Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH MEKANISASI PERTANIAN

MESIN PERONTOK PADI

(Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mekanisasi Pertanian)

Dosen :

IR. H. SULI SUSWANA, M.Si.

Disusun oleh:

Huda Anugrah 41035003161013

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA


Jl.Soekarno Hatta No. 530 Bandung 40286

2019
KATA PENGATAR

Dengan mengucapkan puji serta syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT
karena berkat rahmat, hidayah, dan izin-Nya saya dapat menyelesaikan ”Laporan
Praktikum Mata Kuliah Mekanisasi Pertanian”.

Saya menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saya
mengharapkan saran dan kritik yang barsifat membangun agar apa yang terdapat
dalam laporan ini dapat lebih baik lagi .

Semoga laporan yang sederhana ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya dan
umumnya bagi seluruh pembaca. Aamiin

Bandung, 8 Januari 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... I

KATA PENGANTAR......................................................................................................... II

BAFTAR ISI........................................................................................................................ III

BAB I. PENDAHULUAN.................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang....................................................................................................... 1

1.2 Tujuan......................................................................................................................... 2

1.3 Manfaat Penelitian...................................................................................................... 2

BAB II. Isi dan Pembahasan................................................................................................... 3

BAB III. Kesimpulan................................................................................................................ 14

BAB VI. DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................15


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan akan mekanisasi pertanian semakin meningkat seiring dengan makin


langkanya tenaga kerja pertanian dan adanya kenaikan upah yang nyata di pedesaan terutama
di daerah dengan intensitas tinggi. Indikator paling sederhana untuk mengukur bahwa
mekanisasi pertanian makin dibutuhkan dapat dilihat dari meningkatnya jumlah alsintan yang
digunakan terutama di daerah intensifikasi. Selama periode 1973 sampai sekarang, jumlah
alsintan pra dan pasca panen terus meningkat. Seperti penggunaan traktor dari tahun ke tahun
terus meningkat, berbeda dengan jumlah alat perontok (Threser) masih sangat sedikit dan tidak
sebanding dengan luas areal intensifikasi padi sawah. Padahal alat perontok padi (Threser) ini
sangat berperan dalam mengurangi tingkat kehilangan hasil padi untuk peningkatan mutu dan
nilai tambah.

Dalam usahatani padi, thresher merupakan alat untuk merontokkan padi menjadi gabah.
Alat ini merupakan alat bantu bagi tenaga kerja untuk memisahkan gabah dengan jeraminya,
sehingga penggunaan pedal thresher menjadi satu kesatuan dengan tenaga kerja panen.
Terdapat dua jenis thresher berdasar alat penggeraknya yaitu (1) Secara manual dengan
menggunakan pedal (pedal thresher) dan (2) digerakkan dengan mesin (power threser).
Penggunaan threser untuk merontok padi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan
varietas unggul baru berumur pendek dan mudah rontok.

Mesin perontok padi dikenal juga dengan Power Thresher adalah jenis mesin perontok
yang telah terbukti handal dan sangat cocok dengan berbagai jenis lahan persawahan di
Indonesia. Mesin perontok jenis ini telah banyak digunakan oleh petani di seluruh nusantara
karena keunggulannya yang praktis dan mudah dipindahkan dari lahan satu lainnya.
Digerakkan dengan mesin bertenaga diesel.
1.2 Tujuan penulisan makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa tentang malat dan
mesin perontok (Thresher), khususnya mesin perontok padi.
2. Mahasiswa mampu memahami kinerja /watak laku teknis dari mesin perontok padi
(Thresher)
3. Mahasiswa mengetahui spesifikasi mesin perontok padi dalam kaitannya dengan
penggunaan mesin tersebut.

1.3 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini adalah :

1. Mahasiswa mampu mengenali dan memahami prinsip kerja dan perilaku teknis dari
mesin thresher tersebut.
2. Mahasiswa mampu mengaplikasikan mesin thresher ini dilapangan.
BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

2.1. Mekanisasi Pasca Panen

Proses pasca panen adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan setelah pemanenan.
Proses-proses tersebut dapat berupa perontokan, pembersihan, pengeringan serta
penyimpanan dan pengangkutan.

Untuk tanaman padi petani banyak menggunakan alat pemanen manual, misalnya ani-ani
atau sabit meskipun dapat pula digunakan alat pemanen mekanis meskipun sangat jarang
dilakukan petani di Indonesia. Pemilihan penggunaan alat-alat pemanen tersebut tergantung
pada proses dan ketersediaan alat pemroses pasca panen. Misalnya apabila digunakan alat ani-
ani maka perontokan bulir biasanya dilakukan dengan cara penumbukan. Sedangkan
penggunaan sabit apabila perontokan dilakukan dengan cara dipukul-pukulkan ke tanah
(gebod) atau denga menggunakan alat perontok baik manual atau otomatis.

