Anda di halaman 1dari 18

DISTRIBUSI KEGANASAN NASOFARING BERDASARKAN

PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI PADA RUMAH SAKIT DI KOTA


PEKANBARU TAHUN 2009-2013

Alni Diniati
Wiwit Ade FW
Harianto
Email: alni.diniaty@yahoo.com

ABSTRACT
Nasopharyngeal carcinoma is a malignant tumor derived from epithelial
cells in the nasopharynx. The rates of nasopharyngeal carcinoma has increased in
the region of the head and neck. In 2010, nasopharyngeal carcinoma ranks 5th out
of 10th. This study is descriptive with retrospective design that aimed to determine
the distribution of nasopharyngeal carcinoma at hospitals in Pekanbaru from
2009-2013. The data collected from anatomical pathology laboratory center and
hospitals in Pekanbaru, including: gender, age, histopathologic types and
occupation. The result showed that there was 199 cases of nasopharyngeal
carcinoma with the highest case found in 2013 were 92 (24,6%). The highest case
found in Arifin Achmad Hospital were 92 (46,2%) and the lowest rates was in the
Army hospital and Bhayangkara with 1 (0.5%) case. Nasopharyngeal carcinoma
mostly infected male 130 (65,3%) cases than female 69 (34,7%) cases. The age
range of 45-54 years had 56 (28.1%) cases. Most of histopathologic types had
found in the type of undifferentiated carcinoma (WHO type III) as many as 136
(68,3%) cases. The most occupation is farmer and housewifes as many as 32
(16.1%) cases.

Key words : nasopharyngeal carcinoma, distribution, histopathologic type.

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 1


PENDAHULUAN mengalami peningkatan, dengan
Kanker menurut World penderita terbanyak terdapat pada
Health Organization (WHO) adalah pasien dengan pekerjaan sebagai
pertumbuhan dan penyebaran sel petani (31,37%).10
yang tidak terkendali serta dapat Kanker nasofaring jarang
bermetastasis ke jaringan ditemukan di Benua Eropa dan
1
disekitarnya. Salah satunya adalah Amerika, yaitu kurang dari
kanker nasofaring yang memiliki 1/100.000 setiap tahun, sedangkan di
angka kejadian tertinggi pada regio Afrika sekitar 5-10/100.000 setiap
kepala dan leher.2 Kanker nasofaring tahun.7 Tetapi sering ditemukan di
merupakan tumor ganas yang berasal Asia Tenggara dan China, dengan
dari sel epitel pada nasofaring yang angka kejadian 39,84/100.000 di
terletak dibelakang kavum nasi, Provinsi Guangdong, China
7,11
diatas palatum mole dan pada selatan. Di Indonesia, terdapat
dinding posteriornya terdapat tonsilla 6,2/100.000 dengan 13.000 kasus
pharyngeal.3,4 Nasofaring berfungsi baru. Penelitian yang dilakukan di
sebagai ventilasi dari telinga melalui Rumah Sakit Dr.Cipto
tuba eustakius serta sebagai ruang Mangunkusumo tahun 1996 dan
resonansi dalam pembentukan suara.5 2005 terdapat 1.121 pasien
Penyebab kanker nasofaring didiagnosis kanker nasofaring. Pada
bersifat multifaktor, seperti virus, tahun 2010 kanker nasofaring
pola hidup yang tidak sehat, pajanan menempati urutan ke-5 dari 10
okupasi, alkohol dan tembakau.6,7 kanker tersering.9,12 Berdasarkan data
Penelitian yang dilakukan di Eropa Riskesdas tahun 2013, prevalensi
dan Amerika memperkirakan 4% kanker di Indonesia diperkirakan
disebabkan oleh alkohol, 33% 1,4% atau sekitar 347.792 orang
disebabkan oleh tembakau, dan 35% dengan prevalensi tertinggi terdapat
disebabkan oleh alkohol dan pada Provinsi D.I.Yogyakarta
tembakau.8 Kanker nasofaring dapat (4,1%), sedangkan Provinsi Riau
menyerang disegala usia, di China (0,7%) atau sekitar 4.301 orang.13
sekitar 75–90% terjadi pada usia 30– Berdasarkan penelitian sebelumnya
60 tahun. Sedangkan di Indonesia, yang dilakukan di RSUD Arifin
insiden tertinggi pada usia 41-50 Achmad Pekanbaru tahun 2006-
tahun (32,4%) dan insiden terendah 2008, kanker nasofaring menempati
pada usia >70 tahun (1,9%). Insiden urutan ke-2 pada laki-laki.14
tertinggi terdapat pada laki-laki Gold standar kanker
daripada perempuan dengan nasofaring dengan melakukan
2,7,9
perbandingan 8:1. Penelitian yang pemeriksaan histopatologi.
dilakukan di RSUD Arifin Achmad Pemeriksaan histopatologi dapat
pada tahun 2012, didapatkan angka membantu menentukan tipe
kejadian kanker nasofaring histopatologis dan stadium dari

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 2


keganasan. Penegakkan diagnosis METODE PENELITIAN
secara dini dapat meminimalisir Jenis penelitian ini
terjadinya metastasis kelenjar getah menggunakan metode deskriptif
bening. Tipe undifferentiated dengan pendekatan cross sectional
carcinoma memiliki insiden tertinggi retrospektif, penelitian ini
di China dan Asia tenggara, tipe ini menggunakan catatan hasil
berhubungan dengan virus dan pemeriksaan histopatologi pasien
makanan yang diawetkan. Sedangkan yang didiagnosis keganasan
tipe keratinizing squamous cell nasofaring pada laboratorium sentra
carcinoma memiliki insiden tertinggi diagnostik patologi anatomi dan
di Amerika, tipe ini memiliki rumah sakit di Kota Pekanbaru tahun
hubungan yang berkaitan dengan 2009-2013.
kebiasaan mengkonsumsi alkohol Populasi penelitian adalah
dan merokok, sehingga perlu seluruh kasus keganasan nasofaring
dilakukan upaya pengendalian berdasarkan pemeriksaan
kanker dengan cara mendatanya.3,7,15 histopatologi di laboratorium sentra
Program terpenting dalam diagnostik patologi anatomi dan
pengendalian kanker adalah rumah sakit di Kota Pekanbaru tahun
registrasi kanker. Registrasi kanker 2009-2013. Sampel penelitian
merupakan proses pengumpulan data meliputi seluruh populasi penelitian
pada setiap kejadian dan karakteristik (total sampling).
neoplasma. Dengan tujuan untuk Data penelitian ini berupa
mengumpulkan dan data sekunder yang berasal dari
mengklasifikasikan informasi catatan hasil pemeriksaan
keseluruhan data kanker untuk histopatologi pasien yang
menghasilkan data statistik kejadian didiagnosis menderita keganasan
kanker pada populasi tertentu.16 nasofaring pada laboratorium sentra
Tetapi sampai saat ini belum ada diagnostik patologi anatomi dan
sistem pencatatan dan pelaporan rumah sakit di Kota Pekanbaru tahun
khusus untuk penyakit kanker di 2009-2013.
Indonesia, hal ini dikarenakan Variabel pada penelitian ini
pencatatan dan pelaporannya meliputi jenis kelamin, usia, tipe
digabung dengan penyakit lain. hitopatologis dan pekerjaan pada
Adapun tujuan penelitian ini penderita keganasan nasofaring.
adalah untuk mengetahui insiden
distribusi keganasan nasofaring pada HASIL PENELITIAN.
rumah sakit di Kota Pekanbaru tahun 4.1 Insiden kasus keganasan
2009-2013 berdasarkan jenis nasofaring tahun 2009-2013
kelamin, usia, tipe histopatologi, dan Hasil penelitian yang
pekerjaan dilakukan pada laboratorium sentra
diagnostik patologi anatomi dan

