Anda di halaman 1dari 38

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gizi yang baik adalah landasan kesehatan, gizi mempengaruhi kekebalan tubuh,
kerentanan terhadap penyakit, serta pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental. Gizi
yang baik akan menurunkan kesakitan, kecacatan dan kematian sehingga meningkatkan
kualitas sumber daya manusia. (Kemenkes RI, 2015)
Status gizi anak balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB), dan tinggi
badan (TB). Variabel BB dan TB/PB anak balita disajikan dalam bentuk tiga indeks
antropometri, yaitu BB/U, TB/U dan BB/TB. Berdasarkan riskesdas 2013 kecenderungan
prevalensi status gizi anak balita menurut ketiga indeks BB/U, TB/U dan BB/TB terlihat
prevalensi gizi buruk dan gizi kurang meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013. (Kemenkes
RI, 2015)
Jumlah balita gizi buruk dan kurang menurut hasil riskesdas 2013 masih sebesar
19,6% dan terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2010. (Kemenkes RI, 2015) Provinsi
dengan gizi buruk dan kurang tertinggi tahun 2016 adalah Nusa Tenggara Timur (28,2%) dan
terendah Sulawesi Utara (7,2%) (Kemenkes RI, 2017)
Gizi buruk dapat terjadi pada semua kelompok umur namun yang perlu lebih
diperhatikan pada kelompok bayi dan balita. Pada usia 0-2 tahun adalah masa tumbuh
kembang yang optimal (golden period) terutama untuk pertumbuhan janin sehingga bila
terjadi gangguan pada masa ini tidak dapat dicukupi pada masa berikutnya dan akan
berpengaruh negatif pada kualitas generasi penerus. (Kemenkes RI, 2017)
Konsumsi makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan
kecerdasan anak sehingga konsumsi makan berpengaruh besar terhadap status gizi anak
untuk mencapai pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Timbulnya gizi kurang bukan saja
karena makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat makanan
yang cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita gizi
kurang. Sebaliknya anak yang makan tidak cukup baik maka daya tahan tubuhnya (imunitas)
dapat melemah, sehingga mudah diserang penyakit infeksi, kurang nafsu makan dan akhirnya
mudah terkena gizi kurang.

1
Kondisi kekurangan gizi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan meyebabkan
gizi buruk yang sering disebut dengan istilah kurang kalori protein (KKP) atau kurang energi
protein (KEP). KEP adalah gangguan gizi yang disebabkan oleh kekurangan protein dan/atau
kalori, serta sering disertai dengan kekurangan zat gizi lain. Kurang energi dan Protein (KEP)
pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Menurut
WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk, oleh
karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat.
Tubuh pendek pada masa anak merupakan akibat kekurangan gizi kronis atau
kegagalan pertumbuhan di masa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk
gizi kurang pada anak. Childhood stunting berkorelasi dengan gangguan perkembangan
neurokognitif dan risiko menderita penyakit tidak menular di masa depan.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gizi buruk adalah suatu ketidakseimbangan antara asupan makanan dengan kebutuhan
gizi untuk mempertahankan kesehatan. Gizi buruk bisa terjadi karena asupan makan terlalu
sedikit ataupun pengambilan makanan yang tidak seimbang status gizi yang didasarkan pada
indeks berat badan menurut umur (BB/U) yang merupakan padanan
istilah severely underweight (Kemenkes RI,2011), sedangkan menurut Depkes RI 2010,
keadaan kurang gizi tingkat berat padaanak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi
badan (BB/TB) <-3 SD dan atauditemukan tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan
marasmus-kwashiorkor.
2.2 Kurang Energi Protein (KEP)
Penyebab KEP dapat dibagi kepada dua penyebab yaitu malnutrisi primer dan
malnutrisi sekunder. Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh
asupan protein maupun energi yang tidak adekuat. Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi
yang terjadi karena kebutuhan yang meningkat, menurunnya absorpsi dan/atau peningkatan
kehilangan protein maupun energi dari tubuh.
Parameter keparahan dan klasifikasi KEP dapat diukur dengan menggunakan indikator
antropometri. Indikator berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) dapat digunakan sebagai
petunjuk dalam penentuan status gizi sekarang dan tinggi badan terhadap usia (TB/U)
digunakan sebagai petunjuk tentang keadaan gizi masa lampau. Departemen Kesehatan RI
(2010) merekomendasikan baku WHO-NCHS untuk digunakan sebagai baku antropometri
di Indonesia. Anak dikatakan menderita KEP apabila berada di bawah -2SD Z-score dari
setiap indikator.
2.3 Epidemiologi
Menurut data pemantauan status gizi (PSG) tahun 2016 berdasar BB/U usia 0-59 bulan
yang mengalami gizi buruk sebanyak 3,4%, gizi kurang 14,4% dan gizi lebih 1,5%. Gizi
lebih banyak pada provinsi DKI Jakarta 4,4%, Bali 3,5% dan Bangka Belitung 3,3%. Gizi
buruk paling banyak di provinsi Kalimantan Barat 6,7%, NTT 6,9% dan Maluku 6,0%.