Gambar 1. Contoh ilustrasi berbagai macam peralatan panen secara manual


2.2 Tujuan Perontokan

Proses perontokan padi adalah aktivitas kerja dari sebuah sistem manusia-mesin
yang dilaksanakan secara manual. Disini kinerja proses akan sangat tergantung pada
sepenuhnya pada manusia, baik dalam hal penggunaan tenaga maupun pengendalian kerja.
Proses kerja dilakukan dengan menggunakan bantuan fasilitas/peralatan kerja berupa
mesin perontok padi (thresher) yang pengoperasiannya sangat ditentukan oleh kinerja
operator yang umumnya bekerja dengan posisi berdiri.

Secara umum, tujuan perontokkan adalah untuk mengurangi kehilangan gabah saat
perontokan dan mengurangi kerusakan (pecah) butir gabah sehingga petani memperoleh nilai
tambah dalam usahataninya (Purwadi, 1990).

Proses perontokan dilakukan apabila hasil panen diperoleh dalam bentuk malai
(tangkai) seperti padi ataupun kedelai. Proses perontokan yang tertua secara manual dilakukan
dengan cara memukul-mukulkan tanaman yang telah dipanen pada batang kayu dengan dialasi
tikar. Di beberapa daerah terutama di Jawa perontokan dilakukan dengan cara menginjak-injak
tanaman yang telah dipanen., baru setelah itu kemudian dikenal suatu alat perontok lebih maju
yang dapat digerakkan secara manual dengan cara diengkol sehingga disebut pedal tresher
ataupun secara mekanis (power tresher).

2.3. Perkembangan Power Thresher

Kegiatan perontokan padi dilakukan setelah kegiatan panen menggunakan sabit atau
alat mesin panen (reaper). Kegiatan perontokan ini dapat dilakukan secara tradisional
(manual) atau menggunakan mesin perontok. Secara tradisional kegiatan perontokan akan
menghasilkan susut tercecer yang relatif besar, mutu gabah yang kurang baik, dan
membutuhkan tenaga yang cukup melelahkan. oleh karena itu, dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, telah diciptakannya suatu mesin yang digunakan untuk
merontokkan hasil panen, seperti padi,jagung dsb. Mesin perontok dirancang untuk mampu
memperbesar kapasitas kerja, meningkatkan effisiensi kerja, mengurangi kehilangan hasil
dan memperoleh mutu hasil gabah yang baik. Bermacam – macam jenis dan merk mesin
perontok padi dapat dijumpai di indonesia, mulai dari yang mempunyai kapasitas kecil,
sedang, hingga kapasitas besar.

Berbagai macam jenis mesin perontok padi (Thresher), yaitu :


1. Pedal Thresher (Thresher Semi Mekanis)

2. Power Thresher (Thesher Mekanis)

1.1 Pedal Thresher (Thresher Semi Mekanis)

Thresher jenis pedal ini mempunyai konstruksi sederhana, dapat dibuat sendiri oleh
petani dan cukup dioperasikan oleh satu orang serta mudah dijinjing ketengah lapangan/
sawah. Pada umumnya hanya dipakai untuk merontok padi.

Dengan menggunakan pedal tresher maka didapat beberapa keuntugan, yaitu selain
menunjukkan hasil lebih baik juga menunjukkan efisiensi waktu dan tenaga lebih tinggi serta
kehilangan bulir yang lebih rendah.

Gambar 1 : Pedal Thresher

1.1. 1 Spesifikasi Pedal Thresher :

 Mampu menghemat tenaga dan waktu


 Kebutuhan operatus 1 (satu) orang
 Mudah dioperasikan dan akan mengurangi susut tercecer
 Kapasitas kerja : 75 kg hingga 100 kg per jam
Gambar 2. Contoh ilustrasi alat perontok padi jenis pedal thresher.

Gambar 3. Perontokan padi dengan pedal thresher

1.1.2 Prinsip Kerja Pedal Thresher

Prinsip dasar alat perontok ini adalah merontokkan bulir dari malai atau tangkai
tanaman dengan menarik-nariknya dengan menggunakan suatu silinder putar yang dilengkapi
gigi-gigi. Silinder diputar dengan menggunakan rantai yang dihubungkan dengan engkol
(untuk perontok manual) atau poros mesin yang berputar. Gabah yang telah dirontokkan
langsung ditampung dalam karung. Kapasitas perontok manual dapat mencapai 67 kg per jam
dengan kebersihan 80%, sedangkan alat perontok mesin dapat mencapai 300 kg/jam dengan
tingkat kebersihan 95%.

