Anda di halaman 1dari 85

BAB 1

AKUNTANSI KEPRILAKUAN

A. Definisi Dan Ruang Lingkup Akuntansi Keperilakuan


Akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari disiplin ilmu akuntansi yang
mengkaji hubungan antara perilaku manusia dan sistem akuntansi, serta
dimensi keperilakuan dari organisasi dimana manusia dan sistem akuntansi itu
berada dan diakui keberadaannya. Dengan demikian, definisi akuntansi
keperilakuan adalah suatu studi tentang perilaku akuntan atau non-akuntan
yang dipengaruhi oleh fungsi-fungsi akuntansi dan pelaporan. Akuntansi
keperilakuan menekankan pada pertimbangan dan pengambilan keputusan
akuntan dan auditor,pengaruh dari fungsi akuntansi( misalnya partisipasi
pengarang ,keketatan anggaran, dan karakter sistem informasi) dan fungsi
auditing terhadap perilaku, misalnya pertimbangan (judgment) dan
pengambilan keputusan auditor dan kuantitas pertimbangan dan keputusan
auditor, dan pengaruh dari keluaran dari fungsi-fungsi akuntansi berupa
laporan keuangan terhadap pertimbangan pemakai dan pengambilan
keputusan (bamber 1993).
Belkoui(1989) lebih awal memantapkan pengertian di atas. Akuntansi
keperilakuan menekankan pada relevansi dari informasi akuntansi terhadap
pengambilan keputusan individu maupun kelompok yang disebabkan oleh
terjadinya komunikasi diantara mereka. Akuntansi berorientasi pada praktik,
aksi, dan perilaku.karena akuntansi adalah suatu proses keperilakuan maka
akuntansi keperilakuan merupakan aplikasi dari ilmu keperilakuan pada
akuntansi.
Akuntansi adalah informasi, atau lebih tepatnya sistem informasi akuntansi.
Keberhasilan suatu sistem informasi akuntansi tak lepas dari perilaku manusia
selaku pemakai dan yang memberikan responsnya. Perkembangan akuntansi
pun tak lepas dari perilaku. Mendesaknya kebutuhan akuntansi dan pentingnya
peranan manusia(akuntan dan auditor) dalam bidang akuntansi, maka dengan
mengadopsi bidang-bidang ilmu lainnya. Seperti ilmu psikologi khususnya
psikologi kognitif, antropologi, dan sosial, lahirlah akuntansi keperilakuan.
Banyak bukti empiris yang dihasilkan oleh para peneliti yang ikut memperkuat
bidang akuntasi keperilakuan. Dua jurnal terkenal, yaitu behavioral research in
accounting(BRIA) dan auditing: A journal of practice & theory, sangat
memengaruhi perkembangan akuntansi keperilakuan sampai saat ini. Ruang
lingkup akuntansi keperilakuan meliputi :
1. Mempelajari pengaruh antara perilaku manusia terhadap konstruksi,
bangunan,dan penggunaan sistem informasi akuntansi yang diterapkan
dalam perusahaan dan organisasi, yang berarti bagaimana sikap dan gaya
kepemimpinan manajemen mempengaruhi sifat pengendalian akuntansi
dan desain organisasi.
2. Mempelajari pengaruh sistem informasi akuntansi terhadap perilaku
manusia yang berarti bagaimana sistem akuntansi memengaruhi
kinerja,motivasi,produktivitas,pengambilan keputusan, kepuasan kerja dan
kerja sama.
3. Metode untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia dan strategi
untuk mengubahnya, yang berarti bagaimana sistem akuntansi dapat
dipergunakan untuk memengaruhi perilaku, dan bagaimana mengatasi
resistensi itu.
Aspek perilaku dalam akuntansi keuangan dan akuntansi mencakup pula
keseluruhan bidang seperti akuntansi keuangan, akuntansi manajemen,
akuntansi sektor publik, akuntansi sistem informasi dan pengauditan.

B. Aspek-aspek Penting Dalam Akuntansi Keperilakuan


Menurut schiff dan lewis (1974) ada lima aspek penting dalam akuntansi
keperilakuan, yaitu:
1. Teori perusahaan dan keperilakuan manajerial
2. Penganggaran dan perencanaan
3. Pengambilan keputusan
4. Pengendalian dan
5. Pelaporan keuangan
1. teori perusahaan dan keperilakuan manajerial
Teori organisasi modern mempunyai perhatian dalam menjelaskan perilaku
komponen entitas perusahaan sebagai dasar untuk memahami tindakan dan
motif-motif. Teori organisasi modern memandang adanya interaksi antarelemen
organisasi untuk mendukung tujuan organisasi. Secara lebih spesifik, teori
organisasi modern berkonsentrasi pada perilaku pengarahan tujuan
perusahaan,motivasi,dan karakteristik penyelesaian masalah. Tujuan
organisasi dipandang sebagai hasil dari proses saling memengaruhi dalam
perusahaan, penentuan batas-batas dalam pengambilan keputusan dan
peranan dari pengendalian internal yang diciptakan oleh perusahaan. faktor-
faktor lainnya adalah kepuasan kerja dan komitmen organisasional.
2. Penganggaran dan Perencanaan
Fokus dari area inidalah formulasi tujuan organisasi dan interaksi perilaku
individu. Beberapa dimensi penting dalam area ini adalah proses partisipasi
penganggaran, level kesulitan dalam pencapaian tujuan, level aspirasi, dan
adanya konflik antara tujuan individual dengan tujuan organisasi. Keselarasan
antara tujuan individu dengan tujuan organisasi menjadi kerangka manajerial
mengembangkan organisasi. Dua isu penting dalam bidang penganggaran dan
perencanaan adalah organizational slack dan budgetary slack.
3. Pengambilan keputusan
Fokus dalam bidang ini adalah teori-teori dan model-model tentang
pengambilan keputusan. Ada teori normatif, paradoks, dan model deskriptif
dalam pengambilan keputusan. Teori normatif adalah bagaimana seharusnya
orang mengambil keputusan. Paradoks adalah sesuatu yang bertentangan
dengan teori normatif, sedangkan model deskriptif menjelaskan apa yang
terjadi ketika orang mengambil keputusan berdasarkan fakta-fakta empiris yang
ada.
4. pengendalian
Aspek pengendalian sangat penting dalam organisasi perusahaan. semakin
besar perusahaan, memerlukan tindakan pengendalian yang semakin intensif.
Pengendalian selalu dihubungkan dengan pengukuran kinerja dan adaptasi
individu terhadap pengendalian selalu dihubungkan dengan pengukuran kinerja
dan adaptasi individu terhadap pengendalian adalah struktur organisasi,
pengendalian internal, desentralisasi- sentralisasi., hubungan antara dan
antarhierarki administrasi. Perkembangan terbaru dalam pengendalian internal
adalah diakuinya lingkungan pengendalian sebagai salah satu kunci (key
succes factor) dalam mengendalikan operasional perusahaan.
5. Pelaporan keuangan
Aspek keperilakuan dala pelaporan keuangan meliputi perilaku perataan laba
dan keandalan informasi akuntansi dan relevansi informasi akuntansi bagi
investor. Perataan laba adalah bagian dari manajemen laba yang disebabkan
oleh pihak manajemen mempunyai informasi privat untuk kepentingan diri.
Manajemen laba intinya adalah masalah keperilakuan, yaitu perilaku
manajemen yang mementingkan dirinya sendiri dalam suatu pola keagenan.
Ruang lingkup manajemen laba termasuk di dalamnya adalah pemilihan
metode akuntansi, estimasi, klasifikasi, dan format yang digunakan dalam
pengungkapan yang bersifat wajib.
BAB 2
PERTIMBANGAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A. Pertimbangan dan Pengambilan Keputusan


Akuntansi sesungguhnya berbicara soal pertimbangan dan pengambilan
keputusan dari individu seperti investor, manajer, dan auditor (Bonner, 2008).
Sebagai contoh, investor mempertimbangkan untuk membeli saham, dan
manajer mempertimbangkan metode akuntansi untuk transaksi tertentu.
Dengan kata lain, pertimbangan dan pengambilan keputusan menjadi isu yang
penting bagi praktisi dan peneliti akuntansi. Setiap orang pasti membuat
keputusan, baik itu keputusan bersifat krusial atau tidak. Pengambilan
keputusan tidak krusial adalah pengambilan keputusan ringan yang tidak
mempunyai kebermaknaan dan akibat besar. Sedangkan keputusan krusial
adalah keputusan yang mempunyai spectrum dengan determinasi tinggi.
Model pengambilan keputusan dikembangkan atas dasar asumsi bahwa
keputusan didasarkan atas rasionalitas. Model rasionalitas memandang
pengambil keputusan sebagai manusia rasional, di mana mereka selalu
konsisten dalam membuat pilihan pemaksimuman nilai di dalam lingkup
keterbatasan-keterbatasan tertentu (Dermawan,2003). Kedua pandangan ini
sebetulnya tidak jauh berbed, dan hamper semua pendapat yang berkaitan
dengan langkah-langkah pemecahan masalah pasti dimulai dengan
pengenalan dan identifikasi masalah, pencarian sejumlah alternative solusi, dan
pemilihan solusi terbaik. Pengambilan keputusan berdasarkan pandangan
rasionalitas didasarkan atas asumsi-asumsi tertentu, dan masing-masing ahli
memaparkan asumsi-asumsi tersebut sedikit berbeda dengan lainnya.
Kebutuhan adanya situasi kehati-hatian dalam pengambilan keputusan
meningkat jumlahnya dalam kehidupan sehari-hari. Pengambilan keputusan
menjadi komponen utama dalam kerja pimpinan pada semua tingkatan dunia
perusahaan dan menghasilkan sumber daya yang kritis dalam organisasi.
Banyak pimpinan menerima keputusan sebagai bawaan (talenta), “beberapa
orang dapat melakukan dan belum tentu yang lainnya juga bisa”. Perilaku ini
tdak bermanfaaat bagi sumber daya manusia dalam organisasi. Pelatihan dan
decision aids ( alat bantu keputusan) dapat memberikan pengaruh baik untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pimpinan.

B. Anatomi Suatu Keputusan


Pertimbangan berkaitan dengan aspek pengetahuan pada proses
pengambilan keputusan. Untuk memahami pertimbangan, pertama kita perlu
mengidentifikasi unsur-unsur dalam proses pengambilan keputusan yang
dibutuhkan dalam pertimbangan. Untuk memulainnya, pertimbangkan situasi
keputusan.
Setiap situasi memiliki masalah. Masing-masing masalah mempunyai
sejumlah alternatif peluang penyelesaiannya. Maka ada enam langkah yang
secara implicit atau eksplisit diterapkan ada proses pengambilan keputusan
secara rasional untuk tiap-tiap situasi, yakni sebagai berikut.
1. Menentukan Permasalahan (Define The Problem).
Manajer sering bertindak tanpa memahami permasalahan yang akan
diselesaikan. Bilamana hal ini terjadi, manajer akan berpotensi menyelesaikan
permasalahan yang salah. Dalam mendefinisikan masalah, maka langkah-
langkah yang harus dilakukan:
 Menentukan permasalahan dalam kaitan dengan tujuan penyelesaiannya.
 Mendiagnosis permasalahan dalam kaitan memahami gejala-gejalanya.
2. Mengidentifikasi Kriterianya (Identify The Criteria).
Banyak keputusan membutuhkan adanya pembuatan keputusan untuk
memenuhi lebih dari satu permasalahan. Pembuatan keputusan yang rasional
akan mampu mengidentifikasi semua criteria yang berhubungan dengan
proses pengambilan keputusan.
3. Mengukur Kineja (Weight The Criteria).
Pembuatan keputusan yang rasional akan mengetahui nilai relative yang
diambil dari setiap criteria yang diidentifikasi (seperti ekonomisnya,
kemahalannya, ataupun kenyamanannya).
4. Menciptakan Alternatif (Generate Alternative).
Kesalahan menghitung waktu penelitian sering menghasilkan alternatif
yang tidak pasti. Suatu keberlanjutan penelitian yang optimal hanya sampai
mempertimbangkan nilai biaya penelitian dari tambahan informasi.
5. Mengukur Nilai Alternatif dari Setiap Kriteria (Rate Each Alternative On
Each Critetion).
Pembuatan keputusan yang rasional akan mampu menilai hati-hati akibat
potensial pemilihan terhadap tiap-tiap solusi alternatif pada masing-masing
criteria yang diidentifikasi.
6. Menghitung Keputusan yang Terbaik atau Optimal (Comute The
Optimal Decision).
Idealnya setelah kelima langkah di atas dilakukan, proses pengambilan
keputusan terbaik terdiri dari berbagai harapan yang efektif dari berbagai
harapan yang efektif dan berbagai pilihan waktu, kelebihan dan pertimbangan
dari setiap criteria, serta solusi alternatif. Solusi yang paling memberikan nilai
harapan tertinggi yang seharusnya dipilih.
2.3 Bounded Rationality
Model rasional didasarkan pada sekumpulan asumsi yang menguraikan
bagaimana keputusan seharusnya diambil dibandingkan dengan menguraikan
bagaimana suatu keputusan dibuat. Simon (1957) maupun Marc dan Simon
(1958) dalam Bazerman (1994) menyarankan bahwa keputusan individu
dibatasi pada rasionalitasnya kita dapat memahami lebih baik suatu pembuatan
keputusan melalui penjelasan nyata dari proses keputusan secara normative
(bagaimana seharusnya dibuat).
Pengetahuan pembuat keputusan sering kurang informasi penting terkait
dengan definisi dari permasalahan, kriteria yang relavan. Lebih lanjut pembuat
keputusan bertahan hanya pada informasi yang terbatas. Akhirnya,
keterbatasan kemampuan berpikir dan persepsi akan menghambat
kemampuan pengambil keputusan untuk secara tepat (akurat) memilih pilihan
terbaik atas informasi yang tersedia. Pembatasan-pembatasan ini membantu
pembuat utusan yang memenuhi model rasional. March dan Simon (1958)
dalam Bazerman (1994) lebih lanjut menyarankan bahwa pembuat keputusan
akan membatalkan solusi terbaik, yakni yang dapat diterima atau yang masuk
akal. Dengan demikian, pembuat keputusan meyakini tidak menguji semua
kemungkinan alternatif. Mereka secara sederhana meneliti sampai mereka
menemukan suatu solusi, yakni menemukan jawaban pada tingkat kepastian
yang dapat diterima.
Ruang ligkup pembuatan keputusan dapat dibedakan atas dua bagian,
yakni kajian tentang model yang menentukan dan kajian tentang model-model
penjelasan. Kajian keputusan preskriptif berkaitan dengan penjelasan metode
yang dipergunakan untuk membuat keputusan yang optimal. Pendekatan
deskriptif digunakan ketika pendekatan preskriptif berkaitan dengan penjelasan
metode yang digunakan untuk pembuatan keputusan optimal. Semenjak
pemimpin membuat ribuan keputusan tiap hari, sistematika kebutuhan akan
keputusan yang rasional belum tersedia. Banyak keputusan penting dibuat
melalui petimbangan dibandingkan dengan melalui model preskriptif tertentu.
Hal ini menjadi bukti atas perilaku pemimpin.
Konsep-konsep batas rasional dan keyakinan punya andil dalam
mengidentifikasi penyimpangan penialaian dari rasionalitas. Namun, meraka
tidak dapat menunjukkan bagaimana pertimbangan dapat terbiaskan. Konsep
ini membuat pembuat keputusan mengidentifikasi hal yang dapat dilakukan
dalam situasi informasi terbatas, tetapi tidak dapat membantu mendiagnosis
sistematika yang khusu, penyimpangan langsung yang memengaruhi
pertimbangan bersangkutan. Dalam kaitan ini, Kahneman dan Tversky (1974)
menyarankan bahwa orang-orang membutuhkan sejumlah strategi yang dikenal
dengan konsep heuristik. Hal itu merupakan ketentuan standar yang implisit
ada pada pertimbangan. Konsep itu memberikan mekanisme untuk
memperbanyak dengan memperhatikan keputusan sekitarnya. Pada umumnya
heuristik dapat membantu, tetapi penggunaannya kadang-kadang memiliki
kelemahan/kesalahan.
BAB 3
TEORI UTILITAS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A. Teori Utilitas dalam Pengambilan Keputusan


Tesis rasionalitas menegaskan bahwa pengambil keputusan berada pada
kondisi penguasaan penuh atas pengetahuan dan informasi dari seluruh
peristiwa yang tidak diamati. Rasionalitas menjadikan kehidupan sebagai
sebuah permainan, dimana setiap pemain mengetahui dengan tepat bahwa
setiap pemain lainnya/pesaing mengetahui cara bermain dengan baik.
Teorike putusan adalah konsep mengenai pengambilan keputusan
berdasarkan alternative terbaik dari beberapa alternatif yang ada pada saat
keaadaan yang tidak pasti. Kegunaan teori keputusan adalah untuk membantu
memecahkan masalah dengan menentukan tindakan yang akan dipilih melalui
pemilihan berbagai alternatif yang tersedia. Dalam memilih suatu keputusan
minimal terdapatduaalternatif yang diberikan, dan pengambil keputusan harus
memilih satu alternative berdasarkan criteria tertentu diantara alternative
lainnya.
Utlitas merupakan preferensi atau nilai guna pengambil keputusan dengan
mempertimbangkan factor risiko berupa angka yang mewakili nilai pay off
sebenarnya berdasarkan keputusan. Angka utilitas terbesar mewakili alternatif
yang paling disukai, sedangkan angka utilitas terkecil menunjukkan alternatif
yang paling tidak disukai (Supranto : 2005 : 374).
Pada tahun 1713, profesor asal Swiss yang bernama Nicolas Bernoulli
mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah minat masyarakat. Ia tertarik
pada berapa banyak orang yang mempunyai uang mampu membayar untuk
bermain dengan dua peraturan berikut. (1) Sebuah koin diundi hingga sampai
ke tanah dimana bagian yang tampak adalah bagian belakang, dan (2) pemain
dibayar $2.00 jika bagian belakang yang muncul pada saat pembukaan undian,
$4.00 jika bagian belakang yang muncul pada undian kedua, $8.00 pada
bagian belakang yang muncul pada undian ketiga, dan $16.00 jika bagian
belakang muncul pada undian keempat, dan begitu seterusnya. Berapakah
yang akan dibayar untuk permainan berikut ini? Kebanyakan orang mau untuk
membayar tidak lebih dari sedikit dolar untuk bermain permainan tersebut.
Sejak Bernoulli pertama kali mengajukan masalah ini, masalah tersebut
sudah diberi gelar St. Patersburg Paradox. Ini adalah sebuah paradoks karena
nilai yang diharapkan dari permainan (rata-rata pemberian imbalan jika
permainan dimainkan suatu jumlah yang tak ada akhirnya dari waktu) adalah
tanpa batas, sekalipun begitu sangat sedikit orang mau membayar sejumlah
uang yang sangat besar untuk bermain.
Pertanyaannya adalah, kemudian, kenapa orang-orang menolak untuk
membayar lebih dari sedikit dolar untuk bermain sebuah permainan dengan
suatu pengembalian yang diharapkan tanpa batas?
Dua puluh lima tahun setelah Nicolas Bernoulli mengajukan masalah,
sepupunya yang lebih muda, ahli matematika Daniel Bernoulli, tiba pada
sebuah solusi yang berisi embrio pertama dari teori keputusan zaman ini.
Daniel Bernoulli (1738/1954) beralasan bahwa nilai atau manfaat dari uang
merosot dengan jumlah menang (atau lebih memiliki). Secara terperinci,
Bernoulli berargumentasi bahwa nilai uang bisa diwakili sebagai berikut.

U
t
i
l
wealth
i
Dengan
t mengira bahwa nilai dari tambahan uang merosot dengan kekayaan,
Bernoulli bisa menunjukkan bahwa manfaat yang diharapkan dari permainan
y
St. Petersburg tanpa batas sampai kapan pun.