3
Sedangkan berdasar hasil BB/U usia 0-23 bulan yang mengalami gizi buruk sebanyak
3,1%, gizi kurang 11,8% dan gizi lebih 1,5%. Gizi lebih banyak pada DKI Jakarta 3,5%,
Bali 3,2% dan Bengkulu 2,5%. Gizi buruk banyak di Kalimantan Barat 6,6%, Nusa
Tenggara Timur 6,5% dan Papua Barat sebanyak 5,6%.
Berdasarkan Kemenkes RI tahun 2017 persentase balita dengan gizi buruk pada usia 0-
59 bulan menurut status gizi dengan indeks BB/U adalah sebesar 3.9% pada tahun 2015 dan
3.4% pada tahun 2016. Selain hal tersebut data Kemenkes RI tahun 2017 juga menunjukkan
pada balita usia 0-59 bulan menurut status gizi dengan indeks TB/U sebesar 10.1% pada
tahun 2015 dan 8.6% pada tahun 2016. Data Kemenkes RI tahun 2017 juga menunjukkan
balita usia 0-59 bulan menurut status gizi dengan indeks BB/TB sebesar 3.7% pada tahun
2015 dan 3.1% pada tahun 2016.
2.4 Etiologi
Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :
1. kekurangan asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan
yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gzi yang dibutuhkan karena
alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.
2. Terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya
beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.
2.5 Klasifikasi
Menurut depkes RI tahun 2013 kategori dan ambang batas status gizi anak adalah
sebagai mana terdapat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
Indeks Kategori Status Gizi Ambang Batas (Z-Score)
Berat Badan menurut Umur (BB/U)
Gizi buruk < -3 SD
0 – 60 Bulan
Gizi kurang -3 SD sampai dengan < -2 SD
Gizi baik -2 SD sampai dengan 2 SD
Gizi lebih >2 SD
Panjang Badan menurut Umur
(PB/U) atau Tinggi Badan menurut Sangat pendek <-3 SD
Umur (TB/U) 0 – 60 Bulan
Pendek -3 SD sampai dengan <-2 SD
Normal -2 SD sampai dengan 2 SD
Tinggi >2 SD
Berat Badan menurut Panjang Badan
(BB/PB) atau Berat Badan menurut
Sangat kurus <-3 SD
Tinggi Badan (BB/TB) Umur 0 – 60
Bulan

4
Kurus -3 SD sampai dengan < -2SD
Normal -2 SD sampai dengan 2 SD
Gemuk > 2 SD
Indeks Massa Tubuh menurut Umur
Sangat Kurus < -3 SD
(IMT/U) 0 – 60 Bulan
Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD
Normal -2 SD sampai dengan 2 SD
Gemuk > 2 SD
Indeks Massa Tubuh menurut Umur
Sangat Kurus < -3 SD
(IMT/U) 5 – 18 Tahun
Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD
Normal -2 SD sampai dengan 2 SD
Gemuk >1 sampai dengan 2 SD
Obesitas >2 SD
Sumber: Depkes RI 2013

Status gizi BB/TB BB/TB WHO IMT CDC


Obesitas >120% >+3 >P95
Overweight >110% +2 SD sd +3 SD P85-P95
Normal 90-110% +2 SD sd -2 SD
Gizi kurang 70-90% -2 SD sd -3 SD
Gizi buruk <70% <-3 SD

Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor.


Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri atau tanda klinis darimasing-masing tipe
yang berbeda-beda.Marasmus, kwashiorkor dan marasmik-kwasiorkor adalah sebuah proses
yang berantai. Dimulai dari terjadinya marasmus, bisa berlanjut menjadi kwashiorkor atau
bahkan terjadi marasmik-kwasiorkor.
2.5.1 Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yangtimbul
diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot
di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan,gangg
uan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya.Anak
tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masihmerasa
lapar.
Pada awalnya, terjadi kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan
berat badan sampai berakibat kurus, dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi
berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang. Lemak pada daerah pipih adalah bagian

5
terakhir yang hilang sehingga untuk beberapa waktu muka bayi tampak relatif normal
sampai nantinya menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung atau datar dan
gambaran usus dapat dengan mudah dilihat. Terjadi atrofi otot dengan akibat hipotoni. Suhu
biasanya subnormal, nadi mungkin lambat, dan angka metabolism basal cenderung
menurun. Mula-mula bayi mungkin rewel, tetapi kemudian menjadi lesu dan nafsu makan
hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul diare dengan buang air besar sering,
tinja berisi mucus dan sedikit.
Ciri dari anak marasmus menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2004) antara lain:
 Penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
 Perubahan mental
 Kulit kering, dingin dan kendur
 Rambut kering, tipis dan mudah rontok
 Lemak subkutan menghilang sehingga turgor kulit berkurang
 Otot atrofi sehingga tulang terlihat jelas
 Iga gambang dan perut cekung,
 Otot paha mengendor (baggy pant),
 Sering diare atau konstipasi
 Kadang terdapat bradikardi
 Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang sebaya
 Kadang frekuensi pernafasan menurun
 Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar.
2.5.2 Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah malnutrisi disertai edema dan hipoalbumin, bermanifestasi sebagai
edema pitting yang dimulai dari ekstremitas bawah dan meluas ke bagian atas tubuh seiring
derajat keparahan. Menurut teori klasik, kwasiorkor disebabkan asupan protein yang tidak
adekuat sedangkan asupan kalori cukup atau mendekati cukup. Faktor lain yang mungkin
berperan adalah infeksi akut, toksin, dan kemungkinann ketidakseimbangan mikronutrien
atau asam amino. (nelson)
Ciri dari Kwashiorkor menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2004)antara lain:
 Perubahan mental sampai apatis
 Sering dijumpai Edema, pitting edema ringan sampai edema generalisata
6
 Atrofi otot
 Gangguan sistem gastrointestinal
 Perubahan rambut menjadi jarang, mudah dicabut, tampak kusam, berwarna coklat,
merah atau pirang
 Perubahan kulit bervariasi dari hiperkeratosis hiperpigmentasi sampai ruam makular
eritematosa
 Pembesaran hati
 Anemia
2.5.3 Marasmus- Kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor
danmarasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan juga energi
untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya beratbad
an < 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan
rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula.

