Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sekarang ini energi listrik merupakan salah satu komponen yang penting
dalam kehidupan. Dalam keseharian masyarakat banyak sekali aspek kehidupan,
baik secara langsung maupun tidak langsung menggunakan energi listrik. Untuk
memenuhi kebutuhan energi listrik yang semakin meningkat dari waktu ke waktu,
dibutuhkan pembangkit tenaga listrik. Energi listrik dapat dibangkitkan dengan
berbagai cara, salah satunya memanfaatkan air.
Pembangkit listrik tenaga air adalah salah satu sumber energi listrik yang
memanfaatkan air sebagai sumber listrik. Keberadaannya mampu memenuhi
pasokan listrik masyarakat Indonesia selain yang berasal dari bahan bakar batu
bara. Pembangkit listrik tenaga air di Indonesia banyak dikembangkan, hal ini
karena persediaan air di Indonesia cukup melimpah. Keberadaan beberapa waduk
besar di Indonesia selain digunakan untuk penampungan air juga dimanfaatkan
untuk menjadi energi potensial.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan PLTA?
2. Apa saja kelebihan dan kekurangan penggunaan PLTA?
3. Bagaimana prinsip kerja dari PLTA?
4. Bagaimana pemanfaatan panas laut dalam energi listrik?

C. Tujuan
1. Dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan tentang PLTA.
2. Dapat mengetahui, memahami, dan menguasai tentang PLTA.
3. Dapat mengetahui adanya konversi energi panas laut (Ocean Themal Energy
Conversion atau OTEC).

1
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian PLTA
Pembangkit listrik tenaga air merupakan salah satu pembangkit listrik
yang memanfaatkan sumber energy air sebagai sumber energi utamanya. “Bahan
bakar untuk PLTU adalah batu bara. Berdasarkan pengertian yang sama, kita
dapat mengatakan bahwa bahan bakar PLTA adalah air.”(Dandakar dan Sharma,
1991:7). Sumber energi air merupakan sumber energy alternative yang dapat
diperbarui, karena air mengalir terus menerus mengisi ulang melalui siklus
hidrologi bumi. “Hidrologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berkaitan
dengan proses yang menyangkut masalah penyusutan dan penambahan sumber
tenaga air pada permukaan bumi untuk setiap tahapan keberadaannya.” (Dandakar
dan Sharma, 1991:16). Air yang bergerak dan mengalir akan menghasilkan
energi, energi tersebut bergantung pada volume aliran beda ketinggian. Energi
kinetik serta energi potensial dari aliran air sungai yang ditampung dalam waduk
akan dialirkan melalui kanal melewati turbin, yang kemudian akan menabrak
sudu-sudu pada turbin yang menyebabkan turbin berputar. Perputaran turbin akan
menghasilkan energi mekanik. Energi mekanik tersebut dapat membangkitkan
energi listrik dengan bantuan generator. Energi listrik yang berhasil dibangkitkan
oleh tenaga air tersebut dikenal dengan istilah hidroelektrik.
Pembangkit listrik tenaga air dapat diklasifikasikan menjadi delapan.
Klasifikasi dari pembangkit listrik tenaga air ini ditentukan terlebih dulu untuk
mengetahui karakteristik tipe pembangkit listrik, mengklasifikasikan sistem
pembangkit listrik perlu dilakukan terkait dengan system distribusi energy listrik.

“Klasifikasi dari pembangkit listrik dapat ditentukan dari berbagai


factor”(Eva, Suwanto, dan Ussy), yaitu sebagai berikut:
(1) Berdasarkan tinggi jatuh memiliki karakteristik yaitu rendah kurang dari 50
meter, menengah antara 50 meter dan 250 meter, tinggi lebih dari 250 meter.
(2) Tipe eksploitasi dan tampungan air memilih karakteristik yaitu dengan
regulasi aliran air (tipe waduk), tanpa regulasi aliran air (tipe run off river).

2
(3) Berdasarkan sistem pembawa air yang memiliki karakteristik yaitu sistem
bertekanan (pipa tekanan) dan sirkuit campuran (pipa tekan dan saluran).
(4) Penempatan rumah pembangkit yang karakteristiknya dibedakan menjadi 2
yaitu rumah pembangkit pada bendungan dan pada skema pengalihan.
(5) Berdasarkan metode konversi energi memiliki karakteristik yaitu pemakaian
turbin pemompaan dan pemakaian turbin terbalik.
(6) Tipe turbin memiliki karakteristik yaitu tipe turbin impuls, tipe turbin reaksi,
dan tipe turbin reversible.
(7) Berdasarkan kapasitas terpasang memiliki karakteristik yaitu mikro dengan
kapasitas terpasang kurang dari 100 kW, mini dengan kapasitas terpasang
antara 100 kW dan 500 kW, kecil antara 500 kW dan 10 MW.
(8) Berdasarkan debit desain turbin yang memiliki karakteristik yaitu mikro
dengan debit kurang dari 0,4 m3/detik, mini dengan debit antara 0,4 m3/detik
sampai 12,8 m3/detik, kecil dengan debit lebih dari 12,9 m3/detik.

