Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

DENGUE FEVER

Pembimbing :
dr. Agung Nugroho, SpPD

Disusun oleh :
Dara Mayang Sari
1102013069

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

RUMAH SAKIT DR. DRAJAT PRAWIRANEGARA SERANG

PERIODE DESEMBER 2017 – FEBRUARI 2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya penyusunan presentasi kasus
dengan judul “Dengue Fever” dapat saya selesaikan penyusunannya dalam rangka
memenuhi salah satu tugas sebagai ko-asisten yang sedang menjalani kepaniteraan klinik
ilmu penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Dr. Drajat Prawiranegara Serang.
Dalam menyelesaikan presentasi kasus ini, saya mengucapkan terima kasih kepada
dr. Agung Nugroho, SpPD selaku pembimbing dalam penyusunan presentasi kasus dan
sebagai salah satu pembimbing selama menjalani kepaniteraan ini.
Apabila terdapat kekurangan dalam menyusun presentasi ini, saya akan menerima
kririk dan saran. Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi kita semua.

Serang, Januari 2018

Dara Mayang Sari


Penyusun
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Tn. S
Umur : 14 tahun
Jenis kelamin : Laki - laki
TTL : Serang, 14 Maret 2003
Agama : Islam
Alamat : Kp. Cilayang, Guha, RT 11 RW 04
Pendidikan : Tamat SD
Masuk RS : 19 Desember 2017

II. ANAMNESIS
Keluhan utama :
Demam
Keluhan tambahan :
Mual, muntah, lemas
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSDP diantar oleh keluarganya dengan keluhan demam sejak
± 5 hari SMRS. Keluarga pasien menyatakan demam tinggi dan naik turun. Keluhan
disertai mual dan lemas. Pasien mengaku nafsu makannya menurun. Mual disertai
muntah dengan frekuensi 3 kali. Pasien juga memgeluh mencret dengan frekuensi 2
kali. Pasien menyangkal adanya nyeri perut, batuk pilek, gusi berdarah, mimisan dan
BAB hitam. Pasien menyatakan tidak pernah mengalami keluhan yang serupa
sebelumnya dan tidak ada orang lain yang mengalami keluhan yang sama di sekitar
pasien.
Pasien mengaku pernah mencoba mengobati penyakitnya dengan
mengguunakan obat yang dibeli sendiri. Keluhan membaik, namun kambuh lagi.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga:


(-)

III. Pemeriksaan Fisik


 Keadaan umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Composmentis
 Tanda Vital : Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 110 x/menit
Pernafasan : 24 x /menit
Suhu : 38,3° C
Status Generalis
a) Kepala : Normocephale
b) Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
c) Hidung : Nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), darah (-/-)
d) Mulut : Bibir kering (-), perioral sianosis (-), gusi berdarah (-/-)
e) Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-), JVP tidak meningkat
f) Thorax : Simetris, retraksi (-)
g) Cor : Bunyi jantung I & II reguler, Gallop (-), Murmur (-)
h) Pulmo : Sonor, suara nafas vesikuker, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
i) Abdomen : bentuk datar, BU (+), supel, NT (-), asites (-)
j) Ekstremitas :

Superior Inferior
Akral hangat +/+ +/+
Akral sianosis -/- -/-
Edema -/- -/-
Ptechiae -/- -/-
Ekimosis -/- -/-
Purpura -/- -/-
Capillary Refill < 2 detik < 2 detik