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 3


rumah sakit di Kota Pekanbaru pada kasus.
bulan September-Desember 2015,
didapatkan jumlah sampel sebanyak
199 kasus, dapat dilihat pada gambar
4.1, gambar 4.2, dan tabel 4.1.
60 44
(22,1%) 41
(20,6%)
40 49
44 (24,6%)
(22,1%)
20
21
(10,6%)
0
Gambar 4.2 Jumlah penderita
2009 2010 2011 2012 2013 keganasan nasofaring pada
Gambar 4.1 Jumlah kasus laboratorium sentra diagnostik
keganasan nasofaring berdasarkan patologi anatomi tahun 2009-2013
tahun 2009-2013
Berdasarkan gambar 4.2,
Berdasarkan gambar 4.1, didapatkan jumlah kasus keganasan
angka terbanyak terdapat pada tahun nasofaring terbanyak terdapat pada
2013, yaitu 49 (24,6%) kasus, diikuti RSUD Arifin Achmad, yaitu
tahun 2009 sebanyak 44 (22,1%) sebanyak 46,2%, lalu diikuti
kasus, lalu 2010 sebanyak 41 Laboratorium Amanah, yaitu
(20,6%) kasus, kemudian tahun 2012 sebanyak 12,2%, dan yang memiliki
sebanyak 44 (22,1%) kasus. jumlah kasus paling sedikit terdapat
Sedangkan tahun 2011 memiliki pada Laboratorium Sejawat, yaitu
angka kejadian yang paling rendah, 2,5%.
yaitu 21 (10,6%) kasus pada kasus
keganasan nasofaring pada rumah
sakit di Kota Pekanbaru.
Berdasarkan tabel 4.1,
didapatkan jumlah kasus keganasan
terbanyak terdapat pada RSUD
Arifin Achmad dengan jumlah kasus,
yaitu 92 (46,2%) kasus, kemudian
diikuti RS Santa Maria sebanyak 55
(27,6%) kasus dan selanjutnya RS
Awal Bros sebanyak 24 (12,1%)
kasus. Jumlah kasus keganasan
nasofaring paling sedikit terdapat
pada RS Bhayangkara dan RS
Tentara, yaitu sebanyak 1 (0,5%)

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 4


Tabel 4.1 Jumlah penderita keganasan nasofaring pada rumah sakit di Kota
Pekanbaru tahun 2009-2013
Rumah Sakit Tahun
2009(%) 2010(%) 2011(%) 2012(%) 2013(%) Total(%)
Eka Hospital 0(0) 0(0) 2(9,5) 2(4,5) 1(2,0) 5(2,5)
RS Awal Bros 8(18,2) 5(12,2) 3(14,3) 3(6,8) 5(10,2) 24(12,1)
RS Bhayangkara 1(2,3) 0(0) 0(0) 0(0) 0(0) 1(0,5)
RS Ibnu Sina 2(4,5) 6(14,6) 1(4,8) 1(2,3) 1(2,0) 11(5,5)
RS Lancang Kuning 0(0) 1(2,4) 1(4,8) 1(2,3) 0(0) 3(1,5)
RS Nusalima 2(4,5) 1(2,4) 0(0) 0(0) 1(2,0) 4(2,0)
RS Santa Maria 13(29,5) 16(39,0) 6(28,6) 12(27,3) 8(16,3) 55(27,6)
RS Tabrani 0(0) 0(0) 1(4,8) 2(4,5) 0(0) 3(1,5)
RS Tentara 0(0) 0(0) 0(0) 1(2,3) 0(0) 1(0,5)
RSUD Arifin 18(40,9) 12(29,3) 7(33,3) 22(50,0) 33(67,3) 92(46,2)
Achmad
Total 44(100) 41(100) 21(100) 44(100) 49(100) 199(100)

4.2 Distribusi keganasan Berdasarkan gambar 4.3,


nasofaring berdasarkan jenis dapat dilihat bahwa keganasan
kelamin pada rumah sakit di Kota nasofaring berdasarkan jenis kelamin
Pekanbaru tahun 2009-2013 mengalami peningkatan-penurunan
Jumlah kasus keganasan setiap tahunnya. Angka tertinggi
nasofaring berdasarkan jenis pada laki-laki terdapat pada tahun
kelamin, didapatkan 130 (65,3%) 2011 sebanyak 76,2%. Sedangkan
kasus pada laki-laki dan 69 (34,7%) pada perempuan, angka kejadian
kasus pada perempuan pada rumah yang paling meningkat terdapat pada
sakit di Kota Pekanbaru. Dapat tahun 2012, yaitu 38,6% .
dilihat pada gambar 4.3. Berdasarkan tabel 4.2,
didapatkan angka kejadian pada laki-
laki lebih banyak di setiap tipe
histopatologis dibanding perempuan.
Pada laki-laki, angka kejadian WHO
tipe 1 (1,5%), WHO tipe II (30,0%),
dan WHO tipe III (68,5%).
Sedangkan pada perempuan, angka
kejadian WHO tipe I (1,4%), WHO
Gambar 4.3 Distribusi keganasan tipe II (30,4%), dan WHO tipe III
nasofaring berdasarkan jenis (68,1%).
kelamin pada rumah sakit di Kota
Pekanbaru berdasarkan tahun
2009-2013

