Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEBIDANAN

ASFIKSIA NEONATORUM

Tugas Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Dokumentasi Kebidanan
Dosen Pembimbing : 1.Susanti Pratamaningtyas, SST,.M.Keb
2. Ira Titisari, S.SiT,.M.Kes

Disusun Oleh :
1. Yuliana Rahmawati
2. Eva Tiara Purnama Sari
3. Mashlachatul Mar’ah
4. Sahraen

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN KEDIRI
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan Karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat
beserta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad
SAW.
Penulisan makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata
kuliah Dokumentasi Kebidanan dalam perkuliahan Program Studi DIV Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Malang dengan judul “Laporan pendahuluan dan Asuhan
kebidanan Asfiksia Neonatorum”.
Dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, penulis banyak mendapatkan
hambatan dan kesulitan, tetapi karena bantuan dan saran dari berbagai pihak,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Untuk itu pada kesempatan
ini, penulis tidak lupa menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada :
1. Ibu Susanti Pratamaningtyas, M.Keb selaku Keprodi D-IV Kediri
Poltekkes Kemenkes Malang sekaligus dosen Dokumentasi kebidanan.
2. Ibu Ira Titisari,SSiT, M.Kes selaku Dosen Pembimbing 2 mata kuliah
Dokumentasi Kebidanan.
3. Orang tua dan teman – teman yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
4. Semua pihak yang telah membantu menyusun makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan.Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi
kesempurnaan makalah ini.Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
dan pembaca.

Kediri, 5 September 2018


Penulis

ii
Laporan Pendahuluan Neonatus Patologi

A. Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia


1. Definisi Asfiksia Neonatorum
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi baru lahir dilahirkan
tidak segera Bernafas spontan dan teratur setelah dilahirkan (JNPK-KR. 2008).
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas
spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan
CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba,
1998 : 319).
Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan pada bayi baru lahir yang
mengalami gagal nafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga
bayi tidak dapat memasukkan oksigen dan tidak dapat mengeluarkan zat asam
arang dari tubuhnya (Dewi, 2010 : 102).

2. Etiologi
Pada janin kegagalan pernafasan disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Gangguan sirkulasi dari ibu ke janin, diantaranya disebabkan oleh
beberapa hal sebagai berikut:
a. Gangguan aliran pada tali pusat, hal ini biasanya berhubungan
dengan adanya lilitan tali pusat, simpul pada tali pusat, tekanan
yang kuat pada tali pusat, ketuban telah pecah yang menyebabkan
tali pusat menumbung, dan kehamilan lebih bulan (post term).
b. Adanya pengaruh obat, misalnya pada tindakan SC yang
menggunakan narkosa.
2. Faktor dari ibu selama kehamilan meliputi:
a. Gangguan his, misalnya karena atonia uteri yang dapat
menyebabkan hipertoni
b. Adanya perdarahan pada plasenta previa dan solution plasenta
yang dapat menyebabkan turunnya tekanan darah secara
mendadak.

1
c. Vasokonstriksi arterial pada kasus hipertensi kehamilan dan pre
eklampsia dan eklampsia.
d. Kasus solution plasenta yang dapat menyebabkan gangguan
pertukaran gas (oksigen dan zat asam arang). (Dewi, 2010 : 103).
Towell (1996) mengajukan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi baru lahir
yaitu:
1. Faktor ibu
a. Hipoksia ibu, dapat terjadi karena hipoventilisasi akibat pemberian
obat analgetika atau anastesia dalam sehingga akan menimbulkan
hipoksia janin dengan segala akibatnya
b. Gangguan aliran darah uterus. Menguranginya aliran darah pada
uterus akan menyebabkan kekurangan pengaliran O2 ke plasenta
dan janin. Misalnya : gangguan kontraksi uterus (hiportemi,
hipotoni, tetani uterus akibat penyakit / obat), hipotensi mendadak
pada ibu akibat perdarahan, hipertensi akibat penyakit eklamsia.
2. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi
plasenta. Asfiksia janin atas terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada
plasenta, misalnya solusi plasenta, perdarahan plsenta dan plasenta previa.
3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam
pembuluh darah umbilicus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan
janin. Gangguan aliran darah ii dapat ditemukan pada keadaan tali pusat
menumbug, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan
jalan lahir
4. Faktor neonatus
Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir yang dapat terjadi beberapa
hal yaitu :
a. Pemakaian alat anastesi (analgetika yang berlebihan pada ibu)
b. Trauma yang terjadio pada persalinan (perdarahan intracranial)
c. Kelainan congenital pada bayi (hernia diafragmatika, atesi/stnosis
saluran pernafasan, hipoplasia). (Dewi, 2010 : 103)

2
3. Klasifikasi dan Tanda Gejala Klinis
Tanda dan gejala asfiksia neonatorum pada masing – masing klasifikasi berbeda,
diantaranya:
1. Asfiksia berat (nilai APGAR Score 0 – 3)
Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis, sehingga memerlukan
perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera. Tanda dan gejala yang muncul
pada asfiksia berat adalah sebagai berikut:
a. Frekuensi jantung lemah (< 40 kali permenit)
b. Tidak ada usaha nafas
c. Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada
d. Reflex terhadap rangsangan kurang bahkan tidak ada
e. Warna kulit bayi pucat atau kelabu
f. Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau sesudah persalinan

2. Asfiksia sedang (nilai APGAR Score 4 – 6)


Pada asfiksia sedang, tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut:
a. Frekuensi jantung menurun menjadi 60 – 100 kali per menit
b. Usaha nafas lambat
c. Tonus otot kurang baik
d. Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsang
e. Bayi tampak sianosis
f. Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses persalinan

