Anda di halaman 1dari 12

Kejahatan Seksual terhadap Anak Dibawah Umur

Cindi Erica
102015041
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Terusan Arjuna No. 6

Jakarta 11510

PENDAHULUAN
Dewasa ini semakin marak kita temukan kasus-kasus penyiksaan dan pembunuhan
anak, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan kasus pembunuhan. Banyaknya kasus seperti
itu membuat badan peradilan sangat dibutuhkan di suatu negara. Badan ini bertugas
menyelediki kasus-kasus tersebut. Berbagai macam kasus kejahatan seksual di Indonesia
tidak hanya sering terjadi, bahkan sudah menjadi kejadian awam yang menjadi topik sorotan
baik di kalangan masyarakat bahkan sampai telinga media masa.1

Secara umum suatu tindak kejahatan dapat diartikan sebagai perilaku yang
bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku dan yang telah disahkan oleh hukum
tertulis, sedangkan arti kesusilaan itu sendiri merupakan suatu yang berkaitan dengan adab
sopan santun atau norma atau kelakuan baik. Dalam kasus ini kejahatan susila secara khusus
dapat diartikan sebagai suatu perilaku yang dalam hal ini merupakan suatu “persetubuhan”
yang merupakan suatu tindak pidana.2
Kejahatan terhadap kesusilaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang
yang menimbulkan kepuasan seksual dan di sisi lain perbuatan tersebut menggangu
kehormatan orang lain.1
Kejahatan terhadap kesusilaan dapat berupa persetubuhan, prcabulan maupun
pelecehan seksual. Dewasa ini kejahatan susila atau kejahatan seksual makin marak terjadi,
terutama anak-anak di bawah umur sebagai korbannya. Dengan alas an tindak kejahatan yang
beraneka ragam, tidak dipungkiri anak-anak merupakan korban yang paling rentan namun
juga paling mudah menjadi korban kejahatan susila. Dampak yang diakibatkan pasca
kejahatan susila terhadap seorang anak sangatlah berbahya, baik dalam segi fisik maupun
psikis. Hal tersebut lah yang menyebabkan rusaknya kepribadian dan terjadinya gangguan
perkembangan dari anak tersebut.1

1
Dalam menangani kasus tindak kejahatan seperti ini tetap dibutuhkan suatu
penyidikan dalam penindakan pengadilan kasus ini. Ilmu kedokteran forensik berperan besar
dalam menentukan penyidikan kasus kejahatan seksual.Interaksi antara bidang medis dan
hukum pada saat ini tidak dapat diragukan lagi, yang mana semakin meluas dan berkembang
dari waktu ke waktu.
Di sinilah peranan forensik klinis yang merupakan suatu ruang lingkup keilmuan yang
berintegrasi antara bidang medis dan bidang hukum diperlukan. Forensik Klinik adalah
bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup pemeriksaan forensik terhadap korban
hidup dan investigasinya, kemudian aspek medikolegal, juga psikopatologinya, dengan kata
lain forensik klinik merupakan area praktek medis yang mengintegrasikan antara peranan
medis dan hukum1

SKENARIO
Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang bersama orang tua dan polisi untuk
meminta dilakukan visum et repertum. Anak ini mengaku lubang pelepasannya dimasukan
alat kelamin pelaku yang merupakan tetangganya kemarin sore. Dari pemeriksaan dan
ditemukan adanya luka lecet pada dinding luar lubang pelepasan arah jam 6 dan 8, tampak
kemerahan pada dinding luar lubang pelepasan dan kekuatan otot lubang pelepasan dalam
batas normal. Dari hasil pemeriksaan swab lubang pelepasan ditemukan adanya sel sperma.