2.6 Status Gizi


Status balita dapat diukur secara antropometri. Indeks antropometri yang sering
digunakan, yaitu berat badan terhadap umur (BB/U), tinggi badan terhadap umur (TB/U)
dan berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Standar rujukan yang dipakai untuk
penentuan klasifikasi status gizi dengan antropometri berdasarkan SK Menkes No.
920/Menkes/SK/VIII/2002, untuk menggunakan rujukan baku WHO-NCHS dengan melihat
Z-score.
Penggunaan indikator BB/U sebagai indikator status gizi memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan indikator BB/U yaitu dapat dengan mudah dan cepat dimengerti oleh
masyarakat umum, sensitif untuk melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek,
dapat mendeteksi kegemukan. Sedangkan kelemahan indikator BB/U yaitu interpretasi
status gizi dapat keliru apabila terdapat pembengkakan atau oedema, data umur yang akurat
sering sulit diperoleh terutama di negara-negara yang sedang berkembang, kesalahan pada
saat pengukuran karena pakaian anak yang tidak dilepas/dikoreksi dan anak yang bergerak
terus, masalah sosial budaya setempat yang mempengaruhi orang tua untuk tidak mau
menimbang anaknya karena dianggap sebagai barang dagangan.

7
Penggunaan indikator TB/U sebagai indikator status gizi memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan indikator TB/U yaitu dapat memberikan gambaran riwayat keadaan
gizi masa lampau dan dapat dijadikan indikator keadaan sosial ekonomi penduduk.
Sedangkan kelemahan indikator TB/U yaitu kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang
badan pada kelompok usia balita, tidak dapat menggambarkan keadaan gizi saat ini,
memerlukan data umur yang sering sulit diperoleh di negara-negara berkembang, kesalahan
sering dijumpai pada pembacaan skala ukur, terutama bila dilakukan oleh petugas non
professional.
Penggunaan indikator BB/TB sebagai indikator status gizi memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan indikator BB/TB yaitu independen terhadap umur dan ras dan dapat
menilai status kurus dan gemuk dan keadaan marasmus atau KEP berat lain. Sedangkan
kelemahan indikator BB/TB yaitu kesalahan pada saat pengukuran karena pakaian anak
yang tidak dilepas/dikoreksi dan anak bergerak terus, masalah sosial budaya setempat yang
mempengaruhi orang tua untuk tidak mau menimbang anaknya karena dianggap seperti
barang dagangan, kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang badan pada kelompok
usia balita, kesalahan sering dijumpai pada pembacaan skala ukur, terutama bila dilakukan
oleh petugas non profesional, tidak dapat memberikan gambaran apakah anak tersebut
pendek, normal atau jangkung.
2.7 Patofisiologi
Tubuh mengalami adaptasi ketika mengalami kelaparan dalam waktu singkat hingga
waktu yang lama.Respon metabolik pada kondisi kelaparan ditandai dengan perubahan
metabolisme karbohidrat menjadi metabolisme lemak. Pada awalnya glikogen dalam tubuh
akan menurun, lalu pada 24-48 jam pertama akan meningkatkan glukoneogenesis dari asam
amino dan gliserol. Ketogenesis mengambil alih dan metabolisme tubuh dipenuhi dengan
badan keton dan asam lemak bebas (free fatty acid). Pada kelaparan jangka lama, akan
dimulai katabolisme protein dan terjadi degradasi struktur protein yang penting dan
disfungsi sistem organ.
Perubahan utama diawali dari otot jantung dan skelet untuk menggunakan asam lemak
bebas dan keton bukan glukosa pada saat kondisi glukosa dalam tubuh sudah mulai
menurun. Sebenarnya glukosa dalam tubuh tidak sepenuhnya menurun. Glukosa yang
disimpan dalam bentuk glikogen di hepar hanya akan digunakan pada kondisi tertentu yang

8
buruk. Tiga puluh enam gram gula akan dirubah menjadi laktat yang akan di transport ke
liver. Liver menggunakan asam lemak bebas untuk glukoneogenesis. Proteolisis pada
kondisi puasa terjadi karena deficit insulin juga mengaktifkan jalur proteolitik (karena
pemberian dekstrosa intravena menghambat proteolisis)
Proteolisis tidak bisa berlajut pada kecepatan 75 gram setiap harinya. Dengan kondisi
kelaparan yang lama kecepatan katabolisme protein berkurang. Otak tidak lagi bergantung
pada glukosa dan bertahan dengan diet keton. Pada tahap ini tidak ada yang menggunakan
glukosa pada semua jaringan di tubuh. Semua jaringan membakar asam lemak bebas atau
keton. Karena ada penurunan kebutuhan tubuh pada glukosa sehingga ada penurunan
kebutuhan untuk glukoneogenesis dan menyebabkan penurunan kebutuhan untuk
katabolisme protein.

