Anda di halaman 1dari 13

NILAI RUJUKAN KURIKULUM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kuikulum dan Pembelajaran

Dosen Pengampu : Reza Febri Abadi, M.Pd.

Disusun Oleh :

Amelia Putri Pandhita (2287170007)

Alfisyahri (2287170014)

Aniyah (2287170027)

Endriani Rahayu (2287170046)

PENDIDIKAN LUAR BIASA

FAKULTAN KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG


2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat-Nya saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Nilai Rujukan Kurikulum ”.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi nilai tugas mata kurikulum dan
pembelajaran.
Dalam penulisan makalah ini saya mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan laporan ini.
Saya sadar bahwa dalam penulisan makalah ini saya merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat masih
banyak kekurangan akan kemampuan yang saya miliki. Untuk itu kritik dan saran dari
semua pihak terutama kepada dosen pengampu sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Serang, 4 Oktober 2018

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah .........................................................................................................1

B. Rumusan Masalah .................................................................................................................1

C. Tujuan ....................................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................2

A. Pengertian Nilai Rujukan Kurikulum ..................................................................................2


B. Dimensi Nilai Rujukan Kurikulum ......................................................................................6

BAB III PENUTUP .........................................................................................................................8

A. Kesimpulan ..........................................................................................................................8
B. Saran ....................................................................................................................................8

Daftar Pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas suatu bangsa.
Di masa reformasi yang juga diikuti oleh pemberlakuan otonomi daerah berdasarkan
Undang-Undang nomor 2 tahun 1999 serta Undang-undang nomor 25 tentang
perimbangan keuangan pusat dan daerah memiliki dampak logis pada kewenangan
daerah yang semakin otonom, termasuk di dalamnya menyangkut Pendidikan.
Pendidikan adalah salah satu investasi yang akan menghasilkan manusia-manusia yang
memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan
suatu bangsa. Yang memiliki mutu dan kualitas serta manfaat (benefit) individu, sosial
atau institusional akan diperoleh secara bervariasi. Dalam dunia pendidikan kurikulum
sangat penting sebagai acuan satuan ajar yang merupakan seperangkat rencana dan
pengaturan tentang kompetensi yang di bakukan dan di sesuaikan dengan keadaan dan
kemampuan daerah.
Dalam kurikulum banyak komponen-komponen yang harus di pahami dan di
kembangkan oleh pendidik dan calon pendidik agar apa yang menjadi tujuan dari adanya
kurikulum dapat tercapai.salah satu komponen dari kurikulum yaitu Nilai rujukan
kurikulum, yang pada dasarnya merupakan seperangkat keyakinan, nilai, dan gagasan
yang dijadikan kerangka pikir untuk perencanaan kurikulum dan yang mendasari
tindakan pada semua tahap pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, bagi pendidik
dan calon pendidik harus mampu memahami konsep kurikulum dengan baik agar dunia
pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan menumbuhkan generasi-generasi penerus
bangsa untuk masa depan yang lebih baik.
B. Rumusan masalah
1. Apa Yang Dimaksud Dengan Nilai Rujukan Kurikulum ?
2. Apa Saja Dimensi Nilai Rujukan Kurikulum ?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Dari Nilai Rujukan Kurikulum.
2. Untuk Mengetahui Dimensi Dari Rujukan Kurikulum.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Nilai Rujukan Kurikulum (Curriculum Value Orientation)


