Anda di halaman 1dari 14

TUGAS INDIVIDU

KEBUTUHAN DASAR OKSIGENASI

NAMA : MEGA SONIA VERA

NIM : PO.62.20.1.17.336

PRODI : DIV KEPERAWATAN

REGULER : IV (EMPAT)

MATA KULIAH : KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA

TAHUN AKADEMIK 2017

I. PENGERTIAN OKSIGENASI
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada
tekanan 1atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.

II. TUJUAN PEMBERIAN OKSIGENASI


1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru
3. Untuk menurunkan kerja jantung

III. ANATOMI SISTEM PERNAPASANAN


A. Saluran Nafas Atas
1. Hidung

Terdiri atas bagian eksternal dan internal


Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan
kartilago.
Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi
rongga hidungkanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum.
Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak
mengandungvaskular yang disebut mukosa hidung‡ Permukaan mukosa hidung
dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terusmenerus dan
bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia‡ Hidung berfungsi sebagai saluran
untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru‡ Hidung juga berfungsi sebagai
penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke
dalam paru-paru‡ Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu)
karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang
sejalan dengan pertambahan usia
2. Faring

Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan
rongga mulut ke laring‡ Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring),
oral (orofaring), dan laring(laringofaring) Fungsi faring adalah untuk
menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif
3. Laring

Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang


menghubungkan faringdan trakea‡ Laring sering disebut sebagai kotak suara
dan terdiri atas :- Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke
arah laring selama menelan- Glotis : ostium antara pita suara dalam laring-
Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini
membentuk jakun (Adam's apple)- Kartilago krikoid : satu-satunya cincin
kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid)-
Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago
tiroid- Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang
menghasilkan bunyi suara (pitasuara melekat pada lumen laring)‡ Fungsi
utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi‡ Laring juga
berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing
danmemudahkan batu
4. Trakea

Disebut juga batang tenggorok


Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina
b. Saluran Nafas Bawah
1. Bronkus
Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus)‡
Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan
bronkus lobaris kiriterbagi menjadi 9 bronkus segmental‡
Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus
subsegmental yangdikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri,
limfatik dan saraf
2. Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus‡ Bronkiolus
mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang
membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan
napas
3. Bronkiolus Terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis
(yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia)
4. Bronkiolus respiratori
Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori‡
Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara
jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas
5. Duktus alveolar dan Sakus alveolar ‡
Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar
dan sakus alveolar Dan kemudian menjadi alveoli
6. Alveoli
Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2‡
Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar
akan seluas 70 m2‡
Terdiri atas 3 tipe :
- Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding
alveoli
- Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan
mensekresi surfaktan(suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan
mencegah alveolar agar tidak kolaps)
- Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel
fagotosis dan bekerjasebagai mekanisme pertahanan

PARU

Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut


Terletak dalam rongga dada atau toraks:
Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung
dan beberapa pembuluh darah besar
Setiap paru mempunyai apeks dan basis
Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura
interlobaris Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus :
Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai
dengan segmen bronkusnya

PLEURA
Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
Terbagi mejadi 2 :
- Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
- Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru‡
Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura
yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak
selama pernapasan, juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan
paru-paru‡ Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan
atmosfir, hal ini untuk mencegahkolap paru-paru

IV. FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN


Bernafas/pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu
danlingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang
(ekspirasi).Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru
atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan
antara udaraatmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang,
diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan
gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus
dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi
lebih besar kedarah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena
dinding alveoli sangat tipis dandikelilingi oleh jaringan pembuluh darah
kapiler yang sangat rapat, membran ini kadangdisebut membran
respirasi.Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing
sisi membran respirasisangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal
gradien tekanan oksigen antara alveolidan darah yang memasuki kapiler
pulmonal sekitar 40 mmHg.Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :a. Luas
permukaan paru b. Tebal membran respirasic. Jumlah darahd. Keadaan/jumlah
kapiler darahe. Afinitasf. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh
dansebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.Oksigen perlu
ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida
harusditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97
% oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan
dibawa ke jaringan sebagaioksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam
cairan plasma dan sel-sel.Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :a.
Curah jantung (cardiac Output / CO) b. Jumlah sel darah merahc. Hematokrit
darahd. Latihan (exercise)