Ada 3 proses yang terjadi pada kondisi puasa. Yang pertama adalah fase post-absorbsi
yaitu adaptasi pertama yang dilakukan tubuh saat glukosa menurun dengan cara memecah
cadangan glukosa dalam bentuk glikogen. Sistem saraf pusat dan jaringan lain masih
memprioritaskan penggunaan glukosa dari pemecahan glikogen. Proses ini terjadi pada 24
jam pertama kondisi kelaparan. Pada grafik mulai tampak lipolisis dan glukoneogenesis
semakin meningkat dan diikuti dengan penurunan tajam glikogenolisis.
Pada hari kedua setelah 24 jam kelaparan tubuh akan mulai meningkatkan
glukoneogenesis. Katabolisme protein digunakan untuk memenuhi kebutuhan sistem saraf

9
pusat sedangkan jaringan lain menggunakan keton dan lemak. Proses ini berlangsung hingga
8 hari.
Pada hari ke sembilan, mulai berganti menjadi fase penyimpanan protein. Katabolisme
protein dikurangi menjadi minimal, asam lemak dan keton digunakan dimana-mana
dibandingkan glukosa untuk sistem saraf pusat

10
Ekonomi rendah, Kegagalan menyusui
kurangnya ASI, penyakit
pendidikan, hyiene kongenital, kurangnya
yang buruk kebutuhan kalori dan
energi
MALNUTRISI
Defisiensi vitamin
dan mineral Penurunan jumlah
protein dan energi
Na dan K menurun
Perubahan Pemenuhan energi
metabolisme tubuh dan protein menurun
Cepat lelah,
dehidrasi, dan anemia
KWASHIORKOR MARASMUS

KEKURANGAN Cadangan protein


Produksi albumin
VOLUME CAIRAN
dihepar menurun otot terpakai dalam
DAN ELEKTROLIT
waktu yang lama

Tekanan osmotik Gangguan metabolisme


plasma menurun di dalam tubuh (sel dan
jaringan)

Cairan dari
Gangguan absorbsi dan intravaskuler ke Defisiensi fungsi
transportasi zat gizi intersisial adam amino

Edema pada tubuh Tubuh kehilangan


Pengambilan energi energi terus menerus
di otot
KELEBIHAN INTOLERANSI
VOLUME CAIRAN OTOT MELEMAH AKTIVITAS
ATROFI OTOT
DAN MENGECIL DAN
Hilangnya jaringan KELEMAHAN
lemak dan penurunan
Gangguan motorik
BB Gangguan pembentukan tubuh
lipoprotein dari hepar
NUTRISI KURANG RESIKO
DARI KEBUTUHAN Penurunan GANGGUAN
detoksifikasi di hati TUMBANG

RESIKO INFEKSI

Gambar 2.1 Patofisiologi Gizi Buruk

11
2.8 Diagnosis Gizi Buruk
Diagnosis gizi buruk dimulai dari anamnesis. Anamnesis terdiri dari anamnesis
awal (untuk kedaruratan) dan anamnesis lanjutan. Pada anamnesis awal perlu ditanyakan
sebagai berikut:
a. Kejadian mata cekung yang baru saja muncul
b. Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah dan diare
(encer/darah/lendir)
c. Kapan terakhir berkemih
d. Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin
Jika muncul tanda tersebut kemungkinan anak mengalami dehidrasi dan atau syok
serta harus diatasi segera. Anamnesis lanjutan berguna untuk mencari penyebab dan
rencana tatalaksana selanjutnya, dilakukan setelah kedaruratan ditangani.
a. Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit
b. Riwayat pemberian ASI
c. Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir
d. Hilangnya nafsu makan
e. Kontak dengan pasien campak atau tuberculosis paru
f. Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
g. Batuk kronik
h. Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung
i. Berat badan lahir
j. Riwayat tumbuh kembang : duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
k. Riwayat imunisasi
l. Apakah ditimbang setiap bulan
m. Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang social anak)
n. Diketahui atau tersangka infeksi virus HIV
Diagnosis selanjutnya ditegakkan dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik
yang bisa dilakukan adalah:
a. Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua punggung kaki.
Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB
b. Tanda dehidrasi : tampak haus, mata cekung, turgor buruk

12
c. Adakah tanda syok (tangan dingin, capillary refill time yang lambat, nadi lemah dan
cepat) kesadaran menurun.
d. Demam (suhu aksilar >= 37.5 oC) atau hipotermi (suhu aksilar <35.5oC)
e. Frekuensi dan tipe pernapasan : pneumonia atau gagal jantung
f. Sangat pucat
g. Pembesaran hati dan icterus
h. Adakah perut kembung, bising usus melemah/meninggi, tanda asites, atau adanya
suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash)
i. Tanda defisiensi vitamin A pada mata: konjungtiva atau krnea yang kering, bercak
bitot, ulkus kornea, keratomalasia
j. Ulkus pada mulut
k. Fokus infeksi : telinga, tenggorokan, paru, kulit
l. Lesi kulit pada kwashiorkor :
a. Hipo-hiper pigmentasi
b. Deskuamasi
c. Ulserasi (kaki, paha, genital, lipatan paha, belakang telinga)
d. Lesi eksudatif (menyerupai luka bakar) seringkali dengan infeksi sekunder
(termasuk jamur)
m. Tampilan tinja (konsistensi, darah, lender)
n. Tanda dan gejala infeksi HIV

Berikut adalah bagan pemeriksaan klinis untuk gizi buruk.

