Anda di halaman 1dari 32

Referat

FRAKTUR COSTAE

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)
Pada Bagian/SMF Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

Disusun
Oleh:

Dira Witrya
Fitry Qurrataini
Winny Hafnizar
Maimunah
Desrita Karmelia

Pembimbing:

dr. Suhardi, Sp.BTKV

BAGIAN/SMF ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Shalawat
beserta salam kita ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita dari zaman jahiliyah ke zaman islamiyah, serta kepada sahabat dan keluarga
beliau.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr.Suhardi, Sp.BTKV
yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam
penyusunan laporan kasus yang berjudul “Fraktur Costae ” serta para dokter di
bagian/SMF Bedah yang telah memberikan arahan serta bimbingan hingga
terselesaikannya laporan kasus ini.
Tidak ada kata sempurna dalam pembuatan sebuah laporan kasus.
Keterbatasan dalam penulisan maupun kajian yang dibahas merupakan beberapa
penyebabnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan terhadap
laporan kasus ini demi perbaikan di masa yang akan datang.

Banda Aceh, Desember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL..........................................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
BAB I.................................................................................................................1
PENDAHULUAN.......................................................................................1
BAB II...............................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................3
BAB III............................................................................................................13
LAPORAN KASUS.................................................................................13
BAB IV............................................................................................................14
PEMBAHASAN........................................................................................15
BAB V.............................................................................................................16
KESIMPULAN..........................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................18

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Trauma toraks sering mengenai kosta, baik karena trauma tumpul maupun
trauma tajam. Penilaian trauma toraks dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Terutama pemeriksaan radiologis. Pada trauma
kosta yang paling perlu di waspadai adalah komplikasi yang ditimbulkan. Tanda
yang sering menunjukkan adanya komplikasi dari fraktur kosta adalah nyeri dada,
hemotoraks, pneumotoraks, ekstrapleural hematom, kontusio paru, laserasi paru,
trauma akut vaskuler, dan trauma organ abdomen.
Dikarenakan kosta merupakan komponen rongga toraks, maka trauma
kosta dapat berefek pada paru-paru, mediastinum, dan organ abdomen lainnya.
Trauma toraks terjadi pada sekitar 25% dari total trauma yang berhubungan
dengan kematian di USA. Biasanya merupakan akibat sekunder dari trauma
tumpul atau trauma tajam. Pada beberapa kasus 81% dari pasien dengan 2 atau
lebih fraktur kosta juga mengalami hemotoraks atau pneumotoraks.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Perkembangan dan Anatomi Tulang Kosta

Secara embriologi kartilago berasal dari bagian lateral sklerotom. Selama


perkembangan janin, kosta berkembang dari cabang kartilago dan mengalami
osifikasi endokondral. Meskipun bentuk tulang kosta sudah ada sejak lahir, namun
persambungan dengan struktur toraks sekitarnya berkembang seiring usia. Selama
anak-anak terjadi rotasi inferior relatif dari kosta ke bentuk sagital, menuju
maturasi. Dan kemudian kosta berotasi superior. Kartilago kostokondral tidak
mengeras sebelum remaja dan menjadi keras saat dewasa.
Kosta terbagi menjadi kosta sejati, kosta palsu, dan kosta melayang. Kosta
sejati ujungnya langsung menempel pada sternum. Kosta palsu ujungnya
menempel pada kosta sejati. Sedangkan kosta melayang ujungnya tidak
menempel. Kosta 1 sampai 7 adalah kosta sejati, 8 sampai 10 adalah kosta palsu,
dan 11 sampai 12 adalah kosta melayang.
Kosta pada pernafasan berperan untuk mengembang dan mengempisnya
rongga dada. Fungsi kosta di sini di bantu oleh muskulus interkostalis. Di
sekitarnya dikelilingi lapisan fasia termasuk pleura parietal dan terdapat kumpulan
interkostal neurovaskular. Selama inspirasi, diafragma berkontraksi dan kosta
bergerak keluar maupun ke atas sehingga rongga toraks mengembang. Pada
ekspirasi kosta bergerak ke dalam dan turun, sehingga rongga toraks kembali
semula.

2.1.2 Pencitraan untuk Penilaian Trauma Kosta

Beberapa imaging (pencitraan) yang digunakan seperti di bawah ini:

 Radiograpi

Foto toraks posteroanterior dan anteroposterior dapat menggambarkan


trauma kosta sebanyak 50 %.

 CT (Computed Tomography)
CT dapat menggambarkan trauma toraks, termasuk fraktur kosta dan
komplikasinya. CT angiografi dapat menggambarkan trauma vaskular. CT
dapat mengevaluasi integritas korteks, adanya kalus, dan adanya fraktur
kosta, massa jaringan osteolisis, maupun osteoklavus.

 USG

USG digunakan untuk menilai fraktur, hemotoraks, dan pneumotoraks.


USG juga digunakan untuk menilai komplikasi trauma kosta, seperti
hematoma dinding dada dan efusi pleura atau hemotoraks.

 Kateter Angiografi

Biasanya digunakan untuk menetukan penyebab hemotorak atau


pembesaran hematoma, dan untuk menilai ekstravasasi pada dinding
rongga toraks atau pleura. Kateter angiografi juga penting untuk terapetik
pada emboli arteri kosta ketika ekstravasasi pada dinding dada atau pleura.

 Kedokteran Nuklir

Technetium 99m – methylene diphosphonate (MDP) tulang skintografi


sensitif tetapi tidak spesifik untuk fraktur kosta.

 MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI biasanya digunakan untuk mengidentifikasi fraktur stress, fraktur


kosta, trauma jaringan lunak, dan tegangan pada muskulus interkostalis.

2.1.3 Lokasi yang mungkin terkena saat Trauma Kosta

Kosta 1 berhubungan dengan pembuluh subkosta, kosta 1 sampai 3 bisa


terkena vaskuler dan pleksus brakialis, kosta 4 sampai 9 mungkin terkena paru dan
kardiovaskuler, dan kosta 9 sampai 12 mungkin mengenai liver (kosta kanan) dan
limpa (kosta kiri).

2.1.4 Komplikasi Trauma Kosta

Komplikasi yang dapat terjadi berupa:


- Nyeri dada
- Hemotoraks
- Pneumotoraks
- Ekstrapleural hematoma
- Kontusio paru
- Laserasi paru
- Trauma vaskuler

2.1.5 Penatalaksanaan Trauma Kosta

Penatalaksanaan meliputj terapi suportif, terapi prosedural, dan terapi bedah.