IV. Pemeriksaan Anjuran


H2TL, Hemostasis (AP, APPT)
Pemeriksaan lab tanggal 19 Desember 2017
Hemoglobin : 13,4 g/dl
Leukosit : 3.600 /ul
Hematokrit : 38,6 %
Trombosit : 41.000 /ul
GDS : 61 mg/dl
Widal: S typhi O : (-)
S paratyphi AO: (-)
S paratyphi BO: (-)
S paratyphi CO: (-)
S typhi H : (+) 1/640
S paratyphi AH: (-)
S paratyphi BH: (-)
S paratyphi CH: (-)
Pemeriksaan Urin:
Makroskopis
Warna : Kuning
Kekeruhan : Jernih
Berat Jenis : 1,020
pH : 6,0
Albumin : (+)
Glukosa : (-)
Keton : (-)
Bilirubin : (-)
Darah samar : (+)
Nitrit : (-)
Urobilinogen : Normal
Sedimen Urin:
Leukosit : 1-2/LPB
Eritrosit : 5-6/LPB
Epitel : (+)
Silinder : (-)
Kristal : (-)
Bakteri : (-)
Jamur : (-)

Pemeriksaan lab tanggal 20 Desember 2017


Hemoglobin : 11,9 g/dl
Leukosit : 1.920 /ul
Hematokrit : 34,6 %
Trombosit : 45.000 /ul

Pemeriksaan lab tanggal 21 Desember 2017


Hemoglobin : 12,6 g/dl
Leukosit : 2.950 /ul
Hematokrit : 36,6 %
Trombosit : 49.000 /ul
Pemeriksaan lab tanggal 22 Desember 2017
Hemoglobin : 12,3 g/dl
Leukosit : 2.210 /ul
Hematokrit : 35,7 %
Trombosit : 72.000 /ul

V. Diagnosis
Obs. Febris H – 5 e.c DHF DD/ Typhoid fever

VI. Penatalaksanaan
 RL 3 kolf/hari
 Lansoprazole 1x1 tab
 Paracetamol 3x1 tab
 Neurodex 1x1 tab

VII. Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Demam Dengue (dengue fever, DF) adalah penyakit dengan tanda tanda klinis
demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash)
dan limfadenopati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakan bola
mata, rasa mengecap yang terganggu, trombositopenia ringan dan bintik-bintik perdarahan
(petekie) spontan.

Demam Berdarah Dengue (dengue haemorrhagic fever, DHF), biasanya memburuk


setelah dua hari pertama. Uji tourniquet akan positif dengan tanpa ruam disertai beberapa
atau semua gejala perdarahan seperti petekie spontan yang timbul serentak, purpura,
ekimosis, epitaksis, hematemesis, melena, trombositopenia, masa perdarahan dan masa
protrombin memanjang, hematokrit meningkat dan gangguan maturasi megakariosit.

Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome, selanjutnya disingkat DSS) ialah
penyakit DHF yang disertai renjatan.

2. Epidemiologi
Demam berdarah adalah penyakit arbovirus yang paling cepat menyebar di dunia.
Dalam 50 tahun terakhir, kejadian meningkat 30 kali lipat seiring dengan meningkatnya
ekspansi geografis. Pada tahun 2005, virus dengue dan nyamuk aedes aegypti telah
menyebar di daerah tropis dimana terdapat 2.5 miliar orang berisiko terkena penyakit ini di
daerah endemik.
Secara umum, demam dengue menyebabkan angka kesakitan dan kematian lebih
besar dibanding dengan infeksi arbovirus yang lainnya pada manusia. Setiap tahun
diperkirakan terdapat 50-100 juta kejadian infeksi dengue yang mana ratusan ribu kasus
demam berdarah dengue terjadi, tergantung dari aktifitas epidemiknya.
Di Indonesia,
150.000

kasus dilaporkan terjadi pada tahun 2007 dengan lebih dari 25.000 kasus dilaporkan baik
dari Jakarta maupun Jawa Barat dengan mortalitas kira-kira 1%. Depkes RI melaporkan
bahwa pada tahun 2010 di Indonesia tercatat 14.875 orang terkena DBD dengan kematian
167 penderita. Daerah yang perlu diwaspadai adalah DKI Jakarta, Bali,dan NTB.