B. Prinsip dalam Teori Utilitas


Formulasi teori utilitas yang diharapkan didasarkan pada enam prinsip dasar
dalam tingkah laku memilih berikut.
1. Ada urutan alternatif. Pertama-tama, para pengambilan keputusan rasional
harus membandingkan setiap dua alternatif dan memilih salah satu
alternatif dan mengabaikan yang lain (mutually exclusive).
2. Dominasi/kekuasaan. Menurut teori utilitas yang diharapkan, sangat
rasional para pengambil keputusan seharusnya tidak memilih strategi yang
didominasi, bahkan jika strategi hanya didominasi lemah. Jika ada dua
alternatif beresiko termasuk identik dan hasil yang sama di antara mereka
kemungkinan konsekuensi yang mungkin terjadi, maka utilitas hasil ini
harus diabaikan dalam memilih antara dua pilihan.
3. Cancellation. Pemilihan antara dua alternatif seharusnya bergantung hanya
pada hasil yang berbeda dari kedua alternatif tersebut, tidak pada hasil
yang sama untuk kedua alternatif.
4. Transitivitas. Misalnya, jika menjadi mahasiswa fakultas ekonomi lebih
disukai dari pada menjadi mahasiswa fakultas sastra, dan menjadi
mahasiswa fakultas sastra lebih disukai dari pada menjadi mahasiswa
fakultas ilmu pendidikan, maka menjadi mahasiswa ekonomi harus lebih
disukai dri pada menjadi mahasiswa fakultas ilmu pendidikan.
5. Kontinuitas. Untuk setiap sesuatu hasil, seorang pembuat keputusan harus
selalu lebih suka bertaruh antara hasil terbaik dan terburuk untuk hasil yang
pasti diantara jika peluang atau hasil terbaik cukup baik.
6. Invariance. Prinsip invariance menetapkan bahwa pembuat keputusan
seharusnya tidak dipengaruhi oleh cara alternatif penyajian. Pembuat
keputusan seharusnya lebih mementingkan substansi.

C. Kategori dalam Pengambilan Keputusan


Terdapatempatkategoridalam proses pengambilankeputusan, yaitu :
1. Keputusandalamkeadaanterdapatkepastian (certainty).
Keputusan pada kategori ini adalah keputusan yang sebelumnya sudah
terdapat informasi lengkap. Metode yang digunakan untuk memecahkan
permasalahan tersebut adalah dengan linear programming.
2. Keputusandalamkeadaanketidakpastian (uncertainty).
Keputusan pada kategori ini, berkebalikan dengan jenis sebelumnya.
Keputusan ini terjadi jika terdapat informasi tambahan dan terdapat nilai
probability yang dibuat sendiri. Metode yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan tersebut adalah dengan analisis keputusan
dalam keadaan ketidakpastian.
3. Keputusan dalam keadaan terdapat risiko (risk).
Keputusan yang terdapat risiko jika informasi yang diperoleh tidak
lengkap dengan diketahui nilai probabilitas. Metode yang digunakan
untuk memecah kan masalah yang digunakan adalah dengan model
keputusan probabilistic.
4. Keputusan dalam keadaan terdapat konflik (conflict).
Keputusan dalam keadaan terdapat konflik adalah adanya situasi
kompetitif (persaingan) yang terjadi diantara dua pengambil keputusan
atau lebih. Metode yang digunakan untuk memecahkan permasalahan
tersebut adalah game theory (teoripermainan).

D. AsumsiTeoriUtilitas
Asumsi utilitas setiap pengambil keputusan dapat berbeda – beda, dan
mewakili salah satu dari lima kategori berikut, yaitu :
1. Peringkat Preferensi Asumsi.
Peringkat preferensi merupakan asumsi utilitas pengambil keputusan
yang mengacu pada struktur dari keputusan dengan jumlah alternative
terbatas. Misalnya, terdapat alternatif x dan y, maka asumsi utilitas
pengambil keputusan adalah x < y atau x > y.
2. Transitivitas Preferensi Asumsi.
Transitivitas preferensi merupakan asumsi utilitas pengambil keputusan
dengan tidak menganggap keberadaan alternative dari setiap alternative
tertentu dalam situasi yang dihadapi. Misalnya, apabila terdapat tiga
alternatif x, y, dan z ,dimana x < y, dan y < z, maka x < z.
3. Asumsi Kontinuitas.
Asumsi kontinuitas merupakan asumsi utilitas pengambil keputusan yang
mempunyai hasil terbaik dan terburuk sebagai hadiah, bahwa perorangan
(individu) menganggap sama preferensinya dengan hasil yang sedang
atau cukup saja atau di antara kedua hasil yang ekstrim tersebut.
4. Asumsi substitutabilitas.
Asumsi substitutabilitas merupakan asumsi utilitas pengambil keputusan
yang memungkinkan adanya revisi / perbaikan dengan penggantian
(substitusi) suatu hasil dengan hasil lainnya, asalkan terdapat kesamaan.
5. Asumsi Peningkatan Preferensi.
Asumsi peningkatan preferensi merupakan asumsi utilitas pengambil
keputusan yang mempunyai hasil yang sama dan untuk keputusan yang
mempunyai probabilitas terbesar untuk hasil yang lebih diinginkan maka
harus lebih disukai. Jadi, preferensi perjudian antara dua hasil yang sama
meningkat dengan probabilitas untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

E. SikapPengambilKeputusan
1. Sikap Penggemar Risiko
Sikap penggemar risiko adalah sikap pengambil keputusan dengan
menetapkan nilai ekuivalen tetapnya a tas suatu kejadian tidak pasti akan
lebih besar dari pada nilai ekspektasi dari suatu kejadian. Pada kasus
undian, seseorang yang termasuk dalam tipe penggemar risiko akan
termotivasi untuk mendapatkan hadiah yang lebih besar. Namun hal ini
diikuti dengan risiko yang besar.
2. Sikap Netral
Sikap netral adalah sikap pengambil keputusan di antara dua keadaan
ekstrim penggemar risiko dan penghindar risiko. Sikap ini ditunjukan
dengan menetapkan nilai ekuivalen tetap terhadap suatu permasalahan
sama dengan nilai ekspektasinya.
3. Sikap Penghindar Risiko
Sikap penghindar risiko adalah sikap pengambil keputusan dengan
menetatapkan nilai ekuivalen tetap dari suatu kejadian tidak pasti lebih
rendah dari nilai harapan kejadian tersebut.
F. PersamaanFungsi Utility
Menurut Mangku subroto (1987 :124), jika u(x) menyatakan fungsi utility
untuk nilai x, x°menyatakan batas bawah fungsi utility, dan c adalah parameter,
secara umum fungsi utility dalam bentuk eksponensial didefinisikan :
(𝑥°−𝑥)
1−𝑒°
U(x) = (𝑥°−𝑒1 )
, untuk x°<x<x¹
1−𝑒°

Sedangkan untuk pengambil keput usan yang bersikap netral, maka fungsi
utilitynya dinyatakan dalam persamaan:
𝑥−𝑥°
U(x) = , untuk x°≤x<x¹
𝑥¹−𝑥°

Fungsi utility bagi pengambil keputusan dengan sika penghindar risiko, netral
maupun penggemar risiko, tergantung padanilai c parameternya.

G. ProseduruntukMenentukanNilaiUtilitas
Penentuan awal nilai utilitas untuk hasil terbaik dan terburuk sepenuhnya
sembarangan (completely arbitrary), sehingga setiap bilangan (sumber) dapat
dipergunakan (Supranto, 2005 : 384). Berikut adalah prosedur untuk
menentukan nilai utilitas :
1. Semua hasil yang diperoleh dibuat peringkatnya. Suatu penandaan
(designation) harus dipergunakan untuk menunjukkan urutan preferensi
berupa subscript atau indeks. Preferensi ditulis secara menurun dari
tinggi ke rendah.
2. Utilitas untuk hasil terbaik dan terjelek ditentukan secara sembarangan,
misalnya terbaik 100 terjelek 0 atau terbaik 1 terjelek 0, bias berapa saja
asalkan nilai ekstrim.
3. Perumusan lotere referensi. Probabilitas p untuk memenangkan lotere
preferensi diperlakukan sepertivariabel.
4. Untuk hasil antara (intermediate out come), pengambil keputusan
menetapkan suatu nilai p yang membuat dia untuk tidak berbeda antara
hasil itu sendiri dengan loterereferensi. Jadi, untuk hasil Hk, probabilitas p
ditentukan bahwa hasil dalam loterereferensi dianggap sama dengan Hk.
5. Utilitas Hk ditentukan, sama dengan harapan utilitasnya untuk
loterereferensi.
BAB 4
PARADOKS RASIONALITAS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A. PARADOKS RASIONALITAS
Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang
dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran;
alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan
kesimpulan di dl logika), yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu
pernyataan dan akan tiba pada sekelompok pernyataan yang menuju ke
sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi.
Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil
yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak
sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul).

B. PENGAMBILAN KEPUTUSAN RASIONALITAS


Situasi terbaik dalam memanfaatkan pertimbangan rasional
 Masalah yang terstruktur (misalnya masalah permesinan)
 Apabila data dipercaya tersedia untuk analisis
 Tersedia contoh untuk memahami kondisi sejenis
Kelebihan pengambilan keputusan rasional :
1. fokus teruji dan mapan
2. fokus pada pengumpulan data dan kriteria yang ditetapkan
3. mengurangi subyektifitas
4. efisien- tergantung teknologi yang diterapkan (pengumpulan dan
pengolahan serta presentasi data)
5. yang umum digunakan konsep dasar BCR (benefit-cost ratio) dan
probalitas adalah hasilnya “kepuasan” atau “optimasi”/maksimasi.
Kekurangan pengambilan keputusan rasional:
1. diasumsikan sudah ada pengetahuan yang akan dihasilkan
2. model linier dan tidak dinamis (mengikuti langkah-langkah keterkaitan)
3. dimunculkan sebagai obyaktif namun pengambilan keputusan oleh
siapapun membutuhkan justifikasi pribadi (tidak bebas nilai)
Paradoks rasionalitas dalam pengambilan keputusan adalah keputusan yang
diambil antara harapan atau rasionalitas seseorang dalam membuat sesuatu
kebijakan, dimana seseorang lebih memilih harapan dari pada prinsip-prinsip
rasionalitas. Ada beberapa paradoks dalam pengambilan keputusan, yaitu:
 Pengertian The Allais Paradoks
 Pengertian Ellsbergs Paradoks
 Pengertian Intrasitivitas
 Pengertian Preference Reversals
Interaksi dari pengambilan keputusan individu menjadi kajian menarik.
Kenyataan menunjukkan bahwa proses keputusan individu ternyata jauh lebih
kompleks dari yang diasumsikan teori utilitas harapan. Terdapat kesenjangan
besar antara konsep rasionalitas yang digunakan manusia dalam mengambil
keputusan didunia nyata. Orang dihadapan pada suatu permainan, dan mereka
akan mendapatkan imbalan sesuai dengan keputusan yang diambil dan dihasil
yang diperoleh dari permainan tersebut. Banyak kasus yang tejadi dimana
prinsip-prinsip rasionalitas dilanggar.
a. THE ALLAIS PARADOX
Pembuat keputusan akan memilih sesuatu yang pasti namun jika
dihadapkan dengan harapan maka pembuat keputusan akan memilih harapan
yang lebih besar walaupun tingkat kegagalan itu relatif tinggi.
The allais paradox merupakan prinsip yang bertentangan
dengan prinsip cancellation, yang menyatakan bahwa pilihan diantara dua
alternatif tergantung hanya pada apa yang membedakan kedua alternatif,
tidak berdasar faktor – faktor lain yang umum bagi kedua alternatif tersebut.
Sesuai dengan prinsip ca n ce lla t io n , pemilihan antara dua
alternatif seharusnya hanya bergantung pada bagaimana kedua alternatif
tersebut berbeda, bukan pada faktor yang sama untuk kedua alternatif
tersebut. Berbagai faktor yang sama untuk kedua alternatif seharusnya tidak
memengaruhi pilihan yang dibuat seseorang yang rasional. Dapat diilustrasikan
sebagai berikut:
Uraiannya choice option A dan B:
Sebagian besar orang banyak yang memilih hasil yang pasti, yaitu option A
walaupun option B memiliki nilai harapan yang cukup besar senilai 2,5 milion
peluang 10%, dan juga mendapatkan 1 milion dengan peluang 89% dari pada
option A sejumlah 1 milion. Dalam sebab itu sebagian besar orang masih tetap
memilih untuk menerima bayaran 1 milion dikarenakan yang tentu terjamin.
Uraiannya choice EU option A dan B:
Di asumsi penawaran pilihan ini justru kebalikan dari yang diatas sebagian
besar orang memilih option B. mereka dan ada beberapa beranggapan tidak
terdapat perbedaan yang besar antara EU (A) dengan EU (B), memang
terdapat perbedaan yang sangat besar antara keduannya. Juga, option B
memiliki nilai harapan yang paling besar dimana dua kali lipat lebih besar
dibandingkan nilai harapan option A.
Padahal baik dalam situasi yang pertama dan kedua nilai harapan option B
lebih besar dibandingkan option A. jadi, seharusnya hal ini tidak menjadi faktor
yang membedakan keputusan yang diambil dalam situasi pertam maupun
kedua.

C. ELLSBERGS PARADOKS
Ellsbergs’s Paradox Pembuat keputusan akan memilih sesuatu yang pasti.
Pelanggaran terhadap prinsip cancellation juga dikemukakan oleh Daniel
Ellsberg(1961). Paradoks Ellsberg adalah sebuah paradoks dalam teori
keputusan di mana orang-orang melanggar dalil utilitas subjektif yang
diharapkan. Hal ini umumnya dianggap sebagai bukti keengganan untuk
ambiguitas.

Urainnya ellsberg mengasumsikan terdapat dua tahapan dan yang pertama


mengasumsikan sebuah kendi yang terdiri 90 bola. 30 bola tersebut berwarna
merahdan sedangkan sisanya bola yang berwarna hitam atau kuning yang tidak
diketahui. Satu bola diambildari kendi,dalam warna bola tersebut. Dari
gambarannya sebagian besar orang mempertaruhkan lebih memilih merah
untuk menghindari ketidakpastian antara bola hitam dan kuning.
Dalam tahapan kedua sebagian besar lebih mempertaruhkan memilih bola
hitam atau kuning dibanding bola merah atau kuning untuk menghindari
ketidakpastian dalam bola hitam atau kuning. Dari uraian diatas banyak orang
memilih option A dalam yang pertama dan option B dalam yang kedua.

D. INTRANSITIVITAS
Yang menyatakan bahwa seorang pembuat keputusan yang lebih
memilih hasil A dari hasil B,dan memilih hasil B dari hasil C, dan juga
memilih hasil A dibanding hasil C. Pembuat keputusan bisa saja memilih yang
tertinggi dan yang terendah jika dihadapkan dengan perbandingan dimensi
yang berbeda. Dimensi Intelegensi (IQ) Pengalaman (Th) Pelamar A 120 1, B
110 2, C 100 3.
Dimensi
Intelegensi (IQ) Pengalaman (tahun)
A 120 1
PELAMAR B 110 2
C 100 3

E. PREFERENCE REVERSALS
Keputusan seseorang dipengaruhi oleh Jabatan atau latar belakang.
Contoh : Jika seseorang tersebut memiliki posisi sebagai pemain undian
dihadapkan dengan pemilihan peluang undian 9/10 untuk mendapatkan 1 juta
atau 1/10 untuk mendapatkan 10 juta. maka kebanyakan orang akan memilih
peluang yang lebih besar yaitu 9/10, akan tetapi jika seseorang memiliki posisi
sebagai bandar maka akan lebih memillih peluang 1/10 untuk mendapatkan 10
juta.
Alternatif A : 1.000.000,- pasti
Alternatif B : peluang 10 % mendapatkan 2.500.000 peluang 89% mendapatkan
1.000.000 dan peluang 1% mendapatkan 0.
Alternatif A : Peluang 11% mendapatkan 1.000.000 dan peluang 89% tidak
mendapatkan apa – apa.
Alternatif B : Peluang 10% mendapatkan 2.500.000 dan peluang 90% tidak
mendapatkan apa – apa
Sulit untuk menentukan apakah pelanggaran terhadap teori utilitas harapan
menunjukkan bahwa orang-orang membuat keputusan secara tidak rasional
karena tidak ada ukuran yang pasti mengenei hal tersebut. Strategi keputusan
yang tidak dapat dipertahankan sebagai logika namun mungkin rasional jika,
selama jangka panjang, memberikan perkiraan yang cepat dan mudah untuk
strategi normatif yang memaksimalkan utilitas.
BAB 5
MODEL DESKRIPTIF DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A. Model Deskriptif dalam Pengambilan Keputusan


Menurut Plous (1993) terdapat beberapa model deskriptif dalam
pengambilan keputusan, yaitu :
1. Model Kepuasan (Satisficing)
Seseorang yang membuat suatu keputusan biasanya lebih mengutamakan
kepuasan dibandingkan sesuatu yang optimal. Dalam teori utilitas harapan,
pembuat keputusan diasumsikan memiliki informasi yang lengkap mengenai
peluang dan konsekuensi yang melekat pada setiap alternatif tindakan. Untuk
mendapatkan kepuasan tersebut adalah dengan memilih satu cara yang
dianggap memuaskan, sesuatu yang dibutuhkan meskipun pilihan tersebut
mungkin tidak ideal atau optimal. Kenyataannya,informasi mengenai alternatif
tidak sepenuhnya tersedia dan mengandung ketidakpastian. Dengan demikian,
walaupun utilitas harapan tidak berguna sebagai model normatif dari
pembuatan keputusan (model mengenai seberapa rasional perilaku
seseorang), utilitas harapan tidak berguna sebagai model deskriptif (model
mengenai bagaimana sebenarnya membuat keputusan).
2. Teori Prospek
Teori ini dikembangkan oleh Kahneman dan Tversky (1974) dan memiliki
perbedaan dengan teori ekspektasi kegunaan dalam jumlah tanggapan penting.
Teori prospek memprediksi bahwa suatu keputusan tergantung pada
bagaimana suatu masalah disusun. Jika suatu nilai referensi didefinisikan
sebagai suatu pengeluaran yang terlihat sebagai sebuah keuntungan, maka
hasil nilai fungsi akan menjadi cekung dan pembuat keputusan akan menolak
mengambil risiko. Sebaliknya, jika nilai referensi didefinisikan sebagai
pengeluaran yang terlihat sebagai kerugian, maka nilai fungsi menjadi cembung
dan pembuat keputusan akan mengambil keputusan untuk mengambil risiko.
3. Dampak Kepastian (The Certainty Effect)
Ketika seseorang telah yakin, akan nilai referensi yang mereka dapatkan
dari teori prospek, maka pembuat keputusan akan berusaha untuk
menghilangkan atau menghindari risiko secara keseluruhan dibandingkan
dengan mengurangi risiko tersebut.
4. Pseudocertainty
Untuk model pengambilan keputusan ini, pengambil keputusan membuat
suatu kebijakan dimana kebijakan tersebut tidak terlihat jelas atau tidak terlihat
langsung dampaknya.
5. Theory Regret (Teori Penyesalan)
Basis dari teori penyesalan adalah bentuk counterfactual reasoning, dimana
teori ini didapat berdasarkan ketika seseorang membandingkan kausalitas dari
keputusan mereka dengan apa yang akan terjadim jika mereka membuat
pilihan yang berbeda. Teori ini berasai dari dua asumsi: pertama, bahwa
banyak pengalaman orang-orang yang merasakan sensasi penyesalan dan
kegembiraan dan kedua, bahwa dalam membuat keputusan dibawah
ketidakpastian, maka mereka mencoba untuk mengantisipasi dan
mengindahkan sensansi-sensasi diatas. Teori ini memiliki risiko prediksi, yang
sama dengan teori kemungkinan, hanya saja teori ini penyesalan memprediksi
pilihan dengan menambahkan variabel baru, penyesalan ke fungsi kegunaan
normal.
6. Pilihan Beragam Sifat
Di beberapa situasi, hasil tidak dapat diukur dengan satuan ukuran tertentu.
Sebagaian besar hasil penelitian, pilihan beragam sifat lebih fokus pada
“bagaimana” dibandingkan “seberapa baik” seseorang membuat keputusan.
Orang-orang menggunakan sejumlah strategi keputusan yang berbeda untuk
membuat pilihan beragam sifat dan strategi-strategi ini sangat tergantung pada
jenis masalah. Ketika pembuat keputusan dihadapkan pada pilihan sederhana
antara dua alternatif, mereka sering menggunakan sesuatu yang dikenal
sebagai “strategi pengganti”. Strategi lainnya adalah “model linier”, pada
strategi ini setiap dimensi ditimbang berdasarkan kepentingan dan
pertimbangan nilai disimpulkan pada bentuk indeksi keseluruhan bentuk.
Strategi pengganti lain dikenal dengan “model tambahan berbeda”. Model
ini mirip dengan model linier, kecuali pada model linier, setiap alternatif
dievaluasi pada semua dimensi kemudian dibandingkan dengan alternatif lain.
Dimana pada model tambahan berbeda, setiap dimensi dievaluasi satu persatu
di tiap alternatif dan perbedaan di antara alternatif ditimbang dan dijumlahkan
bersama.
7. Strategi Non-Kompensasi
Ketika seseorang bertemu dengan pilihan yang rumit diantara sejumlah
alternatif, maka mereka biasa menggunakan “strategi tanpa pengganti”.
Pembuat keputusan menggunakan aturan konjungtif, yaitu mengeliminasi
berbagai alternatif yang berada di luar batas sebelum definisi. Di sisi lain,
seorang pembuat keputusan memakai aturan disjungtif dimana setiap alternatif
dievaluasi pada syarat-syarat sifat terbaik.