 Terapi Suportif

Sebagian besar penatalaksanaan pada fraktur kosta adalah suportif. Paling


sering adalah untuk menghilangkan nyeri. Untuk itu biasanya diberikan
analgetik epidural, blok interkostal, anestesi intrapleural, opioid intravena,
dan NSAID oral.

 Terapi Prosedural

Pasien dengan fraktur kosta harus di rawat di rumah sakit. Dan pada pasien
dengan usia dewasa tua membutuhkan ICU. Begitu juga pada fraktur kosta
6 atau lebih kosta. Pada pasien yang mengalami flail chest membutuhkan
intubasi. Torakostomi pada rongga pleura dibutuhkan mengeluarkan udara,
cairan, maupun darah. Selanjutnya dilakukan pemasangan chest tube pada
sela iga kelima di garis midaksilaris. Perdarahan pada arteri interkostal
dapat menjadi sumber hemotoraks masif atau hematoma dinding dada.
Embolisasi transkateter arteri interkostal menggunakan coil dan polyvinyl
alkohol dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan.

 Terapi Bedah

Indikasi torakotomi emergensi adalah adanya hipotensi yang tidak


responsif (yang berhubungan dengan tamponade jantung atau emboli
udara), dan perdarahan yang hebat. Torakotomi tidak emergensi seperti
pada kasus herniasi paru. Stabilisasi dinding dada dapat dilakukan dengan
konvensional plate dan fiksasi dengan skrew atau Implement bedah
silastic. Stabilisasi eksternal dengan fiksasi dapat menjadi alternatif terapi
untuk fraktur kosta multipel pada pasien dewasa tua.

2.1.6 Penatalaksanaan Akut dan Kronik Komplikasi Trauma Kosta

Berikut ini penatalaksanaan pada komplikasi trauma kosta baik akut


maupun kronik:
- Nyeri : Akut; terapi farmakologis dan analgesik epidural
Kronik; Kateter inwelling
- Pneumotoraks: tube torakostomi
- Hemotoraks: tube torakostomi
- Trauma arteri interkostal: kateter angiografi selektif dan embolisasi
- Kontusio paru: observasi
- Laserasi paru: observasi dan tube toraksotomi
- Pneumotoraks persisten: pembedahan
- Herniasi paru: reduksi hernia dan rekonstruksi dinding dada
- Trauma diafragma: laparotomi dan repair hernia
- Trauma hepar: Low grade; observasi

High grade; kemungkinan pembedahan

- Trauma limpa: Low grade; observasi

High grade; kemungkinan pembedahan

2.2 KONTUSIO PARU


2.2.1 Pengertian
Kontusio paru didefinisikan sebagai cedera fokal dengan edema,
perdarahan alveolar dan interstisial. Ini adalah cedera yang paling umum yang
berpotensi mematikan. Kegagalan pernafasan mungkin lambat dan berkembang
dari waktu daripada yang terjadi seketika.
Kontusio paru adalah memar atau peradangan pada paru yang dapat
terjadi pada cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda
berat.
2.2.2 ANATOMI
Paru-paru adalah salah satu organ system pernapasan yang berada di dalam
kantong yang di bentuk oleh pleura parietalis dan viseralis. Kedua paru sangat
lunak, elastic dan berada dalam rongga torak, sifatnya ringan dan terapung di air.
Masing-masing paru memiliki apeks yang tumpul yang menjorok ke atas
mencapai bagian atas iga pertama.
Pada paru-paru kiri terdapat satu fisura yaitu fisura obliges. Fisura ini
membagi paru-paru kiri atas menjadi dua lobus, yaitu :
1. lobus superior, bagian yang terletak di atas dan di depan fisura.
2. lobus inferior, bagian paru-paru yang terletak di belakang dan di
bawah fisura.

3. Paru-paru kanan :
Pada paru-paru kanan terdapat dua fisura, yaitu : fisura oblique
(interlobularis primer) dan fisura transversal (interlobularis sekunder). Kedua
fisura ini membagi paru-paru kanan menjadi tiga lobus, lobius atas, lobus tengah
dan lobus bawah.

2.2.3 ETIOLOGI

 Kecelakaan lalu lintas


 Trauma tumpul dengan fraktur Iga yg multipel

 Cedera ledakan atau gelombang kejut yang terkait dengan trauma


penetrasi.
 organ yang paling rentan terhadap cedera ledakan adalah mereka yang
mengandung gas, seperti paru-paru.

 Flail chest

 Dapat pula terjadi pada trauma tajam dg mekanisme perdarahan dan edema
parenkim

 Luka tembak

memar akibat penetrasi oleh sebuah proyektil bergerak cepat biasanya


mengelilingi jalan sepanjang perjalanan jaringan yang di lalui oleh proyektil.

2.2.4 TANDA DAN GEJALA


 Takikardi
 Dyspnoe

 Bronchoorhea/ Sekresi bercampur darah

 Takipnea

 Hipoksia

 Perubahan Kesadaran

 Membutuhkan waktu untuk berkembang, dan sebanyak setengah dari


kasus tidak menunjukkan gejala pada presentasi awal

 Dapat timbul atau memburuk dalam 24-72 jam setelah trauma.

 Pada kasus berat, gejala dapat terjadi secepat tiga atau empat jam setelah
trauma

 Hipoksemia

 Sianosis
2.2.5 PATOFISIOLOGI

Gambar 2: Biasanya, oksigen dan karbon dioksida berdifusi melintasi membran


kapiler dan alveolus dan ruang interstisial (kiri). Cairan mengganggu difusi ini,
sehingga kurang darah beroksigen (kanan).

