat Tulis

b. Penentuan Titik Detail

1. Penggambaran sketsa kasar


Acuan dalam penentuan titik detail dimana setiap
pojok/pembentuk unsur alam/buatan pada dasarnya akan menjadi
titik detail. Dalam penggambaran sketsa kasar, sebaiknya
digambarkan juga :

26
- Letak titik-titik kerangka
- Perkiraan dari titik kerangka yang mana akan dilakukan
pengukuran titik detail.

2. Penentuan titik detail


Unsur yang termasuk dalam titik detail bergantung pada
- Skala
Contoh pengukuran suatu area dengan output peta skala
1:500. Dengan ketelitian ±0,5 mm, maka ukuran terkecil
yang digunakan sebagai ukuran suatu benda yang masuk ke
dalam detail adalah 25 cm, atau 1 mm di peta sama dengan
500 mm di lapangan atau 0,5 m, maka objek di lapangan
dengan ukuran setengah dari 0,5 m atau 25 cm harus
terpetakan.
- Kepentingan Unsur
Walaupun kecil dan tidak masuk ke dalam skala, apabila
unsur tersebut penting, maka unsur tersebut harus masuk ke
dalam pengukuran titik detail

3. Penentuan simbol yang digunakan


Sebaiknya dilakukan oleh satu orang sehingga tidak ada
kebingungan antara satu simbol dan simbol lainnya. Simbolisasi
dibuat supaya mudah dibaca oleh pengguna sehingga ia haruslah
mewakili objek aslinya namun tetap sederhana.

4. Penomoran titik detail


Penomoran titik detail akan dilakukan bersamaan dengan
pengukuran titik detail.

Titik Tinggi

Untuk titik tinggi, skala juga merupakan hal penentu daerah


manakah yang harus diukur ketinggiannya. Untuk skala 1 : a,
dengan ketentuan a/2000=b, maka kira-kira setiap ada beda
tinggi (interval) b m, harus dilakukan pengukuran untuk
mendapatkan hasil kontur yang sesuai. Walaupun begitu,
penentuan pengukuran ketinggian dapat dilakukan secara kasat
mata saja dengan memperhatikan daerah yang cukup berubah

27
ketinggiannya dan kepentingan dari unsur tersebut. Apabila
merupakan puncak suatu daerah, sebaiknya diukur.

c. Pengukuran Titik Detail

1. Data
Elemen yang diukur selama pengambilan data titik detail adalah :
- Tinggi ETS
- Tinggi Reflektor
- Sudut Horizontal (H)
- Sudut Vertikal (V)
- Horizontal Distance (HD)
- Slope Distance (SD)
- Vertical Distance (VD)

Untuk metode penggunaan ETS, sama seperti saat dilakukan


pengukuran Kerangka Dasar Horizontal (KDH) dan Kerangka
Dasar Vertikal (KDV).

2. Metode
Pengukuran Titik Detail dilakukan dengan Metode Backsight. Hal
ini dikarenakan dalam perhitungannya, diperlukan tidak hanya
sudut dan jarak namun azimuth dan jarak. Metode Backsight
bertujuan untuk memudahkan mendapatkan hasil akhir berupa
azimuth dari arah utara ke titik detail.

Metode Backsight merupakan metode


dimana 0 alat di-setting pada suatu titik
kerangka lain dari titik kerangka tempat
melakukan pengukuran. Pengukuran kali ini
dilakukan dengan perputaran kerangka
searah jarum jam dengan backsight pada titik
kerangka sebelum titik kerangka tempat
melakukan pengukuran.

Pada Gambar di atas, kotak oranye merupakan titik kerangka dan


titik hijau merupakan titik detail. Titik 2 merupakan tempat
mendidikan alat dan titik 1 merupakan tempat melakukan 0 set.

