Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

DAMPAK KORUPSI
Makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
PBAK

Dosen Pembimbing :
Dwi Estuning Rahayu S.Pd,S.Kep.Ns,M.Sc

Disusun Oleh :
Sahraen
P17321185064

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN KEDIRI
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-
Nya, sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “Dampak Korupsi” untuk
memenuhi tugas mata kuliah PBAK.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang dampak
korupsi terdiri dari dampak ekonomi, dampak sosial, dampak kemiskinan masyarakat dan
kesehatan masyarakat serta birokrasi pemeritah. Oleh karena itu penulis ucapkan terimakasih
kepada :
1. Susanti Pratamaningtyas., M.Keb selaku Kaprodi Sarjana Terapan Kebidanan
Kediri Poltekkes Kemenkes Malang
2. Dwi Estuning Rahayu S.Pd,S.Kep.Ns,M.Sc selaku Dosen Pembimbing mata
kuliah PBAK.
3. Orang Tua, Teman-teman yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi
kesempurnaan makalah ini.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Kediri, 20 Desember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover ...............................................................................................................
Kata pengantar ................................................................................................. i
Daftar isi ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
1.3.Tujuan ........................................................................................................ 2

BAB II Tinjauan Teori ..................................................................................... 3


2.1 Pengertian Dampak Korupsi ...................................................................... 3
2.2 Dampak Ekonomi....................................................................................... 4
2.3 Dampak Sosial dan Kemiskinan Masyarakat ............................................. 8
2.4 Dampak Pelayanan Kesehatan ................................................................... 10
2.5 Birokrasi Pemerintah ................................................................................. 11

BAB III PENUTUP ......................................................................................... 14


Kesimpulan ...................................................................................................... 14
Saran ................................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakangan
Kata korupsi berasal dari bahasa latin corruption atau corruptus disebut pula
bahwa corruption berasal dari kata corrumpere satu kata bahasa latin yang lebih
tua. Arti kata korupsi secara harfiah adalah sesuatu yang busuk, jahat, dan
merusak. Dalam kamus besar Indonesia edisi keempat, korupsi didefinisikan lebih
spesifik lagi yaitu penyelewengan atau penyalahgunaan uang Negara (perusahaan,
organisasi, yayasan, dsb) untuk keuntungan pribadi dan orang lain (Justiana,
Sandri dkk. 2014).
Semetara itu pemahaman tentang korupsi di tengah masyarakat juga beragam,
tidak ada satu kata tentang pengertian korupsi itu sendiri. Pengertian korupsi
secara umum adalah suatu tidak pidana yang berhubungan dengan perbuatan lain
yang merugikan atau dapat merugikan keungan atau perekonomian Negara,
merugikan kesejahteraan dan kepentingan rakyat. Sedangkan pengertian korupsi
dalam undang-undang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi (UU 31/1999)
adalah perbuatan yyang memperkayakan diri sendiri atau orang lain dengan
melawan hokum yang dapat merugikan keungan negara atau perekonomian
Negara. Korupsi tidak hanya berdampak terhadap satu aspek kehidupan saja.
Korupsi menimbulkan efek domino yang meluas terhadap eksistensi bangsa dan
Negara. Meluasnya praktik korupsi di suatu Negara akan memperburuk kondisi
ekonomi bangsa, misalnya harga barang menjadi mahal dengan kualitas yang
buruk, akses rakyat terhadap pendidikan dan kesehatan menjadi sulit, keamanan
suatu Negara terancam, kerusakan lingkungan hidup, dan citra pemerintahan yang
buruk di mata internasional sehingga menggoyahkan sendi-sendi kepercayaan
pemilik modal asing, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan Negara pun
menadi semakin terpesorok dalam kemiskinan (Maharso dan Tomy Sujarwadi,
2018).