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 5


Tabel 4.2 Distribusi tipe 1,5% <15 tahun
1,5% 4,5%
histopatologis keganasan 9,0% 15-24 tahun
nasofaring berdasarkan jenis 13,1% 25-34 tahun
18,1%
kelamin pada rumah sakit di Kota 35-44 tahun
24,1%
Pekanbaru tahun 2009-2013 28,1% 45-54 tahun

Jenis_Kelamin 55-64 tahun


Total
Diagnosis_PA LK PR 65-74 tahun
(%)
(%) (%) >74 tahun
Keratinizing
squamous cell 2 1 3 Gambar 4.4 Distribusi keganasan
carcinoma (1,5) (1,4) (1,5)
(WHO tipe I) nasofaring berdasarkan usia pada
rumah sakit di Kota Pekanbaru
Non keratinizing
squamous cell 39 21 60 tahun 2009-2013
carcinoma (30,0) (30,4) (30,2)
(WHO tipe II)
Berdasarkan tabel 4.3,
Undifferentiated
89 47 136 didapatkan tipe undifferentiated
carcinoma
(68,5) (68,1) (68,3)
(WHO tipe III) carcinoma (WHO tipe III) memiliki
Total
130 69 199 angka kejadian terbanyak pada
(100) (100) (100)
rentang usia 45-54 tahun, yaitu 41
(73,2%) kasus, diikuti tipe non
4.3 Distribusi keganasan
keratinizing squamous cell
nasofaring berdasarkan usia pada
carcinoma (WHO tipe II) terdapat
rumah sakit di Kota Pekanbaru
pada rentang usia 35-44 tahun, yaitu
tahun 2009-2013
31 (64,4%) dan tipe keratinizing
Distribusi penderita
squamous cell carcinoma (WHO tipe
keganasan nasofaring berdasarkan
I) terdapat pada rentang usia 25-54
usia pada rumah sakit di Kota
tahun.
Pekanbaru dapat dilihat pada gambar
4.4.
Berdasarkan gambar 4.4,
angka kejadian tertinggi kasus
keganasan nasofaring pada rumah
sakit di Kota Pekanbaru terdapat
pada rentang usia 45-54 tahun, yaitu
56 (28,1%) kasus, sedangkan yang
terendah terdapat pada rentang usia
,<15 tahun dan >74 tahun, yaitu 3
(1,5%) kasus.

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 6


Tabel 4.3 Distribusi tipe histopatologis keganasan nasofaring berdasarkan
kelompok usia pada rumah sakit di Kota Pekanbaru tahun 2009-
2013
Usia
Tipe
Histopa- 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 >74
tologis <15 tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun Total
WHO 0 0 1 1 1 0 0 0 3
tipe I (0,0%) (0,0%) (3,8%) (2,1%) (1,8%) (0,0%) (0,0%) (0,0%) (1,5%)
WHO 1 1 10 16 14 12 5 1 60
tipe II (33,3%) (11,1%) (38,5%) (33,3%) (25,0%) (33,3%) (27,8%) (33,3%) (30,2%)
WHO 2 8 15 31 41 24 13 2 136
tipe III (66,7%) (88,9%) (57,7%) (64,6%) (73,2%) (66,7%) (72,2%) (66,7%) (68,3%)
Total 3 9 26 48 56 36 18 3 199
(100%) (100%) (100%) (100%) (100%) (100%) (100%) (100%) (100%)

4.4 Distribusi keganasan Berdasarkan tabel 4.4,


nasofaring menurut tipe didapatkan angka terbanyak terdapat
histopatologis pada rumah sakit di pada tipe undifferentiated carcinoma
Kota Pekanbaru tahun 2009-2013 (WHO tipe III), yaitu sebanyak 136
Distribusi keganasan (68,3%) kasus. Kemudian diikuti tipe
nasofaring menurut tipe non keratinizing squamous cell
histopatologis yang sesuai dengan carcinoma (WHO tipe II), yaitu
klasifikasi berdasarkan kriteria WHO sebanyak 60 (30,2%) kasus dan tipe
dapat dilihat pada tabel 4.4 dan keratinizing squamous cell
gambar 4.5. carcinoma (WHO tipe I) memiliki
angka terendah, yaitu 3 (1,5%) kasus
Tabel 4.4 Distribusi keganasan pada rumah sakit di Kota Pekanbaru.
nasofaring berdasarkan tipe Keratinizi
80.0% 77.3% ng
75.6% 71.4%
histopatologis pada rumah sakit di squamous
cell
70.0% 65.3% carcinom
Kota Pekanbaru tahun 2009-2013 a (WHO
ICD-O Tipe 60.0% 54.5% tipe I)
Histopatologis n (%)
50.0% 45.5% Non
8071/3 Keratinizing 3 1.5 keratinizi
ng
squamous cell 40.0% squamous
32.7%
carcinoma 28.6%
cell
carcinom
(WHO tipe I) 30.0%
a (WHO
22.0% 20.5%
8072/3 Non keratinizing 60 30.2 tipe II)
20.0% Undiffere
squamous cell ntiated
carcinoma 10.0% carcinom
(WHO tipe II) 2.4% 2.3% 2.0% a (WHO
.0% .0%
tipe III)
8020/3 Undifferentiated 136 68.3 .0%
2009 2010 2011 2012 2013
carcinoma
(WHO tipe III)
Gambar 4.5 Distribusi keganasan
Total 199 100.0
nasofaring berdasarkan tipe
histopatologis pada rumah sakit di
Kota Pekanbaru tahun 2009-2013