Kontusio Paru menghasilkan perdarahan dan kebocoran cairan ke dalam


jaringan paru-paru, yang dapat menjadi kaku dan kehilangan elastisitas normal.
Kandungan air dari paru-paru meningkat selama 72 jam pertama setelah cedera,
berpotensi menyebabkan edema paru pada kasus yang lebih serius . Sebagai hasil
dari ini dan proses patologis lainnya, memar paru berkembang dari waktu ke
waktu dan dapat menyebabkan hipoksia.
Perdarahan dan edema, robeknya parenkim paru menyebabkan cairan
kapiler bocor ke dalam jaringan di sekitarnya. Membran antara alveoli dan kapiler
robek;. Kerusakan membran kapiler-alveolar dan pembuluh darah kecil
menyebabkan darah dan cairan bocor ke dalam alveoli dan ruang interstisial
( ruang sekitar sel) dari paru-paru. Dengan trauma yang lebih parah, ada sejumlah
besar edema, perdarahan, dan robeknya alveoli. Memar paru ditandai oleh
microhemorrhages (pendarahan kecil) yang terjadi ketika alveoli yang traumatis
dipisahkan dari struktur saluran napas dan pembuluh darah. Darah awalnya
terkumpul dalam ruang interstisial, dan kemudian edema terjadi oleh satu atau dua
jam setelah cedera. Sebuah area perdarahan di paru-paru yang mengalami trauma,
umumnya dikelilingi oleh daerah edema. Dalam pertukaran gas yang normal,
karbon dioksida berdifusi melintasi endotelium dari kapiler, ruang interstisial, dan
di seluruh epitel alveolar, oksigen berdifusi ke arah lain. Akumulasi cairan
mengganggu pertukaran gas, dan dapat menyebabkan alveoli terisi dengan protein
dan robek karena edema dan perdarahan. Semakin besar daerah cedera, kompromi
pernapasan lebih parah, menyebabkan konsolidasi.
Memar paru dapat menyebabkan bagian paru-paru untuk
mengkonsolidasikan, alveoli kolaps, dan atelektasis (kolaps paru parsial atau total)
terjadi. Konsolidasi terjadi ketika bagian dari paru-paru yang biasanya diisi
dengan udara digantkan dengan bahan dari kondisi patologis, seperti darah.
Selama periode jam pertama setelah cedera, alveoli di menebal daerah luka dan
dapat menjadi konsolidasi. Sebuah penurunan jumlah surfaktan yang dihasilkan
juga berkontribusi pada rusaknya dan konsolidasi alveoli, inaktivasi surfaktan
meningkatkan tegangan permukaan paru. Mengurangi produksi surfaktan juga
dapat terjadi di sekitar jaringan yang awalnya tidak terluka.
Radang paru-paru, yang dapat terjadi ketika komponen darah memasuki jaringan
karena memar, juga bisa menyebabkan bagian dari paru-paru rusak. Makrofag,
neutrofil, dan sel-sel inflamasi lainnya dan komponen darah bisa memasuki
jaringan paru-paru dan melepaskan faktor-faktor yang menyebabkan peradangan,
meningkatkan kemungkinan kegagalan pernapasan. Sebagai tanggapan terhadap
peradangan, kelebihan lendir diproduksi, berpotensi memasukkan bagian dari
paru-paru dan menyebabkan rusaknya paru-paru. Bahkan ketika hanya satu sisi
dada yang terluka, radang juga dapat mempengaruhi paru-paru lainnya. Akibat
terluka jaringan paru-paru dapat menyebabkan edema, penebalan septa dari
alveoli, dan perubahan lainnya. Jika peradangan ini cukup parah, dapat
menyebabkan disfungsi paru-paru seperti yang terlihat pada sindrom distres
pernapasan akut.

Ventilasi/perfusi mengalami mismatch, biasanya rasio ventilasi perfusi


adalah sekitar satu banding satu. Volume udara yang masuk alveoli (ventilasi)
adalah sama dengan darah dalam kapiler di sekitar perfusi. Rasio ini menurun
pada kontusio paru, alveoli terisi cairan, tidak dapat terisi dengan udara, oksigen
tidak sepenuhnya berikat hemoglobin, dan darah meninggalkan paru-paru tanpa
sepenuhnya mengandung oksigen Kurangnya inflasi paru-paru, hasil dari ventilasi
mekanis tidak memadai atau yang terkait, cedera seperti flail chest, juga dapat
berkontribusi untuk ketidakcocokan ventilasi/perfusi. Sebagai ketidakcocokan
antara ventilasi dan perfusi, saturasi oksigen darah berkurang. Vasokonstriksi pada
hipoksik paru, di mana pembuluh darah di dekat alveoli yang hipoksia mengerut
(diameter menyempit) sebagai respons terhadap kadar oksigen rendah, dapat
terjadi pada kontusio paru. Para resistensi vaskular meningkat di bagian paru-paru
yang memar, yang mengarah pada penurunan jumlah darah yang mengalir ke
dalamnya, mengarahkan darah ke daerah yang lebih baik-berventilasi Meskipun,
mengurangi aliran darah ke alveoli tak mendapat udara adalah cara untuk
mengimbangi kenyataan bahwa darah yang lewat tak mendapat udara, alveoli
tidak teroksigenasi, yang oksigenasi darah tetap lebih rendah dari normal. Jika
sudah parah cukup, hipoksemia yang dihasilkan dari cairan dalam alveoli tidak
dapat dikoreksi hanya dengan memberikan oksigen tambahan, masalah ini adalah
penyebab sebagian besar kematian yang diakibatkan trauma.

2.2.6 Pemeriksaan Diagnostik


1. Laboratorium → Analisa Gas Darah(AGD): → cukup oksigen dan karbon
dioksida yang berlebihan. Namun kadar gas mungkin tidak menunjukkan
kelainan pada awal perjalanan luka memar paru.
2. RO thorak
Menunjukkan memar paru yang berhubungan dengan patah tulang rusuk dan
emfisema subkutan. Ro thoraks menunjukkan gambaran Infiltrat, tanda infiltrat
kadang tidak muncul dalam 12-24 jam.

3.CT Scan

Akan menunjukkkan gambaran kontusio lebih awal.

4. USG
Menunjukkan memar paru awal, pada saat ini tidak terlihat pada radiografi.
Sindrom interstisial dinyatakan dengan garis putih vertikal, “B-Line”.

