Anda di halaman 1dari 12

Tinjauan Geometrik Jalan Raya

Pada Titik-Titik Rawan Kecelakaan (Blackspots)


Di Kota Semarang
(Studi Kasus : Jalan Prof Hamka, Gombel Lama Dan Kolonel H. Imam Suparto)

Denis Bramedio Herlambang; Rosie Febri Setyadi dan Rudatin Ruktiningsih


Denis.bramedio@gmail.com, rosiefebri_13@ymail.com

Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik


Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang

Abstract
This study is based on traffic accidents in Indonesia which increased from year to year, the
increase of the accident rate resulted in the loss of material or casualties. Frequent accidents
are classified as blackspots (accident-prone points). Then to minimize the blackspot, there is a
need to study the safety of traffic more deeply, one of the efforts is to conduct a road geometric
review. In the geometric overview of the highway there are horizontal alignments and vertical
alignments as the main points of discussion, where horizontal alignments discuss the speed,
bend length, stop visibility, side free areas, bend extension and super elevation. While the
vertical alinemen discuss about the cleverness, and vertical arch. Analysis of horizontal
alignment and vertical alignment based on RSNI 2004 criteria. The results of this study indicate
that there are some discussion of horizontal alignment and vertical alignment that is not in
accordance with the criteria of RSNI 2004, the discussion includes the length of the curve, the
stop visibility, and the side free area for alinemen horizontal, and vertical curvatures and
vertical alignments.

Keywords: geometric highway, horizontal alignment, vertical alignment.

Abstrak
Penelitian ini berlatar belakang pada kecelakaan lalu lintas di Indonesia yang mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun, kenaikan tingkat kecelakaan tersebut mengakibatkan
meningkatnya kerugian materil ataupun korban jiwa. Ruas jalan yang sering terjadi kecelakaan
di klasifikasikan sebagai blackspot (titik rawan kecelakaan). Kemudian untuk meminimalisir
blackspot, perlu adanya kajian tentang keselamatan lalu lintas yang lebih mendalam, salah satu
upaya tersebut adalah melakukan tinjauan geometrik jalan raya. Dalam tinjauan geometrik
jalan raya terdapat alinemen horizontal dan alinemen vertikal sebagai pokok pembahasan
utama, dimana alinemen horizontal membahas tentang kecepatan, panjang tikungan, jarak
pandang henti, daerah bebas samping, pelebaran tikungan dan super elevasi. Sedangkan
alinemen vertikal membahas tentang kelandaian,dan lengkung vertikal. Analisis alinemen
horizontal dan alinemen vertikal berdasarkan pada kriteria RSNI 2004. Hasil dari penelitian ini
menunjukan bahwa terdapat beberapa pembahasan alinemen horizontal dan alinemen vertikal
yang tidak sesuai dengan kriteria RSNI 2004, pembahasan tersebut meliputi panjang tikungan,
jarak pandang henti, dan daerah bebas samping untuk alinemen horizontal, serta kelandaian
dan lengkung vertikal untuk alinemen vertikal.

Kata kunci : geometrik jalan raya, alinemen horizontal, alinemen vertikal

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 49
1. Pendahuluan lalu lintas merupakan daerah rawan
kecelakaan pada lokasi tunggal, lokasi
1.1 Latar Belakang
rawan berbasis ruas dan lokasi rawan
Korban kecelakaan mengalami kerugian berbasis wilayah. Istilah Blackspot
materi. Menurut World Health memerlukan data pendukung yaitu data
Organization, 2013 secara global kematian kecelakaan lalu lintas yang berada di
akibat kecelakaan mencapai 1,25 juta di kepolisian tingkat Kabupaten atau Kota
dunia, kematian di negara-negara yang (Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara
memiliki penghasilan rendah dan menengah Republik Indonesia, 2011).
memiliki tingkat kematian lalu lintas jalan
Pantauan Suara Merdeka terdapat
lebih tinggi per 100000 penduduk. Wilayah
beberapa jalan di kota Semarang yang
Afrika memiliki lalu lintas jalan tingkat
merupakan blackspot karena keadaan jalan
kematian tertinggi di angka 26,6 persen
tersebut merupakan tanjakan ataupun
sedangkan kawasan Eropa memiliki tingkat
turunan sehingga mengakibatkan
terendah 9,3 persen.
kecelakaan lalu lintas, jalan tersebut antara
Menurut peta dalam website World lain adalah jalan Prof. Hamka, jalan
Health Organization, 2013 Indonesia Gombel Lama, dan Jalan Kolonel H. Imam
adalah negara urutan ketiga di Asia Suprapto. Ketiga ruas jalan ini dimasukan
Tenggara yang memiliki tikat kematian kedalam klasifikasi blackspot dikarenakan
akibat kecelakaan. Di Asia Tenggara hanya telah sesuai dengan kriteria blackspot yang
lima negara yang memiliki golongan ada pada pedoman polisi.
kecelakaan dalam kategori menengah yaitu
Philippines 10,5 persen, Laos 14,3 persen, 1.2 Rumusan Masalah
Indonesia 15,3 persen, Timor-Leste 16,6
Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi
persen dan Cambodia 17, 4 persen.
Jawa Tengah merupakan kota dengan
Tingginya tingkat kecelakaan di kepadatan penduduk sebanyak 1595266
Indonesia memberikan gambaran bahwa jiwa, banyaknya penduduk dikota semarang
kecelakaan lalu lintas di tingkat kota mengakibatkan kebutuhan penduduk akan
cenderung tinggi. Kota di Indonesia yang transportasi sangat tinggi (transportasi ke
memiliki tingkat kecelakaan yang cukup tempat kerja, pendidikan, kesehatan dan
tinggi antara lain Jakarta, Bogor, Depok, hiburan), untuk memenuhi kebutuhan
Denpasar, Samarinda, Makasar, Medan, tersebut mengakibatkan masyarakat
Semarang, dan Surabaya. menjadi konsumtif terhadap kendaraan
Kota yang memiliki tingkat kecelakaan pribadi.
yang cukup tinggi tersebut memiliki Kota Semarang dengan luas kota sebesar
karakteristik sebagai kota metropolitan. 373,87 kilometer persegi, memiliki
Kota Semarang sebagai kota topografi yang cukup lengkap dibandingan
metropolitan merupakan Ibukota Propinsi kota-kota di pulau Jawa karena kota ini
Jawa Tengah dengan beberapa area memiliki dua bagian kota yaitu dataran
kecelakaan lalu lintas pada jalan kota, yang tinggi dan pesisir. Karena dibagi dua
masuk kedalam kriteria jalan Nasional bagian, maka kota ini memiliki topografi
(jalan arteri dan jalan kolektor 1) dan jalan dengan elevasi yang berbeda berkisar antara
Propinsi (jalan kolektor 2 dan jalan kolektor 0,5 hingga 300 meter dari permukaan laut.
atau lokal 3). Perbedaan elevasi ini mengakibatkan
infrastruktur jalan di Kota Semarang
Kecelakaan lalu lintas yang terjadi sebagian besar memiliki tanjakan dan
mengakibatkan daerah tersebut disebut turunan.
dengan daerah blackspot, blackspot dalam