ANALISIS MASALAH

Aspek Hukum
&
Medikolegal

Visum et Identifikasi
Repertum Korban
RM

Pemeriksaan
Anamnesis
Medis

2
PEMBAHASAN

Aspek Hukum
Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana, hendaknya
dilakukan dengan teliti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti-bukti yang
ditemukannya karena berbeda dengan di klinik ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk
melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Tetapi dalam
melaksanakan kewajiban itu dokter jangan sampai meletakkan kepentingan sikorban di
bawah kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban masih anak-anak hendaknya
pemeriksaan itu tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah dideritanya.3
UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.
60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap
orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pasal 81 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak
Dengan kekerasan atau ancaman memaksa anak ( belum 18 tahun ) bersetubuh
dengannya atau orang lain dipidana maksimum 3 hingga 15 tahun dan denda Rp 60 juta
hingga Rp 300 juta.
Pasal 82 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak
Dengan kekerasan atau ancaman tipuan, kebohongan, bujukan, terhadap anak ( belum
18 tahun ) berbuat cabul dengannya atau orang lain, dipidana maksimum 3 hingga 15 tahun
dan denda Rp 60 juta hingga Rp 300 juta.1-3

Kejahatan Terhadap Kesusilaan


Pasal 281 KUHP
Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:
1. barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan;

3
2. barang siapa dengan sengaja dan di depan orang lain yang ada di situ bertentangan dengan
kehendaknya, melanggar kesusilaan.
Pasal 290 KUHP
Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun:
1: barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang pada hal diketahui, bahwa orang
itu pingsan atau tidak berdaya.
2: barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang padahal diketahui atau
sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak
ternyata, bahwa belum mampu dikawin;
3: barang siapa membujuk seorang yang diketahio atau sepatutnya haru diduga, bahwa
umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu
dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di
luar perkawinan dengan orang lain.
Pasal 291 KUHP
(1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam paal 286, 287, 289 dan 290
mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun.
(2) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287 dan 290 itu
engakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima bela tahun.

Aspek Medikolegal
Prosedur Medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai
aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Seperti pengadaan
Visum et Repertum, penerbitan surat kematian dan surat keterangan medic, pemeriksaan
kedokteran terhadap tersangka (psikiatri forensik).

I. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan


Pasal 133 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

4
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan
pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.2,3

II. Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya


Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannnya.3
Pasal 184 KUHAP
(1) Alat bukti yang sah adalah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Pertunjuk
e. Keterangan terdakwa
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.3

III. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter


Pasal 216 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling
banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan
jabatan umum.

5
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan
yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah
sepertiga.3

Pasal 222 KUHP


Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.3
Pasal 224 KUHP
Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau
jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang
ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9
bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6
bulan.3

PEMERIKSAAN KORBAN
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah terdapat tanda-tanda kekerasan, tanda
persetubuhan dan juga untuk melihat apakah terdapat trace evidence pada korban. Pakaian
korban sewaktu terjadi persetubuhan harus diperlakukan sebagai bahan bukti dan dikirim ke
laboratorium forensik di kepolisian atau bagian ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel
serta membuat berita acara pembungkusan dan penyegelan. Rambut dan barang bukti lain
yang ditemukan juga diperlakukan serupa.

Pemeriksaan pakaian
Pakaian diteliti helai demi helai, apakah terdapat, robekan lama atau baru sepanjang
jahitan atau melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani,
Lumpur dsb. Yang berasal dari tempat kejadian. Catat apakah pakaian dalam keadaan rapi
atau tidak, benda-benda yang melekat dan pakaian yang mengandung trace evidence dikirim
ke laboratorium kriminologi untuk pemeriksaan lebih lanjut.1,5

6
Pemeriksaan Tubuh Korban
Pemeriksaan tubuh meliputi pemeriksaan umum; lukiskan penampilannya (rambut
dan wajah), rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang atau sedih dsb. Adakah tanda-tanda
bekas kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius, apakah ada needle marks. Bila ada
harus dilakukan pemeriksaan dengan sample urine atau darah. Adakah tanda-tanda bekas
kekerasan, memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha
bagian dalam, dan pinggang. Dicatat pula perkembangan alat kelamin sekunder,pupil, refleks
cahaya, pupil pinpoint, tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung, paru dan
abdomen.