3. Faktor Risiko
Infeksi virus dengue pada manusia menyebabkan gejala dengan spektrum luas,
berkisar dari demam biasa sampai penyakit perdarahan yang serius. Pada area endemik,
infeksi dengue memiliki gejala klinis yang tidak spesifik, terutama pada anak-anak. Gejala
yang tampak hanya seperti infeksi virus pada umumnya.
Faktor risiko yang penting dan berpengaruh terhadap proporsi pasien yang mengalami
gejala yang berat selama transmisi endemik di antaranya strain dan serotipe virus yang
menginfeksi, status imunitas dari setiap individu, usia penderita, faktor genetik dari pasien.

Dengan makin lancarnya hubungan lalu lintas, kota-kota kecil atau daerah semiurban
dekat kota besar pun saat ini menjadi mudah terserang akibat penjalaran penyakit dan suatu
sumber di kota besar.

Kasus DHF cenderung meningkat pada musim hujan, kemungkinan disebabkan:

1. Perubahan musim mempengaruhi frekuensi gigitan nyamuk; karena pengaruh


musim hujan, puncak jumlah gigitan terjadi pada siang dan sore hari.
2. Perubahan musim mempengaruhi manusia sendiri dalam sikapnya terhadap gigitan
nyamuk, misalnya dengan lebih banyak berdiam di rumah selama musim hujan.

4. Etiologi
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam genus
Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm
terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106. Virus ini termasuk
genus flavivirus dari family Flaviviridae. Ada 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3,
DEN-4. Serotipe DEN-3 merupakan jenis yang sering dihubungkan dengan kasus-kasus
parah. Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup
tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. Sehingga seseorang yang
hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak 4 kali seumur hidupnya.
Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari. Faktor risiko penting
pada DHF adalah serotipe virus, dan faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan
predisposisi genetis. Vektor utama penyakit DHF adalah nyamuk Aedes aegypti (diderah
perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah pedesaan).
Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah:
 Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih
 Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi,
WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti kaleng,
pot tanaman, tempat minum burung, dan lain-lain.
 Jarak terbang ± 100 meter
 Nyamuk bersifat ‘multiple biters’ (mengigit beberapa orang karena sebelum
nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat)
 Tahan dalam suhu panas dan kelembaban tinggi

5. Patogenesis
Proses patologi infeksi Dengue dimulai ketika adanya hubungan erat antara host dan
vektor yang membawa virus. Manusia terinfeksi dengan virus setelah nyamuk yang
terinfeksi menghisap darah dari host (manusia).

Infeksi dengan virus Dengue mempunyai spektrum gambaran klinis yang luas. Pada
banyak kasus terutama pada anak-anak dibawah 15 tahun, pasien biasanya asimptomatis
atau memiliki riwayat demam yang ringan. Demam dengue secara khas bersifat self-
limited, akut, yang terjadi setelah periode inkubasi selama 4 – 7 hari. Virus dengue tidak
ada di dalam aliran darah pada saat demam menghilang.

Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF


dengan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat
anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi sistem kalikrein yang berakibat
ekstravasasi cairan intra-vaskular. Hal ini berakibat mengurangnya volume plasma,
terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Plasma
merembes selama perjalanan penyakit mulai dari saat pemulaan demam dan mencapai
puncaknya pada saat renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume plasma dapat
menurun sampai lebih dari 30%.
Gambaran utama dari demam berdarah dengue adalah plasma leakage (kebocoran
plasma). Hal ini berasal dari celah endotel dalam pembuluh darah bagian perifer tanpa
adanya nekrosis atau inflamasi dalam endotelium. Demam berdarah dengue biasanya
dimulai berupa gambaran demam dengue. Terjadinya demam akut (>40 oC) seperti yang
terdapat pada demam dengue dan berakhir dalam 2 – 7 hari. Meskipun demikian, pada
individu dengan demam berdarah dengue, demam dapat muncul kembali memberikan
gambaran kurva demam bifasik atau “saddle back” yang tidak didapatkan pada individu
dengan demam dengue. Sepanjang demam bifasik tersebut, pasien dengan demam berdarah
dengue mengalami trombositopenia progresif, peningkatan hematokrit (20% diatas nilai
rata-rata) yang menyebabkan haemokonsentrasi, manifestasi perdarahan yang berat (>50%
pasien dengan tes tourniquet positif), dan efusi progresif (pleura atau peritonium). Syok
hipovolemik dapat terjadi sebagai akibat kehilangan plasma yang besar, bila tidak segera
diatasi dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolik dan bahkan kematian.

