Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAGAIMANA ISLAM MENGHADAPI TANTANGAN


MODERNISASI

-------------------
-----

DI SUSUN OLEH :

NAMA : INDA MAGGFIRAH

STAMBUK : D 101 18 518

KELAS : A- BTE 01

FAKULTAS HUKUM

UNVERSITA TADULAKO
2018
BAGAIMANA ISLAM MENGHADAPI TANTANGAN MODERNISASI

A. MEMAHAMI KONSEP ISLAM TENTANG IPTEK, EKONOMI, POLITIK,


SOSIAL BUDAYA DAN PENIDIKAN
1. Bagaimana pandangan islam tentang iptek?
Seiring engan perkembangannya zaman, kehidupan manusia juga mengalami
perkembangan dan mengalami perubahan positif dan perubahan negatif. Hal
itupun tidak lepas dari peranan dan keberadaan iptek dalam kehidupan.

Ilmu Pegetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan salah satu faktor penunjang
kemajuan. Iptek dapat membawa ampak positif bagi kemajuan dan kesejahteraan
bagi manusia. Dunia menjadi kecil. Semua pekerjan rutin bisa di selesaikan
dengan cepat. Sebaiknya iptek juga dapat membaa dampak negatif berupa
ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungan yang
berakibat kepada kerusakan an kehancuran. Di lain sisi iptek tidak selalu dapat
membuat manusia menjadi lebih bahagia. Terkadang manusia bisa menjadi miskin
terhadap perasaan kemanusiaannya sendiri karena mengagungkan iptek. Agar
iptek dapat berdampak secara positif dan terhindar dari dampak negatif maka
sangat di perlukan agama atau iman orang-orang yang memanfaatkan iptek
tersebut karena tak jarang pula prinsip-prinsip dalam agama di langgar atas nama
iptek. Iptek atau ilmu pengetahuan dan teknologi, merupakan salah satu hal yang
tidak dapat kita lepaskan dalam kehidupan kita karena memang manusia
membutuhkannya. Manusia dianugrahi dengan akal pikiran. Dengan akal pikiran
tersebutlah, kita selalu akan berinteraksi dengan ilmu. Akal yang baik dan benar,
akan terisi dengan ilmu-ilmu yang baik pula. Sedangkan teknologi, dapat kita
gunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan berkembang. Justru islam
sangat mendukung umatnya untuk kemajuan sains dan teknologi yang
memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia.
Islam dan ilmu pengetahuan selalu masih mendapat pandangan dikotomis.
Kebanyakan dari kita selalu memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Kebanyakan menganggap bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan adalah
sesuatu yang tidak memiliki hubungan satu sama lain.
2. Bagaimana pandangan islam tentang ekonomi?
Segala bentuk transaksi, yang berkaitan produksi,distribusi, dan pemasaran barang
dan jasa yang mendatangkan keuntungan finansial itu, merupakan kegiatan
ekonomi. Menurut AM Saefudin (1997) ada enam pokok perekonomian.
1. Barang dan jasa yang di produksi
2. Sistem produksi yang akan di gunakan untuk menghasilkan barang dan jasa
tersebut.
3. Sistem distribusi yang berlaku di antara para pelaku ekonomi.
4. Efisiensi dalam penggunaan faktor-faktor produksi
5. Antisipasi terhadap fluktuasi pasar, mulai dari inflasi, resesi, depresi dan lain-
lain
6. Ikhtiar manajemen produksi dan distribusi agar efisien.

Prinsip ekonomi konvensional berbeda dengan prinsip ekonomi islam.


Ekonomi konvensional berprinsip “ berkorban ekonomi tersebut di
pergunakan oleh pedagang dan pengusaha semata-mata untuk mencari
keuntungan. Dengan modal seadanya, pedagang dan pengusaha berusaha
memenuhi kebutuhan secara maksimal.

Dalam islam, ekonomi ialah berkorban secara tidak kikir dan tidak boros
dalam rangka mendapatkan keuntungan yang layak. Dengan demikian,
pengorbanan tidak boleh sekecil-kecilnya ataupen tentu saja, melainkan
pengerbonan yang tepat harus sesuai dengan keperluan yang sesunguhnya
sehingga mutu produksi dapat terjamin. Demekian pula, keuntungan tidak
perlu di kejar sebesar-besarnya; atau dengan alat sekecil-kecilnya pedagang
dan pengusaha berusaha memenuhi kebutuha secara maksimal .
Dalam islam ekonomi ialah berkorban secara tidak kikir dan tidak boros dalam
rangka mendapatkan keuntungan yang layak. Dengan demikian, pengorbanan
tidak boleh sekecil-kecilnya ataupun tertentu saja, melainkan pengorbanan
yang tepat harus sesuai dengan keperluan yang sesungguhnya sehingga mutu
produksi dapat terjamin. Demikian pula, keuntungan tidak perlu di kejar
sebesar-besarnya dan tidak perlu melewati batas. Jadi, keuntungan monopoli
di larang dalam islam. Oleh karena itu, keuntungan harus sewajarnya dan tidak
merugikan orang lain.
Kekuatan ekonomi sangat berpengaruh terhadap eksistensi dan bangsa yang
wibawa suatau bangsa. Bangsa yang ekonominya kuat, akan menjadi bangsa
yang berwibawa di hadapan bangsa-bangsa lain. Dengan ekonomi yang kuat
dan stabil, satu negara dapat membantu negara lain, memajukan negara lain,
dan mempunyai daya tawar politik terhadap negara lainnya. Setelah perang
dingin antara blok timur dan blok barat berakhir, maka kriteria negara kuat
beralih dari ukuran kuat secara militer ke ukuran kuat secara ekonomi. Sebuah
negara di pandang kuat, bukan karena kekuatan ekonominya. Sebaliknya
negara itu di angap lemah, manakala ekonominya tidak maju, tidak stabil, dan
tidak kuat, meskipun misalnya , secara militer kuat.

3. Bagaimana pandangan islam tentang politik?


Politik yang dalam term islam di sebut siyasah, merupakan bagian integrasi (tak
tepisah) dan fikih islam. Salah satu objek kajian fikih islam adalah siyasah atau
disebut fikih politik. Fikih politik secara global membahas masalah-masalah
ketatanegaraan (siyasah dustruriyyah), hukum internasional (siyasah dauliyyah),
dan hukum yang mengatur politik keuangan negara (siyasah maliyyah).

a) siyasah dustruriyah (hukum tata negara). Meteri yang di kaji tentang cara
dan metode sukses kepemimpinan , kriteria seorang pemimpin, hukum
mewujudkan kepemimpinan politik, pembagian kekuasaan (eksekutif,
legislatif dan yudikatif), institusi pertahanan keamanan, institusi
penegakan hukum (kepolisian) dan lain-lainnya.
b) Siyasah dauliyyah (hukum politik yang mengatur hubungan internasional).
Objek kajiannya adalah hubungan antar-negara islam dengan sesama
negara islam, hubungan negara islam dengan negara non-muslim,
hubungan nilateral dan multilateral, hukum perang dan damai, genjatan
senjata, hukum kejahatan perang dan lain-lain.
c) Siyasah maliyah (hukum politik yang mengatur keuangan negara).
Kontens yang dibahas adalah sumber-sumber keuangan negara, distribusi
keuangan negara, perencanaan anggaran negara dan penggunaannya,
pengawasan dan pertanggung jawaban penggunaan keuangan negaradan
pilantropi islam.