Nilai rujukan (value orientations) pada dasarnya merupakan seperangkat keyakinan,
nilai dan gagasan yang dijadikan kerangka pikir untuk perncanaan kurikulum dan yang
mendasari tindakan pada semua tahap pengembangan kurikulum. Dalam konteks
pengembangan kurikulum, value orientations dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu Nilai
Rujukan Kurikulum (curriculum value orientations) dan Nilai Rujukan Kurikulum Guru
(Teacher’s curriculum value orientations). Istilah nilai rujukan kurikulum (curriculum value
orientations) diartikan sebagai nilai rujukan yang digunakan dalam rangka mengembangkan
ide dan dokumen kurikulum oleh para pembuat kebijakan dan pengembang kurikulum pada
tingkat nasional (Jewett, Ennis dan Bain, 1995:23; Hasan, 2001:4). Sementara itu istilah
nilai rujukan guru (Teacher’s curriculum value orientations) diartikan sebagai nilai rujukan
yang digunakan untuk mengembangkan proses implementasi kurikulum oleh para pelaksana
kurikulum pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah dan sifatnya individual.
Sebagai nilai yang sifatnya individual, tidak mengherankan apabila nilai rujukan guru
tidak sejalan dengan nilai rujukan kurikulum sebagaimana diharapkan oleh para
pengembang kurikulum tingkat nasional. Demikian juga tidak terlalu mengherankan apabila
dalam kenyataan menunjukkan bahwa setiap guru memiliki nilai rujukan yang berbeda .
Istilah nilai rujukan kurikulum (Curriculum Value Orientations) di Indonesia dapat kita
temukan dalam buku “Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup” yang disebut dengan istilah
“Orientasi Pendidikan” dan orientasi pendidikan tersebut penekanannya pada kecakapan
hidup atau life skills.
Jewet (1994:62) mengembangkan nilai rujukan ke dalam lima kategori, yaitu Social
Reconstruction, Disciplinary Mastery, Learning Process, Self Actualization, dan Ecological
Integration.
1. Social Reconstruction
Merupakan nilai rujukan yang menempatkan prioritas utamanya pada penguasaan
keterampilan soaial, kerjasama dan kepemimpinan, pada saat sekarang lebih diarahkan pada
pemecahan masalah diskriminasiras, tingkatan sosial, gender, physical ability, dan
penampilan fisik.

2
 Nilai Rujukan Social Reconstruction
Pada usaha mempersiapkan siswa untuk dapat memecahkan berbagai masalah
serius dalam kehidupan manusia sehingga dapat memperbaiki kehidupan masyarakat dan
menghasilkan kehidupan masa depan masyarakat yang lebih baik.Social
reconstructionistberkeyakinan bahwa masalah kehidupan masyarakat bukan hanya
merupakan perhatiansocial studies melainkan juga merupakan perhatian dari semua
disiplin ilmu. Oleh karena itu, disiplin ilmu tersebut harus terkait dengan masalah
kehidupan social dan ditekankan dalam kurikulum. Sumber kurikulum social
reconstructionist sesuai dengan namanya lebih menekankan pada masyarakat.
 Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekontruksi sosial lebih memusatkan perhatian pada problema-
problema yang dihadapi dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran
pendidikan interaksional. Melalui interaksi dan kerja sama siswa berusaha
memecahkan problema-problema yang dihadapi dalam masyarakat menuju
pembentukan masyarakat yang lebih baik.
a. Desain kurikulum rekontruksi social
 Asumsi
Tujuan utama kurikulun rekontruksi sosial adalah menghadapkan para siswa
pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang
dihadapi manusia. Masalah-masalah masyarakat bersifat universal dan hal ini
dapat dikaji dalam kurikulum.
 Masalah-masalah sosial yang mendesak
Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
Masalah-masalah tersebut dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan yang
mengundang lebih mendalam, bukan saja dari buku-buku dan kegiatan
laboratorium tetapi juga dari kehidupan nyata dalam masyarakat.
 Pola-pola organisasi
Pada tingkat sekolah menengah, pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah
roda. Di tengah-tengahnya sebagai poros dipilih suatu masalah yang menjadi tema
utama dan dibahassecara pleno.
b. Komponen-komponen kurikulum
 Tujuan dan isi kurikulum