2.2.7 PENATALAKSANAAN
Tidak ada perawatan yang dikenal untuk mempercepat penyembuhan luka
memar paru;. Perawatan utama adalah mendukung upaya yang dilakukan untuk
menemukan luka memar yang menyertai, untuk mencegah cedera tambahan, dan
untuk memberikan perawatan suportif sambil menunggu luka memar pada tahap
prosespenyembuhan. Pemantauan, termasuk melacak keseimbangan cairan, fungsi
pernapasan, dan saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximetry juga
diperlukan untuk monitor kondisi pasien. Monitoring untuk komplikasi seperti
sindrom gangguan pneumonia dan pernapasan akut yang sangat penting.
Pengobatan bertujuan untuk mencegah kegagalan pernapasan dan untuk
memastikan oksigenasi darah yang memadai. oksigen tambahan dapat diberikan
dan mungkin dihangatkan dan dilembabkan. Ketika tidak merespon maka
tindakan lainnya dalam perawatan harus dilakukan, seperti oksigenasi membran
extracorporeal dapat digunakan, memompa darah dari tubuh ke mesin yang
oxygenates dan menghilangkan karbon dioksida sebelum memompa kembali
masuk.
Penatalaksanaan Utama: Patency Air way, Oksigenasi adekuat, kontrol nyeri
 Perawatan utama: menemukan luka memar yang menyertai, mencegah
cedera tambahan, dan memberikan perawatan suportif sambil menunggu
luka memar paru sembuh.
 Penatalaksanaan pada kontusio ringan
- Nebulisasi
- Postural drainase
- Fisio terapi dada
- Suctioning
- NyeriàAnastesi Spinal, Opioid
- Oksigenasi 24-36 Jam pertama
- Antibiotik
 Penatalaksanaan pada kontusio sedang
- Intubasi
- Ventilator PEP
- Deuretik
- NGT
- Cek Kultur
 Penatalaksanaan pada kontusio berat
- Penaganan Agresif Intubasi Endotracheal
- Ventilator
- Deuretik
- Anti mikrobal
- Pembatasan cairan

Ventilasi
Ventilasi mekanis mungkin diperlukan jika memar paru menyebabkan
oksigenasi yang tidak memadai. Ventilasi tekanan positif, di mana udara dipaksa
masuk ke dalam paru-paru, diperlukan bila oksigenasi secara signifikan terganggu.
Noninvasif ventilasi(NIV), continuous positive airway pressure (CPAP)
dan (BiPAP), dapat digunakan untuk meningkatkan oksigenasi dan mengobati
atelektasis. Dengan NIV, udara ditiupkan ke dalam saluran udara pada tekanan
ditentukan melalui masker dipasang erat menghadap kearah nasal.
Dalam BiPAP perubahan tekanan antara menghirup dan menghembuskan
napas, sedangkan pada CPAP tekanan adalah sama. Ventilasi noninvasif memiliki
keunggulan dibandingkan metode invasif karena tidak membawa risiko infeksi
karena intubasi, selain itu dapat menyebabkan kemungkinan batuk, menelan, dan
berbicara. Namun, teknik ini dapat menyebabkan komplikasi, mungkin udara
masuk ke dalam perut atau menyebabkan aspirasi isi lambung, terutama ketika
tingkat kesadaran menurun. Orang dengan tanda-tanda pernapasan tidak
memadai atau oksigenasi mungkin perlu diintubasi dan ventilasi mekanik.
Ventilasi mekanis bertujuan untuk mengurangi edema paru dan meningkatkan
oksigenasi. Ventilasi dapat membuka kembali alveoli yang kolaps, tetapi
berbahaya apabila tekanan yang berlebih tidak terkontrol atau ventilasi tekanan
positif juga dapat merusak paru-paru dengan overinflating. Intubasi biasanya
disediakan untuk ketika masalah pernafasan terjadi, tetapi kebanyakan kontusio
paru signifikan memang membutuhkan intubasi, dan hal itu dapat dilakukan pada
awal mengantisipasi kebutuhan ini. Orang dengan memar paru yang terutama
cenderung membutuhkan ventilasi termasuk orang-orang dengan penyakit paru-
paru yang sebelum parah atau masalah ginjal, pada orang tua, pada kasus dengan
penurunan tingkat kesadaran, mereka dengan oksigen darah yang rendah atau
tingkat karbon dioksida yang tinggi, dan mereka yang akan dioperasi dan
menumbuhkan anstesi.
Memar paru atau komplikasinya seperti sindrom gangguan pernapasan akut
dapat menyebabkan paru-paru kehilangan keelastisan (kaku), sehingga tekanan
yang lebih tinggi mungkin diperlukan untuk memberikan jumlah normal udara
dan oksigenat darah secara dengan tekanan dapat memadai. Positif akhir ekspirasi
(PEEP), yang memberikan udara pada tekanan yang diberikan pada akhir siklus
ekspirasi, dapat mengurangi edema dan menjaga alveoli dari kolaps. PEEP
dianggap perlu dengan ventilasi mekanis, namun jika tekanan terlalu besar itu
dapat memperluas ukuran memar dan melukai paru-paru. Ketika keelastisan paru-
paru berkurang berbeda secara signifikan dari yang terluka, paru-paru dapat
berventilasi secara independen dengan dua ventilator dalam rangka untuk
memberikan udara pada tekanan yang berbeda, ini membantu menghindari cedera
akibat overinflation sambil memberikan ventilasi yang memadai.

Cairan
Administrasi terapi cairan pada individu dengan kontusio paru adalah
kontroversial. Cairan yang berlebihan dalam sistem peredaran darah
(hipervolemia) dapat memperburuk hipoksia karena dapat menyebabkan
kebocoran cairan dari kapiler yang terluka (edema paru), yang lebih permeabel
dari biasanya. Namun, pada volume darah yang rendah (hipovolemia) yang
dihasilkan dari cairan yang tidak mencukupi memiliki dampak yang lebih buruk,
berpotensi menyebabkan syok hipovolemik, karena orang-orang yang telah
kehilangan sejumlah besar darah, cairan resusitasi sangat diperlukan. Banyak.
bukti yang mendukung gagasan bahwa cairan harus dikurangi dari orang-orang
dengan luka memar paru, berasal dari studi hewan, tidak uji klinis dengan
manusia, penelitian pada manusia telah memiliki temuan yang bertentangan
mengenai apakah resusitasi cairan memperburuk kondisi. Bagi orang yang
memang membutuhkan sejumlah besar cairan intravena, kateter dapat ditempatkan
dalam arteri pulmonalis untuk mengukur tekanan di dalamnya. Mengukur tekanan
arteri pulmonalis memungkinkan dokter untuk memberikan cairan yang cukup
untuk mencegah shok tanpa memperburuk edema. Diuretik, obat-obatan yang
meningkatkan urin untuk mengurangi cairan yang berlebihan dalam sistem, dapat
digunakan ketika overload cairan tidak terjadi. Furosemid, diuretik yang
digunakan dalam pengobatan luka memar paru, juga melemaskan otot polos dalam
pembuluh darah paru-paru, sehingga mengurangi resistensi vena paru-paru dan
mengurangi tekanan di kapiler paru.