2.1. Power Thresher (Thresher Mekanis)

Mesin Power Thresher (Mesin Perontok Padi) adalah jenis mesin perontok yang telah
terbukti handal dan sangat cocok dengan berbagai jenis lahan persawahan di Indonesia.
Gambar 4. Contoh ilustrasi alat perontok padi jenis power thresher

Alat dan Mesin Pertanian (mesin perontok padi) dapat memberi kontribusi yang cukup
berarti dalam rangka meningkatkan keuntungan usahatani padi sawah. Unsur-unsur yang
mendukung peningkatan keuntungan adalah kecepatan proses perontokan dan pembersihan
sehingga menghemat waktu. Lebih penting lagi power thresher terbukti dapat mengurangi
kehilangan gabah saat perontokan dan mengurangi kerusakan (pecah) butir gabah sehingga
petani memperoleh nilai tambah dalam usaha taninya.

Gambar 5 : Power Thresher

2.1.1. Spesifikasi Thresher Mekanis:

 Tenaga penggerak : Mesin diesel atau bensin 5,5 HP s/d 6 HP


 Berat keseluruhan : 110 kg
 Panjang X Lebar X Tinggi : 1325 X 965 X 1213
 Kapasitas kerja : 500 hingga 600 kg per jam Padi 350 hingga 450 kg per jam
Kedelai 700 hingga 1000 kg per jam Jagung
 Kecepatan putar silinder : o padi 600 rpm
o kedelai 600 – 650 rpm
o jagung 650 – 700 rpm
Kebutuhan tenaga : 3 sampai 4 orang

Kebutuhan bahan bakar : 0,9 liter per jam bensin 1,0 liter per jam solar

2.1.2 Prinsip Kerja Pedal Thresher

Power Thresher ini dapat dipakai untuk merontok biji-bijian (padi, jagung dan kedelai)
dan dilengkapi dengan pengayak sehingga biji – bijian yang dihasilkan relatif bersih. Power
thresher ini yang selanjutnya berkembang dan beredar di pasar indonesia dengan modifikasi
yang berbeda – beda tergantung kepada merk dan model yang dikembangkan oleh masing –
masing pabrikan.

2.3. Petunjuk Operasional

2.3.1 Petunjuk keselamatan kerja :

1. Jalankan thresher hanya bila operator benar – benar telah memahami cara
pengoperasiannya. Gunakan buku petunjuk ini sebagai panduan.
2. Sebelum menjalankan thresher, yakinkan bahwa lingkungan sekitar aman dan ingat
bahwa gas dari knalpot di ruangan yang tertutup sangat berbahaya.
3. Jaga bagian tubuh (tangan, lengan, rambut dan kaki) dari sentuhan komponen
4. mesin yang berputar. Kenakan pakaian yang tidak longgar supaya tidak tersangkut
bagian mesin yang berputar.
5. Gunakan masker penutup hidung agar terhindar dari debu yang ditimbulkan sewaktu
proses perontokan berlangsung. Dan rambut yang panjang sebaiknya diikat supaya
tidak terjepit oleh bagian mesin yang berputar
6. Jangan bekerja pada mesin yang kondisinya buruk (mur, baut kendor, dan lain-lain).
7. Tangki bahan bakar diisi secukupnya, jangan sampai melimpah, dan jangan mengisi
bahan bakar sewaktu mesin dalam keadaan hidup, jangan memakai lentera, dan
jangan merokok, dsb)
8. Apabila menggunakan mesin diesel dengan pendingin air, usahakan uap air pada
tangki pendingin tidak berpengaruh terhadap bahan yang akan/ sedang dirontok.
9. Apabila menggunakan mesin diesel dengan penggerak listrik, periksa terlebih dahulu
kesempurnaan seluruh rangkaian kelistrikan, bahaya hubungan pendek arus listrik
dapat menimbulkan kebakaran.
10. Sediakan selalu kotak perlengkapan PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).
2.3.2 Petunjuk Operasional Mesin Perontok (Power Thresher)