3. Asfiksia ringan (nilai APGAR Score 7 – 10)


Pada asfiksia ringan tanda dan gejala yang sering muncul adalah sebagai
berikut :
a. Takipnea dengan nafas lebih dari 60 kali per menit
b. Bayi tampak sianosis
c. Adanya retraksi dada
d. Bayi merintih
e. Ada penafasan cuping hidung
f. Bayi kurang aktivitas

3
g. Dari pemeriksaan auskultasi diperoleh hasil ronchi, dan wheezing positif

Pada asfiksia tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardivaskuler yang


disebabkan oleh beberapa keadaan diantaraya:
a. Hilang sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung
b. Terjadinya asidosis metabolic akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan
termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan jantung
c. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap
tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah
mengalami gangguan

4. Penanganan Asfiksia
1. Prinsip dasar resusitasi ialah:
a. Memberi lingkungan yang baik pada bayi dan mengusahakan saluran
pernafasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernafasan
b. Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang menunjukkan
usaha nafas lemah
c. Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi
d. Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik.
2. Tindakan umum
a. Pengawasan suhu
Tidak membiarkan bayi kedinginan agar tidak memperoleh kondisi
asifiksia. Dapat dilakukan dengan pemakaian lampu yang cukup kuat untuk
pemanasan luar dan pengeringan tubuh bayi perlu dikerjakan untuk
mengurangi evaporasi.
b. Pembersihan jalan nafas
Pada saat pemberishna saluran nafas bagian atas dari lender dan cairan
amnion letak kepala harus lebih rendah untuk memudahkan dan
melancarkan keluarnya lender. Bila terdapat lender kental yang melekat
ditrakea dan sulit dikeluarkan dengan penghisapan biasa, dapat digunakan
laringoskop neonatal.
3. Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan

4
a. Sebagian besar dapat dilakukan dengan penghisapan lender dan cairan
amnion melalui nasofaring
b. Pengaliran O2 yang cepat kedalam mukosa hidung
c. Rangsangan nyeri dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki
bayi menekan tendom achilles
4. Tindakan khusus
a. Asfiksia berat (skor apgar 0-3);
1) Memperbaiki ventilasi paru dengan memberikan O2 dengan tekanan
dari intermiten / melakukan intubasi endotrakeal
2) Meletakkan Katter dalam trakea, O2 diberikan dengan tekanan tidak
lebih dari 30 cm H2O untuk mencegah kemungkinan terjadinya inflasi
paru berlebihan yang dapat menimbulkan rupture alvedi
3) Memberikan antibiotika profilaksi pada bayi yang mendapat tindakan
pemasangan kateter
4) Asfiksia yang disertai asidosis paru perlu diberikan bikar bonas natrikus
dengan dosis 2-4 mEg/kgbb atau larutan bikarbonas natrikus 7,5 %
ditambah dengan glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4 ,l/kgbb (kedua
obat ini disuntikan secara intravena dengan perlahan-lahan melalui
umbilikalis)
5) Jika setelah 3x inflasi tidak ada perbaikan pernafasan maka harus segera
masase jantung eksternal dengan frekuensi 80-100 x / menit.
Dilakukan dengan cara 1 kali ventilisasi tekanan diikuti oleh 3 kali
kompresi dinding toraks
b. Asfikisa sedang (skor apgar 4-6)
1) Melakukan stimulasi dalam waktu 30-60 detik bila tidak timbul
pernafasan spontan maka ventilisasi aktif harus segar dilakukan
2) Cara ventilisasi aktif yaitu dengan meletakkan kateter O2 intranasal dan
O2 dialirkan dengan aliran 1-2 1/menit
3) Memberikan posisi dorsoflkeis kepala pada bayi
4) Lakukan gerakan membuika dan menutup nares dan mulut secara
teratur disertai gerakan dagu keatas da ke bawah dalam frekuensi

5
20x/menit sambil memperhatikan gerakan dinding toraks dan
abdomen
5) Jika tidak ada hasil yang diperlihatkan oleh bayi maka lakukan
ventilisasi mulut ke mulut atau ventilisasi kantong masker. Ventilisasi
dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20 – 30 x/menit sambil
memperhatikan gerakan pernafasan spontan yang timbul. (Hasan,
1985: 1077)

Menurut APN (2008), setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa


BBL perlu resusitasi, maka tindakan harus segera dilakukan. Pemotongan tali
pusat dapat dilakukan diatas perut ibu atau di dekat perineum.
1. Pemotongan tali pusat diatas perut ibu
Bayi baru lahir segera diletakkan di atas kain yang ada di perut ibu
dengan posisi kepala sedikit ekstensi, kemudian diberikan selimut tetapi
bagian dada tetap terbuka. Kemudian klem dan potong tali pusat. Tali
pusat tidak usah diikat dulu, dan tidak dibungkus.
2. Pemotongan tali pusat di dekat perineum
Biasanya dilakukan jika tali pusat terlalu pendek, sehingga cara yang
memungkinkan setelah bbl dinilai tetapi sebelumnya bbl diletakkan
diatas kain di dekat perineum. Kemudian segera klem dan potong tali
pusat.
Jika setelah pemotongan tali pusat bayi tidak segera menangis atau bayi
mengalami asfiksia maka perlu dilakukan tindakan resusitasi sedini mungkin.
Langkah – langkah dalam melakukan resusitasi adalah sebagai berikut:
1. TAHAP AWAL
Pada tahap awal ini harus diselesaikan dalam waktu < 30 detik. Langkah
tersebut meliputi:
a. Jaga bayi agar tetap hangat
a) Letakkan bayi di atas kain ke 1 yang ada di atas perut ibu atau
sekitar 45 cm dari perineum
b) Selimuti bayi dengan kain tersebut, wajah, dada, dan perut tetap
terbuka, potong tali pusat