Kesalapahaman terhadap islam sering muncul dari rana politik. Tidak


sedikit orang menilai bahwa islam disebarkan tiada lain dengan politik
kekerasan bukan dengan jalan dakwah dan kultural. Perang, jihad, negara
islam disalahpahami sebagai metedologi dan tujuan akhir.

4. Bagaimana pandangan islam tentang pendidikan?


Pendidikan dalam islam bertujuan memanusiakan manusia. Ini berarti, tujuan
pendidikan adalah menjadikan manusia sadar atas eksistensi dirinya sebagai
manusia hamba Allah yang bertugas sebagai ‘Abdullah dan berfungsi sebagai
khalifatullah. Sebagai ‘Abdullah ia wajib beribadah hanya kepada Allah (QS Adz-
Dzariat/51:56), dan sebagai khalifatullah ia harus membangun peradaban yang
maju dibumi Allah (QS Al-Mu’minun/23; 51-53, dan QS At-Taubah /9;105).
Modal dasar agar manusia dapat memfungsikan dirinya sebagai khalifatullah
adalah iman, ilmu dan alam.(QS Yunus /10: 62, dan QS Ali Imran/3: 110). Tidak
mungkin peradaban dibangun diatas dasar kebodohan. Itulah sebabnya menguasai
ilmu menjadi wajib hukumnya bagi setiap muslim (QS Al-mu’minun/23: 12-14,
dan QS At-Taubah/9: 122).
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan pendidikan dalam
islam adalah merealisasikan ubudiah kepada Allah baik secara individu maupun
masyarakat dan mengimplementasikan khilafah dalam kehidupan untuk kemajuan
umat manusia.Untuk mewujudkan tujuan luhur tersebut, menurut An-Nahwali.
Islam mengemukakan tiga metode yaitu:
1. Paedagogis psikologis yang lahir dalam dirinya. Pendorongnya adalah
rasa khauf dan cinta kepada Allah, serta ketaatan untuk melaksanakan
syariat-nya karena ingin menhindarkan kemakmuran dan Azab-Nya serta
mendapat pahala-Nya.
2. Saling mensehati antar-individu dan masyarakat agar menepati kebenaran
dan menetapi kesabaran. Masyarakat, yang cinta kepada syariat Allah dan
segala kehormatannya, tidak akan pernah memberikan kemungkaran dan
tidak akan pernah membenarkan pengabaian salah satu pokok-pokok
ajaran islam sperti shalat, zakat, puasa, haji dan jihad.
3. Menggunakan jalur kekuasaan untuk mengamankan hukum bagi
masyarakat muslim sehingga keamanan berjalan stabil dan masyarakat
menikmati keadilan hukum.

Ketiga metode tersebut saling mendukung dalam merealisasikan nilai-nilai


islam didalam kehidupan individu da masyarakat kehiupan serupa ini, oleh
An-Nahlawi dinyatakan akan lebih mungkin mencapai kesempurnaan,
kemajuan budaya, kesengan, kegotong-royongan, ketentraman, dan
istikomah.

Tujuan pendidikan dikatakan berhasil manakala proses pendidikan dilakukan


dengan cara yang benar secara Qurani dan menyentuh ketiga rana yang ada
dalam diri manusia yaitu akal, hati, dan jasmani. Menurut ibnu Sina manusia
terdiri dari dua unsur. Pertama, al-jism artinya jasmani manusia.dalam bahasa
sebelumnya disebut manusia sebagai makhluk biologis atau dapat disebut
mahluk jasmani.kedua an-nafs.An-nafsmempunyai dua daya,yaitu daya
untuk berpikir namanya al-‘aql,berpusat di kepala,dan daya untuk merasa
namanya al-Qalb,berpusat dihati,pendidikan yang benar harus menyentuh
ketiga aspek tesebut sehingga munculah istilah at-Tarbiyah al-Aqliyyah
melahirkan kecerdasan intelektual,at-Tarbiyyah al-Qalbiyyah (pendidikan
hati) melahirkan kecerdasan spiritual dan emosional,dan at-Tarbiyah al-
jasmaniyah artinya pendidikan jasmanimelahirkan kesehatan jasmani.Dalam
pribahasa bahasa arab di sebut bahwa “akal yang sehat terdapat dalam
jasmani yang sehat”pernyataan tersebut menunjukan betapa ketiga aspek
tersebut saling mendukung dan saling melengkapi,tidak bisa bekerja sendiri-
sendiri pendidikan harus menyentuh tiga ranah tersebut yakni akal,hati dan
fisik.

Jika akal saja yg didik dan hati diabaikan,maka akan lahir manusia cerdas
secara intelektual,tetapi tidak mempunyai hati,alias tidak memiliki moral
religius.Sebaliknya,jika hatinya saja yang dididik,tentu akan lahir manusia
berkarakterdan bermoral,tetapi miskin secara intelektual.Demikian juga,kalau
hanya jasmani yang didik,maka akan lahir manusia superman secara
fisik,tetapi miskin secara intelektual dan spiritual.Jika ketiga ranah yang
didik,maka akan lahir insan kamil(manusia paripurna).Harus anda pahami
bahwa pendidikan Quranipasti benar secara ilmiah.Sebaliknya ,p-endidikan
yang benar secara ilmiah,akan benar pula secara Qurani.Antara keduanya
tidak boleh bertantangan.

B. MENGAPA DIPERLUKAN PERSPEKTIF ISLAM DALAM IMPLEMENTASI


IPTEK , EKONOMI , POLITIK , SOSIAL-BUDAYA DAN PENDIDIKAN?