V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN


Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :
1. Tahap PerkembanganSaat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-
paru yang sebelumnya berisicairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang
kecil dan jalan nafas yang pendek.Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-
kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter
transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut
usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.
2. Lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi
daratan, makinrendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup
individu. Sebagai akibatnyaindividu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan
jantung yang meningkat, jugakedalaman pernapasan yang meningkat.Sebagai respon
terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah
akanmengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan
tubuh akanmengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan
meningkat.Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh
darah perifer, akibatnyameningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan
kegiatan-kegiatan jantung sehinggamengurangi kebutuhan akan oksigen.
3. Gaya Hidup
Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan
denyut jantung,demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan
pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.
4. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan
oksigenyang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada
sistemkardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke
sel-sel tubuh.Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat
mempunyai efek sebaliknyaterhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi
kardiovaskuler yang mempengaruhioksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi
membawa oksigen dan karbondioksidamaka anemia dapat mempengaruhi transportasi
gas-gas tersebut ke dan dari sel.
5. Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan
ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-
obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.
6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan
Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat
mempengarhi pernapasan yaitu :a. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru b.
Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paruc. Transpor
oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan dari sel jaringan.Gangguan
pada respirasi yaitu hipoksia, perubahan pola napas dan obstruksi sebagian
jalannapas.Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam
tubuh yang diinspirasisampai jaringan. Hal ini dapat berhubungan dengan
ventilasi, difusi gas atau transpor gasoleh darah yang dapat disebabkan oleh kondisi yang
dapat merubah satu atau lebih bagian- bagian dari proses respirasi. Penyebab lain
hipoksia adalah hipoventilasi alveolar yang tidak adekuat sehubungan dengan
menurunnya tidal volume, sehingga karbondioksida kadang berakumulasi didalam
darah.Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar kuku dan membran
mukosayang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen dalam hemoglobin.
Oksigenasi yangadekuat sangat penting untuk fungsi serebral. Korteks serebral
dapat mentoleransi hipoksiahanya selama 3 - 5 menit sebelum terjadi kerusakan
permanen. Wajah orang hipoksia akut biasanya terlihat cemas, lelah dan pucat.
7. Perubahan pola nafas
Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya
dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe
(sesak). Kadang-kadangterdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang
meningkat, denyut jantungmeningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk
bernapas kecuali pada posisi duduk dan berdiri seperti pada penderita asma.
8. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran
pernapasan disebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi :
hidung, pharing, laringatau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing
seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila individu
tidak sadar atau bila sekresi menumpuk disaluran napas.Obstruksi jalan napas di
bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari salurannapas ke
bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka
merupakanintervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan
yang tepat. Onbstruksisebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara
mengorok selama inhalasi (inspirasi).

VI. PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN


A. Riwayat Keperawatan
Riwayat keperawatan untuk status oksigenasi meliputi pengkajian tentang masalah
pernapasan dulu dan sekarang; gaya hidup; adanya batuk; sputum; nyeri;
medikasi; dan adanya Faktor resiko untuk gangguan status oksigenasi.
1. Masalah pada pernapasan (dulu dan sekarang)
2. Riwayat penyakit atau masalah pernapasan
a. Nyeri
b. Paparan lingkungan atau geografi
c. Batuk
d. .Bunyi nafas mengi
e. .Faktor resiko penyakit paru (misalnya perokok aktif atau pasif)
f. Frekuensi insfeksi pernapasan
g. .Masalah penyakit paru masa lalu
h. Penggunaan obat
3. Adanya batuk dan penanganan
4. Kebiasaan merokok
5. Masalah pada fungsi sistem kardiovaskuler (kelemahan,dispnea)
6. Faktor resiko yang memperberat masalah oksigenasi
a. Riwayat hipertensi
b. Merokok
c. Usia paruh baya atau lanjut usia
d. Obesitas
e. Diet tinggi lemak
f. Peningkatan kolesterol
7. Riwayat penggunaan medikasi
8. Stressor yang dialami
9. Status atau kondisi kesehatan (Iqbal, 2005).