13
Gambar 2.2 Pemeriksaan klinis gizi buruk

2.9 Penatalaksanaan Anak dengan Gizi Buruk

Gambar 2.3 Alur pelayanan anak dengan gizi buruk15

14
a. Penanganan anak gizi buruk rawat jalan
Pelayanan pemulihan anak gizi buruk dilaksanakan sampai dengan anak berstatus gizi kurang
(-2 SD sampai -3 SD). Pelayanan anak gizi buruk dilakukan dengan frekuensi sebagai berikut:
 3 bulan pertama, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap minggu
 Bulan ke 4 sampai ke 6, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap 2 minggu
Anak yang belum dapat mencapai status gizi kurang (-2 SD sampai -3 SD, dan tidak ada
edema) dalam waktu 6 bulan, dapat melanjutkan kembali proses pemulihan, dengan
ketentuan, jika:
 Masih berstatus gizi buruk, rujuk ke RS atau Puskesmas Perawatan atau Pusat Pemulihan
Gizi (PPG)
 Sudah berstatus gizi kurang, maka dilanjutkan dengan program pemberian makanan
tambahan dan konseling.

Pengukuran antropometri
 Penimbangan berat badan dilakukan setiap minggu
 Pengukuran panjang/tinggi badan dilakukan setiap bulan
 Pengukuran antropometri dilakukan oleh Tim Pelaksana dan hasilnya dicatat pada kartu
status. Selanjutnya dilakukan ploting pada grafik dengan tiga indikator pertumbuhan anak
(TB/U atau PB/U, BB/U, BB/PB atau BB/TB).

Pemeriksaan klinis
Dokter melakukan anamnesa untuk mencari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik dan
mendiagnosa penyakit, serta menentukan ada atau tidak penyakit penyerta, tanda klinis atau
komplikasi.

Pemberian konseling
 Menyampaikan informasi kepada ibu/pengasuh tentang hasil penilaian pertumbuhan anak
 Mewawancarai ibu untuk mencari penyebab kurang gizi
 Memberi nasihat sesuai penyebab kurang gizi
 Memberikan anjuran pemberian makan sesuai umur dan kondisi anak dan cara menyiapkan
makan formula, melaksanakan anjuran makan dan memilih atau mengganti makanan.

Pemberian paket obat dan makanan untuk pemulihan gizi

15
a. Obat
 Bila pada saat kunjungan ke puskesmas anak dalam keadaan sakit, maka oleh tenaga
kesehatan anak diperiksa dan diberikan obat
 Vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak gizi buruk dengan dosis sesuai umur pada
saat pertama kali ditemukan
b. Makanan untuk Pemulihan Gizi
Makanan untuk pemulihan gizi dapat berupa makanan lokal atau pabrikan
 Jenis pemberian ada 3 pilihan: makanan therapeutic atau gizi siap saji, F100 atau
makanan lokal dengan densitas energi yg sama terutama dari lemak
(minyak/santan/margarin)
 Pemberian jenis Makanan untuk pemulihan gizi disesuaikan masa pemulihan
(rehabilitasi) :
o 1 minggu pertama pemberian F 100.
o Minggu berikutnya jumlah dan frekuensi F100 dikurangi seiring dengan penambahan
makanan keluarga.
 Tenaga kesehatan memberikan makanan untuk pemulihan gizi kepada orangtua anak
gizi buruk pada setiap kunjungan sesuai kebutuhan hingga kunjungan berikutnya.

Makanan untuk Pemulihan Gizi


a. Prinsip
1. Makanan untuk Pemulihan Gizi adalah makanan padat energi yang diperkaya dengan
vitamin dan mineral.
2. Makanan untuk Pemulihan Gizi diberikan kepada anak gizi buruk selama masa
pemulihan.
3. Makanan untuk Pemulihan Gizi dapat berupa: F100, makanan therapeutic/gizi siap saji
dan makanan lokal.
4. Makanan lokal dengan bentuk mulai dari makanan bentuk cair, lumat, lembik, padat.
5. Bahan dasar utama Makanan Untuk Pemulihan Gizi dalam formula F100 dan makanan
gizi siap saji (therapeuticfeeding) adalah minyak, susu, tepung, gula, kacangkacangan
dan sumber hewani. Kandungan lemak sebagai sumber energi sebesar 30-60 % dari