A. Prosedur Sebelum Pemakaian

1. Taruhlah mesin ditempat yang rata, dekat dengan tumpukan hasil yang akan dirontok,
bila perlu taruhlah alas terpal/ lembaran plastik di bawah mesin, untuk mengurangi
susut karena tercecer.
2. Taruhlah dan posisikan mesin sedemikian rupa sehingga kotoran akan keluar searah
dengan arah angin.
3. Untuk mengurangi susut tercecer posisikan mesin menghadap dinding atau buatlah
dinding buatan berupa lembaran plastik/ anyaman bambu didepan mesin sedemikian
rupa sehingga butiran bijian yang terlempar dapat dikumpulkan.
4. Bukalah penutup mesin dan periksalah : drum, semua gigi perontok, konkaf, bersihkan
bagian dalam mesin dari kotoran dan benda asing yang sekiranya akan mengganggu
dan merusak mesin dan juga berbahaya bagi operator.
5. Putarlah drum perontok dengan tangan sehingga yakin tidak ada yang lepas atau
bersentuhan/ bergesekan.
6. Periksalah ketegangan dan garis lini sabuk puli, bila sabuk tidak dalam satu garis lini
dan ketegangan tidak tepat maka sabuk puli akan cepat rusak sebelum waktunya.
Untuk permukaan puli yang kasar sebaiknya diamplas dan bila puli retak, sebaiknya
segera diganti.
7. Lumasilah semua bantalan dengan minyak pelumas atau pasta pelumas, periksa juga
secara menyeluruh terhadap kemungkinan adanya mur, baur yang kendor.
8. Periksalah mesin apakah sudah cukup oli dan bahan bakarnya.

B. Cara Kerja Mesin Perontok (Power Thresher)

1. Setelah semuanya siap, star/ hidupkan mesin, biarkan sebentar mesin tanpa muatan.
Periksalah posisi unit keseluruhan mesin, jangan sampai bergeser akibat getaran atau
berpindah tempat.
2. Masukkan sedikit bahan asupan untuk memeriksa kemampuan alat, tambah kecepatan
putar (rpm) drum perontok bila ternyata masih ada biji – bijian yang belum terontok
3. Setelah mesin siap dioperasikan, masukkan bahan asupan yang akan dirontok ke pintu
pemasukan secara teratur sebanyak mungkin tanpa menimbulkan overload,
Tumpuklah bahan di meja pemasukan seefektif mungkin dua sampai tiga orang
diperlukan untuk melayani mesin ini.
4. Kurangi pemasukan bahan bila terasa akan menjadi overloading, terutama untuk
bahan yang masih belum kering. Apabila mesin macet/ slip karena overloading,
matikan mesin, bukalah tutup mesin dan bersihkan bagian dalamnya.
5. Apabila dirasa posisi meja pengumpan terlalu tinggi, pergunakan alat bantu meja atau
kursi untuk tempat berdiri operator pengumpan atau rendahkan posisi dudukan mesin
perontok Cegahlah jangan sampai ada benda asing (batu, kayu, logam, mur, baut,
kawat dsb) yang masuk kedalam mesin.
6. Kotoran berbentuk jerami yang keluar dari pintu pelempar jerami atau kipas
penghembus harus segera dijauhkan dari mesin, agar tidak menyumbat saringan atau
tercampur dengan gabah bersih hasil perontokan, bila perlu gabah ditampung
langsung menggunakan karung di depan mulut pintu pengeluaran gabah.
7. Apabila proses perontokan telah selesai, mesin harus segera dibersihkan (terutama
bagian dalamnya) untuk disimpan ditempat yang bersih dan kering, bila perlu diberi
selimut agar tidak berkarat. Menyimpan mesin dalam keadaan kotor akan
menjadikannya mesin sebagai sarang hama dan penyakit.

2.4. Kendala Permasalahan Pokok Adopsi Teknologi Power Thresher

2.4.1 Kendala Ekonomi

Beberapa kendala ekonomi yang dipandang sebagai kendala dalam penerapan adopsi
power thresher adalah :

1. Lemahnya permodalan petani, karena power thresher harganya mahal (Rp.


10-12 Juta/unit tergantung kapasitas)
2. Tingginya harga BBM (solar) yang menyebabkan meningkatnya biaya
operasional power thresher. Implikasi dari temuan ini perlu adnya dorongan
dari pihak lain baik swasta maupun pemerintah untuk memecahkan masalah
permodalan alsintan berupa :
(a) Bantuan permodalan pengadaan alsintan ditingkat petani;
(b) Pengembangan sistem sewa yang adil antara pemilik alsintan dan petani.