Strategi ketiga dari strategi tanpa pengganti adalah lexicographic. Pembuat


keputusan menggunakan strategi ini dimulai dari mengidentifikasi dimensi yang
paling penting untuk diperbandingkandan dipilih sebuah alternatif yang paling
diperlukan. Strategi keempat adalah strategi “eliminasi oleh aspek-aspek”.
Berdasarkan strategi ini, setiap aspek perbandingan diseleksi dengan proporsi
kemungkinan ke kepentingan. Berbagai alternatif dibandingkan dengan
tanggapan dari aspek yang terseleksi, alternatif inferior lalu dieliminasi, aspek
lain yang diperbandingkan diseleksi, alternatif tambahan dieliminasi dan sampai
pada hanya satu alternatif.
8. Dimensi Paling Penting
Hipotesis dari dimensi paling penting adalah memberi pilihan di antara dua
alternatif yang sama. Orang-orang akan memilih alternatif yang superior pada
dimensi yang paling penting. Jadi konsep ini mengatakan bahwa hal ini
merupakan “hipotesis dimensi yang paling penting”.
Pembuat keputusan dapat ditelaah dari segi normative ataupun dari segi
deskriptif. Pendekatan normative menitikberatkan pada apa yang seharusnya
dilakukan oleh pembuat keputusan agar keputusannya juga dapat dikaji dari
dua sudut pandang, yaitu: keputusan yang dibuat dalam suasana tanpa risiko
(riskless choice) dan keputusan yang dibuat dalam suasana yang mengandung
risiko (risky choice).
Pada akhir-akhir ini pendekatan normative terhadap pengambilan
keputusan sering kali digugat (Hastjarjo,1991). Beberapa peneliti menemukan
bahwa orang acap bertindak melanggar prinsip-prinsip dominan dan invarian.
Mereka lalu mengajukan sebuah teori yang dinamai teori prospek (prospect
theory) yang pada dasarnya merupakan deskriptif mengenai pengambilan
keputusan dalam situasi yang mengandung risiko.

B. Pembingkaian Informasi (Framing)


Pembingkaian informasi (framing) adalah efek pada penilaian yang kita
buat karena cara penyampaian informasi. Informasi yang sama bila
disampaikan dengan cara yang berbeda akan menimbulkan penilaian yang
berbeda (Hastjarjo,1991). Secara umum, jika informaasi yang bersifat positif
yang disampaikan pertama kali lalu disusul dengan informasi yang bersifat
negatif, maka seseorang akan member penilaian yang positif, begitupula
sebaliknya.
Dalam penelitian mengenai pembuatan keputusan, biasanya subjek diberi
sejumlah masalah hipotesis. Setiap masalah, mencakup: 1) sjumlah alternatif-
alternatif (options) atau tindakan-tindakan (acts) yang harus dipilih, 2) hasil-hasil
(outcomes) dari alternatif tersebut atau konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-
tindakan tersebut, dan 3) probabilitas atau kontijensi yang menghubungkan
hasil-hasil dengan tindakan-tindakan tadi. Respons seseorang terhadap
masalah-masalah hipotesis tersebut diharapkan dapat mengungkap sikap-sikap
dasar orang tersebut terhadap nilai dan risiko.

C. Fungsi Nilai dan Pembobotan


Kahneman dan Tversky (1979) mencoba memberikan penjelasan atas
kecenderungan subjek dalam menghadapi masalh-masalah di atas. Penjelasa-
penjelasan tersebut merupakan ciri-ciri teori prospek.
1. Hasil hasil (outcomes) diekspresikan dalam bentuk deviasi positif (gains)
atau deviasi negatif (losses) dari satu titik referensi netral yang dianggap
bernilai nol.
2. Mengikuti jejak Bernoulli, Kahneman dan Tversky (1979) menandaskan
bahwa dalam mengevaluasi suatu prospek orang tidak menggunakan
hasil-hasil objektif prospek tersebut, akan tetapi orang mengembangkan
penilaian subjektif terhadap hasil-hasil dari prospek tadi. Khususnya,
fungsi nilai (value function) memiliki bentuk S, bersifat cekung di atas titik
referensi dan bersifat cembung dibawah titik referensi.

3. Dalam teori-teori pengambilan keputusan yang normatif, misalnya


expected utility theory, maka nilai dari satu hasil dibobot (weighted)
berdasarkan probabilitasnya. Akan tetapi, dalam teori prospek, nilai satu
hasil dikalikan dengan bobot keputusan (decision weight, (p)). Bobot
keputusan merupakan satu fungsi monotonik dari probabilitas namun ia
bukan merupakan probabilitas. Fungsi pembobotan (weighting function)
memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) kejadian-kejadian yang mustahil
dibuang 𝜋 (0) = 0 dan 𝜋 (1) = 1, dan (b) untuk probabilitas-probabilitas
rendah 𝜋 (p) = p, namun 𝜋 (p) + 𝜋 (1-p) < 1. Jadi, probabilitas-
probabilitas rendah cenderung dilebih tinggikan (overweighted),
sedangkan probabilitas-probabilitas sedang dan tinggi cenderung
dilebihrendahkan (underweighted).

D. Akuntansi Mental (Mental Accounting)


“Framing “ juga dapat diterapkan pada pilihan terhadap alternatif-alternatif
yang mempunyai banyak atribut. Dalam mengevaluasi satu pilihan yang
mempunyai banyak atribut, maka orang biasanya mengembangkan satu
perhitungan mental dengan cara memerinci keuntungan dan kerugian dari
alternatif tersebut jika dibandingkan dengan satu referensi.

E. Penelitian Teori Prospek


Pengaruh perbedaan formulasi satu masalah terhadap perbedaan tingkah
laku memilih (framing effects) yang merupakan ciri khas Teori Prospek telah
banyak diteliti. Levin, Champman, dan Johnson (1988) dalam Hastjarjo (1991),
misalnya meminta baik pasien di satu rumah sakit maupun para dokternya
untuk memilih antara terapi pembedahan dan radiasi dalam mengobati kanker
paru-paru. Kelompok pertama diberi informasi mengenai efektivitas terapi
tersebut dalam bentuk survival statistics, yang menunjukkan presentase pasien
yang mampu bertahan hidup sesudah mendapatkan terapi. Kelompok kedua
diberi informasi yang sama hanya dalam bentuk mortality statistics, yang
menyajikan presentase pasien-pasien yang telah meninggal. Pilihan subjek
terhadap kedua masalah tersebut sangatlah berbeda. Misalnyua, jika efektivitas
terapi radiasi disajikan dalam bentuk “survival frame”, maka hanya 18% dari
subjek yang memilihnya. Sebaliknya, jika efektivitas terapi radiasi disajikan
dalam bentuk “mortality frame”, maka 44% dari subjek memilihnya.
Levin, Chapman, dan Johnson (1988) dalam Hastjarjo (1991) melakukan
dua eksperimen yang meminta subjek untuk berjudi secara hipotesis
(Eksperimen 1) dan berjudi dengan uang betulan (Eksperimen 2). Untuk kondisi
perolehan, besarnya uang yang dapat dimenangkan berkisar dari Rp100
sampai Rp200 dengan peluang berkisar dari 5% sampai dengan 20%.
Sedangkan untuk kondisi kekalahan, subjek dapat kalah sekitar Rp100 sampai
Rp200 dengan peluang kalah sebesar 80% sampai dengan 95%. Subjek
mengekspresikan lebih besar kemauan untuk bermain judi jika judi dirumuskan
dalam presentase peluang untuk menang daripada jika dirumuskan dalam
presentase kalah.
Christensen (1989) dalam Hastjarjo (1991) mengadakan empat penelitian
terhadap tingkah laku memilih, yang terdiri dari satu penelitian lapangan, satu
simulasi “berbelanja”, dan dua penelitian yang menggunakan kuesioner.
Berdasar bentuk kurva fungsi nilai dalam Teori Prospek, hipotesis yang
diajukan adalah semakin tinggi rekening/pengeluaran seseorang semakin
berminat orang itu untuk membeli barang-barang ekstra, oleh karena
pengeluaran-pengeluaran untuk barang-barang tambahan tersebut hanya
dinilai sebagai pengeluaran yang relative kecil jika ditambahkan ke dalam
pengeluaran yang lebih banyak (pengeluaran pokok). Keempat macam
penelitian yang dilakukan mendukung hipotesis penelitian.
Secara ringkas, satu implikasi teori prospek yang sangat penting ialah
bahwa dengan memanipulasi formulasi suatu masalah (framing) atau dengan
mengubah titik laku tertentu, yakni apakah ia akan cenderung mengambil atau
menghindari resiko.

F. Bagaimana di Akuntansi?
Banyak penelitian akuntansi pada tahun 1960-an secara implisit
mengamsumsikan bahwa investor gagal untuk menyesuaikan secara penuh
pengaruh dari pemilihan metoda akuntansi terhadap alokasi sumber daya.
Pasar tak ubahnya sebuah “fair game” dari investor yang tidak canggih.
Penelitian yang dilakukan oleh Gonedes dan Dopuch (1974) menjadi tonggak
dari perubahan pandangan ini. Pada decade tahun 1980-an sampai 1990-an,
banyak studi yang melaporkan terjadinya inefisiensi pasar, hal ini ditandai
dengan adanya fenomena post announcement drift yaitu suatu reaksi
berkepanjangan atas suatu peristiwa di pasar, padahal esensi terpenting dari
pasar efesien adalah kecepatan informasi dan informasi akan lenyap begitu
menerima informasi baru lagi. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh Teori
Prospek, yang intinya adanya prospek (peluang masa depan) sebagai reaksi
atas peristiwa masa kini
Teori prospek merupakan teori yang bersifat deskriptif dibandingkan
normatif dalam pengambilan keputusan yang mengandung unsur
ketidakpastian. Investor akan sangat menyukai suatu pola laba tertentu, yang
merupakan bentuk dari fungsi nilai teori prospek yang menyebabkan
manajemen akan melakukan suatu kreasi terhadap laba yang dilaporkan.
Kecenderungan investor kea rah perilaku menjual saham lebih dini aham
winner (saham berkinerja superrior) dan menahan lebih lama saham loser
(saham yang merugi) merupakan suatu bentuk bias psikologis para investor di
pasar modal (Pangeran, 2007). Kerugian atas kekayaan para investor terjadi
karena saham winner yang mereka jual cenderung terus berkinerja baik,
sementara saham loser yang meraka tahan ternya terus berkinerja buruk. Bias
psikologis ini terjadi secara sistematis dan berulang-ulang di pasar modal.
Fenomena ini dikenal dengan disposisionerror.
Fenomena disposition error merugikan tingkat kekayaan investor. Mengapa
fenomena ini terjadi? Esensi penjelasannya dapat dilakukan dengan teori
prospek. Penjelasan teori prospek lebih memberi tekanan pada askep kognitif
investor. Lebih lanjut, menurut Pangeran (2007) penjelasan teori prospek
tentang fenomena disposition error terus mengalami tentangan dari temuan
emperis. Temuan emperis mengindikasikan fakta yang berlawanan dengan
prediksi teori prospek. Teori lain yang bias menjadi alternative adalah teori
penyesalan. Teori prospek tidak membedakan antara opsi yang dipilih dan yang
tidak dipilih. Teori prospek tidak membandingkan perbedaan antara kinerja
portofolio seorang dan kinerja portofolio pasar.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, esensi dari teori penyesalan
adalah individu akan mengalami sensasi-sensasi yang disebut penyesalan. Ia
akan merasa menyesal atas suatu hasil buruk akibat pilihan yang salah.
Perasaan menyesal itu berasal dari dua sumber, yaitu perasaan menyesal
akibat bertindak dan akibat tidak bertindak. Dalam konteks investasi, investor
akan sangat menyesal jika kerugian dikaitkan dengan keputusan yang salah
(Pangeran, 2007). Antisipasi atas perasaan menyesal sebelumnya mendorong
seorang investor bersikap pasif selama dibawah kondisi ketidakpastian.
Keputusan untuk menjual lebih dini saham winner sering disebabkan oleh
sikap yang terburu-buru, khawatir akan lepasnya keuntungan yang sudah di
tangan. Selain itu, keputusan untuk menahan lebih lama saham loser juga
disebabkan oleh adanya harapan harga naik serta keengganan untuk mengakui
kesalahan investasi yang dilakukan. Berdasarkan pada penjelasan teori
penyesalan, investor memiliki emosi penyesalan yang intens atas hasil negative
sebagai akibat bertindak dalam keputusan investasi. Investor yang takut akan
munculnya penyesalan atas hasil negatif akibat dari tindakan serupa cenderung
menahan lebih lama saham loser walaupun harga saham terus menurun. Di
pihak lain, investor akan memiliki perasaan penyesalan yang intens atas hasil
buruk positif sebagai akibat tak bertindak dalam keputusan investasi.
BAB 6
ASPEK KEPRILAKUAN DALAM PENGANGGARAN

A. Budgetary Slack
Budgetary slack adalah proses penganggaran yang di temukan adanya
distorsi secara sengaja dengan menurunkan pendapatan yang di anggarkan
dan meningkatkan biaya yang di anggarkan. Pandangan keperilakuan dari
perusahaan memandang pencapaian tujuan sebagai sesuatu ynag di namis
dan merefleksikan kebutuhan individual dan tujuan-tujuan dari sub-subunit
yang ada.kesepakatan mengenai tujuan dan pencapaian sasaran dalam
kongruensi tujuan organisasional yang mendukung kelangsungan perusahaan
pasti menjadi tujuan bersama.
Angggaran merupakan bagian penting dalam perusahaan atau organisasi
sektor publik. Penting dan urgennya fungsia anggaran sebagai perencanaan
dan pengendalian perusahaan menjadikan penganggaran sebagai area
penting bagi keberhasilan perusahaan. Anggaran di harapkan menjadi
rerangka kerja untunk menentukan prestasi dan kinerja karyawan. Oleh karena
itu, anggaran dapat menjadi suatu pertimbangan, melalui perbandingan antara
prestasi yang sebenarnya atau yang telah di tetapkan anggaran. Angaran
sektor publik berupa APBD misalnya merupakan represen-tasi dari tujuan
pemerintah sendiri dan di bahas bersama DPRD. APBD merupakan roh dari
manajemen pemerintah daerah.
Slack anggaran adalah perbedaan antara anggaran yang di nyatakan dan
istimasi anggran terbaik yang secara jujur dapat di prediksi kan. Manajemen
menciptakan slack dengan mengestimasikan pendapatan lebih rendah dan
biaya lebih tinggi. anggran secara luas telah menjadi fokus bagi aktivitas
perencanaan dalam jangka pendek (biasanya dalam 1 tahun) dan menjadi
dasar bagi sistem pengendalian manajemen. Anggaran keuanga adalah
ringkasan dari proyeksi laporan keuangan perusahaan untuk satu tahun
kedepan dalam bahsa kuantitatif yang terukur.angaaran mencerminkan tujuan
detail perusahaan dan perencanaan untuk mnecapainya dengan sumber
cahaya yang terbatas. Sebagai balsis dalam sistem pengendalian organisasi,
angagaran mencerminkan prinsip manajemen byexcaption prinsip ini mengakui
kognitif inheren dan keterbatasan rasional dari manajer dalam tugas dan
aktivitas mereka.
Aspek keperilkuan dari penganggaran mengacu pada prilaku manusia yang
muncul pada proses penyususan anggaran dan prilaku manusia yang di
dorong ketika manusia mencoba untuk hidup denga anggaran hal tersebut
mengacu pada kegelisaaan ( job insecurity) karena mengetahui bahwa batas
pengeluaran tidak akan di naik kan tahun ini atau dengan kata lain anggaran
mengandung unsur kekeketatan, ketakutan untuk mengatakan kepada staf
anda bahwa tidak akan ada kenaikan bonus tahun ini, dan rasa curiga yang
bisa berkembang ketika kepala departemen lain menerima kenaikan angaran
terbesar secara spektakuler pada tahun tahun belakang ini.
Angaran dan proses pengangaran memiliki dampak langsung dan
menentukan yang memengaruhi perilaku manusia. Anggaran menetapkan limit
terhadap pada apa yang dapatdi beli dan berapa banyak yang dapat di
belanjakan angagaran membaasi tindakan dikresi manajemen sekali gus
mengukur kinirja mereka anggaran merupakan alasan mengapa kinerja
manajer dipantau secara reguler (rutin) dan ukuran setandar terhadap mana
hasil kinerja di bandingkan. Itulah yang menyebabkan mengapa anggaran
bebasis kinerja yang sangat populer. Konsep informasi asimetris yaitu atasan/
pemegang kekuasaan anggaran mungkin mempunyai pengetahuan dan
wawasan yang lebih dari pada bawahan/pelaksana anggaran ataupun
sebaliknya. Bila kemungkinan yang pertama terjadi, akan muncul tuntutan atau
motifasi yang leboh besar dari atasan/pemegang kuasa anggaran kepada
pelaksana anggaran mengenai pencapaian target anggaran tepasang.Secara
teoritis dapat dikatakan bahwa informasi asinetris dapat di kurangi melalui
monitoring dan desain sistem informasi yang lebih baik.
Era digitalisasi dan teknologi informasi telah menuntut adanya perubahaan
yangangat cepat dan menyebabkan adanya pergeseran mind-set yang
komplek disegala bidang.untuk itu perusahaan harus memiliki keunggulan
kompetitif(competitive advantage) agar dapat menenangkan persaingan
dengan meninggalkan keunggulan comperatif misalnya upa buruh yang murah.
Dalam rangka memberikan pelayanan publik yang lebih perfom kepada
masyarakat, maka karyawan di tuntut dapat meningkatan kenerjanya.
Angaran juga merupakan proses pengendalian manajemen yang
melibatakan komunikasi, koordinasi, sinerji, dan Interaksi formal di kalangan
para manjer dan para karyawan merupakan pengendalian manajemen atas
operasional perusahaan pada tahun berjalan. Angaran merupakabn
terjemahaan dari program dengan menggunakan informasi terkini.sebuah
anggaran operasi biasanya dalam satu tahun dan menyatakan rencana
pendapatan biaya untuk tahun yang besangkutan.anggaran dapat di katakan
sebagai wahana untuk mengoperasikan tujuan yang akan di capai dalam
waktunjangka pendek. Para manajer bawah atau staff pada perusahaan dan
organisasi sektor publik sebenar nya memiliki informasi yang lebih baik di
bandingkan di miliki manajer atas. Pada sebagian besar organisasi, para
manajer tingkat menengah kebawah lebih banyak memiliki informasi yang
akuarat di bandingkan dengan atasannya, karena mereka bersentuhan
langsung dengan operasional. Sementara pada sisi lain, maanajer tingkat atas
yang lebih dominan dan power full dalam posisinya akan merasa dirinya lebih
mampu menyusun anggran, karena adanya perbedaan setatus ini
memunculkan kendala partisipsi.