Pemeriksaan Khusus
 Pemeriksaan bagian khusus (daerah genitalia) meliputi ada tidaknya rambut kemaluan
yang saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengerin, gunting untuk
pemeriksaan laboratorium. Cari juga bercak air mani disekitar alat kelamin.
 Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema,
memar, dan luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi / edema
?dengan kapas lidi diambil bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
 Periksa jenis selaput dara, adakah rupture atau tidak. Bila ada, tentukan rupture baru
atau lama dan catat lokasi rupture tersebut, teliti apakah sampai ke insertion atau
tidak. Tentukan besar orifisium, sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk, atau 2jari.
Sebagai gantinya boleh juga ditentukan ukuran lingkaran orifisium, dengan cara
masukan kelingking dan telunjuk dimasukkan sampai terasa tepi selaput dara menjepit
ujung jari, ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5 cm. Lingkaran yang
memungkinkan persetubuhan dapat terjadi menurut Voight adalah minimal 9 cm.
 Harus diingat bahwa pada persetubuhan tidak selalu disertai dengan deflorasi. Pada
ruptur lama, robekan menjalar sampai ke insertio disertai adanya parut pada jaringan
di bawahnya. Ruptur yang tidak sampai ke insertio, bila sudah sembuh tidak dapat
dikenal lagi.1,6
 Periksa pula apakah frenulum labiorum pudendi dan commisura labiorum posterior
utuh atau tidak. Periksa vagina dan serviks dengan spekulum, bila keadaan alat genital
mengijinkan. Adakah tanda penyakit kelamin.
 Lakukan pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium. Untuk pemeriksaan
cairan mani dan sel mani dalam lender vagina, lakukan dengan mengambil lender

7
vagina menggunakan pipet Pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab.
Bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin dengan speculum.
 Pada anak-anak atau bila selaput darah utuh, pengambilan bahan sebaiknya dibatasi
dari vestibulum saja. Pemeriksaan terhadap kuman N.gonorrhoea : dari secret urether
(ururt dengan jari) dan dipulas dengan pewarnaan gram.
 Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-1,3,5, dan 7. Jika pada pemeriksaan didapatkan
N.gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seorang penderita. Bila
pada pria tertuduh juga ditemukan N.gonorrhoea, ini merupakan petunjuk yang cukup
kuat. Jika terdapat ulkus, secret perlu diambil untuk pemeriksaan serologic atau
bakteriologik. Pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan toksikologik urin dan darah
juga dilakukan bila ada indikasi.1,3,7

Pemeriksaan Pria Tersangka


Pemeriksaan pria tersangka dapat dilakukan terhadap pakaian, catat adanya bercak
semen, darah dsb. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak
perlu ditentukan. Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi.
Disini penentuan golongan darah penting untuk dilakukan mungkin dapat ditemukan tanda
bekas kekerasan : akibat perlawanan oleh korban. Untuk mengetahui apakah seorang pria
baru melakukan persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel anus pada
glans penis.1
Pemeriksaan terhadap sel epitel anu pada glans penis dapat dilakukan dengan
menekankan kaca objek pada glans penis, daerah korona atau frenulum, kemudian diletakkan
terbalik diatas cawan yang berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisan pada kaca
objek tersebut. Sitoplasma sel epitel vagina akan berwarna coklat tua karena mengandung
glikogen. Warna coklat tadi cepat hilang namun dengan meletakkan kembali sediaan diatas
cairan lugol maka warna coklat akan kembali lagi. Pada sediaan ini dapat pula ditemukan
adanya spermatozoa tetapi tidak mempunyai arti apa-apa. Perlu pula secret uretra untuk
menentukan ada atau tidak penyakit kelamin. Trace evidence pada pakaian yang dipakai
ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa.
Bila fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensic
dikepolisian atau bagian ilmu kedokteran forensic, dibungkus, segel, serta membuat berita
acara pembungkusan dan penyegelan. 4

Pemeriksaan tanda kekerasan pada tubuh2


8
Pada tubuh korban, perhatikan apakah terdapat tanda-tanda bekas kekerasan. Dilihat
juga jenis kekerasannya apakah merupakan kekerasan tumpul, kekerasan benda setengah
tajam atau kekerasan tajam. Luka akibat kekerasan tumpul antara lain, memar atau luka lecet,
pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang.
Pada anus, teliti adanya pelebaran anus, lecet / laserasi pada bagian perineum,
jaringan parut perineal, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema,
memar dan luka lecet (goresan kuku). Ditemukannya luka pada setiap bagian tubuh korban
perlu tindakan yang sangat hati-hati, karena jejas/luka tersebut menjadi barang bukti yang
penting untuk identifikasi. Sehingga harus dilakukan pemotretan/ dokumentasi pada setiap
luka yang ada di tubuh korban.