Pendukung
Mempertahankan sekresi di saluran udara dapat memperburuk hipoksia
dan menyebabkan infeksi [4]. Dengan demikian, merupakan bagian penting dari
perawatan adalah toilet paru, penggunaan suction, bernapas dalam, batuk, dan
metode lain untuk menghapus materi seperti lendir dan darah dari saluran udara.
Terapi fisik dada, membuat penggunaan teknik seperti latihan pernapasan,
stimulasi batuk, pengisapan, perkusi, gerakan, getaran, dan drainase untuk
membersihkan sekresi paru-paru, meningkatkan oksigenasi, dan memperluas
bagian yang kolaps bagian dari paru-paru Orang dengan memar paru, terutama
mereka yang tidak merespon dengan baik untuk perawatan lainnya, dapat
diposisikan dengan paru-paru terluka lebih rendah dari yang terluka untuk
meningkatkan oksigenasi. Toilet paru yang tidak memadai dapat menyebabkan
pneumonia. Orang yang terkena infeksi diberikan antibiotik. Belum ada studi
menunjukkan manfaat dari penggunaan antibiotik sebagai tindakan pencegahan
sebelum infeksi terjadi, meskipun beberapa dokter menganjurkan penggunaan
antibiotik profilaksis bahkan tanpa bukti ilmiah manfaat nya. Namun, ini dapat
menyebabkan perkembangan strain resisten antibiotik bakteri, sehingga pemberian
antibiotik dengan kebutuhan yang jelas biasanya dianjurkan. Untuk orang-orang
yang berisiko sangat tinggi infeksi berkembang, dahak dapat dikultur untuk
menguji keberadaan infeksi-bakteri penyebab. Mengontrol rasa sakit adalah cara
lain untuk memfasilitasi pengurangan sekresi. Sebuah cedera dinding dada bisa
membuat batuk menyakitkan, meningkatkan kemungkinan bahwa sekresi akan
menumpuk di saluran udara . Luka dada juga berkontribusi terhadap hipoventilasi
(pernapasan tidak memadai) karena gerakan dinding dada yang terlibat dalam
pernapasan memadai menyakitkan. Keterbatasan ekspansi dada dapat
menyebabkan atelektasis, lebih lanjut mengurangi oksigenasi dari darah Analgesik
(obat nyeri) dapat diberikan untuk mengurangi rasa sakit. Injeksi anestesi ke saraf
di dinding dada, yang disebut blokade saraf, pendekatan lain untuk manajemen
nyeri, ini tidak menekan pusat respirasi.

2.2.8 KOMPLIKASI
 Memar paru dapat mengakibatkan kegagalan pernafasan, sekitar setengah
dari kasus terjadi dalam beberapa jam dari trauma awal.
 Komplikasi lainnya, termasuk infeksi akut dan sindrom gangguan
pernapasan (ARDS). Sekitar 50% pasien dengan ARDS memar paru, dan
80% pasien dengan kontusio paru melibatkan lebih dari 20% dari volume
paru-paru.

 Orang tua dan mereka yang punya penyakit hati, paru-paru, atau penyakit
ginjal sebelum cedera lebih mungkin untuk tinggal lebih lama di rumah
sakit dan memiliki komplikasi dari cedera. Komplikasi terjadi pada 55%
orang dengan jantung atau penyakit paru-paru dan 13% dari mereka tanpa
penyakit tertentu dengan memar paru saja, 17% mengembangkan ARDS,
sementara 78% orang dengan setidaknya dua cedera tambahan
mengembangkan kondisi.

 Pneumonia, komplikasi lain potensial, berkembang pada sebanyak 20%


dari orang dengan memar paru.

2.2.9 EPIDEMIOLOGI
 Kontusio paru terjadi pada sekitar 20% dari pasien trauma tumpul dengan
Skor Keparahan Cedera lebih dari 15, dan itu adalah cedera dada yang
paling umum pada anak-anak. Berkisar kematian dilaporkan dari 10
sampai 25%, dan 40-60% dari pasien akan memerlukan ventilasi mekanis.
Komplikasi luka memar paru ARDS, seperti yang disebutkan, dan
kegagalan pernafasan, atelektasis dan pneumonia.
 Memar paru ditemukan pada 30-75% kasus yang parah cedera dada,
sehingga cedera serius yang paling umum terjadi dalam hubungan dengan
trauma toraks. Dari orang yang memiliki beberapa cedera dengan skor
keparahan cedera lebih dari 15., Paru memar terjadi pada sekitar 17% .

 Tingkat kematian memar paru diperkirakan berkisar dari 14. – 40%,


tergantung pada tingkat keparahan luka memar itu sendiri dan pada cedera
yang berhubungan. Ketika memar kecil, mereka biasanya tidak
meningkatkan kemungkinan kematian atau hasil yang buruk untuk orang-
orang dengan trauma tumpul dada;. Namun, peluang ini meningkat dengan
ukuran memar pada. Satu studi menemukan bahwa 35% orang dengan
luka yang signifikan multiple termasuk mati memar paru. Dalam studi
lain,. 11% orang dengan memar paru saja meninggal, sedangkan jumlah
naik menjadi 22% pada mereka dengan cedera tambahan.

 Hal ini sulit untuk menentukan tingkat kematian (mortalitas) karena


memar paru jarang terjadi dengan sendirinya. Biasanya, kematian orang
dengan hasil memar paru dari cedera lainnya, cedera otak traumatis umum.