16
total kalori. Makanan lokal dengan kalori 200 kkal/Kg BB per hari, yang diperoleh dari
lemak 30-60% dari total energi, protein 4-6 g/Kg BB per hari.
6. Apabila akan menggunakan makanan lokal tidak dilakukan secara tunggal (makanan
lokal saja) tetapi harus dikombinasikan dengan makanan formula.
b. Jumlah dan Frekuensi
Makanan untuk Pemulihan Gizi bukan makanan biasa tetapi merupakan makanan khusus
untuk pemulihan gizi anak yang diberikan secara bertahap:
1. Anak gizi buruk dengan tanda klinis diberikan secara bertahap:
 Fase rehabilitasi awal 150 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali pemberian/hari.
Diberikan selama satu minggu dalam bentuk makanan cair (Formula 100).
 Fase rehabilitasi lanjutan 200-220 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali
pemberian/hari (Formula 100).
2. Anak gizi buruk tanpa tanda klinis langsung diberikan fase rehabilitasi lanjutan 200-
220 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali pemberian/hari (Formula 100).
Rehabilitasi lanjutan diberikan selama 5 minggu dengan pemberian makanan secara
bertahap dengan mengurangi frekuensi makanan cair dan menambah frekuensi makanan
padat.
b.Penanganan anak gizi buruk rawat inap

Gambar 2.4 Jadwal pengobatan anak dengan gizi buruk

17
Hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Jangan berikan Fe sebelum minggu kedua (Fe diberikan pada fase stabilisasi)
2. Jangan berikan cairan intravena kecuali syok atau dehidrasi berat
3. Jangan berikan protein terlalu tinggi pada fase stabilisasi
4. Jangan berikan diuretic pada penderita kwashiorkor

A. Tanda bahaya dan tanda penting


1. Kondisi I : jika ditemukan renjatan (syok), letargi, muntah dan atau diare atau
dehidrasi. Berikan cairan dan makanan menurut rencana I.
2. Kondisi II : jika ditemukan letargis, muntah dan atau diare atau dehidrasi. Berikan
cairan dan makanan menurut rencana II.
3. Kondisi III : jika ditemukan muntah dan atau diare atau dehidrasi. Berikan cairan

18
dan makanan menurut rencana III.
4. Kondisi IV : jika ditemukan letargi. Berikan cairan dan makanan menurut rencana
IV.
5. Kondisi V : jika tidak ditemukan renjatan (syok), letargi, muntah dan atau diare atau
dehidrasi. Berikan cairan dan makanan menurut rencana V.

2.5 Bagan Hasil Pemeriksaan dan Tindakan Pada Anak Gizi Buruk

19
2.6 Bagan Rencana 1

20
2.7 Bagan Rencana 1 Lanjutan

21
2.8 Bagan Rencana II

22
2.9 Bagan Rencana III

23
2.10 Bagan Rencana IV

24
2.11 Bagan Rencana V

25
2.12 Bagan Transisi dan Rehabilitasi

26
2.13 Petunjuk Pemberian Antibiotik

2.14 Cara Mengatasi Hipoglikemia

27
2.15 Cara Mengetahui & Mengatasi Hipotermia

28
2.16 Pengobatan Gangguan Mata dan Pemberian Vitamin A

2.17 Pemberian Zat Besi dan Sirup Besi

29
2.18 Pengobatan Penyakit Kulit

2.19 Pengobaan Pada Diare

30
2.20 Pengobatan Anemia Berat

Fase Tindak Lanjut (dilakukan di rumah)


Setelah anak pulang dari PPG, anak tetap dikontrol oleh Puskesmas pengirim secara
berkala melalui kegiatan Posyandu atau kunjungan ke Puskesmas. Lengkapi imunisasi yang
belum diterima, berikan imunisasi campak sebelum pulang. Anak tetap melakukan kontrol
(rawat jalan) pada bulan I satu kali/ minggu, bulan II satu kali/ 2 minggu, selanjutnya
sebulan sekali sampai dengan bulan ke-6. Tumbuh kembang anak dipantau oleh tenaga
kesehatan Puskesmas pengirim sampai anak berusia 5 tahun.
Melakukan rangsangan atau stimulasi tumbuh kembang setiap saat dalam suasana yang
menyenangkan. Jika pada usia yang disebutkan bayi belum bisa melakukan minimal salah
satu diantara perkembangan maka harus membawa bayi ke dokter/bidan/perawat. Bawa anak
3 bulan – 2 tahun setiap 3 bulan ke fasilitas untuk mendapatkan pelayanan SDIDTK.
 Stimulasi Bayi usia 0 – 3 bulan
 Sering memeluk dan menimang bayi dengan penuh kasih sayang
 Gantung benda berwarna cerah yang bergerak dan bisa dilihat bayi
 Tatap mata bayi dan ajak tersenyum, bicara dan bernyanyi
 Perdengarkan music atau suara kepada bayi
 Mulai 3 bulan bawa bayi ke luar rumah memperkenalkan lingkungan
sekitar

