Anda di halaman 1dari 10

Hasil Observasi Lapangan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan nama saya Imam Hidayat, stambuk 110 2018 0126. Pada laporan ini
saya akan menceritakan, dan melaporkan bagaimana hasil pengamatan yang saya lakukan
bersama teman-teman kelompok pada tempat yang telah ditentukan yaitu Rumah Sakit Ibnu
Sina. Observasi lapangan terhadap rumah sakit ini merupakan salah satu metode
pembelajaran pada blok Bioetik, Humaniora, dan Profesionalisme dimana pada kegiatan ini
mahasiswa kedokteran dapat lebih mengenal lebih dalam lagi bagaimana interaksi-interaksi,
peristiwa-peristiwa, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di suatu instansi kesehatan yakni
puskesmas ataupun rumah sakit. Setelah mengikuti kegiatan observasi lapangan, mahasiswa
diharapkan mampu menjelaskan tentang komunikasi yang efektif, mengenali perilaku
profesional yang harus dimiliki seorang dokter. menjelaskan tentang hubungan dokter-
pasien, dokter-dokter, dokter-petugas layanan kesehatan lain dan dokter-masyarakat dari
sudut pandang humaniora, menjelaskan tentang peran hubungan interpersonal dalam
lingkungan profesi dan pribadi.

Pembimbing observasi lapangan yang mengarahkan kami ialah dr. Iin Widya
Ningsi, beliau mengarahkan kami untuk mengobservasi keadaan di Rumah Sakit Ibnu Sina.
Dalam satu kelas terbagi menjadi 11 kelompok, dan tiap-tiap kelompok akan mengobservasi
rumah sakit dan puskesmas yang berbeda. Kelompok 7, kelompok 8, kelompok 9, kelompok
10, kelompok 11 kelas B ditugaskan untuk mengobservasi Rumah Sakit Ibnu Sina.
Kelompok 3 dan kelompok 4 kelas B ditugaskan di Rumah Sakit Khadijah. Kelompok 2 dan
kelompok 6 ditugaskan di Puskesmas Jumpandang. Kelompok 1 dan kelompok 5 ditugaskan
di Puskesmas Pertiwi. Kelompok kami terdiri dari 11 orang, yaitu Herlambang Andreka
Junior Dwi Putra (11020180123), Imam Hidayat (11020180126), Multazam Pratama
Mahfud (11020180133), A. Devita Nurul Ainiah (11020180150), Puspita Wahyu Lestari
(11020180168), Muhammad Ahmad Aziri (11020180177), Innayaturrahmatiah Mujaddid
(11020180180), Nuzul Shafira Alie (11020180192), Andi Muhammad Batara Sakti Haring
(11020180214), Indadzi Arsyi Iwan (1102018230), Pramesty Regita Cahyani
(11020180235). Dan dari 11 orang kelompok kami dibagi lagi menjadi 4 kelompok kecil

1
sesuai arahan pembimbing, agar memudahkan kami dalam mengobservasi rumah sakit sesuai
yang diamanahkan.

Pada tanggal 15 Oktober 2018, kami diarahkan pembimbing untuk melakukan


kegiatan observasi pada pukul 16.00 setelah melaksanakan Shalat Ashar. Kami berangkat
dari kampus menuju ke Rumah Sakit Ibnu Sina pada pukul 16.10 dan tiba di Rumah Sakit
Ibnu Sina.

Rumah Sakit Ibnu Sina beralamat Jalan Letnan Jenderal Urip Sumoharjo Km 5 No.
264 Makassar, dilewati jalan protocol dan berhadapan langsung dengan kampus 2 UMI.
Sebelah utara berbatasan dengan utara berbatasan dengan kampus II UMI sebelah selatan
berbatsan dengan kanal sukaria sebelah timur berbatasan dengan PT. BOSOWA dan sebelah
barat berbatasan dengan menara UMI. Rumah sakit ini merupakan bangunan 5 lantai yang
berdiri di atas lahan seluas 18.008 m2 dengan luas bangunan seluruhnya adalah 12.025 m2.
Seluruh fasilitas baik sarana pelayanan utama maupun penunjang berada pada satu lokasi.
Pendirian rumah sakit ini selain dimaksudkan sebagai pemberi pelayanan kesehatan untuk
masyarakat juga ditujukan untuk menjadi rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran
UMI yang telah berdiri sejak tahun 1992. Hingga saat ini, keberadaan Rumah Sakit Ibnu Sina
sebagai wahana pendidikan utama mahasiswa tahap profesi Fakultas Kedokteran Universitas
Muslim Indonesia.