28
- Dirikan ETS pada salah satu titik kerangka tempat melakukan
pengukuran.
Pada ilustrasi di atas, titik 2 adalah titik tempat pendirian alat
- Lakukan centering dan leveling
- Perhitungan salah indeks dan kolimasi
- Dirikan reflektor pada titik kerangka sebelumnya setelah
dilakukan centering dan leveling
Pada ilustrasi di atas, titik 1 adalah titik tempat reflektor
- Bidik ETS ke reflektor dan lakukan 0 set, kunci horizontal
- Buka kunci horizontal, bidik ETS ke prisma tempat titik detail
berada
- Baca dan catat data-data yang perlu. Pengukuran hanya
dilakukan satu kali.
- Lakukan untuk semua titik detail

Untuk titik detail yang tidak dapat diukur dari titik kerangka dasar
manapun, maka harus digunakan Metode Titik Bantu, dimana
pengukuran dilakukan ke suatu titik detail yang akan dijadikan
tempat berdiri alat untuk mengukur titik detail lainnya.

d. Prosedur Pengisian Formulir

1. Pengisian formulir harus menggunakan pulpen


2. Tulisan tidak terlalu besar (masih ada space kosong, sehingga bisa
dipakai untuk menulis ketika terjadi kesalahan
pembacaan/penulisan), tidak terlalu kecil, dan jelas untuk dibaca
3. Kesalahan dalam penulisan, hanya boleh dicoret sekali (60o 0‟ 1”
menjadi 59o 20‟ 31”)
4. Penulisan sudut hingga detik (59o 20‟ 31.02” dituliskan 59o 20‟
31”)
5. Pengisian data pada formulir untuk jarak mendatar (HD), jarak
miring (SD) dan beda tinggi (VD) menggunakan satuan meter
6. Penulisan jarak hingga ketelitian mm (3 angka dibelakang koma)
7. Isi secara lengkap bagian “identitas”
8. Jika ada medan yang sulit dan pengukuran tidak yakin, berilah
tanda berupa keterangan pada tempat tersebut
9. Membuat sketsa kerangka untuk memudahkan analisis data.

29
Berikut adalah contoh tabel atau formulir pengukuran titik detail
situasi:

e. Penghitungan Titik Detail

Sebelum melakukan perhitungan titik detail, setiap sudut


horizontal dan vertikal sudah harus dikoreksi dengan salah indeks
dan salah kolimasi.

Perhitungan Titik Detail dilakukan menggunakan Metode Polar.


Pencarian Sudut Azimuth dilakukan dengan mencari terlebih
dahulu azimuth setiap dua titik kerangka. Titik-titik kerangka yang
fix sebelumnya harus sudah dihitung dengan metode perataan dari
hasil pengukuran KDH. Perhitungan Azimuth dilakukan dengan
rumus :

αji = arc tan ((xi- xj)/(yi- yj))

Setelah diketahui setiap azimuth untuk kerangka, dapat diketahui


azimuth untuk setiap daerah titik detail dengan melihat dari sketsa
kasar. Contohnya pada Gambar di
bawah untuk titik detail yang diambil
dari titik kerangka 5 dengan backsight
titik kerangka 4 :

Dapat dilihat bahwa azimuth dari titik-


titik detail k merupakan penjumlahan
hasil pengukuran sudut Bk (sudut

30
horizontal tercatat) ditambah dengan Azimuth titik 54. Sehingga
perhitungan azimuth untuk daerah ini adalah :

αk = α54 + βk

Perlu dicatat bahwa perhitungan Azimuth sangat mungkin berbeda


untuk perbedaan arah titik detail oleh karena itu penting untuk
menggambarkan sketsa kasar beserta azimuth untuk setiap daerah.
Dengan Azimuth dan juga data hasil ukuran lainnya, maka ketiga
komponen koordinat (X, Y, Z) untuk setiap detail dapat dihitung
dengan menggunakan rumus :

∆Xi = dni x cos αi


∆Yi = dni x sin αi
∆Z = (SD x sin m) + tinggi alat – tinggi reflektor
Xi = Xn + ∆Xi
Yi = Yn + ∆Yi
Zi = Zn + ∆Zi

Dengan n merupakan nomor titik kerangka dan i merupakan


nomor titik detail. Sehingga setiap detail dapat diketahui koordinat
3D nya. Perlu diingat untuk titik detail yang datanya diukur dari
titik bantu, perlu dilakukan perhitungan dua kali yaitu perhitungan
untuk titik bantu dan untuk titik detail sebenarnya.