B. Konsekuensi Disfungsional
Munurut gudono (1993) penyusunan anggran dapat menimbulkan dampak
psikologis langsung pada karyawan tidak sedikit manajer dapartemen tertentu
mengalami keresahaan jika prestasinya(dilihat dari realisasi) tidak lah bagus di
bandingkan dengan denga anggaran yang harus di capai sebaiknya, banyak
pula manjer yang justru mempunyai motifasi semakin besar setelah ada
anggaran.
Dengan demikian, ada kosekuensi disfungsional dari prises penganggaran:
1. Rasa tidak percaya: dalam kenyataan nya anggaran dapat
disesuai kan, tetapi akan menjadi suatu sumber tekanan
yang dapat menimbulkan rasa tidak percaya.
2. Resistensi : anggaran bisa jadi menimbulkan penolakan,
karena seseorang mempunyai setatus quo masing-
masing,terbiasa dengan cara-cara lama, dan di rugikan
secara pribadi Resistensi muncul karena adanya
prerequisite yang tidak proporsional
3. Konflik internal : konflik internal akan muncul mana kala
anggran sebagai pusat koordinasi tidak berjalan. Masing-
masing menjalankan ego sendiri-sendiri.seharusnya
anggaran berfungsi sebagai alat koordinasi sehingga
dapat memitigasi konflik internal.
BAB 7
HEURISTIK KETERWAKILAN (REPRESENTATIV
ENESSHEURISTICS)

A. Heuristik Keterwakilan
Keterwakilan adalah cara mesin mental bekerja dalam menaruh ciri,
properti,sifat,atau sebuah bayangan darisebuah himpunan ke anggota
himpunan, hingga ketika kita bertemu satu anggota himpunan, kita dibimbing
oleh heuristic ini untuk meletakkan sifat kesatu anggota himpunan itu.
Menurut Tversky dan Kahneman (1974), orang sering kali menilai
kemungkinan “dengan derajat dimana A adalah perwakilan dari B, yaitu dengan
derajat dimana A mewakili B. ”Ini bias disebut aturan pokok “heuristic
keterwakilan”.
Beberapa bias heuristic yang masuk dalam kelompok bias heuristic
keterwakilan adalah sebagai berikut:
1. Bias 4– Tidak sensitive terhadap baserate Bias
Pertimbangan jenis ini sering terjadi ketika seseorang secara kognitif
menanyakan pertanyaan yang salah. Mengabaikan baserate memiliki banyak
implikasi yang kurang baik. Kahneman dan Tversky telah mendemostrasikan
kecenderungan ini dalam serangkai anek speriman.
2. Bias5–Tidak Sensitif Terhadap Base-rate
Pertimbangan jenis ini seringkali terjadi ketika seorang secara kognitif
menanyakan pertanyaan yang salah. Mengabaikanbase-rate memiliki banyak
implikasi yang kurang baik. Ilmu statistic mengatakan bahwa semakin besar
sampel,semakin bagus probabilitas mewakili setiap kejadian.
3. Bias6 – Tidak sensitif terhadap ukuran sampel
Walau ukuran sampel sangat fundamental terhadap ilmu statistik, Tversky dan
Kahneman(1974) berpendapat bahwa ukuran sampel jarang menjadi bagian
dari intuisi kita. Ilmu statistic mengatakan bahwa semakin besar sampel,
semakin bagus probabilitas mewakili setiap kejadian. Mengapa begitu? Karena
ketika merespon terhadap masalah yang berhadapan dengan sampling, orang
seringkali menggunakan heuristic keterwakilan.
4. Bias7 – Kesalahan Konsepsi dari peluang
Peluang secara umum dipandang sebagai proses pembenaran diri (justifikasi)
di mana penyimpangan dalam satu arah mengindukasi penyimpangan dalam
arah yang berlawanan untuk mengembalikan keseimbangan. Hal ini diduga
karena representative ness heurisctic begitu bagus digunakan dalam proses
pengambilan keputusan kita dibandingkan dengan ilmuwan terlatih sekalipun
dan menitik beratkan pada penggunakan statistik.
5. Bias8-Regresipadamean
Banyak pengaruh regresi menuju mean. Mengapa menggunakan konsep
regresi menuju mean, sementara hasil statistik valid? Kahneman Tversky
(1973) menyatakan bahwa representativennes heuristic menghitung untuk bias
sistematik ini dalam pertimbangan.Sudah jelas, kecenderungan dari
penampilan untuk beregresi menuju mean dapat dihitung sebagai hasil.
6. Bias9–KesalahanKonjungsi
Lewat teori probabilitas, seharusnya kita tahu bahwa peluang untuk
mendapatkan suatu kejadian B lebih besar atau sama dengan peluang untuk
mendapatkan A dan B sekaligus, jika A dan B saling bebas.Kesalahan
konjugasi juga dapat beroperasi didasarkan pada ketersediaan yang besar dari
konjugasi salah satu penjelasan yang unik. Tversky dan Kahneman (1983)
telah menujukkan bahwa kebohongan konjugasi cenderungan mengarah pada
penyimpangan dari rasionalitas dalam menilai suatu peristiwa, tindakan
kriminal, hubungan internasional dan pertimbangan medis. Keprihatinan kita
dengan bias yang dihasilkan dari kebohongan.
Konjugasi adalah bila kita membuat penyimpangan sistematik dari
rasionalitas dalam memprediksi hasil, kita akan menjadi kurang persiapan untuk
berhadapan dengan kejadian dimasa depan.
Plous(1993)mengusulkanbeberapacaraberikutuntukmengatasibiaskarena
heuristikketerwakilan.
 Jangan disesatkan oleh skenerio yang sangat terpeinci. Secara umum,
semakin spesifik suatus kenerio adalah semakin rendah kemungkinan
besar untuk terjadi, bahkan ketika skenerio tampak sempurna mewakili
outcome yang paling mungkin terjadi.
 Bila mana mungkin, perhatikan baserate sangat penting apabila sebuah
Peristiwa sangat langka atau sangat umum.

B. Bagaimana di Akuntansi?
Menurut hamid 2007, dalam pasar surat berharga, misalnya saham,
investor dapat mengelompokkan beberapa saham sebagai saham bertumbuh
berdasarkan pada sejarah pertumbuhan laba yang konsisten. Investor sering
salah sangka bahwa kinerja operasi sebelumnya adalah representasi untuk
kinerja dimasa yang akan dating dan sering mengabaikan informasi yang tidak
cocok dengan hal ini. Kenyataan ini membuat investor bereaksi berlebihan
terhadap kinerja persisten berlanjut dalam jangka panjang. Hal ini
menyebabkan investor stereotype terhadap saham. Dipihak lain pihak, aspek
keterwakilan ini juga terbaca manakala suatu perusahaan mempunyai sejarah
pertumbuhan laba yang konsisten selama beberapa tahun.
BAB 8
HEURISTIK PENJANGKARAN DAN PENYESUAIAN

A. Heuristik Penjangkaran dan Penyesuian


Penjangkaran adalah kecenderungan untuk mengawali sebuah nilai
tertentu untuk bisa melakukan penilaian. Dalam istiliah psikologi ( Psychology
Glossary) heuristik penjangkaran juga dikenal sebagai focalism, mengacu
pada kecenderungan manusia untuk menerima dan bergantung pada, bagian
pertama dari informasi yang diterima sebelum membuat keputusan. Itu bagian
pertama dari informasi adalah jangkar dan menetapkan nada untuk segala
sesuatu yang berikut. Jika rata – rata indeks prestasi di kampus adalah 3,0,
maka penilaian terhadap mahasiswa yang memiliki IP 3,0 adalah rata – rata
saja atau tidak cerdas. Dan yang memiliki IP 2,95 akan digolongkan tidak
cerdas karena kurang dari rata – rata. Sedangkan jika rata – rata IP di kampus
adalah 2,5 maka yang mendapat IP 2,95 akan tergolong cerdas.
Penjangkaran diawali dengan menetapkan suatu standar yang didapatkan
dari adanya generalisasiterhadap kejadian sosial. Terdapat standar – standar
perilaku yang dapat digunakan untuk mempermudah melakukan penilaian
terhadap orang lain. Sebagai contoh standar untuk orang kaya adalah orang
yang memiliki mobil Ferrari, Jaguar, BMW, Nissan, Mercedes atau memiliki
rumah bertingkat. Pada saat itu jika menemukan orang yang memiliki hal itu
maka Anda akan langsung menyimpulkannya sebagai orang kaya.
Beberapa heuristik bias jenis ini adalah sebagai berikut:
1. Bias 9 Penyesuaian acuan yang tidak layak
Walaupun subjek sadar bahwa acuannya acak dan saling tidak berhubungan
terhadap pertimbangan, acuan memiliki efek yang dramatis terhadap
pertimbangan mereka. Menariknya membayar subjek secara berbeda – beda
berdasarkan keakuratan tidak mengurangi peningkatan dari pengaruh
pengacuan.
Nisbett dan Ross (1980) dalam Plous (1933) menunjukkan suatu argumen
yang memperkirakan bahwa bias pengacuan dan penyesuaian itu sendiri
menyatakan bahwa sangat sulit sekali untuk mengubah strategi pengambilan
keputusan Anda sebagai akibat dari membaca buku ini. Mereka berpendapat
bahwa masing – masing heuristik yang kami identifikasi saat ini bertindak
sebagai acuan kognitif Anda dan merupakan pusat dari proses dari
pertimbangan Anda saat ini. Oleh karena itu, setiap strategi kognitif yang saya
sarankan harus disajikan dengan cara yang akan memaksa Anda untuk
mendobrak acuan kognitif saat ini.
2. Bias 10 Konjungtif dan disjungtif kejadian bias
Perkiraan berlebih dari kejadian konjungtif merupakan suatu penjelasan
kuat dari masalah ini dalam proyek yang memerlukan perencanaan bertahap.
Perorangan, pebisnis, dan pemerintah sering kali menjadi korban dari bias
kejadian konjungtif melalui waktu dan dana. Proyek pekerjaan umum gagal
terselesaikan tepat waktu atau kekurangan dana. Pengapalan produk baru
sering lebih lama dari yang diharapkan, bias disjungtif telah mengarahkan Anda
untuk berharap hal yang terburuk.
3. Bias 11 Overconfidence
Overconfidence adalah percaya diri atau keyakinan yang
berlebihan.Temuan yang paling baik ditetapkan dalam tulisan – tulisan
keyakinan berlebihan adalah kencenderungan orang untuk menjadi terlalu yakin
untuk membenarkan jawaban mereka ketika diminta untuk menjawab kesulitan
menengah sampai sangat sulit.
Tversky dan Kahneman (1974) menjelaskan keyakinan berlebihan dalam
hubungannya dengan pengacuan. Terutama mereka berpendapat bahwa ketika
seseorang diminta untuk menyusun rentang keyakinan sekitar mereka,
perkiraan awal bertindak sebagai acuan yang menyebabkan bias perkiraan
mereka dari interval keyakinan dalam kedua arah. Kebutuhan akan acuan awal
sangat penting dalam proses pengambilan keputusan kita, ketika kita mencoba
untuk memperkirakan kencenderungan ( seperti kemungkinan penyeleseaian
proyek tepat waktu) atau menetapkan nilai ( seperti berapa harga yang harus
dijual). Pengalaman telah mengajari kita bahwa dimulai dari satu tempat lebih
mudah dibanding memuli dari tidak dimanapun dalam menentukan gambaran
semacam itu. Namun, seperti tiga bias terakhir ini (penyesuaian pengacuan
yang tidak tepat, bias konjungtif dan disjungtif dan terlalu percaya diri )
menunjukkan, kita sering kali terlalu tergantung pada titik acuan dan jarang
menanyakan validitasnya atau kelayakannya dalam situasi tertentu.
Sebagaimana dengan heuristik yang lain, kita sering kali gagal bahkan untuk
menyadari bahwa heuristik ini mempengaruhi pertimbangan kita. Bukti
penelitian empiris di pasar saham menunjukkan bahwa perilaku overconfidence
secara tidak disadari meningkatkan kesalahan prediksi sehingga menciptakan
transaksi perdagangan yang merugikan karena akhirnya investor menemukan
bahwa mereka membeli saham terlalu mahal atau menjual terlalu murah (
Bloomfield, 1999 ).
Contoh menarik terjadi dipasar saham ( kufepaksi,2007 ) ketika perilaku
keyakinan berlebihan berlangsung. Investor membeli saham dengan harga
yang jauh melebihi harga fundamental.Artinya, investor membeli dengan harga
yang lebih mahal sehingga menimbulkan kerugian. Sebaliknya, kerugian juga
dapat terjadi bila investor menjual saham dengan harga jauh di bawah harga
fundamentalnya ; artinya, investor menjual harga dengan harga yang lebih
murah.
Kegagalan untuk menekan kesalahan prediksi telah menempatkan investor
dalam posisi yang merugi. Perilaku overconfidence yang memicu peningkatkan
kesalahan prediksi akan merugikan investor sendiri. dengan demikian
fenomena overconfidence adalah kecenderungan pengambil keputusan tanpa
disadari untuk memberi bobot penilaian secara tidak proporsional pada
pengetahuan dan informasi yang dimiliki tetapi mengabaikan informasi publik
yang tersedia.
Di depan anda terdapat roda keberuntungan. Perimeter dibariskan dengan
sebuah susunan angka.Dansetelah roda di putar, jarum menunjukkan pada
angka 65. Setelah itu, anda diberi suatu pertanyaan : apakah persentase
Negara afrika dalam PBB lebih besar atau kurang dari 65? Dalam hal ini
bukannya anda tahu banyak hal, namun anda memang cukup yakin bahwa
persentasenya kurang dari 65.
Nah, jika yang kemudian ditanyakan kepada anda adalah berapa
persentase pasti dari Negara afrika dalam PBB, apa jawaban anda ?setelah
berfikir, anda menjawab dengan perkiraan 45%. Peneliti lalu mencatat jawaban
anda, mengucapkan terimakasih untuk waktu anda, dan anda pun pergi.
Sekarang, anda adalah orang yang lain, orang yang belum menjawab
pertanyaan tentang PBB, orang yang roda berhenti bergerak, peneliti
menanyakan : apakah persentase Negara afrika dalam PBB lebih besar atau
kurang dari 10? Lebih besar, anda mengatakan sudah pasti itu lebih.
Berapa persentase pastinya dari Negara afrika dalam PBB? Setelah berpikir
sesaat, anda menjawab dengan perkiraan 25%. Dalam kenyataan, seperti
prosedur semacam itu, menghasilkan hasil yang sama, dilakukan oleh Tversky
dan Kahneman (1974). Subjek yang ditunjuk secara acak pada suatu kondisi
eksperimen dimana jarum menunjukkan pada 65 berurutan memberikan
perkiraan median 45%, dan subjek yang dijarumnya mendarat pada 10
memberikan perkiraan median 25%. Tversky dan Kahneman menjelaskan
fenomena ini sebagai penjangkaran dan penyesuaian yaitu, penyesuaian yang
tidak cukup tinggi atau rendah dari nilai awal aslinya, atau jauh.

B. Penerapan Pada penelitian Akuntansi


Model penyesuaian keyakinan (Hogarth dan Einhorn, 1992), dengan
menggunakan pendekatan anchoringdan adjustment(general anchoring and
adjustment approach) , menggambarkan penyesuaian individu karena adanya
bukti baru ketika melakukan evaluasi bukti secara berurutan.
Pendekatan anchoring dan adjustment seperti yang telah disampaikan
sebelumnya, adalah bila seseorang melakukan penilaian dengan memulai dari
suatu nilai awal dan menyesuaikannya untuk menghasilkan
keputusan akhir.Nilai awal ini diperoleh dari kejadian atau pengalaman
sebelumnya.
Model penyesuaian keyakinan memprediksi bahwa cara orang
memperbaiki keyakinannya yang sekarang (anchor) dipengaruhi oleh beberapa
faktor bukti. Faktor bukti yang dimaksud adalah kompleksitas bukti yang
dievaluasi, konsistensi bukti, dan kedekatan evaluator dengan bukti tersebut.
Model ini menempatkan karakteristik tugas sebagai moderator dalam
hubungan antara urutan bukti dengan pertimbangan yang akan dibuat.
Fenomena pengaruh urutan bukti muncul karena adanya interaksi antara
strategi pemrosesan informasi dan karakteristik tugas sebagai moderator
dalam hubungan antara urutan bukti dengan pertimbangan yang akan dibuat.
Fenomena pengaruh urutan bukti muncul karena adanya interaksi antara
strategi pemrosesan informasi dan karakteristik tugas. Sifat-sifat bukti yang
dipertimbangkan dalam model adalah: (1) arah (sesuai atau tidak sesuai
dengan keyakina awal), (2) kekuatan bukti (lemah atau kuat), dan (3) jenis
bukti (negatif, positif, atau campuran).
Disamping arah kekuatan dan jenis bukti, Hogarth dan Einhorn (1992) juga
menambahkan urutan bukti (positif setelah itu negatif, negative-positif, atau
konsisten positif-positif dan negatif-negatif) dan cara/format/mode
(penyampaian informasi secara berurutan atau secara simultan) dalam
penyajian bukti.Dalam bentuk berurutan (step by step, SbS), individu-individu
memperbaharui keyakinannya setelah diberikan tiap-tiap potongan bukti dalam
serangkaian penyampian informasi yang terpisah-pisah, sedangkan dalam
bentuk simultan (end-of-sequence, EoS) individu-individu memperbaharui
keyakinannya begitu semua informasi tersaji dalam bentuk yang telah
terkumpul.
Ketika informasi disajikan dalam bentuk SbS, individu menggunakan
strategi pengolahan SbS. Di sini idividu menyesuaikan keyakinannya secara
bertahap begitu diberikan tiap-tiap potongan bukti.Sebaliknya, pengolahan SbS
berati bahwa anchor awal disesuaikan dengan penyajian bukti-bukti secara
agresif. Penyajian dalam bentuk EoS serng kali menghasilkan strategi
pengolahan EoS, khususnya bila jumlah item informasi sedikit dan tidak terlalu
kompleks. Namun, rangkaian-rangkaian item informasi yang relative kompleks
dan/atau panjang yang disampiakan dalam bentuk EoS mungkin tidak
tertampung oleh kapasitas kognitif banyak individu.Oleh karena itu, orang
sering secara khusus menggunakan stratei pengolahan SbS saat dihadapkan
dengan kondisi kognitif seperti itu.
Hogarth dan Einhorn (1992) membuat perbedaan antara tugas evaluasi dan
estimasi. Pada tugas evaluasi, bukti dilihat sebagai bipolar (-1 ≤ (Xk) ≤ +1)
relatif terhadap suatu hipotesis (confirming vs disconfirming), dan pengaruhnya
independen terhadap titik referensi R(R=0). Pada tugas estimasi, bukti dilihat
sebagai unipolar (0≤s(Xk) ≤1), dan pengaruhnya tergantung pada R(R-Sk-1).
Perbedaan prediksi tergantung pada (a) bagaimana bukti dikodekan (tugas
evaluasi vs tugas estimasi), (b) bagaimana bukti diproses (berurutan atau
simultan), dan (c) sifat dari proses penyesuaian yang tergantung pada nilai α
dan β. Notasi α menunjukkan sensitivitas orang terhadap bukti negative,
sedangkan β menunjukkan sensitivitas orang terhadap bukti positif.
Bukti-bukti empiris menunjukan bahwa individu-individu membuat perbaikan
keyakinan yang lebih besar bila informasi diberikan dalam format SbS,
dibandingkan dengan format EoS (Ashton dan Ashton, 1988). Penyebabnya
adalah karena penyajian potongan-potongan bukti yang lebih sering (SbS)
memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk
malkukan anchoring (penetapan) dan penyesuaian, dan individu-individu sering
melakukan penyesuaian berlebihan (over-adjust) kearah item-item informasi
tersebut. Penyesuaian yang berlebihan inilah yang bisa menyebabkan
munculnya bias yang disebabkanefek kekinian.
Potensi efek kekinian yang lebih besar hadir pada strategi pengolahan SbS,
karena dalam EoS bukti positif dan negative disaring sebelum diintegrasikan
dengan keyakinan sebelumnya (Kennedy,1993) penyaringan bukti campuran
mengurangi dampak dari masing- masing potongan bukti positif dan negatif
secara individual. Untuk menjelaskan kapan penjaringan (netting) terjadi,
seseorang harus membedakan antara bentuk respons ( response mode )
dengan strategi pengolahan (processing strategy).
Bentuk respon adalah cara untuk memperoleh penilaian, yaitu suatu
penilaian ditentukan setiap kali diberikan potongan-potongan bukti atau satu
respon final ditentukan setelah diperoleh suatu potongan bukti , sedangkan
bentuk pengolahan adalah proses internal (mental) dari perbaikan keyakinan.
Jika tugas tersebut bersifat kompleks, individu-individu cendeung strategi
pengolahan berurutan yang memerlukan tuntutan minimal pada memori dan
muatan pengolahan informasi, sehingga meningkatkan kemampuannya untuk
kemampuannya untuk menangani tuntutan-tuntutan kognitif dari tugas-tugas
tersebut.
C. Bentuk aljabar Model Penyesuaian Keyakinan untuk tugas evaluasi
adalah sebagai berikut.