Rumah Sakit Ibnu Sina terdiri dari 5 lantai, lantai I terdiri atas SO Rawat Inap, IGD,
ICU, Casemix & Kasir, Laboratorium, Radiologi, Instalasi Farmasi, Billing, Wadir Umum
& Operasional, Wadir Keuangan, Wadir Pendidikan, Personalia & Keperawatan, Keuangan,
Instalasi Rawat Jalan, Teknisi, Instalasi Gizi, Logistik, Hemodialisa, Fisioterapi, Laundry,
Mikrobilogi & PA, Kamar Jenazah, Kantin, Masjid, Pos Satpam. lantai II terdiri atas Ruang
Direktur, Wadir Medik, Ruang Seminar, Bank Darah, Kamar Operasi, Kamar Bersalin,
Endoskopi, Perinatologi, CSSD, Perawatan Aisyah. Perawatan Aminah, Poliklinik Kulit, K3,
Komite Medik, IT, Komite Keperawatan, Poliklinik Jiwa, Poliklinik DOTS, Rekam Medik.
Lantai III terdiri atas Clinical Education Unit (CEU), Depo Farmasi, Perawatan Assifa, dan
Perawatan Assafii. Lantai IV terdiri atas Perawatan Bukhari dan Perawatan Muslim. serta
lantai V terdiri atas Perawatan Raodah dan Perawatan Madinah.

2
Pada pukul 16.10 kami tiba di Rumah Sakit Ibnu Sina. Kami berkumpul untuk
bersiap-siap melakukan observasi. Di sana kami bertemu dengan berbagai kelompok lain
yang juga sedang melakukan observasi di Rumah Sakit Ibnu Sina. Tetapi kami sewaktu
melapor di satpam, satpam tidak mengizinkan karena ia mengira bahwa kegiatan ini belum
ada perintah resmi dari pimpinan Rumah Sakit. Akan tetapi yang sebenarnya ialah surat telah
masuk ke direktur, dan telah disposisi. Tetapi di sana kami bertemu dengan dr. Suliati yang
mengarahkan untuk mengobservasi rumah sakit pada besok harinya, tanggal 16 Oktober
2018 dikarenakan dokter-dokter sudah pada pulang pada sore hari tersebut.

Sesaat setelah kami tiba di rumah sakit, hujan mengguyur Kota Makassar yang
akhir-akhir ini jarang dijumpai, mungkin karena Indonesia sudah memasuki musim
penghujan. Hujan saat itu terbilang cukup deras, kami yang sedang menunggu di depan pintu
lobby rumah sakit diharuskan untuk masuk untuk berteduh. Awalnya kami sudah berniat
untuk kembali ke kampus, tetapi karena kondisi saat itu tidak kondusif untuk pulang maka
kami sepakat untuk menunggu sampai hujan reda kembali. Kami berpikir alangkah lebih baik
jika kami menunggu sambil melakukan pengamatan atau observasi terhadap apa yang kami
lihat, walaupun kami sudah merencanakan untuk melakukan kegiatan observasi besoknya.

Pada sore itu, ruangan 10x14 itu menjadi tempat yang tepat bagi kami untuk
berteduh sekaligus mengamati rumah sakit, atau kami menyebutnya lobby karena di tempat
itu merupakan jalan masuk dan disediakan berbagai kursi di dalamnya. Saat itu ada tiga
kelompok yang ada, dan kami sama-sama terjebak hujan. Saat itu kami melihat kondisi
rumah sakit yang adem dan tenang, karena orang-orang sangat mengerti bahwa orang-orang
sakit pastinya membutuhkan ketenangan. Di lobby tersebut terdapat apotek, resepsionis, lift,
tangga, dan lorong untuk menuju ke tempat lainnya. Kondisi lantai di lobby saat itu sangat
becek yang ditimbulkan dari orang yang berlalu lalang dengan sepatu yang becek, dan
pastinya becek itu disebabkan hujan yang membasahi jalanan. Dengan cekatan cleaning
service saat itu langsung melakukan tugasnya, ia memasangkan karton tepat di pintu masuk
agar orang dapat membersihkan alas kakinya terlebih dahulu sebelum masuk sehingga dapat
mengurangi becek saat itu. Di lobby disediakan berbagai kursi sebagai sarana untuk
pengunjung yang sedang menunggu lama, entah itu menunggu obat darii apotek, menunggu