1
1.2 Rumusan masalah
1. Apa pengertian dampak korupsi ?
2. Bagaimana dampak korupsi di bidang ekonomi ?
3. Bagaimankah dampak korupsi di bidang sosial dan kemiskinan masyarakat ?
4. Bagaimanakah dampak pelayanan kesehatan masyarakat ?
5. Bagaimanakah dampak korupsi di birokrasi pemerintahan ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari dampak korupsi
2. Untuk mengetahui dampak korupsi di bidang ekonomi
3. Untuk mengetahui dampak korupsi di sosial dan kemiskinan masyarakat
4. Untuk mengetahui dampak pelayanan kesehatan masyarakat
5. Untuk mengetahui dampak korupsi di birokrasi pemerintahan

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Dampak Korupsi
Dampak korupsi menurut KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi merilis
sedikitnya ada jumlah dampak korupsi di Indonesia yang benar-benar merugikan
bagi masyarakat dan Negara. Dampak korupsi bagi masyarakat dan Negara
Indonesia sangta beragam, mulai dari dampak terhadap politik, pelayanan
kesehatan, di bidang sosial, kebudayaan, politik dan demokrasi, perekonomian,
hingga bagi masyarakat dan keluarga.
a. Kemiskinan
Di bidang perekonomian, Negara dan masyarakat, dampak korupsi
berakibat angka kemiskinan semakin naik. Dari data yang di himpun Badan
Pusat Statistik (BPS) per tahun 2013, angka kemiskinan di Indonesia
mencapai 28,55 juta. Pada tahun 2014, mencapai 28,28 juta orang, pada bulan
September 2015 mencapai 28,51 juta orang.
b. Pengangguran
Fakta mengejutkan selanjutnya, pengangguran di Indonesia menurut
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2013 ada 7,39 juta orang. Pada
agustus 2014, turun menjadi 7,24 juta orang. Pada Februari 2015, angka
pengangguran di Indonesia naik menjadi 7,45 juta orang. Ini menjadi salah
satu dampak korupsi bagi masyarakat dan Negara.
c. Hutang luar negeri
Dari informasi yang dihimpun merdeka.com. data Bank Indonesia (BI)
menunjukkan, posisi utang luar negeri Indonesia per April 2016 hanya USD
318,97 miliar atau Rp 4.290 triliun. Angka utang ini naik disbanding bulan
sebelumnya atau maret 2016 yang tercatat hanya USD 315,98 miliar.
Porsi utang luar negeri pemerintah sendiri mencapai USD 148,29 miliar
dan Bank Indonesia sebesar USD 5,45 miliar. Total utang keduanya adalah
uSD 153,75 miliar. Total utang ini naik dari bulan sebelumnya yang hanya
USD 151,31 miliar. Sedangkan porsi utang swasta tercata sebesar USD

3
165,22 miliar. Angka utang ini naik dari ulan sebelumnya yang hanya USD
164,67 miliar.
d. Kerusakan alam
Indonesia sebagai salah satu Negara dengan keanekarangam hayati
tertinggi di dunia. Berdasarkan data FAO tahun 2010 hutan dunia, termasuk di
dalamnya hutan Indonesia. Secara total menyimpan 289 gigaton karbon dan
memegang peranan penting menjaga kestabilan iklim dunia.
Sayangnya kerusakan hutan di Indonesia cukup memprihatinkan.
Berdasarkan catatan kementrian kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1
juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya data
Kementrian Kehutan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang
tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.
Kerusakan atau ancaman yang paling besar terhadap hutan alam di Indonesia
adalah penerbangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebekaran
hutan dan ekploitasi hutan secara tidak lestari baik untuk pengembangan
pemukiman, industr, maupun akibat perambahan.
e. Dampak sosial
Dampak korupsi terhadap bidang kehidupan sosial dan budaya adalah
menimbulkan “biaya sosial” yang tinggi sehingga merugikan masyarakat dan
Negara.
(Syahroni, dkk. 2018).
2.2 Dampak Ekonomi
Korupsi merupakan salah satu dari sekian masalah yang mempunyai dampak
negatif terhadap perekonomian suatu negara, dan dapat berdampak merusak
sendi-sendi perekonomian negara. Korupsi dapat memperlemah investasi dan
pertumbuhan ekonomi (Mauro, 1995, dalam Pendidikan Anti Korupsi untuk
Perguruan Tinggi, 2011). Tidak mudah memberantas korupsi, sebab korupsi
dalam suatu tingkat tertentu selalu hadir di tengah-tengah kita. Dampak korupsi
dari perspektif ekonomi adalah misallocation of resources, sehingga

