Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Otitis media adalah inflamasi pada bagian telinga tengah. Telinga tengah adalah organ
yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan
jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring, secara alamiah terdapat mekanisme
pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh enzim pelindung dan bulu-bulu
halus yang dimiliki oleh tuba eustachii.
Otitis media sebenarnya adalah diagnosa yang paling sering dijumpai pada anak – anak di
bawah usia 15 tahun. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti
obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, inflamasi jaringan
disekitarnya (eg : sinusitis, hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( eg : rhinitis alergika) dan
sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang
menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Gejala yang sering ditimbulkan pada
otitis media biasanya ialah rasa nyeri, pendengaran berkurang, demam, pusing, juga kadang
disertai mendengar suara dengung (tinitus).
Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media
juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75%
anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir
setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak
mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun.4 Di negara tersebut otitis
media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari otitis media ?


2. Apa etiologi dari otitis media ?
3. Apa epidemiologi dari otitis media ?
4. Bagaimana patofisiologis dari otitis media?
5. Apa saja klasifikasi dari otitis media ?

1
6. Apa saja manifestasi klinis dari otitid media ?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari otitis media ?
8. Apa saja penatalaksanaan pada otitis media ?
9. Apa saja komplikasi yang timbul dari otitis media ?
10. Apa saja prognosis dari otitis media ?
11. Bagaimana asuhan keperawatan pada pemyakit otitis media ?
C. Tujuan Penulisan
Penulis memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini baik berupa tujuan
umum maupun khusus. Adapun tujuan-tujuan tersebut antara lain :
1. Tujuan Umum
Penulis bertujuan agar pembaca dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai
asuhan keperawatan otitis media.
2. Tujuan Khusus
Penulis bertujuan agar pembaca lebih mengenal dan memahami tentang asuhan keperawatan
otitis media.
D. Manfaat Penulisan

Selain memiliki tujuan-tujuan, penulis pun menginginkan adanya manfaat-manfaat yang di


dapatkan para pembaca melalui makalah ini. Manfaat-manfaat tersebut dibagi menjadi 2 bagian,
yaitu manfaat akademis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Akademis
Melalui makalah ini penulis berharap agar para pembaca dapat menambah ilmu dan wawasan
mengenai asuhan keperawatan otitis media. Demikian pula bagi penulis, makalah ini
bermanfaat untuk dapat meningkatkan keterampilan dan menyajikan materi secara jelas dan
sistematis.
2. Manfaat Praktis
Selain memiliki manfaat secara akademis, penulisan makalah ini juga memiliki manfaat yang
bersifat praktis bagi pembaca dan penulis. Para pembaca dapat lebih mengerti dan memahami
mengenai asuhan keperawatan otitis media. Sedangkan bagi penulis, akan memperoleh
kepuasan intelektual.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi otitis media
berarti peradangan dari telinga tengah. Otitis media adalah peradangan sebagian atau
seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.
Gangguan telinga yang paling sering adalah infeksi eksterna dan media. Sering terjadi
pada anak-anak dan juga pada orang dewasa (Soepardi, 1998).
Otitis media adalah infeksi telinga meliputi, infeksi saluran telinga luar (Otitis
Eksternal), saluran telinga tengah (otitis media), mastoid (mastoiditis), dan telinga bagian
dalam (labyrinthitis). Otitis media, suatu inflamasi telinga tengah berhubungan dengan
efusi telinga tengah. (Rahajoe, 2012)
B. Etiologi
Penyebab otitis media akut (OMA) menurut Wong et al 2008, h.943 ialah
Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Sedangkan penyebab dari
noninfeksius tidak diketahui, meskipun sering terjadi karena tersumbatnya tuba eustasius
akibat edema yang terjadi pada ISPA, rinitis alergik, atau hipertrofi adenoid. Merokok
pasif juga menjadi faktor penyebab otitis media. Selain itu menurut Muscari 2005, h.220
otitis media terjadi karena mekanisme pertahanan humoral yang belum matang sehingga
meningkatkan terjadinya infeksi, pemberian susu bayi dengan botol pada posisi
terlentang akan memudahkan terkumpulnya susu formula di rongga faring, pembesaran
jaringan limfoid yang menghambat pembukaan tuba eustachii. Posisi tuba eustachii yang
pendek dan horisontal, perkembangan saluran kartilago yang buruk sehingga tuba
eustachii terbuka lebih awal.
Otitis media kronis (OMK) terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga
(perforasi) (Mediastore,2009). Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis
media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam
telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar
karena panas atau zat kimia. Bisa juga disebabkan karena bakteri, antara lain:

3
1. Streptococcus.
2. Stapilococcus.
3. Diplococcus pneumonie.
4. Hemopilus influens.
5. Gram Positif : S. Pyogenes, S. Albus.
6. Gram Negatif : Proteus spp, Psedomonas spp, E. Coli.
7. Kuman anaerob : Alergi, diabetes melitus, TBC paru.

Penyebab OMK antara lain:

1. Lingkungan
Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas, tetapi kelompok
sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir
dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet, dan tempat
tinggal yang padat.
2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMK
berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik.
Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum
diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.
3. Riwayat otitis media sebelumnya
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media
akut dan/ atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang
menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan
kronis
4. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak
bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa
metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai
adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya.
5. Infeksi saluran nafas atas

4
Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran
nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan
menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam
telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap
OMK.
7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding
yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi
terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini
belum terbukti kemungkinannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustachius
Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi
apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui.
Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi
tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin
mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang
menetap pada OMK adalah:
1. Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi
sekret telinga purulen berlanjut.
2. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada
perforasi.
3. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme
migrasi epitel.
Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang
cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan
spontan dari perforasi.

5
C. Epidemiologi
Otitis media pada anak-anak sering kali disertai dengan infeksi pada saluran
pernapasan atas. pada penelitian Zackzouk dan kawan-kawan di Arab Saudi tahun 2001
terhadap 112 pasien infeksi saluran pernapasan atas (6-35 bulan), didapatkan 30%
mengalami otitis media akit dan 8% sinusitis. Epidemiologi seluruh dunia terjadinya
otitis berusia 1 tahun sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83%. Di
Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media
sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalami tiga kali atau lebih.
Insiden Otitis Media Akut (OMA) tertinggi terjadi pada usia 2 tahun pertama kehidupan,
dan yang kedua pada waktu berusia 5 tahun bersamaan dengan anak masuk sekolah.
Puncak usia anak mengalami otitis Media Akut (OMA) di dapatkan pertengahan
tahun pertama sekolah, di Swedia mendapatkan 16.611 anak penderita Otitis Media Akut
(OMA) dan didapatkan usia 7 tahun dengan prevalensi terbanyak. resiko kekambuhan
otitis media terjadi pada beberapa faktor, antara lain usia < 5 tahun, otitis prone (pasien
yang mengalami otitis pertama kali pada usia < 6 bulan, 3 kali dalam 6 bulan terakhir),
infeksi pernapasan, perokok dan laki-laki.
Indonesia sebagai negara berkembang perlu memperhatikan masalah kesehatan
ini, namun hal ini tidak didukung dengan pendataan yang jelas tentang insidensi otitis
Media Akut (OMA) itu sendiri. data yang didapat dari Profil Kesehatan Dinas Kesehatan
Kota bekasi, Otitis Media Akut (OMA) selalu ada pada 20 besar penyakit dengan
insidensi tersering.
D. Patofisiologi
Otitis media terjadi akibat disfungsi tuba eustasius. Tuba tersebut, yang
menghubungkan telinga tengah dengan nasofaring, normalnya tertutup dan datar yang
mencegah organisme dari rongga faring memasuki telinga tengah. Lubang tersebut
memungkinkan terjadinya drainase sekret yang dihasilkan oleh mukosa telinga tengah
dan memungkinkan terjadinya keseimbangan antara telinga tengah dan lingkungan luar.
Drainase yang terganggu menyebabkan retensi sekret di dalam telinga tengah. Udara,
tidak dapat ke luar melalui tuba yang tersumbat, sehingga diserap ke dalam sirkulasi yang
menyebabkan tekanan negatif di dalam telinga tengah. Jika tuba tersebut terbuka,

