Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakan

Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama.


Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi
susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis
merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan
angka kecacatan 30-50%.

Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian


penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus
influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis.
Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang
dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria
meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4
tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan
Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi
pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk
seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi
mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan meningitis?
2. Apakah etiologi dari meningitis?
3. Bagaimana patofisiologi dari meningitis?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari meningitis?
5. Bagaimana cara pemeriksaan diagnosa dari meningitis?
6. Bagaimana penatalaksanaan medisdari meningitis?
7. Bagaimana cara pengkajian keperawatan dari meningitis?

1
C. TUJUAN PENULISAN
Setelah dilakukan pembelajaran tentang Asuhan Keperawatan Anak dengan
Meningitis, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Memahami tentang pengertian dari meningitis
2. Memahami tentang etiologi dari meningitis
3. Memahami tentang patofisiologi/pathway dari meningitis
4. Memahami tentang manifestasi klinis dari meningitis
5. Memahami tentang pemerikaan diagnosa dari meningitis

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Meningitis
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan
spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat.
(Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)
Meningitis adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan
oleh berbagai organisme pathogen. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri
Rudolph,vol.1, 2006 )
. Meningitis merupakan infeksi parah pada selaput otak dan lebih sering
ditemukan pada anak-anak. Infeksi ini biasanya merupakan komplikasi dari
penyakit lain, seperti campak, gondong, batuk rejan atau infeksi telinga.
(http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/otak.htm)
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus
meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus
tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang
menghirup udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).

B. Etiologi
1. Bakteri:
a. Neonatus sampai 2 bulan: GBS, basili gram negative, missal, Escherichia coli,
Liateria monocytogenes, S. agalactiae (streptokokus gram B)
b. 1 bulan sampai 6 tahun: Neisseria meningitidis (meningokokus), Streptococcus
pneumoniae, Hib
c. > 6 tahun: Neisseria meningitides, Streptococcus pneumoniae, parotitis (pre-
MMR)
d. Mycobacterium tuberculosis: dapat menyebabkan meningitis TB pada semua
umur. Pling sering pada anak umur 6 bulan sampai 6 tahun

3
2. Virus
Enterovirus (80%), CMV, arbovirus, dan HSV

C. Faktor resiko
1. Faktor predisposisi: laki-laki lebih sering disbanding dengan wanita
2. Faktor maternal: rupture membran fetal, infeksi metrnal pada minggu terakhir
kehamilan
3. Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien karena
penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S. Pneumoniae dan Hib),
anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi
4. Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injuri yang
berhubungan dengan system persarafan
5. Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah: lingkungan padat,
kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena (penularan melalui
sekresi pernapasan)

D. Klasifikasi
1. Meningitis Purulenta:
Radang selaput otak ( araknoidea dan piameter) yang menimbulkan eksudasi
berupa pus, disebabkan oleh kuman nonspesifik dan nonvirus.
2. Meningitis Tuberkulosa:
Terjadi akibat komplikasi penyebaran tuberculosis primer, biasanya dari paru.
Meningitis terjadi bukan karena terimfeksinya selaput otak langsung oleh
penyebaran hematogen, tetapi biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel
pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian
pecah ke rongga araknoid (Rich dan McCordeck). Anak-anak yang ibunya
menderita TBC kadang-kadang mendapatkan meningitis tuberkolusa pada bulan
bulan pertama setelah lahir
.