Sk = Sk-1 + αSk-1[s(Xk)- R] dengan s(Xk) ≤ R


…………………………………..(1)
Sk = Sk-1 + β(1-Sk-1)[s(Xk)- R] dengan s(Xk) >
R………………………………..(2)
Keterangan :

Sk : level dari keyakinan setelah potongan bukti k, 0 ≤ Sk ≤ 1,


Sk-1 : level sebelumnya dari keyakinan (S0 merupakan level keyakinan
awal )
α : sensitivitas bukti negatif

β : sensitivitas bukti positif

s(Xk) : evaluasi subjektif terhadap potongan bukti


R : point refrensi

Berikut disajikan contoh perhitungan matematis Model Penyesuaian


Keyakian (Patel,2003) Misalnya anchor awal diasumsikan adalah 0,5 dan α,β
diasumsikan = 1. Kekuatan dari bukti audit positif yang berasal dari suatu
sumber dengan keandalan rendah s(Xk) = 0,4.kekuatan dari bukti audit positif
yang berasal dari suatu sumber dengan keandalan tinggi adalah 0,6.
1. a. Substitusikan nilai-nilai diatas ke dalam model keyakinan s(Xk)setelah
mengevaluasi bukti audit positif yang positif yang berasaldari anchor awal .
Sk = Sk-1 + Sk-1β(1-Sk-1 ) [s(Xk)- R] untuk s(Xk) >R. Sk = 0,5 + 1(1-0,5)(0,4) =
0,7
2. b. Keyakianan setelah mengevaluasi bukti audit positif diikuti oleh bukti
negative,
Sk = Sk-1 + αSk-1[s(Xk)- R] = 0,7 + 1 (0.7)(-0,6)= 0,28
1. a. Keyakianan (Sk) setelah mengevaluasi bbukti audit negative yang
berasal dari anchor awal Sk = Sk-1 + αSk-1[s(Xk)- R] untuk s(Xk) ≤ R = 0,5
+1(0,5)(0,6) = 0,2
b. Keyakianan setelah mengevaluasi bukti audit negative diikuti oleh
bukti positif Sk = Sk-1 + β(1-Sk-1)[s(Xk)- R] untuk s(Xk) > R = 0,2 + 1( 1-0,2)(-
0,4)= 0,52.
Suatu karakteristik tugas dapat mempengaruhi
apakah primacy (kepertamaan), recency (kekinian), atau tidak ada pengaruh
urutan bukti yang muncul dalam revisi keyakinan adalah tergantung tipe dari
tipe bukti yang dievaluasi. Bukti bisa menjadi konsisten ( seluruhnya positif
atau seluruhnya negatif) atau tidak konsisten (positif dan negatif). Table berikut
menyajikan prediksi Model Penyesuaian Keyakinan untuktugas evaluasi.
Tabel 2.1 Model Penyesuaian Keyakinan (R=0)
Sederhana Kompleks

Simultan Berurutan Simultan Berurutan


(EoS) (SbS) (EoS) (SbS)

Informasi tidak konsisten :

Pendek Keperlamaan Kekinian Kekinian Kekinian

Panjang Keperlamaan Kekinian Keperlamaan Keperlama


an

Informasi Konsisten :

Pendek Keperlamaa

Panjang Keperlamaan Keperlamaan Keperlama Keperlama


an an

Tabel 2.1 dapat dijelaskan sebagai berikut.


1. Untuk tugas yang sederhana dengan cara penyajian simultan,
informasinya tidak konsisten dengan serial yang pendek maupun
panjang, maka model memprediksi ada kepertamaan.
2. Untuk tugas yang sederhana dengan cara penyajian berurutan,
informasinya tidak konsisten dengan serial pendek, model prediksi ada
efek kekinian, sedangkan jika serial panjang, maka yang terjadi adalah
kepertamaan.
3. Untuk tugas yang kompleks dengan cara penyajian simutan dan
berurutan, informasinya tidak konsisten dengan serial pendek, model
memprediksi ada efek kekinian, sedangkan jika serialnya panjang, maka
yang terjadi adalah kepertamaan.
4. Untuk informasi yang tidak konsisten model memprediksi terjadi
kepertamaan atau tidak adalah kepertamaan.
Dalam akuntansi keuangan, terjadi juga
fenomena anchoring dan adjustment. Menurut Hamid (2007), dalam pasar
saham , investor cenderung memprediksi harga saham berdasarkan harga
saham sebelumnya, memprediksi ROE (Return on Equity) dengan ROE
sebelumnya. Dengan ketiadaan informasi yang lebih baik, harga sebelumya
cenderung menjadi penentu penting harga sekarang.Kecenderungan investor
untuk menggunakan jangkar dibenak mereka ini, membuat terjadi kesamaan
harga saham dari hari ke hari.
Yang menjadi masalah adalah ketika informasi baru yang mereka terima
adalah berlawanan tanda (perubahan drastis) dengan nilai awal mereka.
Mereka cenderung konservatif terhadap perubahan yang berbeda apalagi
berlawanan dengan nilai awal mereka respons mereka
adalah underreact terhadap informasi baru tersebut. Meskipun pada akhirnya
mereka berusaha menyesuaian nilai awal dengan informasi baru, tetapi
cenderung tidak lengkap.Penyesuaian tidak lengkap dan lamban ini
bertentangan dengan hipotesis pasar efisien. Informasi laba sebelumnya dapat
menjadi jangkar pada kognisi investor ketika ingin menilai dan memprediksi
probabilitas laba dimasa yang akan datang. Dengan jangkar ini, investor
berperilaku underreact terhadap informasi baru yang mereka terima ketika
informasi tersebut berbeda ekstrim dengan nilai awal.
Perilaku underreaction tersebut memicu terjadinya kesalahan prediksi nilai
dimasa yang akan datang yang berakibat pada biasnya harga pasar saham.
Beberapa Bias Lainnya
1. Counterfactual Reasoning
Ini adalah kecenderungan untuk mengevaluasi suatu kejadian dengan
mempertimbangkan alternative kejadiannya. Penilaian terhadap orang tidak
hanya dipengaruhi oleh kejadian yang dialami orang itu, tetapi juga apa yang
mungkin dialami orang akibat kejadian itu.
2. Efek Kesalahan Consensus (False Consensus Effect)
Inilah kecenderungan untuk secara berlebihan mengira bahwa orang lain
bertindak atau berpikir seperti yang kita lakukan. Kalau anda tidak memakai
helm dalam berkendaraan, anda lantas berpikir orang lain juga melakukan hal
yang sama, bahkan lebih parah. Pada saat melakukan pelanggaran , banyak
orang berpikir bahwa mereka tidak sendirian dalam melakukannya. Terdapat
banyak orang lain yang melakukan peanggaran dalam taraf yang lebih parah.
Efek kesalahan consensus biasanya digunakan untuk membenarkan diri sendiri
atau melakukan justifikasi.Secara garis besar ada dua sebab mengapa hal itu
dilakukan. Pertama, banyak orang ingin percaya bahwa orang lain sepakat
dengan mereka karena itu meningkatkan kepercayaan diri.
3. Manajemen Kesan ( Impression Management )
Dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang dibiaskan oleh manajemen
kesan. Cara anda membentuk kesan terhadap orang lain terkadang
dipengaruhi oleh motivasi,tujuan,dan kebutuhan anda. Misalnya anda ingin
mengenal lebih jauh rekan bicara anda karena ia melamar pekerjaan pad anda.
Anda akan berupaya untuk memperoleh kesan atau penilaian seakurat mungkin
tentang rekan bicara anda itu. Anda tidak akan berburu-buru memberikan
penilaian. Anda mengumpulkan sebanyak mungkin informasi baru kemudian
anda menyimpulkan kesan anda terhadapnya. Meskipun berusaha akurat
kadang terdapat bias dalam pembentukan kesan terhadap orang lain. Pertama
bias karena adanya keinginan orang membuat terkesan orang lain.
4. Self-Fulfilling Prophecy
Bias ini adalah kecenderungan orang yang memperoleh informasi,
memaknai, dan menyusun informasi yang konsisten dengan keyakinannya saat
itu. Salah satu jenisnya adalah efek pemenuhan harapan diri (Self-Fulfilling
Prophecy ) yakni kecenderungan orang untuk berprilaku tertentu yang
konsisten dengan harapan,keyakinan, atau pikirannya mengenai suatu kejadian
atau perilaku. Karenanya, kejadian atau perilaku itu cenderung terjadi.
Penelitian yang dilakukan oleh Tucker dkk.(2003) menguji keterkaitan self-
fulfilling prophecy dan akurasi peramal pada penilaian kelangsungan hidup
perusahaan. Seperti diketahui,statement on auditing standard (SAS) no. 59
mensyaratkan auditor untuk menilai kelangsungan hidup perusahaan satu
tahun yang akan datang. Penelitian ini menggunakan pengujian ekonomik
eksperimental dan game theory.Ketika auditor menginvestigasi kelangsungan
bisnis klien dan bermaksud untuk menekankan pada opini going concern. Klien
akan berusaha untuk menghindari opini tersebut dan ini akan menjadi potensi
munculnya self-fulfilling prophecy dengan melakukan perpindahan auditor (
auditor switching).
5. Bias konfirmasi
Efek ini menyangkut masalah pengkodean atau tanda tertentu,yaitu ketika
hasil persepsi tidak diterjemahkan sebagaimana mestinya. Dalam dunia
pengauditan, penelitian yang dilakukan Kida (1984) menguji apakah strategi
pengujian hipotesis yang dilakukan oleh auditor memengaruhi pencarian data.
Kida mencatat bahwa tugas-tugas audit membutuhkan suatu kecermatan, yang
bisa menjadi terkena bukti konfirmasi maupun bukti yang tidak
terkonfirmasikan. Dengan kata lain, auditor akan mempunyai preferensi untuk
mengumpulkan bukti yang confirm dibandingkan yang tidak confirm. Kida
menyarankan bahwa jika strategi konfirmatori yang digunakan oleh auditor,
maka auditor harus hati-hati dalam membentuk framing awal
dalam dirinya.Dari sini, kita bisa menafsirkan bahwa auditor harus
menggunakan perencanaan audit yang tepat supaya bebas dari bias
konfirmasi.
BAB 9
FIKSASI FUNGSIONAL DAN DATA

A. Pengertian Fiksasi

Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci,


yang disebabkan oleh ketidakmampuan individu yang bersangkutan dalam
mengendalikan kognisinya. Hal lain yang dapat menyebabkan fiksasi adalah
trauma yang berlebihan seperti sewaktu kecil pernah jatuh atau kecelakaan.
Fiksasi fungsional, sebagaimana digunakan dalam akuntansi, menayatakan
bahwa di bawah situasi tertentu seorang pembuat keputusan mungkin tidak
bisa menyelesaikan keputusannya untuk mengubah proses akuntansi
berdasarkan input data yang masuk.

1. Fiksasi Fungsional dalam Psikologi

Menurut Belkaoui (1989) fiksasi fungsional aslinya merupakan suatu


konsep dalam psikologi, yang muncul dari suatu penyidikan dari dampak
pengalaman masa lalu terhadap perilaku manusia. Pengalaman masa lalu
sebagai faktor penting dalam penyelesaian permasalahan, dan dalam
penyelesaian permasalahan tersebut bisa difasilitasi dengan ekuivalensi yang
terdapat dalam situasi permasalahan sesegera mungkin dan dalam
pengalaman masa lalu.

2. Fiksasi dalam Akuntansi

Ijiri, Jaedicke, dan Knight dalam Belkaoui (1989) memandang proses


keputusan, dicirikan dengan tiga faktor : masukan keputusan, hasil keputusan,
dan aturan keputusan. Mereka kemudian memperkenalkan kondisi dimana
suatu pembuat keputusan tidak bisa menyesuaikan proses keputusannya
untuk melakukan perubahan dalam proses akuntansi.

Ijiri, Jaedicke, dan Knight menyatakan bahwa psikolog telah menemukan


bahwa terdapat fiksasi fungsional dalam sebagian besar perilaku manusia di
mana orang mengaitkan suatu hal terhadap judul atau objek dan tidak mampu
untuk melihat arti atau kegunaan lainnya.

Ada perbedaan antara dua pandangan dari fiksasi fungsional dalam


akuntansi dan psikologi. Kita harus mengenali bahwa hipotesis fiksasi
fungsional dalam akuntansi adalah sebuah bentuk modifikasi dari hipotesis
dalam psikologi. Hipotesis fungsional yang dimodifikasi harus ditunjukkan
untuk diteliti dalam konteks akuntansi, dibandingkan bergantung sepenuhnya
kepada penelitian fiksasi fungsional asli sebagaimana yang tampaknya telah
dilakukan Ijiri, Jaedicke, dan Knight. Berikut adalah beberapa penelitian fiksasi
data dalam akuntansi.

a. Penelitian fiksasi data berdasarkan pada paradigma Ijiri-Jaedicke-Knight

Penelitian fiksasi fungsional dalam auntansi secara umum mengikuti


penjelasan awal Ijiri, Jaedicke, dan Knight, yang berfokus pada data
dibandingkan fungsi, dan telah mengarah pada serangkaian eksperimen data.
Jika investor difiksasi secara fungsional terhadap penggunaan dari pendapatan
akuntansi yang dilaporkan, maka mereka akan cenderung untuk mengabaikan
informasi akuntansi yang lain yang tidak sesuai dengan angka akuntansi.

b. Penelitian fiksasi data lainnya

Studi penelitian akuntansi lainnya telah menggunakan paradigma Ijiri-


Jaedicke-Knight untuk menjelaskan hasil mereka sendiri. Strategi ini
memperoleh tempat dalam penelitian dari keputusan investor dan dalam
penelitian pasar modal. Dalam penelitian dari keputusan investor, orientasi
cross-sectional diberikan terhadap fiksasi fungsional. Sebagian hal itu telah
diterapkan pada metode akuntansi alternatif dibandingkan untuk mengubah
dalam metode akuntansi setiap saat.

Barnes dan Web tertarik dalam menyelidiki kedua hipotesis fiksasi data dan
fiksasi fungsional dalam akuntansi. Manajer sebenarnya diminta untuk
membuat keputusan harga berdasarkan atas studi kasus sebenarnya
dibedakan dalam metode mereka dari pertimbangan inventaris (pembiyaan
oenuh melawan pembiayaan langsung). Hipotesis fiksasi data ditetapka dalam
mana subjek difiksasi dengan gambaran biaya total, merupakan harga proyek
mereka sebagai respons terhadap perubahan biaya yang dilaporkan
disebabkan oleh perubahan pengukuran. Namun hipotesis fiksasi fungsional
tidak ditetapkan karena subjek tidak mencoba mengembalikan biaya yang
berlebih, bahkan ketika mereka diperintahkan bahwa hal ini tidak perlu.
Sederhana, karena mereka tidak terbiasa melakukan hal ini. Kurangnya bukti
untuk hipotesis fungsional, suatu fenomena yang secara luas teramati dalam
psikologi diatributkan dengan penggunaaan ilmuan yang sangat
berpengalaman dan pintar. Hal ini tidak mengejutkan karena kepintaran
ditemukan dapat memitigasi fiksasi.

B. Determinan dari Fiksasi Fungsional dalam Akuntansi


1. Pengondisian Hipotesis

Proses dimana penggunaan mungkin dikondisikan terhadap data yang


mereka terima bisa terjadi dalam sekurangnya dua cara. Pertama, sebagai
murid dalam kurikulum pelatihan bisnis, calon pengguna diperkenalkan dengan
secara umum menerima prinsip-prinsip akuntansi dan laporan keuangan yang
dihasilkan dari penerapan prinsip-prinsip ini dan prosedur turunannya. Kedua,
pengondisian resmi ini berlanjut dikuatkan dengan masing-masing laporan
eksternal yang diterima pengguna. Fenomena pengondisian menghambat
subjek untuk mengadopsi perilaku yang benar, yaitu untuk menyesuaikan
terhadap perubahan akuntansi, dan telah mengarahkan mereka untuk
bertindak sebagaimana mereka telah dikondisikan untuk bertindak seperti
perilaku mereka sebelumnya atau sesi sosialisasi.

2. Teori Prospek dan Hipotesis Pembingkaian

Teori prospek menyatakan bahwa perolehan dan kerugian potensial


dievaluasi dengan suatu fungsi nilai berbentuk S. Salah satunya adalah
berbentuk konveks (menunjukkan orientasi menghindri risiko) untuk kerugian.
Empat efek dapat diamati dalam proses pemilihan diantara taruhan:
a. Efek kepastian: “orang mengutamakan hasil yang dipertimbangkan pasti
relatif dengan hasil yang kemungkinan saja”.
b. Efek pencerminan: “pemilihan prospek di sekitar 0 membalik urutan
pemilihan”.
c. Penghindaran terhadap akuntansi peluang: “subjek tidak menyukai ide
asuransi peluang karena itu dibayar dengan peluang kurang dari satu,
tetapi menghilangkan premium”.
d. Efek isolasi: “untuk menyederhanakan pilihan alternatif, orang sering tidak
menghiraukan komponen yang membedakan mereka”.

3. Teori Interferensi Encoding Stimulus melawan Intuisi Retroaktif

Teori pembelajaran menyatakan bahwa pengetahuan sebelumnya bisa


mengganggu dengan memfasilitasi efektivitas dari pembuatan keputusan. Teori
interferensi muncul dari dua hasil yang masuk akal dari hipotesis transfer dari
pelatihan. Menurut hipotesis tersebut, transfer dari pelatihan bisa berefek
memfasilitasi atau menghambat. Kemudian apa yang dihasilkan adalah
kemungkinan dua efek tersebut.

a. Transfer negatif disebut hambatan retroaktif atau interferensi retroaktif.


Dalam kasus semacam itu pembelajaran dari tugas 2 memengaruhi
penampilan dari tugas pertama.
b. Efek positif atau fasilitator atau fasilitasi retroaktif. Transfer positif ini
memotivasi hipotesis encoding stimulus, di mana perbedaan dibuat antara
stimulus nominal yang disediakan oleh persediaan dan stimulus fungsional
yang diterima oleh subjek. Tidak ada fiksitas fungsional yang dihasilkan dari
proses encoding stimulus.
4. Primasi lawan Resensi dan Keterlibatan Ego

Temuan terhadap fiksasi data dalam akuntansi untuk sebagian besar


bagian telah diperoleh dengan meletakkan murni dalam situasi stres untuk
membuat pilihan yang diberikan (sebagai contoh, sebuah keputusan harga)
sebelum dan setelah perubahan akuntansi. Sebuah pertanyaan penelitian
relevan adalah dampak urutan pembelajaran ini terhadap penerimaan dari
teknik akuntansi dan terhadap hasil yang diamati dalam penelitian fiksasi data.
Dampak seharusnya lebih jelas, jika murid diletakkan dibawah kondisi stres. Hal
ini berhubungan dengan kondisi umum dalam psikologi yang
memspesifikasikan bahwa dibawah stres suatu organisme akan merespons
dengan perilaku yang sesuai dengan situasi yang di pelajari sebelumnya.
Akibatnya Belkaoui menguji hipotesis spesifik di mana jika seorang murid
belajar dua respons alternatif terhadap perilaku yang sedang diamati, dia akan
merespons pada stimulus dengan metode yang dipelajari pertama kali. Hasil
didukung hipotesis.

5. Permasalahan dalam Penelitian Fiksasi Data

Terdapat beberapa permasalahan dalam pernyataan berikut dari penelitian


fiksasi data, yaitu:

a. Sebagian besar mahasiswa tidak bisa membedakan antara fiksasi data, di


mana fokusnya terhadap hasil, dan fiksasi fungsional, dengan fokusnya
pada fungsi.
b. Ekstrapolasi dibuat oleh peneliti akuntansi bisa mengandung kesalahan
serius jika fakta sederhana dari pengabaian bisa dibingungkan dengan
fenomena psikologis dari fiksasi fungsional, terutama karena sebagian
besar dari subjek yang digunakan adalah mahsiswa, dibandingkan pembuat
keputusan yang sebenarnya.
c. Poin buktu fundamental terhadap fakta di mana fiksitas memitigasi
kepintaran.
d. Terdapat dua metodologi dalam penelusuran fiksasi fungsional.
 Pendekatan “satu subjek”, di mana subjek diberikan satu tugas
eksperimen untuk melakukan dan suatu cara baru yang bisa dilakukan
dalam solusi.
 Pendekatan “dua subjek”, di mana subjek diberikan dua objek dan
kelompok kontrol diberikan penggunaan dari salah satu objek.
e. Sebagian besar penelitian akuntansi terhadap fiksasi data telah
memperhatikan pada apakah fiksasi ada dibandingkan dengan mengapa
hal itu ada.
f. Wilner dan Birnberg dalam Belkaoni (1989) telah menunjukkan terhadap
permasalahn berikut dalam rancangan dari studi tentang fiksasi yang ada.
 Studi menggunakan satu metodologi input-output dan perbedaan
antara input dan output yang diharapkan diatributkan dengan fiksasi
fungsional sementara dalam kenyataan mungkin terdapat alasan lain
mengapa subjek gagal untuk mengubah prosesing informasinya setelah
suatu perubahan akuntansi.
 Sementara penunjukkan acak subjek terhadap tugas digunakan untuk
mengurangi efek dari perbedaan individual, hal itu masih menetapkan
bahwa itu tidak bisa melampaui karakteristik sistematis yang mencegah
semua subjek untuk memahami tugas.
 Sebagian besar dari subjek yang digunakan dalam eksperimen ini tidak
cukup layak untuk risiko di mana menyatakan bahwa mereka tidak
difiksasi tetapi lebih kepada naif atau tidak peduli.
 Tidak seperti eksperimen psikologis di mana umpan balik diberikan
kepada subjek, eksperimen akuntansi tidak saja tidak memberikan
umpan balik apapun, tetapi menggunakan tugas eksperimen yang
dinilai daripada optimal (benar atau salah), yang menduga bahwa
subjek dalam eksperimen akuntansi tidak pernah mengetahui jika
perilaku mereka tidak sesuai.
 Beberapa pengetahuan subjek mungkin saja menolak untuk mengubah
keputusan mereka (model) setelah perubahan akuntansi dengan alasan
selain fiksasi jika:
 Dia memandang perubahan tersebut tidak relevan
 Dia mengubah proses keputusannya sebagai tidak laya sementara
dalam hal itu mengarah pada satu tindakan yang berbeda daripada
yang telah dilakukan
 Dia memandang keuntungan dari “keputusan yang lebih baik” tidak
memberati biaya dari pengajaran bagaimana untuk memproses
perubahan,
 Dia menduga manfaat bagi dirinya untuk bertindak dalam cara yang
terfiksasi karena peranan gandanya sebagai seorang pengirim
informasi juga sebagai pengguna informasi, dan
 Kemungkinan seperangkat di mana dia tidak bisa diatasi.
6. Metodologi Alternatif untuk Penelitian Fiksasi Data

Sebagian besar dari studi empiris dalam penelitian fiksasi telah didasarkan
pada eksperimen laboratorium dan lapangan. Selanjutnya dengan sedikit
pengecualian, eksperimen ini telah menggunakan mahasiswa sebagai subjek,
oleh karena itu menimbulkan permasalahan dari validitas eksternal. Tugas
tidak realistis untuk memotivasi dan memerlukan pertimbangan dibandingkan
perilaku optimal. Namun demikian, penggunaan mahasiswa sebagai subjek
juga dapat mengeliminasi kepentingan-kepentingan pragmatis dari subjek.