4
perekonomian tidak optimal (Ariati, 2013). Berbagai dampak korupsi terhadap
aspek ekonomi, adalah sebagai berikut (Justiana, Sandri dkk. 2014).
a. Menghambat Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Mauro (1995), setelah dilakukan studi terhadap 106 negara, ia
menyimpulkan kenaikan 2 poin pada Indeks Persepsi Korupsi (IPK, skala 0-
10) akan mendorong peningkatan investasi lebih dari 4 persen. Sementara
Podobnik et al (2008) menyimpulkan bahwa pada setiap kenaikan 1 poin
IPK, GDP perkapita akan mengalami pertumbuhan sebesar 1,7 persen setelah
melakukan kajian empirik terhadap perekonomian dunia tahun 1999-2004.
Menurut Gupta et al (1998) fakta bahwa penurunan skor IPK sebesar 0,78
akan mengurangi pertumbuhan ekonomi yang dinikmati kelompok miskin
sangat signifikan dalam menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi
(Bagus Anwar, 2011).
IPK telah digunakan banyak negara sebagai referensi tentang situasi
korupsi. IPK merupakan indeks gabungan yang mengukur persepsi korupsi
secara global yang merupakan gabungan yang berasal dari 13 (tiga belas)
data korupsi yang dihasilkan oleh berbagai lembaga independen yang
kredibel. IPK digunakan untuk membandingkan kondisi korupsi di suatu
negara terhadap negara lain. IPK mengukur tingkat persepsi korupsi di sektor
publik, yaitu korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara dan politisi. IPK
direpresentasikan dalam bentuk bobot skor/angka (score) dengan rentang 0-
100. Skor 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100
berarti dipersepsikan sangat bersih dari korupsi. Meskipun skor IPK
Indonesia tahun 2013 tidak beranjak dari skor tahun 2012 yaitu 32, Indonesia
meningkat empat peringkat. Tahun 2012, Indonesia berada di peringkat 118
dari 176 negara dan di tahun 2013 peringkat Indonesia menjadi 114 dari 177
negara (Anonim, 2013).
Korupsi membuat sejumlah investor kurang percaya untuk menanamkan
modalnya di Indonesia dan lebih memilih menginvestasikannya ke negara-
negara yang lebih aman. Korupsi akan menyebabkan investasi dari negara

5
lain berkurang karena para investor luar negeri ingin berinvestasi pada negara
yang bebas korupsi. Ketidakinginan berinvestasi pada negara korup memang
sangat beralasan karena uang yang diinvestasikan pada negara tersebut tidak
akan memberikan keuntungan seperti yang diharapkan oleh para investor,
bahkan modal mereka pun kemungkinan hilang dikorupsi oleh para koruptor.
Bantuan dari negara donor pun tidak akan diberikan kepada negara yang
tingkat korupsinya masih tinggi. Hal ini menyebabkan kerugian yang besar
bagi negara tersebut karena dengan tidak ada bantuan dari negara donor akan
menghambat pertumbuhan perekonomian negara. Oleh sebab itu, korupsi
memberikan dampak yang sangat besar terhadap eksistensi negara. Sebagai
konsekuensinya, mengurangi pencapaian actual growth dari nilai potential
growth yang lebih tinggi. Berkurangnya nilai investasi ini diduga berasal dari
tingginya biaya yang harus dikeluarkan dari yang seharusnya, ini berdampak
pada menurunnya growth yang dicapai (Dwikie, 2011).
b. Melemahkan Kapasitas dan Kemampuan Pemerintah dalam Program
Pembangunan untuk Meningkatkan Perekonomian.
Pada institusi pemerintahan yang memiliki angka korupsi rendah, layanan
publik cenderung lebih baik dan murah. Terkait dengan hal tersebut, Gupta,
Davoodi, dan Tiongson (2000) dalam Bagus Anwar (2011), menyimpulkan
bahwa tingginya angka korupsi ternyata akan memperburuk layanan
kesehatan dan pendidikan. Konsekuensinya, angka putus sekolah dan
kematian bayi mengalami peningkatan.
Korupsi juga turut mengurangi anggaran pembiayaan untuk perawatan
fasilitas umum, seperti perbaikan jalan sehingga menghambat roda
perekonomian. Infrastruktur jalan yang bagus, akan memudahkan transportasi
barang dan jasa, maupun hubungan antardaerah. Dengan demikian, kondisi
jalan yang rusak akan memengaruhi perekonomian masyarakat. Pada
September 2013 tercatat 21.313 km jalan kabupaten dan 2.468 km jalan
provinsi yang rusak dan harus diperbaiki. Menteri Pekerjaan Umum