31
 Pada usia 1 bulan bayi bisa: menatap ke ibu mengeluarkan suara o..o…,
tersenyum, menggerakkan tangan dan kaki
 Pada usia 3 bulan bayi bisa: mengangkat kepala tegak ketiak tengkurap,
tertawa, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, membalas tersenyum
ketika diajak bicara/tersenyum, mengoceh spontan atau bereaksi dengan
mengoceh.
 Stimulasi bayi usia 3 – 6 bulan
 Sering telungkupkan bayi
 Gerakkan benda ke kiri dan kanan di depan matanya
 Perdengarkan berbagai bunyi-bunyian
 Beri mainan benda yang besar dan berwarna
 Bayi usia 6 bulan bisa: berbalik dari telungkup ke telentang,
Mempertahankan posisi kepala tetap tegak, meraih benda yang ada di
dekatnya, menirukan bunyi, menggenggam mainan, tersenyum ketika melihat
mainan/gambar yang menarik.
 Stimulasi bayi usia 6 – 12 bulan
 Ajari bayi duduk, main CI-LUK-BA, memegang dan makan biscuit,
memegang benda kecil dengan 2 jari, berdiri dan berjalan dengan
berpegangan, bicara sesering mungkin.
 Latih mengucapkan ma ma, pa pa
 Beri mainan yang aman di pukul-pukul
 Pada umur 9 bulan bayi bisa: merambat, mengucapkan ma..ma, da…da,
meraih benda sebesar kacang, mencari benda/mainan yang dijatuhkan, bermain
tepuk tangan atau ci-luk-ba, makan kue/biscuit sendiri
 Pada umur 12 bulan bayi bisa: berdiri dan berjalan berpegangan,
memegang benda kecil, meniru kata sederhana seperti ma..ma..pa..pa..,
mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal, menunjuk
apa yang diinginkan tanpa menangis atau merengek.

32
 Stimulasi anak usia 1-2 tahun
 Ajari berjalan di tangga, membersihkan meja dan menyapu, membereskan
mainan, mencoret-coret di kertas, menyebut bagian tubuhnya, bernyanyi,
bermain dengan teman, bergerak bebas dalam pengawasan
 Bacakan cerita ke anak
 Berikan pujian kalau ia berhasil melakukan sesuatu
 Orang tua membimbing anak agar mematuhi aturan main.
 Biasakan menggunakan perkataan santun
 Pada umur 2 tahun anak bisa: naik tangga dan berlari, mencoret-coret
pensil pada kertas, dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya,
menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti (piring, bola, dsb), memegang
cangkir sendiri, belajar makan-minum sendiri
 Stimulasi anak usia 2-3 tahun
 Ajari berpakaian sendiri, melihat buku bergambar, makan di piring sendiri,
cuci tangan, buang air besar dan kecil di tempatnya, menghormati orang
lain, beribadah.
 Bacakan cerita ke anak
 Bawa anak ke PAUD
 Umur 3 tahun anak bisa: mengayuh sepeda roda tiga, berdiri di atas satu
kaki tanpa berpegangan, bicara dengan baik menggunakan 2 kata,
mengenal 2-4 warna, menyebut nama, umur dan tempat, menggambar
garis lurus, bermain dengan teman, melepas pakaiannya sendiri,
mengenakan baju sendiri.
 Stimulasi anak usia 3-5 tahun
 Minta anak menceritakan apa yang dilakukan
 Dengarkan anak ketika bicara
 Jika anak gagap, ajari bicara pelan-pelan
 Awasi anak ketika bermain
 Ajak anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan bersama
 Ajarkan anak tentang perbedaan jenis kelaminnya

33
 Latih anak tidur terpisah dari orang tua dan anak yang berbeda jenis
kelamin
 Biasakan anak untuk berkata jujur, berterima kasih dan meminta maaf
 Figure ayah sebagai contoh bagi anak laki-laki, dan figure ibu sebagai
contoh bagi anak perempuan
 Kembangkan kreativitas anak dan kemampuan bergaul
 Pada usia 5 tahun anak bisa: melompat-lompat 1 kaki menari dan berjalan
lurus, menggambar orang 3 bagian (kepala, badan, tangan/kaki),
menggambar tanda silang dan lingkaran, menangkap bola kecil dengan
kedua tangan, menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar,
menyebut angka, menghitung jari, bicaranya mudah dimengerti,
berpakaian sendiri tanpa dibantu, mengancing baju atau pakaian boneka,
mnggosok gigi tanpa bantuan.
Kriteria sembuh:
Bila BB/TB atau BB/PB > -2 SD dan tidak ada gejala klinis dan memenuhi kriteria
pulang sebagai berikut:
1. Edema sudah berkurang atau hilang, anak sadar, danaktif
2. BB/PB atau BB/TB > -3 SD
3. Komplikasi sudah teratasi
4. Ibu telah mendapat konseling gizi
5. Ada kenaikan BB sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut
6. Selera makan sudah baik, makanan yang diberikan dapat dihabiskan.

2.10 Pencegahan Masalah Gizi9


1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama mencakup promosi kesehatan dan perlindungan khusus
dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat terhadap hal-
hal yang dapat mencegah terjadinya kekurangan gizi. Tindakan yang termasuk dalam
pencegahan tingkat pertama:
a. Hanya memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan.
b. Memberikan MP-ASI setelah umur 6 bulan.
c. Menyusui diteruskan sampai umur 2 tahun.