4
D. Patofisiologi
Meningitis terjadi akibat masuknya bakteri ke ruang subaraknoid, baik
melalui penyebaran secara hematogen, perluasan langsung dari fokus yang
berdekatan, atau sebagai akibat kerusakan sawar anatomik normal secara
konginetal, traumatik, atau pembedahan. Bahan-bahan toksik bakteri akan
menimbulkan reaksi radang berupa kemerahan berlebih (hiperemi) dari pembuluh
darah selaput otak disertai infiltrasi sel-sel radang dan pembentukan eksudat.
Perubahan ini terutama terjadi pada infeksi bakteri streptococcus pneumoniae dan
H. Influenzae dapat terjadi pembengkakan jaringan otak, hidrosefalus dan infark
dari jaringan otak.
Efek peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebro spinalis
yang dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi hidrosefalus dan
peningkatan TIK. Efek patologi dari peradangan tersebut adalah hiperemi pada
meningen. Edem dan eksudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan
intrakranial. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005).
Penyebaran hematogen merupakan penyebab tersering, dan biasa terjadi
pada adanya fokus penyakit lain (misalnya, pneumonia, otitis media, selulitis)
atau akibat bakteremia spontan. Oleh karena patogen-lazim menyebar melalui
jalur pernapasan , peristiwa awalnya adalah kolonisasi traktus respiratorius bagian
atas.
Meningitis yang disebabkan oleh penyebaran nonhematogen mencakup
penyebaran infeksi dari daerah infeksi yang berdekatan ( otitis media, mastoiditis,
sinusitis, osteomielitis vertebralis atau tulang kranialis) serta kerusakan anatomi
(fraktur dasar tengkorak, pasca-prosedur bedah saraf, atau sinus dermal konginetal
di sepanjang aksis kraniospinalis). Gambaran lazim setiap penyebab infeksi
adalah masuknya bakteri patogen ke dalam ruang subaraknoid dan perbanyakan
bakteri. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 )
Meningitis biasanya mulai perlahan-lahan tanpa panas atau terdapat
kenaikan suhu yang ringan saja, jarang terjadi akut dengan panas yang tinggi.
Sering dijumpai anak mudah terangsang atau menjadi apatis dan tidurnya sering

5
terganggu. Anak besar dapat mengeluh nyeri kepala. Anoreksia, obstipasi, dan
muntah juga sering dijumpai.
Stadium ini kemudian disusul dengan stadium transisi dengan kejang.
Gejala di atas menjadi lebih berat dan gejala rangsangan meningeal mulai nyata,
kuduk kaku, seluruh tubuh menjadi kaku dan timbul opistotonus. Refleks tendon
menjadi lebih tinggi, ubun-ubun menonjol dan umumnya juga terdapat
kelumpuhan urat saraf mata sehingga timbul gejala strabismus dan nistagmus.
Sering tuberkel terdapat di koroid. Suhu tubuh menjadi lebih tinggi dan kesadaran
lebih menurun hingga timbul stupor.
Stadium terminal berupa kelumpuhan-kelumpuhan, koma menjadi lebih
dalam, pupil melebar dan tidak bereaksi sama sekali. Nadi dan pernapasan
menjadi tidak teratur, sering terjadi pernafasan `Cheyne-Stokes`.
Hiperpireksia timbul dan anak meninggal tanpa kesadarannya pulih
kembali. Tiga stadium tersebut biasanya tidak mempunyai batas yang jelas antara
satu dengan lainnya, namun jika tidak diobati umumnya berlangsung 3 minggu
sebelum anak meninggal. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005)

F. Komplikasi
a. Hidrosefalus obstruktif
b. Meningococcal septicemia (mengingocemia)
c. Sindrom Water Friderichsen (septic syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral)
d. SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic Hormone)
e. Efusi subdural
f. Kejang
g. Edema dan herniasi serebral
h. Cerebral Palsy
i. Gangguan mental
j. Gangguan belajar
k. Attention deficit disorder

6
G. Manifestasi klinis
Trias klasik gejala meningitis adalah demam, sakit kepala, dan kaku kuduk.
Namun pada anak di bawah usia dua tahun, kaku kuduk atau tanda iritasi
meningen lain mungkin tidak ditemui. Peruban tingkat kesadaran lazim terjadi
dan ditemukan pada hingga 90% pasien. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri
Rudolph,vol.1, 2006 )
Pada bukunya, Wong menjabarkan manifestasi dari meningitis berdasarkan
golongan usia sebagai berikut:

Anak dan Remaja


a. Awitan biasanya tiba-tiba
b. Demam
c. Mengigil
d. Sakit kepala
e. Muntah
f. Perubahan pada sensorium
g. Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal )
h. Peka rangsang
i. Agitasi
j. Kekakuan nukal
k. Dapat berlanjut menjadi opistotonus
l. Tanda Kernig dan Brudzinski positif
m. Hiperaktif tetapi respons refleks bervariasi
n. Tanda dan gejala bersifat khas untuk setiap organisme:
o. Ruam ptekial atau purpurik (infeksi meningokokal), terutama bila
berhubungan dengan status seperti syok
p. Keterlibatan sendi (infeksi meningokokal dan H. influenzae)
q. Drain telinga kronis (meningitis pneumokokal)
r. Dapat terjadi:
Fotofobia