3
Dalam pendidikan ekonomi-politik, kegiatan yang dilakukan untuk mencapai
tujuan adalah :
1. Mengadakan survai secara kritis terhadap masyarakat
2. Mengadakan studi tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal dan
ekonomi nasional serta dunia
3. Mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecenderungan-
kecenderungan perkembangan ekonom, hubungannya dengan ekonomi
lokal,
4. Mengkaji praktik politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi,
5. Memantapkan rencana perubahan praktik politik,
6. Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria.
 Metode
Dalam pengajaran rekontruksi sosial para pengembang kurikulum berusaha
mencari keselarasan antara tujuan-tujuan nasional dengan tujuan siswa. Bagi
rekontruksi sosial, belajar merupakan kegiatan bersama, ada kebergantungan
antara seseorang dengan yang lainnya.
 Evaluasi
Evaluasi tidak hanya menilai apa yang telah dikuasai siswa, tapi juga menilai
pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat.
c. Pelaksanaan Pengajaran Rekontruksi Sosial
Pengajaran rekontruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-daerah yang
tergolong belum maju dan tingkat ekunominya belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini
diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat. Sesuai dengan potensi
yang ada di dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi-potensi tersebut, dengan
bantuan biaya dari pemerintah.
d. Tujuan Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum harus bersifat lebih fleksibel. Seharusnya kurikulum tidak hanya
difokuskan pada persoalan pendidikan yang ada di sekolah saja, seharusnya kurikulum
juga memperhatikan problem dan masalah yang ada di masyarakat sebagai upaya
kehidupan masa datang yang semakin maju. Keberadaan problem dan masalah sosial
harus dianggap sebagai tuntutan dan masalah dalam penerapan kurikulum di lingkungan
sekolah dan sekitarnya. Adanya pertanyaan apakah kurikulum bersifat mengembangkan

4
kualitas peserta didik yang diharapkan dapat memperbaiki masalah dan tantangan
masyarakat ataukah kurikulum merupakan upaya pendidikan membangun masyarakat
baru yang diinginkan bangsa menempatkan kurikulum pada posisi yang berbeda. Dengan
adanya pandangan tersebut, maka adanya kurikulum rekonstruksi sosial diharapkan dapat
membantu masalah pendidik. Tujuan utama dari kurikulum rekonstruksi sosial adalah
menghadapkan para siswa pada tantangan yang ada pada diri manusia. Hal ini merupakan
bidang garapan pada studi sosial yang meliputi bidang ekonomi, sosialogi, psikologi,
estetika, dll
2. Disciplinary Mastery
Merupakan nilai rujukan yang paling tradisional yang menempatkan prioritas
utamanya pada penguasaan subject matter. Contoh: model pendidikan gerak (Rink,
2002), model pendidikan kebugaran (Aliance American for Health, Physical Education,
Recreation, and Dance, 1999); Teaching Children Games (Belka (1994), dan Sport
Education (Siedentop, 1994).
3. The Learning Process
Lebih menekan kan pada proses belajar. Nilai rujukan ini di dasarkan pada premis
yang menyatakan bahwa oleh karena volume pengetahuan yang besar dan perubahan
yang cepat akibat teknologi, maka pengembangan keterampilan proses untuk terus belajar
sama pentingnya dengan pengembangan keterampilan apa yang di pelajari.
4. Self Actualization
Merupakan suatu nilai rujukan yang terpusat pada siswa yang menekankan pada
otonomi individu, pertumbuhan individu, dan penentuan arah individu sendiri. Keputusan
keputusan pembelajaran difokuskan sekitar untuk membantu siswa meraih potensinya
(Jewet,1994:57).
5. Ecological Integration
Pada dasarnya menempatkan self-actualization sebagai bagian yang integral dari
lingkungan yang selalu berubah secara konstan. Belajar diperoleh melalui kerjasama
dengan orang lain di dalam sebuah lingkungan tertentu untuk membantu siswa
menciptakan kehidupan di masa yang akan datang yang akan dilaluinya.