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 7


honorer, pensiunan, pedagang dan
Berdasarkan gambar 4.5, pekerja lepas.
dapat dilihat angka kejadian tertinggi Swasta

terdapat pada tipe undifferentiated IRT

carcinoma (WHO tipe III) di tahun Wiraswasta


2012 (77,3%) dan yang terendah di 26(13,1%) Petani
tahun 2009 (54,5%). Kemudian 32(16,1%)
66(33,2%) Pegawai
diikuti tipe non keratinizing
Pelajar/Maha
squamous cell carcinoma (WHO tipe siswa
II) memiliki angka tertinggi pada Pensiunan
32(16,1%)
tahun 2009 (45,5%) dan yang Pedagang
5(2,5%)
terendah terdapat pada tahun 2012 23(11,6%)
Pekerja lepas
(20,5%), sedangkan tipe keratinizing 1(0,5%)
Honorer
1(0,5%)
squamous cell carcinoma (WHO tipe 10(5,0%)
Tidak ada
I) memiliki angka kejadian tertinggi 1(0,5%) 2(1,0%)
data
pada tahun 2010 (2,4%) dan yang Gambar 4.6 Distribusi keganasan
terendah terdapat pada tahun 2013 nasofaring berdasarkan pekerjaan
(2,0%) pada rumah sakit di Kota pada rumah sakit di Kota
Pekanbaru tahun 2009-2013. Pekanbaru tahun 2009-2013

4.5 Distribusi keganasan Berdasarkan tabel 4.5, dapat


nasofaring menurut pekerjaan dilihat pada tahun 2009 dan 2011
pada rumah sakit di Kota jenis pekerjaan yang memiliki angka
Pekanbaru tahun 2009-2013 terbanyak adalah petani, jenis
Distribusi penderita pekerjaan IRT memiliki angka
keganasan nasofaring berdasarkan terbanyak tahun 2010 dan 2012, jenis
pekerjaan pada rumah sakit di Kota pekerjaan swasta pada tahun 2013,
Pekanbaru dapat dilihat pada gambar sedangkan data pekerjaan yang tidak
4.6 dan tabel 4.5. lengkap memiliki angka terbanyak
Berdasarkan gambar 4.6, pada tahun 2009 pada rumah sakit di
dapat dilihat jenis pekerjaan dengan Kota Pekanbaru tahun 2009-2013.
angka terbanyak pada keganasan
nasofaring terdapat pada petani dan
IRT sebanyak 32 orang (16,1%),
swasta 26 orang (13,1%), wiraswasta
23 orang (11,6%), dll. Data
pekerjaan yang tidak lengkap
sebanyak 67 orang (33,2%),
sedangkan yang termasuk dalam
kategori lain-lain, yaitu
pelajar/mahasiswa, pegawai,

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 8


Tabel 4.5 Distribusi keganasan nasofaring berdasarkan pekerjaan pada
rumah sakit di Kota Pekanbaru tahun 2009-2013
Pekerjaan Tahun
2009 (%) 2010 (%) 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%) Total (%)
Swasta 4(9,1) 3(7,3) 3(14,3) 6(13,6) 10(20,4) 26(13,1)
IRT 5(11,4) 7(17,1) 3(14,3) 9(20,5) 8(16,3) 32(16,1)
Wiraswasta 1(2,3) 6(14,6) 1(4,8) 7(15,9) 8(16,3) 23(11,6)
Petani 10(22,7) 5(12,2) 5(23,8) 7(15,9) 5(10,2) 32(16,1)
Pegawai 0(0,0) 1(2,4) 1(4,8) 2(4,5) 1(2,0) 5(2,5)
Pelajar/Mahasiswa 2(4,5) 3(7,3) 0(0,0) 1(2,3) 4(8,2) 10(5,0)
Pensiunan 1(2,3) 0(0,0) 1(4,8) 0(0,0) 0(0,0) 2(1,0)
Pedagang 0(0,0) 1(2,4) 0(0,0) 0(0,0) 0(0,0) 1(0,5)
Pekerja lepas 0(0,0) 0(0,0) 0(0,0) 1(2,3) 0(0,0) 1(0,5)
Honorer 0(0,0) 0(0,0) 0(0,0) 0(0,0) 1(2,0) 1(0,5)
Tidak ada data 21(47,7) 15(36,6) 7(33,3) 11(25,0) 12(24,5) 66(33,2)
Total 44(100) 41(100) 21(100) 44(100) 49(100) 199(100)

PEMBAHASAN kasus. Jumlah kasus keganasan


5.1 Insiden kasus keganasan nasofaring pada tahun 2011
nasofaring tahun 2009-2013 mengalami penurunan kemungkinan
Penelitian ini dilakukan pada disebabkan oleh menurunnya jumlah
laboratorium sentra diagnostik kasus keganasan nasofaring di RSUD
patologi anatomi dan rumah sakit di Arifin Achmad Provinsi Riau,
Kota Pekanbaru. Berdasarkan data menurunnya jumlah kunjungan
dari Dinas Kesehatan Kota pasien atau adanya lose data dan
Pekanbaru, jumlah seluruh rumah kurangnya kerapian dalam
sakit yang ada di Kota Pekanbaru penyimpanan data.
adalah 26 rumah sakit dengan 15 Angka kejadian terbanyak
Rumah Sakit Umum (RSU), dan 9 terdapat pada RSUD Arifin Achmad,
Rumah Sakit Khusus.19 Dasi hasil yaitu 92 (46,2%) kasus, sedangkan
penelitian, didapatkan penderita angka kejadian terendah terdapat
keganasan nasofaring pada rumah pada rumah sakit Tentara dan
sakit di Kota Pekanbaru tahun 2009- Bhayangkara, yaitu 1 (0,5%) kasus.
2013 sebanyak 199 kasus. Angka Hal ini disebabkan RSUD Arifin
penemuan keganasan nasofaring dari Achmad Provinsi Riau merupakan
tahun 2009-2013 kenaikan dan rumah sakit pusat rujukan.35 Setelah
penurunan setiap tahunnya. Angka RSUD Arifin Achmad, jumlah kasus
terbanyak terdapat pada tahun 2013, keganasan terbanyak terdapat pada
yaitu 49 (24,6%) kasus, sedangkan RS Santa Maria, yaitu 55 (27,6%)
angka terendah terdapat pada tahun kasus dan RS Awal Bros 24 (12,1%)
2011 yaitu sebanyak 21 (10,6%) kasus. Pada laboratorium sentra