Penelitian yang dilakukan oleh Hand (1990) mengamati terjadinya


traditional functional fixation hypothesis yaitu investor individual
menginterprestasi informasi akuntansi tanpa memperhatikan metode akuntansi
yang digunakan dan juga proses akuntansi yang terjadi hingga lahirnya
informasi akuntansi tersebut.
BAB 10
ESKALASI

A. Paradigma Eskalasi Unilateral


Sejumlah studi telah mencoba untuk mengeluarkan pengaruh yang
diakibatkan oleh seseorang yang membuat komitmen awal. Dalam studi awal
Staw (1976) dalam Bazerman (1994) dari jenis ini, satu kelompok dari subjek
(diberi label subjek yang bertanggung jawab tinggi) diminta untuk
mengalokasikan dana penelitian dan pengembangan pada satu atau dua
bagian operasional dari suatu organisasi. Subjek kemudian diberitahu bahwa,
setelah tiga tahun, investasi menjadi terbukti berhasil atau tidak berhasil dan
sekarang mereka berhadapan dengan keputusan alokasi dana kedua untuk
devisi yang sama. Kelompok kedua (diberi label subjek yang bertanggung
jawab rendah) diberi tahu bahwa petugas keuangan yang lain dari perusahaaan
telah membuat keputusan yang kemudian berhasil atau tidak berhasil (konteks
informasi yang sama tentang sukses atau kegagalan telah diberikan kepada
kelompok ini seperti halnya kelompok sebelumnya) dan mereka akan
melakukan alokasi kedua dari dana untuk divisi ini.
Ketika hasil dari keputusan pertama negatif (investasi tidak berhasil), subjek
yang bertanggung jawab tinggi secara signifikan mengalokasikan lebih banyak
dana pada divisi sebelumnya dalam alokasi kedua di bandingkan subjek yang
bertanggung jawab rendah. Sebaliknya, untuk keputusan awal yang berhasil,
jumlah dana yang dialokasikan dalam keputusan kedua secara kasar sama
dikeseluruhan subjek, menunjukkan bahwa peningkatan yang besar dari
komitmen hanya terjadi pada subjek yang sebelumnya telah membuat
keputusan yang tidak berhasil.

Staw menyimpulkan bahwa mekanisme yang menggarisbawahi eskalasi


adalah perselisihan kognitif atau pembenaran diri. Oleh karena itu, sekali
seseorang membuat keputusan awal untuk menjalani suatu jalur tindakan,
umpan balik negatif bertentangan dengan pembuatan keputusan awal. Cara
untuk menghilangkan pertentangan ini untuk menaikkan komitmen terhadap
tindakan awal dengan kepercayaan bahwa sukses akan diraih dijalur ini
sekarang. Suatu kesimpulan penting dari studi Staw (1976) adalah bahwa
perasaan bertanggung jawab oleh pembuat keputusan terhadap keputusan
awal secara signifikan membiaskan keputusan selanjutnya menuju eskalasi.
Perasaan bertanggung jawab disebut dengan akuntabilitas.

Sejumlah studi lain mengidentifikasi faktor tambahan yang memprediksi


apakah perilaku eskalatorik bisa diamati atau tidak. Contohnya, Staw dan Ross
(1978) dalam Bazerman (1994) menunjukkan kecenderungan untuk
meninggikan komitmen oleh subjek yang memiliki tanggung jawab tinggi
terutama dimunculkan ketika suatu penjelasan bisa dikembangkan untuk
kegagalan awal yang tidak bisa diprediksi dan tidak berhubungan dengan
tindakan dari pembuat keputusan.

Bazerman, Giuliano, dan Appelman (1984) menemukan eskalasi terjadi


dalam kelompok seperti halnya dalam diri seseorang. Di sini, menggunakan
metodologi Staw (1976), kelompok yang membuat suatu keputusan awal yang
gagal mengalokasikan dana secara signifikan lebih besar kepada divisi
dibandingkan kelompok yang memperoleh hasil dari keputusan awalnya.
Sebagai tambahan, mereka menemukan eskalasi berhubungan dengan derajat
di mana orang dan kelompok mengalami pertentangan sebagai akibat dari
umpan balik keputusan awal.

Bazerman, Schoorman, dan Goodman (1980) dalam Bazerman (1994)


menemukan kecenderungan untuk eskalasi secara signifikan dipengaruhi oleh:

1. Derajat kekecewaan yang dirasakan oleh pembuat keputusan ketika


umpan balik negatif dari keputusan awal diperoleh
2. Persepsi tentang pentingnya keputusan tersebut
3. Persepsi hubungan antara kedua keputusan

Bazerman, Beekun, dan Schoorman (1982) dalam Bazerman (1994)


menemukan bahwa kecenderungan untuk eskalasi timbul dari konteks sumber
daya keuangan untuk melakukan bidang penghargaan. Dalam studi terbaru,
Schoorman (1988) dalam Bazerman (1994) menemukan bahwa pengawas
yang ikut serta dalam keputusan perekrutan atau promosi dan setuju dengan
keputusan tersebut untuk merekrut atau mempromosikan secara positif
membiaskan penampilan selanjutnya yang dinilai dari karyawan tersebut.
Pengawas yang ikut serta dalam keputusan perekrutan atau promosi dan tidak
setuju dengan keputusan tersebut untuk merekrut atau mempromosikan
membiaskan penampilan selanjutnya dari karyawan tersebut dengan arah
negatif.

B. Paradigma Eskalasi Kompetitif


Paradigma eskalasi unilateral menjelaskan semua usaha pembenaran yang
mengarah pada kebohongan eskalasi tidak rasional dalam diri seseorang. Kita
meninggikan sesuatu karena komitmen sebelumnya dari diri kita. Namun,
dalam paradigma eskalasi kompetitif, tambahan usaha kompetitif memakan
proses eskalasi. Bagian ini mengamati proses eskalasi dalam situasi
persaingan. Paradigma pelelangan dolar pertama kali diperkenalkan oleh
shubik (1971) dalam Bazerman (1994), seorang teoretis ekonomi dan
permainan. Baru-baru ini, Teger (1980) dalam Bazerman (1994) menggunakan
paradigma ini secara luas untuk menyelidiki pertanyaan mengapa seseorang
meninggikan komitmennya terhadap jalur tindakan yang sebelumnya dipilih.
Teger berpendapat subjek secara naïf memasuki pelelangan dengan tidak
mengharapkan penawaran akan melebihi Rp 1,00 (atau Rp 20,00).
Pembuat keputusan yang berhasil harus belajar untuk mengidentifikasi
jebakan, salah satu strategi kognitif untuk mengidentifikasi jebakan kompetisi
adalah untuk mencoba mempertimbangkan keputusan dan perspektif
keputusan yang dibuat oleh orang lain. Paradigma eskalasi persaingan sangat
umum dibarengi dengan paradigma Staw Unilateral. Dalam tiap-tiap kasus,
pembuat keputusan membuat suatu keputusan awal di mana dia rasa perlu
untuk dibenarkan melalui keputusan di masa depan, dan pembuat keputusan
merasa bahwa dia “terlalu banyak investasi untuk berhenti”. Namun, ada satu
perbedaan utama antara kedua paradigma. Dalam pelelangan dolar,
persaingan dengan kelompok lain, yaitu keinginan untuk “menang” bertindak
sebagai motivasi tambahan untuk meninggikan komitmen.
C. Mengapa Terjadi Eskalasi ?
Kunci untuk menghilangkan eskalasi nonrasional adalah kemampuan untuk
mengidentifikasi factor kejiwaan yang memelihara sifat eskalasi. Literatur yang
ada dengan jelas menyatakan bahwa terdapat berbagai alasan terjadinya
eskalasi.

Bias persepsi
Bias penilaian
Komitmen Eskalasi
Managemen
Komitmen
Pada Penampilan

Keputusan

Kompetisi tidak

Bazerman (1994) masuk akal

C. Empat penyebab eskalasi


1. Bias persepsi
Bias persepsi yang terjadi setelah kita membuat komitmen terhadap jalan
hidup tertentu menyatakan sejumlah prosedur pembenaran. Dalam membuat
keputusan, perlu menelusuri secara hati-hati terhadap informasi yang tidak
nyaman. Sebaliknya untuk informasi yang baik, yang intuisi kita cari. Kebutuhan
ini terutama muncul dalam serangkaian keputusan, di mana kita memiliki
kecenderungan alami menuju eskalasi. Jika suatu keputusan objektif dapat
mengevaluasi keterbukaan kita terhadap informasi yang tidak mengenakkan,
penghalang persepsi terhadap perilaku non eskalasi dapat dikurangi atau
dihilangkan.
2. Bias pertimbangan
Setelah menyaring informasi yang akan kita gunakan dalam membuat
keputusan, selanjutnya kita masih harus membuat keputusan. Mengulang tesis
sentral dari konsep framing, seseorang cenderung menghindari risiko terhadap
masalah yang di-frame positif dan mencari risiko terhadap masalah yang di-
frame negatif. Penjelasan framing untuk fenomena eskalasi menyatakan solusi
yang sama seperti pendekatan yang dikemukakan oleh akuntan. Kita perlu
meminta seseorang untuk menilai keputusan baru dari titik acuan netral yang
menghilangkan perilaku mencari risiko ekstrim diamati di antara subjek yang
bertanggung jawab tinggi (yaitu pembuat keputusan yang telah menyetujui
dana atau sumber daya bagi jalan tindakan).
3. Manajemen Penampilan
Keputusan perekrutan dengan memecat pegawai akan sama saja
mengumumkan kepada umum bahwa anda membuat kesalahan dalam
mengambil keputusan awal anda. Menjaga karyawan lebih diminati untuk
menyelamatkan muka. Oleh karena itu, mengelola penampilan dari orang lain
bertindak sebagai alasan ketiga untuk meninggikan komitmen anda terhadap
jalur tindakan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pekerjaan Caldwell dan
O’Reilly (1982) menunjukkan orang tersebut tidak selektif menerima informasi,
tetapi juga secara selektif menyediakan informasi untuk orang lain. Terutama,
individu yang membuat komitmen awal terhadap jalur tindakan tersebut yang
tampak lebih menyakinkan, dibandingkan yang tidak menyakinkan bagi orang
lain. Sebagai tambahan untuk tidak ingin mengakui kegagalan terhadap orang
lain, kita juga mencoba untuk terlihat konsisten, dan jalur tindakan yang
konsisten adalah untuk meningkatkan komitmen kita terhadap tindakan
sebelumnya.
Untuk membuat pilihan yang terbaik sehingga di harapkan dapat dibuat
keputusan yang terbaik untuk organisasi berdasarkan pada biaya dan
keuntungan masa lalu mengabaikan setiap komitmen sebelumnya. Namun,
bukti empiris menunjukkan bahwa anda tampaknya lebih suka untuk diberi
hadiah untuk meninggikan komitmen anda untuk jalur tindakan yang
sebelumnya dipilih. Dari suatu sudut pandang organisasi, hal ini menduga
bahwa kita perlu untuk menciptakan system yang membuat hadiah membuat
keputusan yang baik dia atas menajer penampilan. Pertama, manajer harus
berjalan di sepanjang perusahaan yang menghargai manajemen yang
mengeluarkan keputusan berkualitas tinggi di dalam perusahaan tidak akan
ditoleransi. Kedua, organisasi harus ketat dalam menjaga nilai karyawan dekat
dengan perusahaan melalui system hadiah.
4. Persaingan Tidak Rasional
Eskalasi dimunculkan dari paradigma unilateral dan kompetitif. Persaingan
yang tidak rasional, memberikan suatu penjelasan yang membedakan antara
kedua paradigma. Khususnya, kompetisi tidak rasional merujuk kepada suatu
situasi di mana kedua perusahaan terlibat dalam suatu aktivitas yang jelas-
jelas tidak masuk akal dalam hal hasil yang diharapkan pada kedua sisi,
namun di mana sulit untuk mengidentifikasi tindakan tidak masuk akal spesifik
oleh kedua perusahaan. Banyak orang akan berpendapat bahwa terlibat dalam
pelelangan utang tidak masuk akal, dan sementara hal ini merupakan suatu
perspektif yang sangat masuk akal, pendapat tersebut tidak seluruhnya benar.
Kompetisi yang tidak masuk akal menunjukkan suatu paradox yang tidak
terselesaikan, dibandingkan penjelasan tentang eskalasi. Satu-satunya
rekomendasi yang bisa kita turunkan dari penjelasan kompetisi yang tidak
masuk akal dari eskalasi adalah banyak situasi mungkin terlihat
menguntungkan, tetapi terbukti sebagai jebakan, kecuali tindakan orang lain
benar-benar dipertimbangkan.
5. Integrasi
Menyatakan empat penyebab tambahan yang memberi sumbangan
terhadap kecenderungan kita untuk meninggikan komitmen terhadap jalur
tindakan yang sebelumnya dipilih. Dengan merujuk keempat penyebab sebagai
tambahan, kita menduga bahwa mereka tidak mutlak ekslusif. Masing-masing
bisa secara tersendiri menyebabkan eskalasi, tetapi mereka lebih sering
bertindak bersamaan untuk meningkatkan kecenderungan tidak masuk akal
pembuatan keputusan untuk melanjutkan kesalahan sebelumnya. Untuk
mengurangi eskalasi, kita harus menempelkan kasus pada tingkat perorangan
dan organisasi. Dan harus mengingat bahwa kita mencoba untuk menghitung
komitmen tidak masuk akal di sepanjang tindakan. Komitmen masuk akal tetap
sebagai atribut yang berharga. Kecenderungan untuk eskalasi menyatakan
bahwa manajer perlu untuk mengambil pendekatan “eksperimental” untuk
manajemen. Oleh karena itu, sebagai seorang manajer, anda harus membuat
keputusan dan menerapkannya, tetapi tetap terbuka untuk membuang
komitmen anda dan mengubah ke jalur tindakan yang lain jika rencana pertama
tidak lancar.
Eskalasi komitmen dapat dijelaskan oleh fungsi nilai menurut teori
prospek. Dalam teori ini, tiap pertimbangan dan keputusan dibuat setelah
informasi terlebih dahulu disaring melalui decision frame atau “bingkai
keputusan” oleh pengambil keputusan atau “konsepsi atas tindakan, hasil dan
kontinjensi yang berkaitan dengan pilihan tertentu (Kahneman dan Tversky,
1979). Argument konvensial yang dianut masyarakat umum adalah pemimpin
yang bersikap konsisten yang berubah-ubah dalam keputusannya. Sumber
berikutnya eskalasi adalah pengalaman kerja mempunyai peran dalam sejauh
mana perilaku berorientasi konservatif/negatif diperlihatkan.
Menurut Anderson dan Maletta (1994) semakin berpengalaman atau
familiar individu dengan tugas yang dikerjakan, maka individu itu semakin
berani menghadapi risiko dalam pengambilan keputusan. Dalam konsep
pengauditan, studi Anderson dan Maletta (1994) menunjukkan para auditor
yang kurang berpengalaman bila dibandingkan auditor yang lebih
berpengalaman terlalu berfokus pada bukti atau informasi negatif dan lebih
semakin negatif juga pertimbangan audit yang mereka buat.

D. Strategi Mengurangi Eskalasi


Bowen (1978) dalam Ghosh (1997) mengemukakan bahwa eskalasi muncul
dalam kasus yang memiliki umpan balik ambigu. Perilaku eskalasi adalah lebih
responsif dalam menghadapi dilema dibandingkan perbuatan salah karena
penguatan komitmen menjadi adanya kesempatan tambahan untuk strategi
dalam bekerja, atau mengoleksi lebih banyak informasi. Studi Staw (1976)
mengasumsikan bahwa penurunan berlanjut dalam penjualan dan laba bias
diinterpretasikan sebagai umpan balik negatif yang tidak ambigu terhadap
kegagalan dari investasi awal, yang bisa mempengaruhi keputusan-keputusan
subjek apakah melanjutkan atau tidak pendanaan penelitian dan
pengembangan.
Relevansi dari umpan balik negatif yang ambigu maupun tidak terhadap
eskalasi bisa lebih baik didiskusikan dari perspektif teori keputusan.
Diasumsikan bahwa manajer proyek mengotorisasi untuk membuat dua
langkah keputusan investasi. Investasi awal co dibuat pada waktu to dengan
tambahan investasi ct pada saat t1 yang dilambangkan dengan a = a + Ea.
Pada waktu t1 , Informasi umpan balik negatif dikomunikasikan sebagai
sinyal yang mengandung noisy (gangguan) tentang keuntungan-keuntungan
yang akan datang yang berasal dari c1 : s1 = s1 + es1 (Ghosh, 1997). Manfaat
potensial dariumpan balik negatif adalah ditentukan oleh ketetapan. Semakin
besar variance seperti kasus dari umpan balik yang ambigu, akan membawa
informasi yang kurang bernilai untuk merevisi keputusan awal. Semakin noisy
atau ambigu informasi umpan balik, semakin dekat dengan ex post beliefs
untuk kelangsungan dari investasi tambahan seperti sebelumnya, dan semakin
besar kemungkinan untuk berkomitmen terhadap sumber daya tambahan pada
waktu t1 (Holthausen and Verrecchia, 1988). Logika dari argument ini diperluas
oleh Levi (1982) dalam Ghosh (1997) yang menunjukkan bahwa pengambilan
keputusan kemungkinan akan melakukan eskalasi komitmen atas kegagalan
tindakan tertentu jika alasan-alasan untuk umpan balik negatif adalah tidak
stabil. Caldwell dan O’Relly (1982) dalam Ghosh (1997) menunjukkan bukti
empiris bahwa subjek yang secara bebas memilih tindakan mereka atau
dengan kata lain mereka secara aktif melihat hanya informasi yang mendukung
keputusan awal, mereka dan memeilihara komitmen terhadap arah tindakan
awal.
Elemen penting dari pengendalian untuk proyek investasi adalah progress
report yang memperlihatkan item-otem seperti jumlah yang dianggarkan,
tanggal pengeluaran, laporan laba rugi, persentase yang lengkap dan
penjelasan untuk seluruh variance. Progress report secara berkala menjamin
bahwa individu dapat melakukan evaluasi terhadap alasan mengapa terjadi
penyimpangan yang berasal dari anggaran sebelumnya untuk membuat
keputusan investasi tambahan, sehingga dapat menurunkan perilaku eskalasi.
Progress report diharapkan dapat mengurangi keputusan bias karena adanya
ketersediaan informasi yang lebih dalam. Argument ini maknanya sama
dengan penelitian aspek kognitif mengapa akuntabilitas diterjemahkan dalam
kinerja yang lebih baik (Kren dan Greenstein, 1991 dalam Ghosh, 1997) dan
perbaikan konsisten dan kualitas judgement dalam pengauditan. Penelitian
sebelumnya mengidikasikan bahwa pengambil keputusan tidak cocok dengan
historical cost sebagai basis keputusan untuk biaya dan keuntungan yang akan
datang.
Reaksi peningkatan komitmen terhadap historical cost mengindikasikan
tidak adanya informasi mengenai keuntungan-keuntungan yang akan datang
dari tambahan aliran kas keluar. Sunk cost mempunyai dua factor. Factor
pertama disebutnya sebagai “effect importance“ suatu dimensi yang
membedakan alternative keputusan yang mengasumsikan bahwa pengambil
keputusan bereaksi terhadap variasi sepanjang dimensi ini. Factor kedua
disebut dengan “inclusion importance”. Jika pengambil keputusan tidak
mengakui keberadaan dari suatu dimensi utama, pengambil keputusan tidak
mungkin merespon dimensi ini.
BAB 11
PENDEKATAN KONTIJENSI PADA RANCANGAN SISTEM
INFORMASI AKUNTANSI