Pola batuk dan produksi sputum


Menilai apakah batuk termasuk batuk kering, keras dan kuat dengan suara
mendesing, berat, dan berubah-ubah seperti kondisi pasien yang mengalami
penyakit kanker juga dilakukan pengkajian apakah pasien mengalami sakit
pada bagian tenggorokan saat batuk kronis dan produktif serta saat dimana
pasien sedang makan, merokok, atau pada saat malam hari. Pengkajian
terhadap lingkungan tempat tinggal pasien (apakah berdebu, penuh asap, dan
adanya kecendrungan mengakibatkan alergi). Pengkajian sputum dilakukan
dengan cara memeriksa warna, kejernihan, dan apakah bercampur dengan
darah (Alimul, 2006).

Sakit Dada
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui bagian yang sakit, luas,
intensitas, Faktor yang menyebabkan rasa sakit, perubahan nyeri dada apabila
pasien berubah posisi, serta ada atau tidaknya hubungan antara waktu inspirasi
dan ekspirasi dengan rasa sakit (Alimul, 2006).

Pengkajian Fisik
a. Inspeksi

Mengamati tingkat kesadaran klien, penampilan umum, postur tubuh,


kondisi kulit dan membrane mukosa, dada, pola napas, (frekuensi,
kedalaman pernapasan, durasi inspirasi dan ekspirasi), ekspansi dada
secara umum, adanya sianosis, deformitas dan jaringan parut pada dada.
b. Palpasi

Dilakukan dengan meletakkan tumit tangan pemeriksa mendatar diatas


dada pasien. Saat palpasi perawat menilai adanya fremitus taktil pada dada
dan punggung pasien dengan memintanya menyebutkan “tujuh-tujuh”
secara berulang. Perawat akan merasakan adanya getaran pada telapak
tangan nya. Normalnya fremitus taktil akan terasa pada individu yang sehat
dan akan meningkat pada kondisi kosolidasi. Selain itu, palpasi juga
dilakukan untuk mengkaji temperature kulit, pengembangan dada, adanya
nyeri tekan, titik impuls maksimum abnormalitas massa dan kelenjar
sirkulasi perifer, denyut nadi, serta pengisian kapiler.
c. Perkusi

Dilakukan untuk menentukan ukuran dan bentuk organ dalam serta untuk
mengkaji adanya abnormalitas, cairan, atau udara didalam paru,. Perkusi
sendiri dilakukan dengan jari tengah (tangan non-dominan) pemeriksa
mendatar diatas dada pasien. Kemudian jari tersebut diketuk-ketuk dengan
menggunakan ujung jari tengah atau jari telunjuk tangan sebelahnya.
Normalnya dada menghasilkan bunyi resonan atau gaung perkusi. Pada
penyakit tertentu adanya udara pada dada atau paru menimbulkan bunyi
hipersonan atau bunyi drum. Sedangkan bunyi pekak atau kempis
terdengar apabila perkusi dilakukan di atas area yang mengalami
atelektasis.

d. Auskultasi

Auskultasi dilakukan langsung dengan menggunakan stetoskop. Bunyi


yang terdengar digambarkan berdasarkan nada, intensitas durasi, atau
kualitasnya. Untuk mendapatkan hasil yang lebih valid atau akurat,
auskultasi sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali. Pada pemeriksaan fisik
paru, auskultasi dilakukan untuk mendengar bunyi napas vasikuler,
bronchial, bronkovasikular, ronkhi, juga untuk mengetahui adanya
perubahan bunyi napas serta lokasi dan waktu terjadinya (Iqbal, 2005).