Dalam Iptek maupun seni tidak bebas nilai jika pada Iptek baik secara ontologis ,
epitemologis maupun aksiologis , lalu jika pada seni yang hakikatnya adalah ekspresi
jiwa yang suci . Kesucian jiwa menghasilkan karya seni yang jernih suci dan indah .
Seni adalah sarana kembali kepada Tuhan . Dalam ekonomi masih banyak berlaku
ekonomi masyarakat isam yang belum tentu islam salah satu contohnya adalah RIBA
, yaitu :

1. Riba qardh adalah Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang
disyaratkanterhadap yang berutang (muqtaridh)
2. Riba Jāhiliyah adalah utang dibayar lebih dari pokokknya karena si peminjam
tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.
3. Riba Nasī`ah. Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi
yangdipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya
4. Riba dalam nasī`ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau
tambahan antara yang diserahkan satu waktu dan yang diserahkan waktu berbeda .

Lanjut dalam masalah politik berbicara soal negara ini yaitu Negara Kesatuan
Republik Indonesia memang bukan Negara islam tetapi juga bukan Negara sekuler .
Ketika ingin menduduki atau telah menduduki suatu jabatan yang telah di amanahkan
harus dijalankan dengan penuh amanah tanpa menghalalkan segala cara yang
diharamkan . Berbicara pendidikan , berarti berbicara arah kemajuan bangsa ini pada
masa mendatang . Jika landasan pendidikan kita tidak sesuai dengan arah dasar
bangsa ini , maka membiarkan pada masa depan akan terjadi pengkhianatan terhadap
konstitusi . Oleh sebab itu , landasan dan arah pendidikan kita tidak boleh lepas dari
nilai ilahiah karena ia merupakan amanat undang – undang dan wujud denyut nadi
dan nafas bangsa Indonesia yang sangat religious .
C. MENGGALI SUMBER HISTORIS , SOSIOLOGIS DAN FILOSIFIS
TENTANG KONSEP ISLAM MENGENAI IPTEK , POLITIK , SOSIAL –
BUDAYA DAN PENDIDIKAN

Kemajuan dalam pendidikan dan penguasaan Iptek berimplikasi terhadap kemajuan


politik , ekonomi , dan budaya . Hal ini secara historis dapat dilacak ketika dunia
islam unggul dalam Iptek . Pada masa keemasan islam , kekuasaan politik umat islam
semakin kuat dengan ekspansinya ke berbagai wilayah dan penguasaan dalam politik
ini membawa kemajuan dalam kehidupan ekonomi umat islam saat itu . Kesejahteraan
yang merata juga mendorong kemajuan umat islam dalam penguasaan Iptek .
Akibatnya , dunia islam menjadi semakin kuat secara politik dan ekonomi yang
didasari penguasaan terhadap Iptek secara sempurnah pada saat itu . Zaman
keemasan islam itu terjadi pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah yang berpusat di
Damaskus, Syria ( dan kemudian berkembang pula di Spanyol ) serta zaman
kekuasaan Dinasti Abbasiyyah yang berpusat di Banghdad, Irak .

Akar-akar kemajuan yang dicapai umat islam memang telah diletakkan dasar-
dasarnya oleh Rasulullah . Beliau mengajarkan kepada para sahabat bahwa menguasai
ilmu itu wajib .Kewajiban yang tidak memedakan laki-laki dan permpuan . Kalau
perlu , menurut Nabi Muahammad SAW , kita belajar untuk dapat menguasai ilmu ,
meskipun harus pergi ke negeri cina . Secara teologis Allah telah menetapkan bahwa
yang akan mendapat kemajuan pada masa adalah bangsa yang menguasai ilmu
pengetahuan yang dilandasi dengan iman . Dalam sejarah , kita dapat menyaksikan
kemajuan Iptek umat islam yang membawa kemajuan bagi umat islam dalam bidang
ekonomi , politik , budaya dan pendidikan . Umat islam makmur secara materi dan
rohani , juga makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran .Dalam realitas
sekarang dapat dilihat , bangsa-bangsa muslim tertinggal dalam Iptek sehingga yang
menguasai dunia secara ekonom , politik , dan budaya adalah bukan bangsa muslim .
Mereka maju karena Iptek walaupun sebagian besar mereka tidak memiliki beriman .
D. RESISTENSI TERHADAP PEMBARUAN

Dengan demikian , akar-akar keterbelakangan dunia islam dalam sains dan Iptek
dapat dilacak dari leyapnya berbagai cabang ilmu-ilmu aqliyah dari tradisi keilmuan
dan pedidikan muslim . Pada saat yang sama , ilmu – ilmu aqliyah tadi mengalami
transmisi ke dunia Eropa yang pada akhirnya renainsans dan revolusi industri .
Revolusi industri imprealisme dan kolonialisme Eropa . Sejauh menyangkut
pendidikan pemmbaruan dilancarkan tetapi resistensi lembaga-lembaga pendidikan
tinggi islam semacam universitas Al- azhar menolak sejumlah gagasan pembaruan
pendidikan yang ditwarkan dan ingin diterapkan tokoh semacam Rifa’ah al-Tahtawi .

Bidang ilmu-ilmu alam dan eksakta yang dibutuhkan untuk membangun kembali
peradaban islam ditengah dominasi politik , ekonomi , cultural/budaya dan intelektual
barat . Senang atau tidak , masa depan dunia islam tergantung banyak kepada
kemampuan dan keberhasilan memajukan sains dan teknologi . Dan ini gilirannya
sangat tergantung pada peningkatan kualitas lembaga – lembaga pedidikan tinggi itu
sendiri .

Tegasnya , sumber daya manusia yang justru sangat dibutuhkan untuk menggenjot
kemajuan sains dan teknologi ternyata sulit ditemukan . Sekali lagi mengambil contoh
Indonesia sebagai contoh lulusan bidang ilmu-ilmu murni yang menjadi titik tolak
pengembangan sains dan teknologi berjumlah hanya 5.583 adapun kebutuhna
mencapai 263.795 orang . Kepincangan mencolok ini hamper dapat dipastikan juga
terjadi di banyak kawasan dunia islam lainnya sampa di abad ke-21.
E. TANTANGAN SERTA PERAN ISLAM MENGHADAPI MODERNISASI

Adapun tantangan yang dihadapi islam di era modernisasi saat ini adalah:

1. Kemajuan iptek telah mengubah pola pikir, pola pergaulan, dan pola kehidupan
secara massif
2. Industrialisasi dalam memproduksi barang dan jasa yang diperlukan masyarakat,
tetapi di sisi lain membawa dampak kepada wujudnya stratifikasi social yang tidak
seimbang, yaitu kapitalis. Sehingga mengakibatkan adagium di masyarakat yaitu yang
kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
3. Kemajuan dalam bidang teknologi-komunikasi telah mengubah pola hidup
masyarakat dalam segala aspeknya termasuk pola keberagamannya.

Gelombang informasi telah menandai lahirnya generasi baru dalam masyarakat.


