Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Human Immunodeficiency Virus ditemukan pada awal tahun 1980,
penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia. Penyakit
ini mengakibatkan beban kesehatan penduduk menjadi meningkat dan
menyebabkan masalah sosial ekonomi bagi individu, keluarga, masyarakat
dan pemerintah di berbagai negara (Basavaraj, Navya and Rashmi, 2010).
Statistik global tahun 2015 menunjukkan sebanyak 36,7 juta orang di
dunia hidup dengan HIV, 17 juta di antaranya telah mengakses terapi ARV.
Sejak awal epidemi hingga tahun 2015 jumlah orang yang telah terinfeksi
HIV mencapai 78 juta kasus dan 35 juta orang meninggal karena AIDS
(UNAIDS, 2016).
Data UNAIDS tahun 2014 menunjukkan bahwa di negara bagian Asia
dan Pasifik terdapat 5 juta orang yang hidup dengan HIV. Indonesia
menduduki peringkat ketiga tertinggi setelah China dan India. Capaian kasus
baru terinfeksi HIV di ketiga wilayah ini, ditambah Pakistan dan Vietnam
sebesar 78% (UNAIDS, 2015).
Sejak pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 sampai
dengan tahun 2014, HIV/AIDS tersebar di 386 dari 498 kabupaten/Kota di
semua provinsi di Indonesia. Berdasarkan data laporan perkembangan
HIV/AIDS triwulan IV tahun 2014 diketahui bahwa jumlah kumulatif kasus
HIV 160.138 kasus dan AIDS 65.790 kasus (Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2015).
Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena
gunung es, yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada
jumlah penderita yang sebenarnya. Jumlah penderita HIV/AIDS di Provinsi
NTT yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti (Dinkes Provinsi NTT,
2014). Jumlah kasus baru HIV/AIDS di Provinsi NTT mengalami
peningkatan tiap tahunnya. Pada tahun 2013 kasus baru HIV sebanyak 178
2

kasus, tahun 2014 meningkat menjadi 219 kasus dan tahun 2015 meningkat
menjadi 1.865 kasus. Berikut di bawah ini merupakan jumlah kasus baru
HIV/AIDS di Provinsi NTT berdasarkan Kota/kabupaten (Dinkes Provinsi
NTT, 2015).

Tabel 1 Jumlah kasus baru HIV/AIDS


di Provinsi NTT Tahun 2015
No Kota/Kabupaten HIV AIDS
1 Kota Kupang 560 224
2 Belu 282 280
3 Flotim 131 386
4 Sikka 131 356
5 Sumba Timur 119 40
6 TTU 90 136
7 Malaka 76 75
8 SBD 73 76
9 Manggarai 68 82
10 Lembata 63 103
11 TTS 53 151
12 Kab.Kupang 41 58
13 Ende 39 137
14 Manggarai Timur 22 19
15 Manggarai Barat 19 37
16 Ngada 18 65
17 Sabu Raijua 15 5
18 Nagekeo 15 41
19 Alor 14 28
20 Rote Ndao 14 4
21 Sumba Tengah 12 33
22 Sumba Barat 5 7
Sumber: Dinkes Provinsi NTT, 2015.

Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa kasus baru HIV tahun 2015


paling tinggi terdapat di Kota Kupang. Perkembangan penyakit HIV/AIDS
terus menunjukkan peningkatan meskipun berbagai upaya pencegahan dan
penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk
antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Provinsi
3