6
menyebut kebutuhan dana untuk jalan daerah mencapai Rp. 118,073 triliun
(KPK, Tanpa tahun).
Fakta mencengangkan berikutnya adalah, di era serbalistrik seperti
sekarang, ternyata 10.211 desa di Indonesia masih gelap gulita. Jumlah
tersebut setara dengan 13% desa di seluruh Indonesia yang berjumlah 72.944
desa/kelurahan hingga akhir 2012 (KPK, Tanpa tahun).
Kuantitas dan kualitas barang juga menurun, karena besarnya biaya untuk
proses yang terjadi karena korupsi. Korupsi juga dapat menyebabkan kurang
baiknya hubungan internasional antarnegara. Hal ini disebabkan negara yang
korup akan merugikan negara lain yang memberikan modal atau bekerja
sama dalam bidang tertentu. Misalnya, negara yang memberikan modal untuk
membangun sarana dan prasarana berupa jalan tol untuk membantu suatu
negara berkembang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,
namun karena adanya korupsi, pembangunan sarana dan prasarana tersebut
akan terhambat sehingga akan menyebabkan ketidakpuasan dari negara
pemberi modal dan akhirnya hubungan dengan negara tersebut akan semakin
merenggang (Justiana, Sandri dkk. 2014).
c. Meningkatkan Utang Negara
Kondisi perekonomian global yang mengalami resesi melanda semua
negara termasuk Indonesia. Kondisi ini memaksa pemerintah untuk
melakukan utang untuk menutupi defisit anggaran. Korupsi makin
memperparah kondisi keuangan. Utang luar negeri terus meningkat. hingga
September 2013, utang pemerintah Indonesia mencapai Rp. 2.273,76 triliun.
Jumlah utang ini naik Rp. 95,81 triliun dibandingkan posisi pada Agustus
2013. Dibanding dengan utang di akhir 2012 yang sebesar Rp. 1.977,71
triliun, utang pemeritah di September 2013 naik cukup tinggi. (Ditjen
Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip finance.detik.com, 2013).
d. Menurunkan Pendapatan Negara
Pendapatan per kapita (PDB per kapita) Indonesia termasuk rendah.
Pada Mei 2013, berada pada angka USD 4.000. Apabila dibandingkan

7
dengan negara-negara maju, Indonesia tertinggal jauh. Pada tahun 2010 saja,
Luksemburg sudah mencapai USD 80.288, Qatar USD 43.100, dan Belanda
USD 38.618 (KPK, 2013). Pendapatan negara terutama berkurang karena
menurunnya pendapatan negara dari sektor pajak. Pajak menjadi sumber
untuk membiayai pengeluaran pemerintah dalam menyediakan barang dan
jasa publik. Pada umumnya perdagangan di daerah itu ilegal dan tidak
membayar pajak, tidak resmi, izinnya banyak dilanggar (Sekjen Asosiasi
Pengusaha Indonesia/Apindo, Franky Sibarani, seperti dikutip KPK, Tanpa
tahun).
Kondisi penurunan pendapatan dari sektor pajak, diperparah dengan
korupsi pegawai pajak untuk memperkaya diri sendiri maupun kelompok.
Sebagai contoh kasus fenomenal GT, seorang pegawai golongan 3 A, yang
menggelapkan pajak negara sekitar Rp. 26 miliar, itu hanya kasus GT belum
termasuk kasus makelar pajak lainnya yang sudah maupun belum terungkap.
e. Menurunkan Produktivitas
Lemahnya investasi dan pertumbuhan ekonomi serta menuurunnya
pendapatan negara akan menurunkan produktivitas. Hal ini akan berdampak
pada meningkatnya pengangguran. Berdasarkan data Februari 2013, angka
pengangguran terbuka usia 15 tahun ke atas adalah 5,92% atau berdasarkan
angka absolut mencapai 7.170.523 jiwa. Dibandingkan negara maju
(Justiana, Sandri dkk. 2014).
2.3 Dampak Sosial dan Kemiskinan Masyarakat
Korupsi memang bukan sekedar dicurinya uang Negara, karena dampaknya
begitu banyak yang harus ditanggung oleh rakyat. Akibat korupsi kita menjadi
bangsa yang terpaksa kehingan martabat karena dipandanng sebelah mata oleh
bangsa lain. Korupsi menyebabkan kita kehilangan daya asing dalam
mendatangkan investor. Sekarang bahkan sudah banyak investor potensial
memindahkan investasinya ke Negara lain. Banyaknya pengutan liar yang
menyebabkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy) menjadi alasan mereka
memindahkan usaha, disamping masalah keamanan asset akibat demo buruh