3
informasi dari resepsionis, atau menunggu pengunjung lainnya. Di setiap ruangan, di setiap
kali saya jalan, saya sering mendapatkan tempat sampah, hal tersebut bertujuan agar
kebersihan di rumah sakit dapat terjaga setiap waktu karena tidak mungkin juga seorang
cleaning service dapat menangani tugas kebersihan sekaligus. Penggunaan tempat sampah
yang berlebih sudah sangat tepat, dengan adanya tempat sampah yang berlebih membuat
kebersihan terkendali setiap saat sehingga kesehatan yang merupakan tujuan dari rumah sakit
dapat terjaga, karena lingkungan yang kotor dapat memunculkan berbagai penyakit di
dalamnya. Di halaman depan rumah sakit, terdapat lahan parkir yang sangat luas yang
disediakan untuk para pengguna kendaraan bermobil dan kendaraan bermotor. Lahan parkir
dibuat cukup luas agar kendaraan dapat memarkirkan kendaraannya dengan rapi. Di sela-sela
parkiran dan di pinggir halaman rumah sakit terdapat tumbuh-tumbuhan hijau yang rindang
dan menyejukkan.

Setelah beberapa waktu kami mengamati sedikit dari rumah sakit, dan berhubung
hujan saat itu reda, maka kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan
mempersiapkan diri untuk kembali mengobservasi besoknya.

Selasa, 16 Oktober 2018, tepatnya pada pukul 13.30 WITA, kami kembali
mengunjungi Rumah Sakit Ibnu Sina tak lain dan tak bukan untuk melakukan kegiatan
observasi rumah sakit. Setelah kami melapor dan meminta izin ke dr. Iin, kami segera
berangkat ke Rumah Sakit Ibnu Sina. Sebelum masuk, kami mengatur rute pengamatan, tiga
orang ke bagian Radiologi, tiga orang ke bagian apotek, tiga orang ke bagian Unit Gawar
Darurat (UGD), dan dua orangnya lagi ke keperawatan lantai 5. Dan masing-masing ruangan
yang dikunjungi akan dirolling supaya kami semua dapat juga mengunjungi dan mengamati
ruangan-ruangan tersebut.

Ruangan pertama yang saya kunjungi adalah Ruang Radiologi. Di Ruang Radiologi
terbagi lagi menjadi empat ruang, yakni ruang dokter, ruang coass, ruang USG, dan ruang
pemeriksaan radiologi. Di ruang USG terdapat alat USG (Ultrasonografi), tempat tidur, dan
komputer. Alat USG ini sangat berguna untuk mendeteksi dan memeriksa kesehatan
seseorang. Alat ini dapat memeriksa sistem empedu, sistem urinasi (perkemihan), Sistem
kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), usus buntu, pembesaran kelenjar getah

4
bening, serta dapat mendeteksi kehamilan seseorang. Di ruang pemeriksaan radiologi,
terdapat alat pesawat x-ray yang dikendalikan oleh alat kontrol panel. Pesawat x-ray ini
menggunakan sinar-x yang dapat digunakan di berbagai bidang, seperti kedokteran,
penelitian, dan lain-lain. Khususnya di bidang kedokteran, sinar-x ini digunakan untuk
melihat kondisi gigi, tulang, dan organ dalam lainnya tanpa terlebih dahulu melakukan
pembedahan. Penggunaan sinar-x ini biasanya disebut foto rontgen. Di ruang radiologi ini
kami tidak didampingi dokter karena sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan sebelum
kedatangan kami, jadi kami hanya didampingi oleh penanggungjawab ruangan tersebut.

