Anda di halaman 1dari 16

PT.

MERAH PUTIH ALAM LESTARI


GENERAL CONTRACTOR, PETERNAKAN & PERKEBUNAN
Office : Jl. Yos Sudarso Kel. Kasipute Kabupaten Bombana
SULAWESI TENGGARA

METODE PELAKSANAAN

Pekerjaan : Preservasi Jalan Wanci – Topanduana – Jalan Masuk Bandara

Lokasi : Kab. Wakatobi

Tahun : 2019

A. U M U M

Metode pelaksanaan dalam melaksanakan pekerjaan adalah merupakan suatu hal yang
wajib bagi setiap pelaksana pekerjaan untuk mengerjakan kegiatan tersebut agar
memudahkan Project Manager dalam menyikapi setiap tantangan maupun hambatan
yang terjadi dala masa pelaksanaan.

Hal – hal yang perlu diperhatikan dan menjadi pertimbangan , dalam menyusun suatu
metode pelaksanaan antara lain meliputi :

1) Bahan / Material yang digunakan;


2) Tenaga kerja yang diperlukan, baik tenaga lokal maupun tenaga yang
didatangkan / tenaga terampil ( skill labour ).
3) Alat dan peralatan tepat yang digunakan
4) Faktor cuaca yaitu memanfaatkan hari-hari kerja yang efektif dalam pelaksanaan
pekerjaan.

Setelah Kami mempelajari isi Dokumen lelang ( gambar dan spesifikasi teknis ) serta
penjelasan dari panitia saat aanwijzing, maupun dari peninjauan Kami ke lokasi, ada
beberapa hal yang menjadi perhatian dan pertimbangan kami dalam menyusun langkah-
langkah metode pelaksanaan dalam pekerjaan ini.

B. METODE PELAKSANAAN

Ada 6 tahapan kegiatan utama dalam pelaksanaan pekerjaan “Preservasi Jalan Wanci _
Topanuanda – Jalan Masuk Bandara” yaitu :
a. Tahap I ( Pekerjaan Persiapan atau Pekerjaan Umum )
b. Tahap II ( Pekerjaan Tanah dan Geosintetik )
c. Tahap III ( Pekerjaan Perkerasan Berbutir dan Perkerasan Beton Semen )
d. Tahap IV ( Pekerjaan Perkerasan Aspal )
e. Tahap V ( Pekerjaan Harian )
f. Tahap VI ( Pekerjaan Pemeliharaan Kinerja Jalan )

1.1. Tahap I ( Pekerjaan Persiapan atau Pekerjaan Umum )

Pada tahap ini ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan meliputi :

a. Mobilisasi

Pekerjaan ini mencakup semua kegiatan mobilisasi peralatan dan personil yang
di perlukan dan semua falitas pendukung selama dalam masa pelaksanaan
pekerjaan serta melakukan demobilisasi kembali terhadap semua terhadap semua
peralatan dan personil pada saat pekerjaan selesai.

Kegiatan mobilisasi yang dilakukan meliputi mobilisasi alat, bahan serta


personil yang akan digunakan dalam pekerjaan ini.

Pertama – tama Kontraktor membuat daftar alat, bahan serta personil yang
akan di mobilisasi di lapangan kemudian mengajukannya kepada Konsultan
Pengawas serta Direksi Teknis untuk mendapatkan persetujuan.

Setelah mendapatkan persetujuan , selanjutnya Kontraktor akan melakukan


mobilisasi alat, bahan dan personil di lapangan.
Adapun peralatan utama yang akan di mobilisasi adalah :

1) Asphalt Mixing Plant 1 Unit


2) Tandem Roller 2 Unit
3) Asphalt Finisher 1 Unit
4) Pneumatic Tire Roller 1 Unit
5) Asphalt Cutter 2 Unit
6) Asphalt Sprayer 2 Unit
7) Dump Truck 2 Unit
8) Pick Up 2 Unit
9) Plate Tamper 2 Unit
10) Jack Hammer 2 Unit
11) Baby Roller 2 Unit
12) Water Jet 2 Unit
Adapun Personel manajerial yang akan dimobilisasi adalah :