8
yang tidak jarang mangarah pada tindakan anarkis. Yang menyedihkan adalah
korupsi menyebabkan kemiskinan missal dan memaksa begitu banyak rekyak
kita harus mengadu nasib menjadi buruh migrant. Ini tentu bettentangan dengan
cita-cita luhur para pendiri republic (the founding father) yang memimpikan
indonesia dan rakyatnya mampu menggapai kemakmuran. Mereka juga bercita-
cita rakyatnya keluar dari martabat kuli sebagaimana yang terjadi selama hidup
terjajah. Bagi masyarakat miskin korupsi mengakibatkan dampak yang luar biasa
dan saling bertaut satu sama lain. Pertama, dmpak langsung yang dirasakan oleh
orang miskin yakni semakin mahalnya jasa berbagai pelayanan public,
rendahnyah kualitas pelayanan, dan pembatasan akses terhadap berbagai
pelayanan vital seperti air, kesehatan, dan pendidikan. Kedua dampak tidak
langsung terhadap orang miskin yakni pengalihan sumber daya milik public
untuk kepentingan pribadi dan kelompok, yyang seharusnya dipertukkan guna
kemajuan sector sosial dan orang miskin, melalui pembatasan pembangunan. Hal
ini secara langsung memilik pengaruh kepada langgengnya kemiskinan.
a. Mahalnya Harga Jasa Dan Pelayanan Publik
Praktek korupsi yang terjadi menciptakan ekonomi biaya tinggi. Beban
yang ditanggung para pelaku ekonomi akibat korupsi disebut high cost
economy. Dari istilah pertama di atas terlihat bahwa potensi korupsi
sangat besar terjadi di Negara-negara yang menerapkan kontrol
pemerintah secara ketat dalam praktek perekonomian, alias memiliki
kekuatan monopoli yang besar karena rentan sekali terhadap
penyalahgunaan. Yang disalahgunakan adalah perangkat-perangkat public
atau pemerintah dan yang diuntungkan adalah kepentingan-kepentingan
yang bersifat pribadi.
b. Pengentasan Kemiskinan Berjalan Lambat
Berita resmi statistic tentang profil kemiskinan di Indonesia Maret 2016
diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 18 Juli 2016.
Menurut BPS, jumlah penduduk miskin, penduduk dengan pengeluaran
perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan, pada Maret 2016 di