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 50
Alinemen vertikal maupun alinemen 1.5 Batasan masalah
horisontal atau persyaratan pada standar Sebagai Pembatas masalah agar
keselamatan dan kenyamanan jalan penelitian ini tidak meluas pada aspek
merupakan kajian dari geometrik jalan yang pembahasan lain, maka terdapat beberapa
menjadi salah satu faktor penyebab batasan masalah pada penelitian ini, yaitu
blackspot. sebagai berikut :
Dalam hal ini geometrik jalan memiliki a. Penelitian di laksanakan di Kota
peranan penting dalam perencanaan jalan, Semarang
pembangunan jalan, pengecekan jalan dan
perbaikan jalan, hal ini di karenakan b. Penelitian di laksanakan pada ruas Jalan
geometrik jalan berpengaruh pada bentuk Prof. Hamka, Gombel Lama dan Kolonel
desain jalan. H. Imam Suprapto
Apabila desain geometrik jalan tidak c. Penelitian pada ruas jalan blackspot
sesuai dengan standar keselamatan dan terpilih merupakan kajian geomatrik.
kenyamanan jalan, maka akan berpengaruh
pada keselamatan lalu lintas terutama pada
kasus kecelakaan lalu lintas sebagai dasar 2. Tinjauan Putaka
penentuan blackspot. 2.1 Keselamatan lalu lintas