B. Kelebihan dan kekurangan penggunaan PLTA


Pembangkit listrik tenaga air merupakan energi alternatif yang tidak akan
ada habisnya, sehingga energi ini memiliki banyak kelebihan.
 Kelebihan antara sebagai berikut:
1). PLTA tidak menimbulkan polusi udara. Hal ini sesuai dengan pendapat
“PLTU sekarang ini menghadapi masalah pembuangan limbahnya yang
berupa abu batu bara. Sedangkan PLTA tidak menghadapi masalah yang
serupa.” (Dandekar dan Sharma, 1991:7)
2). PLTA ini cukup murah karena menggunakan energi alam.
3). PLTA memiliki efisiensi umur yang panjang. Peralatan PLTA yang mutakhir,
umumnya memiliki peluang yang besar untuk bisa dioperasikan selama lebih
dari 50 tahun. Hal ini cukup bersaing jika dibandingkan dengan umur efektif
dari PLTN yang sekitar 30 tahun.
4). Menghemat pemakaian BBM. Bahan bakar untuk PLTA ini adalah air yang
sudah disediakan oleh alam.
5). Dapat mendorong masyarakat agar dapat menjaga kelestarian hutan sehingga
ketersediaan air terjamin.

3
6). Pengembangan PLTA dengan memanfaatkan arus sungai dapat menimbulkan
manfaat lain seperti misalnya pariwisata, perikanan, dan lain-lain. Sedangkan
jika diperlukan waduk untuk keperluan tersebut dapat dimanfaatkan pula
misalnya sebagai irigasi dan pengendalian banjir.

Pembangkit listrik tenaga air digadang-gadangkan mampu menyuplai


energi listrik hingga kepelosok daerah karena kebanyakan sumber air berada di
pedesaan. Namun hingga kini pembangkit listrik tenaga air kurang direalisasikan
karena memiliki kekurangan.

 Kekurangan PLTA ialah:


1). PLTA membutuhkan banyak biaya “ hampir semua PLTA merupakan proyek
padat modal sehingga laju pengembalian modal proyek PLTA adalah
rendah”. (Dandekar dan Sharma, 1991:8).
2). Masa persiapan suatu proyek PLTA pada umumnya memakan waktu yang
lama. Semenjak proyek berupa gagasan awal sampai dengan saat
pengoperasiannya, seringkali memakan waktu sekitar sepuluh sampai dengan
lima belas tahun.
3). Secara alamiah PLTA sangat tergantung pada aliran sungai. Sedangkan aliran
sungai tersebut sangat bervariasi, sehingga mempengaruhi kinerja
pembangkit listrik tenaga air.

C. Prinsip kerja PLTA


Pembangkit listrk tenaga air pada prinsipnya memanfaatkan beda
ketinggian dan jumlah debit air perdetik yang ada pada aliran air saluran irigasi,
sungai atau air terjun “pengembangan tenaga air yang mengalir tergantung
pertama-tama, pada volume aliran, dan kedua pada ketinggian yang mungkin
tersedia.” (Dandekar dan Sharma, 1991:16).
Pembangunan PLTA diawali dengan pembangunan bendungan untuk
mengatur aliran air yang digunakan sebagai tenaga penggerak PLTA. Bendungan
tersebut dapat berupa bendungan beton atau bendungan beronjong. “Bermacam-
macam bahan dari bangunan telah dipergunakan untuk bendungan, jumlah