1) General Super Intendent ( GS ) : Ilham Aim, ST


2) Manajer Kendali Mutu ( QCM ) : Zakariah Abdullah, ST
3) Pelaksana Pemeliharaan Jalan : Agung Prastiyo, ST
4) Pelaksana Pemeliharaan Jembatan : Faisal Nafiu, A.Md
5) Petugas K3 Konstruksi : Agustina Way, ST

b. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas

Manajemen Keselamatan Lalu Lintas sangat diperlukan untuk penunjang


keberhasilan pelaksanaan kegiatan dari kecelakaan kerja di lapangan. Petugas
Manajemen Lalu Lintas harus selalu berada di lokasi kerja dengan
menempatkan petugas untuk mengatur lalu lintas demi keselamatan pekerja dan
penggunaan jalan mengingat pekerjaan ini adalah peningkatan jalan , yang
mana lalu lintas tidak tertutup,pekerjaan ini meliputi :

1) Persiapan Personil

Personil petugas pengatur lalu lintas masing-masing 2 orang untuk


mengatur arus lalu lintas di setiap lokasi kegiatan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan lalu lintas. Koordinator keselamatan lalu lintas 1
orang, untuk mengatur petugas, memantau kerja petugas, dan membuat
laporan keselamatan lalu lintas.

2) Peralatan

Peralatan yang biasa digunakan adalah :

 Bendera tangan
 Lampu Kedip Portable
 Peluit
 Alat Komunikasi
 Rambu – rambu peringatan
3) Pembuatan Laporan

Pembuatan laporan secara berkala tentang kondisi keselamatan lalu


lintas di lokasi kerja yang dilaporkan kepada Safety Engineer sebagai
bahan monitoring dan evaluasi Setiap penutupan jalan akan
dikoordinasikan dengan aparat desa dan kepolisian wilayah dimana
lokasi pekerjaan.

Dalam melaksanakan pekerjaan Peningkatan Jalan setiap tahapan pekerjaan


yang akan dilaksanakan mulai dari awal. Pelaksanaan Pekerjaan sampai dengan
akhir kegiatan di lapangan diusahakan tidak mengganggu arus lalu lintas.
Aktifitas arus lalu lintas yang terhambat akibat adanya kegiatan proyek akan
merugikan pengguna jalan raya.

Agar dalam pelaksanaan pekerjaan tidak terjadi kerugian dipihak pengguna


jalan, maka manajemen lalu lintas dapat dilaksanakan dengan cara sebagai
berikut :

 Menyiapkan perlengkapan keselamatan jalan selama periode kontruksi


sesuai ketentuan.
 Membuat rencana kerja manajemen lalu lintas sesuai schedule pekerjaan
dan koordinasikan dengan seluruh personil yang terkait.
 Mengatur secara tepat jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan di
lapangan.
 Memasang rambu-rambu di sekitar lokasi pekerjaan, dan
menempatkannya secara tepat dan benar.
 Menempatkan petugas pengatur lalu lintas untuk mengatur dan
mengarahkan arus lalu lintas.
Pada saat pekerjaan, rambu-rambu diletakkan sepanjang daerah galian,
tujuannya agar lalu lintas tidak masuk atau terperosok ke dalam daerah galian.
Rambu-rambu yang dipasang haruslah mempunyai cat dengan pantulan cahaya,
guna menghindari kecelakaan di malam hari.

c. Keselamatan dan kesehatan kerja

Dari permulaan hingga penyelesaian pekerjaan dan selama masa pemeliharaan,


Kontraktor bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan pekerja,
material dan peralatan teknis serta konstruksi.
Wajib menjaga keselamatan kerja di ruang kerja dengan melengkapi dengan
perlengkapan keselamatan kerja seperti safety line, rambu - rambu, papan
promosi keselamatan, dan lain - lain.
Wajib menjamin keselamatan tenaga kerja yang terlibat dalam
pelaksanaan pekerjaan dari segala kemungkinan yang terjadi dengan memenuhi
aturan dan ketentuan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku
(Jamsostek).
Menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan di lapangan,
untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dari
pekerja lapangan.
Setiap pekerja diwajibkan menggunakan sepatu pada waktu bekerja dan di
lokasi harus disediakan Alat Pelindung Diri (APO) berupa safety belt,
safety helmet, masker/kedok las terutama untuk dipakai pada pekerjaan
pemasangan kuda-kuda baja dan pekerjaan yang beresiko tertimpa benda keras.
Menyediakan air bersih, kamar mandi dan WC yang layak dan bersih bagi
semua petugas dan pekerja. Membuat tempat penginapan di lapangan
pekerjaan untuk para pekerja tidak diperkenankan, kecuali atas ijin PPK.
Apabila terjadi kecelakaan, sesegera mungkin memberitahukan kepada
Konsultan danmengambil tindakan yang perlu untuk keselamatan korban
korban kecelakaan itu.