6
perbedaan tekanan ini menyebabkan bakteri masuk ke ruang telinga tengah, tempat
organisme cepat berproliferasi dan menembus mukosa (Wong et al 2008, h.944)
1. Otitis Media Akut
OMA sering diawali dengan infeksi saluran napas seperti radang tenggorokan /
pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustachius. Saat bakteri melalui
saluran eustachius, bakteri bisa menyebabkan infeksi saluran tersebut. Sehingga
terjadilah pembengkakan di sekitar saluran, terseumbatnya saluran, dan datangnya
sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel darah putih akan melawan sek-sel
bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri, sedikitnya terbentuk nanah dalam
telinga tengah. Pembengkakan jaringans ekitar sel eustachius menyebabkan lendir
yang dihasilkan sel-sel jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat
terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang
telinga dengan organ pendengatran di telinga dalam bergerak bebas. Cairan yang
terlalu banyak tersebut, akhirnya dapt merobek gendang telinga karena tekanannya.

2. Otitis Media Kronis


Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini
merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah

7
terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Terjadinya OMK
hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. OMK disebabkan oleh
multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi,
kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi.
Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis, rhinitis,
sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-kadang infeksi
berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani,
maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung
mukosa di telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan
fungsi telinga tengah, biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa
akan kembali normal. Walaupun kadang-kadang terbentuk jaringan granulasi atau
polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing
harus dibuang, tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada
mukosa telinga tengah jarang terjadi. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan
besar untuk kembali normal. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen,
mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan
terjadinya infeksi berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap
kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda yang
tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas
bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret
yang mukoid atau mukopurulen.

8
E. Klasifikasi
1. Otitis Media Akut
Peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta
kedokteran, 2002). Otitis media akut ialah radang akut telinga tengah yang terjadi
terutama pada bayi atau anak yang biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas
bagian atas (Schwartz 2004, h.141). Prosedur Diagnostik
2. Otitis media serosa

9
Otitis media serosa / efusi adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga
tengah tanpa adanya tanda dan gejala infeksi aktif. Secara teori, cairan ini sebagai
akibat tekanan negative dalam telinga tengah yang disebabkan oleh obstruksi tuba
eustachii.
3. Otitis Media Kronis
Infeksi menahun pada telinga tengah. Kondisi yang berhubungan dengan patologi
jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut
yang tak tertangani. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan
mastoid yang menetap > 12 minggu. Otitis media kronik adalah perforasi pada
gendang telinga ( warmasif, 2009). Otitis media kronis adalah peradangan teliga
tengah yang gigih, secara khas untuk sedikitnya satu bulan.Orang awam biasanya
menyebut congek (Alfatih, 2007).
F. Manifestasi klinis
1. Otitis Media Akut
Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan
umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa
telinga tengah :
a) Stadium oklusi tuba Eustachius
Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam
telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat
dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi.
b) Stadium hiperemis (presupurasi)
Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh
membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk
mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat.
c) Stadium supurasi
Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada
mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya
eksudat purulen di kavum timpani.Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu
meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat.Apabila tekanan tidak
berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta

10
submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan
kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur.
d) Stadium perforasi
Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi,
dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga
tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan
turun, dan dapat tidur nyenyak.
e) Stadium resolusi
Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila
terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan
tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa
pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif
subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau
hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK)
bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa
otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.Pada
anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang
tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada orang dewasa,
didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang
dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media anak adalah suhu tubuh
yang tinggi (> 39,5 derajat celsius), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat
tidur, diare, kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Setelah
terjadi ruptur membran tinmpani, suhu tubuh akan turun dan anak tertidur.
2. Otitis Media Kronis
Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis:
a) OMK tipe benigna:
Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk ,
ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan
dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang, discharge mukoid
dapat konstan atau intermitten.

11
Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan
derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan
koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.
Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi
selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . Proses peradangan pada daerah
timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk
garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau
merah dan tebal, kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan
mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga
tengah sampai polip tersebut diangkat . Discharge terlihat berasal dari rongga
timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali
pengobatan local abu busuk berkurang. Cairan mukus yang tidak terlalu bau
datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk
garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna.
b) OMK tipe maligna dengan kolesteatoma:
Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret yang sangat
bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat keeping-
keping kecil, berwarna putih mengkilat.
Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya
kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis
media nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena
kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis
akibat osteolitik kolesteatom.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut Muscari 2005, h.220 ialah :
1. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani.
2. Kultur dan uji sensitivitas hanya dapat dilakukan bila dilakukan timpanosentesis
(aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membran timpani). Uji sensitivitas dan
kultur dapat dilakukan untuk mengidentifikasi organisme pada sekret telinga.
3. Pengujian audiometrik menghasilkan data dasar atau mendeteksi setiap kehilangan
pendengaran sekunder akibat infeksi berulang.