4
terbesar merupakan bahan dari bumi , potongan, dan kepingan-kepingan dari batu-
batuan, pasangan batu, beton dan RCC.” (Dandekar dan Sharma, 1991:88).
Bendungan juga perlu dilengkapi dengan pintu air dan saringan sampah agar
mencegah masuknya endapan lumpur atau kotoran. Pembangunan bendungan
lebih baik didasar sungai yang stabil dana aman terhadap bencana banjir.
Pada daerah dekat bendungan dibangun intake (bangunan pengambilan).
Setelah itu dibuatkan saluran penghantar yang digunakan untuk mengalirkan air
dari intake. Saluran ini berupa saluran terbuka dan tertutup yang dilengkapi
dengan saluran pelimpah yang diujungnya dibangun kolam pengendap yang
berfungsi untuk mengendapkan pasir dan menyaring kotoran sehingga air masuk
ke turbin relative bersih pada setiap jarak tertentu. Terdapat pula kolam penenang
(forebay) juga dibangun untuk menenangkan aliran air yang akan masuk ke turbin
dan mengarahkannya masuk ke pipa pesat (penstok).
Pipa pesat terbuat dari pipa baja yang dirol yang digunakan untuk
mengalirkan air sebelum masuk ke turbin. Dalam pipa pesat, energi potensial air
dikolam penenang diubah menjadi energi kinetik yang akan memutar roda turbin.
Pipa ini harus didukung oleh pondasi yang mampu menahan beban statis dan
dinamisnya. Pondasi dan kedudukannya dibuat selurus mungkin karena itu perlu
dirancang sesuai dengan kondisi tanah. “Batang pipa ditanam dan diredam
dibawah tanah atau diletakkan diatas tanah dengan dukungan pondasi. Untuk
penanaman batang pipa dalam tanah, maka topografi tanah dan sisa kelebihan dari
pipa harus dipikirkan dengan baik.”(Dandeker dan Sharma, 1991:273).
Turbin, generator dan sistem kontrol masing-masing ditempatkan
dalam sebuah rumah yang terpisah. Tujuannya untuk menghindari masalah
akibat getaran. Rumah turbin harus dirancang sedemikian rupa agar memudahkan
perawatan dan pemeriksaan.
Setelah keluar dari pipa pesat, air akan memasuki pipa bagian inlet.
Didalamnya terdapat guidedvane untuk mengatur pembukaan dan penutupan
turbin serta mengatur jumlah air yang masuk ke runner atau blede (komponen
utama turbin). Runner tersebut terbuat dari baja dengan kekuatan tarik yang tinggi
yang dilas pada dua buah piringan sejajar. Aliran air akan memutar runner dan
menghasilkan energy kinetik yang akan memutar poros turbin. Energi yang timbul

5
akibat putaran poros kemudian ditransmisikan ke generator. Seluruh sistem ini
harus balance. Turbin perlu dilengkapi casing pada bagian bawah sebagai
pengunci turbin. Casing digunakan untuk mengarahkan air ke runner. Bantalan
(bearing) terdapat pada sebelah kiri dan kanan poros, yang digunakan untuk
menyangga poros, agar dapat berputar dengan lancar. Daya poros dari turbin harus
ditransmisikan ke generator agar dapat dirubah menjadi energy listrik. “Turbin-
turbin hidrolik, berhubungan erat dengan generator, fungsi utamanya adalah
mengubah energi air menjadi energi listrik. Air mengalir melalui turbin, memberi
tenaga pada penggerak (runner) dari turbin dan membuatnya berputar.” (Dandekar
dan shamar, 1991:391). Energi listrik dari generator diatur dan ditransfer oleh
main transformator agar sesuai dengan kapasitas transmission line (tegangan
daya). Setelah itu energi listrik yang dihasilkan dapat langsung ditransmisikan
buat kabel pada tiang-tiang listrik menuju rumah-rumah konsumen.

D. Pemanfaatan panas laut dalam energi listrik


Ide pemanfaatan energi dari laut yang terakhir bersumber dari adanya
perbedaan temperatur di dalam laut. Jika anda pernah berenang di laut dan
menyelam ke bawah permukaannya, anda tentu menyadari bahwa semakin dalam
di bawah permukaan, airnya akan semakin dingin. Temperatur di permukaan laut
lebih hangat karena panas dari sinar matahari diserap sebagian oleh permukaan
laut. Tapi di bawah permukaan, temperatur akan turun dengan cukup drastis.
Inilah sebabnya mengapa penyelam menggunakan pakaian khusus selam ketika
menyelam jauh ke dasar laut. Pakaian khusus tersebut dapat menangkap panas
tubuh sehingga menjaga mereka tetap hangat.

Pembangkit listrik dapat memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut


untuk menghasilkan energi. Pemanfaatan sumber energi jenis ini disebut dengan
konversi energi panas laut (Ocean Themal Energy Conversion atau OTEC).
Perbedaan temperatur antara permukaan yang hangat dengan air laut dalam yang
dingin dibutuhkan minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit (25°C) agar dapat
dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan baik. Adapun proyek-proyek
demonstrasi dari OTEC sudah terdapat di Jepang, India, dan Hawaii.