A. TEORI KONTINJENSI
Pendekatan teori kontinjensi untuk merancang sistem akuntansi
menyatakan bahwa tidak ada suatu strategi umum bisa digunakan untuk
semua organisasi. Perumusan kontinjensi telah mempertimbangkan pengaruh
dari teknologi, struktur organisasi dan teori, dan lingkungan dalam upaya untuk
menjelaskan bagaimana sistem akuntansi berbeda dalam berbagai situasi.
1. Kerangka Kerja Waterhouse dan Tiessen
Waterhouse dan Tiessen mengusulkan suatu rancangan efisien dari sistem
akuntansi manajemen dan suatu mekanisme dari kontrol yang tergantung pada
struktur dan konteks dari suatu organisasi. Tipe dari struktur organisasi diduga
akan memengaruhi proses akuntansi manajemen, seperti perencanaan, alokasi
sumber daya, dan pengukuran penampilan.
2. Kerangka Kerja Gordon dan Miller
Gordon dan Miller mengusulkan suatu kerangka kerja kontinjensi untuk
rancangan sistem informasi yang melakukan perhitungan terhadap lingkungan,
atribut organisasional dan jensi pembuatan keputusan manajerial.Gordon dan
Miller menyatakan bahwa dalam kenyataannya, pola tampak lingkungan,
organisasional dan jenis keputusan tidak tersebar secara acak tetapi bergabung
bersama untuk membentuk pengaturan umum.
3. Kerangka Kerja MacIntosh dan Daft
MacIntosh dan Daft menyelidiki hubungan antara satu karakteristik
organisasi dan rancangan sistem pengendalian. Dengan interdependensi yang
mereka temukan, suatu perluasan dimana departemen tergantung satu sama
lain dan bertukar informasi dan sumber daya untuk menyelesaikan suatu tugas.
Interdependensi bisa 1) dicurangi ketika suatu departemen relatif otonom dan
terdapat sedikir aliran kerja di antara mereka, 2) berangkaian ketika
departemen berkaitan suatu seri, dengan hasil suatu departemen digunakan
sebagai masukan departemen berikutnya, dan 3) berbalasan ketika
departemen bekerja suatu proyek dan arus kerja kembali dan berkumpul di
antara kedua departemen tersebut. Sistem pengendalian manajemen
dipandang dari istilah ketika kontrol subsistem: dana operasional, laporan
statistik, dan prosedur operasional standar dan peraturan. Hasil dari studi
lapangan MacIntosh dan Daft menunjukkan bahwa ketika interdependensi
rendah, kontrol difokuskan pada penggunaan prosedur operasional standar,
ketika menengah, kontrol diserahkan pada pendanaan dan laporan statistik,
ketika tinggi peranan dari sistem pengendalian ditiadakan.
4. Kerangka Kerja MacIntosh
MacIntosh mengusulkan suatu model kontekstual dari sistem
informasi.Dasarnya, model menggabungkan tipe keputusan pribadi, teknologi,
dan struktur organisasi untuk menurunkan suatu jenis sistem
informasi.Variabel-variabelnya dijabarkan dari model jenis keputusan Driver dan
Mock dan kategori Perrow.
Model jenis keputusan Driver dan Mock digunakan untuk menentukan
variabel jenis keputusan, dimana model ini menunjukkan dua dimensi dari
pemrosesan informasi (jumlah informasi yang digunakan dan derajat fokus
dalam penggunaan data). Data dimensi ini digabung sehingga didapat empat
jenis yang berlainan, yaitu jenis desisif (menyatakan penggunaan suatu jumlah
minimum dari data untuk menghasilkan hasil yang berbeda pada waktu yang
berbeda), jenis fleksibel (menyatakan penggunaan sejumlah kecil data untuk
menghasilkan hasil yang berbeda pada waktu yang berbeda), jenis hierarki
(penggunaan banyak daya untuk menghasilkan satu opini perusahaan), jenis
integratif (penggunaan banyak data untuk menghasilkan solusi yang
memungkinkan).
Kategori Perrow digunakan untuk menentukan variabel teknolog, yang
dinyatakan dengan dua dimensi teknologi (pengetahuan tugas dan keragaman
tugas).Dua dimensi ini diturunkan dari kategori pengetahuan yang berbeda,
yaitu teknologi keahlian, teknologi rutin, teknologi penelitian, dan teknologi
teknis profesional.
Empat jenis informasi dibedakan dalam dua dimensi, yaitu jumlah dan
ambiguitas. MacIntosh menjelaskan mereka dengan cara berikut:
a) Sistem Informasi Ringkas
Sejumlah kecil sampai menengah informasi yang tepat dan tidak ambigu,
dan digunakan dalam cara yang cepat dan teliti.
b) Sistem Informasi Teliti
Sejumlah besar informasi, sering kali dalam bentuk database atau model
simulasi, yang cenderung terperinci dan tepat.
c) Sistem Informasi Kursori
Sejumlah kecil informasi, tidak tepat, tidak pula terperinci dan sering kali
hanya dipermukaan, mereka digunakan dalam cara yang biasa namun diteliti.
d) Sistem Informasi Difuse
Informasi menengah sampai besar, seringkali sangat tidak jelas dan tepat,
umumnya digunakan dengan cara yang lambat dan penuh pertimbangan.
5. Kerangka Kerja Ewusi-Mensah
Ewusi menyelidiki dampak lingkungan organisasi eksternal terhadap sistem
informasi manajemen. Variasi dalam lingkungan organisasi diasumsikan
memerlukan proses keputusan yang berbeda, dan oleh karenanya, memiliki
karakteristik informasi yang berbeda, termasuk kualitas informasi, dampak
terhadap pembuatan keputusan, interaksi organisasional, penelusuran
organisasional, waktu respons, cakrawala waktu, sumber informasi, dan jenis
informasi.

B. PENGGUNAAN TEKNIK PEMBIAYAAN MODAL


Teori ekonomi keuangan menunjukkan bahwa penampilan perusahaan
yang ditingkatkan (pengukuran data pasar saham) tidak secara signifikan
berkaitan dengan teknik cash flow yang didiskontokan. Hubungan antara
penggunaan teknik pembiayaan permodalan dan penampilan perusahaan
diringankan oleh kontijensi, karakteristik spesifik perusahaan.Perspektif ini
mengembangkan dan menguji suatu teori kontijensi yang bisa memprediksi
perusahaan mana yang tampak paling diuntungkan dengan menggunakan
teknik pembiayaan permodalan. Adapun karakteristik eksternal yang digunakan
dalam model adalah :
a. Strategi perusahaan (bertahan atau prospektor)
b. Prediktabilitas lingkungan (stabil atau dinamis)
c. Keragaman lingkungan (homogen atau heterogen)
Karakteristik internal yang digunakan adalah :
a. Sistem informasi
b. Struktur penghargaan
c. Derajat desentralisasi
Survei yang telah dilakukan memberikan bukti hubungan positif antara
efektivitas dari teknik pembiayaan permodalan rumit dan lingkungan yang bisa
diprediksi, penggunaan dari sistem jangka panjang, dan derajat desentralisasi.

C. STRATEGI BISNIS DAN SISTEM PENGENDALIAN


Govindarajan dan Gupta dalam Belkaoui (1989) mengamati keterkaitan
antara strategi, sistem bonus insentif, dan efektifitas pada level strategic
business unit (SBU) di dalam perusahaan yang berbeda-beda. Suatu survei
umum dari manajer tentang strategic business unit (SBU) terdiversifikasi
menghasilkan hal-hal berikut:
 Ketergantungan lebih besar terhadap kinerja jangka panjang seperti
halnya juga ketergantungan lebih besar terhadap pendekatan subjektif
(bukan rumusan) untuk menentukan SBU manajer umum, bonus berperan
untuk efektifitas dalam kasus membangun SBU, tetapi lambat dalam
memanen SBU.
 Hubungan dari perluasan dari ketergantungan terhadap sistem bonus
pada kriteria pendek dan efektivitas SBU secara maya berdiri sendiri dari
strategi SBU.
Hasil pertama berdiri di atas alasan yang memberikan pengharapan dimana
unit pembangun akan menghadapi ketidakpastian lingkungan yang lebih besar
dibandingkan dengan yang dihadapi unit permanen.
Menggunakan tipologi Miles dan Snow(1978), strategi diklasifikasikan
menjadi defenderprospektor, dan analiser.Tipe ini dijelaskan sebagai berikut
defender beroperasi dalam area produksi yang relatif stabil, dan berkompetisi
dengan mempertaruhkan kepemimpinan, kualitas, dan pelayanan.Mereka
melakukan sedikit perkembangan produk/pasar. Hasil dari studi ini
membuktikan proporsi di mana perusahaan bergantung pada strategi berbeda
menggunakan Sistem Pengendalian Akuntansi dengan cara yang berbeda pula.

D. PENTINGNYA PENGAMATAN DAN PENGGUNAAN KONTROL


PEMBIAYAAN
Literatur empiris dalam teori kontijensi mencoba untuk menjelaskan variasi
dalam pentingnya pengamatan dan/atau menggunakan kontrol pembiayaan
pada berbagai variabel kontijensi.Pengawas manajer menggunakan kontrol
pembiayaan flexibel merupakan suatu fungsi positif dari kompetisi yang
dihadapi oleh organisasi mereka. Dia menyimpulkan hal itu sebagai berikut:
Saat kompetisi diintensifkan, keuntungan yang diharapkan dari penerapan
kontrol ini cenderung memberatkan biaya mereka.Oleh karena itu, untuk
mereka yang dipercayakan dengan sistem pengendalian, penting untuk
mengetahui derajat kompetisi yang dihadapi oleh perusahaan yang tidak
menghadapi kompetisi serius juga bisa membuat lebih merugikan daripada
mendatangkan keuntungan.
Burns dan Waterhouse (1975) menemukan bahwa kepentingan dan
penggunaan sistem pengendalian pembiayaan adalah lebih tinggi dalam
organisasi yang lebih besar, lebih desentralisasi dan lebih menggunakan
teknologi yang terdapat prosedur operasional resmi standar.

E. PILIHAN DARI TINDAKAN SISTEM PENGENDALIAN


Kemampuan anggota organisasi untuk merancang dan memelihara sistem
pengendalian untuk sesuai dengan keseluruhan struktur juga bisa menjadi
kontinjen pada berbagai faktor lainnya. Sebagai contoh Das menggunakan
suatu pengaturan simulasi, menemukan bahwa seseorang yang bekerja dalam
suatu organisasi organik lebih suka memilih strategi kontrol yang memotivasi
secara instrinsik , dan mereka yang bekerja dalam organisasi mekanis lebih
suka memilih strategi kontrol yang memotivasi secara ekstrinsik.
Berdasarkan pada bukti penelitian terbaru, hal ini tampaknya merupakan
perubahan umum dalam gaya manajerial terutama dalam proses kontrol, tidak
bisa diharapkan untuk muncul sebagai beberapa perubahan penting dalam
persepsi dari sifat-sifat organisasional dan titik jenuh telah terjadi.
Hasil studi Belkaoui (1989) yang melibatkan 55 manajer pembelian dari
departemen supply and services dalam pemerintahan Kanada dan
berdasarkan pada penggunaan istrumen keterbukaan pribadi menunjukkan
bahwa prilaku untuk akuntansi yang bertangggung jawab secara positif
berhubungan dengan jumlah dan faktor kendali dari keterbukaan diri dan
berhubungan negatif dengan positif-negatif, cukup tepat, dan mencoba untuk
terbuka. Belkaoui menyimpulkan sebagai berikut:
 Hasil pertama menunjukkan bahwa subjek tersebut bersedia bicara
tentang dirinya tampak menerima salah satu kondisi dari sistem
akuntansi yang bertanggung jawab dimana bertanggung jawab terhadap
keseluruhan biaya terkontrol.
 Hasil kedua menyatakan bahwa subjek yang sama akan menjadi kurang
berkenan untuk menerima kondisi di atas dari sistem akuntansi yang
bertanggung jawab jika kehendak untuk membuka adalah untuk
mengungkapkan hal negatif lawan positif tentang diri mereka, atau untuk
mengukur kesungguhan dari pernyataan mereka.

F. PENDEKATAN KONTINJENSI UNTUK MENGUKUR PENAMPILAN


Suatu pendekatan kontinjensi untuk mengukur penampilan
didemonstrasikan dalam studi Hayes (1977) dalam Belkaoui (1989). Hasilnya
menunjukkan bahwa:
 Faktor internal merupakan penjelasan utama untuk penampilan pada
departemen produksi.
 Lingkungan sebagaimana juga halnya variabel interdependensi
memberikan kira-kira sumbangan sementara terhadap penjelasan
terhadap penampilan pada departemen penjualan.
Govindarajan mengamati hubungan antara ketidakpastian lingkungan
dan gaya evaluasi penampilan. Hasilnya mendukung pernyataan berikut:
 Atasan dari unit bisnis yang menghadapi ketidakpastian lingkungan yang
lebih tinggi akan menggunakan suatu penampilan yang lebih subjektif,
yaitu pendekatan pujian, sedangkan atasan dari unit bisnis yang
menghadapi ketidakpastian lingkungan yang rendah akan menggunakan
lebih banyak rumusan yang didasarkan pendekatan evaluasi
penampilan.
 Kecocokan kuat antara ketidakpastian lingkungan dan gaya evaluasi
penampilan berkaitan dengan penampilan unit bisnis yang lebih tinggi.
Hasil ini digunakan untuk menguji temuan berlawanan dari Otley dengan
berpendapat bahwa studi Otley mungkin dilakukan dalam kondisi lingkungan
yang relative stabil, sementara Hopwood mungkin mengamati unit yang
beroperasi dalam kondisi lingkungan yang relative tidak pasti.

G. PENENTUAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


Kritikan terhadap penelitian kontinjensi lebih banyak diarahkan dalam
desain rerangka kontijensi, terutama pada aspek metode pengujian. Drazin
dan Van de Ven (1985) mengusulkan tiga pendekatan penting dalam penelitian
kontijensi, meliputi: seleksi, interaksi dan sistem. Kenyataan bahwa dalam
pendekatan seleksi dan interaksi memunculkan sejumlah kelemahan baik
dalam konsep maupun konsekwensi hasil, arah metode pendekatan kemudian
difokuskan terhadap pendekatan system.
Terdapat tiga pendekatan dalam konsep fit sebagaimana dikemukakan oleh
Drazin dan Van de Ven (1985), yang meliputi seleksi, interaksi, dan system.
Pendekatan seleksi menghubungkan antara variabel kontekstual dengan
variabel organisasional, namun tidak secara jelas mengorelasikan hubungan
kedua variabel tersebut dengan kinerja organisasi. Pendekatan multiple
interaction memandang bahwa pengaruh fit antara variabel kontekstual dengan
variabel organisasional dalam model regresi. Koefisien signifikansi dari order
tertinggi dari interaksi dalam persamaan regresi menunjukkan adanya
dukungan terhadap hipotesis yang dikembangkan.
a. PENDEKATAN RESIDUAL ANALYSIS
Pendekatan residual analysis mengacu pada konsep nilai residual dari
persamaan regresi. Dalam pendekatan ini, residual diasumsikan sebagai unfit
dari persamaan regresi. Terdapat tiga tahap dalam uji ini.Tahap pertama adalah
penentuan desain hubungan variabel organisasional dengan kontekstual.Dalam
hal ini, system pengendalian didesain sebagai variabel dependen dan PEU
sebagai variabel independen.
Pendekatan seleksi dan interaksi dalam fit memfokuskan pada bagaimana
faktor tunggal dari variabel kontekstual berpengaruh terhadap faktor-faktor
organisasional dan bagaimana pasangan variabel kontekstual organisasional
tersebut berinteraksi dalam memengaruhi kinerja. Oleh kalangan reductionism,
cara ini dipandang sebagai dekomposisi dari variabel-variabel organisasional
dan kontekstual yang secara efektif dapat menjelaskan hubungan keseluruhan
organisasi.
BAB 12
HEURISTIK KETERSEDIAN

A. Bias Heuristik Ketersediaan


Heuristik ketersediaan adalah strategi membuat penilaian berdasarkan
seberapa mudah informasi tertentu dimasukkan ke pikiran. Informasi yang lebih
menonjol dan lebih penting akan lebih digunakan dalam melakukan penilaian
dan pertimbangan.
Menurut Tversky dan Kahneman (1974), heuristik ketersediaan adalah
petunjuk praktis dimana para pengambil keputusan menilai frekuensi kelas atau
probabilitas dari suatu peristiwa dimudahkan dengan contoh atau kejadian yang
dapat dibawa ke pikiran. Dengan mengandalkan pada ketersediaan untuk
memperkirakan frekuensi dan probabilitas,pembuat keputusan dapat
menyederhanakan apa yang mungkin terjadi.dalam teori peluang,kita
ingat,semakin banyak data dan informasi,maka semakin benarlah hipotesis
tentang data dan informasi tersebut. Namun sayangnya,model standar tidak
peduli dengan urutan kedatangan data dan informasi tersebut. Orang
cenderung menilai peluang terjadinya sesuatu dimasa depan berdasarkan
mudah tidaknya kejadian itu dibayangkan atau diingat.
Berikut heuristik bias yang masuk dalam katagori ini adalah sebagai berikut:
1. Bias 1- kemudahan unutk diingat(berdasarkan atas keseringan dan
keterbaruan)
Pimpinan menilai frekuensi,peluang atau penyebab dari suatu kejadian
melalui tingkatan kejadian yang tersedia dalam memori(pikiran). Heuristik
ketersediaan dapat sangat bermanfaat dalam mengambil strategi dalam
proses pengambilan keputusan, sejak kejadian tersebut sering terjadi dan
memudahkan direkam oleh pikiran dibandingkan dengan kejadian yang
jarang terjadinya. Tversky dan kahneman(1974) berpendapat bahwa ketika
seorang individu,menilai keseringan dari suatu kejadian akibat
ketersediaannya secara instan, suatu kejadian instan yang lebih mudah
untuk diingat akan timbul lebih sering dibandingkan kejadian dengan
frekuensi yang sama dimana keinstanannya kurang mudah diingat.
2. Bias 2- Retievabilitas(berdasarkan atas struktur ingatan)
Tversky dan Kahneman(1983)menemukan bahwa kebanyakan orang
memberikan respons terhadap angka yang lebih besar. Sebuah alasan
penting untuk pola ini adalah konsumen belajar tentang lokasi untuk jenis
tertentu produk atau toko dan mengatur pikiran mereka seperti itu. Seorang
pengusaha properti akan membangun proyek perumahan pada tempat
yang padat penduduknya.seorang bankir akan mendirikan bank ditempat
yang banyak usahanya.
3. Bias 3- Hubungan dugaan
Ketika kemungkinan dua kejadian terjadi bersamaan dinilai dengan
ketersediaan dari penerimaan secara instan kejadian dalam pikiran kita.
Kita biasanya menandai suatu kemungkinan tinggi yang tidak kita sukai
dimana dua kejadian akan terulang secara bersamaan kembali.
Pengalaman sepanjang hidup telah menyebabkan kita percaya bahwa
secara umum kejadian yang lebih sering terjadi lebih mudah untuk diingat
dibandingkan kejadian yang kurang sering terjadi,dan tampaknya yang
lebih baik lebih mudah diingat dibandingkan kejadian yang buruk.
4. Bias 4- Hindsight Bias
Orang lebih mudah membayangkan yang biasanya terjadi, dan bukannya
hal-hal yang tidak biasa atau luar biasa. Ketika yang terjadi dimasa depan
ternyata hal yang tidak biasa,akhirnya muncul ketidaktercapaian
manfaat,dan ekspresi keperilakuannya dramatis. Seorang investor akan
menuntut brokernya gara-gara biasanya si investor untung hingga suatu
ketika,diluar kebiasaan,si broker jadi salah membuat portofolio,dan investor
jadi rugi besar. Penjelasan dan ilustrasi lebih rinci mengenai heuristik
ketersediaan adalah sebagai berikut. Diabetes dan kanker perut membunuh
hampir dua kali orang Amerika setiap tahunnya dibandingkan pembunuhan
dan kecelakaan mobil, dan petir membunuh lebih banyak orang
dibandingkan yang dilakukan tornado. Tahun 1978 dalam plous(1993), john
carroll memublikasikan sebuah studi yang mengaitkan heuristik
ketersediaan dengan tindakan membayangkan suatu peristiwa. Carroll
beralasan bahwa jika mudah dibayangkan kejadian dinilai sebagai mungkin,
maka mungkin semakin mudah untuk dibayangkan sebuah kejadian akan
meningkat ketersediaannya dan membuatnya lebih disukai. Dia menguji
hipotesis ini dalam dua eksperimen. Dalam eksperimen pertama, subjek
diminta untuk membayangkan melihat televisi yang meliput hasil pemilihan
presiden,baik dimalam pemilihan atau sampai pagi menjelang. Subjek
eksperimen sisanya diinstruksikan untuk membayangkan bahwa carter
memenangkan pemilihan karena kekuatannya diselatan dan timur
membangun arah yang tidak bisa diatasi oleh ford di barat. Sherman et al.
(1985) dalam plous (1993) menyimpulkan bahwa membayangkan hasil
tidak menjamin bahwa itu akan muncul lebih cendrung. Jika hasil sulit untuk
dilihat,upaya untuk membayangkannya mungkin mengurangi
kecenderungan penerimaan yang akan terjadi. Fenomena dekat dari
ketersediaan adalah keterbukaan.keterbukaan biasanya merujuk kepada
seberapa konkret atau terpikirkan sesuatu itu, walaupun biasanya itu bisa
memiliki arti lain. Terkadang keterbukaan merujuk kepada seberapa
emosionalmenarik atau menyenangkannya sesuatu itu,atau seberapa dekat
sesuatu itu dalam ruang atau waktu. Subjek dalam eksperimen mereka
sebagian besar adalah mahasiswa psikologi tingkat lanjut di Universitas
Michigan. Mereka ditugaskan pada salah satu dari tiga kondisi eksperimen.
(1) kondisi peringkat dasar,dimana mereka membaca melalui ringkasan
statistik dari 5 poin evaluasi kuliah dari praktik semua mahasiswa yang
telah lulus dalam kuliah selama semester sebelumnya; (2) kondisi tatap
muka,dimana subjek mendengar antara satu dan empat murid panelis
yang menilai 10 kursus(panelis ini memilih kesukaan mereka dengan
peringkat 5 poin yang secara keseluruhan sama dengan peringkat yang
diberikan dalam kondisi peringkat dasar); dan (3) kondisi kontrol tanpa
penilaian,dimana mereka tidak mendengar tidak membaca setiap
penilaian dari kursus.