Kemajuan seseorang diukur dari seberapa cepat ia menerima informasi itu semakin
besar peluang yang akan ia dapatkan untuk kemajuan dirinya. Secara riil islam harus
menjadi solusi dalam menghadapi dampak kemajuan industrialisasi dan derasnya
gelombang komunikasi dan informasi. Islam sebagai agama rasional adalah agama
masa depan, yaitu agama yang membawa perubahan untuk kemajuan seiring dengan
kemajuan kehidupan modern. Perlunya dikembangkan penafsiran social structural
lebih daripada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu di
dalam Al-Qur’an. Mengubah cara berpikir subjektif ke cara berpikir objektif untuk
menyuguhkan islam pada cita-cita yang objektif . Mengubah islam yang normative
menjadi teoritis. Jika berhasil, banyak disiplin ilmu yang secara orisinal dapat
dikembangkan menurut konsep-konsep Al-Qur’an . Mengubah pemahaman yang
ahistoris menjadi historis.
LAMPIRAN
JURNAL
JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 222 PEMBANGUNAN DAN
MODERNISASI: IMPLIKASINYA TERHADAP TATANAN EKOLOGI DAN SOSIAL Aleksius
Jemadu64 ABSTRACT The paper starts from an idea that there is a fundamental difference
between modernization and development. The former puts to much emphasis on
industrialization with the effect that the social and ecological dimension of development is
not adequately addressed. A genuine economic development should take into account social
problems and ecological conservation. The incorporation of this social dimension into
Indonesian economic development has been made more difficult after the economic crisis
hit Indonesia in 1997. Therefore, an alternative model of economic development is needed
so that the state and market might play their appropriate role in producing economic
welfare for the people. Pendahuluan Sudah lebih dari setengah abad sebagai negara
merdeka dan berdaulat Indonesia telah berusaha mencapai tujuan-tujuan sosial, politik dan
ekonomi dari masyarakatnya. Tujuan-tujuan tersebut mencakup peningkatan kesejahteraan
hidup, keadilan sosial dan rasa aman bagi setiap anggota masyarakat (human security).
Pencapaian tujuan-tujuan ini dilakukan melalui berbagai macam cara termasuk
pembangunan, modernisasi, demokratisasi dan pembaharuan ekonomi (economic reform).
Harus diakui bahwa hasil yang dicapai sekarang ini masih jauh dari memuaskan karena masih
banyaknya rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan dan bahkan tidak mampu
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan perumahan. Apalagi
setelah krisis ekonomi sejak tahun 1997 keterpurukan ekonomi telah mempersulit jutaan
rakyat baik di kota maupun pedesaan. Pada saat yang sama lingkungan hidup juga semakin
rusak dengan semakin seringnya terjadi banjir dan tanah longsor, penggundulan hutan,
kebakaran hutan setiap tahun dan semakin rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat yang
dulunya bergantung pada hasil hutan. Gambaran yang suram dari kondisi kesejahteraan
rakyat Indonesia ini menimbulkan pertanyaan: ada apa dengan pembangunan dan
modernisasi yang digembar-gemborkan selama ini? Mengapa kondisi kehidupan rakyat tidak
semakin baik dan 64 Dosen Jurusan Hubungan Internasional FISIP UNPAR Bandung. JAP,
Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 223 bahkan sebaliknya semakin
terpuruk dalam ketidakberdayaan yang permanen? Sementara itu di beberapa daerah yang
dilanda konflik seperti Aceh dan Papua rakyat kecil semakin kehilangan rasa aman karena
menjadi korban yang tidak berdosa akibat konflik negara dengan kelompok separatis. State
security dalam kenyataannya berhubungan secara zero-sum game dengan human security.
Aceh dan Papua yang kaya akan sumberdaya alam ternyata menjadi kantong-kantong
kemiskinan yang kemudian melahirkan tindak kekerasan sebagai senjata untuk melawan
ketidakadilan sosial. Orang lalu mempertanyakan benarkah masyarakat modern merupakan
citacita yang bisa membahagiakan semua orang atau hanya bagi kepentingan sekelompok
orang yang mendapat privilese politik dan ekonomi dari negara? Pada saat yang sama di
tingkat global juga terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara negara-negara kaya dan
miskin. Indonesia adalah salah satu contoh negara yang menjadi korban dari struktur
ekonomi politik global yang penuh dengan ketidakadilan. Di bawah himpitan utang luar
negeri yang sangat besar Indonesia harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi
penduduknya yang bertambah setiap tahun. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yang
dicapai sejak decade 1980an sampai pertengahan 1990an menjadi sia-sia karena habis
terkuras untuk membiayai pemulihan ekonomi dari krisis yang tak kunjung teratasi. Krisis
ekonomi yang melanda Asia dalam tahun-tahun terakhir membuktikan bahwa integrasi ke
dalam kapitalisme global mengandung resiko yang harus diantisipasi oleh setiap negara jika
ingin menjadi winners dalam proses tersebut dan bukannya sebagai losers. Dapatkah
Indonesia belajar dari negaranegara lain seperti Jepang, Singapore dan Korea Selatan yang
lebih berhasil menyikapi globalisasi sehingga membawa kesejahteraan bagi rakyatnya?
Membedakan Modernisasi dan Pembangunan Ada berbagai pengertian tentang
modernisasi. Dankwart A. Rustow, misalnya, mengidentikkannya dengan industrialisasi di
mana kerjasama antar manusia menciptakan kontrol atas alam. Cyril E. Black et.al
mendefinisikan modernisasi sebagai proses transformasi masyarakat sebagai akibat dari
revolusi penggunaan ilmu dan teknologi. Menurut Remigio E. Agpalo ada dua faktor utama
dalam defisini modernisasi yaitu faktor waktu dan faktor pengetahuan. Yang dimaksud
dengan faktor waktu adalah keterkaitan modernisasi dengan waktu sekarang di mana yang
ada sebelumnya dianggap tradisional dan ketinggalan zaman. Apa yang baru muncul seperti
ilmu dan teknologi itulah yang harus diadopsi dalam pengorganisasian JAP, Nomor 2 Volume
2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 224 ekonomi dan politik. Faktor penguasaan
pengetahuan dan teknologi yang bersifat akumulatif sangat penting dalam proses
modernisasi di mana negara-negara modern atau maju memiliki atau menguasai ilmu dan
teknologi lebih banyak daripada negara-negara yang belum modern. Dengan demikian ada