2.2.10 PROGNOSA

CT scan ini, diambil 22 hari setelah memar paru dengan trauma dada besar,
menunjukan bahwa memar telah membaik. Memar biasanya sembuh sendiri
tanpa menyebabkan komplikasi permanen.[1] Namun juga mungkin memiliki efek
jangka panjang pada fungsi pernafasan berupa nyeri. Kebanyakan memar paru
membaik dalam lima sampai tujuh hari setelah cedera. Tanda yang terdeteksi
dengan radiografi biasanya hilang dalam 10 hari setelah cedera. Apabila tidak
kondisi lain, seperti pneumonia. Penyakit paru-paru kronis berkorelasi dengan
ukuran memar dan dapat mengganggu dengan kemampuan individu untuk
kembali bekerja. Fibrosis paru-paru dapat terjadi, mengakibatkan dispnea (sesak
napas), oksigenasi darah rendah, dan mengurangi kapasitas residual fungsional
selama enam tahun setelah cedera. Sebagai akhir sebagai empat tahun pasca-
cedera, penurunan kapasitas residual fungsional telah ditemukan pada pasien yang
mengalami kontusio paru yang parah. Selama enam bulan setelah memar paru,
hingga 90% dari orang menderita kesulitan bernafas dalam beberapa. kasus,
mengalami dispnea yang menetap selama periode tertentu.Kontusio paru juga
dapat secara permanen mengurangi keelastisan paru-paru.
Memar biasanya sembuh sendiri paru tanpa menyebabkan komplikasi
permanen. Namun juga mungkin memiliki efek jangka panjang pada fungsi
pernafasan sakit. Kebanyakan memar menyelesaikan dalam lima sampai tujuh hari
setelah cedera. Tanda terdeteksi dengan radiografi biasanya hilang dalam 10 hari
setelah cedera ketika mereka tidak, kondisi lain, seperti pneumonia, adalah
penyebab kemungkinan. Penyakit paru-paru kronis berkorelasi dengan ukuran
memar dan dapat mengganggu dengan individu kemampuan untuk kembali
bekerja. Fibrosis paru-paru dapat terjadi, mengakibatkan dispnea (sesak napas),
oksigenasi darah rendah, dan mengurangi kapasitas residual fungsional selama
enam tahun setelah cedera. Sebagai akhir sebagai empat tahun pasca-cedera,
penurunan kapasitas residual fungsional telah ditemukan pada pasien yang paling
memar paru dipelajari. Selama enam bulan setelah memar paru, hingga 90% dari
orang menderita kesulitan bernafas dalam beberapa. kasus, dispnea tetap selama
periode tertentu memar juga dapat secara permanen mengurangi kepatuhan paru-
paru.
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien


Nama : Ilyas Nyak Him
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 53 tahun
Pekerjaan : Petani
Alamat : Abdya
Agama : Islam
Tanggal Masuk RS : 26 November 2018
No RM : 1-19-21-71

3.2. Anamnesis
1) Keluhan Utama :
Penurunan kesadaran
2) Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien rujukan RS Abdya dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 2
hari SMRS. Pasien mengalami kecelakaan ditabrak mobil saat pasien
sedang jalan kaki. Riwayat kejang dan muntah disangkal.
3) Riwayat Pengobatan dan Alergi :
Pasien tidak memiliki alergi pada makanan maupun obat-obatan.
4) Riwayat Penyakit Dahulu:
Disangkal
3.3. Pemeriksaan Fisik
1) Primary Survey:
a. Airway clear
b. RR 26 x/menit spontan
c. TF: 125/70 mmHg, HR 75 x/i regular dan kuat angkat
d. GCS E2M4V3, RCL +/+, isokor
e. Status Lokalis

2) Status Generalis :
a. Keadaan umum: Lemah
b. Kesadaran : E2M4V3
c. Vital sign:
a. TD : 125/70mmHg
b. RR : 26 x/menit
c. N : 75 x/menit
d. T : 36,7 C
b. Kepala: Conjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-),
c. Leher: Pembesaran limfe leher (-), JVP tidak meningkat,
d. Paru- paru: vesikuler ( / ), wheezing (-)/(-), rhonki (-)/(+),
e. Jantung: Bunyi jantung I > II reguler, gallop (-), murmur (-),
f. Abdomen: Peristaltik usus (+) normal, nyeri tekan (-), hati dan
limpha tidak teraba membesar, timpani (+).
g. Ekstremitas: Status Lokalis

3) Status Lokalis (Thoraks)


a. Inspeksi : Asimetris, kiri tertinggal
b. Palpasi : SF sulit dinilai
c. Perkusi : sonor/redup
d. Auskultasi : vesikuler ( / ), wheezing (-)/(-), rhonki (-)/(+),

3.4. Pemeriksaan Penunjang


A. Pemeriksaan Darah Rutin dan Kimia Darah
Parameter Hasil Nilai Normal
(30/11/2018)
Leukosit 18,2 4.5 – 10.5 x 103
/µL
Hb 9,3 14,0-17,0 gr/dL
Hct 29 45-55 %
Eri 3,6 4,7- 6,1. 103/ µL
Trombosit 196 150-450. 103
PT 11,2 9,3-12,4
APTT 49,1 29,0-40,2
D-dimer 7924,53 <500
GDS 223 <200
Ureum 77 13-43
Kreatinin 0,88 0,67-1,17
Na 142 132-146 mmol/L
K 3,5 3,7-5,4 mmol/L
Cl 97 98-106 mmol/L
Ca 7,3 8,6-10,3
Mg 1,9 1,6-2,6

B. Foto Thoraks AP (12/11/2018)


Kesan: fraktur costae sinistra

3.5. Diagnosis
1. Acute respiratory failure
2. Fraktur costae 2,3,4,5,6 anterio hemithoraks sin + Fraktur costae 3,6,7
lateral hemithoraks sin
3. Contusio paru

3.6. Tatalaksana
Medikamentosa
- IVFD RL 1500cc/24 jam
- Inj ceftriaxone 1 gr/12 jam (IV)
- Inj Ketorolac 3%/ 8 jam (IV)
- Inj. Ranitidin 30 mg/ 12 jam (IV)
- Inj. Methyl prednisolone 125 mg/12 jam (IV)
- N. Ventolin 1 resp/ 8 jam
Non-Medikamentosa
- Tirah baring
- perbaikan KU
- Persiapan operasi elektif platting costae

3.7. Prognosis
a. Quo ad vitam : dubia ad malam
b. Quo ad sanationam : dubia ad malam
c. Quo ad funcionam : dubia ad malam