31
6. PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA

a. Pengolahan Data

Pengolahan data survei pemetaan dilakukan pada perangkat lunak


Ms. Excel dengan formula seperti yang telah disampaikan pada
bagian sebelumnya. Secara umum pengolahan data tersebut terdiri
dari:
I. Input berupa data sudut dan jarak
II. Koreksi sudut terhadap salah indeks dan salah kolimasi

III. Pengolahan titik-titik kerangka dengan output berupa koordinat


titik-titik kerangka pemetaan. Berikut adalah contoh tabel
penghitungan koordinat titik kerangka dengan koordinat dua
titik awal diketahui dan pengukuran KDV dilakukan dengan
metode trigonometris (menggunakan ETS):
Sudut Horisontal (sudut Sudut Jarak Jarak Koreksi Absis Absis
Koreksi Sudut Jurusan (α) Sudut Vertikal (θ) D sin (α) D cos (α)
Nama Titik dalam) (β) Dalam Miring (SD) Datar (D) (K x) terkoreksi O
Sudut (Kβ)
˚ ΄ ˝ dd Terkoreksi ˚ ΄ ˝ dd ˚ ΄ ˝ dd (meter) (meter) (meter) (meter) (meter) (meter)

BM02 KRW 13 8 13,7 13,137


BM01 KRW 89 25 36 89,427 0,021848 89,448
102 35 7,81 102,586 90 58 37 90,977 65,431 65,421 63,849 0,045433 63,804 -14,255
P1 199 7 37,5 199,127 0,021848 199,149
121 44 3,97 121,734 95 13 16,5 95,221 27,620 27,505 23,393 0,019101 23,374 -14,467
P2 154 28 13 154,470 0,021848 154,492
96 13 35,6 96,227 97 42 45,5 97,713 28,151 27,896 27,732 0,019373 27,712 -3,026
P3 163 47 59,5 163,800 0,021848 163,822

Jarak Jarak Koreksi Absis Absis Koreksi Ordinat Tinggi Alat Beda Tinggi Koreksi Beda Beda Tinggi
dut Vertikal (θ) D sin (α) D cos (α) Koordinat
Miring (SD) Datar (D) (K x) terkoreksi Ordinat (K y) terkoreksi Titik (ΔH) Tinggi (K H) terkoreksi Nama Tittik
΄ ˝ dd (meter) (meter) (meter) (meter) (meter) (meter) (meter) (meter) Target (meter) (meter) (meter) X Y Z

748429,040 9281971,850 79,946 BM02 KRW


1,108 748395,000 9281826,000 78,683 BM01 KRW
58 37 90,977 65,431 65,421 63,849 0,045433 63,804 -14,255 -0,008742 -14,246 1,500 -1,508 -0,1158022 -1,392
1,495 748458,804 9281811,754 77,291 P1
13 16,5 95,221 27,620 27,505 23,393 0,019101 23,374 -14,467 -0,003675 -14,463 1,5 -2,518 -0,0486867 -2,470
1,523 748482,177 9281797,290 74,821 P2
42 45,5 97,713 28,151 27,896 27,732 0,019373 27,712 -3,026 -0,003728 -3,022 1,435 -3,690 -0,0493795 -3,641
1,414 748509,890 9281794,268 71,181 P3