perbedaan yang jelas antara modernisasi dan pembangunan (development). Misalnya,
industrialisasi (pembangunan industri) merupakan perwujudan dari modernisasi karena
merupakan peningkatan dan efisiensi proses produksi dengan menggunakan teknologi dan
management modern. Tetapi industrialiasasi belum tentu merupakan pembangunan karena
hanya menguntungkan sekelompok pemilik modal sambil mengorbankan mayoritas rakyat
yang tanahnya diserobot untuk kepentingan industri. Bahkan kehadiran industri dapat
menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang menurunkan kualitas hidup masyarakat
sekitarnya. Pembangunan rumah-rumah mewah, pusat perbelanjaan, hotel merupakan
bagian dari modernisasi kota. Tetapi belum tentu membawa dampak positif bagi
pembangunan mayoritas masyarakat di kota tersebut. Jadi, sesungguhnya yang disebut
pembangunan adalah segala usaha baik oleh aktor negara maupun non-negara yang
ditujukan untuk meningkatkan secara nyata kesejahteraan sosial ekonomi bagi suatu
masyarakat. Misalnya, pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan bagi rakyat kecil,
peningkatan produksi dan pemasaran hasil pertanian, penyediaan sarana air bersih, dan
sebagainya. Persoalan utama yang terjadi di negara-negara berkembang adalah upaya
pemerintah yang berkuasa untuk menjadikan pembangunan ekonomi sebagai sumber
legitimasi kekuasaan sehingga kemudian menjadi semacam ideologi yang tidak boleh
diganggu gugat. Inilah yang disebut gejala developmentalisme atau pembangunanisme yang
justru menyengsarakan rakyat. Pemerintah melakukan segala sesuatu demi pembangunan
tanpa kontrol yang efektif dari masyarakat. Pembangunan sebagai suatu public sphere
(ranah publik) dimonopoli oleh negara yang cenderung bersikap represif. Pemerintah Orde
Baru merupakan contoh dari rezim yang menerapak ideologi developmentalisme. Gejala ini
tentu membawa berbagai dampak negatif bagi rakyat Indonesia. Pertama, pembangunan
hanya memperhatikan target pencapaian angka pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan
sama sekali aspek distribusi demi pemerataan dan keadilan sosial. Kesenjangan sosial terjadi
antara Jawa dan luar Jawa, kota dan desa, kaya dan miskin, sektor industri (modern) dan
sektor pertanian (tradisional). Kedua, pembangunan mengorbankan pelestarian lingkungan
hidup. Penerapan ilmu dan teknologi modern dalam eksploitasi sumber daya alam
menyebabkan kerusakan lingkungan dan marjinalisasi penduduk JAP, Nomor 2 Volume 2003
Oktober 2003, ISSN 1214-7040 225 setempat. Gejala ini sudah terjadi di Kalimantan, Papua
dan Aceh. Ketiga, hak-hak sipil dan politik rakyat dikorbankan demi terciptanya stabilitas
politik negara dan suksesnya program pembangunan pemerintah. Keempat, berkembangnya
mental easy going di kalangan penguasa di mana mereka dengan mudah meningkatkan
utang luar negeri sebagai sumber pendanaan pembangunan tanpa mempertimbangkan
beban bagi rakyat dalam mengembalikan uang tersebut. Utang luar negeri bahkan disebut
sebagai pendapatan pembangunan dalam APBN. Kelima, korupsi merajalela terutama
terjadinya kolusi antara penguasa dengan pengusaha karena kolaborasi keduanya menjadi
syarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi. Keenam, semakin memudarnya kreativitas dan
inisiatif bangsa Indonesia untuk memikirkan pembangunan yang lebih bersifat mandiri. Atau
dengan kata lain, telah muncul mental ketergantungan. Hal ini terutama sangat dirasakan
ketika pemerintah dan rakyat Indonesia hendak mengakhiri kerjasama dengan IMF. Ketujuh,
pemerintah cenderung menggunakan pendekatan keamanan terhadap setiap upaya yang
ingin menggagalkan pembangunan nasional dan mengganggu stabilitas nasional.
Pendekatan keamanan ini sudah digunakan untuk menindas gerakan separatis di Aceh dan
Papua. Modernisasi yang terjadi di negara-negara berkembang sejak tahun 1950an (pasca
dekolonisasi) adalah proses yang dipaksakan dan berlangsung cepat. Proses yang sama di
negara-negara yang sudah lebih dahulu maju seperti AS, Eropa Barat dan Jepang berjalan
secara gradual sehingga mereka bisa mencapai demokrasi yang matang dewasa ini. Di
Indonesia proses modernisasi ini berjalan begitu pesat di bawah pemerintahan Orde Baru.
Tidaklah mengherankan kalau proses modernisasi ini memunculkan masalah-masalah sosial
dan politik yang dirasakan oleh rakyat Indonesia saat ini. Perubahan drastis yang dibawa
oleh modernisasi mengakibatkan pergolakan sosial, konflik etnis dan keagamaan akibat
kesenjangan sosial dan pertentang nilai, gerakan separatis, serta masalah-masalah sosial
lainnya terutama di wilayah perkotaan. Munculnya masalah - masalah ini dalam masyarakat
dijadikan pembenaran oleh penguasa untuk menerapkan politik pemerintahan yang otoriter
dan represif. Menurut Remigio E.Agpalo (1992) kecenderungan modernisasi untuk
memunculkan otoriterisme dan hegemoni harus diimbangi dengan proses civilization. Yang
dimaksud dengan civilization adalah proses transformasi dari situasi barbarisme (yang kuat
menaklukan yang lemah, yang modern harus menang atas yang tradisional, kota harus lebih
penting dari desa, JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 226 pusat
menjadi tuan dan daerah menjadi hamba, rakyat harus tunduk dan bertanggung jawab
kepada penguasa dan bukan sebaliknya) menjadi kondisi yang dicirikan oleh pembangunan
politik, kebebasan dan demokrasi. Ada tiga indikator utama pembangunan politik yaitu:
tegaknya hukum (rule of law), civility (rasa kebersamaan dan kesederajadan untuk membela
kepentingan umum, mengutamakan dialog dan bukan pemaksaan kehendak, mencari
konsensus dan menghindari penggunaan kekerasana) dan keadilan sosial. Langkanya tiga
indikator ini di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa yang kita lakukan sampai sekarang
barulah modernisasi politik dan bukan pembangunan politik (political development). Yang
dimaksud dengan modernisasi politik adalah penciptaan lembaga-lembaga politik modern
seperti partai politik dan pemilihan umum yang kemudian dalam perkembangannya menjadi
tujuan dalam dirinya sendiri (an end in itself). Akibatnya modernisasi politik hanya
menciptakan elitisme politik atau manipulasi organisasi politik modern demi kepentingan
segelintir elit politik. Pembangunan politik, sebaliknya, meningkatkan perwujudan dua