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 9


diagnostik patologi anatomi, masih digabung dengan penyakit
didapatkan jumlah kasus keganasan lainnya. Seharusnya pengumpulan
nasofaring terbanyak terdapat pada dan pencatatan kasus keganasan yang
RSUD Arifin Achmad, yaitu ada pada rumah sakit dibuat khusus
sebanyak (46,2%), lalu diikuti agar mempermudah dalam
Laboratorium Amanah, yaitu mengumpulkan dan
sebanyak (12,2%) dan yang memiliki mengklasifikasikan informasi tentang
jumlah kasus paling sedikit terdapat data keganasan dan dapat
pada Laboratorium Sejawat, yaitu menghasilkan statistik kejadian
(2,5%). kanker.16
Penelitian yang dilakukan
oleh Roezin dkk, di RSCM 5.2 Distribusi keganasan
didapatkan lebih dari 100 kasus nasofaring berdasarkan jenis
keganasan nasofaring dalam setahun, kelamin pada rumah sakit di Kota
rumah sakit Hasan Sadikin Pekanbaru tahun 2009-2013
didapatkan 60 kasus, di Palembang Berdasarkan penelitian yang
didapatkan 25 kasus, di Denpasar dilakukan dari tahun 2009-2013 pada
didapatkan 15 kasus dan di Padang rumah sakit di Kota Pekanbaru,
didapatkan 11 kasus.11 Di RSUP Dr. didapatkan jumlah keganasan
wahidin Sudirohusodo Makasar, oleh nasofaring pada laki-laki sebanyak
Erfinawati dkk (2014), didapatkan 75 130 orang (65,3%), sedangkan
kasus.20 Penelitian yang dilakukan perempuan sebanyak 69 orang
Tsai et al di Taiwan didapatkan 107 (34,7%). Berdasarkan distribusi tipe
kasus.21 Di Malaysia, oleh Amstrong histopatologis menurut jenis kelamin
et al didapatkan 270 kasus.22 didapatkan angka kejadian pada laki-
Berdasarkan literatur, laki lebih banyak di setiap tipe
penyebab terjadinya keganasan histopatologis dibanding perempuan.
nasofaring disebabkan oleh faktor Pada laki-laki, angka kejadian WHO
pola hidup pasien, faktor lingkungan tipe 1 (1,5%), WHO tipe II (30,0%),
dan faktor lainnya. Hal ini didukung dan WHO tipe III (68,5%).
oleh penelitian yang dilakukan oleh Sedangkan pada perempuan, angka
Adham dkk (2012) dan Yulin (2011) kejadian WHO tipe I (1,4%), WHO
didapatkan bahwa kebiasaan tipe II (30,4%), dan WHO tipe III
mengkonsumsi makanan cepat saji, (68,1%).
makanan yang diawetkan, terpapar Hasil penelitian yang
zat karsinogen, dll dapat dilakukan oleh Wulan dkk (2012) di
meningkatkan angka kejadian RSUP H. Adam Malik didapatkan
23,9
keganasan nasofaring. Pencatatan laki-laki sebanyak 103 orang dan
kasus keganasan pada rumah sakit di perempuan sebanyak 48 orang.24
Kota Pekanbaru masih belum rapi, Penelitian yang dilakukan Yenita
belum adanya formulir khusus untuk (2008) di bagian Patologi Anatomi
kasus keganasan sehingga pencatatan FK-Unand, RSUP Dr. M. Djamil
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 10
Padang dan RSU Dr. Achmad Hasil penelitian pada rumah
Muchtar Bukittinggi dijumpai angka sakit di Kota Pekanbaru tahun 2009-
kejadian tertinggi terdapat pada laki- 2013 didapat angka penemuan
laki sebanyak 32 orang dibanding terbanyak terdapat pada rentang usia
perempuan, yaitu sebanyak 13 45-54 tahun, yaitu sebanyak 57 kasus
orang.25 Penelitian ini juga serupa (28,6%), diikuti pada rentang usia
dengan hasil penelitian yang 35-44 tahun sebanyak 48 kasus
dilakukan oleh Kurniawan dkk (24,1%), sedangkan yang terendah
(2012) di RSCM didapatkan angka terdapat pada usia < 15 tahun dan >
kejadian laki-laki lebih tinggi 74 tahun, yaitu 3 kasus (1,5%).
(70,4%) dibandingkan perempuan Berdasarkan distribusi tipe
(29,6%) dengan perbandingan 2,4:1.9 histopatologis menurut usia, tipe
Penelitian oleh Aminullah et al undifferentiated carcinoma (WHO
(2012) didapatkan laki-laki lebih tipe III) memiliki angka kejadian
banyak 34 (75,6%) daripada terbanyak pada rentang usia 45-54
perempuan 11 (24,4%) dengan tahun, yaitu 41 (73,2%) kasus, diikuti
perbandingan 3: 1.26 Penelitian yang tipe non keratinizing squamous cell
dilakukan oleh Nasution (2007), di carcinoma (WHO tipe II) terdapat
Medan didapatkan perbandingan pada rentang usia 35-44 tahun, yaitu
2,84:1.27 Penelitian oleh Yenita 16 (33,3%) kasus dan tipe
(2008) didapatkan distribusi tipe keratinizing squamous cell
histopatologis berdasarkan jenis carcinoma (WHO tipe I) terdapat
kelamin lebih banyak menyerang pada rentang usia 25-54 tahun.
laki-laki dibanding perempuan.25 Penelitian yang dilakukan
Berdasarkan penelitian yang oleh Yulin (2011), didapatkan angka
dilakukan dapat disimpulkan bahwa kejadian keganasan nasofaring
angka kejadian pria lebih tinggi terbanyak pada usia 40 tahun
dibandingkan perempuan. Sesuai sebanyak 42 orang (32,80%),
dengan literatur, hal ini diperkirakan sedangkan usia termuda terdapat
kerena pengaruh dari pola hidup dan pada usia <20 tahun sebanyak 4
kebiasaan pada laki-laki berbeda orang (3,10%)23 Hasil penelitian oleh
dibandingkan dengan perempuan, Delfitri Munir, terdapat perbedaan
seperti kebiasaan konsumsi alkohol pada usia termuda, yaitu didapatkan
dan merokok. Selain itu, laki-laki pada usia 21 tahun.20 Terdapat juga
juga lebih sering terpapar oleh zat perbedaan pada penelitian Sudiasa
karsinogen yang dapat memicu dkk (2011), didapatkan usia termuda
terjadinya kanker.6,7,8,23,28 36 tahun dan usia tertua 55 tahun,
sedangkan usia terbanyak terdapat
5.3 Distribusi keganasan pada rentang usia 50-54 tahun.28
nasofaring berdasarkan usia pada Penelitian yang dilakukan oleh Loh
rumah sakit di Kota Pekanbaru et al, menunjukkan angka kejadian
tahun 2009-2013 terbanyak terdapat pada rentang usia
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 11
41-50 tahun. Angka kejadian terdapat pada undifferentiated
terendah terdapat pada <16 tahun dan carcinoma (WHO tipe III), yaitu 136
<50 tahun (Kurniawan dkk,2012).9 kasus (68,3%). Kemudian diikuti tipe
Penelitian Barnes (2001), didapatkan non keratinizing squamous cell
25% tipe keratinizing squamous cell carcinoma (WHO tipe II), yaitu 60