Syok yang terjadi bersifat akut dan perbaikan klinis yang drastis setelah pemberian
plasma ekspander yang efektif. Sebab lain kematian adalah perdarahan. Perdarahan pada
demam berdarah dengue umumnya berkaitan dengan trombositopenia, gangguan fungsi
trombosit dan kelainan koagulasi. Trombositopenia yang dihubungkan dengan
meningkatnya megakariosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup
trombosit, hal tersebut menunjukkan meningkatnya destruksi trombosit. Fungsi trombosit
menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks
imun dalam peredaran darah. Kelainan sistem koagulasi disebabkan di antaranya oleh
kerusakan hati yang fungsinya memang terbukti terganggu oleh aktivasi sistem koagulasi.

6. Gambaran Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatik, atau dapat berupa
demam yang tidak khas, demam, demam berdarah dengue, atau dengue shock syndrome
(DSS).
Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari), timbul gejala
prodormal yang tidak khas seperti nyeri kepala, nyeri tulang belakang dan perasaan lelah.

Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari, yang diikuti oleh fase
kritis selam 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak demam, akan tetapi
mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat.
Bintik-bintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang disertai bintik-bintik perdarahan di
faring dan konjungtiva. Penderita juga sering mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu
hati, nyeri di tulang rusuk kanan dan nyeri seluruh perut.

DHF adalah komplikasi serius dengue yang dapat mengancam jiwa penderitanya,
ditandai oleh:

 Demam tinggi yang terjadi tiba-tiba


 Manifestasi perdarahan
 Hepatomegali/pembesaran hati kadang-kadang terjadi syok manifestasi
perdarahan pada DHF dimulai dari tes torniquet positif dan bintik-bintik
perdarahan di kulit (ptechiae). Ptechiae ini bisa terlihat di seluruh anggota gerak,
ketiak, wajah dan gusi, juga bisa terjadi perdarahan hidung, perdarahan gusi,
perdarahan dari saluran cerna dan perdarahan dalam urin.
7. Langkah Diagnostik
Diagnosis dari infeksi dengue dapat ditegakkan melalui tes laboratorium dengan cara
mengisolasi virus, mendeteksi sequence RNA-spesifik virus dengue dengan tes amplifikasi
nukleotida, atau dengan mendeteksi antibody pada serum pasien.
Langkah diagnostik demam dengue dapat dilakukan melalui:
a. Laboratorium
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam
dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah
trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relative
disertai gambaran limfosit plasma biru.
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun
deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse Transcriptase
Polymerase Chain Reaction), namun karena teknik yang lebih rumit, saat ini tes
serologis yang mendeteksi adanya antibody spesifik terhadap dengue berupa
antibody total, IgM maupun IgG lebih banyak.

Parameter laboratorium yang dapat diperiksa antara lain:

 Leukosit
Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemukan limfositosis
relative (> 45% dari leukosit) disertai adanya lifosit plasma biru (LPB) >
15% dari jumlah total leukosit pada fase syok akan meningkat.
 Trombosit
Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
 Hematokrit
Kebocoran plasma dibuktikan peningkatan hematokrin ≥ 20% dari
hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam
 Hemostasis
Dilakukan pemeriksaan AP, APTT, Fibrinogen, D-Dimer atau FDP pada
keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
 Protein/albumin
Dapat terjadi hipoalbuminemia akibat kebocoran plasma
 Elektrolit
Sebagai parameter pemantauan pemberian cairan
 Serologi
Dilakukan pemeriksaan serologi IgM dan IgG terhadap dengue
 NS1
Antigen NS1 dapat terdeteksi pada awal demam hari pertama sampai hari
kedelapan. Sensitivitas sama tingginya dengan spesitifitas gold standart
kultur virus. Hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi
virus dengue.

b. Pemeriksaan Radiologis
Pada perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada hemitoraks.
Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus. Asites dan
efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.