9
Indonesia mencapai 28,01 juta jiwa atau sebesar 10,86 persen dari total
jumlah penduduk Indonesia.
Berdasarkan profil kemiskinan BPS, walaupun dari sisi jumlah
kemiskinan di perdesaan menurun, namun secara persentase penduduk
miskin meningkat. Pada bulan Maret 2015 persentase penduduk miskin
perdesaan sebesar 14,21 persen, lalu turun pada September 2015 menjadi
14,09 persen kemudian naik 0,02 persen di bulan maret 2016 menjadi
14,11 persen. Bila mengacu data Nilai Tukar Petani (NTP) yang terus
menurun dari nilai 102,55 pada januari 2016 menjadi 101,47 pada juni
2016, maka wajar jika persentase kemiskinan di pedesaan meningkat,
karena usaha pertanian menurun.
(Syahroni, dkk. 2018.)
2.4 Dampak Pelayanan Kesehatan
Keberhasilan terhadap program-program kesehatan tidak ditentukan semata
halnya kuantitas dari program itu sendiri, namun sedikit anyaknya ditentukan oleh
berjalannya sistem yang ada melalui kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan.
Kewenangan dan kekuasaan pada tahap implementasi dapat diterjemahkan secara
berada oleh tiap-tiap daerah dan cendrung ditafisirkan dengan keinginan masing-
masing daerah. Kondisi ini akan dapat menciptakan peluang-peluang KKN yang
dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan kesehatan
masyarakat.
Dampak korupsi dibilang kesehatan, anatara lain tingginya biaya kesehatan
tingginya angka kematian ibu, tingkat kesehatan masih buruk dan lain-lain.
Angka kematian ibu pada tahun 2012, ternyata masih tinggi yakni 359 per
200.000 kelahiran hidup. Angka ini meningkat tajam dibandingkan tahun 2007,
yakni 228 per 100.000 kelahiran hidup. Secara makro, angka kematian ibu
melahirkan, merupakan parameter kualitas kesehatan masyarakat pada suatu
negara (KPK, Tanpa tahun).
Laksono Trisnantoro dalam Seminar Pencegahan Korupsi di Sektor Kesehatan
yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada Fakultas Kedokteran

10
Yogyakarta (Kagama Kedokteran) pada Rabu, 22 Mei 2013, secara khusus
menyoroti dampak korupsi terhadap sistem manajemen rumah sakit. Sistem
manajemen rumah sakit yang diharapkan untuk pengelolaan lebih baik menjadi
sulit dibangun. Apabila korupsi terjadi diberbagai level maka akan terjadi keadaan
sebagai berikut :
1) Organisasi rumah sakit menjadi lembaga yang mempunyai sisi bayangan yang
semakin gelap;
2) Ilmu manajemen yang diajarkan di pendidikan tinggi menjadi tidak relevan;
3) Direktur yang diangkat karena kolusif (misalnya harus membayar untuk
menjadi direktur) menjadi sulit menghargai ilmu manajemen;
4) Proses manajemen dan klinis di pelayanan juga cenderung akan tidak seperti
apa yang ada di buku teks.
Akhirnya, terjadi kematian ilmu manajemen apabila sebuah rumah/lembaga
kesehatan sudah dikuasai oleh kultur korupsi di sistem manajemen rumah sakit
maupun sistem penanganan klinis.
(Justiana, Sandri dkk. 2014).

2.5 Dampak Birokrasi Pemerintahan


Tindakan korupsi juga berpengaruh terhadap pemerintahan suatu Negara.
Tindak korupsi ini merusak tatanan yang ada dalam pemerintahan membuat
pemerintahan semakin tidak kondusif dan adanya perselisihan satu dengan yang
lain. Terdapat beberapa macam korupsi terhadap birokrasi pemerintahan, yaitu :
a. Matinya etika sosial politik
Korupsi bukan tindakan yang biasa melainkan dapat merusak aspek-aspek
kehidupan. Terjadi juga di dalam pemerintahan yaitu etika sosial dari para
penjabat pemerintahan yang sudah tidak menegakkan lagi kejujuran.
Melindungi para koruptor dengan indikasi ingin mendapatkan jabatan inilah
yang membuat etika sosial politik begitu buruk karena adanya tindak korupsi.