6
c) Pindahkan bayi yang telah diselimuti kain ke 1 ke atas kain ke 2
yang telah digelar di tempat resusitasi
d) Jaga bayi tetap diselimuti dengan wajah dan dada terbuka dan
dibawah pemancar panas
b. Atur posisi bayi
a) Baringkan bayi terlentang dengan kepala di dekat penolong
b) Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit
ekstensi dengan mengganjal bahu
c. Isap lendir
a) Isap lendir mulai dari mulut, kemudian dari hidung
b) Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada
waktu memasukkan
c) Jangan melakukan pengisapan terlalu dalam yaitu > 5 cm kedalam
mulut karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi
lambat atau bayi tiba – tiba berhenti bernafas. Untuk hidung jangan
sampai melewati cuping hidung
d. Keringkan dan berikan rangsangan taktil
e. Atur kembali posisi kepala bayi

Lakukan penilaian bayi


Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau
megap –megap.
a. Jika bayi bernapas normal: lakukan asuhan pascaresusitasi.
b. Jika bayi megap – megap atau tidak bernapas: mulai lakukan ventilasi
bayi.
2. TAHAP II : VENTILASI
Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah
volume udara ke dalam paru dengan tekanan positif, untuk membuka
alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan teratur.
Langkah – langkah:
a. Pasang sungkup
Pasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.

7
b. Ventilasi 2 kali
a) Lakukan tiupan atau remasan dengan tekanan 30 cm air.
Tiupan awal tabung dan sungkup atau remasan awal balon
dan sungkup penting untuk menguji apakah jalan napas bayi
terbuka dan membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai
bernapas.
b) Lihat apakah dada bayi mengembang
Saat melakukan tiupan atau remasan perhatikan apakah dada
bayi mengembang. Jika tidak mengembang:
 Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara
yang bocor.
 Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah menghidu.
 Periksa cairan atau lendir di mulut. Jika ada lendir atau
cairan lakukan penghisapan.
 Lakukan tiupan atau remasan 2 kali dengan tekanan 30
cm , jika dada mengembang lakukan tahap berikutnya.
c. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
a) Tiup tabung atau remas balon resusitasi sebanyak 20 kali
dalam 30 detik, dengan tekanan 20 cm air sampai bayi mulai
bernapas spontan atau menangis.
b) Pastikan dada mengembang saat dilakukan tiupan atau
peremasan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang napas.
→ Jika bayi mulai bernapas normal/tidak megap – megap dan
atau menangis, hentikan ventilasi bertahap.
 Lihat dada bawah apakah ada retraksi.
 Hitung frekuensi napas per menit.
→ Jika bernapas > 40 per menit dan tidak ada retraksi berat
:
 Jangan ventilasi lagi
 Letakkan bayi dengan kontak kulit bayi ke kulit
ibu pada dada ibu dan lanjutkan asuhan BBL

8
 Pantau setiap 15 menit untuk pernapasan dan
kehangatan.
Jangan tinggalkan bayi sendiri. Kemudian lakukan
asuhan pascaresusitasi.
→ Jika bayi megap – megap atau tidak bernapas, lanjutkan
ventilasi
d. Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian ulang
napas.
a) Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik ( dengan tekanan
20 cm air )
b) Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan
penilaian ulang bayi apakah bernapas, tidak bernapas atau
megap – megap:
→ Jika bayi mulai bernapas normal / tidak megap – megap
dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap,
kemudian lakukan asuhan pascaresusitasi.
→ Jika bayi megap – megap / tidak bernapas, teruskan
ventilasi 20 kali dalam 30 detik, kemudian lakukan
penilaian ulang napas setiap 30 detik.
e. Siapkan rujukan jika bayi belum bernapas spontan sesudah 2 menit
resusitasi.
a) Jelaskan kepada ibu apa yang terjadi, apa yang anda lakukan
dan mengapa
b) Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan
c) Teruskan ventilasi selama mempersiapkan rujukan
d) Catat keadaan bayi pada formulir rujukan dan rekam medik
persalinan
f. Lanjutkan ventilasi, nilai ulang napas dan nilai denyut jantung
a) Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik ( dengan tekanan
20 cm air )
b) Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian nilai ulang
napas dan nilai denyut jantung

9
→ Jika dipastikan denyut jantung bayi tidak terdengar,
lanjutkan ventilasi selama 10 menit. Hentikan resusitasi
jika denyut jantung tetap tidak terdengar, jelaskan
kepada ibu dan berilah dukungan kepadanya serta
lakukan pencatatan bayi yang mengalami henti jantung
10 menit kemungkinan besar mengalami kerusakan otak
yang permanen.

3. Tahap III: Asuhan pasca resusitasi


Setelah tindakan resusitasi, diperlukan asuhan pasca resusitasi yang
merupakan perawatan intensif selama 2 jam pertama. Asuhan yang
diberikan sesuai dengan hasil resusitasi (asuhan pasca resusitasi) yaitu:
a. Jika resusitasi berhasil
b. Jika perlu rujukan
c. Jika resusitasi tidak berhasil

Tindakan resusitasi BBL jika air ketuban bercampur mekonium


Apakah mekonium itu?
Mekonium adalah feses pertama dari BBL. Mekonium kental pekat dan berwarna
hijau kehitaman.

Kapan mekonium dikeluarkan?


