Anda di halaman 1dari 14

SKENARIO KONSELING GIZI

PENYAKIT ANEMIA

Pemain dalam Role play adalah sebagai berikut:

1. Ajeng P : Ahli Gizi


2. Normala : Ibu Pasien
3. Grez Viona : Adik Pasien
4. Ajeng P : Pasien

Naskah Role Play

1. Pada hari Selasa Tanggal 15 Januari 2019 dirumah sakit A datang seorang pasien yang
bernama Ria berusia 28 Tahun datang bersama ibu dan adiknya dengan keluhan badan
lemas, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, insomnia dan sering merasa sakit kepala.

Antropometri Biokimia Klinis/Fisik Dietary History

BB : 65 kg Hb : 10 g/dl TD : 90/60 mmHg Kurang konsumsi


TB : 165 cm (Nilai normal 12-14 Ket : Rendah makanan yang tinggi
BBI : 58,5 kg g/dl) besi spt daging,
IMT : 23,9 kg/m2 Ket: Kurang kacang-kacangan,
(Normal) tidak suka
mengkonsumsi
tempe/tahu, tdk suka
mengkonsumsi sayur
hijau spt bayam dan
kangkung.
2. Langkah langkah konseling gizi
1. Langkah 1 ( Membangun dasar dasar konseling)
Salam,perkenalan diri,mengenal klien,membangun hubungan,memahami tujuan
kedatangan,serta menjelaskan tujuan dan proses konseling
Contoh ucapkan salam adalah sbb:
 Selamat pagi ibu atau bapak,apa kabar?
 Selamat siang ibu Tuti, ada yang bias saya bantu?
 Selamat dating ibu/bapak, Bagaimana kabarnya?
 Assalamu’alaikum, bagaimana kabarnya ibu/bapak(jika klien beragama
islam)

Selanjutnya persilahkan klien untuk duduk dan upayakan klien merasa


nyaman.Upayakan posisi sama tinggi dan singkirkan penghalang yang ada
dihadapan yang dapat menggangu proses konseling.Perkenalkan nama konselor
dan ber waktu klien untuk menceritakan identitasndirinya (catat jika belum ada
dalam status),seperti nama,umur,alamat,pekerjaan dll.

Ciptakan hubungan yang positif berdasarkan rasa percaya ,keterbukaan ,dan


kejujuran berekspresi.Sampaikan tujuan konseling yaitu membantuklien
memahami masalah gizi sehubungan dengan penyakitnya dan membantu klien
mengambil keputusan untuk mengatasi masalahnya melalui perubahan diet
sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.

Waktu konseling akan berlangsung sekitar 30 – 60 menit

2. Langkah 2 (Mengenali Permasalahan )


Mengumpulkan data dan fakta dari semua aspek dengan melakukan assessment
atau pengkajian gizi menggunakan data antropometri, biokimia,klinis dan
fisik,riwayat makan,serta personal.

Terjadinya masalah gizi disebabkan adanya ketidaksesuaian antara asupan gizi


dengan kebutuan yubuh.Keadaan ini dapat terjadi karena asupan energy dan zat gizi
yang kurang,berlebihan dan atau kebutuhan yang meningkat yang bila berlangsung
terus menerus mengakibatkan terjadinya perubahan status gizi.Ini erat kaitannya
dengan kondisi penyakit,fungsi ,organ motoric,social ekonomi dan lingkungan

Perubahan status dapat terdeteksi dengan menggunakan komponen pengkajian


gizi,meliputi pengukuran antropometri, pemeriksaan klinis dan fisik, biokimia,
riwayat makan, serta riwayat personal..Data yang dipeoleh dibandingkan dengan
standar baku (nilai normal) sehingga dapat dikaji dan diidentifikai berapa besar
masalahnya.

