Anda di halaman 1dari 25

Gangguan Pendengaran akibat Bising

(Noise Induced Hearing Loss) dan Penatalaksanaanya


Anastasia Mudita Linanda
102013366
muditalinanda@gmail.com
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat korespondensi Jl. Arjuna Utara No 6, Jakarta Barat

Abstrak

Tuli akibat bising (Noise Induced Hearing Loss) adalah gangguan pendengaran menetap yang disebabkan
lamanya terpajan bising dengan intensitas kuat. Karena bising beresiko menyebabkan gangguan pendengaran,
maka pemerintah menetapkan nilai ambang batas kebisingan. Para pekerja sebelum pertengahan tahun 1960
terpajan bising dengan intensitas yang sangat tinggi tidak mengetahui alat dan cara melindungi pendengaran.
Sesuai dengan penyebabnya, hal yang paling baik untuk mencegah gangguan pendengaran akibat bising adalah
dengan menghindari bising. Jika tidak bisa menghindari bising maka diharuskan memakai alat pelindung telinga.
Alat pelindung telinga menurunkan intensitas suara untuk mencapar membrane telinga. Terdapat 2 jenis alat
pelindung telinga yaitu sumbat telinga dan sungkup telinga

Kata kunci : bising, Noise Induced Hearing Loss, penatalaksanaan

Abstract

Noise induced hearing loss is a permanent hearing impairment resulting from prolonged exposure to high levels
of noise. Because of occupational risk of noise induced hearing loss, there are government standards regulating
allowable noise exposure. People working before the mid1960s may have been exposed to higher levels of noise
where there were no laws mandating use of devices to protect hearing.. In accordance with the causes of
deafness, the best way to prevent future injury from noise is to avoid exposure to noise, If cannot avoid excessive
noise you should wear protectors. Hearing protection devices decrease the intensity of sound that reaches the
eardrum. They come in two forms: earplugs and earmuffs.

Keywords : noise, Noise Induced Hearing Loss,management

1
Pendahuluan

Kemajuan teknologi, penggunaan bahan kimia, perubahan sikap dan perilaku,


pengembangan sistem manajemen serta cara deteksi lingkungan kerja, berpengaruh pada
kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, yang tercermin pada peningkatan upaya
pengenalan, penilaian dan pengendalian aspek tersebut sebagai kegiatan perlindungan bagi
pekerja. Pendapat bahwa kejadian kecelakaan, timbulnya penyakit atau peristiwa bencana lain
yang mungkin dialami oleh pekerja merupakan resiko yang harus dihadapi tanpa bisa
dihindari, sekarang mulai banyak ditinggalkan. Sebaliknya, kegiatan hygiene perusahaan,
ergonomi, kesehatan dan keselamatan kerja yang mengupayakan terciptanya tempat kerja
yang aman, nyaman dan higienis serta tenaga kerja sehat, selamat dan produktif semakin
dibutuhkan.
Dalam hubungan dengan industri, maka faktor yang paling berbahaya bagi keutuhan
faal pendengaran ialah suara bising (noise). Bising industri sudah lama merupakan masalah
yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman
serius bagi pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran
yang sifatnya permanen. Sedangkan bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan kerugian
ekonomi karena biaya ganti rugi. Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan
terhadap pabrik dan pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja secara berkala.1,2
Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss / NIHL) adalah tuli akibat
terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya
diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Tuli akibat bising merupakan jenis ketulian
sensorineural yang paling sering dijumpai setelah presbikusis. Secara umum bising adalah
bunyi yang tidak diinginkan. Pada makalah ini akan dibahas lebih jelas tentang Gangguan
pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss / NIHL) dan cara pengendaliannya.1,2

2
Diagnosis klinis

A. Anamnesis

Keluhan-keluhan khas yang ditimbulkan oleh hilangnya pendengaran adaiah:


“Saya dapat mendengar bila pada satu orang saja, tapi tidak dapat bila saya
bersama sekelompok orang atau pada kcadaan bcrisik.” “Banyak orang yang
bcrgumam sckarang ini.” “Anak saya hanya mendengar apa yang ia ingin dengar."
“Anak saya sudah berusia lebih dari satu tahun namun masih belum dapat bicara.”
“Istri saya (untuk beberapa alasan, seringkali oleh sang istri) berkata bahwa saya
tidak lagi memperhatikan kata-kalanya, dan ia minta pendengaran saya
diperiksa.”1,2 tanyakan sudah berapa lama keluhannya, apakah hilang timul atau
terus menerus, gangguan pendengarannya pada telinga sebelah mana