Pemeriksaan Diagnostik
1. Penilaian ventilasi dan oksigenasi : uji fungsi paru, pemeriksaan gas
darah arteri, oksimetri, pemeriksaan darah lengkap.
2. Tes struktur pernapasan : sinar-x dada, bronkoskopi, scan paru.
3. Deteksi abnormalitas sel dan infeksi saluran pernapasan : kultur
kerongkongan, sputum, uji kulit, torakentesis (Iqbal, 2005).
B. Analisa Data
Data Subjektif
a. Perasaan lemah
b. Sesak napas
c. Nyeri dada
d. Batuk tak efektif
e. Demam
f. Riwayat merokok
g. Ansietas
h. Berat badan menurun

Data Objektif
a. Gelisah
b. Dispnea
c. Trauma
d. Suara napas tidak normal
e. Perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan
f. Obstruksi trakeal
g. Pendarahan aktif
h. Infeksi paru
i. Perubahan irama dan jumlah pernapasan
j. Penggunaan otot bantu napas
k. Vasokontriksi
l. Hipovolemia
m. Edema
n. Efusi pleura
o. Atelektasi
p. Nilai AGD tidak normal (Iqbal, 2005)

C. Rumusan Masalah
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas.
b. Ketidakefektifan pola napas.
c. Gangguan pertukaran gas.
d. Gangguan perfusi jaringan (Iqbal, 2005).

D. Perencanaan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas.
Berhubungan dengan:
a. Lingkungan : merokok, menghirup asap rokok, dan perokok pasif
b. Obstruksi jalan napas :
spasme jalan napas, retensi secret, mucus berlebih, adanya jalan napas
buatan, terdapat benda asing dijalan napas, secret di bronki, dan eksudat di
alveoli.
c. Fisiologi : disfungsi neuromuscular, hyperplasia dinding bronchial, PPOK,
infeksi, asma, trauma jalan napas.
Tujuan :
a. Menunjukkan pembersihan jalan napas yang efektif.
b. Menunjukkan status pernapasan : kepatenan jalan napas
Kriteria Hasil :
a. Tidak mengalami aspirasi
b. Mengeluarkan secret secara efektif
c. Mempunyai jalan napas yang paten
d. Irama dan frekuensi pernapasan dalam batas normal
e. Suara napas jernih

Intervensi dan Rasional :


a. Auskultasi dada untuk karakter bunyi napas atau adanya sekreat.
Rasional : Pernapasan bising, ronki dan menunjukkan tertahannya
sekreat / obstruksi jalan napas
b. Observasi jumlah dan karakter sputum / aspirasi sekret
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tidak berwarna (bercak darah)
atau air umumnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan
penyembuhan.
c. Gunakan oksigen, humidifikasi / nebuliser. Beri cairan tambahan
melalui IV sesuai indikasi.
Rasional : Memberikan hidrasi maksimal membantu pengenceran
secret untuk membantu pengeluarannya
d. Dorong masukan cairan peroral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam
toleransi jantung.
Rasional: hidrasi adekuat untuk mempertahankan secret
hilang/peningkatan pengeluaran.
c. Lakukan penghisapan jalan napas (suction)
Rasional : untuk mengeluarkan secret yang tertahan dari jalan napas.
d. Pantau pernapasan pasien.
Rasional : mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk
memastikan kepatenan jalan napas dan pertukaran gas yang adekuat
(Dongoes, 1999).

2. Ketidakefektifan pola napas


Berhubungan dengan :
a. Ansietas
b. Posisi tubuh
c. Deformitas tulang
d. Deformitas dinding dada
e. Penurunan energi dan kelelahan
f. Hiperventilasi
g. Kelelahan otot-otot pernapasan

Tujuan :
a. Menunjukkan pola pernapasan efektif
b. Menunjukkan status pernapasan: ventilasi tidak terganggu
c. Menunjukkan tidak adanya gangguan status pernapasan
Kriteria Hasil:
a. Pernapasan optimal pada saat terpasang ventilator mekanis
b. Kecepatan dan irama pernapasan dalam batas normal
c. Fungsi paru dalam batas normal.
Intervensi dan Rasional :
a. Manajemen jalan napas
Rasional : memfasilitasi kepatenan jalan napas
b. Pengisapan jalan napas
Rasional :
mengeluarkan sekret jalan napas dengan cara masukkan
kateter penghisap ke dalam jalan napas oral atau trakea pasien.

c. Bersihkan jalan napas buatan


Rasional : memelihara selang endotrakea dan selang trakeostomi untuk
mencegah komplikasi yang berhubungan dengan penggunaannya
d. Pantau pernapasan
Rasional : mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk memastikan
kepatenan jalan napas dan pertukaran gas yang adekuat
e. Pantau tanda-tanda vital
Rasional : mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskular,
pernapasan dan suhu tubuh pasien untuk menentukan dan mencegah
komplikasi (Iqbal, 2005).