Komponen dalam pengkajian gizi adalah sbb ;


a) Pengukuran dan pengkajian data antropometri antara lain Tinggi Badan
(TB ) atau Panjang Badan (PB) ,Berat Badan (BB), tinggi lutut, Lingkar
lengan atas (LILA),Tebal Lemak <Lingkar Pinggang, Lingkar Panggul dan
sebagainya. Dengan mengaitkan dua ukuran akan didapat indeks yang
memberi informasi mengenai kondisi status gizi,seperti Indeks masa Tubuh
(IMT),BB,TB,dll.
Hasil pengukuran ini dapat digunakan untuk menginterpestasikan satus gizi
seseorang.
Cara menghitung Indeks Masa Tubuh (IMT)

IMT = Berat Badan (dalam Kg)


[ Tinggi Badan (dalam m)]2
Kategori IMT dan Status Gizi
IMT Kategori

< 17,0 Sangat kurus

17,0 – 18,4 Kurus

18,5 – 25,0 Normal

25,1 – 27,0 Gemuk

>27,0 Obesitas

b) Pemeriksaan dan Pengkajian data biokimia


Hasil pemeriksaan laboratorium yang berhubungan dengan keadaan gizi
seperti analis darah,urin,dan jaringan tubuh lainnya.Hasil analis
memberikan informasi yag bermanfaat mngenai status gizi dan memiliki
peran dalam menegakkan diagnosis dan intervensi gizi. . Beberapa
parameter biokimia antara lain albumin,asam folat serum,glukosa
darah,creatinin dll
c) Pemeriksaan dan Pengkajian data fisik klinis
Pengumpulan serta pengkajian data pemeriksaan fisik dan klinis meliputi
kondisi kesehatan gigi dan mulut,penampilan fisik secara umum.
Misalnya seorang anak balita tubuhnya kuterlihat sangat kurus,rambut
pudar dan mudah dicabut. Kondisi ini merupakan tanda gizi buruk.

d) Riwayat makan
Secara kualitatif menggunakan formulir Food frequency (FFQ) dapat
diketahui seberapa sering seseorang mengkonsumsi bahan makanan
sumber zat gizi tertentu.
Secara kuantitatif menggunakan formulir food recall yang kemudian
dianalisis bahan makanan sehari dan hasilnya dapat diketahui berapa besar
pencapaian asupan energy serta zat gizi seseorang terhadap angka
kebutuhan atau angka kecukupan energy serta zat gizi tertentu.
Jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi diukur dengan menggunakan
food model dan selanjutnya dianalisis zat gizinya dengan menggunakan
daftar analisis bahan makanan atau bahan makanan penukar. Pengkajian
data dapat juga dilakukan dengn menggunakan perangkat lunak
(software),seperti nutriclin yang dapat memberikan informasi tentang
status gizi dan nasehat gizi yang dianjurkan.

e) Riwayat Personal
Pengkajian data riwayat personal meliputi ada tidaknya alergi pada
makanan dan pantangan makanan,keadaan social ekonomi,pola aktivitas
,riwayat penyakit klien serta masalah psikologis yang berkaitan dengan
masalah gizi klien.
Riwayat obat dan suplemen  Obat yang digunakan baik
yang dikonsumsi berdasarkan resep maupun obat
bebas yang berkaitan dengan
masalah gizi
 Suplemen gizi yang dikonsumsi
Sosial Budaya  Status social ekonomi, budaya,
kepercayaan dan agama
 Situasi rumah
 Dukungan pelayanan kesehatan
dan social
Riwayat penyakit  Keluhan utama yang terkait
dengan masalah gizi
 Riwayat penyakit dulu dan
sekarang
 Riwayat pembedahan
 Penyakit kronis atau resiko
komplikasi
 Riwayat penyakit keluarga
 Status kesehatan Mental (emosi)
 Kemampuan kognitif
Data umum pasien  Umur
 Pekerjaan
 Peran dalam keluarga
 Tingkat pendidikan

3. Langkah 3 (menegakkan Diagnosa Gizi )

Melakukan identifikasi masalah,penyebab dan tanda/gejala yang disimpulkan dari


uraian hasil pengkajian dengan komponen problem(P), etiology (E) sign and
symptom (s)

a. Komponen diagnosis gizi


 Problem
Problem menunjukkan adanya masalah gizi yang digambarkan dengan
terjadinya perubahan status gizi status gizi klien. Masalah digambarkan
respon tubuh seperti adanya perubahan dari normal menjadi tidak
normal,kegagalan fungsi,ketidakefektifan,penurunan atau peningkatan
dari suatu kebutuhan normal,dan resiko munculnya gangguan gizi
terentu secara akut atau kronis.