B. Bagaimana di Akuntansi?

Heuristik ketersediaan menyediakan estimasi frekuensi dan probabilitas yang


cukup akurat,meskipun dalam beberapa situasi,heuristik ketersediaan dapat
menyebabkan bias dalam penilaian dan pemgambilan keputusan. Dalam akuntansi
keuangan , prediksi merupakan satu aspek penting dalam pengambilan keputusan
investasi. Investor yang mampu memprediksi harga saham dengan akurat dalam
waktu yang relatif cepat akan memperoleh prioritas transaksi lebih dulu sehingga
memperbesar kesempatan untuk memperoleh transaksi yang sesuai atau
cocok(kufepaksi,2007). Transaksi yang sesuai atau cocok merupakan transaksi
perdagangan yang berhasil dipertemukan oleh mekanisme pasar berdasarkan
harga pasar yang terbentuk. Apabila mekanisme pasar menghasilkan transaksi
yang sesuai atau cocok. Maka semakin besar kesempatan bagi investor untuk
memperoleh keuntungan.

Hasil penelitian Moser(1989) menyatakan bahwa judgment investor tentang


prediksi laba secara sistematis dipengaruhi oleh kombinasi antara”ouput
interferensi” dan “ketersediaan”. Kesalahan ekspektasi inilah yang kemudian
tergambar dalam mispricing saham yang diinterpretasikan sebagai fenomena
overreaction atau underreactionterhadap informasi akuntansi .jelas, yang tergambar
ini adalah sesuatu yang diuar rasionalitas, tetapi itu benar-benar terjadi.
Pengambilan keputusan investor tidak hanya menggunakan rasionalitas, tetapi juga
rasionalitas yang terbatas atau dibatasi.
BAB 13
ASPEK KEPRILAKUAN DALAM AUDITING

E. Hakikat Audit
Hakikat audit adalah proses pembuktian oleh orang indenpenden
(imparsial) terhadap suatu arsesi manajemen dengan menggunakan judgment
(pertimbangan) den bukti yang membuktikan (evidential matter). Pengauditan
adalah suatu kegiatan yang penting. Setiap organisasi atau perusahaan
selayaknya secara sukarela melakukan audit untuk memberikan umpan balik
atas kinerja yang telah dilakukan. Audit dilakukan oleh auditor yang jati dirinya
adalah seorang manusia.

Menurut siegel dan Marconi (1989) seharusnya auditor terlepas diri dari
faktor-faktor personalitas dalam melakukan audit. Personalitas akan bisa
menyebabkan kegagalan audit sekaligus membawa risiko yang tinggi bagi
auditor. Untuk itu risiko inheren dalam audit harus diperhitungkan dengan baik.
Ada dua tipe keprilakun yang dihadapi oleh auditor.
1. Audit dipengaruhi oleh presepsi mereka terhadap lingkungan audit.
2. Auditor harus menyelaraskan dan sinergi dalam pekerjaan mereka, karena
audit hakikatnya adalah pekerjaan keompok, sehingga perlu ada proses
review di dalamnya.
F. Pertimbangan dan Pengambilah Keputusan pada Pengauditan
Tabel 13.1 berikut ini menyajikan proses audit yang membutuhkan
pertimbangan auditor :
Aktivitas Hasil Penelitian
Pertimbangan
Menetapkan  Materialitas Akuntansi
Materialitas  Materialitas Audit
 Risiko Bisnis
Mengidentifikasi  Audit Area
tujuan dan asersi audit yang  Aliran Transaksi
penting  Asersi Laporan Keuangan
Menilai lingkungan  Implikasi lingkungan klien
risiko inheren untuk mengidentifikasi
struktur pengendalian
 Penilaian risiko inheren
untuk laporan keuangan
Mengevaluasi  Perbaikan efisiensi dan
pengendalian internal efektivitas audit
 Risiko pengendalian untuk
asersi laporan keuangan
 Kelemahan dalam
pengendalian
Mengembangkan  Hasil terhadap uji
strategi audit pengendalian
 Kemungkinan pendekatan
audit yang berbeda
 Penekanan terhadap
keseimbangan atau aliran
transaksi
 Identifikasi terhadap asersi
strategi
Mengembangkan  Memilih kombinasi yang
program audit tepat dari prosedur audit
yang spesifik dan
menentukan ruang lingkup
dan waktu aplikasi
Memilih dan  Prosedur tertentu untuk
mengevaluasi prosedur diaplikasikan
review analitis  Pengembangan untuk
ekspektasi
 Formulasi untuk
menjelaskan fluktuasi
Mengevaluasi hasil-  Kesimpulan terhadap
hasil dari pengujian audit prosedur audit spesifik
dalam kaitan dengan tujuan
dan hasil yang diperoleh
Menetukan status  status giing cocern
going cocern perusahaan perusahaan untuk satu
tahun kedepan
Mengaplikasikan  Identifikasi terhadap
standar audit yang standar auditing
berterima umum dan  Identifikasi terhadap arah
prinsip-prinsip akuntansi dari standar audit yang
diaplikasikan
Mengaplikasikan  Ada pelanggaran etik atau
aturan-aturan mengenai tidak
kode etik
Memilih opini audit  Apakah laporan keuangan
yang tepat sudah disajikan secara
wajar selama satu periode
akuntansi

G. Rational-Emotive Therapy dalam Audit


Menurut Golemen (2007) untuk menjadi audit yang melaksanakan
bertanggung jawabnya dengan menjunjung tinggi etika profesinya, kecerdasan
intelektual hanya menyumbang 20%, sedangkan 80% dipengaruhi oleh bentuk-
bentuk kecerdasan yang lain, salah satunya kecerdasan emosional.
Ada lima komponen untuk membentuk kecerdasan emosional seorang
auditor adalah :
1. Mengenali emosi sendiri
Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal
penting bagi wawasan psikologi dan pengalaman diri. Ketidakmampuan untuk
mencermati perasaan diri sendiri yang sesungguhnya membuat kita berada
dalam kekuasaan perasaan.
2. Mengelola emosi
Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat
terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung
pada kesadaran diri.
3. Memotivasi diri sendiri
Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseornag akan
cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilaii segala sesuatu yang
terjadi dalam dirinya.
4. Mengenali emosi orang lain
Empati atau mengenali emosi orang lain dibangun berdasarkan pada
kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi diri, maka dapat dipastikan
bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain.
5. Membina hubungan dengan orang lain
Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan
keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan pergaulan orang lain. Tanpa
memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan
sosial.
Tujuan RET adalah untuk memperoleh kondisi emosional dari netralitas
untuk mengiminasi sebanyak mungkin perasaan negative yang tidak diinginkan.
H. Menerapkan Audit
Berikut ini cerita menarik tentang interaksi seorang yang bernama sara dan
seorang bernama Krenshaw. Proses RET dimulai, seperti yang telah kita lihat,
dengan pemicu peristiwa berikut. Krewshaw mengatakan, “Dan seberapa
banyak kantor dan perusahaan, Akuntan Public Bersetifikat, akan meminta kita
untuk waktu ini?”
Sara mungkin mengalami sejumlah reaksi mental terhadap peristiwa itu. Ini
biasanya mengambil bentuk serangkain pemikiran seperti berikut.
 Orang dungu bodoh itu telah keterlaluan!
 Krenshaw semestinya lebih menghormati saya.
 Krenshaw semestinya tidak berbicara dengan saya seperti itu
mempermalukan saya didepan staf saya dan orang-orangnya.
 Saya akan menyuruhnya diam.
Emosi yang bagaimana yang pemikiran pendek ini akan diarahkan?
Alternatifnya, sara bisa mengalami sesuatu seperti serangkaian pemikiran
berikut.
 Saya tidak bisa menang.
 Krenshaw tidak akan memebrikan saya istirahat.
 Saya tidaka akan memperoleh promosi (dan itu sangat buruk).

Perasaan seperti apa yang anda semestinya hasilkan dari pemikiran ini?
Masing-masing dari urutan reaksi mental ini mengarah kepada perasaan
negative. Perangkat pertama dari pemikiran mungkin memuncak dalam
perasaan marah dan kemudian cerdas, patah semangat, atau depresi.
Emosi ini harus dinetralkan. Dara sekarang menyaring masing-masing
reaksi mental dengan menantangnya secara mental mempertanyakan
rasionalitas atau relevansinya dalam hal lima pertanyaaan yang dibahas
sebelumnya. Sebuah pemikiran tiak menghasilkan dua atau lebih jawaban
positif bukan merupakan reaksi rasional.
Sebelum kita menerapkan proses ini kepada dilemma sara, kita harus
menekankan bahwa proses ini memerlukan banyak latihan sebelumnya
seseorang mendapatkan kemahiran yang akan membuat operasinya menjadi
hampir otomatis. Kita akan mencantumkan masing-masing reaksi mental yang
dikemukakan sara, mengenali bahwa ini adalah dua perangkat terkaan dari
tentang hampir tidak terbatas dari reaksi yang memungkinkan.
Jika prosedur ini berhasil, perasaan sara tentang masing-masing pemikiran
dalam urutan pemikiran dan serangkaian sebagai keseluruhan menjadi netral.
Kita sekali lagi harus menekankan bahwa proses tidak menghasilakan solusi
semacam itu. Itu hanya menjernihkan pikiran, menetralkan emosi sehingga
solusi rasional alternative bisa dihasilkan. Peristiwa asli yang terjadi dalam
hitungan detik, tetapi mengamatinya adalah seperti tayangan ulang gerak
lambat menampilkan detail tiap menitnya. Sebagai bantuan, format berikut telah
terbukti membantu.
I. Aplikasi lainnya
Di lain pihak, Kenndy (1993) mengusulkan beberapa upaya untuk
meningkatkan kualitas pertimbangan sebagai berikut.
Upaya Upaya
kapasitas Internal

motivasi Eksternal

Kinerja

S
Ter
puaskan top

T
idak Y
Cukup Kualitas data
a
Upaya ? memadai ?

apaka apaka apakah apakah


h cukup h cukup data internal data eksternal
motivasi ? kapasitas ? memadai memadai

J. Fenomena Kelompok dalam Pengauditan


Ivancevich dan Matteson (2002) menyebutkan yang dimaksudkan dengan
kelompok adalah dua orang atau lebih berinteraksi untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Ada dua tipe kelompok yaitu kelompok formal terdiri dari
perintah, tugas dan tim, kelompok non formal terdiri dari kelompok kepentingan
dan pertemanan. Kelompok perintah adalah spesifikasi dalam organisasi yang
dibuat bawahan terdiri dari karyawan yang bekerja secara bersama untuk
tugas atau proyek tertentu. Kelompok non formal adalah pengelompokan
secara alamiah dalam lingkungan kerja untuk merespon kebutuhan sosial.
Kelompok kepentingan adalah kumpulan individu-individu yang mempunyai
kepentingan dan tujuan tertentu. Kelompok kepentingan biasanya sangat
kental terjadi di organisasi politik. Kelompok pertemanan adalah kelompok
yang anggotanya berdasarkan karakteristik umur, kepentingan sosial dan latar
belakang etnis/komunitas.
Menurut Sutton dan Hayne (1997) pertimbangan dan pengambilan
keputusan kelompok secara umum lebih baik dibandingkan dengan individu
karena sejumlah alasan :
1. Kelompok lenih banyak mengetahui pengetahuan dan informasi
2. Kelompok melakukan suatu pendekatan pemecahan masalah yang
beragam disbanding dengan individu
3. Partisipasi dalam pemecahan masalah meningkat dalam kelompok,
karena tanggung jawab yang diterima masing-masing anggota kelompok
4. Kelompok membuat komunikasi dan interaksi yang lebih baik selama
penyelesaian masalah sehingga tercipta suatu consensus.
BAB 14
TOPIK-TOPIK PENELITIAN AKUTANSI KEPERILAKUAN

A. Penelitian Akuntansi Keperilakuan Dalam Akuntansi Manajemen


Salah satu tujuan dan prinsip fundamental dari akuntansi manajemen
adalah meningkatkan nilai perusahaan untuk menjamin pengaruh aktivitas dan
efisien dengan sumber daya yang terbatas. Sistem akuntansi manajemen
menyediakan informasi yang dapat meningkatkan kemampuan karyawan
dalam rangka membuat keputusan yang berkualitas memampukan tujuan dan
sasaran organisasi.informasi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi
manajemen perusahaan mempunyai dua peran penting.
1. Informasi untuk perencanaan dan pengambilan keputusan
2. Memotivasi individu-individu yang ada di perusahaan untuk berbuat terbaik
demi kepentingan perusahaan.
Dengan demikian sangatlah penting peranan studi empiris tentang
bagaimana peranan informasi akuntansi manajemen berpengaruh terhadap
perilaku individu dalam organisasi yang penuh dengan kompleksitas
permasalahan.
Penelitian akuntansi manajemen yang menggunakan empiris-archival (arsip
dan database) dan studi lapangan mempunyai masalah-masalah ekonometrik
yang banyak. Kelemahan yang paling menonjol dari studi database dan
lapangan adalah dalam hal validitas internal.
1. Dari pendekatan normatif dan deskriptif
Menurut hudayanti(2002) pada awal perkembangannya, desain penelitian
dalam bidang akuntansi manajemen masih sangat sederhana dan
konvensional, hanya memfokuskan pada masalah perhitungan harga pokok
produk dan biaya produksi. Seiring dengan perkembangan teknologi dan
manajemen operasional, permasalan penelitian diperluas dengan diangkatnya
topik tentang penganggaran, akuntansi pertanggung jawaban serta masalah
transfer pricing. Namun demikian berbagai penelitian tersebut masih bersifat
normatif, yang hanya mengangkat permasalahan desain pengendalian
manajemen dengan berbagai model-model normatif seperti discounted cash
flow, atau linier programming untuk membantu manajer membuat keputusan
ekonomik yang optimal tanpa melibatkan pada faktor-faktor lain yang
mempengaruhi efektivitas desain pengendalian manajemen.
2. Dari pendekatan umum ke pendekatan kontijensi
Penelitian akuntansi keperilakuan dalam akuntansi manajemen awalnya
didesain dengan pendekatan-pendekatan umum(sistem informasi akuntansi
manajemen berlaku untuk semua keadaan). Pendekatan kontijensi telah
memberikan kontribusi yang penting bagi perkembangan penelitian dibidang
akuntansi manajemen, terutama dibidang sistem pengendalian manajemen.
Esensi pendekatan ini” tidak ada sistem penegndalian yang bisa efektif
disemua organisasi’,memberi inspirasi bagi penggiat akuntansi manajemen
untuk melakukan penelitian.
Dalam penelitian penilaian tenaga kinerja, bukti empiris menunjukan bahwa
kesesuaian antara sistem penilaian kinerja dengan ketidakpastian lingkungan
mempengaruhi kinerja
Menurut riyanto (2003) penjelasan beberapa faktor kontekstual adalah
sebagai berikut.
 Ketidak pastian lingkungan merupakan salah satu variabel yang banyak
dipercaya akan mempengaruhi keefektifan sistem pengendalian
 Struktur organisasi bercerita tentang pola pekerjaan dalam kelompok
pekerjaan dalam organisasi yang sangat mempengaruhi perilaku
anggota-anggota organisasi.
 Faktor individu hubungan antara sistem pengendalian dan kinerja juga
dipengaruhi oleh faktor individual.

a. Berbagai perspektif teoretis


Penelitian akuntansi keperilakuan di bidang akuntansi manajemen
didominasi pada dua landasan konseptual, yaitu teori keperilakuan khususnya
perilaku organisasi serta teori agensi yang berdasarkan pada ilmu ekonomi(
hudayanti 2002).
1. Teori atribusi(attribution theory)
Teori atribusi mempelajari proses bagaimana seseorang
mengintrepretaskan alasan atau sebab perilakunya. Teori ini di kembangkan
oleh fritz heider yang mengargumentasikan bawah prilaku seseorang itu
ditentukan oleh kombinasi anatra kekuatan internal ( internal forces ), yaitu
faktor – faktor yang berasal dari dalam diri seseorang misalnya kemampuan
atau usaha dan kekuatan external yaitu fakto-faktor yang berasal dari luiar
misalnya kesulitan tugas atau keberuntungan.
2. Teori harapan (expectancy theory)
Dalam expectancy theory motivasi individu ditentukan oleh expentancies
dan valences. Expentancies adalah keyakinan tentang kemungkinan bawah
perilaku tertentu (seperti bekerja lebih keras) akan menimbulkan hasil tertentu
(seperti kenaikan gaji). Valences berarti nilai yang diberikan individu atau
outcome (hasil) atau rewards yang akan dia terima
3. Teori tujuan (goal theory)
Teori ini juga menyatakan bahwa perilaku individu diatur oleh
ide(pemikiran) dan niat seseorang. Sasaran dapat dipandang sebagai
tujuan/tingkat kinerja yang ingin tercapai oleh individu. Jika seorang individu
komit dengan sasaran tertentu, maka hal ini akan memengaruhi tindakanya dan
memengaruhi konsekuensi kinerjanya. Penelitian yang menggunakan teori ini
bisa dilihat dari variabel penelitian yang dipergunakan antara lain level tujuan,
komitmen tujuan, kebutuhan untuk berprestasi dan setting tujuan.
4. Teori agen
Penelitian akuntansi keperilakuan yang menggunakan teori agen
mendasarkan pemikiran bagaimana adanya perbedaan informasi antara atasan
dan bawahan atau antara kantor pusat dan kantor cabang atau adanya
informasi asimetri memengaruhi penggunaan sistem akuntansi.
Sikap yang berhubungan dengan kerja
 Kepuasan kerja
 Keterlibatan kerja
 Ketegangan kerja
Sikap yang berhubungan dengan anggaran
 Sikap terhadap anggaran
 Motivasi pada penganggaran
KinerjaKinerja anggaran
 Efisiensi biaya
 Kinerja keseluruhan

B. Penelitian akuntansi keperilakuan dalam pengauditan


Penelitian dengan menggunakan auditor sebagai partisipan akan
mengurangi masalah validitas eksternal yang sering menjadi masalah ketika
mahasiswa yang digunakan sebagai partisipan untuk memerankan auditor.
Namun disisi lain, penggunaan auditor sebagai partisipan membutuhkan
setting tugas yang lebih realistik karena keahlian(exspertise) mereka sangat
sensitif terhadap variasi tugas dan settingnya. Namun penggunaan mahasiswa
juga mengandung sisi positif, yaitu tidak terkontaminasi oleh keadaan
sesunguhnya.