carcinoma pada usia < 40 tahun. kasus (30,2%) dan tipe keratinizing
Penelitian Hording et al (1994), squamous cell carcinoma (WHO tipe
didapatkan 60% tipe undifferentiated I) memiliki angka terendah, yaitu 3
carcinoma menyerang segala usia kasus (1,5%) pada rumah sakit di
termasuk anak-anak.29 Terdapat Kota Pekanbaru.
perbedaan pada penelitian Yenita Penelitian Nasution (2007)
(2008) didapatkan WHO tipe 1 didapatkan WHO tipe 3 sebanyak
banyak menyerang pada kelompok 38,6%, WHO tipe 2 sebanyak 33,3%
usia 40,7 tahun, WHO tipe 2 pada dan WHO tipe 1 sebanyak 28,1%.27
usia 50,6 tahun, dan WHO tipe 3 Sesuai dengan penelitian Chen et al,
pada usia 41,05 tahun. WHO tipe 2 didapatkan tipe undifferentiated
merupakan tipe yang memiliki angka carcinoma yang memiliki angka
penemuan terbanyak pada kelompok kejadian terbanyak, yaitu 73,1%.
usia 51-60 tahun dan kelompok usia Haryanto (2010) juga didapatkan tipe
anak <15 tahun.25,30 undifferentiated carcinoma yang
Berdasarkan literatur, memiliki angka terbanyak, yaitu
keganasan nasofaring menyerang 88,6%.31 Penelitian yang dilakukan
pada usia sekitar 40 tahun oleh Yenita (2008), didapatkan hasil
dikarenakan sistem imun menurun yang setara, yaitu tipe
pada usia tersebut, sehingga antigen undifferentiated carcinoma dan tipe
virus EBV tidak dapat diserang oleh keratinizing squamous cell
sistem imun.20 Keganasan carcinoma memiliki angka kejadian
nasofaring muncul pada kelompok yang sama, yaitu 17 kasus (37,8%),
usia 40 juga dikarenakan proses dari sedangkan tipe keratinizing
karsinogenesis bersifat multistep dan squamous cell carcinoma memiliki
multifaktor, sehingga perlu waktu angka terendah, yaitu 11 kasus
yang cukup lama setelah terpapar (24,4%).25 Terdapat perbedaan pada
oleh faktor risiko.23 penelitian Tao dan Chan (2007), tipe
keratinizing squamous cell
5.4 Distribusi keganasan carcinoma lebih tinggi daripada tipe
nasofaring menurut tipe non keratinizing squamous cell
histopatologis pada rumah sakit di carcinoma. Tipe keratinizing
Kota Pekanbaru tahun 2009-2013 squamous cell carcinoma memiliki
Distribusi keganasan angka kejadian, yaitu 25 % di
nasofaring menurut tipe Amerika Utara dan kurang dari 2 %
histopatologis berdasarkan kriteria di Cina Selatan, sedangkan tipe non
WHO, angka terbanyak terbanyak keratinizing squamous cell
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 12
carcinoma memiliki angka kejadian, Riau. Berdasarkan literatur, paparan
yaitu 12% di Amerika Utara dan bahan pengawet formaldehyde yang
kurang dari 3% di Cina Selatan.30 didapatkan pada makanan yang di
Kebiasaan mengkonsumsi awetkan merupakan zat karsinogen
ikan asin sejak usia dini yang sering mencapai daerah
meningkatkan risiko terjadinya nasofaring melalui inhalasi dan oral,
keganasan nasofaring. Hal ini tetapi tidak langsung menimbulkan
didukung oleh teori bahwa tipe keganasan nasofaring. Formaldehyde
undifferentiated carcinoma (WHO yang telah mencapai area nasofaring
tipe III) berkaitan dengan makanan tersebut akan bermetabolisme
yang diawetkan dan infeksi EBV9, menjadi bersifat reaktif dalam ikatan
didapatkan bahwa masyarakat dengan DNA (ultimate-carcinogen),
Indonesia memiliki kebiasaan lalu terjadi mutasi genetik dan
memakan makanan cepat saji dan menyebabkan terjadinya keganasan
makanan yang diawetkan sehingga nasofaring. Zat karsinogen lainnya
memicu terjadinya peningkatan seperti peptisida, dll juga
jumlah kasus pada tipe berpengaruh terhadap terjadinya
undifferentiated carcinoma (WHO keganasan nasofaring.7,23
tipe III). Pada tipe non keratinizing
squamous cell carcinoma, juga 5.5 Distribusi keganasan
memilki faktor risiko yang berkaitan nasofaring menurut pekerjaan
dengan faktor makanan dan infeksi pada rumah sakit di Kota
EBV. Kedua tipe ini memiliki angka Pekanbaru tahun 2009-2013
kejadian terbanyak pada daerah Berdasarkan dari hasil
endemis, yaitu di China dan Asia.7,9 penelitian, dapat dilihat jenis
Sedangkan tipe keratinizing pekerjaan yang memiliki angka
squamous cell carcinoma berkaitan terbanyak pada keganasan nasofaring
dengan mengkonsumsi zat terdapat pada petani dan IRT, yaitu
karsinogen, alkohol dan merokok, sebanyak 32 orang (16,1%), swasta
tipe ini banyak dijumpai di 26 orang (13,1%), wiraswasta 23
Amerika.3,7,15 orang (11,6%), dll. Data pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian, yang tidak lengkap sebanyak 67
dapat dilihat bahwa Provinsi Riau, orang (33,7%), sedangkan yang
khususnya Kota Pekanbaru memiliki termasuk dalam kategori lain-lain,
angka penemuan terbanyak pada tipe yaitu pelajar/mahasiswa, pegawai,
undifferentiated carcinoma. Hal ini honorer, pensiunan, pedagang dan
kemungkinan disebabkan kebiasaan pekerja lepas. Terdapat perbedaan
mengkonsumsi makanan yang pada penelitian Wulan dkk (2012),
diawetkan, seperti ikan asin atau ikan didapatkan pekerjaan wiraswasta
salai maupun makanan kaleng serta memiliki angka terbanyak, yaitu 52
pengaruh paparan zat karsinogen orang (34,4%) dan yang terendah
pada sebagian mata pencarian warga terdapat pada nelayang, yaitu 1 orang
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 13
( 0,7%).39 Penelitian oleh Sudiasa kemungkinan disebabkan
(2012) juga terdapat perbedaan, menurunnya jumlah kunjungan
angka terbanyak terdapat pada pasien atau adanya lose data dan
pegawai, yaitu 4 orang (25,0%) dan kurangnya kerapian dalam
yang terendah terdapat pada Swasta, penyimpanan data. Jumlah kasus
yaitu 3 orang (18,8%).28 Sedangkan terbanyak terdapat pada RSUD
penelitian oleh Erfinawati dkk Arifin Achmad dengan jumlah
(2014), didapatkan perkerjaan yang kasus, yaitu 92 (46,2%) kasus,
berisiko (pekerja yang terpapar debu, dan paling sedikit terdapat pada
asap, pestisida, dll) sebanyak 81,8%, RS Bhayangkara dan RS
dan pekerja yang kurang berisiko Tentara, yaitu sebanyak 1 (0,5%)
sebanyak 18,2%.20 kasus. Jumlah kasus terbanyak