7
Delirium
Halusinasi
Perilaku agresif atau maniak
Mengantuk
Stupor
Koma

Bayi dan Anak Kecil


Gambaran klasik jarang terlihat pada anaka-anak antara usia 3 bulan dan 2 tahun
a. Muntah
b. Peka rangsangan yang nyata
c. Sering kejang (seringkali disertai dengan menangis nada tinggi)
d. Fontanel menonjol
e. Kaku kuduk dapat terjadi dapat juga tidak
f. Tanda Brudzinski dan Kernig bersifat tidak membantu dalam diagnosa
g. Sulit untuk dimunculkan dan dievaluasi dalam kelompok usia
h. Empihema subdural (infeksi Haemophilus influenza)
Neonatus: Tanda-tanda Spesifik
a. Secara khusus sulit untuk didiagnosa
b. Manifestasi tidak jelas dan tidak spesifik
c. Baik pada saat lahir tetapi mulai terlihatmenyedihkan dan berperilaku buruk
dalam beberapa hari
d. Menolak untuk makan
e. Kemampuan menghisap buruk
f. Muntah atau diare
g. Tonus buruk
h. Kurang gerakan
i. Menangis buruk
j. Fontanel penuh, tegang, dan menonjol dapat terlihat pada akhir perjalanan
penyakit
k. Leher biasanya lemas

8
Tanda-tanda Nonspesifik yang Mungkin Terjadi pada Neonatus
a. Hipotermia atau demam (tergantung pada maturitas bayi)
b. Ikterik
c. Peka rangsang
d. Mengantuk
e. Kejang
f. Ketidakteraturan pernapasan atau apnea
g. Sianosis
h. Penurunan berat badan
(Donna L. Wong. Pedoman Keperawatan Pediatrik,ed.4,2003 )

H. Pemeriksaan diagnosa
1. Punksi Lumbal : tekanan cairan meningkat, jumlah sel darah putih
meningkat, glukosa menurun, protein meningkat.
Indikasi Punksi Lumbal:
a. Setiap pasien dengan kejang atau twitching baik yang diketahui dari anamnesis
atau yang dilihat sendiri.
b. Adanya paresis atau paralysis. Dalam hal ini termasuk strabismus karena
paresis N.VI.
c. Koma.
d. Ubun-ubun besar menonjol.
e. Kuduk kaku dengan kesadaran menurun.
f. Tuberkulosis miliaris dan spondilitis tuberculosis.
g. Leukemia.
2. Kultur swab hidung dan tenggorokan (Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan
pada Anak, ed.2, 2006)
3. Darah: leukosit meningkat, CRP meningkat, U&E, glukosa, pemeriksaan
factor pembekuan, golongan darah dan penyimpanan.
4. Mikroskopik, biakan dan sensitivitas: darah, tinja, usap tenggorok, urin,
rapid antigen screen.
5. CT scan: jika curiga TIK meningkat hindari pengambilan sample dengan LP.

9
6. LP untuk CSS: merupakan kontra indikasi jika dicurigai tanda neurologist
fokal atau TIK meningkat.
7. CSS pada meningitis bakteri: netrofil, protein meningkat (1-5g/L), glukosa
menurun (kadar serum <50%) 8. CSS pada meningitis virus: limfosit (pada
mulainya netrofil), protein normal/meningkat ringan, glukosa normal, PCR untuk
diagnosis. 9. CSS: mikroskopik (pulasan Gram, misal, untuk basil tahan asam
pada meningitis TB), biakan dan sensitivitas.

I. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan efektif untuk meningitis bergantung pada terapi suportif
agresif yang dini dan pemilihan antimikroba empirik yang tepat untuk
kemungkinan patogen. Tindakan suportif umum diindikasikan bagi setiap pasien
yang menderita patologi intrakranium berat. Pasien dengan Meningitis purulenta
pada umumnya dalam keadaan kesadaran yang menurun dan seringkali disertai
muntah-muntah atau diare. Untuk menghindari kekurangan cairan/elektrolit,
pasien perlu langsung dipasang cairan intavena. Jika terdapat gejala asidosis harus
dilakukan koreksi. Pengelolaan cairan merupakan hal yang sangat penting pada
pasien meningitis. Sindrom sekresi hormon antidiuretik yang tidak tepat (SIADH,
syndrome of inappropriate antidiuretic hormone secretion) terjadi pada sekitar
30% pasien meningitis, dan jika ditemukan, harus dilakukan pembatasan cairan.

Meskipun demikian, sebuah studi klinis telah membuktikan pentingnya


memelihara tekanan perfusi otak yang adekuat pada penyakit ini. Pembatasan
cairan secara tidak tepat dapat menimbulkan deplesi volume, yang jika ekstrim,
dapat menuju pada ketidakadekuatan volume sirkulasi. Sebaiknya cairan mula-
mula dibatasi, sementara menunggu pemeriksaan elektrolit urin dan serum. Bila
terdapat SIADH, pembatasan cairan sampai dua pertiga cairan pemeliharaan
merupakan tindakan yang tepat, sampai kelebihan hormon antidiuretuk pulih; bila
tidak terdapat SIADH, cairan harus diberikan dalam jumlah yang sesuai dengan
derajat kekurangan cairan, dan elektrolit diawasi secara seksama. Terapi
peningkatan tekanan intrakranium harus diarahkan pada pemeliharaan derajat

10
tekanan perfusi otak yang adekuat, seperti pada kondisi lain yang dipersulit oleh
hipertensi intrakranium. Cara yang ada bisa termasuk hiperventilasi, pengambilan
CSS melalui kateter intraventrikel, atau mungkin pemakaian obat diuretikosmotik
secara hati-hati. Pada kecurigaan meningitis, antibiotik intravena diberikan secara
empiric sementara menunggu hasil biakan. Pemilihan antibiotik awal didasarkan
pada kemungkinan pathogen menurut kelompok usia, pajanan yang diketahui, dan
setiap faktor resiko yang tidak lazim bagi pasien. Prinsip terapi antimikroba
meningitis mencakup pemilihan antibiotik yang bersifat bakterisid terhadap
pathogen yang dicurigai dan yang mampu mencapai konsentrasi CSS setidaknya
sepuluh konsentrasi bakterisid minimal untuk organisme tersebut, karena inilah
konsentrasi yang dalam penelitian hewan telah terbukti berkolerasi dengan
sterilisasi CSS paling efektif. (Jay Tureen.
Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 ) Bila pasien masuk dalam
keadaan status konvulsivus, diberikan diazepam 0,5 mg/kg BB/kali IV, dan dapat
diulang dengan dosis yang sama 15 menit kemudian bila kejang belum berhenti.
Ulangan pemberian diazepam berikutnya (yang ketiga kali) dengan dosis sama
tetapi diberikan secara IM. Setelah kejang dapat diatasi, diberikan fenobarbital
dosis awal untuk neonatus 30 mg; anak < 1 tahun 50 mg dan anak > 1 tahun 75
mg. Selanjutnya untuk pengobatan rumat diberikan fenobarbital dengan dosis 8-
10 mg/kg BB/hr dibagi dalam 2 dosis, diberikan selama 2 hari (dimulai 4 jam
setelah pemberian dosis awal). Hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hr
dibagi dalam 2 dosis. Bila tidak tersedia diazepam, fenobarbital dapat langsung
diberikan dengan dosis awal dan selanjutnya dosis rumat.
Penyebab utama meningitis purulenta pada bayi atau anak di
Indonesia(Jakarta) ialah H. influenzae dan pneumoccocus sedangkan
meningococcus jarang sekali,maka diberikan ampisilin IV sebanyak 400mg/kg
BB/hr dibagi 6 dosis ditambah kloramfenikol 100mg/kg BB/hr iv dibagi dalam 4
dosis. Pada hari ke 10 pengobatan dilakukan pungsi lumbal ulangan dan bila
ternyata menunjukkan hasil yang normal pengobatan tesebut dilanjutkan 2 hari
lagi. Tetapi jika masih belum dan pengobatan dilanjutkan dengan obat dan cara

11
yang sama seperti di atas dan diganti dngan obat yang sesuai dengan hasil biakan
dan uji resistensi kuman.

Meningitis paru pada neunatus berbeda,karena biasa dan disebabkan oleh


baksil colifom dan staphylococcus, maka pengobatan pada neonatus sebagai
berikut:
Pilihan pertama: Sefalosporin 200mg/kg BB/hr IV dibagi dalam 2 dosis,
dikombinasi dengan amikasin dengan dosis awal 10 mg/kg BB/hr IV,dilanjutkan
dengan dosis 15 mg/kg BB/hr atau dengan gentamisin 6 mg/kg BB/hr masing-
masing dibagi dalam 2 dosis.