32
Dengan:
- Kolom I adalah nama titik kerangka (nama BM atau titik
poligon)
- Kolom II adalah sudut horisontal (sudut dalam) yang telah
dikoreksi salah kolimasi dalam derajat (o), menit („), detik (“),
dan derajat desimal (dd)
- Kolom III adalah koreksi sudut poligon (Kβ), dengan rumus
sebagai berikut:
Kβ = fβ/n
Dimana: fβ = ∑β – (n-2)*180o
β adalah sudut dalam poligon
n adalah jumlah sudut dalam poligon/jumlah titik kerangka
Kβ adalah koreksi sudut poligon
fβ adalah besarnya salah penutup poligon
- Kolom IV adalah sudut dalam terkoreksi (β’), dimana
β' = β – Kβ
- Kolom V adalah sudut jurusan (α) atau azimut dari titik
kerangka 1 ke foresight atau titik kerangka 2 dalam derajat (o),
menit („), detik (“), dan derajat desimal (dd), dengan rumus
sebagai berikut:
αi+1 = αi + βi ± 180o
± disesuaikan dengan kuadran dari sudut jurusan
Dimana azimut (α) awal dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
α21 = arc tan ((X2 – X1) / (Y2 – Y1))
dengan x dan y merupakan koordinat dari dua titik
awal yang telah diketahui, umumnya x adalah easting
dan y adalah northing (UTM).
- Kolom VI adalah sudut vertikal (θ) yang telah terkoreksi
salah indeks dalam derajat (o), menit („), detik (“), dan
derajat desimal (dd)
- Kolom VII adalah jarak miring (SD), hasil bacaan alat

33
- Kolom VIII adalah jarak datar (D) hasil hitungan dengan
rumus:
D = sin (θ) * SD
- Kolom IX adalah absis titik 2 terhadap titik 1 (Δx) dari hasil
hitungan sebagai berikut:
Δx = D sin (α)
- Kolom X adalah besarnya koreksi absis (Kx) dari rumus:
Kxi = (Di / ∑D)* ∑Δx
- Kolom XI adalah absis terkoreksi (Δx‟) atau
Δx‟ = Δx – Kx
- Kolom XII adalah ordinat titik 2 terhadap titik 1 (Δy) dari hasil
hitungan sebagai berikut:
Δy = D cos (α)
- Kolom XIII adalah besarnya koreksi ordinat (Ky) dari rumus:
Kyi = (Di / ∑D)* ∑Δy
- Kolom XIV adalah ordinat terkoreksi (Δy‟) atau
Δy‟ = Δy – Ky
- Kolom XV adalah tinggi alat (TA) dan tinggi target/reflektor
(TT)
- Kolom XVI adalah beda tinggi antara titik berdiri alat dengan
target/reflektor (ΔH), yang didapat dari rumus:
ΔH = (cos(V)*SD) + TA – TT
- Kolom XVII adalah koreksi beda tinggi (KΔH) yang didapat
dari rumus:
KΔHi = (Di / ∑D)* ∑ΔH
∑ΔH merupakan salah penutup beda tinggi karena poligon
tertutup, maka nilai ∑ΔH harusnya 0 (nol)
- Kolom XVIII adalah beda tinggi terkoreksi (ΔH‟) atau
ΔH‟ = ΔH – KΔH

34
- Kolom XIX adalah koordinat hasil hitungan (XYZ), umumnya
dalam sistem koordinat UTM dimana X adalah easting, Y
adalah northing, dan Z dapat didefinisikan sebagai tinggi
ellipsoid, geoid, maupun MSL sesuai dengan sistem tinggi yang
digunakan pada titik awal yang telah diketahui nilainya.
Berikut perhitungannya:
Xi+1 = xi + Δx‟
Yi+1 = yi + Δy‟
Zi+1 = zi + ΔH‟
- Kolom XX adalah nama titik seperti kolom pertama