Riwayat pekerjaan
Hal yang. harus ditanyakan ketika melakukan pemeriksaan kasus tuli
akibat kerja adalah peristiwa yang terjadi di tempat kerja pada saat awal terganggu
pendengarannya. Untuk memperjelas awitan dan progresivitas gangguan
pendengaran, dibutuhkan hasil-hasil' audiogram yang pernah dilaksanakan.
Seluruh riwayat pekerjaan pekerja perlu ditanyakan pula secara mendetail,
termasuk berbagai faktor yang dirasakan memperberat gangguan pendengarannya,
seperti jabatan, jenis tugas yang dilaksanakan, dan lama kerja.3
Gangguan pendengaran umumnya terjadi setelah pajanan bising lebih dari
5 tahun, progresivitas berkurang bila pajanan bising dihentikan, dan menjadi
permanen bila terpajan terus-menerus selama lebih dari 10 tahun. Hal ini
bergantung pada lamanya pajanan pada tiap tahapan tugas per hari kerja dan umur
pada masa masing-masing aktivitas kerja. Walaupun tanpa pajanan bising,
gangguan pendengaran bertambah sesuai dengan bertambahnya umur
(presbikusis). Oleh karena itu, selain beratnya gangguan pendengaran akibat
bertambahnya umur, juga yang diakibatkan pajanan bising di tempat kerja, harus
mempertimbangkan. Hal-hal lain yang perlu ditanyakan meliputi; lokasi fisik
tempat kerja, produk yang dihasilkan, jenis pelayanan tugas kerja, kondisi alat
pelindung diri yang digunakan, frekuensi, dan lama penggunaannya selama
bertugas, intensitas bising di tempat kerja, serta jenis bising (spektrum frekuensi).
Untuk terjadinya gangguan pendengaran, bising ' dengan frekuensi yang lebih dari
3
500 Hz mempunyai potensi yang lebih besar dibandingkan dengan bising dengan
frekuensi yang lebih rendah. Juga perlu ditanyakan suasana di sekeliling sumber
bising, jarak keterpajanan dari sumber bising, dan posisi telinga dari sumber bising
pada saat bekerja. Riwayat bertugas di kemiliteran perlu untuk ditanyakan, karena
gangguan pendengaran pada 4000 Hz sering kali ditemukan pada individu yang
terpajan suara tembakan secara rutin.3

Riwayat keluarga
Riwayat keluarga perlu diketahui untuk menyingkirkan adanya gangguan
pendengaran akibat faktor keturunan.

Riwayat penyakit yang pernah diderita


Beberapa penyakit yang pernah diderita sejak dalam kandungan perlu
ditanyakan, karena penyakit tersebut dapat menyebabkan gangguan pendengaran
sebelum terpajan bising di tempat kerja, seperti infeksi intrauterin , kelahiran
premature, hipoksia perinatal, hiperbilirubinemia perinatal, meningitis, kelainan
kongenital pada telinga, kepala, atau leher, benturan keras pada kepala atau
telinga.1-3

Penggunaan obat atau keracunan obat ototoksik, seperti mminoglikosida


(streptomisin, kanamisin, gentamisin), cisplatin, lasix, aspirin, toluena

Beberapa aktivitas di luar tempat kerja dapat menyebabkan gangguan


pendengaran, seperti membuat kerajinan dari bahan baku kayu atau logam,
reparasi otomotif, balap motor/mobil, menembak, musik keras, mengemudi
tractor, dll.1-3

Pada kasus ini didapatkan hasil anamnesis adalah seorang laki-laki 45 tahun,
datang dengan keluhan pendengaran menurun pada telinga kiri, sejak 1 bulan yang
lalu. Keluhan ini sudah dirasakan 3 tahun yang lalu, tetapi makin menurun sejak
sebulan terakhir. Pasien sudah berobat ke puskesmas tetapi keluhan tidak hilang
setelah meminum obat yang diberikan; tidak ada nyeri, tidak keluar cairan dari
telinga, tidak ada demam, serta tidak ada riwayat mengorek telinga. Untuk riwayat
pekerjaannya pasien sudah 5 tahun bekerja di pabrik mobil, bagian perakitan.
4
B. Pemeriksaan fisik