Pilihan kedua : Amphisilin 300-400 mg/kg BB/hr IV dibagi dalam 6


dosis,dikombinasi dengan kloramfenikol 50 mg/kg BB/hr IV dibagi dalam 4
dosis. Pada bayi kurang bulan dosis kloramfenikol tidak boleh melebihi 30 mg/kg
Bb/hr (dapat terjadi grey baby).

Pilihan selanjutnya kotrimoksazol 10 mg TMP/kg BB/hr IV dibagi dalam


2 dosis selama 3 hari dilanjutkan dengan dosis 6 mg TMP/kg BB/hr IV dibagi
dalam 2 dosis. Lama pengobatan neonatus adalah 2 hr.
Sefalosporin dan kotrimaksozol tidak diberikan pada bayi yang berumur kurang 1
minggu.
Ulangan pungsi lumbal pada meningitis paru anak dilakukan pada hari ke 10
pengobatan sedang pada neunatus pada hari ke 21. (Ngastiyah. Perawatan Anak
Sakit, ed.2, 2005)

Terapi pilihan pada bayi yang telah mengalami meningitis bakterial


dengan komplikasi hidrocephalus adalah dilakukan pembedahan dengan tujuan
untuk pemasangan shunt guna mengalirkan cerebrospinal fluid yang tersumbat di
dalam otak. Ada beberapa jenis shunt antara lain (VP) ventrikulo peritoneal shunt
dan (VA) ventriculoatrial shunt.

12
Penatalaksanaan pada bayi dengan hidrocehalus adalah pemberian posisi
head up dan pengawasan pemberian cairan yang adekuat.

J. Pengkajian keperawatan
1. Riwayat keperawatan: riwayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma riwayat
pembedahan pada otak, cedera kepala

2. Pada Neonatus: kaji adanya perilaku menolak untuk makan, reflek menghisap
kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan menangis lemah

3. Pada anak-anak dan remaja: kaji adanya demam tinggi, sakit kepala, muntah
yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang mudah terstimulasi dan teragitasi,
fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak, penurunan
kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda Kernig dan Brudzinsky positif, refleks
fisiologis hiperaktif, ptechiae atau pruritus

4. Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun): kaji adanya demam, malas
makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dengan merintih, ubun-
ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda Kernig dan Brudzinsky positif

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur
syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan
yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
a. Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada
otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat
akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura
meter.
c. Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari
jaringan ikat tebal dan kuat.

Komponen intrakaranial terdiri dari: parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan
CSF. Apabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan peningkatan
tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi neurologis.

Meningitis merupakan salah satu jenis infeksi yang menyeranga susunan saraf
pusat, dimana angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak penyakit
yang mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis penyakit sangat
ditentukan pada permulaan pengobatan. Beberapa bakteri penyebab meningitis ini
tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien meningitis tidak menularkan
penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko terjadinya penularan sangat tinggi
pada anggota keluarga serumah, penitipan anak, kontak langsung cairan ludah
seperti berciuman. Perlu diketahui juga bahwa bayi dengan ibu yang menderita
TBC sangat rentan terhadap penyakit ini.

Diagnose keperawatan yang muncul tergantung dengan kondisi saat pengkajian,


tapi yang utama adalah Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi; resiko terjadi

14
peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada selaput otak;
resiko cedera berhubungan dengan kejang, reflek meningkat; perubahan proses
keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius.

B. Saran
Pembaca diharapkan dapat mengerti dan memahami gejala meningitis
sangat penting untuk dapat menegakkan diagnosis sedini mungkin karena
diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah terjadinya komplikasi yang
bersifat fatal serta mengetahui penyebab meningitis sangat penting untuk
menentukan jenis pengobatan yang diberikan. Sekedar menambah informasi,
vaksin untuk mencegah terjadinya meningitis bakterial telah tersedia, dan sangat
dianjurkan untuk diberikan jika berada atau akan berkunjung ke daerah epidemik.

15
DAFTAR PUSTAKA

Alpers,Ann.2006.Buku Ajar Pediatri Rudolph. Ed.20.Jakarta:EGC.


Http://www.anneahira.com
Brough,Hellen,et al.2007.Rujukan Cepat Pediatri dan Kesehatan
Anak.Jakarta:EGC.
Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit.Ed.2.Jakarta:EGC
Suriadi, Rita Yuliani.2006.Asuhan keperawatan pada Anak
Ed.2.Jakarta:Percetakan Penebar Swadaya

16