1.3 Tujuan penelitian Desain jalan yang aman (sesuai dengan


prinsip-prinsip geometrik) serta dilengkapi
Tujuan penelitian ini adalah: dengan fasilitas perambuan diharapkan
a. Mengetahui kondisi keselamatan lalu dapat menggiring pengemudi untuk
lintas di Kota Semarang terutama pada merespon kondisi jalan di depannya untuk
blackspot jalan Prof Hamka, Gombel menghirdarkan manuver atau pergerakan
Lama dan Kolonel H. Imam Suprapto yang tidak diharapkan. menghindarkan
perilaku yang ilegal, serta menghindarkan
b. Mengetahui kondisi geometrik Jalan Prof pengemudi dan penggunaan kecepetan yang
Hamka, Gombel Lama dan Kolonel H. tidak sesuai dengan desain kecepatan yang
Imam Suprapto ada. Beberapa prinsip dasar perbaikan atau
c. Mengetahui upaya penanggulangan pembuatan desain jalan yang dapat
keselamatan lalu lintas pada Jalan Prof meningkatkan pengharapan pengemudi
Hamka, Gombel Lama dan Kolonel H. antara lain melalui (Departemen Pekerjaan
Imam Suprapto yang telah di laksanakan Umum, Audit Keselamatan Jalan, 2005) :
d. Mengetahui hubungan antara geometrik a. peningkatan kondisi lingkungan jalan,
dengan keselamatan lalu lintas. sehingga pengemudi dapat dengan
leluasa untuk menguasai koodisi
1.4 Manfaat penelitian lingkungan jalan
Manfaat penelitian ini adalah : b. pemasangan rambu peringatan, dan
marka yang dapat menuntun pengemudi
a. Memberikan pengetahuan cara ketika menuju atau melalui tempat-
penentuan titik blackspot sesuai dengan tempat berbahaya
pedoman
c. pengemudi dan pejalan kaki harus
b. Sebagai salah satu masukan bagi dituntun secara konsisten melalui
pemerintah Kota Semarang untuk perambuan. marka, serta penjaluran yang
membuat ruas jalan Prof. Hamka, cukup jelas terbaca
Gombel Lama dan Kolonel H. Imam
Suprapto menjadi lebih baik.
G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 51
d. mempertegas hirarki jalan melalui c. Kecelakaan Lalu Lintas berat, yaitu
feature desain guna menggiring lalu kecelakaan yang mengakibatkan korban
lintas mengikuti jalurya meninggal dunia atau luka berat.
e. mempertegas karakteristik alinemen
jalan, bila perlu dilengkapi dengan 2.4 Definisi blackspot
delineasi (khusus jalan antar kota). Blackspot atau lokasi rawan kecelakaan
merupakan lokasi tunggal yang bersifat
2.2 Kecelakaan spesifik, seperti persimpangan, atau ruas
jalan dengan panjang 300 – 500 m, dengan
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22
jumlah total kecelakaan yang memiliki nilai
Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
pembobotan kerawanan minimal 30 selama
Angkutan Jalan, mengungkapkan
1 tahun.
kecelakaan lalu lintas adalah suatu
peristiwa di jalan yang tidak diduga dan Lokasi rawan kecelakaan dibagi menjadi
tidak disengaja yang melibatkan kendaraan 3 (tiga) bagian (badan penelitian dan
dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang pengembangan permukiman dan prasarana
mengakibatkan korban manusia dan/atau wilayah, 2004) dan (direktorat keselamatan
kerugian harta benda. transportasi darat, 2007), yaitu :
a. Blackspot atau lokasi rawan kecelakaan
berbasis lokasi tunggal merupakan lokasi
rawan kecelakaan yang berada di lokasi
– lokasi yang spesifik, seperti
persimpangan, jembatan, atau ruas jalan
dengan panjang 300 – 500 m.
b. Blacklink atau lokasi rawan kecelakaan
berbasis ruas jalan merupakan lokasi
rawan kecelakaan yang berada di ruas
jalan dengan panjang antara 1 – 20 km.
c. Blackarea atau lokasi rawan kecelakaan
Gambar 1. Hubungan Kecelakaan dengan beberapa aspek
Sumber : olahan data pribadi, 2017
berbasis wilayah merupakan lokasi
rawan kecelakaan yang berada di
kawasan kawasan atau wilayah tertentu
2.3 Penggolongan Kecelakaan Lalu dengan karakteristik yang sama dan tidak
Lintas hanya terdiri dari 1 (satu) ruas jalan yang
sama, misalnya : wilayah kecamatan,
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22
Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan wilayah kota atau kabupaten sehingga
dapat dilakukan pengaturan dengan
Angkutan Jalan pada pasal 229,
menerapkan strategi manajemen lalu
karakteristik kecelakaan lalu lintas dapat
lintas. Panjang ruas yang ditentukan
dibagi kedalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
untuk menetapkan blackspot atau lokasi
a. Kecelakaan Lalu Lintas ringan, yaitu rawan kecelakaan berbasis lokasi
kecelakaan yang mengakibatkan tunggal sepanjang 1 km.
kerusakan kendaraan dan/ atau barang.
b. Kecelakaan Lalu Lintas sedang, yaitu 2.5 Lokasi blackspot kota Semarang
kecelakaan yang mengakibatkan luka Setiap Data blackspot yang telah
ringan dan kerusakan kendaraan dan/ disesuaikan pada peta kemudian di
atau barang. kumpulkan menjadi satu rangkaian sesuai
dengan jalan yang terdapat pada wilayah
G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 52
kelurahan, kecamatan, kota, dan provinsi. VLLR pada spesifikasi ini dinyatakan
Penerapan penentuan lokasi blackspot pada dalam satuan mobil penumpang (smp)
Kota Semarang sesuai dengan data Divisi dengan mengesampingkan kendaraan tak
Dikyasa (pendidikan dan rekayasa) Polisi bermotor. Angka atau Nilai VLLR
Daerah Semarang hingga tahun 2016 menunjukan volume lalu lintas harian
sebagai berikut: untuk kedua jurusan dan dinyatakan
dalam mobil penumpang ekivalen.
Koefisien – koefisien yang ditunjukan
dibawah ini diterapkan sesuai dengan
kondisi medan untuk mendapatkan smp
ekivalen (Pekerjaan Umum, 1990).

Tabel 1. Koefisien sesuai medan untuk smp ekivalen


Daerah Datar Daerah
Jenis Kendaraan
dan perbukitan Pegunungan
sepeda motor,
sedan, jeep, station 1.0 1.0
wagon
Pick up, bis ukuran
Gambar 2. Peta Blackspot Kota Semarang 2.0 2.5
kecil, truck ringan
Sumber : Kepolisian Daerah Jawa Tengah, 2011
Bis, truk dua as 3.0 4.0
Truk bersumbu tiga,
2.6 Klas-Klas Standar Perencanaan 5.0 6.0
trailer
Geometrik
Sumber : RSNI Geometri Jalan Perkotaan, 2004
Elemen-elemen utama yang digunakan
untuk pengelompokan standar perencanaan Dalam menghitung VLR, kendaraan
geometrik adalah fungsi jalan raya, volume tidak bermotor seperti sepeda, becak,
lalulintas rencana (VLLR), dan Kondisi cikar tidak diperhitungkan sebab
medan (Pekerjaan Umum, 1990) . pengoprasiannya jauh berbeda
a. Volume Lalu Lintas Rencana (VLLR), dibandingkan kendaraan bermotor dan
Tahun Rencana, Koefisien smp pengaruhnya atas lalu lintas kendaraan
bermotor berubah tergantung volume
Jika suatu jalan raya akan ditingkatkan,
lalu lintas kendaraan bermotor itu
maka diadakan perhitungan lalu lintas,
sendiri. Tidak selayaknya untuk
atau bila untuk suatu lokasi baru, dibuat
beranggapan bahwa suatu kondisi
suatu perkiraan. Kemudian nilai-nilai ini
perencanaan geometrik akan sesuai bagi
diproyeksikan untuk tahun rencana,
kendaraan bermotor maupun tidak
untuk ditentukaaan sebagai volume lalu
bermotor.
lintas rencana (VLLR). VLLR
dinyatakan dalam lalu lintas harian rata-
rata tahunan (LHR tahunan), karena b. Kecepatan Rencana (𝑉𝑅 )
umumnya sulit untuk memprakirakan Kecepatan yang dipilih untuk mengikat
volume per jam untuk masa depan bagi komponen perencanaan geometri jalan
jalan raya tertentu. Tahun rencana yang dinyatakan dalam kilometer per jam
direkomdasikan untuk penentuan VLLR (km atau jam). 𝑉𝑅 untuk suatu ruas jalan
adalah 10 sampai 20 tahun mendatang dengan kelas dan fungsi yang sama,
meskipun hal itu tergantung kepada dianggap sama sepanjang ruas jalan
karakteristik dan pentingnya jalan raya tersebut, 𝑉𝑅 untuk masing – masing
tersebut (Pekerjaan Umum, 1990). fungsi jalan ditetapakan sesuai table 2.