NTT, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya


penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya)
melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko
penyebaran HIV/AIDS (Dinkes Provinsi NTT, 2014).
Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menyerang
atau menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan
tubuh manusia. Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan
gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang
disebabkan infeksi oleh HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh maka
orang tersebut sangat mudah terkena berbagai penyakit infeksi yang sering
berakibat fatal. Pengidap HIV memerlukan pengobatan dengan ARV untuk
menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh agar tidak masuk ke dalam
stadium AIDS, sedangkan pengidap AIDS memerlukan pengobatan ARV
untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik dengan berbagai
komplikasinya (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Orang dengan HIV/AIDS memang semakin rentan terserang penyakit-
penyakit lain akibat terinfeksi oleh HIV yang menyerang sistem kekebalan
tubuh. Penderita menjadi lebih cepat lelah, mengalami demam yang tidak
kunjung hilang, penurunan berat badan secara drastis hingga sering terkapar
lemas di tempat tidur akibat dari infeksi HIV. Pada akhirnya, mereka akan
mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, bahkan mereka
tidak mampu untuk bekerja lagi. Ketidakmampuan ODHA untuk melakukan
aktivitas sehari-hari dan bahkan ketidakmampuan ODHA untuk bekerja ini
telah mengindikasikan bahwa mereka mengalami penurunan kualitas hidup
(Diatmi and Fridari, 2014).
Selain menghadapi berbagai gejala terkait dengan HIV dalam jangka
waktu yang lama, orang dengan HIV/AIDS juga harus berjuang untuk
mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi, seperti stigma,
kemiskinan, depresi, penyalahgunaan zat dan keyakinan budaya yang dapat
mempengaruhi kualitas hidup (Basavaraj, Navya and Rashmi, 2010).
Ketakutan akan hidup dengan HIV/AIDS membuat ODHA semakin menurun
4

kesehatan fisik dan mengalami stres secara psikologis. World Health


Organization bekerjasama dengan UNAIDS mengusulkan, peningkatan
kualitas hidup harus menjadi salah satu tujuan utama dalam memberikan
perawatan dan dukungan untuk ODHA (Sun et al.2013).
Kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap posisinya dalam
hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai kehidupan yang berhubungan
dengan tujuan, harapan, standar dan kekhawatiran. Hal ini, mencerminkan
kualitas hidup merupakan evaluasi subjektif yang berdasarkan konteks
budaya, sosial dan lingkungan (World Health Organization, 1997).
Penilaian terhadap kualitas hidup ODHA berpedoman pada
WHOQOL-HIV BREF yang terdiri dari enam skor domain yang
menunjukkan persepsi kualitas hidup individu di antaranya domain fisik,
domain psikologis, domain tingkat kemandirian, domain hubungan sosial,
domain lingkungan, dan domain spiritualitas (World Health Organization,
2002).
Instrumen WHOQOL dikembangkan untuk menilai kualitas hidup
pasien yang sedang dalam mendapatkan perawatan kesehatan dan menilai
aspek kesejahteraan pasien. Penilaian ini digunakan untuk menilai kebutuhan
pasien yang dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan promosi
kesehatan lanjutan sesuai kebutuhan pasien (World Health Organization,
1996).
Hasil penilaian yang diperoleh digunakan sebagai bahan untuk
menyusun perencanaan kesehatan dalam promosi kesehatan yang bertujuan
untuk meningkatkan kualitas hidup. Penilaian dilakukan dengan
mengidentifikasi apa yang telah dicapai dalam kualitas hidup individu dari
intervensi sebelumnya. Fase penilaian epidemiologi dilakukan identifikasi
masalah kesehatan spesifik yang berkontribusi pada kualitas hidup,
mengungkap faktor perilaku dan lingkungan yang mempengaruhi masalah
kesehatan dan menetapkan prioritas kesehatan (Green and Kreuter, 2005).
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut di atas, maka
peneliti ingin mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas hidup orang
5