Membuat SOP Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). SOP diajukan kepada
Konsultan untuk dievaluasi.
Menyampaikan laporan pelaksanaan SOP kepada Direktur Keselamatan, Ditjen
Perkeretaapian, Direktur Prasarana Ditjen Perkeretaapian, PPK, dan
Konsultan.

Safety Health and Environmental Induction Kegiatan ini dilaksanakan setiap


ada tamu ataupun pekerja baru yang memasuki wilayah kerja proyek
Safety Health and Environmental Talk Program ini bertujuan untuk sosialisasi
dan pembahasan mengenai seluruh permasalahan penerapan K-3L dan
Lingkungan selama masa pelaksanaan proyek. Pelaksanaan Safety talk setiap 1
minggu sekali
Safety Health and Environmental Patrol / Inspection Kegiatan ini dilaksanakan
secara rutin, bertujuan untuk memonitor pelaksanaan K-3L di seluruh
lingkungan proyek dan menjaga konsistensi pelaksanaan K-3L.
Safety Health and Environmental Meeting Program SHE meeting dilaksanakan
seminggu sekali dimana dalam kegiatan ini membahas permasalahan dan
kejadian yang terjadi dan rencana tindak lanjut untuk memperbaikinya serta
membahas permasalahan yang mungkin terjadi serta langkah-langkah
pencegahannya.
Safety Health and Environmental Audit Program ini dilaksanakan insidental
bertujuan untuk melakukan audit terhadap kedisiplinan dalam pelaksanaan
standar K-3L di lingkungan proyek terhadap peraturan yang diberlakukan
dalam lingkungan perusahaan.
Safety Health and Environmental Trainning Pelatihan terhadap seluruh
komponen proyek yaitu karyawan, subkon, mandor dan seluruh pekerja
mengenai K-3L, P3K dan respon terhadap keadaan darurat
Housekeeping Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari bertujuan untuk
menjaga kebersihan, kerapihan, kenyamanan di lingkungan kerja.

d. Pengamanan Lingkungan Hidup.

Pelaksanaan Pekerjaan ini dilaksanakan diruas jalan yang berdekatan dengan


aktifitas orang-orang, untuk menjaga pengamanan lingkungan hidup
selama pekerjaan berlangsung akanmempekerjakan petugas khusus untuk
memantau dampak polusi dari pelaksanaan pekerjaan.

Adapun kegiatan yang termasuk dalam pengamanan lingkungan hidup ini


antara lain :

 Pengujian Parameter Kualitas Air Lainnya


 Pengujian Parameter Kebisingan dan/atau Getaran Lainnya Bermotor
Kenyamanan dan Kesehatan
 Pengujian Parameter Udara Emisi dan Ambien Lainnya dan/atau
Getaran Lainnya Bermotor Kenyamanan dan Kesehatan

e. Manajemen Mutu
Untuk memantau dan menjamin mutu bahan dan hasil pekerjaan,
maka akan mengusulkan laboratorium independent atau laboratorium
rekomendasi dari direksi. Laboratorium ini dilengkapi dengan minimal uji,
antara lain :

a. Pemeriksaan / Pengujian Tanah


b. Kepadatan laboratorium
c. CBR Laboratorium
d. Berat Jenis Tanah
e. Batas Atterberg
f. Analisa saringan
g. Kadar air
h. Kepadatan lapangan dengan metode kerucut (sand come )
i. Pemeriksaan / pengujian beton
j. Slump Test
k. Cube/cylinder moulds

Untuk pemeriksaan / uji aspal :

a. Pengujian metode marshall


b. Ekstrasi dengan metode sentrifugal
c. Ekstrasi dengan metode Refluks
d. Berat Jenis Agregat Kasar
e. Berat Jenis Agregat Halus
f. Pengeboran benda uji inti (core drill)
g. Termometer logam
h. Penetrometer
i. Titik Lembek

Pengendalian mutu bahan dan hasil pekerjaan di lapangan akan dilakukan


dengan berpedomanpada beberapareferensi (standar rujukan) sebagai berikut :

 Spesifikasi Umum dan Spesifikasi Khusus (bila ada)