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 53
Untuk kondisi lingkungan dan atau 2.4 menetapkan ukuran lebar lajur
medan yang sulit, 𝑉𝑅 suatu bagian jalan dan bahu jalan sesuai dengan kelas
dalam suatu ruas jalan dapat diturunkan, jalannya
dengan syarat bahwa penururnan b) Lebar jalur minimum adalah 4,5 m,
tersebut tidak boleh lebih dari 20 memungkinkan 2 kendaraan dengan
kilometer per jam (km /jam). lebar maksimum 2,1 m saling
Tabel 2 Kecepatan Rencana (𝑉𝑅 ) sesuai klasifikasi jalan berpapasan. Papas an 2 kendaraan
di kawasan perkotaan lebar maksimum 2,5 m yang terjadi
Kecepatan sewaktu – waktu dapat
No Fungsi Jalan Rencana, 𝑉𝑅 memanfaatkan bahu jalan.
(km / jam)
1 Arteri Primer 50 – 100 Tabel 3. Lebar lajur jalan dan bahu jalan

2 Kolektor Primer 40 – 80 Lebar Jalur (m) Lebar Bahu Sebelah Luar (m)
Kelas Tanpa Trotoar Ada Trotoar
3 Arteri Sekunder 50 – 80 Jalan Disaran Mini
kan mum Disaran Mini Disaran Mini
4 Kolektor Sekunder 30 – 50 kan mum kan mum
I 3,60 3,50 2,50 2,00 1,00 0,50
5 Lokal Sekunder 30 – 50
II 3,60 3,00 2,50 2,00 0,50 0,25
Sumber : RSNI Geometri Jalan Perkotaan, 2004
III A 3,60 2,75 2,50 2,00 0,50 0,25
c. Klasifikasi kondisi medan III B 3,60 2,75 2,50 2,00 0,50 0,25
Untuk membatasi biaya pembangunan
III C 3,60 *) 1,50 0,50 0,50 0,25
jalan maka standar harus disesuaikan
dengan keadaan topografi medan diabgi *)= jalan 1-jalur-2, lebar 4,50 m
atas 3 jenis yang dibedakan oleh
besarnya kemiringan medan dalam arah Sumber : RSNI Geometri Jalan Perkotaan, 2004
yang kira-kira tegak luruh as jalan raya.
Pengelompokan medan dan kemiringan Pada jalan arteri, jalur kendaraan
medan yang bersangkutan adalah sebagai tidak bermotor di sarankan dipisah
berikut (Pekerjaan Umum, 1990): dengan jalur kendaraan bermotor,
bila banyak kendaraan lambat, jalur
Tabel 1. Klasifikasi kondisi medan boleh lebih lebar. Lebar bahu jalan
Rata-rata kemiringan sebelah dalam pada median yang
Jenis Medan diturunkan atau datar minimum
melintang
Datar (D) 0 – 9,9 % sebesar 0,50 m.
Perbukitan (PB) 10-24,9% e. Jarak pandang
Pegunungan (PG) >25%
Jarak pandang henti (Ss) terdiri dari dua
Sumber : RSNI Geometri Jalan Perkotaan, 2004 elemen jarak, yaitu:

Kondisi medan ruas jalan yang a) jarak awal reaksi (Sr) adalah jarak
diproyeksikan harus diperkirakan untuk pergerakan kendaraan sejak
keseluruhan panjang jalan. Perubahan pengemudi melihat suatu halangan
medan untuk bagian kecil ruas tersebut yang menyebabken ia harus berhenti
dapat diabaikan. sampai saat pengemudi menginjak
rem: dan
d. Potongan melintang untuk lebar Jalur b) jarak awal pengereman (Sb) adalah
a) Lebar jalur ditentukan oleh jumlah jarak pergerakan kendaraan sejak
dan labar lajur serta bahu jalan. Tabel

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 54
pengemudi mengijak rem sampai Gambar 3. Diagram ilustrasi komponen untuk
menentukan jarak pandang horizontal (daerah bebas
dengan kendaraan tersebut berhenti. samping)
sumber : RSNI Geometri Jalan Perkotaan, 2004
Ss dalam satuan meter, dapat dihitung
dengen rumus (1) jarak pandang Daerah bebas samping di tikungan dihitung
(AASHTO, 2001): berdasarkan rumus 2.2 daerah bebas
samping (AASHTO, 2001) sebagai berikut:
𝑆𝑠 = 0,278 × 𝑉𝑅 × 𝑇 28,65 𝑆𝑆
𝑉𝑅 2 𝑀 = 𝑅 [1 − 𝐶𝑜𝑠 ( )] … … … . (2)
+ 0,039 … … … . (1) 𝑅
𝑎
dengan pengertian: Dengan pengertian :
VR = kecepatan rencana (km/jam) R = Jari-jari tikungan (m)
SS = Jarak pandang henti (m)
T = waktu reaksi, ditetapkan 2,5 detik M = jarak yang diukur dari garis tengah
a = tingkat perlambatan (meter/detik2). lajur dalam sampai obyek
ditetapkan 3,4 meter/detik2 penghalang pandangan (m)