Biasanya BBL mengeluarkan mekonium pertama kali sesudah persalinan (12 – 24
jam pertama). Kira-kira 15% kasus mekonium dikeluarkan sebelum persalinan
dan bercampur dengan air ketuban, hal ini menyebabkan cairan ketuban ebrwarna
kehijauan. Mekonium jarang dikeluarkan sebelum 34 minggu kehamilan. Bila
mekonium telah terlihat sebelum persalinan dan bayi pada posisi kepala, monitor
bayi dengan seksama karena ini merupakan tanda bahaya.

Apa yang menyebabkan janin mengeluarkan mekonium sebelum persalinan?


Tidak selalu jelas mengapa mekonium dikeluarkan sebelum persalinan. Kadang-
kadang janin tidak memperoleh oksigen yang cukup (gawat janin). Kekurangan

10
oksigen dapat meningkatkan gerakan usus dan membuat relaksasi otot anus
sehingga janin mengeluarkan mekonium. Bayi-bayi dengan risiko lebih tinggi
untuk gawat janin seringkali memiliki lebih sering pewarnaan air ketuban
bercampur mekonium (warna kehijauan), misalnya bayi kecil untuk masa
kehamilan (KMK) atau bayi post matur.

Apakah bahaya air ketuban bercampur mekonium?


Mekonium yang dikeluarkan dan bercampur air ketuban dapat masuk ke dalam
paru-paru janin di dalam rahim atau sewaktu bayi mulai bernapas saat lahir.
Tersedak mekonium dapat menyebabkan pneumonia dan mungkin kematian.

Apa yang dapat dilakukan untuk membantu seorang bayi bila terdapat air
ketuban bercampur mekonium?
Siap untuk melakukan resusitasi bayi apabila cairan ketuban bercampur
mekonium. Langkah-langkah tindakan resusitasi pada bayi baru lahir jika air
ketuban bercampur mekonium sama dengan pada bayi yang air ketubannya tidak
bercampur mekonium hanya berbeda pada:
→ Setelah seluruh badan bayi lahir: penilaian apakah bayi menangis/
bernapas/ bernapas normal/ megap-megap/ tidak bernapas?
 Jika menangis/ bernapas normal, klem dan potong tali pusat dengan
cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, lanjutkan dengan
langkah awal.
 Jika megap-megap atau tidak bernapas, buka mulut lebar, dan isap
lendir di mulut, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak
diikat dan tidak dibubuhi apapun, dilanjutkan dengan langkah awal.
Keterangan: Pemotongan tali pusat dapat merangsang pernapasan bayi,
apabila masih ada air ketuban dan mekonium di jalan napas, bayi bisa
tersedak (aspirasi).

5. Asuhan Pasca Resusitasi


Asuhan pasca resusitasi adalah pelayanan kesehatan pasca resusitasi yang
diberikan baik kepada BBL ataupun ibu dan keluarga. Berbicaralah dengan ibu

11
dan keluarga bayi tentang resusitasi yang telah dilakukan. Jawab setiap
pertanyaan yang diajukan.
Asuhan pasca resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan BBL setelah menerima
tindakan resusitasi dan dilakukan pada keadaan:
a. Resusitasi berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah menerima
tindakan sesudah ventilasi
b. Resusitasi belum/ kurang berhasil: bayi perlu rujukan yaitu sesudah
resusitasi 2 menit belum bernapas atau megap-megap atau pada
pemantauan didapatkan kondisinya memburuk
c. Resusitasi tidak berhasil: sesudah resusitasi 10 menit dihitung dari bayi
tidak bernapas dan detak jantung 0.

5.1 Resusitasi Berhasil


Ajari ibu atau keluarga untuk membantu bidan menilai keadaan bayi. Jelaskan
mengenai pemantauan BBL dan bagaimana memperoleh pertolongan segera bila
bayi mengalami masalah.

5.2 Pemantauan tanda-tanda bahaya pada bayi


a. Mengamati adanya napas megap-megap
b. Mengamati apakah bayi merintih
c. Mengamati adanya tarikan dinding dada
d. Mengamati apakah tubuh dan bibir biru
e. Mengamati apakah bayi teraba dingin/demam
f. Menghitung frekwensi napas, apakah <40X /menit atau > 60X /menit
g. Menghitung frekwensi jantung, apakah <120X /menit atau > 160X /menit
h. Mengamati apakah tubuh bayi pucat
i. Mengamati apakah tubuh bayi kuning
j. Mengamati apakah bayi lemas
k. Mengamati apakah bayi kejang
"Rujuk segera bila ada salah satu tanda-tanda bahaya di atas, sebelum
dirujuk lakukan tindakan pra rujukan."

12
5.3 Pemantauan dan perawatan tali pusat
a. Memantau perdarahan tali pusat, jika ikatan lepas betulkan oleh bidan
b. Menjelaskan perawatan tali pusat yang benar pada ibu dan atau keluarga

5.4 Jika napas bayi dan warna kulit normal


a. Meletakkan bayi di dada ibu (kulit ke kulit), menyelimutkan keduanya
b. Membantu ibu untuk menyusui bayinya dalam 1 jam pertama
c. Menganjurkan ibu untuk mengusap bayinya dengan kasih sayang

5.5 Pencegahan hipotermi


a. Membaringkan bayi dalam ruangan >250 C bersama ibunya
b. Mendekap bayi (kontak kulit bayi ke kulit ibu) sesering mungkin
c. Menunda memandikan bayi sampai dengan 6-24 jam dan bayi stabil
d. Menimbang berat badan terselimuti, kurangi berat selimut
e. Menjaga bayi tetap hangat selama pemeriksaan, buka selimut bayi
sebagian-sebagian.

5.6 Pemberian vitamin K1


a. Memberikan suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular di paha kiri, untuk
mencegah perdarahan BBL.

5.7 Pencegahan infeksi


a. Memberikan salep/ tetes mata antibiotika
b. Memberikan imunisasi Hepatitis B 0,5 ml intramuskular di paha kanan, 1
jam setelah pemberian vitamin K1
c. Memberitahu ibu dan keluarga cara pencegahan infeksi bayi.

5.8 Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik bayi pasca resusitasi harus lebih hati-hati. Pemeriksaan awal
diutamakan pada pemeriksaan pernapasan dan jantung dengan monitoring tanda
bahaya. Pemeriksaan lengkap sebaiknya dilakukan dalam 24 jam dan setelah bayi
stabil.

13
5.9 Pencatatan dan pelaporan
a. Melakukan pencatatan kasus
Sebagaimana pada setiap persalinan, isilah partograf secara lengkap yang
mencakup identitas ibu, riwayat kehamilan, jalannya persalinan, kondisi
ibu, kondisi janin dan kondisi BBL. Penting sekali dicatat denyut jantung
janin, oleh karena seringkali asfiksia bermula dari keadaan gawat janin
pada persalinan. Apabila didapatkan gawat janin tuliskan apa yang
dilakukan. Saat ketuban pecah perlu dicatat pada partograf dan berikan
penjelasan apakah air ketuban bercampur mekonium?
Kondisi BBL diisi pula pada partograf. Bila mengalami asfiksia selain
dicatat pada partograf perlu dibuat catatan khusus di buku harian/ buku
catatan, cukup ditulis tangan. Usahakan agar mencatat ketuban secara
lengkap dan jelas:
a) Nama ibu, tempat, tanggal melahirkan dan waktunya
b) Kondisi janin/ bayi:
 Apakah ada gawat janin sebelumnya?
 Apakah air ketuban bercampur mekonium?
 Apakah bayi menangis spontan, bernapas teratur, megap-
megap atau tidak bernapas?
 Apakah tonus otot baik?
c) Waktu mulai resusitasi
d) Langkah resusitasi yang dilakukan
e) Hasil resusitasi.

5.10 Asuhan Pasca Lahir


a. Lakukan asuhan bayi baru lahir lebih lanjut

5.11 Bayi Perlu Rujukan


a. Konseling:
a) Jelaskan kepada ibu dan keluarga, bahwa bayinya memerlukan
rujukan. Sebaiknya bayi dirujuk bersama ibunya dan didampingi
oleh bidan. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan

14
b) Minta keluarga untuk menyiapkan sarana transportasi secepatnya.
Suami atau salah seorang anggota keluarga perlu menemani selama
rujukan
c) Beritahukan kepada tempat rujukan yang dituju (bila mungkin)
tentang keadaan bayi dan perkirakan waktu tiba. Beritahukan juga
bila ibu baru saja melahirkan
d) Bawa alat resusitasi dan perlengkapan lain yang diperlukan selama
rujukan.
b. Melanjutkan resusitasi (bila diperlukan)
c. Memantau tanda bahaya
d. Memantau dan merawat tali pusat
e. Jika bayi tetap hangat selama perjalanan, kenakan tutup kepala bayi dan
bila mungkin lakukan perawatan bayi lekat
f. Memberikan vitamin K1 jika keadaan bayi membaik, tidak diresusitasi
g. Mencegah infeksi, yaitu memberikan salep/ tetes mata antibiotik, jika
tidak diresusitasi
h. Jelaskan kepada ibu bahwa sebaiknya menyusui segera kepada bayinya,
kecuali pada keadaan gangguan napas dan kontra indikasi lainnya
i. Membuat surat rujukan
j. Melakukan pencatatan dan pelaporan khusus.

5.12 Resusitasi Tidak Berhasil


Bila bayi tidak bernapas setelah resusitasi selama 10 menit dan denyut jantung 0,
pertimbangkan untuk menghentikan resusitasi. Biasanya bayi tersebut tidak
tertolong dan meninggal. Ibu maupun keluarga memerlukan banyak dukungan
moral. Bicaralah dengan keluarga secara hati-hati/ bijaksana dan berikan
dukungan moral sesuai budaya setempat.

Konseling
Dukungan moral:
a. Bicaralah dengan ibu bayi dan keluarga tentang tindakan resusitasi dan
kematian bayinya. Jawablah setiap pertanyaan yang diajukan. Berikan

15
asuhan terhadap ibu bayi dan keluarganya dengan tetap memperhatikan
nilai budaya/ kebiasaan setempat. Tunjukkan kepedulian atas kebutuhan
mereka. Bicarakan apa yang mereka inginkan terhadap bayi yang telah
meninggal
b. Ibu bayi mungkin merasa sedih bahkan menangis. Perubahan hormon
setelah kehamilan mungkin menyebabkan perasaan ibu sangat sensitif,
terlebih bayi meninggal. Bila ibu ingin mengungkapkannya, ajak bicara
dengan orang terdekat atau bidan
c. Jelaskan kepada ibu dan keluarganya bahwa ibu memerlukan istirahat,
dukungan moral dan makanan bergizi. Sebaiknya ibu tidak mulai bekerja
kembali dalam waktu terlalu cepat.

Asuhan ibu
Payudara ibu akan bengkak sekitar 2-3 hari. Mungkin ibu juga mengalami demam
selama 1 atau 2 hari. Ibu dapat mengatasi masalah pembengkakan payudara
dengan melakukan hal berikut:
a. Gunakan BH yang ketat atau balut payudara dengan sedikit tekanan
menggunakan selendang/ kemben/ kain sehingga ASI tidak keluar
b. Jangan memerah ASI atau merangsang payudara.