dengan HIV/AIDS di Kota Kupang Provinsi NTT sebagai bahan evaluasi


terhadap peningkatan kualitas hidup ODHA.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas,
dapat disusun suatu rumusan masalah penelitian sebagai berikut: “Apa
sajakah faktor yang mempengaruhi kualitas hidup ODHA di Kota Kupang
Provinsi NTT?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas hidup ODHA di
Kota Kupang Provinsi NTT.
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan gambaran tentang karakteristik responden
berdasarkan faktor sosiodemografi (jenis kelamin, usia, pendidikan,
pekerjaan, pendapatan, status pernikahan), kepatuhan minum obat,
lama terapi ARV, stigma dan kualitas hidup ODHA di Kota Kupang
Provinsi NTT
b. Menganalisis hubungan antara faktor sosiodemografi (jenis kelamin,
usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status pernikahan) dengan
kualitas hidup ODHA di Kota Kupang Provinsi NTT
c. Menganalisis hubungan antara faktor kepatuhan minum obat dengan
kualitas hidup ODHA di Kota Kupang Provinsi NTT
d. Menganalisis hubungan antara lama terapi ARV dengan kualitas
hidup ODHA di Kota Kupang Provinsi NTT
e. Menganalisis hubungan antara stigma dengan kualitas hidup ODHA
di Kota Kupang Provinsi NTT
f. Menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup
ODHA di Kota Kupang Provinsi NTT
6

D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa
institusi/pihak di antaranya:
1. Bagi Dinas Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
Dinas Kesehatan Provinsi NTT sebagai bahan evaluasi tentang faktor yang
mendukung peningkatan kualitas hidup ODHA, sehingga program yang
dijalankan dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA.
2. Bagi rumah sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
pihak rumah sakit tentang tingkat kualitas hidup ODHA, yang dapat
digunakan sebagai dasar dalam memberikan pelayanan selanjutnya dan
bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan di masa yang akan
datang.
3. Bagi fakultas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur bagi
institusi, serta dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penelitian
selanjutnya.
4. Bagi peneliti
Penelitian ini merupakan wadah bagi peneliti untuk dapat belajar,
menambah pengalaman serta memahami faktor yang mempengaruhi
kualitas hidup ODHA. Selanjutnya, hasil dari penelitian ini diharapkan
dapat digunakan oleh peneliti sebagai dasar untuk melakukan promosi
kesehatan lanjutan kepada ODHA.
5. Bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh peneliti lain
untuk dapat melakukan pengembangan terhadap penelitian yang lebih
lanjut.
7

E. Keaslian Penelitian
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian lainnya dijelaskan pada
Tabel 2 tentang keaslian penelitian berikut di bawah ini:

Tabel 2 Keaslian penelitian


Peneliti Judul/ Lokasi Persamaan Perbedaan
Khumsaen et Factor Influencing - Cross sectional study - Instrumen
al. 2012 Quality of Life WHOQOL-BREF
Among People Living - Variabel bebas: usia, 4 domain dengan
With HIV (PLWH) in jenis kelamin, status 26 item
Suphanburi pernikahan, status pertanyaan.
Province, Thailand pekerjaan, tingkat - Teknik
pendidikan, tingkat pengambilan
pendapatan sampel:
convenience
sampling
Nirmal et al. Quality of life in - Cross sectional study - Instrumen
2008 HIV/AIDS patients: WHOQOL-BREF
A cross-sectional 4 domain dengan
study in south India 26 item
pertanyaan.
- Teknik
pengambilan
sampel:
convenience
sampling
Oktavia, 2012 Faktor – faktor yang - Cross sectional study - Variabel bebas:
mempengaruhi - Instrumen Instrumen terapi ARV,
kualitas hidup WHOQOL-HIV BREF 6 dukungan
penderita HIV/AIDS domain dengan 31 item keluarga, tingkat
di Kabupaten pertanyaan infeksi HIV, CD4
Boyolali dan Kota - Variabel bebas: jenis
Surakarta (Solo) kelamin, status
Provinsi Jawa pernikahan, status
Tengah Tahun 2012 pekerjaan, tingkat
pendidikan, tingkat
pendapatan, kepatuhan
minum obat
- Teknik pengambilan
sampel: consecutive
sampling
Heniyuniarti, Hubungan antara - Cross sectional study - Variabel: depresi,
2014 dukungan sosial dan - Instrumen Instrumen dukungan sosial
depresi dengan WHOQOL-HIV BREF 6
kualitas hidup pada domain dengan 31 item
orang dengan pertanyaan
HIV/AIDS di Kota - Variabel: umur, jenis
Magelang kelamin, tingkat
pendidikan, pekerjaan,
status pernikahan