Tabel 5 berisi Ss minimum yang dihitung


berdasarkan rumus di atas dengan
pembulatan-pembulatan untuk berbagal VR
Setiap bagian jalan harus memenuhi SS.
Tabel 5. Jarak Pandang Henti

VR (km/jam) 100 90 80 70 60 50 40 30

SS minimum (m) 185 160 130 105 85 65 50 35

sumber : RSNI Geometri Jalan Perkotaan, 2004

f. Daerah bebas samping di tikungan


Daerah bebas samping dimaksudkan untuk
memberikan kemudahan pandangan di
tikunqan dengan membebaskan obyek-
obyek penghalang sejauh M (m), diukur dan
garis tegah lajur dalam sampai obyek
penghalang pandangan sehingga
persyaratan SS, dipenuhi (gambar 3 ).
Gambar 4. menyajikan nilai M yang dihitung
menggunakan rumus di atas.
Grafik tersebut dapat dipakai untuk menetapkan M.
sumber : RSNI Geometri Jalan Perkotaan, 2004

Pada kenyataannya, Nilai M yang


ditunjukkan oleh garis putus-putus dalam
grafik pada Gambar 4 tersebut tidak
digunakan.

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 55
3. Metode Penelitian (Nazir, 2013). Data primer yang diperoleh
pada saat melakukan pengamatan adalah:
3.1 Populasi dan Sampel
a. Kecepatan user
Objek atau subjek yang sesuai denga
b. Lebar jalan
kriteria tertentu yang telah ditentukan oleh
c. Panjang jalan
peneliti untuk selanjutnya digunakan riset
d. Elevasi jalan
penelitian (pridana dan Muis, 2009).
e. Jarak bebas samping
Dalam penelitian ini populasi adalah f. Fasilitas Jalan
blackspot di Kota Semarang berdasar Suara 3.3.2 Data Sekuder
Merdeka, 12 Januari 2017, Geometri Jalan
Data sekunder adalah data yang
Sulit Dikompromikan ruas jalan di
mendukung data primer berupa informasi
Semarang yang rawan kecelakaan adalah Jl
yang tidak bersumber dari pengamatan
Prof Hamka, Jl walisongo KM 12, Jl
langsung secara resmi seperti data yang
Perintis Kemerdekaan-Pudak Payung, Jl
diperoleh dari instansi penyelidik blackspot
Gombel Lama, Jl Setiabudi, Jl
atau didapat melalui literarure dan data-
Kedungmundu, Jl Kolonel H. Imam
data yang berhubungan dengan penelitian
Suprapto, Jl Brigjen Sudiarto, Jl Arteri
(Nazir, 2013). Data sekunder yang
Yosudarso dan Jl Majapahit.
digunakan berasal dari dua instansi, yang
Tabel 6. Tabel kesamaan karatkteristik blackspot
pertama merupakan instansi Polisi Daerah
Semarang dengan data sebagai berikut:
Karakteristik
Alineme Alinemen Ruas
No Ruas Jalan
n Horizonta
Blackspo
t
Jalan a. Polisi Daerah Jawa Tengah
Vertikal l Kota
1 Jl Prof Hamka    
2 Jl Walisongo KM 12    a) Lokasi blackspot
Jl Perintis Kemerdekaan-
3   
4
Pudak Payung
Jl Gombel Lama     b. Instansi Kedua merupakan Dinas
  
5
6
Jl Setiabudi
Jl Kedungmundu    Pekerjaan Umum Dikjen Bina Marga
   
7
8
Jl Kolonel H Imam Suparto
Jl Brigjen Sudiarto    dengan data sebagai berikut:
9 Jl Arteri Yosudarso   
  
10 Jl Majapahit a) Jarak pandang rencana
Sumber : Suara Merdeka, 12 januari 2017, Semarang b) Kecepatan rencana
Dikelilingi “Jalur Tengkorak” c) Keadaan Jalan Rencana

3.2 Objek Penelitian


3.3.3 Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini mengambil objek
Instrumen penelitian adalah suatu metode
blackspot di Kota Semarang. Lokasi yang
yang digunakan sebagai tolak ukur dalam
terpilih dalam penelitian ini terdapat di tiga
penelitian agar dapat diolah dengan teori
ruas jalan yang tiap ruasnya akan diteliti
yang ada dan mencapai tujuan penelitian
maksimal sepanjang 1 kilometer, sebagai
(Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini,
berikut :
instrument yang digunakan adalah :
a. Ruas jalan Prof Hamka
a. Tinjauan Lapangan
b. Ruas jalan Gombel Lama Data ini berupa gambaran langsung
c. Ruas jalan Kolonel H. Imam Suprapto yang didapat pada saat pengamatan
langsung untuk mengetahui dengan
3.3 Pengumpulan Data jelas lokasi penelitian. Pengamatan
3.3.1 Data Primer dilalukan dengan mengendarai
kendaraan dengan kecepatan rendah
Data primer diperoleh dengan melakukan (<20 km atau jam) atau melakukan
pengamatan langsung (orisinal) di lapangan penyusuran dengan berjalan kaki