Pencatatan dan pelaporan


Buatlah pencatatan selengkapnya mengenai identitas ibu, kondisi bayi, semua
tindakan yang dilakukan secara rinci dan waktunya. Kemudian laporkan pula
bahwa resusitasi tidak berhasil dan sebab tidak berhasil. Laporkan kematian bayi
melalui RT/ RW ke Kelurahan. Simpanlah catatan baik-baik sebagai dokumen
untuk pertanggungan jawab.

6. Pencegahan Infeksi Akibat Resusitasi


Pencegahan infeksi menurut jenis alat resusitasi.
Berikut ini adalah beberapa contoh alat dan bahan habis pakai yang digunakan
dalam resusitasi dan cara pencegahan infeksinya.

16
a. Meja resusitasi
Basuh dengan larutan dekontaminasi dan kemudian cuci dengan sabun dan
air, dikeringkan dengan udara/ dingin.
b. Tabung resusitasi
Lakukan dekontaminasi, pencucian secara teratur misalnya setiap minggu,
tiap 2 minggu, atau setiap bulan tergantung frekuensi resusitasi. Selalu
lakukan ketiga langkah pencegahan infeksi kalau alat digunakan pada bayi
dengan infeksi. Pencegahan infeksi tabung/ balon resusitasi dilakukan
setiap habis digunakan. Pisahkan masing-masing bagian sebelum
melakukan pencegahan infeksi.
c. Sungkup silikon dan katup karet
Sungkup silikon dapat direbus. Lakukan ketiga langkah pencegahan
infeksi (dekontaminasi, pencucian dan DTT).
d. Alat penghisap atau sarung tangan yang dipakai ulang
Lakukan ketiga langkah pencegahan infeksi (dekontaminasi, pencucian
dan DTT)
e. Kain dan selimut
Lakukan dekontaminasi dan pencucian kemudian keringkan dengan angin/
udara atau sinar matahari kemudian simpan di tempat yang bersih dan
kering.
f. Bahan/ alat habis pakai
Lakukan dekontaminasi untuk bahan/ alat habis pakai seperti kasa, sarung
tangan, pipa kateter, jarum dan sebagainya selama 10 menit, sebelum
membuangnya ke tempat yang aman.

B. Sistem Rujukan
A. Definisi
Rujukan bayi baru lahir (neonatus) dapat diartikan sebagai :
a. Penyerahan tanggung jawab timbal balik mengenai perawatan bayi baru
lahir (neonatus) dari suatu unit kesehatan secara vertikal dan horizontal
pada unit kesehatan atau rumah sakit rujukan yang lebih mampu.

17
b. Melakukan alih rawat bayi baru lahir (neonatus) sakit dari rumah sakit
regional ke rumah sakit pusat rujukan secara terorganisir.
B. Rujukan Perinatal
Rujukan perinatal antar unit kesehatan adalah suatu langkah untuk
mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Pengenalan dan pendekatan
terhadap faktor-faktor resiko morbiditas dan mortalitas perinatal pada wanita
hamil, baik pada masa persalinan maupun masa neonatus (bayi baru lahir)
Harus dilakukan sesegera mungkin dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa
bayi. Sistem rujukan merupakan salah satu usaha yang dibuat untuk tindakan
penyelamatan terhadap bayi.
C. Tujuan Merujuk Neonatus
Berikut ini adalah beberapa tujuan dalam beberapa merujuk bayi baru lahir
(neonatus) yang sakit, yaitu:
a. Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dimana fasilitas dan tata
laksana asuhan kegawatdaruratan neonatus di tingkat regional/daerah
tidak tersedia.
b. Memberikan pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir yang sakit dengan
tepat dan cepat.
c. Menggunakan fasilitas kesehatan seefisien mungkin.
d. Mengadakan pembagian tugas pelayanan kesehatan pada unit kesehatan,
sesuai dengan lokasi dan kemampuan unit-unit tersebut.
D. Indikasi Neonatus Yang Dirujuk
1. Berat badan lahir rendah (BBLR) < 2500 gram
2. Gawat nafas (dietress pernafasan), RDS, aspirasi neonatal, pneumonia
neonatal dengan frekuensi pernafasan > 60x/menit, nafas cuping hidung
dan retraksi dada.
3. Sianosis, pucat
4. Hiperbilirubinemia
5. Gerakan abnormal (kejang,jittery)
6. Apnea dan / atau bradikardia
7. Hipotermia/hipertermia
8. Demam, sepsis

18
9. Refleks yang buruk (hipotonia/hipertonia-refleks hisap buruk)
10. Letargi
11. Tangisan lemah/melengking
12. Bayi dari ibu diabetes melitus
13. Trauma lahir
14. Kasus bedah: injuri kongenital, seperti penyakit Hirschprung, obstruksi
saluran cerna, omphalocele, dan lain-lain
E. Langkah-langkah Rujukan dalam Sistem Pelayanan Kebidanan
a. Menentukan tingkat kegawatdaruratan
b. Menentukan tempat rujukan (bersedia, lengkap dan terdekat)
c. Memberika KIE kepada keluarga tentang rujukan
d. Menginformasikan tempat rujukan yang dituju
a) Memberitahu bahwa ada pasien yang akan dirujuk
b) Meminta saran apa yang harus dilakukan selama persiapan dan
perjalanan ke tempat rujukan
e. Persiapan penderita (BAKSOKUDA)
f. Pengiriman penderita
g. Tindak lanjut penderita (dikembalikan atau tidak)
F. Sistem Rujukan Dan Transportasi
a. Perhatikan regionalisasi Rujukan Perinatal
b. Rujuk dengan cepat, aman dan benar
c. Puskesmas merupakan penyaring kasus risiko yang perlu dirujuk
sesuai dengan besaran risiko, jarak dan faktor lainnya
d. Memberi informasi dan melibatkan orangtua atau keluarga dalam
mengambil keputusan untuk merujuk
e. Melengkapi syarat- syarat rujukan ((persetujuan tindakan, surat
rujukan, catatan medis). Untuk kasus tertentu kadang diperlukan
sampel darah ibu.
f. Merujuk bayi dalam keadaan stabil,
g. Harus disertai dengan tenaga yang terampil melakukan Resusitasi
G. Data Dasar Yang Harus Diinformasikan
a. Identitas bayi dan tanggal lahir