Berdasarkan literatur, terbanyak pada laboratorium
didapatkan adanya hubungan antara sentra diagnostik patolgi
kasus keganasan nasofaring dengan anatomi terdapat pada RSUD
pekerjaan, dimana para pekerja yang Arifin Achmad, yaitu sebanyak
terpapar zat karsinogen selama 92 (46,2%) kasus dan jumlah
kurang lebih 10 tahun akan kasus paling sedikit terdapat
menimbulkan gejala keganasan pada laboratorium Sejawat, yaitu
nasofaring, seperti petani yang 5 (2,5%) kasus.
terpapar oleh pestisida.23 Penelitian 2. Distribusi keganasan nasofaring
Adams (2007) juga menerangkan berdasarkan jenis kelamin
bahwa terdapat hubungan antara terbanyak terdapat pada laki-
pekerjaan yang berhubungan dengan laki, yaitu sebanyak 130 orang
substansi berbahaya di lingkungan (65,3%), sedangkan perempuan
kerja terhadap keganasan sebanyak 69 orang (34,7%).
24
nasofaring. Angka tertinggi pada laki-laki
terdapat pada tahun 2011
SIMPULAN sebanyak 76,2% dan yang
1. Jumlah kasus keganasan terendah terdapat pada tahun
nasofaring berdasarkan hasil 2012 sebanyak 61,4%.
pemeriksaan histopatologi pada Sedangkan pada perempuan ,
laboratorium sentra diagnostik angka tertinggi terdapat pada
patologi anatomi dan rumah tahun 2012 sebanyak 38,6% dan
sakit di Kota Pekanbaru tahun yang terendah terdapat pada
2009-2013 didapatkan sebanyak tahun 2011 sebanyak 23,8%.
189 kasus. Angka terbanyak Berdasarkan distribusi tipe
terdapat pada tahun 2013, yaitu histopatologis menurut jenis
49 (24,6%) kasus, sedangkan kelamin, didapatkan angka
angka terendah terdapat pada terbanyak terdapat pada laki-laki
tahun 2011 yaitu sebanyak 21 dibanding perempuan. Pada laki-
(10,6%) kasus. Hal ini laki, WHO tipe I (1,5%), WHO
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 14
tipe II (30,0%) dan WHO tipe III keratinizing squamous cell
(68,5%). Sedangkan pada carcinoma (WHO tipe I)
perempuan, WHO tipe I (1,4%), memiliki angka terendah, yaitu 3
WHO tipe II (30,4%), dan WHO (1,5%) kasus pada rumah sakit
tipe III (68,1%). di Kota Pekanbaru.
3. Rentang usia terbanyak pada 5. Jenis pekerjaan terbanyak yang
penderita keganasan nasofaring dijumpai pada keganasan
dari 199 sampel terdapat pada nasofaring terdapat pada petani
usia 45-54 tahun sebanyak 56 dan IRT, yaitu sebanyak 32
kasus (28,1%), diikuti pada orang (16,1%), swasta 26 orang
rentang usia 35-44 tahun (13,1%), wiraswasta 23 orang
sebanyak 48 kasus (24,1%), (11,6%), dll. Data pekerjaan
sedangkan yang terendah yang tidak lengkap sebanyak 67
terdapat pada usia < 15 tahun orang (33,7%), sedangkan yang
dan > 74 tahun, yaitu 3 kasus termasuk dalam kategori lain-
(1,5%). Berdasarkan distribusi lain, yaitu pelajar/mahasiswa,
tipe histopatologi menurut usia, pegawai, honorer, pensiunan,
tipe undifferentiated carcinoma pedagang dan pekerja lepas.
(WHO tipe III) memiliki angka
kejadian terbanyak pada rentang UCAPAN TERIMA KASIH
usia 45-54 tahun, yaitu 41 Penulis mengucapkan terima
(73,2%) kasus, diikuti tipe non kasih yang sebesar-besarnya kepada
keratinizing squamous cell Fakultas Kedokteran Universitas
carcinoma (WHO tipe II) Riau dan laboratorium sentra
terdapat pada rentang usia 35-44 diagnostik patologi anatomi serta
tahun, yaitu 16 (33,3%) kasus rumah sakit di Kota Pekanbaru atas
dan tipe keratinizing squamous segala fasilitas kemudahan dan
cell carcinoma (WHO tipe I) kerjasama yang diberikan kepada
terdapat pada rentang usia 25-54 penulis selama melaksanakan
tahun. penelitian ini.
4. Distribusi keganasan nasofaring
menurut tipe histopatologis yang DAFTAR RUJUKAN
sesuai dengan klasifikasi 1. World Health Organization.
berdasarkan kriteria WHO, Cancer: new global cancer
didapatkan tipe undifferentiated country profiles. Switzerland:
carcinoma (WHO tipe III) WHO Publication;2015.
memiliki angka terbanyak, yaitu Available from:
136 (68,3%) kasus. Kemudian http://www.who.int/topics/cance
diikuti tipe non keratinizing r/en/
squamous cell carcinoma (WHO
tipe II), yaitu sebanyak 60 2. Sihaloho F, Kardinah, Komari
(30,2%) kasus dan tipe B, et al. Metastasis kelenjar
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 15
getah bening retrofaring pada 8. Hashibe M, Bernan P, Chuang
penderita karsinoma nasofaring Sc, et al. Interaction between
dengan pemeriksaan computed tabacco and alcohol use and the
tomography di Rumah Sakit risk of head and neck cancer:
Kanker “Dharmais”. Indonesian pooled analysis in the
Journal of Cancer. 2013; 7(4): international Head and Neck
136. Di unduh dari: Cancer Epidemiology
http://indonesianjournalofcancer. Consortium. Cancer
org/images/stories/2013/IJoC_20 Epidemiology, Biomarkers and
13_4_135.pdf Prevention 2009; 18(2): 541-50.
[update 2009 Feb; cited 2014
3. American Cancer Society. Aug]. Available from:
Nasopharyngeal cancer. USA: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pu
American Cancer Society bmed/19190158
Publication;2015. Available
from: 9. Adham M, Kurniawan AN,
http://www.cancer.org/acs/group Muhtadi AI, et al.
s/cid/documents/webcontent/003 Nasopharyngeal carcinoma in
124-pdf.pdf Indonesia: epidemiology,
incidence, signs, and symptoms
4. Chung KW, Chung HM. at presentation. Chin J Cancer.
Essential: Anatomi kepala dan 2012; 31 (4): 187-9.
leher. 7th ed. Gunardi S, editor.
Tangerang Selatan: Binarupa 10. Personaldi. Gambaran penderita
Aksara;2013. karsinoma nasofaring di RSUD
Arifin Achmad Pekanbaru
5. Ballenger JJ. Penyakit telinga, periode Januari 2009 - Desember
hidung, tenggorok, kepala dan 2011. [skripsi]: Universitas
leher. 3rd ed. Staf Ahli Bagian Riau;2012.
T.H.T. RSCM-FKUI Indonesia,
editor. Jakarta: Binarupa 11. Soepardi EA, Iskandar N,
Aksara;1994. Bashiruddin J, et al. Buku ajar
ilmu kesehatan telinga, hidung,
6. Rasjidi I. Buku ajar onkologi tenggorok, kepala & leher. Edisi
klinik. Jakarta: EGC; 2013. 7. Jakarta: FKUI; 2012.