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 56
dengan mengamati sepanjang ruas jalan Tabel 8. Rekap Alinemen Vertikal
Prof Hamka, Gombel Lama dan No Indikator Blackspot
Ket
A B C
Tanjakan Sigar Bencah). 00 + 100 00 + 400 00 + 400
1. STA s.d. s.d. s.d.
b. Pengamatan dengan alat ukur 00 + 250 00 + 500 00 + 500
Alat yang digunakan dalam pengamatan Kecepatan
Ketentuan Dinas 50 km/ 50 km/ 50 km/
ini adalah Total station. Data yang 2.
Pekerjaan Umum jam jam jam
Kota Semarang
didapat berupa data lebar jalan, beda 20 km/ 20 km/ 20 km/
Kecepatan
tinggi sepanjang ruas jalan dan besar 3. Kendaraan Roda
jam s.d.
50 km/
jam s.d.
50 km/
jam s.d.
50 km/
2 (Sepeda Motor)
sudut tikungan. jam jam jam
20 km/ 20 km/ 20 km/
Kecepatan
c. Dokumentasi perlengkapan 4. Kendaraan Roda
jam s.d.
50 km/
jam s.d.
50 km/
jam s.d.
50 km/
4 (Mobil)
keselamatan ruas jalan jam jam jam
20 km/ 20 km/ 20 km/
Kecepatan
jam s.d. jam s.d. jam s.d.
Perekaman kondisi secara visual dengan 5. Kendaraan Roda
50 km/ 50 km/ 50 km/
4 (Truk)
jam jam jam
kamera untuk menggambarkan lokasi
Lengkung
penelitian.. 6.
Vertkal
100 meter 100 meter 100 meter

S Ketentuan
7. 65 meter 65 meter 65 meter
RSNI 2004
4. Hasil Penelitian A=Tidak
Sesuai
4.1 Prof Hamka 8. S Perhitunan
61,77
meter
135,54
meter
49,35
meter
B=Sesuai
C=Tidak
Tabel 7. Rekap Alinemen Horisontal Sesuai
Blackspot
No Indikator
1 2 3
Ket Sumber: Olahan data primer, 2017
00 + 050 00 + 250 00 + 400
1. STA s.d. s.d. s.d. 4.2 Gombel Lama
00 + 200 00 + 350 00 + 500 Tabel 9. Rekap Alinemen Horisontal
30 km/ 30 km/ 30 Blackspot
jam jam km/jam No Indikator Ket
Kriteria Kecepatan 1 2
2. s.d. s.d. s.d.
RSNI 2004
50 km/ 50 km/ 50 km/ 00 + 050 00 + 250
jam jam jam 1. STA s.d. s.d.
00 + 200 00 + 350
40 km/ 40 km/ 40 km/
Kriteria Kecepatan jam jam jam 30 km/jam 30 km/jam
Dinas Pekerjaan Kriteria Kecepatan
3. s.d. s.d. s.d. 2. s.d. s.d.
Umum Kota RSNI 2004
50 km/jam 50 km/jam
semarang 50 km/ 50 km/ 50 km/
jam jam jam Kriteria Kecepatan 40 km/jam 40 km/jam
Dinas Pekerjaan
Kecepatan 3. s.d. s.d.
Umum Kota
Perhitungan 50,14 km/ 50,14 km/ 50,14 km/ semarang 50 km/jam 50 km/jam
4. Sesuai
Eksisting (Rumus jam jam jam
Kecepatan
2.4)
Perhitungan
4. 50,14 km/jam 50,14 km/jam Sesuai
Kriteria Panjang Eksisting (Rumus
5. 85 meter 85 meter 85 meter 2.4)
RSNI 2004
Panjang Kriteria Panjang
58,12 21,98 58,12 Tidak 5. 85 m 85 m
6. Perhitungan RSNI 2004
meter meter meter Sesuai
(Rumus 2.3) Panjang
6. Perhitungan 58,12 m 21,98 m Tidak Sesuai
Kriteria Jarak (Rumus 2.3)
7. Pandang Henti 65 meter 65 meter 65 meter
RSNI 2004 Kriteria Jarak
7. Pandang Henti 65 m 65 m
Perhitungan Jarak RSNI 2004
63,42 63,42 63,42 Tidak
8. Pandang Henti Perhitungan Jarak
meter meter meter Sesuai
(Rumus 2.1) 8. Pandang Henti 63,42 m 63,42 m Tidak Sesuai
Perhitungan Daerah (Rumus 2.1)
5,53 5,53 5,53
9. Bebas Samping Perhitungan
meter meter meter
(Rumus 2.2) Daerah Bebas
9. 5,53 m 5,53 m
Samping (Rumus
Survei Lapangan 2.2)
6,25 6,80 9,30
10. Daerah Bebas Sesuai
meter meter meter Survei Lapangan
Samping
10. Daerah Bebas 6,25 m 6,80 m Sesuai
Kriteria Pelebaran Samping
11. Tikungan RSNI 0,5 meter 0,5 meter 0,5 meter Kriteria Pelebaran
2004 11. Tikungan RSNI 0,5 m 0,5 m
Perhitungan 2004
Pelebaran Tidak Perhitungan
12. 0 meter 0 meter 0 meter
Tikungan (Rumus Sesuai Pelebaran
12. 0m 0m Tidak Sesuai
2.7) Tikungan (Rumus
2.7)
Sumber: Olahan data primer, 2017
Sumber : Olahan data primer, 2017