11
b. Tidak efektifnya peraturan dan perundang-undangan
Saat ini banyak orang yang tersangkut dengan masalah tetapi mereka slaing
menginginkan posisi yang benar. Dengan hal seperti itulah banyak orang
ingin memenangkan suatu perkara dengan cara menyuap hakim. Dengan
terjadinya tindakan seperti itu peraturan perundang-undangan yang berlaku
menjadi mandul karena dalam setiap perkara diselesaikan dengan tindakan
korupsi.
c. Birokrasi tidak efisien
Terdapat banyak sekali investor asing ingin menanamkan modal kepada
Indonesia tetapi untuk mendapat itu harus mendapatkan perizinan yang
berbelit-belit, yang pada akhirnya jalan yang dipilih adalah penyuapan untuk
memudahkan izin usaha mereka, hal seperti harusnya birokrasi di Indonesia
harus segera di benahi.
Upaya pemerintah mencanagkan clean government dalam upaya membrantas
korupsi di kalangan birokrasi pemerintahan, belum dapat menjamin
menanggulangi korupsi, berbagai jenis kebocoran keungan Negara masih saja
terjadi, berampak pelayanan public dapat terganggu.
Kebocoran keungan Negara yang paling besar di lingkungan lembaga Negara
adalah melalui kegiatan pengadaan barang dan jasa, lemahnya pengawasan,
dan kurangnya penerapan disiplin serta sanksi terhadap penyelenggara Negara
dalam melaksanakan tugas-tugas Negara berdampak birokrasi pemerintahan
yang buruk.
Sementara itu dampak korupsi yang menghambat berjalannya fungsi
pemerintah, sebagai pengampu kebijakan Negara dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1) Korupsi menghambat peran Negara dalam pengaturan alokasi
2) Korupsi menghambat Negara melakukan pemerataan akses dan asset
3) Korupsi juga memperlemah peran pemerintah dalam menjaga stabilitas
ekonomi dan politik.

12
dengan demikin suatu pemerintah yang terladan wabah korupsi akan
mengabaikan tuntutan pemerintah yang layak. Kehancuran birokrasi
pemerintah merupakan garda depan yang berhubungan dengan pelayanan
umum kepada masyarakat. Korupsi menumbuhkan ketidakefisien yang
menyeluruh di dalam birokrasi.
(Nugraheni, dkk. 2017)

13
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dampak korupsi menurut KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi merilis
sedikitnya ada jumlah dampak korupsi di Indonesia yang benar-bennar
merugikan bagi masyarakat dan Negara.
Korupsi merupakan salah satu dari sekian masalah yang mempunyai dampak
negatif terhadap perekonomian suatu negara, dan dapat berdampak merusak
sendi-sendi perekonomian negara. Korupsi dapat memperlemah investasi dan
pertumbuhan ekonomi (Mauro, 1995, dalam Pendidikan Anti Korupsi untuk
Perguruan Tinggi, 2011).
Korupsi berdampak merusak kehidupan sosial di dalam masyarakat, kekayaan
negara yang dikorup oleh sgelintir orang dapat menggoncang stabilitas ekonomi
negara, yang berdampak pada kemiskinan masyarakat dalam negara
Keberhasilan terhadap program-program kesehatan tidak ditentukan semata
halnya kuantitas dari program itu sendiri, namun sedikit anyaknya ditentukan
oleh berjalannya sistem yang ada melalui kebijakan-kebijakan yang telah
ditetapkan.
Tindakan korupsi juga berpengaruh terhadap pemerintahan suatu Negara.
Tindak korupsi ini merusak tatanan yang ada dalam pemerintahan membuat
pemerintahan semakin tidak kondusif dan adanya perselisihan satu dengan yang
lain.

3.2 Saran
Sebagai mahasiswa harus mampu mempelajari dan memahami pendidikan
anti budaya korupsi agar kelak tidak ada pelewenangan dalam bidang pelayanan
kesehatan maupun pelayanan masyarakat yang di berikan.

14
DAFTAR PUSTAKA
Syahroni, dkk. 2018. Korupsi, Bukan Budaya Tetapi Penyakit. Yogyakarta: CV Budi
Utama
Maharso dan Tomy Sujarwadi. 2018. Fenomena Korupsi Dari Sudut Pandang
Epidemiologi. Yogyakarta: CV Budi Utama
Nugraheni, dkk. 2017. Mahasiswa Pelopor Gerakan Antikorupsi. Yogyakarta: CV
Budi Utama
Priyono, Herry. 2018. Korupsi, Melacak Arti, Menyimak Implikasi. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama