Anda di halaman 1dari 3

Syarat Pemberi Kerja

Saat ini pamor outsourcing semakin tinggi, dikarenakan tingginya angka pencari kerja
yang tidak sebanding dengan kebutuhan tenaga kerja.

Outsourcing disatu sisi adalah solusi, namun disisi lain juga sebagai masalah.

Solusi bagi pencari kerja dalam mencari pekerjaan dan juga solusi bagi Perusahaan
untuk fokus kepada kekuatannya (core business)

Masalah bagi tenaga kerja karena relatif rentan untuk semena-menakan oleh
Perusahaan dan juga masalah bagi Perusahaan karena jika tidak dapat mengelola
dengan baik, outsourcing ini dapat menjadi blunder bagi Perusahaan.

Artikel hari ini saya ingin membahas tentang hal-hal mendasar terkait ketentuan tentang
outsourcing (alih daya).

Ada 3 point utama terkait tentang outsourcing, mari kita telaah bersama :

1. Penetapan Core dan Non Core

Menentukan proses Core dan Non Core di Perusahaan sangat penting dalam
pelaksanaan outsourcing.

Outsourcing hanya boleh diterapkan pada proses Non Core di Perusahaan.

Maksud dari Non Core adalah proses tersebut adalah proses / kegiatan penunjang dari
kegiatan utama, dimana kegiatan penunjang ini apabila tidak dilakukan, tidak
menghambat kegiatan utama secara langsung.

Agak sulit sebenarnya menentukan mana core mana non core, karena bisa saja ada
beda pandangan dari Pengusaha dan Pekerja.

Pemerintah pun telah mengantisipasi hal ini, sehingga ditetapkan bahwa penetapan
Core dan Non Core dilihat dari Alur Kegiatan Proses Pelaksanaan Pekerjaan (Business
Process) yang disahkan oleh Asosiasi.

Business Process ini yang menjadi acuan untuk melihat mana core dan mana non core
dalam Perusahaan.
2. Jenis Outsourcing

Outsourcing sendiri di Indonesia dikenal dalam dua bentuk, yakni Penyedia Jasa
Tenaga Kerja (Labor Supply) dan Pemborongan Pekerjaan.

Penyedia Jasa Tenaga Kerja / PJTK (Labor Supply)

Penyedia Jasa Tenaga Kerja / PJTK (Labor Supply) adalah suatu kegiatan penunjang
untuk menyediakan tenaga kerja pada posisi tertentu yang telah ditetapkan pemerintah.

Posisi yang dimaksud adalah :

a. Cleaning Service

b. Catering

c. Security

d. Jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan

e. Penyedia angkutan karyawan.

Output yang diberikan oleh perusahaan PJTK adalah jasa, bukan barang.

Satu hal yang harus diperhatikan, pada PJTK ini Perusahaan penerima pekerjaan tidak
boleh di-outsourcingkan kembali kepada perusahaan lain.

Selain itu, perusahaan PJTK ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berbadan hukum PT

b. Memiliki Tanda Daftar Perusahaan

c. Memiliki Izin Usaha

d. Memiliki bukti wajib lapor ketenagakerjaan

e. Memiliki Izin Opersional

f. Mempunyai kantor dan alamat tetap

g. Memiliki NPWK atas nama perusahaan.

Pemborongan Pekerjaan
Pemborongan Pekerjaan adalah suatu kegiatan penunjang yang memberikan output
berupa barang.

Pekerjaan yang diborongkan harus pekerjaan non core (kegiatan penunjang)

Sedangkan untuk persyaratan Perusahaan Pemborongan Pekerjaan harus :

a. Berbentuk Badan Hukum

b. Memiliki Tanda Daftar Perusahaan

c. Memiliki Izin Usaha, dan

d. Memiliki bukti wajib lapor ketenagakerjaan.

Hal penting yang harus dimiliki oleh Perusahaan pemberi kerja adalah Business
Process (Alur Pekerjaan) dan Bukti Lapor ke Disnaker.

Pada bukti lapor Disnaker ini akan terlihat proses apa saja yang termasuk non core
serta boleh di borongkan.

3. Sanksi-Sanksi

Apabila tidak menjalankan praktik outsourcing sesuai peraturan, maka ada sanksi yang
menunggu.

Sanksi-sanksi ini antara lain :

a. Tidak memiliki Bukti Lapor Kegiatan Penunjang ke Disnaker : Sanksinya Karyawan


OS menjadi Karyawan Pemberi Kerja

b. Meng-outsource-kan Core Process : Sanksinya Karyawan OS menjadi Karyawan


Pemberi Kerja

c. Perusahaan PJTK yang tidak mendaftarkan perjanjian bisnis dan tidak mencatatkan
PKWT : Sanksinya dicabut Izin Operasionalnya

d. Perusahaan Outsourcing tidak memenuhi ketentuan jaminan perlindungan kerja :


Sanksinya menjadi Karyawan Tetap Perusahaan Outsourcing.