Anda di halaman 1dari 12

INJEKSI DOBUTAMIN @ Vial

I. Formula Asli
Injeksi Dobutamin
II. Formula Acuan
(Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations Steril Produck Vol 6
Hal: )
Sodium Metabisulfite, NF 0,22 mg
Dobutamine base,Dobutamine HCL, USP 12,50 mg
Hydrochloric Acid q.s
Sodium Hydroxide q.s
Nitrogen Gas, NF q.s
Water For Injection q.s
III. Rancangan Formula
Tiap 20 ml Mengandung 250 mg:
Dobutamin HCL 12,50 mg (zat Aktif)
Sodium metabisulfite 1,0 % (Antioksidan)
Sodium chloride 0,18 gr (Larutan Isotonik)
Cresol 0,3 % (Pengawet)
Asam Fosfat 0,0005 gr (Buffer)
Water for injections q.s
IV. Master Formula
1. Nama Produk : Dobulvialmin@Dobutamin_Vial
2. Jumlah Produk :10 Vial@20 ml/250 mg
3. Tanggal Produk : 11 November 2018
4. No.Registrasi : DKL 0502337944 A1
5. No. Batch : 1802002
V. Preformulasi
Dibuat Oleh Kelompok IV Disetujui Oleh
No. Kode Nama Bahan Fungsi Perdosis Perbotol
Bahan
1 DBM HCl Dobutamin HCl Zat Aktif 13,64 mg 136,4 mg
2 SDM Sodium Antioksidan 220 mg 2,200 mg
metabisulfite
3 SC Sodium Klorida Larutan 2,4 mg 24 mg
Isotonik
4 CR Cresol Pengawet 66 mg 660 mg
5 AF Asam Fosfat Pendapar 0,0011 mg 0,011 mg
6 API Aqua Pro Injeksi 20 ml 200 mlss

VI. Uraian Zat Aktif

1. Dobutamin HCL (Martindale Edisi 36 Hal:1271)


Nama Resmi : DOBUTAMINE HYDROCHLORIDE
Nama Lain : Dobutamin Hydroklorida
RS :

RM/BM : C18H23NO3,HCl / 337.8.