1.8. Follow up
Foto Thoraks AP ( 14/11/2018)

Kesan :
BAB IV
PEMBAHASAN
Penatalaksanaan awal pasien di ruang resusitasi pada umumnya sesuai
dengan tata cara penanganan pasien trauma yaitu mulai dari tahapan primary
survey, resusitasi, secondary survey dan pemeriksaan penunjang. Pasien dalam
keadaan cukup stabil (tanda vital). Pemeriksaan foto thoraks menunjukkan
terdapat fraktur costae multipel, kontusio paru dan hematothoraks serta
pemeriksaan FAST menunjukan tidak ada cairan di rongga abdomen dan
ditemukan efusi pleura kanan. Pasien dilakukan pemasangan chest tube kanan
dan kiri dan pasca tindakan dirawat di ruang observasi intensif. Setelah beberapa
hari dirawat di ICU diputuskan untuk dilakukan pemasangan fiksasi interna.
Masalah yang pertama kali dihadapi (primary survey) adalah (1)
syok hipovolemik kelas III, (2) hematotoraks kanan dan kiri, (3) flail
chest kanan dan kiri, (4) kontusio paru dan (5) fraktur iga kanan dan kiri.
Tindakan yang dilakukan pada saat pertama kali pasien diterima di instalasi
gawat darurat sudah cukup memadai, terutama (1) collar brace yang telah
terpasang sebelumnya dari rumah sakit luar, (2) pemberian cairan dan transfusi
darah untuk mengatasi syok dan anemia, (3) tindakan intubasi untuk
mempertahankan jalan napas dan mengurangi beban otot pernapasan serta
pemberian untuk oksigenasi (4) O2pemasagan chest tube untuk
mengevakuasi cairan di rongga pleura sehingga masalah restriksi dapat
dikurangi dan (5) pemberian morfin untuk mengatasi rasa nyeri. Setelah
tindakan resusitasi dilakukan maka masuk tahapan secondary survey guna
menentukan diagnosis pasti dengan melakukan pemeriksaan fisis yang
menyeluruh diikuti dengan pemeriksaan laboratorium dan radiologis. Seharusnya
pemeriksaan foto toraks dan USG dilakukan setelah seluruh pemeriksaan fisis
dikerjakan. Pada pasien ini kedua pemeriksaan itu dilakukan lebih awal
kemungkinan untuk menentukan masalah (diagnosis) sesungguhnya secepat
mungkin sehingga komplikasi yang mungkin terjadi dapat segera dicegah.
Pemeriksaan laboratorium memang dilakukan setelah secondary survey
dikerjakan termasuk pemeriksaan analisis gas darah. Analisis gas darah
diperlukan untuk menetukan apakah pasien dengan trauma toraks harus
dilakukan intubasi atau tidak.
Pertama kali pasien datang ke ruang resusitasi trakhea dan dilakukan
tindakan intubasi. Tindakan ini dilakukan karena kedua paru pasien sudah
mengalami gangguan akibat fraktur iga multipel dengan demikian diharapkan
fungsi ventilasi masih dapat dipertahankan. Dahulu pasien dengan fraktur iga
multipel rutin dilakukan intubasi dan pemasangan ventilasi mekanik, termasuk
juga pada pasien dengan flail segment. Meskipun saat ini penelitian menunjukkan
bahwa fraktur costae multipel yang diberikan continous positive airway pressure
(CPAP) dan analgesi regional (epidural atau blok saraf interkosta) secara
bermakna menurunkan lama perawatan dan komplikasi dibandingkan pasien
yang diintubasi dan mendapat ventilasi mekanik. Hal ini karena pasien yang tidak
disedasi dan tanpa ventilasi mekanik dapat melakukan fisioterapi dan mobilisasi
seta menurunkan kejadian sepsis. Indikasi intubasi trakhea pada pasien dengan
flail chest , yaitu : 1) syok berat, 2) sistolik <70mmHg, 3) GCS<8, 4) pasien yang
membutuhkan pembedahan segera, 5) fungsi pernapasan yang tidak adekuat, 6)
penggunaan otot bantu napas, pernapasan >35/menit atau < 8/menit, 7) saturasi
O2 < 90% dengan O2 15 L/menit dengan masker PaCO2>55 mmHg.
Hasil pemeriksaan fisis toraks pasien ini menunjukkan ada kelainan di paru
berupa penurunan suara napas baik paru kanan maupun paru kiri, sehingga
sebenarnya diagnosis atau masalah fraktur iga multipel, hematotoraks maupun
emfisema subkutis sudah dapat ditentukan. Pemeriksaan fisis harus dilakukan
lebih seksama untuk menentukan apakah pada pasien ini hanya terdapat fraktur iga
biasa atau fraktur iga segmental. Pada pasien ini agak sulit menentukan agak
sudah terdapat fraktur iga segmental baik di dada kanan maiupun kiri. Hal ini
dapat terjadi karena waktu dilakukan palpasi pasien merasakan nyeri atau fraktur
segmental yang terjadi masih terfiksasi dengan baik oleh otot–otot. Karenanya
pemeriksaan tambahan seperti foto toraks sangat membantu memecahkan masalah
ini.
Hasil pemeriksaan foto toraks pasien ini ditemukan pula ada fraktur iga
multipel, hemotoraks dan kontusio paru. Foto toraks diperlukan karena sebagian
besar pasien dengan trauma dada merupakan cedera multipel sehingga
pemeriksaan fisis kadangkala menjadi sulit dilakukan. Seringkali dijumpai kasus
trauma toraks dengan pneumotoraks atau hemotoraks yang tidak terdiagnosis

pada saat penilaian awal.11 Pemeriksaan foto toraks pada pasien dengan
fraktur iga diilakukan dalam 10 menit setelah pasien pertama kali datang tanpa
menghambat pertolongan pada pasien. Interpretasi yang cepat dan akurat hasil
foto thoraks diperlukan untuk menghindari hilangnya petunjuk yang dapat
menyelamatkan nyawa pasien.
Kontusio paru pada pasien ini terjadi kemungkinan akibat ekstravasasi
darah ke dalam alveoli dan bronkus akibat cedera. Kontusio paru adalah cedera
parenkim paru yang menyebabkan edema dan perdarahan interstisial, biasanya
akibat proses akselerasi–deselerasi. Darah akan masuk ke dalam alveoli dan
bronkus sehingga terjadi gangguan difusi berupa perubahan rasio ventilasi dan