8. Diagnosis
Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari), timbul gejala
prodormal yang tidak khas, seperti nyeri kepala, nyeri tulang belakang dan perasaan lelah.

Klasifikasi derajat penyakit Infeksi Virus Dengue, dapat dilihat pada table berikut:

DD/DBD Derajat Gejala Lab

DD Demam disertasi 2  Leukopenia  Serologi


atau lebih tanda :  Trombositopenia, dengue
sakit kepala, nyeri tdk ada (+)
retro-orbital, kebocoran
mialgia, artralgia plasma
DBD I Gejala diatas, Trombositopenia
ditambah dgn uji (<100.000), bukti
bendung (+) ada kebocoran
plasma

II Gejala diatas, Trombositopenia


ditambah dgn (<100.000), bukti
perdarahan spontan ada kebocoran
plasma

III Gejala diatas Trombositopenia


ditambah dengan (<100.000), bukti
kegagalan sirkulasi ada kebocoran
(kulit dingin dan plasma
lembab, serta
gelisah)

IV Syok berat disertai Trombositopenia


dengan tekanan (<100.000), bukti
darah dan nadi ada kebocoran
tidak terukur plasma

Sementara untuk diagnosis Sindrom Syok Dengue (SSD) adalah ditemukannya semua
kriteria di atas untuk DBD disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat
dan lemah, tekanan darah turun (≤ 20 mmHg), hipotensi dibandingkan standar sesuai umur,
kulit dingin dan lembab serta gelisah.

9. Tata Laksana
Protokol dibagi dalam 5 kategori:

a. Protokol 1. Penanganan Terduga (Probable) DBD Dewasa tanpa Syok


Protokol ini digunakan sebagai petunjuk dalam pemberian pertolongan pertama
pada penderita DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat dan juga
dipakai sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat.
Seseorang yang tersangka menderita DBD Unit Gawat Darurat dilakukan
pemeriksaan hemonglonin (Hb), hematokrin (Ht), dan trombosit, bila:
 Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien
dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan ke Poliklinik
dalam waktu 24 jam berikutnya (dilakukan pemriksaan Hb, Ht, leukosit dan
trombosit tiap 24 jam) atau bila keadaan penderita memburuk segera
kembali ke Unit Gawat Darurat.
 Hb, Ht normal tetapi trombosit , 100.000 dianjurkan untuk dirawat
 Hb, Ht meningkat dan tombosit normal atau turun juga dianjurkan untuk
dirawat

b. Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di Ruanag Rawat


Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masih dan tanpa syok
maka di ruang rawat diberikan cairan infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus
berikut ini:
Volume cairan kristaloid / hari yang diperkukan, sesuai rumus berikut:

1500+ (20 x (BB dalam kg – 20 )

Setelah pemberian cairan dilakukan dilakukan pemberian Hb, Ht tiap 24 jam:


 Bila Hb, Ht meningkan 10-20% dan tombosit < 100.000 jumlah pemberian
cairan tetap seperti rumus diatas tetapi pemantauan Hb, Ht, trombo dilakukan
tiap 12 jam.
 Bila Hb, Ht meningkat > 20% dan trombosit < 100.000 maka pemberian
cairan sesuai dengan protokol penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht >
20%.