IV. Pengolahan titik detail situasi tidak jauh berbeda dengan


pengolahan titik kerangka, namun semua nilai sudut yang
digunakan telah terkoreksi dan titik koordinat awal (yang
telah diketahui) berupa titik kerangka hasil hitungan. Berikut
contoh tabel penghitungan koordinat titik detail situasi:
No. Titik Tinggi BACAAN SUDUT BACAAN SUDUT Sudut Jurusan Tinggi Jarak Jarak d[ X ] d[ Y ] Beda KO O R D I N A T Nomor
Alat Target Alat Sdt. Horizontal Sdt. Vertikal (Azimuth) Target MIRING Datar Tinggi X Y Z Titik

BM02 KRW 0 0 -5 -0,001 90 59 47 13 10 39 748428,978 9281971,119 75,485 BM02 KRW


BM01 KRW 1,108 748395,000 9281826,000 78,683 BM01 KRW
BM02 PWKcek 0 0 -5 -0,001 90 59 47 13 10 34 1,500 148,925 148,902 33,942 144,982 -2,982 748428,942 9281970,982 75,701 BM02 PWKcek
Jalan 0 28 13 0,472 91 7 9 13 38 57 1,500 148,384 148,356 35,009 144,166 -3,290 748430,009 9281970,166 75,393 Jalan
Jalan 1 15 57 1,267 91 10 4 14 26 41 1,500 148,859 148,828 37,125 144,123 -3,426 748432,125 9281970,123 75,257 Jalan
Jalan 359 32 55 359,550 90 42 31 12 43 39 1,500 76,173 76,167 16,781 74,296 -1,334 748411,781 9281900,296 77,349 Jalan
Jalan 1 32 0 1,535 90 45 23 14 42 44 1,500 76,222 76,215 19,356 73,716 -1,398 748414,356 9281899,716 77,285 Jalan
Jalan 328 58 50 328,982 89 26 38 342 9 34 1,500 8,323 8,323 -2,550 7,922 -0,311 748392,450 9281833,922 78,372 Jalan
Jalan 351 9 39 351,162 90 6 30 4 20 23 1,500 7,252 7,252 0,549 7,231 -0,406 748395,549 9281833,231 78,277 Jalan
Gerbang 186 27 20 186,457 89 46 43 199 38 4 1,500 70,306 70,305 -23,624 -66,218 -0,120 748371,376 9281759,782 78,562 Gerbang
Gerbang 184 6 53 184,116 89 44 13 197 17 37 1,500 70,534 70,533 -20,967 -67,345 -0,068 748374,033 9281758,655 78,615 Gerbang
Lapangan 177 16 38 177,279 89 38 58 190 27 22 1,500 75,822 75,821 -13,760 -74,561 0,072 748381,240 9281751,439 78,755 Lapangan
Lapangan 140 10 32 140,177 89 36 1 153 21 16 1,500 99,469 99,467 44,608 -88,903 0,302 748439,608 9281737,097 78,985 Lapangan
Lapangan 90 45 14 90,755 90 55 41 103 55 58 1,500 62,424 62,416 60,579 -15,029 -1,403 748455,579 9281810,971 77,280 Lapangan
Kontur 81 40 27 81,676 90 34 20 94 51 11 1,500 31,322 31,320 31,208 -2,650 -0,705 748426,208 9281823,350 77,978 Kontur
Lapangan 67 6 33 67,111 90 38 6 80 17 17 1,500 5,800 5,800 5,717 0,978 -0,456 748400,717 9281826,978 78,226 Lapangan
Kontur 30 38 55 30,650 91 2 55 43 49 39 1,500 14,657 14,655 10,148 10,572 -0,660 748405,148 9281836,572 78,023 Kontur
P1 89 25 36 89,428 90 58 37 102 36 20 1,500 65,431 65,421 63,844 -14,277 -1,508 748458,844 9281811,723 77,175 P1