perfusi, terjadi pergeseran shunt dari kanan ke kiri dan gangguan ventilasi.4,18
Mortalitas pasien dengan kontusio paru berkisar 10–25% dan sering terjadi akibat
trauma tumpul toraks. Kontusio paru dapat mengganggu pertukaran gas dan
menyebabkan shunting. Pasien dengan kontusio paru merupakan predisposisi
mendapatkan pneumonia dan ARDS akibat pelepasan sitokin inflamasi dari

daerah kontusio paru tersebut.19


Pemasangan chest tube pada pneumotoraks traumatik yang diakibatkan
oleh trauma tumpul baik ringan maupun sedang tanpa cedera yang bermakna
ataupun dalam penggunaan intermittent positive pressure ventilation (IPPV)
bukan merupakan hal yang utama. Hal ini karena sebagian pneumotoraks besar
udara yang ada akan diserap dengan sendiri. Pasien dengan traumatik
pneumotoraks dalam 24 jam harus diberikan analgetik, pemantauan tanda vital
dan oxymetry. Pemeriksaan foto toraks ulang harus dilakukan setelah 6 jam dan
chest tube harus dipasang jika peneumotoraks bertambah luas. Bagaimanapun
juga pemasangan chest tube harus segera dilakukan bila pada saat pengamatan
terjadi gangguan respirasi ataupun pemberian intermittent positive pressure
ventilation (IPPV) tidak memberikan hasil yang baik karena paru bertambah
kolaps. Pada kasus traumatik pneumotoraks dengan cedera yang bermakna dan
tanpa ada gangguan respirasi, kebanyakan akan membaik dengan sendirinya

sehingga risiko akibat pemasangan chest tube dapat dihindarkan.22


Selain pemasangan chest tube, mengatasi rasa nyeri yang terjadi akibat fraktur
iga merupakan hal yang penting pada pasien ini. Dengan mengatasi rasa nyeri
maka pola pernapasan pasien dapat diatur sehingga komplikasi yang akan
timbul seperti pneumonia, atelektasis dan gagal napas dapat dicegah. Pasien
ini diberikan morfin secara teratur karena selain menghilangkan rasa nyeri juga

mempunyai efek sedasi.3,8 Pemberian tramadol juga dimungkinkan karena obat


ini merupakan golongan analgesik opioid lemah dan bisa digunakan untuk

mengatasi rasa nyeri derajat sedang hingga berat.23

Pasien dilakukan tindakan bedah berupa pemasangan fiksasi interna tulang


iga yang patah.Tindakan bedah harus dilakukan karena sudah terjadi cedera
toraks, kontusio paru dan gangguan respirasi. Waktu yang tepat kapan seharusnya
dilakukan fiksasi fraktur pada trauma dada sampai saat ini masih menjadi
perdebatan. Fiksasi yang dilakukan pada saat awal menurunkan kejadian
inflamasi di daerah cedera, menurunkan rasa nyeri dan penggunaan opiat.
Penelitian menunjukkan bahwa fiksasi akan mengurangi komplikasi paru dan
mempercepat mobilisasi. Tetapi morbiditi dan mortaliti tetap tinggi jika trauma
dada disertai dengan trauma di organ lain, seperti kepala, akibat keluarnya
sumsum tulang yang mempengaruhi sistem pulmoner dan susunan saraf pusat.
Fiksasi hanya dapat dilakukan jika semua proses resusitasi telah dilaksanakan

dengan baik.26
Fraktur costae yang terjadi pada pasien ini begitu banyak sehingga jika
telah masuk tahap penyembuhan kemungkinan akan terjadi deformiti, atelektasis
dan pengurangan volume paru. Tindakan yang dilakukan sedini mungkin
diharapkan akan memperbaiki bentuk dinding dada, mengurangi kecacatan dan
mempertahankan fungsi paru. Selain itu pemasangan fiksasi interna, ahli
bedah dapat sekalian membersihkan rongga pleura dari darah dan bekuan
darah sehingga terjadinya empyema dan fibrosis pleura dapat dicegah. Pasien
yang dilakukan pembedahan dirawat di ICU lebih singkat dibandingkan
pasien yang hanya dilakukan perawatan konservatif. Demikian pula dengan
penggunaan ventilasi mekanik lebih singkat dan proses penyapihan lebih cepat

pada pasien yang dilakukan pembedahan.27,


BAB V
KESIMPULAN

Telah dilakukan penanganan pasien fraktur costae multipel yang terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas tertabrak mobil.Benturan pada rongga toraks
menyebabkan fraktur costae multipel yang menyebabkan terjadinya
hematopneumotoraks, kontusio paru dan emfisema subkutis.

Diagnosis pasien dengan fraktur costae multipel yaitu dengan pemeriksaan


fisis yang baik dan ditunjang dengan pemeriksaan foto toraks. Penatalaksaan
pasien fraktur costae multipel yaitu dengan mengatasi masalah yang ada yaitu
pemberian obat anti nyeri untuk mengatasi nyeri, pemasangan chest tube untuk
mengatasi hematoraks dan emfisema subkutis. Tindakan pemasangan fiksasi
interna dilakukan untuk mempertahankan fungsi paru dan mengurangi
komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Talbot BS, Gange CP, Chaturvedi A, Klionsley N, Hobbs SK, Caturvedi A.


Traumatic Rib Injury: Patterns, Imaging Pitfalls, Complications, and
Treatment. 2017;37(2):628-1004.
2. Fernandez MA, Griffin XL, Costa ML. Management of Hip Fracture. British
Medical Bulletin. 2015;115:165-172.
3. Witt CE, Bulger EM. Comprehensive Approach to the Management of the
Patient with Multiple Rib Fracture: A Review and Introduction of A Bundled
Rib Fracture Management Protocol. Trauma Surg Acute Care Open. 2017;2:1-
7.
4. May L, Hillermann C, Partial S. Rib Fracture Management. BJA Education.
Oxford University. 2016;16(1):26-32.
5. Haylett R. Rib Fracture and Chest Injury. Oxford University Hospital NHS
Trust. 2014;1-7.
6. Brunner DI, Pritehard A, Hubert A. Pulmonary Contusion. AHC Med.
2011;12:6.
7. Cohn SM, Dubose JJ. Pulmonary Contusion: An Update on Recent Advances
in Clinical Management. World J Surg. 2010;34:1959-1970