2.4.2. Kendala Sosial


Kendala sosial kelembagaan dalam adopsi teknologi power thresher,

1. Luas penguasaan lahan yang kecil dapat membatasi petani dalam melakukan investasi
modal power thresher.
2. Sebagian besar petani di perdesaan Pandeglang berstatus sebagai petani penggarap dengan
sistem bagi hasil makro, diduga juga membatasi petani dalam melakukan investasi modal
berupa power thresher
3. Belum berkembangnya sistim panen secara tebasan dan berkembangnya kelembagaan
kelompok panen dengan keanggotaan cukup (20 orang)
4. Kurangnya jiwa kewirausahaan (Enterpreneurship), sehingga sebagian besar petani dan
pelaku swasta kurang berani mengambil resiko dengan berinvestasi power thresher
5. Tidak dikehendaki oleh buruh tani dan petani lahan sempit, karena akan mengurangi
kesempatan kerja dan pendapatan berburuh panen yang telah ada
6. Rata-rata tingkat pendidikan yang rendah diperkirakan semakin sulit melakukan adopsi
teknologi power thresher .
7. Eksistensi dan dinamika kelembagaan di tingkat kelompok tani rendah, sehingga posisi
petani makin lemah dan cenderung tergantung pada program-program' bantuan
pemerintah, seperti bantuan power thresher.

2.4.3. Kendala Aspek Kebijakan Pemerintah

Kendala Aspek Kebijakan Pemerintah adalah belum adanya bantuan power thresher
secara memadai di perdesaan Pandeglang, sehingga sebagian besar petani belum tahu manfaat
dan efektivitas penggunaan power thresher.

Berdasarkan faktor - faktor tersebut, diperlukan pengembangan power thresher dengan


memberdayakan bengkel-bengkel yang ada di wilayah setempat dengan menggandeng pihak
swasta dan lembaga penelitian seperti Balai Besar Mekanisasi Pertanian dalam permodalan
dan perancangan alat. Di Kab. Serang terdapat bengkel yang mampu menghasilkan power
thresher yang dijual dengan harga sekitar Rp.7 juta. Bantuan langsung dari pemerintah pusat
maupun daerah untuk power thresher maupun pedal thresher juga sangat dibutuhkan, Namun
pemberian bantuan alsintan tersebut hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik, sosial-
ekonomi serta kelembagaan panen dan pasca panen yang ada di masyarakat.
2.5. Kelebihan dan Kekurangan Thresher

A. Kelebihan

 Mobilitas tinggi (menggunakan roda transportasi).


 Pengumpanan (Input) jerami fleksibel dengan menutup dan membuka pintu input.
 Metode potong pendek (Through In), pengumpanan langsung jerami ke mesin perontok.
 Metode potong panjang (Hold On), pengumpanan jerami dipegang dengan tangan.
 Kecepatan putar kipas penghembus dapat diatur (rpm) dengan cara mengganti diameter
pully kipas penghembus.

B. Kekurangan

 Biaya awal lebih mahal.


 Biaya perawatan lebih mahal
BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian tentang pembahasan,dapat diambil beberapa kesimpulan :

Ada 2 jenis mesin perontok (Thresher), yaitu :

1. Pedal Thresher (Thresher Semi Mekanis)

2. Power Thresher (Thesher Mekanis)

Dalam usahatani padi, thresher merupakan alat untuk merontokkan padi menjadi
gabah. Alat ini merupakan alat bantu bagi tenaga kerja untuk memisahkan gabah dengan
jeraminya.

Thresher jenis pedal mempunyai konstruksi sederhana, dapat dibuat sendiri oleh
petani dan cukup dioperasikan oleh satu orang serta mudah dijinjing ketengah lapangan/
sawah. Pada umumnya hanya dipakai untuk merontok padi.

Power Thresher dapat dipakai untuk merontok biji-bijian (padi, jagung dan kedelai)
dan dilengkapi dengan pengayak sehingga biji – bijian yang dihasilkan relatif bersih, serta
mengurangi kehilangan gabah saat perontokan dan mengurangi kerusakan (pecah) butir gabah.

Fungsi dari Power Thresher / Mesin perontok padi / Mesin Perontok Serbaguna
digunakan sebagai alat mesin pertanian yang serbaguna.

Mesin perontok jenis ini dapat digunakan sebagai mesin perontok padi, perontok
kedelai dan perontok jagung, dsb.

DAFTAR PUSTAKA
Fadli Rustam, di adopsi dari Modul tentang Mekanisasi Pertanian, Pemberdayaan
P3AWISMP-IMRIFakultas Pertanian. Universitas Jember ; Jember.

Irwanto, A.K., 1983, Alat dan Mesin Budidaya Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor; Bogor.

Purwadi, T., 1999, Mesin dan Peralatan, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah
Mada; Jogjakarta.

Sukirno. 1999, Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian .Universitas Gadjah


Mada ;Jogjakarta.

http://www.udai08.co.cc/2011/03/power-thresher.html diakses pada tanggal 10 April


2010