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 57
Tabel 10. Rekap Alinemen Vertikal
No Indikator Blackspot A Ket 5. Kesimpulan dan Saran
00 + 100
1. STA s.d.
5.1 Kesimpulan
00 + 250 5.1.1 Ruas jalan Prof Hamka
Kecepatan Ketentuan Dinas
2. 50 km/jam
Pekerjaan Umum Kota Semarang Pada ruas jalan Prof Hamka memiliki 3
Kecepatan Kendaraan Roda 2 20 km/jam s.d. 50
3.
(Sepeda Motor) km/jam lokasi rawan kecelakaan untuk kategori
4.
Kecepatan Kendaraan Roda 4 20 km/jam s.d. 50 alinemen horizontal dan 3 lokasi rawan
(Mobil) km/jam
Kecepatan Kendaraan Roda 4 20 km/jam s.d. 50
kecelakaan untuk kategori alinemen
5.
(Truk) km/jam vertikal, sebagai berikut :
6. Lengkung Vertikal 100 meter
7. S Ketentuan RSNI 2004 65 meter 1. Pada blackspot 1 dengan panjang
8. S Perhitunan 49,35 meter
Tidak
Sesuai
tikungan 58,12 meter (standar 65 meter)
dan jarak pandang 63,42 meter (standar
Sumber: Olahan data primer, 2017
65 meter).
4.3 Kolonel H Imam Suparto 2. Pada blackspot 2 dengan panjang
Tabel 11. Rekap Alinemen Horisontal
tikungan 21,98 meter (standar 85 meter)
Blackspot dan jarak pandang 63,42 meter (standar
No Indikator Ket
1
00 +
2
00 +
3
00 +
4
00 +
5
00 +
6
00 +
65 meter).
1. STA
050
s.d.
150
s.d.
200
s.d.
250
s.d.
350
s.d.
450
s.d.
3. Pada blackspot 3 dengan panjang
00 +
150
00 +
200
00 +
250
00 +
350
00 +
450
00 +
550
tikungan 58,12 meter (standar 85 meter)
30 30 30 30 30 30 dan jarak pandang 63,42 meter (standar
km/ km/ km/ km/ km/ km/
Kriteria jam jam jam jam jam jam 65 meter).
2. Kecepatan s.d. s.d. s.d. s.d. s.d. s.d.
RSNI 2004 50 50 50 50 50 50
km/ km/ km/ km/ km/ km/ 4. Pada blackspot A dengan jarak pandang
jam jam jam jam jam jam
40 40 40 40 40 40
henti 61,77 meter (standar 85 meter).
Kriteria km/ km/ km/ km/ km/ km/
Kecepatan
3.
Dinas
jam
s.d.
jam
s.d.
jam
s.d.
jam
s.d.
jam
s.d.
jam
s.d.
5. Pada blackspot C dengan jarak pandang
Pekerjaan
Umum Kota 50 50 50 50 50 50 henti 65meter (standar 65 meter).
semarang km/ km/ km/ km/ km/ km/
jam jam jam jam jam jam
Kecepatan
40,08 50,14 40,08 50,14 40,08 31,63
Perhitungan
4.
Eksisting
km/
jam
km/
jam
km/
jam
km/
jam
km/
jam
km/
jam
S 5.1.2 Ruas jalan Gombel Lama
(Rumus 2.4)

5.
Kriteria
Panjang RSNI
85 85 85 85 85 85 ruas jalan Gombel Lama memiliki 2
meter meter meter meter meter meter
2004 lokasi rawan kecelakaan untuk kategori
Panjang
47,86 43,07 32,59 59,94 52,84 36,19
6. Perhitungan
meter meter meter meter meter meter
TS alinemen horizontal dan 1 lokasi rawan
(Rumus 2.3)
Kriteria Jarak
50 65 50 65 65 35
kecelakaan untuk kategori alinemen
7. Pandang Henti
RSNI 2004
meter meter meter meter meter meter vertikal, sebagai berikut :
Perhitungan
31,17
8.
Jarak Pandang
Henti (Rumus
46,15
meter
63,42
meter
46,15
meter
63,42
meter
63,42
meter
3 TS 1. Pada blackspot 1 dengan panjang
meter
2.1)
Perhitungan
tikungan 77,73 meter (standar 85 meter)
9.
Daerah Bebas
Samping
4,77
meter
5,53
meter
4,77
meter
5,53
meter
5,53
meter
3,959
meter
dan jarak pandang henti 63,42 meter
(Rumus 2.2) (standar 65 meter).
Survei
Lapangan 3,70 3,83 3,50 3,82 3,75 3,65
10.
Daerah Bebas meter meter meter meter meter meter
TS
2. Pada blackspot 2 dengan panjang
Samping
Kriteria tikungan 46,77 meter (standar 85
Pelebaran 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50
11.
Tikungan meter meter meter meter meter meter meter), jarak pandang henti 63,42 meter
RSNI 2004
Perhitungan
(standar 65 meter) dan daerah bebas
12.
Pelebaran
Tikungan
0,20
meter
0
meter
0
meter
0,5
meter
0,50
meter
3,00
meter
S samping 4,75 (standar 5,53 meter).
(Rumus 2.7)
Keterangan :
TS = Tidak Sesuai
S = Sesuai