c. Protokol 3. Penatalaksaan DBD dengan Peningkatan Ht > 20%


Meningkatnya Ht > 20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami defisit cairan
sebanyak 5%. Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah dengan
memberikan infus cairan kristaloid sebanyak 6-7 ml/kg/jam. Pasien kemudian
dipantau setelah 3-4 jam pemberian cairan. Bila terjadi perbaikkan perbaikan yang
ditandai dengan tanda-tanda hematokrin turun, frekuensi nadi turun tekanan darah
stabil, produksi urin meningkat maka jumlah cairan infuse dikurangimenjadi 5
ml/KgBB/jam. Dua jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan bila
keadaan tetap menunjukkan perbaikkan maka jumlah cairan infuse dikurangi
3ml/KgBB/jam. Bila dalam pemantauan keadaan tetap membaik cairan dapat
dihentikan24-48 jam kemudian.
Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/KgBB/jam dalam tapi
keadaan tetap tidak membaik, yang ditndai dengan Ht dan nadi meningkat,
tekanan nadi menurun < 20 mmHg, produksi urin menurun, maka kita harus
menaikkan jumlah cairan infuse menjadi 10 ml/kgBB/jam. Dua jam kemudian
dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan menunjukkan perbaikkan maka
jumlah cairan dikuarangi menjadi 5 ml/KgBB/jam tetapi bila keadaan tidak
menunjukkan perbaikkan maka jumlah cairan infus dinaikkan 15ml/KgBB/jam
dan bila dalam perkembangannya kondisi menjadi memburuk dan didapatkn
tanda-tanda syok maka pasien ditananganisesuai protocol tatalaksana sindrom
syok dengue pada dewasa. Bila syok telah teratasi maka pemberian cairan dimulai
lagi seperti terapi pemberian cairan

d. Protokol 4. Penatalaksaan Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa


Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dewasa adalah: perdarahan
hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon hidung,
perdarahan saluran cerna (hematemesis dan melena atau hematoskesia),
perdarahan saluran kencing (hematuria, perdarahan otak atau perdarahan dengan
jumlah perdarahan sebanyak 4-5 ml/KgBB/jam. Pada keadaan seperti ini jumlah
dan kecepatan pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok.
Pemeriksaan TD, nadi, pernapasan, dan jumlah urin dilakukan sesering mungkin
dengan kewaspadaan Hb, Ht, dan trombosit sebaiknya diulang setiap 4-6 jam.
Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan
tanda-tanda koagulasi intravaskuler diseminata (KID). Taranfusi komponen darah
diberikan sesuai indikasi. FFP diberikan bila didapatkan defisiensi factor-faktor
pembekuan darah (PT dan aPTT) yang memanjang), PRC diberikan bila nilai Hb
kurang dari 10 g/dl. Transfusi trombosit hanya diberikan pada pasien DBD yang
perdarahan spontan dan massif dengan jumlah tromboit < 100.000/mm 3 disertai
atau tanpa KID.