 Etiology
Etiology menunjukan factor penyebab atau factor yang berperan dalam
timbulnya problem atau masalah gizi.Faktor penyebab masalah gizi
antara lain berkaitan dengan patofisiologi, psikologi, psikososial,
perilaku,lingkungan dll. Etioloy merupakan dasar menentukan
intervensi apa yang akan dilakukan. Oleh karena itu perlu diketahui
faktor penyebab yang paling utama
 Sign and symptom merupakan keadaan yang menggambarkan besarnya
masalah gizi serta menunjukan keadaan yang menggambarkan tingkat
kegawatannya. Sign atau tanda merupakan data obyektif dari
perubahanyang nampak pada status pada status kesehatannya.Sign and
symptom merupakan data dasar dalam melakukan monitoring dan
evaluasi
b. Pengelompokan Diagnosis gizi
Kelompok masalah ditetapkan berdasarkan domain intake,klinis,dan prilaku
 Domain intake atau asupan
- Keseimbangan energy,seperti terjadinya hipermetabolisme,
hipometabolisme, peningkatan kebutuhan intake energy serta
kelebihan energy
- Asupan oral atau dukungan gizi seperti kekurangan asupan
makanan atau minuman oral kekurangan asupan parenteral atau
enteral
- Asupan cairan seperti kekurangan atau kelebihan asupan cairan
- Asupan zat zat bioaktif seperti kelebihan atau kekurangan
asupan zat bioaktif tertentu,kelebihanasupan alcohol,suplemen
diet
- Asupan zat zat gizi seperti peningkatan kebutuhan zat gizi
tertentu,kekurangan energy dan atau protein
 Domain klinik
- Fungsional, seperti perubahan fisik atau fungsi mekanis
dikaitakan dengan pencegahan akibat dari masalah gizi meliputi
kesulitan menelan,kesulitan mengunyah,kesulitan dalam
pemberian ASI,dan perubahan fungsi saluran pencernaan
- Biokimia,sepertiperubahan kemampuan metabolism zat gizi
akibat obat obatan,operasi dan yang ditunjukan dari perubahan
nilai nilai laboratorium
- Berat badan seperti penurunan berat badan yang kronis dan
kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat badan
biasanya (berat badan ideal)
 Domain prilaku
- Pengetahuan dan keyakinan seperti pengetahuan dan
kepercayaan yang salah tentang pangan dan gizi,perubahan gaya
hidup,kurang kemampuan untuk mengendalikan diri,pola
makan yang salah serta ketidaksesuaian dalam pemilihan bahan
makanan
- Aktivitas fisik dan fungsi seperti ketidak mampuan dalam
mengatur diri ,tidak melakukan aktivitas fisik,kelebihan
aktivitas,ketidakmampuan menyiapkan makanan (hidangan)
dan kualitas gizi yang buruk karena kesulitan dalam pemberian
makanan.
- Kemampuan dan akses makanan ,sepeti masalah actual
keamanan serta akses makanan yang meliputi asupan makanan
yang tidak aman (berbahaya),pembatasan terhadap makanandll
c. Penulisan diagnosis gizi
Penulisan diagnosis gizi merupakan rangkaian kalimat yang saling berkaitan
antara komponen problem dengan etiology dan etiology dengan sign and
symptom.Problem dan etiologi dihubungkan dengan kata “berkaitan
dengan”.Adapun antara etiology dengan sign and symtomdihubungkan dengan
kata “ditandai dengan “
Contoh diagnosis gizi domain asupan (intake )
Asupan energy tidak adekuat (P) berkaitan dengan tidak nafsu makan,mual dan
muntah € ditandai dengan pencapaian asupan energy terhadap kebutuhan
adalah 66% (S)
Setelah menetapkan prioritas diagnosis gizi barullah dilakukan intervensi yang
kedua komponen yaitu menetapkan rencana diet dan komitmen untuk
melaksanakan rencana diet sehingga terjadi perubahan prilaku makan klien.