 Standar AASHTO dan Standar Nasional Indonesia (SNI)
 Prosedur pengendalian mutu dalam Sistem Manajemen Mutu
Perusahaan sesuai ISO9001 / 2008.Pengendalian mutu ini akan
dilakukan sejak pengadaan seluruh bahan dasar yangakan digunakan
dalam pekerjaan ini.Pengendalian mutu ini dijalankan untuk
memeriksa danmenjamin bahwa bahan-bahan yang digunakan
dalampekerjaan ini telah memenuhi atau melebihiketentuan yang
disyaratkan dalam spesifikasi.
1.2. Tahap II ( Pekerjaan Tanah dan Geosintetik )

a. Galian Struktur dengan kedalaman 0.2 meter

 Tanah yang digali berada disekitar lokasi pekerjaan.


 Penggalian dilakukan dengan menggunakan excavator.
 Excavator menggali sesuai dengan profil galian yang terlah ditentukan.
 Bulldozer menggusur hasil galian ke tempat pembuangan disekitar
lokasi pekerjaan.
 Para pekerja membantu merapikan hasil galian dengan menimbun
permukaan galian dengan urugan pilihan agar dapat merata.

b. Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold Milling Machine

 Perkerasan yang dibongkar umumnya adalah perkerasan jalan.


 Perkerasan dibongkar dengan menggunakan Jack Hammer.
 Para pekerja membantu merapikan hasil pembongkaran dan
mengumpulkan sisa material pembongkaran untuk dimuat ke dalam
dump truck.
 Material hasil pembongkaran kemudian dimuat Ke dalam Dump Truck.
 Dump truck kemudian membawa hasil pembongkaran untuk dibuang ke
luar lokasi dengan persetujuan Konsultan dan direksi.

c. Penyiapan Badan Jalan

 Motor grader meratakan permukaan jalan.


 Kemudian Vibrator Roller atau Vibro Roller memadatkan permukaan
yang telah diratakan oleh motor grader
 Para pekerja kemudian membantu meratakan badan jalan dengan
menggunakan alat bantu.

d. Timbunan Pilihan Dari Sumber Galian.

 Wheel Loader memuat Timbunan Ke dalam Dump Truck di lokasi


Quarry Timbunan.
 Dump Truck mengangkut timbunan pilihan dari lokasi Quarry menuju
lokasi pekerjaan.
 Setelah tiba di lokasi , Dump Truck menuangkan timbunan pilihan ke
lokasi pekerjaan untuk dihampar.
 Motor Grader menghampar material timbunan pilihan di lokasi
pekerjaan.
 Sebelum dilakukan pemadatan, hamparan material timbunan disiram
dengan air menggunakan water tank.
 Setelah disiram dengan menggunakan water tank, kemudian hamparan
timbunan dipadatkan dengan menggunakan Tandem Roller.
 Selama pemadatan, para pekerja akan membantu merapikan tepi
hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.

1.3. Tahap III ( Pekerjaan Perkerasan Berbutir dan Perkerasan Beton Semen )

a. Lapis Pondasi Agregat Klas B

 Wheel Loader mencampur agregat Klas B di lokasi Base Camp.


 Setelah dicampur , Wheel Loader memuat Agregat Klas B ke dalam
Dump Truck untuk dibawa ke lokasi.
 Dump Truck mengangkut Agregat ke lokasi pekerjaan untuk di hampar.
 Setelah tiba di lokasi, agregat dihampar dengan menggunakan motor
grader.
 Hamparan agregat kemudian disiram dengan menggunakan water tank
sebelum dipadatkan.
 Setelah disiram, hamparan agregat kemudian dipadatkan dengan
menggunakan tandem roller.
 Selama pemadatan, para pekerja akan membantu merapikan tepi
hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.

b. Lapis Pondasi Agregat Klas A

 Wheel Loader mencampur agregat Klas A di lokasi Base Camp.


 Setelah dicampur , Wheel Loader memuat Agregat Klas A ke dalam
Dump Truck untuk dibawa ke lokasi.
 Dump Truck mengangkut Agregat ke lokasi pekerjaan untuk di hampar.
 Setelah tiba di lokasi, agregat dihampar dengan menggunakan motor
grader.
 Hamparan agregat kemudian disiram dengan menggunakan water tank
sebelum dipadatkan.
 Setelah disiram, hamparan agregat kemudian dipadatkan dengan
menggunakan tandem roller.
 Selama pemadatan, para pekerja akan membantu merapikan tepi
hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.