- Kolom I adalah nama titik dan nama target


- Kolom II adalah tinggi alat (ETS)
- Kolom III adalah bacaan sudut horisontal
- Kolom IV adalah bacaan sudut vertikal
- Kolom V adalah sudut jurusan
- Kolom VI adalah tinggi target (reflektor)
- Kolom VII adalah jarak miring
- Kolom VIII adalah jarak datar hasil hitungan
- Kolom VIX adalah selisih absis (Δx)
- Kolom X adalah selisih ordinat (Δy)
- Kolom XI adalah beda tinggi
- Kolom XII adalah Koordinat hasil hitungan (XYZ)
- Kolom XIII adalah nama titik (keterangan)

35
b. Penyajian Data

Setelah didapatkan daftar koordinat titik-titik detail situasi kemudian


titik-titik tersebut diplot atau digambarkan pada AutoCAD atau
ArcGIS, bisa juga pada perangkat lunak pemetaan yang lain, seperti
Qgis, ERMapper, GlobalMapper, dll.

Proses penggambaran meliputi; pendefinisian objek di lapangan


sesuai dengan skala dan tujuan pemetaan, penarikan garis kontur,
pemberian label, dan pembuatan layout peta (kop peta). Proses-
proses demikian dapat disebut juga sebagai proses kartografi.

Peta pada dasarnya hanya terdiri dari tiga elemen peta, yaitu muka
peta, informasi batas peta, dan informasi tepi peta. muka peta
adalah bagian peta yang menyajikan seluruh simbol yang
merepresentasikan informasi yang hendak disampaikan oleh peta.
Informasi batas peta berisi
koordinat peta pada setiap
ujung peta berupa
koordinat geografis,
kartesian (XY), ataupun
keduanya, harga koordinat
pada setiap interval
tertentu, dan arah
koordinat. Sedangkan
informasi tepi peta berisi
keterangan sebagai berikut:
- Judul peta
- Nomor lembar peta (pada peta RBI atau jika peta untuk suatu
area/pekerjaan lebih dari satu lembar peta)
- Edisi peta, berhubungan dengan waktu pembuatan peta
- Petunjuk letak peta (posisi peta terhadap lembar peta yang lain)

36
- Diagram lokasi (inset peta)

- Data geodetis, berisi keterangan tentang penggunaan sistem


proyeksi peta, datum geodesi atau ellipsoid referensi, datum
tinggi atau sistem tinggi yang digunakan, sistem koordinat yang
digunakan, dan selang kontur,
- Keterangan penerbitan atau pembuat peta
- Catatan hak cipta
- Keterangan simbol peta atau legenda, menjelaskan seluruh
simbol yang terdapat pada muka peta
- Keterangan riwayat peta, seperti sumber data dan metode
pemetaan yang digunakan
- Petunjuk pembacaan koordinat
- Keterangan tentang arah utara
- Penjelasan singkatan yang digunakan pada muka peta
- Skala peta, berupa skala numeris dan skala grafis.

Brikut adalah contoh beberapa desain layot peta terhadap tiga


elemen peta:

37
REFERENSI

BSN. (2002). SNI 19-6724-2002 Jaring Kontrol Horisontal. Badan


Standardisasi Nasional. Jakarta
BSN. (2004). SNI 19-6988-2004 Jaring Kontrol Vertikal dengan Metode
Sipat Datar. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta
BSN. (2010). SNI 6502.2:2010 Spesifikasi penyajian peta rupa bumi –
Bagian 2 Skala 1:25.000. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta
Modul Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal Kemah Kerja Geodesi ITB
2015
Modul Pembangunan Kerangka Dasar Horisontal, Kemah Kerja Geodesi
ITB 2015
Petunjuk Pelaksanaan Pengukuran Titik Detail, Kemah Kerja Geodesi ITB
2015
Soedomo, A. S. (2003). Surveying & Mapping. Institut Teknologi
Bandung. Bandung
Soendjojo, H. dan Riqqi, A. (2012). Kartografi. Penerbit ITB. Bandung.

38