19
b. Identitas orang tua
c. Riwayat kehamilan, persalinan dan prosesnya, tindakan resusitasi yang
dilakukan.
d. Obat yang dikonsumsi oleh ibu
e. Nilai Apgar (tidak selalu harus diinformasikan, bila tidak tersedia
waktu karena melakukan tindakan resusitasi aktif)
f. Masa Gestasi dan berat lahir.
g. Tanda vital (suhu, frekuensi jantung, pernapasan, warna kulit dan
aktif/tidak nya bayi)
h. Tindakan/prosedur klinik dan terapi lain yang sudah diberikan
i. Bila tersedia data pemeriksaan penunjang yang ada (glukosa, elektrolit,
dan lain-lain)
H. Syarat Untuk Melakukan Transportasi
a. Bayi dalam keadaan stabil:
a) Jalan napas bebas dan ventilasi adekuat.
b) Kulit dan bibir kemerahan
c) Frekuensi jantung 120-160 kali/menit
d) Suhu aksiler 36.5-370 C (97.7-98.60 F)
e) Masalah metabolik terkoreksi
f) Masalah spesifik penderita sudah dilakukan manajemen awal
b. Bayi harus dalam keadaan hangat
a) Membungkus atau menyelimuti bayi dengan kain yang kering,
hangat dan tebal
b) Membungkus kepala bayi atau memakai topi/tutup kepala
c) Jangan meletakkan bayi ditepi jendela atau pintu kendaraan
pengangkut
d) Kalau memungkinkan dapat pula dilakukan Perawatan Bayi
Melekat (Kangaroo Mother Care)
c. Kendaraan pengangkut juga harus dalam keadaan hangat
d. Didampingi oleh tenaga kesehatan yang trampil melakukan tindakan
resusitasi, minimal ventilasi
e. Tersedia peralatan dan obat yang dibutuhkan

20
I. Peralatan dan Obat yang diperlukan
a. Idealnya dengan menggunakan inkubator transpot dan dipasang
monitor. Berhubung alat tersebut sangat jarang tersedia di Puskesmas,
maka perhatikan cara menghangatkan bayi
b. Peralatan dan obat-obatan minimal yang harus tersedia:
a) Alat resusitasi lengkap, termasuk laringoskop dan pipa endotrakeal
b) Obat –obatan emergensi
c) Selimut penghangat
d) Alat untuk melakukan pemasangan jalur intra vena
e) Oksigen dalam tabung
c. Alat Resusitasi /bantuan ventilasi: selama transportasi
d. Indikasi bantuan ventilasi bila ada salah satu keadaan berikut:
a) Bradikardi (FJ < 100 x/menit)
b) Sianosis sentral dengan oksigen 100%
c) Apnea periodik

C. Komunikasi dan Konseling


Strategi Komunikasi Dalam Kesehatan
1. Kondisi:
a) Jelaskan kondisi klien yang memerlukan komunikasi yang akan anda
lakukan
b) Komunikasi dapat berupa interaksi bidan-klien, bidan-keluarga, bidan-
bidan, bidan-manejer, bidan/dokter/tim kesehatan lain, bidan-
administrator.
2. Masalah dan tujuan
a) Jelaskan masalah yang akan diatasi dan tujuannya
Misalnya: interaksi perawat/bidan, bidan-klien, dapat terkait dengan
diagnose dan tujuan tertentu.
3. Strategi komunikasi
Pada prinsipnya, satu paket interaksi terdiri atas pembukaan /orientasi, isi,
kerja, dan penutup/terminasi, yang dilakukan secara berkesinambungan.

21
Informed choice berarti membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan
tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya, pilihan (choice) harus dibedakan
dari persetujuan (concent). Persetujuan penting dari sudut pandang bidan, karena
itu berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua
prosedur yang dilakukan oleh bidan. Sedangkan pilihan (choice) lebih penting
dari sudut pandang wanita (pasien)sebagai konsumen penerima jasa asuhan
kebidanan.
Tujuannya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhannya. Peran bidan
tidak hanya membuat asuhan dalam manajemen asuhan kebidanan tetapi juga
menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhan dan keinginannya terpenuhi.
Hal ini sejalan dengan kode etik internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM
1993, bahwa bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan
penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab untuk hasil
dari pilihannya.

Informed concent bukan hal yang baru dalam bidang pelayanan kesehatan.
Informed concent telah diakui sebagai langkah yang paling penting untuk
mencegah terjadinya konflik dalam masalah etik.
Informed concent berasal dari dua kata, yaitu informed (telah mendapat
penjelasan atau keterangan atau informasi) dan concent (memberikan persetujuan
atau mengizinkan).
Informed concent adalah suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapatkan
informasi. Menurut Veronika Komalawati pengertian informed concent adalah
suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan
dokter terhadap dirinya setelah pasien mendapatkan informasi dari dokter
mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai
informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi

Dalam PERMENES no 585 tahun 1989 (pasal 1)


Informed concent diatfsirkan sebagai persetujuan tindakan medis adalah
persetujuan yang diberikan pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan
mengenai tindakan medik yang dilakukan terhadap pasien tersebut.

