Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOLOGI II

Disusun Oleh :

Yasin Saqfana (G1C016054)

Dosen Pengampu :

1. Dr. Budi Santosa, S.KM.M.si.Med


2. Aprilia Indra K S.Pd M.Biotech

PROGRAM STUDI D IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2018
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
yang telah diberikan, sehingga penyusun bisa menyelesaikan Laporan Praktikum
Imunologi 2 ini. Adapun tujuan disusunnya laporan ini adalah sebagai syarat untuk
memenuhi tugas akhir Praktikum Imunologi 2.

Tersusunnya laporan ini tentu bukan karena buah kerja keras kami semata, melainkan
juga atas bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang membantu terselesaikannya laporan ini,
diantaranya:

1. Ibu Aprilia Indra K S.Pd M.Biotech selaku dosen pengampu mata kuliah Biologi.
2. Para petugas laboratorium Imunologi 2 Universitas Muhammadiyah Semarang.
3. Orang tua, kerabat, sahabat, dan pihak-pihak lainnya yang tidak bisa kami sebutkan
satu persatu.

Kami sangat menyadari bahwa laporan ini masihlah jauh dari sempurna. Untuk itu,
kami selaku tim penyusun menerima dengan terbuka semua kritik dan saran yang
membangun agar laporan ini bisa tersusun lebih baik lagi. Kami berharap semoga
laporan ini bermanfaat untuk kita semua.

Semarang, 9 Desember 2018


I. Materi : Pemeriksaan Sifilis (Non Treponema)
II. Prinsip :
Uji fiksasi komplemen dimana reaksi antibodi dan antigen
kardiolipin akan membentuk kompleks yang akan mengikat
komplemen. Sebagai indikator terjdinya reaksi pengikatan
komplemen maka pada tes ditambahkan sel darah merah domba
(DMD) dan zat hemolisin anti SDM.
III. Tujuan :
1. Menentukan dosis hemolisin yang tepat untuk reaksi atau tes
Wasserman.
2. Menentukan dosis komplemen yang tepat untuk reaksi atau tes
Wasserman.
IV. Alat dan Bahan :
a. Alat
1. Tabung reaksi.
2. Rak tabung
3. Mikropipet dan tip
4. Pipet tetes
b. Bahan
1. NaCl Fisiologis
2. DMD 2%
3. Hemolisin 1/100
4. Komplemen 1/20
5. Antigen
6. Hemolitik sistem
V. Prosedur :
a. Membuat DMD 2% sebanyak 8 mL.
𝑉1 . 𝑁1 = 𝑉2 . 𝑁2
1
𝑉1 . = 8 .2
100
16
𝑉1 =
100
= 0,16 𝑚𝐿 (160 𝑢𝑙)
160 ul DMD + 7840 ul NaCl Fisiologis.
b. Membuat Hemolisin 1/1000 sebanyak 4 mL
 Hemolisin 1/100
𝑉1 . 𝑁1 = 𝑉2 . 𝑁2
1 1
𝑉1 . = 4 .
2 100
𝑉1 = 0,08 𝑚𝐿 (80 𝑢𝑙)
80 ul hemolisin 100% + 3920 NaCl Fisiologis
 Hemolisin 1/1000
𝑉1 . 𝑁1 = 𝑉2 . 𝑁2
1 1
𝑉1 .=4.
100 1000
4
𝑉1 = × 100
1000
𝑉1 = 0,4 𝑚𝐿 (400 𝑢𝑙)
400 ul hemolisisn 1/100 + 3600 NaCl Fisiologis.
c. Membuat komplemen 1/20 sebanyak 5 mL
𝑉1 . 𝑁1 = 𝑉2 . 𝑁2
1
𝑉1 . 1 = 5 .
20
5
𝑉1 = = 0,25 𝑚𝐿 (250 𝑢𝑙)
20
250 ul komplemen + 4750 ul NaCl Fisiologis.

Titrasi Hemolisin

0,5 cc

Nomor Tabung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
NaCl Fisiologis 0,5 1,0 1,5 2,0 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Hemolisin 1/1000 0,5 0,5 0,5 0,5
0,5 0,5 1,0 1,5 0,5 0,5 0,5
Enceran Hemolisin 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0, 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
5
Komplemen 1/20 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3
NaCl Fisiologis 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7
DMD 2% 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5

Kocok homogen, masukkan dalam wb 37°C selama 30


menit lihat terjadinya hemolisis. Pengenceran tinggi yang
masih menunjukkan hemolisa dengan nyata merupakan titer
hemolisin = 1 unit hemolisin.
Untuk titrasi komplemen dan tes WR digunakan =
hemolisin 2 unit.

Titrasi komplemen

No Tabung 1 2 3 4 5 6 7 8
Komplemen 1/20 0,20 0,25 0,30 0,35 0,40 0,45 0,50 0,55
NaCl Fisiologis 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Kocok homogen, masukkan kedalam waterbath pada
suhu 370C selama 60 menit.
Hemolisin 2 U 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
DMD 2% 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Kocok Homogen, masukkan dalam waterbath air 37°C selama 30 menit, lihat
terjadinya Hemolisis.

Exact Unit = (EU)

Jumlah terkecil dari komplemen yang menunjukkan hemolisis.

Full Unit = Exact Unit + 0,05 ml

Untuk tes WR kualitatif dan kuantitatif digunakan 2 FU dengan jumlah 1 ml.

Tes Wesserman

No Tabung 1 2 3 4 5 6 7 8 9
NaCl 0,2 0,1 0,1 0,1 0,4 0,1 0,1 0,1 0,1
Fisiologis
Serum 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1
inaktif
Dibuang 0,1 0,4
Antigen 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1
1/100
Komplemen 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2
2 FU
Kocok homogen, masukkan kedalam waterbath pada suhu 370C selama 60
menit.
Hemolitik 0,2 0,2 0,2 0,2
sistem
Kocok homogen, masukkan kedalam waterbath pada suhu 370C selama 30
menit.
Pengenceran/ 1/3 1/6 1/12 1/24 1/120 Control Control Control Control
tuter serum antigen komplemen hemolitik
sistem
Tabung no. 6 = kontrol serum.
Tabung no. 7 = kontrol antigen.
Tabung no. 8 = kontrol komplemen.
Tabung no. 9 = kontrol hemolitik sistem.
Apabila serum positif mengandung antibodi terhadap T. pallidum maka dalam
tabung no. 6 hasil terlihat tidak terjadi hemolisa (keruh).
Tes W.R> dinyatakan positif apabila diantara tabung 1 s/d 5 tidak terjadi
hemolisa (keruh) dengan titer sesuai dengan no. Tabung yang bersangkutan.
Interpretasi
Lisis : W.R. Negatif
Keruh : W.R. Positif
Catatan : Hemolitik Sistem = Hemolitik 2 U : DMD 2 %
Cara membuat Antigen
1. Jantung sapi dibersihkan dari jaringan yang keras (otot, urat)
serta lemak.
2. Dicuci sampai bersih.
3. Dipotong kecil-kecil lalu digiling.
4. Air daging dibuang.
5. Sebanyak 100 gram giling ditambah 500 ml alkohol absolute,
dimasukkan dalam botol coklat.
6. Botol disimpan pada suhu ruang dengan sesekali digojok.
7. Ekstrak jantung sapi disaring dengan kasa, kemudian dengan
kertas saring.
8. Filtrat berwarna kuning muda disimpan dalam botol coklat
seagai ekstrak induk.
9. Dilakukan titrasi untuk mengetahui dosisnya.

Untuk tes W.R. digunakan antigen 1/100.

VI. Hasil :
Titrasi Hemolisin
Diketahui hemolisin lisis terakhir pada pengenceran 1/1000
maka 1 unit Hemolisin = 1/1000.
Hemolisin 2 unit = 2 x 1/1000 = 1/500.
Titrasi Komplemen

Exact Unit = 0,25 ml


Jumlah terkecil dari komplemen yang menunjukkan hemoisis.
Full Unit = Exact Unit + 0,05
EU = 0,25 ml
FU = 0,30 ml ( dari 0,25 + 0,05 )
2 FU = 1,5 ml
Sehingga Komplemen yang dipakai untuk tes W.R dosisnya =
3,0% (dibuat dari komplemen 100%).
Test Wasserman

Tabung nomer 1-5 tidak terjadi hemolisis (keruh).

VII. Kesimpulan :
Pada tes W.R. yang dilakukan didapat hasil positif, yang
artinya serum mengandung antibody T. Pallidum.
VIII. Pembahasan :

Begitu antibodi tersangkut pada permukaan mikroorganisme


yang menyerang, serangkaian protein plasma yang disebut
komplemen akan teraktivasi. Protein komplemen ini mampu
menghancurkan penyerang tersebut. Proses ini dimulai oleh
perubahan konformasional pada daerah Fc suatu antibodi pada
saat berikatan dengan antigen. Jika antigen tersebut melayang
bebas dalam sirkulasi sebagai molekul tunggal, kompleks imun
yang terbentuk dapat berikatan pula dengan komplemen.
Komplemen dalam kompleks tersebut kemudian dapat
membantu menarik sel-sel fagosit, yang akan menelan dan
membuang antigen yang diinaktivasi dari sirkulasi. Jika antigen
merupakan bagian dari dinding sel bakteri, komplemen dapat
melekat pada antibodi yang terikat, pada akhirnya akan
melemahkan dan membunuh bakteri tersebut. Proses yang sama
dapat terjadi pada sel darah yang ditransfusikan jika terdapat
ketidaksesuaian dengan resipiennya, dan oleh karenanya
menyebabkan hemolisis

Komplemen dapat dibagi dalam 3 golongan sebagai berikut :


a. Komplemen dini pada jalur klasik (C1, C4 dan C2)
b. Komplemen dini pada jalur alternatif (faktor B, D dan P)
c. Komplemen lambat pada kedua jalur (C3 dan C9).

Telah diketahui bahwa pada suatu interaksi antigen-antibodi,


komplemen yang ada dalam serum dapat diikat atau
dikonsumsi oleh kompleks antigen-antibodi tersebut, dan
bahwa komplemen dapat diaktivasi oleh kompleks erithrosit-
hemolisin, sehingga mengakibatkan eritrosit tersebut melisis.
I. Judul : HCG (Human Chorionic Gonadotropin)
II. Prinsip : Reaksi antigen dengan antibodi membentuk aglutinasi.
III. Metode : Latex
IV. Tujuan : Untuk mengetahui ada atau tidaknya Hormon HCG pada
urine wanita yang diduga hamil.
V. Alat dan Bahan :
a. Alat
1. Slide hitam
2. Micropipet dan tip
3. Lidi
4. stopwatch
b. Bahan
1. Urine pgi
2. Pereaksi HCG latex
3. NaCl Fisiologis
VI. Prosedur :
a. Kualiatif

25 ul
urine + 25
ul HCG
latex

dihomogenkan, dibaca dalam waktu < 2 menit.

b. Kuantitatif

10 ul urine + 25 ul titer 1/5 25 ul titer 1/10 25 ul titer 1/20


40 ul NaCl + 25 ul NaCl + 25 ul NaCl + 25 ul NaCl

Add 25 ul latex Add 25 ul latex Add 25 ul latex Add 25 ul latex

 Apabila hasil positif lanjut ke pengenceran selanjutnya.


 Langkah sama seperti sebelumnya.
 Dilihat terbentuknya aglutinasi dalam waktu < 2 menit.
 Interpretasi hasil pada pemeriksaan HCG latex ketika (+)
terjadi aglutinasi, hasil (-) tidak terjadi aglutinasi.
VII. Hasil :
Kualitatif :
Lingkaran 1 : tes (+)
Kuantitatif :
Lingkaran 2 : titer 1/5 (+)
Lingkaran 3 : titer 1/10 (+)
Lingkaran 4 : titer 1/20 (+)
Lingkaran 5 : titer 1/40 (-)
Lingkaran 6 : kontrol (-)
VIII. Kesimpulan : Titer HCG pada sampel menunjukkan positif sampai dengan
titer 1/20. Artinya terdapat hormon HCG pada urine sampel.
IX. Pembahasan :
Human Chorionic Gonadotropin juga disebut hormon kehamilan
adalah hormon yang dihasilkan selama kehamilan dalam plasenta manusia dan
bertanggung jawab atas pemeliharaan kehamilan. Melewati ginjal ke dalam
aliran darah dan sinyal indung telur dan kelenjar pituitary, bahwa wanita
hamil. Ini adalah ovulasi tidak ada yang lebih banyak untuk mendapatkan
lapisan rahim dan tidak menstruasi terjadi. Semua tes kehamilan biasanya
menunjukkan hormon ini.