Pemerian : Putih atau hampir bubuk kristal putih.
Kelarutan : Sangat larut dalam air dan alkohol; larut dalam
alkohol metil.
Inkompatibilitas : Dobutamine tidak sesuai dengan alkalin solusi
seperti natrium bikarbonat 5% dan obat alkalin seperti
itu sebagai aminophylline, furosemide, 1 dan
thiopental sodium; 1fisik ketidakcocokan dengan
bumetanide, kalsium glukonat, insulin, diazepam, dan
fenitoin juga telah disarankan. Ada juga laporan
ketidakcocokan dengan alteplase, 2 heparin, 3 dan
natrium warfarin.
Indikasi : Dobutamine Injection USP (dobutamine
hydrochloride) diindikasikan ketika terapi parenteral
diperlukan untuk dukungan inotropik dalam
pengobatan jangka pendek orang dewasa dengan
dekompensasi jantung karena kontraktilitas depresi
yang dihasilkan baik dari penyakit jantung organik
atau dari bedah jantung
Dosis : Dosis yang Direkomendasikan: Tingkat infus yang
diperlukan untuk meningkatkan curah jantung
biasanya berkisar dari 2,5 hingga 10 μg / kg / menit.
VII. Uraian Bahan
1. Aqua Pro Injeksi (Farmakope Indonesia Edisi III: 1979 hal:97)
Nama Resmi : AQUA PRO INJECTION
Nama Lain : Air untuk injeksi
Pemerian : Keasaman, kebasaan; ammonium; fuji; tembaga;
timbale; kalsium; klorida; nitrat; sulfat; zat teroksidasi
Pirogen : Memenuhi uji pirogen yang tertera pada uji
keamanan hayati
Kegunaan : Untuk pembuatan injeksi
Sterilitas : Memenuhi uji stabilitas yang tertera pada uji
kemanan hayati
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup kedap. Jika disimpan dalam
wadah tertutup kapas terlunak harus digunakan
dalam waktu 3 hari setelah pembuatan
2. Cresol (Eksipient Edisi 6 Hal:59)
Nama Resmi : CRESYLIC ACID
Nama Lain : Cresol
Pemerian : tidak berwarna, kekuningan hingga kuning pucat
kecoklatan, atau berwarna merah muda,
dengan bau yang khas mirip dengan fenol tetapi lebih
mirip tar. Sebuah larutan berair memiliki rasa pedas
dari cahaya, di tempat yang sejuk dan kering.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam lebih kurang 50 bagi an
air; mudahlarut dalam etanol (95%) P, dalam klorofom
P, dalam eter P, dalamgliserol P, dalam minyak lemak
dan dalam minyak atsiri.
PH : 5-8 untuk 10% larutannya.
Kegunaan : Pengawet
Konsentrasi : Penggunaan bahan pengawet antimikroba 0,3-
0,15%
Stabilitas : Larutan kresol dan larutan encer berwarna gelap
seiring bertambahnya usia dan seterusnya paparan
udara dan cahaya. Cresol harus disimpan dalam
wadah tertutup, terlindungi
Sterilitas : Autoklaf atau penyaringan.
Inkompatibilitas : Cresol telah dilaporkan tidak sesuai dengan
klorpromazin. (4) Aktivitas antimikroba berkurang
dengan adanya nonionik surfaktan.
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung dari
cahaya dan kontak dengan logam, dalam tempat
sejuk dan kering.
3. Sodium metabisulfite (Exipient Edisi 6, Hal:654)
Nama Resmi : SODIUM METABISULFITE
Nama Lain : Asam disulfurous, Disodium garam; E223; Natrii
disulfis; Natrii metabisulfis, Asam natrium sulfit.
Pemerian : Sebagai kristal prisma yang tidak berwarna atau
sebagai putih bubuk kristal putih krem yang memiliki
bau belerang dioksida dan asam, rasa garam.
Natrium metabisulfit mengkristal dari air dingin
sebagai hidrat yang mengandung tujuh molekul air.
Kelarutan : Larut dalam 2 bagiab air; sukar larut dalam etanol
(95%)P
PH :
Kegunaan : Antioksidan
Konsentrasi : 0,01-1,0 %
Stabilitas : Terpapar pada udara atau embun, sodium
metabisulfit secara lambat teroksidasi terhadap
natrium sulfat dengan penghancuran dari kristal.
Larutan encernya juga terurai pada udara, terutama
pada pemanasan, dan larutan yang akan disterilkan
dengan autoclave akan lebih dulu diisi pada wadah
yang mana udara telah terganti dengan gas inert,
seperti nitrogen.
Sterilisasi : Filtrasi.
Inkompatibilitas :
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
tempat yang sejuk dan kering
4. Natrium Asam Fosfat (Exp:496)
Nama resmi : MONOBASIC SODIUM PHOSPHATE
Nama Lain : Natrium dihidrogen fosfat, natrium asam fosfat
RM/BM : NaH2PO4/119,98
Pemerian : Tidak berbau, tidak berwarna atau putih, anhidratnya
berupa serbuk kristal atau granul putih. Larutannya
asam atau melepaskan CO2 dengan natrium
karbonat.
Kelarutan : 1 dalam 1 bagian air, praktis tidak larut dalam
alkohol, kloroform dan eter.
PH : 4,5
Kegunaan : Bahan pendapar
Kestabilan : Stabil secara kimia pada pemanasan 100 0C, bentuk
dihidrat kehilangan seluruh air kristalisasinya. Pada
pemanasan lebih lama melebur dengan peruraian
pada 205 0C membentuk hidrogen pirofosfat
(Na2H2P2O7) dan pada 250 0C meninggalkan residu
akhir natrium metafosfat (NaPO3).
Sterilisasi : Otoklaf atau penyaringan
Inkompaktibel : Incompatibilitas dengan bahan-bahan alkali dan
karbonat, larutannya bersifat asam dan melepaskan
CO2 dari karbonat. Hindari pemberian dengan
aluminium, Ca atau Mg dalam bentuk garam karena
dapat berikatan dengan fosfat dan mengganggu
absorpsinya pada saluran pencernaan. Interaksi
antara Ca dan fosfat membentuk kalsium fosfat
yang tidak larut dan mengendap.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, tempat yang kering
dan sejuk.