22
Konseling yang diberikan kepada orangtua/keluarga bayi dapat berupa
Komplikasi yang ditimbulkan Asfiksia Neonatorum
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh asfiksia neonatorum adalah:
a. Sembab otak
b. Perdarahan otak
c. Anoria atau oliguria
d. Hiperbilirubinemia
e. Obtruksi usus yang fungsional
f. Kejang sampai koma
g. Komplikasi akibat resusikasinya sendiri : pneumo thorak.

D. Pendokumentasian Asuhan pada Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia


Manajemen asuhan kebidanan atau sering disebut manajemen asuhan
kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis dan logis
dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik
klien maupun pemberi asuhan.
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan, keterampilan, dalam rangkaian tahap-
tahap yang logis untuk pengambiln suatu keputusan yang berfokus terhadap klien.

Langkah proses manajemen dan pendokumentasian kebidanan:

7 Langkah Varney

Subjektif
Mengumpulkan data
Objektif

Melakukan Interpetasi data dasar

Melakukan identifikasi diagnosis atau masalah


Assessment
potensial

23
Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera
atau masalah potensial

Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh

Melaksanakan perencanaan Planning

Evaluasi

Laporan Kasus

3.1. Skenario
Seorang perempuan 22 tahun baru melahirkan anak pertama di BPM segera
setelah lahir bayi menangis merintih, gerakan lemah. Ibu dipimpin meneran 1 jam,
warna ketuban hijau encer, usia kehamilan cukup bulan.

3.2. Pendokumentasian SOAP


S: By. Ny.M. menangis merintih.
Riwayat persalinan; bayi lahir tanggal 01 April 2016 pukul 09.00 WIB.
Riwayat obstetri; bayi lahir spontan dengan usia kehamilan aterm, menangis
merintih, gerakan lemah. Warna air ketuban hijau encer.
Riwayat kehamilan sekarang; HPHT 25 Juni 2015, mengalami morning sickness
diawal kehamilan, tidak menggunakan obat-obatan. Riwayat penyakit dan riwayat
yang diderita keluarga; tidak menderita penyakit jantung, hipertensi, diabetes,
kanker, tidak pernah operasi.

O: Keadaan Umum: Baik


BB/PB 3000 gram/49 cm, LK 34 cm, LD 32 cm
N 70x/menit, P 35x/menit, S 36,0ºC
Kepala; simetris, tidak ada kelainan
Mata; sklera tidak kuning dan konjungtiva tidak pucat
Telinga; simetris, tidak ada kotoran dan pengeluaran
Hidung; pernpasan cuping, tidak ada cairan dan benjolan

24
Mulut; ada sianosis pada bibir, tidak ada kelainan labioskisis atau
labiopalatoskisis
Leher; tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Dada; tidak ada retraksi (asfiksia sedang)
Abdomen; tidak ada kelainan
Tali pusat; tidak ada perdarahan
Kulit; terdapat sianosis central (bibir dan kulit ekstermitas)
Tulang punggung; tidak ada kelainan
Ekstermitas; sedikit tertekuk dan berwarna kebiruan
Genetalia; testis sudah turun
A: Bayi Baru Lahir cukup bulan sesuai massa kehamilan usia 1 jam dengan
asfiksia sedang.
Masalah; hipotermi.
Diagnosis potensial; asfiksia berat.

P:
1. Memberitahukan pada ibu/keluarga bayi, bahwa bayi mengalami asfiksia
sedang.
(Ibu dan keluarga mengerti)
2. Melakukan inform consent pada ibu/keluarga bayi bahwa akan dilakukan
tindakan resusitasi.
(Ibu setuju untuk dilakukan tindakan resusitasi kepada bayinya)
3. Menjaga bayi tetap hangat atau tempatkan bayi dalam runganan yang hangat.
(Bayi diselimuti dengan pakaian yang cukup hangat dan dibantu dengan lampu
sorot)
4. Mengatur posisi kepala bayi sedikit ekstensi.
(Kepala bayi telah diatur sedikit ekstensi)
5. Menghisap lender.
(Penghisapan lendir telah dilakukan)
6. Mengeringkan dan merangsang taktil.
(Bayi telah dikeringkan dan dirangsang taktil)
7. Mengatur kembali posisi kepala dan selimuti bayi.

25
(Kepala bayi telah diatur kembali dan diselimuti)
8. Melakukan penilaian pada bayi.
(Penilaian telah dilakukan; bayi telah bernapas teratur 48x/menit, warna kulit
kemerahan. Suhu 36,9ºC dan menganis kuat)
9. Menyerahkan bayi yang telah diselimuti kepada ibu untuk memulai pemberian
ASI.
(Dilakukan kontak kulit dengan kulit ibu-bayi dan bayi mau menyusu)
10. Melakukan asuhan bayi baru lahir lebih lanjut.
(Melakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut; pemberian salep mata, vitamin K1,
imunisasi Hepatitis B)
11. Memberi konseling kepada ibu atau keluarga bayi tentang cara menilai bayi,
pencegahan hipotermi, pencegahan infeksi dan cara memberikan ASI yang
benar.
(Ibu dan keluarga mengerti)
12. Mendokumentasikan semua asuhan.
(Telah didokumentasikan)

26
DAFTAR PUSTAKA

Vivian, Nani L.D. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba
Medika.
JNPK-KR. 2008. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Departemen
Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI. 2005. Manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir untuk Bidan:
Buku Panduan Pelatihan. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Maryunani, A.N. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan dan Penyulit pada Neonatus.
Jakarta: Trans Info Media.

27