Human chorionic gonadotropin berinteraksi dengan reseptor LHCG dan


mempromosikan pemeliharaan korpus luteum selama awal kehamilan,
menyebabkan ia mengeluarkan hormon progesteron. Progesteron memperkaya
rahim dengan lapisan tebal dan pembuluh darah kapiler sehingga dapat
menopang tumbuh janin. Karena biaya yang sangat-negatif, hCG mungkin
mengusir sel-sel kekebalan ibu, melindungi janin selama trimester pertama. Ini
juga telah dihipotesiskan bahwa hCG juga bisa merupakan link plasenta untuk
pengembangan immunotolerance ibu lokal. Sebagai contoh, sel-sel
endometrium hCG-diperlakukan mendorong peningkatan apoptosis sel T
(pembubaran T-sel). Hasil ini menunjukkan bahwa hCG juga bisa merupakan
link dalam pengembangan toleransi kekebalan peritrophoblastic, dan dapat
memfasilitasi invasi trofoblas, yang dikenal untuk mempercepat
perkembangan janin di endometrium. Hal ini juga telah diusulkan bahwa
tingkat hCG yang terkait dengan keparahan morning sickness pada wanita
hamil.
I. Materi : HCG (Human Chorionic Gonadotropin)
II. Prinsip :
Hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) yang terdapat
didalam urine wanita hamil yang dimasukkan ke dalam
jaringan subkutan pada kulit katak jantan. Dan akan
merangsang katak tersebut untuk mengeluarkan spermatozoa.
III. Metode : Galli Mainini
IV. Tujuan : Untuk menentukan adanya hormon HCG dalam urine wanita
yang diduga hamil.
V. Alat dan Bahan :
a. Alat
1. Spuit 1 mL.
2. Beakerglass 1000 mL.
3. Objek Glass.
4. Pipet Pateur.
5. Mikroskop.
b. Bahan
1. Katak jantan (Bufo vulgaris) dewasa 2 ekor.
2. Urine wanita hamil muda.
VI. Prosedur :
Memilih katak jantan dengan ciri-ciri antara lain : pada telapak
kaki depan terdapat penebalan berwarna hitam, pada kulit leher
bagian ventral terdapat warna agak merah kekuningan, warna
tubuh biasaya agak gelap dibanding betina.
Cara kerja :
Merangsang katak dengan menggunakan lidi berbungkus kapas
pada bagian kloakanya kemudian kalau keluar cairan, letakkan
diatas kaca objek dan periksa dengan mikroskop. Jika cairan
tersebut perma ganti dengan katak yang baru.
Suntikkan 1-2 mLurine sampel tersebut secara subkutan dengan
cara mencubit/ menarik kulit katak. (biasanya untuk
penyuntikan ini dipilih kulit punggung).
Menyuntik katak lain dengan aquades sebagai kontrol.
Masukkan katak pada tempat yang sudah diberi sedikit air,
kemudian tunggu kurang lebih 30 menit untuk meihat
reaksinya. Setelah itu merangsang bagian kloaka dengan ujung
pipet pasteur, abil 1 tetes cairan dengan kloaka kemudian
teteskan diatas kaca objek, periksa dengan mikroskop.
Hasil positif (+) bila terdapat bentuk spermatozoa yang dilihat
secara mikroskopis.
VII. Hasil :
Dilihat secara mikroskopis spermatozoa (+).
VIII. Kesimpulan :
Berdasarkan tes uji kehamilan dengan metode Galli Mainini
menunjukkan bahwa sampel urine tersebut mengandung HCG
(Human Chorionis Gonadottropin) sehingga dapat disimpulkan
bahwa orang tersebut hamil.
IX. Pembahasan :
Galli manini merupakan suatu uji kehamilan yang dapat
digunakan untuk mengetahui HCG pada urine wanita hamil.
Percobaan ini menggunakan objek yaitu Bufo sp. dan urine
wanita hamil usia 2,1 – 3,5 bulan. Penggunaan Bufo sp. jantan
karena hewan uji ini mudah didapatkan, mudah dibedakan jenis
kelaminnya, dan sperma kodok dapat dipicu pengeluarannya
dengan mudah. Urine wanita hamil yang digunakan yaitu
berkisar antara 2,1 – 3,5 bulan karena pada usia hamil ini, urine
wanita tersebut mengandung HCG. Hal ini didasarkan pada
teori Basoeki (1980) dan Theolihere (1979) yang menyatakan
bahwa HCG telah beredar dalam darah 1 minggu setelah
fertilisasi dengan konsentrasi 120 IU pada hari ke 62 setelah
menstruasi dan menurun dengan cepat pada hari ke 154
mencapai 0 IU. HCG bisa dijumpai pada urine karena HCG
didalam darah tinggi. Jumlah atas banyaknya HCG di dalam
urine tergantung pada faktor fisiologis wanita hamil dan
konsentrasi HCG pada darah.

Galli manini merupakan metode penentuan kehamilan secara


biologik dengan memanfaatkan HCG yang terkandung dalam
urin wanita hamil. Metode ini masih digunakan sampai
sekarang meskipun di laboratorium-laboratorium paling sering
digunakan metode-metode imunologik.

Jumlah HCG yang dieksresikan dalam urine wanita hamil


berbeda –beda untuk setiap wanita tergantung dari usia
kehamilan. HCG dapat ditemukan dengan mudah pada usia
kandungan 1-3 bulan. Oleh sebab itu, metode Galli Manini
kurang tepat digunakan untuk menentukan kehamilan usia
diatas 3 bulan. Berdasarkan permasalahan diatas, maka
praktikum Galli Manini perlu dilakukan untuk menentukan ada
atau tidaknya hormon choriogonadotropin dalam urin wanita
hamil.