VIII. Alasan Penambahan Zat Aktif


Dobutamine adalah obat sympathomimetic sintetis yang merupakan
structureli terkait dengan dopamin. Dobutamine hydrochloride terjadi sebagai
kristal putih ke off-white bubuk garis, yang hemat larut dalam air dan alkohol.
Dobutamine memiliki pKa 9,4.
Formulasi klinis diberikan dalam bentuk steril hanya untuk penggunaan
intravena. Setiap mL mengandung: dobutamine hydrochloride, e quivalent
menjadi 12,5 mg (41,5μ mol) dobutamine; natrium bisulfi te 0,28 mg
(ditambahkan selama pembuatan), dan air untuk injeksi, q.s. Hidroklorik asam
dan / atau natrium hidroksida mungkin telah ditambahkan selama pembuatan
untuk menyesuaikan pH (2,5 hingga 5,5) Injeksi Dobutamine USP diberikan
dalam dosis tunggal Fliptop vials sebagai berikut: - 12,5 mg / mL dobutamine
dalam 20 mL (250 mg / 20 mL).
IX. Alasan Penambahan Zat Tambahan
1) Air untuk Injeks. Air ini digunakan untuk melarutkan atau melemahkan zat atau
persiapan untuk pemberian parenteral. Air Steril untuk Injeksi, Penghirupan, atau
Irigasi. Ketika digunakan untuk persiapan larutan parenteral harus disterilkan
terlebih dahulu atau persiapan akhir harus disterilkan setelah persiapan.
2) Cresol
Cresol digunakan pada konsentrasi 0,15-0,3% sebagai antimikroba pengawet
dalam intramuskular, intradermal, dan subkutan formulasi farmasi suntik. Ini juga
digunakan sebagai pengawet dalam beberapa formulasi topikal dan sebagai
disinfektan. Cresol tidak cocok sebagai pengawet untuk persiapan yang harus
dibekukan kering.
3) Sodium metabisulfite
Natrium metabisulfit digunakan sebagai antioksidan dalam formulasi farmasi oral,
parenteral, dan topikal, pada konsentrasi 0,01-1,0% b / v, dan pada konsentrasi
sekitar 27% b / v dalam sediaan injeksi intramuskular.
4) Asam fosfat
banyak digunakan sebagai pengasaman dan buffering agen dalam berbagai
formulasi farmasi. Itu juga banyak digunakan dalam olahan makanan sebagai
acidulan, rasa, dan antioksidan sinergis (0,001-0,005%) dan sequestrant. Secara
terapi, asam fosfat encer telah digunakan dengan baik dalam persiapan yang
digunakan dalam pengobatan mual dan muntah. Asam fosfat 35% gel juga telah
digunakan dalam kedokteran gigi untuk menorehkan enamel gigi.
X. Perhitungan Bahan
Tonisitas
𝐿𝑖𝑠𝑜
 Dobutamin = 17 ×
𝐵𝑀
1,86
= 17 × = 0,093 gr
337,8

W×E = 0,0124 gr × 0,093 gr


= 0,001 gr
Jadi, 0,0124 gr Dexametason equivalen 0,001 gr
𝐿𝑖𝑠𝑜
 Sodium Metabisulfit = 17 ×
𝐵𝑀
1,86
= 17 × = 0,166 gr
190,1

W×E = 0,2 gr × 0,166 gr


= 0,033 gr
Jadi, 0,2 gr Dexametason equivalen 0,033 gr
𝐿𝑖𝑠𝑜
 Cresol = 17 ×
𝐵𝑀
1,86
= 17 × = 0,292 gr
108.14
W×E = 0,06 gr × 0, 292 gr
= 0,017 gr
Jadi, 0,06 gr Dexametason equivalen 0,01752 gr
𝐿𝑖𝑠𝑜
 Asam Fosfat = 17 ×
𝐵𝑀
1,86
= 17 × = 0, 263 gr
119,98