Bite Mark
Jejas-gigit atau bite mark merupakan luka lecet tekan atau hematoma
berbentuk garis lengkung terputus-putus. Pada luka tersebut dilakukan pengukuran,
pemotretan berskala dan swab air liur (untuk penentuan golongan darah pelaku).
Cetakan gigi tersangka perlu dibuat untuk digunakan pada perbandingan. Pada korban
hidup, luka gigitan umumnya masih baik bentuk dan ukurannya sampai 3 jam
pascatrauma, setelah itu dapat berubah akibat elastisitas kulit.7

Pemeriksaan cetakan gigi



Tahap pertama pada bite mark adalah menentukan apakah jejas yang ditimbulkan
benar merupakan bekas gigitan manusia. Beberapa hal penyidik bisa mencari adalah
adanya tanda hisap (unik untuk manusia) dan tanda dari gigi seri depan, gigi taring
dan premolar tapi bukan geraham.

Kedua, peneliti harus menentukan apakah bekas gigitan konsisten dengan waktu
kejahatan. Misalnya, gigitan menandai yang mulai sembuh tidak konsisten dengan
kejahatan yang terjadi hanya beberapa jam sebelum pemeriksaan. Luka ini mungkin
tidak terkait dengan kejahatan dalam penyelidikan. Akhirnya, penyelidik harus
menentukan apakah tanda gigitan adalah kualitas yang akan berguna untuk tujuan
perbandinganJika ditentukan bahwa tanda adalah manusia berasal dan terkait dengan
kejahatan maka pengolahan tanda datang dimulai. Pada titik ini gigi model kerja dapat
dibuat. Gips dapat dibuat dari luka-luka dan / atau gigi tersangka.4,7
 Analisis metrik Cedera Bite Mark

9

Penggunaan digital imaging memungkinkan pemeriksa untuk menetapkan parameter
data fisik untuk kasus-kasus bekas gigitan. Penerapan tertentu alat Photoshop akan
memberikan pemeriksa gigi dengan ringkas data bukti fisik yang akan menciptakan
informasi linear dan sudut berguna untuk mendukung kesimpulan akhir mengenai
suatu kasus. Bekas gigitan memiliki karakteristik fisik yang jelas dari yang
bersangkutan setelah dilakukan pengukuran digital. Yang paling jelas adalah:
 Lebar Arch (jarak dari satu kaninus menyeberang ke kaninus lainnya).
 Bentuk lengkung gigi (umum dapat digambarkan sebagai C-berbentuk oval, atau
berbentuk U).
 Posisi Labiolingual (posisi gigi anterior posterior tidak seperti normal)
 Rotational position (twisted).
 Jarak antar-gigi
 Lebar gigi dan ketebalan gigi
 Lengkungan tepi gigitan
 pola dan anatomi gigi yang tidak biasa.6
 Disarankan bahwa pola cedera benar-benar dianalisa sebelum geligi seorang
tersangka dievaluasi. Hal ini dapat menjamin ketika fitur dari cedera tidak jelas dan
ambigu. Gambar digital menyediakan sarana yang tepat untuk mengukur parameter
fisik bukti TKP. Penggunaan gambar digital dan perangkat lunak tertentu
memungkinkan untuk koreksi distorsi fotografi umum dan perbedaan ukuran gambar
digital dan. Membantu mengurangi subjektifitas pemeriksa software gambar digital
bila digunakan. dengan software seperti Photoshop memungkinkan kontrol yang lebih
baik dari visualisasi gambar melalui penggunaan fitur seperti zoom. Ketika fotografi
digital digunakan dalam kombinasi dengan perangkat lunak digital imaging prosedur
yang digunakan untuk membandingkan bekas gigitan dibakukan mengarah pada
reproduktifitas hasil antara Akhirnya penguji,. gambar dapat tersimpan secara
elektronik, dan dipindahkan sesuai kebutuhan.

Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan cairan mani (semen)
 Cairan mani merupakan cairan agak kental, berwarna puith kekuningan, keruh dan
berbau khas. Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudian akibat enzom
proteiolitik menjadi cair dalam waktu yang singkat (10 – 20 menit). Dalam keadaan
normal, volume cairan mani 3 – 5 ml pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7,2 – 7,6.
10
Cairan mani mengandung spermatozoa, sel – sel epitel dan sel – sel lain yang
tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermin dan
beberapa enzim seperti fosfatase asam. Spermatozoa mempunya bentuk khas untuk
spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya 60 sampai 120 juta per ml.
 Pada orang yang hidup, sperma masih dapat diketemukan (tidak bergerak) sampai
sekitar 24-36 jam setelah persetubuhan; sedangkan pada orang mati sprema masih
dapat diketemukan dalam vagina paling lama sampai 7-8 hari setelah
persetubuhan.5Untuk menentukan adanya cairan mani dalam vagina guna
membuktikan adanya suatu persetubuhan, perlu diambil bahan dari forniks posterior
vagina.1

 Penentuan cairan mani (kimiawi)


 Untuk membuktikan adanya cairan mani dalamsekret vagina, perlu dideteksi adanya
zat – zat yang banyak terdapat dalam cairan mani dengan pemeriksaan laboratorium
berikut:
Reaksi fosfatase asam
Dasar reaksi: adanya enzim fosfatase dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh
kelenjar prostat. Aktivitas enzim fosfatase asam rata – rata adalah sebesar 2500
U.K.A (kaye). Dalam sekret vagiana setelah 3 hari absistensi seksualis ditemukan
aktivitas 0 – 6 unit (Risfeld). Dengan menentukan secara kuantitatif aktifitas fosfatase
asam per 2 cm2 bercak, dapat ditentukan apakah bercak tersebut adalah bercak mani
atau bukan. Aktifitas 25 U.K.A per 1 cc ekstrak yang diperoleh dari 1 cm2 bercak
dianggap spesifik sebagai bercak mani.
Cara pemeriksaan: bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang
telah terlebih dahulu dibahsai dengan akuades selama beberapa menit. Kemudian
kertas saring diangkat dan disemprot dengan reagens. Ditentukan waktu reaksi dari
saat penyemprotan sampai timbul warna ungu. Perlu diperhatikan bahwa intensitas
warna maksimal tercapai secara berangsur – angsur dan test ini tidak spesifik. Hasil
positif semu dapat terjadi dengan feses, air teh, kontraseptik, sari buah dan tumbuh –
tumbuhan. Bercak yang tidak megnandung enzim fosfatase memberi warna dengan
serentak dengan intensitasnya tetap, sedangkan bercak yang megnandung enzim
fosfatase memberikan warna secara berangsur – angsur.

11
INTEPRETASI KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang bersama orang tua dan polisi
untuk meminta dilakukan visum et repertum. Anak ini mengaku lubang pelepasannya
dimasukan alat kelamin pelaku yang merupakan tetangganya kemarin sore. Dari
pemeriksaan dan ditemukan adanya luka lecet pada dinding luar lubang pelepasan
arah jam 6 dan 8, tampak kemerahan pada dinding luar lubang pelepasan dan
kekuatan otot lubang pelepasan dalam batas normal. Dari hasil pemeriksaan swab
lubang pelepasan ditemukan adanya sel sperma.

KESIMPULAN
Pada anak laki-laki berusia sembilan tahun ini, ditemukan tanda-tanda telah
terjadi pencabulan dan kekerasan pada tubuh korban yang mengindikasikan pasien
tersebut mengalami kejahatan seksual.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Mun’im TWA, Hertian S, Sampurna B, et al.
Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta, 1997.h. 147-158.
2. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1994.h.32-7.
3. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Pustaka Dwipar, Jakarta, 2007. 8-83.
4. Wiknjosastro H, dkk. Ilmu Kandungan. Ed. kedua. Cetakan ketujuh Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2009.h. 35-87.
5. Akhyar Israr Y, Warman Y, Kurniati R, Dewi A. Peranan Forensik Klinik dalam Kasus
Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan. Jurnal Kedokteran Universitas Riau.
Desember 25, 2009.
6. Erfan Kusuma S. Kejahatan Seksual Lab Ilmu Kedokteran Forensik.. Jurnal Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya, 2009.
7. Widiatmaka W. Visum Et Repertum. Jurnal Kedokteran Bagian Departemen Forensik
Universitas Indonesia. Jakarta: April 27, 2009.

12