5
B. Dimensi Nilai Rujukan Kurikulum
McNeil (1990) dalam bukunya Curriculum : Comprehensive Introduction,
mengungkapkannya dalam istilah *Conceptions of Curriculum* dan mengklasifikasikan
nilai rujukan ke dalam empat dimensi yaitu :
a. Nilai Rujukan Humanistic
Terfokus pada pengembangan otonomi, integritas, dan pertumbuhan masing-
masing individu. Aktualisasi diri individu siswa merupakan inti dari nilai rujukan
humanistic. Sumber kurikulum humanistic lebih cenderung menekankan pada
individunya.
b. Nilai Rujukan Social Recontrucsionist
Pada usaha mempersiapkan siswa untuk dapat memecahkan berbagai masalah
serius dalam kehidupan manusia sehingga dapat memperbaiki kehidupan masyarakat dan
menghasilkan kehidupan masa depan masyarakat yang lebih baik. Social
Recontrucsionist berkeyakinan bahwa masalah kehidupan masyarakat bukan hanya
merupakan perhatian social studies melaikan juga merupakan perhatian dari disiplin ilmu.
Oleh karena itu, disiplin ilmu harus terkait dengan masalah kehidupan social dan
ditekankan dalam kurikulum.
c. Nilai Rujukan Tecnological
Cenderung terfokus pada bagaimana mengajar dari pada apa yang harus
diajarkan. Tujuan utamanya adalah menemukan alat yang efektif dan efisien untuk
meraih tujuan akhir. Keputusan mengenai apa yang harus diajarkan diraih melalui
analisis apa yang diperlukan untuk menampilkan suatu pekerjaan. Tujuan pembelajaran
cenderung memperkuat pentingnya tujuan konvensional dan tradisi pemilahan bidang
kajian akademik seperti, matematika, sains, bahasa, seni, dan bidang tekhnis terapan
untuk mengembangkan dunia bisnis dan industri. Sumber kurikulum technological
cenderung lebih menekankan pada perpaduan subject matter dan masyarakat melalui
perkembangan teknologinya.
d. Nilai Rujukan Akademik
Terfokus pada perolehan hasil akademis. Para ahli kurikulum orientasi akademik
memandang kurikulum sebagai alat untuk mengantarkan siswa pada bahan kajian dan
disiplin ilmu. Mereka menganggap bahwa bahan kajian dan disiplin ilmu merupakan
tujuan dari pada sebagai sumber informasi untuk memecahkan masalah individu dan

6
masyarakat. Sumber kurikulum akademik menekankan pada subject matter. Longstreet
and shane (1993) dalam buku mereka, Curriculum for A New Millenium,
mengungkapkanya dalam istilah “ Curriculum Design and The Patterns Followed” dan
mengklasifikasinya dalam empat dimensi yaitu :
1. The Society-Oriented Curriculum
Memfokuskan diri pada kehidupan masyarakat. Beberapa sekolah yang
menggunakan aliran ini berkeyakinan bahwa tujuan sekolah adalah melayani
kebutuhan masyarakat. Kehidupan masyarakat berikut kebutuhanya dijadikan
dasar bagi pemilihan konten pada kurikulum ini.
2. The Child-Centered Curriculum
Terfokus pada siswa. Beberapa sekolah yang menggunakan aliaran ini
berkeyakinan bahwa siswa merupakan sumber kurikulum yang sangat
penting. Oleh karena itu, konten kurikulum sangat fleksibel untuk selalu
berubah mengikuti perkembangan belajar siswa.
3. The Knowledge-Centered Curriculum
Menempatkan knowledge sebagai bahan terpenting dari kurikulum.
Beberapa sekolah yang menggunakan kurikulum ini berkeyakinan bahwa
pemenuhan kebutuhan masyarakat dan individual akan lebih baik manakala isi
kurikulum terdiri dari pengetahuan yang merefleksikan dibutuhkan
masyarakat dan indivdunya.
4. The Eclectic Curriculum
Merujuk pada pemilihan isi kurikulum yang didasarkan pada sejumlah
sumber kurikulum yang berbeda. Para penganut kurikulum ini berkeyakinan
bahwa semua siswa harus mempelajari materi dan aktifitas inti tertentu
sehingga siswa sesuai dengan keadaan masyarakat dan memenuhi persyaratan
kebutuhan masyarakat

7
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Nilai rujukan kurikulum sangat penting untuk diperhatikan untuk perkembangan
kurikulum di Indonesia. Nilai rujukan (value orientations) pada dasarnya merupakan
seperangkat keyakinan, nilai dan gagasan yang dijadikan kerangka pikir untuk
perncanaan kurikulum dan yang mendasari tindakan pada semua tahap pengembangan
kurikulum. Nilai rujukan untuk pengembangan kurikulum dibagi menjadi dua yaitu nilai
rujukan kurikulum dan juga nilai rujukan guru, walaupun nilai rujukan kurikulum dan
nilai rujukan guru sangatlah berbanding terbalik namun, keduanya sangat berpengaruh
pada pengoptimalan prestasi siswa nantinya.

8
DAFTAR PUSTAKA

Hidayah,S. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2016. Kurikulum dan Pembelajaran
Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Hendri,W.2015. Nilai Rujukan Kurikulum. [online].tersedia:http://windahendri23.blogspot.com

9
10

Anda mungkin juga menyukai