34
d. Menggunakan garam beryodium
e. Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A, tablet Fe) kepada anak balita.
f. Pemberian imunisasi dasar lengkap.
2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat kedua lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan
deteksi dini untuk menemukan kasus gizi kurang di dalam populasi. Pencegahan tingkat
kedua bertujuan untuk menghentikan perkembangan kasus gizi kurang menuju suatu
perkembangan ke arah kerusakan atau ketidakmampuan. Tindakan yang termasuk dalam
pencegahan tingkat kedua:
a. Pemberian makanan tambahan pemulihan (MP-ASI) kepada balita gakin yang berat
badannya tidak naik atau gizi kurang.
b. Deteksi dini (penemuan kasus baru gizi kurang) melalui bulan penimbangan balita
di posyandu.
c. Pelaksanaan pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi).
d. Pelaksanaan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk.
e. Pemantauan Status Gizi (PSG)
3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga ditujukan untuk membatasi atau menghalangi
ketidakmampuan, kondisi atau gangguan sehingga tidak berkembang ke arah lanjut
yang membutuhkan perawatan intensif. Pencegahan tingkat ketiga juga mencakup
pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat
masalah gizi sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Tindakan yang termasuk
dalam pencegahan tingkat ketiga:
a. Konseling kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan pertumbuhan.
b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi
kepada anak.
c. Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan puskesmas dan rumah sakit.
d. Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi.
e. Melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan koordinasi lintas program dan
lintas sektor dengan cara memberikan bantuan pangan, pengobatan penyakit,
penyediaan air bersih, dan memberikan penyuluhan gizi.

35
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Gizi buruk masih merupakan masalah kesehatan utama di banyak negara di dunia,
terutama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Salah satu
klasifikasi dari gizi buruk adalah tipe marasmik-kwashiorkor, yang diakibatkan defisiensi
protein berat dan pemasukan kalori yang sedikit atau tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
gizi.
Manifestasi klinis marasmik-kwashiorkor yang sering ditemui antara lain hambatan
pertumbuhan, hilangnya jaringan lemak bawah kulit, atrofi otot, perubahan tekstur dan warna
rambut, kulit kering dan memperlihatkan alur yang tegas dalam, pembesaran hati, anemia,
anoreksia, edema, dan lain-lain.
Diagnosis marasmik-kwashiorkor ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik (gejala
klinis dan abnormalitas pada pemeriksaan antropometrik) dan laboratorium yang
memperlihatkan penurunan kadar albumin, kolesterol, glukosa, gangguan keseimbangan
elektrolit, hemoglobin, serta defisiensi mikronutrien yang penting bagi tubuh.

3.2. Saran
Diperlukan anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik dan penunjang yang tepat sehingga
dapat dilakukan penatalaksanaan marasmik-kwashiorkor secara optimal. Penanganan
penyakit ini harus dilakukan dengan tepat dalam waktu sedini mungkin untuk mencegah
komplikasi yang menurunkan kualitas hidup bahkan kematian.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat


Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB-Gizi Buruk.
Departemen Kesehatan RI, 2008.
2. Muller O, Krawinkel M. Malnutrition and Health in Developing Countries. CMAJ 173:279-
86
3. Perkembangan Penanggulangan Gizi Buruk Di Indonesia Tahun 2005. Diakses dari
http://www.gizi.net/busung-apar/Laporan%20Gizi%20Buruk%20sampai%20Des2005-
Final.pdf tanggal 3 Maret 2011.
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat
Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Departemen
Kesehatan RI, 2007.
5. Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan RI. Glosarium Data dan Informasi
Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. 2006.
6. Pudjiadi, S. Penyakit KEP (Kurang Energi Protein). Dalam Ilmu Gizi Klinis pada Anak.
Edisi 4 2000. Hal 97-190.
7. Admin.Program Perbaikan Gizi Makro. Diakses dari
http://www.gizi.net/kebijakangizi/download/GIZI%20MAKRO.doc, 2004.
8. Simanjuntak,E. Faktor Resiko Kurang Energi Protein Pada Balita Di Kota Medan. Diakses
dari
http://library.usu.ac.id/index.php/component/journals/index.php?option=com_journalreview
&id=3197&task=view, 2008.
9. Marizza, Nofelia.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Kurang Energi Protein
(KEP) Pada Balita Di URJ RSU Dr. Soetomo Surabaya. Diakses dari
http://ojs.lib.unair.ac.id/index. php/bprsuds/article/view/1439/1438.
10. Boerhan H, Roedi. Kurang Energi Protein (KEP). Diakses
dari:http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=ePDT&direktori=pdt&filep
df=0&pdf=&html=07110-rswg255.htm.
11. Heird, WC. Food Insecurity, Hunger, and Undernutrition In Nelson Textbook of Pediatrics,
19th ed. P. 167-73. Philadelphia: Sauders Elsevier.

37
12. Shetty, P. Malnutrition and Undernutrition. Medicine, 2006. 34:524-29.
13. Gulden, MHN. Malnutrition. In Textbook of Pediatric Gastroenterology and Nutrition.
2004. USA: Taylor and Franchis. P.489-523.
14. Braun TV, McComb J, et al. Urban Food Inseconts and Malnutrition in Developing
Countries. 1993. USA: International Food Policy Research Institute. P. 12-16.
15. World Health Organization. Gizi Buruk. Dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di
Rumah Sakit. 2009. Hal 193-222.

38