indikator utama demokrasi yaitu: kontrol masyarakat yang efektif dalam pembuatan
kebijakan yang menyangkut kepentingan orang banyak (publik) dan kesetaraan kedudukan
setiap warga negara tanpa membedakan suku, agama, status sosial ekonomi dan warna kulit
(democratic citizenship). Keadilan sosial terwujud bila semua orang tanpa memandang latar
belakangnya memiliki akses yang sama terhadap pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar
untuk hidup layak sebagai manusia. Dalam bukunya yang berjudul Getting to the 21st
Century: Voluntary Action and the Global Agenda David C. Korten (1990) menyatakan bahwa
model pembangunan ekonomi yang berpusat pada pertumbuhan telah menciptakan
kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan miskin serta krisis ekologis yang
mengancam masa depan kehidupan manusia dan peradaban dunia. Ada tiga unsur pokok
yang terdapat dalam krisis global sebagai akibat penekanan pada pertumbuhan ekonomi
secara berlebihan. Ketiga unsur tersebut adalah kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup,
dan kekerasan komunal. Saat ini diperkirakan ada 1 sampai 1.2 milyar manusia hidup dalam
kemiskinan absolut artinya mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal seperti
sandang, pangan, perumahan dan air bersih. Menurut data PBB antara tahun 1960 sampai
1989 porsi pendapatan global yang dinikmati oleh seperlima penduduk dunia yang terkaya
meningkat dari 70 persen menjadi 83 persen. Sedangkan porsi untuk seperlima penduduk
yang miskin merosot dari 2.3 persen menjadi 1.4 persen (Ghai and Hewitt de Alcantara,
1994:9). Sementara negara-negara telah gagal mengurangi emisi gas akibat industrialisasi
sehingga terjadi JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 227 polusi udara
dan pemanasan global penggundulan dan pembakaran hutan terus terjadi di negaranegara
tropis sehingga mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Selain itu,
karena hancurnya keutuhan sosial akibat modernisasi dan eksploitasi sumberdaya alam yang
mengabaikan unsur keadilan sosial maka aksi-aksi kekerasan yang kemudian berkembang
menjadi kekerasan komunal di mana terjadi tumpang tindih antara diferensiasi komunal
berdasarkan agama dan kesukuan dengan ketimpangan ekonomi. Contoh, perbedaan etnis
di Indonesia tumpang tindih dengan kesenjangan ekonomi sehingga sangat mudah menyulut
kekerasan komunal anti etnis tertentu. Sikap yang menyamakan pertumbuhan ekonomi
dengan kemajuan umat manusia (human progress) mendorong para politisi dan perencana
pembangunan untuk menganggap pertumbuhan ekonomi sebagai solusi terhadap krisis yang
disinggung di atas. Demikianlah IMF dan Bank Dunia mendikte bangsa Indonesia untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk keluar dari krisis ekonomi. Kenyataan yang
terjadi adalah utang luar negeri yang semakin meningkat, pengangguran yang tak terkendali
dan pelayanan publik yang semakin merosot. Pada saat yang sama sumber daya alam
dieksploitasi secara ekshaustif guna mengakumulasi devisa untuk membayar utang. Korten
mengemukakan data empiris bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah solusi yang tepat
untuk mengatasi krisis global. Dikatakan bahwa pada tahun 1990 keluaran ekonomi global
per tahun mencapai empat kali lipat dibanding dengan pencapaian pada tahun 1950. Kalau
pertumbuhan ekonomi benar-benar merupakan solusi seharusnya dunia tidak mengalami
penyebaran kemiskinan yang semakin luas, kerusakan lingkungan hidup yang semakin parah
dan disintegrasi sosial yang bernuansa kekerasan. Munculnya berbagai krisis di atas
merupakan akibat dari asumsi yang salah dalam penghitungan pertumbuhan ekonomi.
Misalnya, peningkatan pengeluaran untuk biaya pengobatan kanker akibat polusi zat kimia
tertentu yang dihasilkan oleh peningkatan industrial output dihitung sebagai pertambahan
dalam GNP. Selain itu kita juga memiliki persepsi yang keliru tentang daya dukung sumber
daya alam yang ternyata ada terbatas dan bahkan dalam abad 21 Indonesia harus
menghadapi kelangkaan minyak, gas alam dan air bersih. Dalam analisisnya Korten
membangun kontras antara pertumbuhan ekonomi dengan ekologi dan kehidupan
komunitas. Karena pertumbuhan ekonomi menciptakan kesenjangan ekonomi dan merusak
lingkungan hidup maka semakin suatu masyarakat mengejar pertumbuhan ekonomi maka
semakin terancam pula integrasi sosial dalam masyarakat tersebut sehingga tidak lagi
tercipta komunitas kemanusiaan (human community). JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober
2003, ISSN 1214-7040 228 Modernisasi selalu mengandung hegemoni oleh manusia atas
manusia lain dan hegemoni atas alam. Strategi Pembangunan Alternatif? Dalam tulisannya
yang berjudul “Developmental States and Crony Capitalists” James Putzel (2002)
menegaskan salah satu kekeliruan terbesar yang dilakukan negara-negara Asia termasuk
Indonesia dalam proses pemulihan ekonomi adalah secara berlebihan mengandalkan
masuknya footloose capital. Ia menulis: If nothing else, the crisis of the late 1990s should
seriously put into question the wisdom of pursuing a development strategy that relies so
heavily on the attraction of footloose capital. Lebih-lebih lagi setelah terjadinya ledakan bom
di Kuta Bali tanggal 12 Oktober yang lalu strategi pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan
footloose capital ini semakin tidak relevan karena country risk Indonesia menjadi sangat
tinggi. Di bawah tekanan IMF Indonesia sudah melakukan banyak hal untuk menarik investor
asing. Tapi apa yang kita peroleh dalam lima tahun belakangan ini? Bukan saja investor baru
tidak masuk, yang sudah ada di Indonesia pun justru ingin angkat kaki. Bukankah ini berarti
bahwa fungsi IMF sebagai seal of approval bagi investasi asing hanya menjadi janji yang
kosong? Dalam ekonomi politik internasional ada asumsi bahwa interaksi ekonomi
internasional tidak pernah terjadi di dalam kevakuman politik. Sebaliknya, interaksi tersebut
senantiasa berlangsung dalam konstelasi dan konfigurasi politik tertentu. Demikian pun
rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah krisis ekonomi Asia kental dengan nuansa politik
pasca perang dingin di mana ada pergeseran dari pertarungan geopolitik-ideologis menuju