3. Gangguan pertukaran gas


Berhubungan dengan :
a. Perubahan membran kapiler–alveolar
b. Ketidakseimbangan perfusi-ventilasi
Tujuan :
a. Gangguan pertukaran gas akan berkurang
b. Status pernapasan : pertukaran gas tidak akan terganggu
c. Status pernapasan : ventilasi tidak akan terganggu

Kriteria Hasil :
a. Fungsi paru dalam batas normal
b. Ekspansi paru yang simetris
c. Tidak menggunakan otot aseksoris untuk bernapas.

Intervensi dan Rasional :


a. Manajemen asam-basa

Rasional :
meningkatkan keseimbangan asam-basa dan mencegah komplikasi akibat
ketidakseimbangan asam-basa.
a. Manajemen jalan napas
Rasional : memfasilitasi kepatenan jalan napas
b. Manajemen elektrolit
Rasional :
meningkatkan keseimbangan elektrolit dan mencegahkomplikasi akibat
kadar elektrolit serum yang tidak normal atau diluar harapan.
c. Terapi oksigen
Rasional :
memberikan oksigen dan memantau efektivitasnya
d. Bantuan ventilasi
Rasional :
meningkatkan pola pernapasan spontan yang optimal dalam
memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbondioksida di paru.
e. Pantau tanda-tanda vital
Rasional :
mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskular, pernapasan dan
suhu tubuh untuk mentetukan dan mencegah komplikasi (Iqbal, 2005).
4. Gangguan perfusi jaringan
Berhubungan dengan :
a. Vasokonstriksi
b. Hipovolemia
c. Menurunnya aliran darah
d. Edema
e. Pendarahan

Tujuan :
a. Memperbaiki perfusi jaringan.
b. Suara pernapasan dalam keadaan normal

Intervensi dan Rasional :


a. Kaji perubahan tingkat perfusi jaringan
Rasional :
mengetahui sejauh mana keadaan umum pasien
b. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
Rasional :
meningkatkan perfusi jaringan
c. Pertahankan asupan dan pengeluaran
Rasional :
mengetahui keseimbangan Intake dan output cairan
d. Monitor denyut dan irama jantung
Rasional :
mengetahui komplikasi dan kelainan yang ada.
e. Hindari terjdinya valsava maneuver seperti mengedan, menahan napas,
dan batuk
Rasional :
mempertahankan pasokan oksigen (Iqbal, 2005).

VII. Evaluasi Keperawatan


Evaluasi terhadap masalah kebutuhan oksigen secara umum dapat dinilai dari
adanya kemampuan dalam:
1. Mempertahankan jalan napas secara efektif yang ditunjukkan dengan adanya
kemampuan untuk bernapas, jalan napas bersih, tidak ada sumbatan, frekuensi,
irama, dan kedalaman napas normal, serta tidak ditemukan adanya tanda
hipoksia.
2. Mempertahankan pola napas secara efektif yang ditunjukkan dengan adanya
kemampuan untuk bernapas, frkuensi, irama, dan kedalaman napas normal,
tidak ditemukan adanya tandahipoksia, serta kemampuan paru berkembang
dengan baik.
3. Mempertahankan pertukaran gan secara efektif yang ditunjukkan dengan
adanya kemampuan untuk bernapas, tidak ditemukan dispnea pada usaha
napas, inspirasi dan ekspirasi dalam batas normal, serta saturasi oksigen dan
pCO2 dalam keadaan normal.
4. Meningkatnya perfusi jaringan yang ditunjukkan dengan adanya kemampuan
pengisian kapiler, frekuensi, irama, kekuatan nadi dalam batas normal, dan
status hidrasi normal (Alimul, 2006).