7. Desen W. Buku ajar onkologi 12. Rumah Sakit Dharmais Pusat


klinis. Edisi 2. Jakarta: Fakultas Kanker Nasional. Statistik
Kedokteran Universitas kanker. Diunduh dari:
Indonesia; 2008. http://www.dharmais.co.id/index
.php/statistic-center.html

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 16


13. Departemen Kesehatan Republik 20. Erfinawati, Kadrianti E, Basri
Indonesia. Situasi penyakit M. Faktor-faktor yang
kanker, Jakarta: Pusat Data dan berhubungan dengan karsinoma
Informasi Departemen nasofaring di RSUP Dr. wahidin
Kesehatan RI; 2015. Diunduh Sudirohusodo Makasar. Jurnal
dari: Ilmiah Kesehatan Diagnosis.
http://www.depkes.go.id/downlo 2014; 4 (2).
ad.php?file=download/pusdatin/i
nfodatin/infodatin-kanker.pdf. 21. Adam AAM, Abdullah NE,
Hassan LAME, et al. Detection
14. Liberty S. Distribusi keganasan of Epstein-Barr Virus in
berdasarkan pemerikasaan nasopharyngeal carcinoma in
histopatologi di bagian patologi Sudanse by in situ hybridization.
anatomi RSUD Arifin Achmad Journal of cancer therapy. 2014;
Pekanbaru Tahun 2006-2008. 5.
[skripsi]: Universitas Riau;2010.
22. Amstrong RW, Kutty MK,
15. Kumar V, Cotran RS, Robins Dharmalingam SK. Incidence of
SL. Buku ajar patologi. Edisi 7. nasopharyngeal carcinoma in
Jakarta: EGC; 2007. Malaysia, with special reference
to the state of selangor.
16. Rumah Sakit Dharmais Pusat Br.J.Cancer. 1974; 30 (86).
Kanker Nasional. Registrasi
kanker. Diunduh dari: 23. Arditawati Y. Analisa hubungan
http://www.dharmais.co.id/index antara faktor risiko dengan tipe
.php/registrasi-cancer.html histopatologik pada karsinoma
nasofaring: FK UNDIP; 2011.
17. Li Z, Zong YS. Review of the
histological classification of 24. Melani W, Sofyan F.
nasopharyngeal carcinoma. J Karakteristik penderita kanker
Nasopharynx Carcinoma. 2014; nasofaring di Rumah Sakit H.
1 (61). Adam Malik Medan Tahun
2011. E-Jurnal FK-USU. 2013; 1
18. Salman SD. An atlas of the (1).
nasopharynx. USA: Parthenon
Publishing; 2003. 25. Yenita, Asri A. Studi
retrospektif karsinoma
19. Dinas Kesehatan Kota nasofaring di Sumatera
Pekanbaru. Profil kesehatan Barat:reevaluasi subtipe
Kota Pekanbaru tahun 2013; histopatologi berdasarkan
2014. klasifikasi WHO. Padang: FK
UNAND; 2008.
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 17
26. Aminullah, Y., Wiranto.,
Susilaningsih, N. Pengaruh
Kombinasi Vitamin C dan E
Dosis Tinggi Terhadap Sistem
Hemo- poetik Penderita Kanker
Kepala dan Leher yang
MendapatKemoterapi Cisplatin.
Jurnal Medica Hospitalia. 2012.
1 (2): 89-94.

27. Nasution II. Hubungan merokok


dengan karsinoma nasofaring.
[tesis]: Universitas Sumatera
Utara; 2007.

28. Sudiasa P, Tjekeg M, Puteri S


AA. Penurunan status gizi
pasien karsinoma nasofaring
setelah radioterapi dengan cobalt
– 60 di RSUP Sanglah. Jurnal
Ilmiah Kedokteran. 2011.

29. Wei K, Xu Y, Liu J, et al.


Histopathologival classification
of nasopharyngeal carcinoma.
Asian Pasific J Cancer. 2011.
12: 1141.

30. Novie AC, Cempako G,


Windiastuti E. Karsinoma
nasofaring pada anak:
karakteristik, tata laksana, dan
prognosis. Sari Pediatri. 2011;
13 (1).

31. Haryanto R, Saefuddin O M,


Boesoirie TS. Radiasi eksternal
karsinoma nasofaring sebagai
penyebab gangguan
sensorineural. MKB. 2010; 3
(42). 112.
JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 18