kompetisi geoekonomi. Sejak awal 1990an kekuatan Anglo-Amerika yang excited dengan
keruntuhan komunisme Uni Soviet semakin merasa terancam dengan kebangkitan ekonomi
negara-negara Asia Timur yang dipelopori oleh Jepang. Niat dan ambisi menyebarkan
liberalisasi ekonomi ke seluruh dunia terhambat oleh pola pembangunan di Asia Timur
dengan teorinya tentang peran negara yang aktif dalam pembangunan (developmental state
theory). Menurut teori ini negara seharusnya memainkan peran utama dalam mengarahkan
pembangunan ekonomi dan tidak sekadar mengikuti dikte kekuatan pasar (Robert Wade,
1990). Di mata negara-negara Barat intervensi negara tidak hanya menyalahi prinsip market
economy tetapi juga akan menghambat penetrasi mereka ke dalam sektor-sektor ekonomi
JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 229 strategis di Asia. AS,
misalnya, sering kecewa karena sulitnya produk-produk Amerika menembus pasar Jepang
dan ketatnya jaringan bisnis yang didukung oleh birokrasi pemerintah. Negara-negara
industri baru (NICs) seperti Korea Selatan dan Taiwan juga mulai merebut pangsa pasar
untuk produk-produk industri yang tadinya hanya dikuasai oleh negara-negara industri maju.
Kebangkitan industri manufaktur juga terjadi di Thailand, Malaysia dan Indonesia. Dalam
buku yang berjudul Rethinking Development in Asia: From Illusionary Miracle to Economic
Crisis, Pietro P. Masina (2002) mengatakan memang sulit menemukan bukti bahwa kekuatan
AngloAmerika sengaja menghancurkan strategi developmental state di Asia melalui krisis
moneter tahun 1997. Tetapi menyimak apa yang dipaksakan oleh pemerintah AS dan IMF
melalui apa yang dikenal dengan “Washington Consensus” terhadap negara-negara Asia
termasuk Indonesia setelah krisis terjadi sulit bagi kita untuk percaya bahwa pengebirian
developmental state hanya merupakan koinsidensi belaka. Kita sudah menyaksikan
bagaimana IMF “menekan” pemerintah Indonesia agar segera mendivestasikan aset-aset
strategis yang dikuasai BPPN meskipun dengan harga yang murah. Rangkaian peristiwa sejak
pertengahan tahun 1980an sampai terjadinya krisis moneter tahun 1997 menunjukkan
adanya usaha secara konsisten kekuatan hegemonik Anglo-Amerika untuk melumpuhkan
unsur-unsur developmental state yang diyakini telah menciptakan kejaiban ekonomi Asia.
Saat ini tatkala harapan Indonesia akan datangnya investasi asing nyaris sirna, bukankah
revitalisasi teori developmental state bisa memberikan alternatif kebijakan yang patut
dipertimbangkan? Memang ada pendapat bahwa menghidupkan kembali teori
developmental state sama dengan menciptakan peluang bagi maraknya crony capitalism
seperti pada masa Orde Baru. Kekhawatiran seperti itu agak berlebihan karena sejalan
dengan konsolidasi demokrasi yang terus diupayakan pengawasan terhadap perilaku pejabat
negara oleh legislatif dan civil society pada masa yang akan datang akan semakin kuat.
Dalam makalahnya yang berjudul “Globalization, Debt and Development: Lesson and Policy
Alternatives Facing Indonesia” J. Mohan Rao (2002) menegaskan bahwa pemerintah dan
rakyat Indonesia harus menolak cara berpikir yang ditanamkan oleh negaranegara donor
dan IMF selama ini bahwa tidak ada alternatif lain bagi Indonesia untuk keluar dari krisis
ekonomi selain mengimplemenstasikan butir-butir yang ada dalam kesepakatan dengan IMF
(LoI). Saat ini Indonesia berada di persimpangan jalan untuk menentukan pilihan apakah kita
harus JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 230 melanjutkan preskripsi
kebijakan ekonomi yang didikte oleh IMF yang ternyata tidak membawa hasil atau
merumuskan strategi baru dengan mengandalkan seluruh potensi bangsa ini. Jika kita
memilih untuk merumuskan strategi pembangunan yang baru maka beberapa point
pemikiran Rao layak untuk dijadikan sebagai masukan bagi pemerintah. Pertama,
pengurangan atau penghapusan sebagian utang luar negeri (debt relief) merupakan hal yang
mutlak dan mendesak untuk dilakukan. Cicilan utang yang dibayar Indonesia setiap tahun
anggaran sejak 1997 jauh lebih besar dari utang baru yang diperoleh dari CGI untuk
menutup defisit APBN. Dengan demikian setiap tahun terjadi net capital outflow dari
Indonesia ke negara-negara donor. Kalau demikian kenyataannya, bagaimana mungkin
Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sehingga bisa menyerap
angka pengangguran yang setiap tahun bertambah 2,5 juta orang? Tuntutan pengurangan
atau penghapusan sebagian utang ini cukup adil karena Bank Dunia pun mengakui bahwa
sebagian dari utang luar negeri dikorupsi dan tidak dinikmati oleh rakyat Indonesia. Kedua,
untuk menggairahkan investasi oleh pihak swasta baik domestik maupun asing pemerintah
tidak lagi mengandalkan kesuksesan implementasi Letter of Intent (LoI) dengan IMF yang
selama ini sudah terbukti tidak memberikan hasil, tetapi melalui public investment dalam
bidang pertanian dan sektor informal mengingat kedua sektor ini merupakan konsentrasi
penduduk miskin. Selain itu investasi di bidang usaha kecil dan menengah (UKM) juga perlu
mendapat prioritas. Dengan demikian karakteristik utama dari public investment ini adalah
preferential option for the poor. Sumber dana utama untuk keperluan investasi publik ini
adalah optimalisasi pemungutan pajak yang selama ini masih belum optimal. Ketiga,
Indonesia dapat meniru apa yang dilakukan oleh Jepang dan Korea Selatan dalam
memajukan industri untuk kepentingan ekspor di mana industriindustri yang bersifat
strategis dan berpeluang untuk ekspansi didorong dan difasilitasi sehingga mampu bersaing
di pasar global. Dari ketiga hal yang disebutkan di atas kita melihat bahwa Indonesia
memiliki peluang untuk menerapkan kembali teori developmental state demi
mengembalikan level pertumbuhan ekonomi yang pernah dicapai sebelum tahun 1997.
Persoalannya sekarang adalah apakah pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan
Presiden Megawati memiliki keberanian untuk mengambil resiko perubahan rezim kebijakan
yang drastis. Secara politik perubahan kebijakan tersebut mungkin tidak feasible karena
lazimnya selama periode konsolidasi demokrasi JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003,
ISSN 1214-7040 231 pemerintah yang sedang berkuasa cenderung menempuh kebijakan