Setelah ruang radiologi, kami menuju ke ruang berikutnya yaitu bagian apotek.
Ruang apotek berada di seberang ruang radiologi. Sebelum kami melakukan observasi di
ruang apotek, terlebih dahulu kami meminta izin kepada penanggung jawab apotek. Setelah
kami diizinkan, kami langsung mengobservasi ke dalam apotek, dan bertanya-tanya seputar
apotek kepada apoteker yang sedang jaga saat itu. Apotek yang ada Rumah Sakit Ibnu ada 3,
diantaranya ialah apotek rawat jalan, apotek rawat inap, dan apotek umum yang terletak di
lantai 2. Apotek yang ada di rumah sakit buka 24 jam, jadi bila ada pasien yang membutuhkan
obat-obatan, mereka dapat mengakses apotek kapan saja bila ada keadaan darurat yang
mengharuskan beli obat. Apoteker yang jaga juga bergantian, jadi apoteker dapat
memberikan pelayanan selama 24 jam. Ada obat yang dapat dibeli tanpa menggunakan resep
dokter, tapi ada pula obat yang dibeli harus disertai resep dokter, biasanya obat tersebut
termasuk golongan obat keras. Dalam apotek terdapat kulkas atau pendingin sebagai tempat
penyimpanan obat-obatan yang harus ditempatkan dalam temparatur yang rendah dari suhu
20C sampai suhu 80C, diantaranya ialah Atracurium, Anbacim, Bifotik, CO Amoxiclav,
Chrome 50, Interlac SYR, Levemir, Meloxicam Suppo, Adona 25 dan 50, Extrace, dan lain-
lain. Untuk melakukan pembayaran pembelian obat, transaksi dilakukan langsung di apotek
tersebut, tidak perlu lagi transaksi di kasir rumah sakit tersebut. Apoteker yang jaga saat itu
sangat ramah menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan kami, begitu pula kepada
palanggan, mereka terlihat sangat ramah menanggapi pesanan pelanggan apotek.

Setelah mengamati ruang apotek, kami melanjutkan observasi di bagian Unit Gawat
Darurat, tetapi karena di UGD banyak teman-teman kelompok lain yang juga menunggu

5
untuk mengobservasi UGD, maka kami melanjutkan observasi di bagian keperawatan lantai
5. Kami naik ke lantai 5 menggunakan tangga dan bertemu berbagai petugas layanan di
rumah sakit, mulai dari cleaning sevice, pegawai, mahasiswa coass, perawat, serta dokter,
dan semuanya melangkahkan kaki dengan cekatan seperti sedang sibuk mengurus sesuatu.
Dan pastinya kami juga bertemu pasien dan pengunjung dengan berbagai kalangan, dari anak
muda sampai kakek nenek, dari yang pakaian lesu sampai yang berpakaian rapi.

Saat kami menginjakkan kaki di lantai 5, kami langsung menemui perawat yang
sedang jaga saat itu dan meminta izin untuk mengobservasi keperawatan lantai 5 dan
memintanya untuk mendampingi kami dalam mengobservasi. Setelah kami meminta izin,
dan kebetulan saat itu ada perawat yang akan melakukan kontrol pasien, dan kami diizinkan
untuk mengamati bagaimana interaksi antara perawat dan pasien tersebut. Saat memasuki
ruangan pasien, perawat terlebih dahulu meminta izin kepada pasien dan keluarga pasien
untuk memasuki ruangan untuk kontrol pasien, dan perawat langsung mendatangi pasien
yang sedang terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur tersebut. Pasien saat itu sedang
diinfus, dan kondisi kaki pasien sedang dibalut dan terlihat seperti luka fraktur pada kaki
bagian kirinya. Dikabarkan bahwa pasien tersebut adalah korban bencana Palu, Sulawesi
Tengah. Saat itu, terlebih dahulu perawat menanyakan kondisi pasien apakah dia sudah
merasa lebih baik dari sebelumnya. Dan setelah itu perawat meminta izin ke pasien untuk
menyuntik pasien dengan tujuan memasukkan cairan ke dalam tubuh pasien. Tetapi saat itu
perawat terlihat kesulitan mencari pembuluh vena dari pasien, mungkin karena tubuh pasien
tersebut gemuk sehingga perawat kesulitan menemukan pembuluh vena pasien tersebut.
Pasien disuntik sebanyak lebih dari tiga kali barulah perawat menemukan titik yang tepat.
Pasien saat itu terlihat sabar merasakan sakitnya suntikan yang ditusukkan berkali-kali ke
lengan pasien tersebut, dan ia terlihat menyerahkan dan memercayakan sepenuhnya kepada
perawat demi keinginan pasien untuk sembuh dari penderitaan yang ia alami. Setelah kami
mengamati bagaimana interaksi tersebut kami meminta izin lagi untuk pindah ke bagian
selanjutnya yaitu UGD. Sebelum turun kembali ke lantai I, kami berbincang-bincang
bagaimanakah perawatan di Rumah Sakit Ibnu Sina itu. Dalam Rumah Sakit Ibnu Sina terdiri
dari perawatan Aisyah (lt.II), perawatan Aminah (lt.II), perawatan Assifa (lt.III), perawatan