e. Protokol 5. Tatalaksanaan Sindrom Syok Dengue pada Dewasa


Bila berhadapan dengan SSD maka hal pertama yang harus diingat adalah renjatan
harus segera diatasi dan oleh karena itu penggantian cairan dilakukan
intravaskuler yang hilang harus segera dilakukan. Angka kematian SSD 10 kali
lipat dibandingkan dengan penderita DBD tanpa renjatan. Dan renjatan dapat
terjadi karena kerelambatan penderita DBD mendapat pertolongan.
Pada kasus SSD cairan kristaloid adalah pilihan utama yang diberikan. Penderita
juga diberikan O2 2-4 liter/menit. Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah
pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL), hemostalisi, analisis gas darah, kadar
natrium, kalium dan klorida, serta ureum dan kreatinin.
Pada fase awal, cairan kristaloid diguyur sebanyak 10-20ml/kgBB dan evaluasi
15-30 menit. Bila renjatan telah teratasi (ditandai dengan TD sistolik 100mmHg
dan tekanan nadi > 20mmHg, frekuensi nadi < 100 x/menit dengan volume yang
cukup, akral teraba hangat, dan kulit tidak pucat serta diuresis 0,5-1
ml/kgBB/jam) jumlah cairan dikurangi 7 ml/kgBB/jam. Bila dalam waktu 60-120
menit keadaan tetap stabil pemberian cairan menjadi 5ml/kgBB/jam. Bila dalam
waktu 60-120 menit keadaan tetap stabil pemberian cairan dikurangi 3
ml/kgBB/jam. Bila 23-48 jam setelag renjatan teratasi tanda-tanda vital,
hematokrin tetap stabil serta dieresis cukup maka pemberian cairan perinfus
dihentikan.
Pengawasan dini tetap dilakukan tertama dalam 24 jam pertama sejak terjadi
renjatan. Oleh karena itu untuk mengetahui apakah renjatan telah teratasi dengan
baik, diperlukan pemantauan tanda vital, pembesaran hati, nyeri tekan didaerah
hipokondrium kanan dan epigastrium serta jumlah diuresis (diusahakan
2ml/kgBB/jam). Pemantauan DPL dipergunakan untuk pemantauan perjalanan
penyakit.
Bila fase awal pemberian ternyata renjatan belum teratasi, maka pemberian cairan
kristaloid dapat ditingkatkan menjadi 20-30ml/kgBB, dan kemudian dievaluasi
setelah 20-30 menit.
Bila keadaan tetap belum teratasi, maka perhatikan nilai Ht.
 Bila Ht meningkat berarti perembesan plasma masih berlangsung maka
pemberian cairan koloid merupakan pilihan.
- Pemberian koloid mula-mula diberikan 10-20ml.kgBB dan dievaluasi
setelah 10-30 menit. Bila keadaan tetap belum teratasi maka pemantaun
cairan dilakukan pemasangan kateter vena sentral, dan pmberian dapat
ditambah hingga jumlah maksimum 30ml/kgBB ( maksimal 1-1,5µ/hari)
dengan sasaran tekanan vena sentral 15-18 cm H2O
- Bila keadaan belum teratasi harus diperhatikan dan dilakukan koreksi
terhadap gangguan asam basa, elektrolit, hipoglikemia, anemia, KID,
infeksi sekunder.
- Bila tekanan vena sentral penderita sudah sesuai dengan target tetapu
renjatan tetap belum teratasi maka dapat diberikan obat inotropik /
vasopresor.
 Bila Ht menurun, berarti terjadi perdarahan (internal bleeding) maka pada
penderita diberikan transfuse darah segar 10ml/kgBB dan dapat diulang sesuai
kebutuhan.

10. Prognosis
Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik. Kematian dijumpai
pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak teratasi, efusi pleura dan
asites yang berat dan kejang. Kematian terjadi pada kasus berat yaitu pada waktu
muncul komplikasi pada sistem syaraf, kardiovaskuler, pernapasan, darah, dan organ
lain. Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain:

1. Keterlambatan diagnosis
2. Keterlambatan diagnosis shock
3. Keterlambatan penanganan shock
4. Shock yang tidak teratasi
5. Kelebihan cairan
6. Kebocoran yang hebat
7. Pendarahan masif
8. Kegagalan banyak organ
9. EnsefalopatI
10. Sepsis

11. Pencegahan
Kegiatan ini meliputi:
1. Pembersihan jentik
- Program pemberantasan serang nyamuk (PSN)
- Menggunakan ikan (cupang, sepat)
2. Pencegahan gigitan nyamuk
- Menggunakan kelambu
- Menggunakan obat nyamuk (bakar, oles)
- Tidak melakukan kebiasaan berisiko (tidur siang, menggantung baju)
- Penyemprotan

DAFTAR PUSTAKA

Gubler, DJ: Epidemic dengue/dengue hemorrhagic fever as a public health, social and
economic problem in the 21st century. Trends Micriobiol 10:100, 2002.

Guzman MG, Eva H: Dengue. Lancet 2015; 385: 453-65. Diunduh dari:
http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(14)60572-
9/abstract.

Huang et.at,. Predicting the mortality in geriatric patients with dengue fever. Medicine
(2017) 96:37(e7878). Diunduh dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/
PMC5604636/.
Suhendro, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Demam Berdarah Dengue. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

World Health Organization: Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and
Control, New ed. Geneva: World Health Organization, 2009.