12
4. Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis menurut Dowshen et al 2002, h.149.
Penatalaksanaan OMA disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan stadiumnya :
1. Stadium oklusi tuba
a) Berikan antibiotik selama 7 hari :
1) Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau
2) Amoksisilin : Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari
atau
3) Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari
b) Obat tetes hidung nasal dekongestan
c) Antihistamin bila ada tanda-tanda alergi
d) Antipiretik
2. Stadium hiperemis
a) Berikan antibiotik selama 10 – 14 hari :
1) Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau
2) Amoksisilin : Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari
atau
3) Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari
b) Obat tetes hidung nasal dekongestan maksimal 5 hari
c) Antihistamin bila ada tanda-tanda alergi
d) Antipiretik, analgetik dan pengobatan simtomatis lainnya
3. Stadium supurasi
a) Segera rawat apabila ada fasilitas perawatan.
b) Berikan antibiotika ampisilin atau amoksisilin dosis tinggi parenteral selama 3
hari. Apabila ada perbaikan dilanjutkan dengan pemberian antibiotik peroral
selama 14 hari.
c) Bila tidak ada fasilitas perawatan segera rujuk ke dokter spesialis THT untuk
dilakukan miringotomi.
I. Komplikasi
1. Otitis Media Akut

13
Komplikasi yang serius adalah:
a) Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis)
b) Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)
c) Kelumpuhan pada wajah
d) Tuli
e) Peradangan pada selaput otak (meningitis)
f) Abses Otak
2. Otitis Media Kronis
a) OMK tipe benigna :
Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan
komplikasi, tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke
dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose
otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi
dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler
b) OMK tipe maligna :
Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa :
1) erosi canalis semisirkularis
2) erosi canalis tulang
3) erosi tegmen timpani dan abses ekstradural
4) erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses
subperiosteal
5) erosi pada sinus sigmoid
J. Prognosis
1. Otitis Media Akut
Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat
(antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ).
2. Otitis Media Kronik
a) OMK tipe benigna
Prognosis dengan pengobatan local, otorea dapat mongering. Tetapi sisa
perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau

14
bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air, sehingga penutupan
membrane timpani disarankan.
b) OMK tipe maligna
Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi
meningitis, abes otak, prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal.
Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi
tulang berhenti.
K. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pengumpulan data
1) Identitas Pasien : Nama pasien, umur, suku/bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat
2) Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga,
penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
3) Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang,
riwayat alergi, riwayat OMA berkurang, riwayat penggunaan obat(
sterptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin ), riwayat operasi
4) Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami
penyakit telinga, sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel
mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik

b. Pengkajian persistem
1) Tanda-tanda vital : Suhu meningkat, keluarnya otore
2) B2 ( Blood ) : Nadi meningkat
3) B3 (Brain) : Nyeri telinga, perasaan penuh dan pendengaran menurun,
vertigo, pusing, refleks kejut
4) B5 (Bowel) : Nausea vomiting
5) B6 (Bone) : Malaise, alergi
c. Pengkajian psikososial
1) Nyeri otore berpengaruh pada interaksi
2) Aktivitas terbatas

15
3) Takut menghadapi tindakan pembedahan
4) Periksa ekstremitas atas
d. Pemeriksaan diagnostik
1) Tes audiometri : pendengaran menurun
2) Xray : terhadap kondisi patologi, misal kolestetoma, kekaburan mastoid
e. Pemeriksaan pendengaran
1) Tes suara bisikan, tes garputala
2. Diagnosa
a) Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
b) Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran
c) Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga
tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran
d) Cemas berhubungan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi,
nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah
operasi.
3. Intervesi
a) Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
1) Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa
2) Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang, klien mampu
melakukan metode pengalihan suasana
3) Intervesi keperawatan :
 Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode
relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul, relaksasi seperti menarik
napas panjang
Rasional : Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa
mengurangi nyeri yang diderita klien
 Kompres dingin sekitar area telinga
Rasional : Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri
teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga
 Atur posisi pasien
Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman

16
 Untuk kolaborasi, beri aspirin/analgesik sesuai instruksi, beri sedatif
sesuai indikasi
Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien
untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam
b) Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran
1) Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang
2) Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ), menerima
pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan, bahasa lambang,
berbicara dengan jelas pada telinga yang baik
3) Intervensi keperawatan :
 Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana
perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien, seperti : tulisan,
berbicara, bahasa isyarat.
Rasional : Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh
klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan
kemampuan dan keterbatasan klien
 Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal.
 Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat, sediakan penerjemah. Alamatkan
semua komunikasi pada klien, tidak kepada penerjemah. Jadi seolah-olah
perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan
keberadaan penerjemah
Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat
diterima dengan baik oleh klien.
c) Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga
tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran.
1) Tujuan : persepsi/sensori baik
2) Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris
pendengaran sampai pada tingkat fungsional
3) Intervensi keperawatan :
 Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat

17
Rasional : Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan /
ketulian, pemakaian serta perawatannya yang tepat.
 Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga
dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh
Rasional : Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, maka
pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga
harus dilindungi
 Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut
Rasional : Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-
masalah pendengaran rusak secara permanen
 Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu
antibiotik sistemik maupun lokal )
Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat
menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan
berlanjut
d) Cemas berhubungan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi,
nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah
operasi.
1) Tujuan : rasa cemas klien jadi berkurang/ hilang
2) Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya
3) Intervensi keperawatan :
 Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai
kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk
mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi
Rasional : Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangi
kecemasan, justru malah menimbulkan ketidakkepercayaan klien terhadap
perawat. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi
dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus sehingga dapat mengurangi
rasa cemasnya

18
 Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami
gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada
klien
Rasional : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang
sama akan sangat membantu klien
 Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia
yang dapat membantu klien
Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada di
sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi

4. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi diatas.
5. Evaluasi
Evaluasi disesuaikan dengan criteria hasil pada intervensi.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi otitis media
berarti peradangan dari telinga tengah. Otitis media adalah peradangan sebagian atau
seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.
Gangguan telinga yang paling sering adalah infeksi eksterna dan media. Sering terjadi
pada anak-anak dan juga pada orang dewasa (Soepardi, 1998).
Ada 3 ( tiga ) jenis otitis media yang paling umum ditemukan di klinik, yaitu :
1. Otitis media akut
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum
telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999).
2. Otitis media serosa
Otitis media serosa / efusi adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah
tanpa adanya tanda dan gejala infeksi aktif. Secara teori, cairan ini sebagai akibat
tekanan negative dalam telinga tengah yang disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii.
3. Otitis media kronik
Otitis Media Kronik adalah peradangan kronik yang mengenai mukosa dan struktur
tulang di dalam kavum timpani.Otitis Media Kronik sendiri adalah kondisi yang
berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh
episode berulang Otitis Media Akut yang tak tertangani.
B. Saran
Melalui makalah ini diharapkan nantinya calon profesi perawat dapat mengkaji
penyakit klien dan memberikan asuhan keperawatan yang tepat sesuai dengan indikasi
keluhan klien dan dapat mempraktekkan tindakan-tindakan keperawatan yang sesuai
dengan konsep yang telah teruji kebenarannya sehingga kesalahan-kesalahan yang terjadi
di lapangan dapat diminimalisir dan tim perawat pun semakin diakui kelayakkannya
sebagai salah satu tim pelayanan kesehatan.

20
Daftar Pustaka :
Arsyad, ES & Is kandar,N. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. FKUI:
Jakarta.

Abidin, Taufik.2009.Otitis Media Akut.http:/library.usu.ac.id(10 September 2009)

Carpenito,Lynda Juall.2006.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.Edisi 10.EGC:Jakarta

Dowshen et al. 2002. Petunjuk lengkap untuk orang tua. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Muscari, ME. 2005. Panduan belajar: keperawatan pediatrik. EGC: Jakarta.

Schwartz, M. 2004. Pedoman klinis pediatri. EGC: Jakarta.

Wong, DL et al. 2008. Buku ajar keperawatan pediatrik. EGC: Jakarta.

21