6
Assafil (lt.III), perawatan Bukhari (lt.IV), perawatan Muslim (lt.IV), perawatan Raodah
(lt.V), perawatan Madinah (lt.V). Lantai II untuk kelas 3, lantai III untuk kelas 3, kelas 2,
kelas 1, lantai IV untuk kelas 1, dan lantai V untuk kelas VIP dan super VIP. Perbedaan
layanan ke pasien antara dokter dan perawat ialah dokter melakukan pemeriksaan dan
memberikan instruksi kepada perawat, sedangkan perawat mendampingi dokter, dan
melaksanakan instruksi yang diberikan dokter. Pembagian shift jaga terbagi menjadi tiga,
shift pagi mulai dari pukul 07.30 sampai pukul 14.00, sihift siang mulai dari pukul 14.00
sampai pukul 21.00, dan shift malam mulai dari pukul 21.00 sampai pukul 07.30. saat shift
malam, jumlah perawat yang jaga sebanyak dua orang, sedangkan shift pagi dan shift siang
jumlah perawat yang jaga sebanyak tiga orang. Begitulah penjelasan yang diberikan oleh
perawat tersebut.

Setelah mengobservasi bagian keperawatan, kami kembali turun ke lantai I untuk


mengobservasi bagian UGD yang merupakan bagian terakhir yang kami amati. Saat berada
di depan UGD, terlihat teman-teman kelompok lain masih ada beberapa yang antri untuk
mengobservasi bagian UGD. Kami menunggu beberapa saat sampai teman-teman kelompok
lain yang lebih dahulu antri selesai mengobservasi. Setelah teman-teman lain selesai, giliran
kami memasuki UGD untuk mengobservasi. Kami terlebih dahulu meminta izin untuk
melihat-lihat keadaan di UGD tersebut. Ketika kami memasuki ruangan terlihat 11 pasien
yang berbaring lemah tak berdaya, ada yang pendarahan, dan lain-lainnnya. Diantaranya ada
yang didampingi keluarganya, kerabatnya, temannya, dan ada pula yang tidak didampingi
siapa-siapa. Ada satu pasien yang sedang gawat saat itu, dan ada beberapa dokter dan perawat
yang sedang melakukan tindakan kepada pasien tersebut, akan tetapi saat kami ingin melihat
dan memantau dari kejauhan, tiba-tiba salah satu perawat menutup gorden mungkin karena
kami tidak diizinkan melihat tindakan tersebut. Di dalam UGD kami melakukan interaksi
terhadap salah satu keluarga pasien UGD tersebut, dia menjelaskan bahwa ia sedikit kecewa
terhadap pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit, dikarenakan tindakan yang diberikan
hanyalah berupa pemeriksaan tanda vital menurut pasien, dan mengharuskan dia membayar
Rp300.000,- yang membuatnya kecewa sekali ialah dia masih berada dalam ruang UGD
setelah beberapa hari tanpa tindakan selanjutnya yang dilakukan pihak rumah sakit.

7
Setelah observasi di UGD tersebut, berakhir pula observasi yang kami lakukan di
Rumah Sakit Ibnu Sina, Selasa, 16 Oktober 2018, pada pukul 16.30. Kelompok kecil
sebanyak tiga orang tersebut, kemudian menunggu kelompok lainnya kemudian kami
kembali berkumpul sebanyak 11 orang tersebut. Kami bersiap-siap untuk kembali ke rumah.

Pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan observasi kali ini adalah, kita harus lebih
banyak bersyukur lagi. Kita semua berpeluang untuk ditimpakan musibah, kapan saja dan
dimana saja. Oleh karenanya, saat ini kita yang sedang merasakan nikmat kesehatan mesti
memperbanyak rasa syukur kepada-Nya.

Cukup sekian observasi yang saya lakukan, wassalamu’alaikum warahmatullahi


wabarakatuh.

8
Dokumentasi

9
10