1.4. Tahap IV ( Pekerjaan Perkerasan Aspal )

a. Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair / Emulsi

 Setelah lapis pondasi terpasang selanjutnya akan dilakukan


penghamparan lapis resap pengikat atau prime coat.
 Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga menjadi
campuran aspal cair.
 Permukaan lapis pondasi dibersihkan dari debu dan kotoran dengan
menggunakan Compressor
 Setelah permukaan bersih kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan
campuran aspal cair.
 Aspal disemprotkan secara merata diseluruh permukaan jalan.

b. Lapis Perekat - Aspal Cair / Emulsi

 Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga menjadi


campuran aspal cair.
 Permukaan aspal lama dibersihkan dari debu dan kotoran dengan
menggunakan Compressor
 Setelah permukaan bersih kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan
campuran aspal cair.
 Aspal disemprotkan secara merata diseluruh permukaan jalan.

c. Laston Lapis Aus Asbuton (AC-WC Asb)

 Wheel Loader memuat agregat ke dalam Cold Bin AMP


 Agregat dan aspal kemudian dicampur dan dipanaskan dengan AMP .
 Setelah itu, agregat dan aspal yang telah dicampur dimuat langsung ke
dalam dump truck dan diangkut ke lokasi pekerjaan.
 Campuran Panas AC dilokasi kemudian dihampar dengan menggunakan
asphalt Finisher.
 Setelah dihampar, kemudian dilanjutkan dengan pemadatan dengan
menggunakan tandem roller dan Pneumatic tire roller.
 Selama pemadatan,

d. CPHMA kemasan Kantong

 Sebelum dan selama pekerjaan, Kontraktor akan menyerahkan kepada


Pengawas Pekerjaan:

 Contoh dari CPHMA yang disetujui untuk digunakan, yang


disimpan oleh Pengawas Pekerjaan selama masa Kontrak untuk
keperluan rujukan
 Laporan tertulis yang menjelaskan bahwa CPHMA diproduksi
secara panas dengan menggunakan AMP (instalasi pencampur
aspal).

 CPHMA yang dipasok dapat berbentuk dalam kemasan kantong.
CPHMA tidak boleh dihampar langsung, tetapi harus dikemas terlebih
dahulu
 Setelah contoh uji CPHMA diuji sifat-sifat campurannya dan memenuhi
persyaratan sesuai Tabel 6.6.3.3) yang kepadatannya sudah diketahui,
maka kepadatan rata-rata (Gmb) dari semua benda uji yang dibuat
dengan campuran yang diambil dari penghamparan percobaan yang
memenuhi ketentuan harus menjadi kepadatan Standar Kerja (Job
Standard Density). Selanjutnya setelah disetujui oleh Pengawas
Pekeijaan, Penyedia Jasa harus melakukan percobaan penghamparan
paling sedikit 30 ton. Pelaksanaan percobaan penghamparan di lokasi
yang ditetapkan (di luar atau di dalam kegiatan pekerjaan) oleh
Pengawas Pekerjaan dengan peralatan dan prosedur yang diusulkan.
 Sesaat sebelum penghamparan CPHMA, permukaan yang akan
dihampar harus dibersihkan dari bahan yang lepas dan yang tidak
dikehendaki dengan sapu yang dibantu dengan cara manual bila
diperlukan.
 Penghamparan CPHMA dilakukan secara manual atau menggunakan
mesin penghampar (PaverMachine). Penghamparan secara manual
dengan menggunakan besi profil siku atau kaso-kaso dengan ukuran
tinggi sama atau lebih kecil 3 mm dari tebal rencana yang ditempatkan
di kedua sisi penghamparan dan kemudian diratakan dengan kayu
penyipat.
 Penghamparan harus dimulai dari lajur yang lebih rendah menuju lajur
yang lebih tinggi bilamana pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu
lajur
 Proses perbaikan lubang-lubang yang timbul karena terlalu kasar atau
bahan yang tersegregasi karena penaburan material yang halus sedapat
mungkin harus dihindari sebelum pemadatan. Butiran yang kasar tidak
boleh ditebarkan di atas permukan yang telah padat
 Bilamana jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya
satu lajur untuk setiap kali pengoperasian, maka urutan penghamparan
harus dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara
panjang penghamparan lajur yang satu dengan yang bersebelahan pada
setiap hari produksi dibuat seminimal mungkin
 Segera setelah CPHMA dihampar dan diratakan, permukaan CPHMA
harus diperiksa dan setiap ketidaksempurnaan yang terjadi harus
diperbaiki
 Pemadatan campuran beraspal harus terdiri dari tiga operasi yang
terpisah berikut ini:

 Pemadatan Awal
 Pemadatan Antara
 Pemadatan Akhir

 Pemadatan awal atau breakdown rolling dilakukan dengan alat pemadat


roda baja tandem sebanyak 1 lintasan jika menggunakan alat pemadat
dengan berat 6-8 ton atau 2 lintasan jika menggunakan alat pemadat
dengan berat 46 ton.
 Pemadatan antara atau utama harus dilakukan dengan menggunakan
alat pemadatan roda karet (Pneumatic Tire Roller, PTR) 8-10 ton.
Jumlah lintasan harus sesuai dengan jumlah lintasan hasil percobaan
pemadatan (trial compaction). Pemadatan akhir atau penyelesaian harus
dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar (vibrasi).
Bila hamparan aspal tidak menunjukkan bekas jejak roda pemadatan
setelah pemadatan kedua, pemadatan akhir bisa tidak dilakukan.
Kepadatan akhir lapis CPHMA yang dapat diterima adalah minimum
95% dari kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density)
 Pertama-tama pemadatan harus dilakukan pada sambungan melintang
yang telah terpasang besi siku atau kaso-kaso dengan ketebalan yang
diperlukan untuk menahan pergerakan campuran beraspal akibat
penggilasan. Bila sambungan melintang dibuat untuk menyambung lajur
yang dikeijakan sebelumnya, maka lintasan awal harus dilakukan
sepanjang sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek
dengan posisi alat pemadat berada pada lajur yang telah dipadatkan
dengan tumpang tindih pada pekerjaan baru kira-kira 15 cm
 Pemadatan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan
kemudian dari tepi luar. Selanjutnya, penggilasan dilakukan sejajar
dengan sumbu jalan berurutan menuju ke arah sumbu jalan, kecuali
untuk superelevasi pada tikungan harus dimulai dari tempat yang
terendah dan bergerak kearah yang lebih tinggi. Lintasan yang
berurutan harus saling tumpang tindih (overlap) minimum setengah
lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak boleh berakhir pada titik
yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya.
 Bilamana menggilas sambungan memanj ang, alat pemadat untuk
pemadatan awal harus terlebih dahulu memadatkan lajur yang telah
dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari lebar roda
pemadat yang memadatkan tepi sambungan yang belum dipadatkan.
Pemadatan dengan lintasan yang berurutan harus dilanjutkan dengan
menggeser posisi alat pemadat sedikit demi sedikit melewati sambungan,
sampai tercapainya sambungan yang dipadatkan dengan rapi
 Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja
dan 10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga tetap rendah
sehingga tidak mengakibatkan bergesernya campuran tersebut. Garis,
kecepatan dan arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau
dengan cara yang menyebabkan terdorongnya campuran CPHMA.
 Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng
melintang dan kelandaian yang memenuhi toleransi yang disyaratkan.
Setiap campuran beraspal padat yang menjadi lepas atau rusak,
tercampur dengan kotoran, atau rusak dalam bentuk apapun, harus
dibongkar dan diganti dengan CPHMA yang baru serta dipadatkan
secepatnya agar sama dengan lokasi sekitarnya. Pada tempat-tempat
tertentu dari campuran CPHMA terhampar dengan luas 1000 cm2 atau
lebih yang menunjukkan kelebihan atau kekurangan bahan aspal harus
dibongkar dan diganti. Seluruh tonjolan setempat, tonjolan sambungan,
cekungan akibat ambles, dan segregasi permukaan yang keropos harus
diperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Pengawas Pekerjaan.
 Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan, Penyedia Jasa
harus memangkas tepi perkerasan agar bergaris rapi. Setiap bahan yang
berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah pemadatan akhir, dan
dibuang oleh Penyedia Jasa di luar daerah milik jalan sehingga tidak
kelihatan dari jalan yang lokasinya disetujui oleh Pengawas Pekerjaan
1.5. Tahap V ( Pekerjaan Harian )

a. Marka Jalan Termoplastik

Pemasangan Marka jalan sangan penting sekali untuk meningkatakan


kenyamanan dan keamanan dalam berkendara, ketika jalan sempit dengan
lalulintas padat, keberadaan marka jalan sangan membantu sekali agar
pengendara tetap berada dijalunya masing-masing. Manfaat keberadaan marka
jalan juga dapat kita rasakan ketika kita berkendara pada ruas satu jalaur
dengan dua arah.