dengan resiko politik yang minimum. Kendati demikian, mengingat taruhannya adalah nasib
duaratusan juta rakyat Indonesia dan generasi yang akan datang maka pilihan kebijakan
yang agak populis justru akan meningkatkan popularitas seorang pemimpin. Seorang
pelopor studi pertumbuhan ekonomi yang bernama Moses Abramovitz (1989) mengatakan
bahwa persyaratan fundamental bagi pembangunan ekonomi adalah terciptanya social
capacity artinya pembangunan ekonomi bukanlah sekedar masalah teknis akumulasi faktor
seperti capital. Thus, pembangunan Indonesia bukan sekedar mendatangkan investasi asing
tetapi merupakan suatu proses sosial yang menuntut keterlibatan negara dalam
menciptakan lembaga-lembaga ekonomi, memajukan perilaku sosial yang progresif dan
menempuh kebijakan yang mampu mendorong pembangunan tersebut (Robert Gilpin,
2000). Karena pembangunan ekonomi merupakan suatu proses interaksi sosial menuju taraf
hidup yang lebih baik maka kita harus menolak epistemologi pembangunan versi IMF yang
menggeneralisasi dan memutlakkan peran footloose capital untuk semua negara
berkembang di mana pun. JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober 2003, ISSN 1214-7040 232
Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang terjadi di Indonesia sejak awal
Orde Baru sampai sekarang barulah sebatas modernisasi ekonomi dan politik dan belum
merupakan pembangunan ekonomi dan politik dalam pengertian peningkatan kesejahteraan
rakyat yang merata serta partisipasinya dalam penyelenggaraan kekuasaan. Bahkan setelah
Indonesia masuk dalam era reformasi sekalipun pertumbuhan ekonomi tetap dilihat sebagai
solusi untuk mengatasi berbagai krisis seperti kemiskinan yang meluas, kerusakan
lingkungan hidup dan konflik-konflik komunal. Fokus pada pertumbuhan ekonomi telah
mengantar bangsa Indonesia pada suatu keadaan di mana rakyat dibebani dengan
pembayaran utang luar negeri. Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin bertambah
parah takkala daerah dengan otonominya berusaha mengeksploitasi kekayaan alam yang
tersisa untuk mengejar pertumbuhan ekonomi regional. Pertumbuhan ekonomi yang
didukung oleh lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia tidak
hanya merusak lingkungan tetapi juga memperlemah kohesi sosial rakyat Indonesia sehingga
mudah terjadi konflik berbau SARA. Untuk mengatasi krisis yang diakibatkan oleh
modernisasi diperlukan proses civilization baik pada level society maupun negara. Dalam
proses tersebut tiga tujuan harus tercapai yaitu rule of law, civility dan social justice seperti
yang sudah dijelaskan di depan. Namun perlu ditambahkan bahwa dalam konteks globalisasi
sekarang ini diperlukan transnasionalisasi demokrasi karena demokrasi pada level nation-
state saja tidak cukup untuk menjamin terciptanya popular control dan political equality
sebagai dua syarat utama demokrasi. Dengan kata lain diperlukan adanya demokratisasi
international public sphere. Dominasi kekuatan-kekuatan kapital global dalam ranah
tersebut hanya akan memperkuat hegemoni atau dominasi oleh manusia atas manusia lain
dan dominasi manusia atas alam yang bersifat destruktif. JAP, Nomor 2 Volume 2003
Oktober 2003, ISSN 1214-7040 233 Referensi Agpalo, R.E., “Modernization, Development,
and Civilization: Reflections on the Prospects of Political Systems in the First, Second, and
Third Worlds” in Kenneth E. Bouzon (ed.) Development and Democratization in the Third
World, Washington: Taylor and Francis, 1992. Aleksius Jemadu, “Effective Leaders Needed to
Manage Social Conflict”, The Jakarta Post, April 2, 1997. Aleksius Jemadu, “Globalisasi:
Antara Tantangan dan Peluang”, Kompas, 12 Desember 2000. Aleksius Jemadu, “Demokrasi
Global”, Kompas, 30 Mei 2001. Armijo, Leslie Elliot, Thomas J. Biersteker and Abraham F.
Lowenthal, `The Problems of Simultaneous Transitions” dalam Larry Diamond and Marc F.
Platter (eds.), Economic Reform and Democracy, Baltimore: The John Hopkins University
Press, 1995. Beetham, David, Democracy and Human Rights, London: Polity Press, 1999.
Booth, Anne, “Can Indonesia Survive as Unitary State?”, Indonesia Circle No. 58 June 1992.
Dryzek, John S., Deliberative Democracy: Liberals, Critics, Contestations, Oxford: Oxford
University Press, 2000. Diamond, Larry, Developing Democracy: Towards Consolidation,
Baltimore: The John Hopkins University Press, 1999. Fukuyama, Francis, The End of History
Sand the Last Man, London: Hamish Hamilton, 1992. Held, David, Democracy and the Global
Order: From the Nation-state to Cosmopolitan Governance, Cambridge: Polity, 1995. Korten,
David, C., Getting to the 21st Century: Voluntary Action and the Global Agenda, Hartworth:
Kumarian Press, 1990. Krugman, Paul, “The Myth of Asia’s Miracle”, Pacific Affairs, August
1995. Lairson, T. and David Skidmore, International Political Economy: The Struggle for
Power and Wealth, Fort Worth: Harcourt Brace, 1997. JAP, Nomor 2 Volume 2003 Oktober
2003, ISSN 1214-7040 234 Pastor, Manuel J., “The Effects of IMF Programs in the Third
World: Debate and Evidence from Latin America” in C. Roe Goddard, John T. Passe-Smith
and John G. Conklin (eds.), International Political Economy: State- Market Relations in the
Changing Global Order, Boulder: Lynne Rienner, 1996. Strange, Susan, State and Markets: An
Introduction to International Political Economy, London: Pinter Publishers, 1995.

KELEBIHAN

Dalam jurnal tersebut telah sesuai dengan ketentuan dalam penulisan jurnal yaitu topik
jurnal , sistematika penulisan dan teknik penulisan .
- Teknik penulisan mengenai panjang artikel , intisari , sub judul , daftar pustaka , serta
orisinalitas karya telah sesuai .
- Sistematika penulisannya mengenai judul , nama penulis , intisari , pendahuluan ,
pembahasan , penutup , dan daftar pustaka telah sesuai .
- Topik jurnal tersebut artikelnya sesuai dengan sudut pandang filsafat yang kajiannya
gabungan antara refleksi terhadap persoalan – persoalan aktual serta perennial .

KEKURANGAN
- Dalam sistematika penulisannya tidak terdapat biodata penulis , yang seharusnya biodata
penulis terdapat setelah daftar pustaka . Sebenarnya dengan adanya biodata penulis
memudahkan pembaca untuk lebih mengetahui penulis jurnal tersebut .