4. Langkah 4 (Intervensi Gizi)


Intervensi gizi dalam konseling merupakan serangkaian aktivitas atau tindakan
yang terencana secara khusus dengan tujuan untuk mengatasi masalah gizi melalui
perubahan perilaku makan guna memenuhi kebutuhan gizi klien sehingga
mendapat kesehatan yang optimal
Intervensi gizi terdiri dari 2 komponen

a) Memilih Rencana
Bekerjasama dengan klien untuk memilih alternative upaya perubahan
prilaku diet yang dapat diimplementasikan dengan langkah langkah sbb:
- Membuat rencana diet,dimulai dengan menetapkan tujuan diet dan
preskripsi diet
- Merencanakan kebutuhan energy dan zat zat gizi lain
- Merencanakan contoh menu sesuai kebutuhan
- Menyampaikan perubahan pola makan dan alternative rencana diet
yang dapat dilakukan ,serta membantu klien untuk menentukan
rencana diet mana yang dipilih dengan melihat factor yang
mendukung dan yang menghambat.Faktor yangmendukung misal
keluarga sangat memperhatikan,dipekarangan rumah banyak
tanaman sayur dan buah,kondisi ekonomi yang mendukung
dll.Faktor yang menghambat,pantangan makan,ekonomi yang tidak
menunjang,perhatian keluarga yang kurang dll
b) Tujuan diet
Dasar menetapkan tujuan diet digunakan komponen problem (P) dan
penyebab atau etiology(E) pada diagnois gizi.Penyebab dalamdiagnosis gizi
merupakan komponen yang mengarahkan intervensi gizi.Bila penyebab
tidak dikoreksi melalui intervensi gizi direncanakan berdasarkan komponen
tanda (sign) dan gejala(symptom) yang ada. Tujuan diet dibuat secara
realistis,dapat diukur dan dapat dicapai dalam waktu tertentu.
Contoh tujuan diet ;
- Menurunkan asupan energy ±500 kkal perhari dari kebiasaan klien
- Menurunkan berat badan secara bertahap ±0,5 kg perminggu dengan
menurunkan asupan berlebihan diimbangi dengan aktivitas fisik.
c) Preskripsi diet
Preskripsi diet memberikan arahan khusus kepada klien untuk mengubah
prilaku makan meliputi
- Jenis diet,missal diet rendah garam,rendah purin,diabete militus dll
- Bentuk makanan sesuai dengan kondisi pasien mulai dari makanan
cair,lumat ,lunak dan seterusnya.
- Makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan
- Jumlah yang dikonsumsi dan kandungan zat gizi makro serta mikro
disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan penyakitnya
d) Perhitungan kebutuhan energy dan zat zat gizi
Perhitungan kebutuhan energy adalah perhitungan jumlah energy yang
dibutuhkan seseorang untuk berbagai kegiatan selama 24 jam untuk
mencapai derajat kesehatan yang optimal.
e) Menyusun menu
Berdasarkan Berdasarkan preskripsi diet dan kondisi klien dilakukan
penyusunan contoh menu satu hari meliputi 3 kali makan utama (
pagi,siang,malam) dan dua kali cemilan (diantara waktu makan pagi dengan
siang serta diantara waktu makan siang dengan malam)
f) Menyampaikan rencana diet atau perubahan pola makan
Beberapa informasi yang perlu disampaikan dan didiskusikan dengan klien
meliputi
- Hasil pengkajian data status gizi (antropometri), biokimia, dan klinis
yang berkaitan dengan masalah kesehatan serta gizi klien.
- Kebiasaan makan, asupan energy, dan zat zat gizi klien serta hasil
diagnosis gizi.
- Alternatif perubahan pola makan yang dapat dilakukan oleh klien.
- Membantu klien untuk menentukan rencana diet mana yang dipilih
dengan melihat factor yang mendukung dan menghambat. Factor
yang mendukung , misalnya keluarga yang prihatin, dan pekarangan
rumah yang banyak tanaman sayur dan buah, kondisi ekonomi yang
mendukung serta lain lain. Faktor yang menghabat yaitu pantangan
makan, ekonomi yang tidak mendukung , perhatian keluarga yang
kurang dan lain lain.
- Perubahan pola makan mengikuti perencanaan menu yang sudah
disiapkan meliputi porsi makan satu hari, distribusi porsi dan jumlah
makanan yang dimakan dalam setiap waktu makan, penggunaan
daftar bahan makanan penukar , contoh menu serta makanan yang
boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan dengan menggunakan
alat bantu foot model berikut brosur dan alat peraga lainya dengan
tepat.
- Pola perubahan perilaku berkaitan dengan pola aktivitas dan gaya
hidup yang dapat dilakukan oleh klien.
- Catatan medik atau catatan konseling gizi lainya
.
g) Memperoleh komitmen

Konseling tidak akan berhasil tanpa adanya kesediaan dan komitmen dari
klien. Proses melakukan perubahan kebiasaan makan merupakan proses
yang tidak menyenangkan, sehingga konselor perlu membantu klien untuk
mengatasinya. Berikan pemahaman dan dukungan serta bangun rasa
percaya diri klien untuk melakukan perubahan diet sesuai dengan anjuran
yang telah disepakati bersama.Cek pemahaman klien tentang rencana diet
yang sudah disepakati dan yakinkan bahwa klien mampu untuk melakukan
diet tersebut.

5. Langkah 5 (Monitoring dan Evaluasi )


Komponen monitoring dan evaluasi ada 4 langkah kegiatan
a) Monitoring perkembangan
- Mengecek pemahaman dan ketaatan diet klien.
- Menentukan apakah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana
(preskripsi) diet
- Menentukan apakah status pasien tetap atau berubah
- Mengidentifikasi hasil lain baik yang positif maupun yang negative
- Mengumpulkan informasinyang menunjukan alas an tidak adanya
perkembangan dari kondisi pasien

b) Mengukur Hasil
Pengukuran hasil intervensi akan lebih terarah dan tepat bila kita mengetahui
apayang harus kita ukur.Dalam proses asuhan gizi terstandar,hal yang harus
diukur jelas tergambar pada komponen tanda dan gejala dari diagnosis
gizi.Kegiatan ini mengarahkan kita memilih indicator sesuai dengan tanda atau
gejala ,tujuan intervensi,dan diagnosis medis.
c) Evaluasi hasil
Evaluasi hasil konseling terbagi 2 tahap sbb:
- Evaluasi proses yaitu untuk melihat tingkat partisipasi klien,kesesuaian
isi materi, waktu yang digunakan, sehingga tujuan konseling dapat
dicapai.
- Evaluasi dampak, yaitu untuk melihat keberhasilan konselor dalam
pelaksanaan konseling. Misalnya, klien melakukan kunjungan ulang,
ketepatan asupan gizi, terjadi perubahan berat badan, perubah nilai
biokimia, dan perubahan perilaku positif klien terhadap makn dan
kesehatan. Gali informasi dari klien tentang masalah atau hambatan
untuk melaksanakan anjuran gizi yang disarankan konselor. Tentukan
alternative pemecahan masalah dengan melihat factor yang mendukung.
d. Dokumentasi monitoring dan evaluasi
Pendokumentasi merupakan suatuprose berkelanjutan yang mendukung semua
langkah proses asuhan gizi dan merupakan bagian integral yang sangat penting
dalam kegiatan monitoring dan evaluasi. Pendokumentasi ini harus relevan,
tepat, terjadwal, dan akurat termasuk mendokumentasikan kondisi pasien saat
ini dan hasil yang diharapkan.Selain itu dapat mengukur hasil serta kualitas
perkembangan pasien.
Padamkunjungan ulang konselor harus mencermati perkembangan status gizi
dan data klinis sehubungan dengan peyakit klien, perubahan kebiasaan makan
dan perubahan asupan energy zat gizi.
e. Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan dan pelaporan konseling gizi adalah serangkaian kegiatan
pengumpulan dan pengolahan data untuk enghasilkan bahan bagi penilaian
kegiatan konseling gizi.Pecatatan dilakukan pada setiap langakh kegiatan
konseing, sedangkan pelaporan dilakukan berkala sesuai dengan waktu dan
kebutuhan yang diperlukan.Adapun formulir pencatatan dan pelaporan dapat
dilihat pada lampiran 5.

6. Langkah 6 : Mengakhiri konseling ( Terminasi )


Terminasi dapat dilakukan pad akhir dari satu konseling atau akhir dari suatu proses
konseling ( Misalnya pada 5 kali pertemuan ). Konselor menyiapkan dan
mempersiapkan klien melalui ucapan ucapan bahwa konseling akan segera
berakhir. Konselor mempersiapkan dan menyerahkan ringkasan tertulis dapat
berupa formulir, brosur, booklet dan lain lain.
Konselor tetap membuka kesemptan kepada klien untuk tindak lanjut atau kembali
bila diperlukan. Buat kesepakatan untuk kunjungan berikutnya bagi klien
yangmemerlukan kumjungan ulang (konseling lanjutan ).
Kemudian konselor “pamit” kepad aklienya bahwa konseling telah
selesai.Usahakan buat suasana menyenangkan penuh kepercayaan dan menghargai
klien yang sudah mempercayakan masalah kepada konselor untuk mendapat
bantuan.