W×E = 0,0005 gr × 0, 263 gr


= 0,0001 gr
Jadi, 0,0005 gr Dexametason equivalen 0,0001315 gr
 NaCl 0,9 %
0,9
× 20 ml = 0,18 gr
100
= (0,001 + 0,033 + 0,017 + 0,0001)
= 0,0511 gr
Untuk memenuhi hasil yang hipotonis sehingga dilakukan penambahan NaCl =
0,18 gr - 0,0511 gr
= 0,1289 gr
= 128,9 mg
 Persen
 Dobutamin 12,50 gr
12,50
× 100 % = 0,062 %
20
 NaCl gr
0,1289
× 100 % = 0.006 %
20
 Asam Fosfat 0,0001
0.0001
× 100 % = 0.000005 %
20
 Penimbangan Bahan
0,062
 Dobutamin 0,062 % = × 20 ml = 0,0124 gr + 10%
100
= 0,01364 gr
= 13.64 mg
1,0
 Metabisulfit 1,0 % = × 20 ml = 0,2 gr + 10%
100
= 0,22 gr
= 220 mg
0,006
 NaCl 0.006 % = × 20 ml = 0,0012 gr + 10%
100
= 0,0024gr
= 2.4 mg
0,000005
 Asam Fosfat 0.000005 % = × 20 ml = 0,000001 gr + 10%
100
= 0,0000011gr
= 0.0011 mg
0,3
 Cresol 0.3 % = × 20 ml = 0,06 gr + 10%
100
= 0,066 gr
= 66 mg
XI. Cara Kerja
- Cara pembuatan aqua pro injeksi
1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Dipanaskan aqua destillata dalam erlenmeyer sampai air mendidih.
Setelah air mendidih, kemudian dipanaskan lagi selama 30 menit.
3. Aqua pro injeksi bebas O2 dilakukan dengan pemanasan aqua destillata
selama 30 menit terhitung sejak mendidih, kemudian dialiri gas nitrogen
dan ditambah pemanasannya selama 10 menit.
- Cara kerja formulasi
1. Disiapkan ruangan steril dengan cara dialuri oleh gas etilen oksida
2. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
3. Disterilkan semua alat dan bahan sesuai dengan yang tercampur pada
table sterilisasi
4. Ditimbang sediaan yang dibutuhkan
5. Dilarutkan epinefrin dengan air didalam erlenmayer
6. Dilarutkan epinefrindengan NACL
7. Dibasahi kertas saring dalam corong gelas
8. Disaring larutan dan dipindahkan kedalam wadah secaara aseptic
9. Disi wadah ampul sampai leher ampul
10. Dilakukan penutupan ampul menggunakan tangan,dimana yang telah
diisi ditetapkan dalam nyala api,ujung nyala api ditutupkan pada 1 cm
dibawa,dipegang badan ampul dengan tagan dan dijepit dengan pinset.
11. Diputar ampul selama peleburan setelah gas melebur leher ampul ditarik
sedikit demi sedikit sambil diputar dengan hati-hati mengguakan nyala api
gas O2
12. Dimasukkan dalam wadah,diberi etiket dan dilakukan pengujian validasi
- Cara pembuatan aqua pro injeksi
1. Disiapkan alata dan bahan yang dibutuhkan
2. Dipanaskan aqua destilasi dalam erlenmayer sampai air mendidih setelah
air mendidih,kemudian dipanaskan lagi selama 30 menit
3. Aqua pro injeksi bebas O2 dilakukan dengan pemanansan aqua destilata
selama 30 menit terhitung sejak mendidih kemudian dialuri gas nitrogen
dan ditambah pemanasannya selama 10 menit.
XII. Evaluasi
Evaluasi dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang
etiket dan dikemas (Menurut FI Edisi III dan IV).
1. Evaluasi Fisika
a. PenetapanPH
b. Bahan partikulat dalm injeksi
c. Penetapan volume injeksi dalam wadah
d. Uji keseragaman bobot dan keseragaman volume
e. Uji kejernihan larutan
f. Uji kebocoran
Pada pembuatan kecil-kecilan hal ini dapat dilakukan dengan mata
tetapi untuk produksi skala besar hal ini tidak mungkin dikerjakan. Wadah-
wadah takran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan
dimasukkan kedalam larutan biru metilen 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang
bocor maka larutan biru metilen akan dimasukkan kedalamnya karena
perbedaan tekanan di luar dan didalam wadah tersebut. Cara ini tidak dapat
dilakukan untuk larutan-larutan yang sudah berwarna. Wadah-wadah
takaran tunggal disterilkan terbalik, jika ada kebocoran maka larutan ini akan
keluar dari dalam wadah. Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan,
kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut
ke dalam eksikator yang divakumkan. Jika ada kebocoran akan diserap
keluar.
g. Uji kejernihan dan Warna
Umumnya setiap larutan suntik harus jernih dan bebas dari kotoran-
kotoran. Uji sangat sulit dipenuhi bila dilakukan pemeriksaan yang sangat
teliti karena hampir tidak ada larutan jernih. Oleh sebab itu untuk uji
inikriteriannya cukup jika dilihat dengan mata biasa saja yaitu menyinari
wadah dari samping dengar latar belakang berwarna dan putih. Latar
belakang warna hitam dipakai untuk menyelidiki kotoran-kotoran berwarna
muda, sedangkan latar belakang putih untuk menyelidiki kotoran-kotoran
berwarna gelap.
2. Evaluasi Biologi
a. Uji efektivitas pengawet
b. Uji sterilitas
c. Uji endotoksin bakteri
d. Uji pirogen
e. Uji kandungan zat antimikroba
3. Evaluasi Kimia
a. Uji identifikasi
b. Penetapan kadar

XIII. Daftar Pustaka

Depkes, RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Martindale, Sweetmen. S. 2009. The Pharmaceutical Edition 36. Press : London.

Niazi, Sarfaraz. K. 2004. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing


Formulation Steril Product Volume 6. CRC Press LLC. America.

Rowe, C. Roma. Pharmaceutical Exicipient Handbook Sixth Edition