Selain itu Ketika hujan deras keberadaan marka jalanlah yang membatu
pengendara agar tetap pada jalurnya masing. berikut tahapan-tahapan
pelaksanaan pekerjaan marka jalan.:
 Pekerjaan ini dilakukan secara manual
 Permukaan jalan dibersihkan dari debu / kotoran
 Cat disemprotkan dengan Compressor di atas mal tripleks yang dipasang
di permukaan jalan.
 Glass Beat ditaburkan segera setelah cat marka selesai disemprotkan.

b. Patok Kilometer

Patok Kilometer di pasang pada titik yang sudah ditentukan dan harus terlihat
jelas oleh pengguna jalan.

1.6. Tahap VI ( Pekerjaan Pemeliharaan Kinerja Jalan )

a. Residu Bitumen untuk pemeliharaan

 Aspal dan minyak tanah dicampur dan dipanaskan sehingga menjadi


campuran aspal cair.
 Permukaan yang akan dilapis dibersihkan dari debu dan kotoran dengan
Air Compresor
 Campuran aspal cair disemprotkan dengan Asphalt Sprayer ke atas
permukaan yang akan dilapis
 Angkutan Aspal dan Minyak tanah menggunakan Dump Truck

b. Pembersihan Drainase
 Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang dilaksanakan dengan program
padat karya.
 Besaran upah untuk tenaga kerja padat karya minimal sama atau lebih
besar dari Upah Minimum Regional Provinsi Sulawesi Tenggara
 Para pekerja membuang dan membersihkan tanah/ material dan kotoran
yang menutupi / menimbun selokan.
 Tanah di keluarkan menggunakan cangkul / sekop dan ditumpuk di
samping saluran
 Tanah yang sudah dikeluarkan dibuang dari lokasi
 Pekerjaan menggunakan buruh secara manual

c. Pengendalian Tanaman

 Kontraktor melaksanakan pengendalian tanaman atau tumbuh-


tumbuhan disepanjang ruang milik jalan, yang kiranya dapat
mengganggu jarak pandang bagi pengguna jalan untuk keselamatan
dalam berlalulintas selama periode pelaksanaan.
 Lokasi yang harus bebas dari tanaman disekitar ujung gorong-gorong,
terusan gorong-gorong, saluran air yang dilapisi, kerb, sekitar rambu,
guardrails, patok pengarah, tiang lampu, bahu jalan, seluruh permukaan
yang dilabur, bangunan bawah jembatan dan deck jembatan.
 Tumbuh-tumbuhan yang diijinkan tinggi maksimum 10 cm di sekitar
patok-patok pengarah jalan dan rambu-rambu lalulintas, ujung saluran
melintang jalan, bahu jalan, guardrails, tiang-tiang lampu, median yang
ditinggikan, pulau-pulau untuk lalulintas dan trotoar termasuk tepi deck
jembatan. Sedangkan tumbuh-tumbuhan yang diijinkan mempunyai
tinggi minimal 2.5 cm dan maksimum 10 cm pada lokasi median jalan
yang direndahkan, tebing tepi jalan (diluar ruang manfaat jalan), taman
ditempat istirahat dan sekitarnya.
 Pada daerah timbunan dan galian jalan harus mencakup pemotongan
rumput, semak-semak, dan pohon-pohon kecil yang tingginya sudah
mencapai lebih dari 10 cm dan/atau untuk memperbaiki penampilan
didalam atau disamping jalan yang dibangun atau diperbaiki jarak
pandang pada tikungan selama periode pelaksanaan dan pekerjaan lain
yang mencakup perbaikan lereng yang tidak stabil.
 Penyedia harus memperhitungkan kuantitas pelaksanaan pengendalian
tanaman tersebut diatas selama periode pelaksanaan, yang harus
dilaksanakan setiap saat hingga memenuhi kinerja yang disyaratkan.
Demikianlah Metode pelaksanaan pekerjaan yang Kami sampaikan, atas perhatiannya Kami
ucapkan terima kasih.

Rumbia, 18 Desember 2018

PT. MERAH PUTIH ALAM LESTARI

SUGIYATNO

Direktur