7. Langkah 6 (Mengakhiri konseling /Terminasi)


 Akhiri dari sesi konseling (satu kali pertemuan )
 Akhiri dari sesi konseling (beberapa kali pertemuan )

Konseling Gizi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat proses penyembuhan dan
mencapai status gizi yang optimal.Konsling gizi bertujuan untuk membantu klien dalam upaya
mengubah prilaku yang berkaitan dengan gizi sehingga meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan
klien.

Ruang lingkup konseling gizi adalah

 Klien yang memiliki masalah kesehatan terkait dengan gizi


 Klien yang ingin melakukan tindakan pencegahan
 Klien yang ingin mempertahankanndan mencapai status gizi optimal

MATERI KONSELING

Faktor Penyebab Anemia

Penyakit anemia adalah kondisi kelainan darah yang paling sering terjadi di Indonesia dan dapat
menyerang siapa saja khususnya wanita, anak-anak, dan orang-orang dengan penyakit kronis.
Beberapa faktor yang bisa menyebabkan Anda terkena penyakit anemia adalah:

 Wanita usia produktif (ketika masih mengalami menstruasi) sangat rentan terhadap anemia
defisiensi besi karena kehilangan darah dari menstruasi serta tuntutan pasokan darah yang
meningkat selama kehamilan. Menstruasi yang terlalu deras selama berhari-hari juga
menjadi factor penyabab anemia.
 Orang lanjut usia juga mungkin memiliki risiko lebih besar terkena anemia karena pola
makan yang buruk dan kondisi medis lainnya. Jadi, faktor penyebab anemia yang kedua
ini adalah karena usia.
 Bentuk tertentu dari anemia adalah merupakan penyakit keturunan dan bayi mungkin dapat
terkena setelah kelahirannya. Penyebab anemia yang ini adalah karena penyakit anemia
muncul secara genetis atau faktor keturunan.
Jika Anda memiliki anemia, tubuh Anda tidak mendapatkan cukup darah yang kaya oksigen.
Akibatnya, Anda mungkin merasa lelah atau lemah. Anda juga mungkin memiliki gejala lain,
seperti pusing ketika berdiri, sesak napas, kuku rapuh, atau lidah terasa sakit.

Berikut ini adalah tiga kelompok anemia yang harus Anda ketahui, antara lain:

 Anemia yang disebabkan oleh kehilangan darah.


 Anemia yang disebabkan oleh produksi sel darah merah menurun atau rusak.
 Anemia yang disebabkan oleh penghancuran sel darah merah yang berlebih.

Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan. Biasanya hal ini terjadi secara perlahan-lahan
untuk jangka waktu yang panjang dan sering kali tidak terdeteksi. Perdarahan seperti ini disebut
dengan perdarahan kronis yang merupakan penyebab anemia akibat dari:

 Perdarahan gastrointestinal seperti wasir/ambeien, gastritis (radang lambung), dan kanker


di saluran cerna (kanker usus, kanker lambung, dan lain-lain).
 Penggunaan obat nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID) seperti ibuprofen, parasetamol,
asam mefenamat, dan obat anti nyeri yang dijual bebas. Obat-obatan ini dapat mengikis
dinding lambung dan menyebabkan perdarahan di dalam lambung.
 Menstruasi, terutama jika perdarahan menstruasi yang berlebihan.
 Perdarahan pasca persalinan pada wanita.
 Perdarahan karena kondisi cacingan pada anak.