Sumber: Olahan data primer, 2017

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 58
5.1.3 Ruas jalan Kolonel H. alinemen hoririontal dan alinemen vertikal,
ImamSuparto yaitu :
ruas jalan Kolonel H Imam Suparto a. Prof Hamka pada STA 0+100 sampai
memiliki 6 lokasi rawan kecelakaan untuk 0+200 dan STA 0+250 sampai 0+300
kategori alinemen horizontal dan 2 lokasi b. Gombel Lama pada STA 0+100 sampai
rawan kecelakaan untuk kategori alinemen STA 0+150
vertikal. c. Kolonel H Imam Suparto pada STA
1. Pada blackspot 1 dengan panjang 0+50 sampai 0+250
tikungan 47,86 meter (standar 65 meter),
jarak pandang henti 46,15 meter (standar
50 meter), daerah bebas samping 3,70 5.2 Saran
(standar 4,77 meter) dan pelebaran jalan 5.2.1 Ruas jalan Prof Hamka
0,2 meter (standar 0,5 meter).
Untuk ruas jalan Prof Hamka diseluruh
2. Pada blackspot 2 dengan panjang lokasi rawan kecelakaan memerlukan
tikungan 43,07 meter (standar 85 meter), perbaikan untuk memberi perambuan
jarak pandang henti 63,42 meter (standar kecepatan ideal sebesar 40 km/ jam,
65 meter), daerah bebas samping 3,82 memberi perambuan sebagai jalan rawan
(standar 5,53 meter) dan pelebaran jalan kecelakaan, memberikan perambuan untuk
0,0 meter (standar 0,5 meter). memperlambat kecepatan, memberikan
3. Pada blackspot 3 dengan panjang kamera pengawas (CCTV) guna
tikungan 32,59 meter (standar 65 meter), memaksimalkan ketaatan user terhadap
jarak pandang henti 46,152 meter rambu-rambu lalu lintas, memberikan
(standar 50 meter), daerah bebas monumen peringatan jalan rawan
samping 3,50 (standar 5,53 meter) dan kecelakaan, memberikan rumble strip ada
pelebaran jalan 0,0 meter (standar 0,5 jalur yang mengarah ke turunan sebelum
meter). lokasi dengan jarak 35 meter, memberi
fasilitas jembatan timbang, memperpanjang
4. Pada blackspot 4 dengan panjang tikungan sesuai perhitungan analisa,
tikungan 47,86 meter (standar 65 meter), mengurangi kelandaian dan memperbaiki
jarak pandang henti 63,42 meter (standar lengkungan vertikal agar mencapai jarak
65 meter) dan daerah bebas samping 3,82 henti sesuai perhitungan analisa.
(standar 5,53 meter).
5. Pada blackspot 5 dengan panjang
tikungan 36,19 meter (standar 55 meter), 5.2.2 Ruas jalan Gombel Lama
jarak pandang henti 31,173 meter Untuk ruas jalan Gombel Lama
(standar 35 meter) dan daerah bebas diseluruh lokasi rawan kecelakaan
samping 3,65 (standar 4,959 meter). memerlukan perbaikan untuk memberi
perambuan kecepatan ideal sebesar 40 km/
jam, memberi perambuan sebagai jalan
5.1.4 Blackspot berdasar alinemen rawan kecelakaan, memberikan perambuan
horizontal dan alinemen untuk memperlambat kecepatan,
vertikal memberikan kamera pengawas (CCTV)
Ketiga ruas jalan prof Hamka, Gombel guna memaksimalkan ketaatan user
lama dan Kolonel H Imam Suparto terhadap rambu-rambu lalu lintas,
memiliki lokasi paling rawan kecelakaan memberikan monumen peringatan jalan
karena tergolong rawan kecelakaan dalam rawan kecelakaan, memberikan rumble
strip ada jalur yang mengarah ke turunan

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 59
sebelum lokasi dengan jarak 35 meter, 6. Daftar Pustaka
memperpanjang tikungan sesuai Departemen Pekerjaan Umum. (1990).
perhitungan analisa, mengurangi Tata Cara Perencanaan Geometrik
kelandaian dan memperbaiki lengkungan Jalan Antarkota. Jakarta:
vertikal agar mencapai jarak henti sesuai Departemen Pekerjaan Umum.
perhitungan analisa.
Departemen Pekerjaan Umum. (2004).
5.2.3 Ruas jalan Kolonel H Imam Standar Geometrik Jalan Perkotaan
Suparto RSNI. Jakarta : Departemen Pekerjaan
Umum.
Untuk ruas jalan Kolonel H Imam
Suparto diseluruh lokasi rawan kecelakaan Kepolisian daerah jawa tengah. (2011).
memerlukan perbaikan untuk memberi Penentuan dan Pengkajian Blackspot
perambuan kecepatan ideal sebesar 40 km/ bagi Kepolisian Negara Republik
jam dan kurang dari 30 km/ jam untuk Indonesia. Semarang: Modul Internal
tikungan terakhir, memberi perambuan Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara
sebagai jalan rawan kecelakaan, Republik Indonesia.
memberikan perambuan untuk Nazir. (2013). Metodologi penelitian.
memperlambat kecepatan, memberikan Bogor: Ghalia Indonesia
kamera pengawas (CCTV) guna
memaksimalkan ketaatan user terhadap Republik Indonesia. (2009). Undang-
rambu-rambu lalu lintas, memberikan Undang Nomor 22 Tentang Lalu
monumen peringatan jalan rawan Lintas Dan Angkutan Jalan,
kecelakaan, memberikan rumble strip ada Sekretariat Negara. Jakarta. terdapat
jalur yang mengarah ke turunan sebelum pada
lokasi dengan jarak 35 meter, http://www.hukumonline.com/pusatd
memperpanjang tikungan sesuai ata/downloadfile/lt4a604fffd43d3/par
perhitungan analisa, mengurangi ent/lt4a604fcfd406d
kelandaian dan memperbaiki lengkungan Sugiyono. (2013). Metode penelitian
vertikal agar mencapai jarak henti sesuai Kuantitatif Kualitatif Dan R&D.
perhitungan analisa. Jakarta : Alfabeta
Berikut merupakan sara-saran dalam World Health Organization. Tingkat
penelitian “Tinjauan Geometrik Jalan Raya Kecelakaan di Dunia.2013.
Pada Titik-Titik Rawan Kecelakaan www.who.int di akses pada 04
(Blackspots) Di Kota Semarang (Studi Februari 2017 Pukul 11.35 WIB
Kasus : Jalan Prof Hamka, Gombel Lama
dan Kolonel H. Imam Suparto)”, serta Suara Merdeka. (2017). Semarang
diharapkan dapat melakukan penelitian dikelilingi jalur Tengkorak. Harian
lebih lanjut terhadap titik titik rawan Suara Merdeka 12 Januari 2017:
kecalakan (blackspot) di kota Semarang, Semarang
terutama pada ruas jalan Prof Hamka,
Gombel Lama, dan Kolonel H. Imam
Suparto.

G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 (online)
Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2017 60