6
Berdasarkan siklus yang digunakan, OTEC dapat dibedakan menjadi tiga
macam:
1). Siklus tertutup
2). Siklus terbuka, dan
3). Siklus gabungan (hybrid).
Pada alat OTEC dengan siklus tertutup, air laut permukaan yang hangat
dimasukkan ke dalam alat penukar panas untuk menguapkan fluida yang mudah
menguap seperti misalnya amonia. Uap amonia akan memutar turbin yang
menggerakkan generator. Uap amonia keluaran turbin selanjutnya dikondensasi
dengan air laut yang lebih dingin dan dikembalikan untuk diuapkan kembali.
Pada siklus terbuka, air laut permukaan yang hangat langsung diuapkan
pada ruang khusus bertekanan rendah. Kukus yang dihasilkan digunakan sebagai
fluida penggerak turbin bertekanan rendah. Kukus keluaran turbin selanjutnya
dikondensasi dengan air laut yang lebih dingin dan sebagai hasilnya diperoleh air
desalinasi.
Pada siklus gabungan, air laut yang hangat masuk ke dalam ruang vakum
untuk diuapkan dalam sekejap (flash-evaporated) menjadi kukus (seperti siklus
terbuka). Kukus tersebut kemudian menguapkan fluida kerja yang memutar turbin
(seperti siklus tertutup). Selanjutnya kukus kembali dikondensasi menjadi air
desalinasi.
Fluida kerja yang populer digunakan adalah amonia karena tersedia dalam
jumlah besar, murah, dan mudah ditransportasikan. Namun, amonia beracun dan
mudah terbakar. Senyawa seperti CFC dan HCFC juga merupakan pilihan yang
baik, sayangnya menimbulkan efek penipisan lapisan ozon. Hidrokarbon juga
dapat digunakan, akan tetapi menjadi tidak ekonomis karena menjadikan OTEC
sulit bersaing dengan pemanfaatan hidrokarbon secara langsung. Selain itu, yang
juga perlu diperhatikan adalah ukuran pembangkit listrik OTEC bergantung pada
tekanan uap dari fluida kerja yang digunakan. Semakin tinggi tekanan uapnya
maka semakin kecil ukuran turbin dan alat penukar panas yang dibutuhkan,
sementara ukuran tebal pipa dan alat penukar panas bertambah untuk menahan
tingginya tekanan terutama pada bagian evaporator.

7
Secara ringkas, kekurangan dan kelebihan dari OTEC yaitu:
 Kelebihan:
 Tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya.
 Tidak membutuhkan bahan bakar.
 Biaya operasi rendah.
 Produksi listrik stabil.
 Dapat dikombinasikan dengan fungsi lainnya: menghasilkan air pendingin,
produksi air minum, suplai air untuk aquaculture, ekstraksi mineral, dan
produksi hidrogen secara elektrolisis.

 Kekurangan:
 Belum ada analisa mengenai dampaknya terhadap lingkungan.
 Jika menggunakan amonia sebagai bahan yang diuapkan menimbulkan
potensi bahaya kebocoran.
 Efisiensi total masih rendah sekitar 1%-3%.
 Biaya pembangunan tidak murah.

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Pembangkit listrik tenaga air adalah pusat pembangkit tenaga listrik yang
mengubah energi potensial air (energi gravitasi air) menjadi energi listrik.
2. Konsep kerja pembangkit listrik tenaga air menggunakan tenaga yang dimiliki
oleh air untuk dapat beroperasi.
3. Cara kerja PLTA dengan cara mengubah energi potensial (dari DAM atau air
terjun) menjadi energi mekanik menjadi energi listrik (dengan bantuan
generator).
4. Komponen-komponen dasar PLTA berupa DAM, turbin, generator, dan
transmisi.
5. PLTA memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan PLTA adalah cukup
murah karena menggunakan energi alam. Namun hingga saat ini PLTA belum
dapat direalisasikan karena biaya pembangunan PLTA yang mahal, karena
tempat sumber air berada dipelosok daerah.
Selain PLTA, Ide pemanfaatan energi dari laut yang terakhir bersumber
dari adanya perbedaan temperatur di dalam laut. Pembangkit listrik dapat
memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut untuk menghasilkan energi.
Pemanfaatan sumber energi jenis ini disebut dengan konversi energi panas laut
(Ocean Themal Energy Conversion atau OTEC).

B. Saran
Saran yang dapat diberikan pada pembahasan ini adalah agar indonesia
dapat lebih memanfaatkan energi air, sehingga dapat menjadi sumber energi
alternatif untuk pembangkit listrik masa depan.