Penyebab Anemia

Saat tubuh terlalu sedikit memproduksi sel darah atau sel tidak berfungsi dengan baik, maka sel
darah merah akan rusak karena perkembangan sel yang abnormal, kurangnya mineral dan vitamin.
Kondisi yang berhubungan dengan penyebab anemia, di antaranya:

 Anemia sel sabit adalah kelainan bawaan yang sering terjadi. Sel darah merah menjadi
bulan sabit karena adanya cacat genetik. Sel darah merah membelah diri dengan cepat,
sehingga oksigen tidak sampai ke organ tubuh yang pada akhirnya menyebabkan anemia.
Sel-sel darah merah berbentuk bulan sabit juga bisa terjebak dalam pembuluh darah kecil
sehingga menyebabkan penyumbatan, dan berakhir dengan rasa nyeri hebat pada organ
yang tidak dialiri darah.
 Anemia defisiensi besi terjadi karena kurangnya zat besi mineral dalam tubuh. Sumsum
tulang membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin, bagian dari sel darah merah
yang mengangkut oksigen ke organ-organ tubuh. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak
dapat menghasilkan cukup hemoglobin untuk sel darah merah. Hasilnya adalah anemia
kekurangan zat besi.
 Jika Anda sedang hamil, tubuh akan berisiko mengalami peningkatan risiko kekurangan
zat besi, karena Anda harus membantu peningkatan volume darah serta menjadi sumber
hemoglobin untuk bayi Anda agar dapat tumbuh.
 Memiliki gangguan usus dapat memengaruhi penyerapan nutrisi di usus kecil (seperti
penyakit celiac dan penyakit Crohn) di mana hal ini membuat Anda berisiko mengalami
penyakit kurang darah ini. Operasi pengangkatan atau operasi untuk bagian-bagian dari
usus kecil di mana nutrisi diserap, dapat menyebabkan kekurangan gizi dan anemia.
 Memiliki riwayat infeksi, penyakit darah, gangguan autoimun, alkoholisme, paparan bahan
kimia beracun, dan penggunaan beberapa obat dapat memengaruhi produksi sel darah
merah dan menyebabkan anemia.
 Anemia akibat penyakit sumsum tulang. Beberapa penyakit seperti leukemia atau
mielofibriosis dapat mengganggu produksi sel darah merah di sumsum tulang dan
menimbulkan anemia. Gejala yang ditimbulkan dapat bervariasi, dari ringan hingga
berbahaya.
 Anemia hemolitik. Anemia hemolitik terjadi pada saat sel darah merah dihancurkan oleh
tubuh lebih cepat dibanding waktu produksinya. Beberapa penyakit dapat mengganggu
proses dan kecepatan penghancuran sel darah merah. Anemia hemolitik dapat diturunkan
secara genetik atau bisa juga didapat setelah lahir.

Cara Mengatasi Anemia

Melalui cara penanganan penyakit yang tepat, banyak jenis anemia yang ringan dan pendek bisa
diatasi. Namun, penyakit ini bisa sangat parah hingga bertahan lama ketika hal itu disebabkan oleh
penyakit yang diturunkan, kronis atau trauma.

Penentuan penanganan anemia diambil berdasarkan dengan penyebab mendasari penyakit


tersebut. Ketika kadar hemoglobin <7 gram/dl, maka dokter akan menyarankan untuk
dilakukan transfusi. Karena penyebab terbanyak dari penyakit kurang darah adalah kekurangan zat
besi, maka sangat disarankan untuk mengonsumsi makan makanan yang banyak mengandung zat
besi.

Perlu diketahui, beberapa jenis penyakit kurang darah tidak dapat dihindari, akan tetap anemia
yang disebabkan oleh kekurangan vitamin dan zat besi dapat dicegah dengan cara mengatur pola
makan. Beberapa makanan yang dapat membantu mencegah penyakit ini antara lain:

 Makanan yang kaya akan vitamin C, seperti jeruk, melon, brokoli, stroberi, dan tomat.
Makanan-makanan tersebut dapat membantu penyerapan zat besi.
 Makanan yang kaya akan vitamin B12, seperti daging, keju, sereal, tahu, tempe dan susu.
 Makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging sapi, kacang-kacangan, sereal yang
diperkaya zat besi, sayuran berdaun hijau gelap, dan buah kering.
 Makanan yang kaya akan asam folat, seperti sayuran berdaun hijau gelap, buah-buahan,
kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, nasi, sereal, pasta, dan gandum.
DOKUMENTASI

1. Formulir permintaan konseling gizi


2. Formulir Asuhan Gizi
3. Formulir riwayat pola makan / kebiasaan