Pertama dilakukan pemeriksaan tanda vital pasien seperti tekanan darah,


denyut nadi, laju pernafasan dan suhu tubuh. Setelah itu dilakukan pemeriksaan
umum dari atas kepala hingga ke kaki.
Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik telinga hindung dan tenggorokan
(THT) serta otoskopi harus dilakukan. Juga dilakukan pemeriksaan penala. dan
pemeriksaan ini harus menyingkirkan adanya serumen, infeksi, dan perforasi
membran timpani.4,5
Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan telinga adalah lampu kepala,
corong telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga dan
garputala.
Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan kepala
lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga
dan membran timpani. Mula-mula dilihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah
belakang daun telinga (retro-aurikuler) apakah terdapat tanda peradangan atau
sikatriks bekas operasi. Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang,
liang telinga menjadi Iebih lurus dan akan mempermudah untuk melihat keadaan
liang telinga dan membran timpani. Pakailah otoskop untuk melihat lebih jelas
bagian-bagian membran timpani. Otoskop dipegang dengan tangan kanan untuk
memeriksa telinga kanan pasien dan dengan tangan kiri bila memeriksa telinga
kiri. Supaya posisi otoskop ini stabil maka jari kelingking tangan yang memegang
otoskop ditekankan pada pipi pasien. Akhir-akhir ini banyak spesialis THT yang
menggunakan endoskop atau mikroskop untuk memeriksa telinga Iebih jelas dan
pasien juga dapat melihat kelainan/penyakit di telinganya melalui TV monitor.4,5
Bila terdapat serumen dalam Iiang telinga yang menyumbat maka serumen
ini harus dikeluarkan. Jika konsistensinya cair dapat dengan kapas yang dililitkan,
bila konsistensinya lunak atau liat dapat dikeluarkan dengan pengait dan bila
berbentuk Iempengan dapat dipegang dan dikeluarkan dengan pinset. Jika serumen
ini sangat keras dan menyumbat seluruh Iiang telinga maka Iebih baik dilunakkan
dulu dengan minyak atau karbogliserin. Bila sudah lunak atau cair dapat dilakukan
irigasi dengan air supaya liang telinga bersih.4
Uji pendengaran dilakukan dengan memakai garputala dan dari hasil
pemeriksaan dapat diketahui jenis ketulian apakah tuli konduktif atau tuli
5
sensorineural.Uji penala yang dilakukan sehari-hari adalah uji pendengaran Rinne
dan Weber.
Uji Rinne dilakukan dengan menggetarkan garputala 512 Hz dengan jari
atau mengetukkannya pada siku atau lutut pemeriksa. Kaki garputala tersebut
diletakkan pada tulang mastoid telinga yang diperiksa selama 2-3 detik. Kemudian
dipindahkan ke depan Iiang telinga 2 setengah cm jaraknya selama 2-3 detik.
Pasien menentukan ditempat mana yang terdengar Iebih keras. Jika bunyi
terdengar Iebih keras bila garputala diletakkan di depan Iiang telinga berarti
telinga yang diperlksa normal atau menderita tuli sensorineural. Keadaan seperti
ini disebut Rinne positif. Bila bunyi yang terdengar Iebih keras di tulang mastoid,
maka telinga yang diperlksa menderita tuli konduktif dan biasanya Iebih darl 20
dB. Hal ini disebut Rinne negatif.4-5
Uji Weber dilakukan dengan meletakkan kaki penala yang telah digetarkan
pada garis tengah wajah atau kepala. Ditanyakan pada telinga mana yang terdengar
Iebih keras. Pada keadaan normal pasien mendengar suara di tengah atau tidak
dapat membedakan telinga mana yang mendengar Iebih keras. Bila pasien
mendengar lebih keras pada telinga yang sehat (lateralisasi ke telinga yang sehat)
berarti telinga yang sakit menderita tuli sensorineural. Bila pasien mendengar lebih
keras pada telinga yang sakit (lateralisasi ke telinga yang sakit) berarti telinga yang
sakit menderita tuli konduktif.4,5
Hasil pemeriksaan fisik pada kasus ini adalah TTV dan pemeriksaan THT
telinga luar dan tengah dalam batas normal

C. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksan penunjang Pemeriksaan pendengaran adalah bagian penting


dari pemeriksaan otologi lengkap. Tujuan evaluasi audiologik adalah untuk
menentukan derajat dan jenis ketulian, untuk memantau penatalaksanaan otologi,
serta untuk memantau terapi audiologik, termasuk ampliflkasi. Penapisan
pendengaran dilakukan oleh berbagai personel, sedangkan evaluasi audiologik
lengkap dilakukan oleh audiologis (ahli audiologi), yang mempunyai gelar master
atau doktoral di bidang audioldgi dan mempunyai izin yang dikeluarkan oleh
sebagian besar negara bagian.2,4

6
Bunyi dihantarkan melalui dua jalur fisiologis, yaitu hantaran udara dan
hantaran tulang. Pada hantaran udara, bunyi masuk melalui liang telinga dan
menggetarkan membran timpani yang menghantarkan bunyi melalui tulang-tulang
telinga tengah (malleus, incus, dan stapes). Kaki stapes terletak di tingkap lonjong
yang menuju koklea. Getaran stapes menyebabkan aliran cairan otik bergerak di
dalam koklea, yang menyebabkan sel-sel rambut sensoris di dalam koklea
menekuk. Selsel sensoris ini menghantarkan bunyi ke saraf auditori, dan
menghasilkan pendengaran. Pada hantaran tulang, setiap getaran tulang kepala
Juga menggetarkan cairan d dalam koklea' yang menghasilkan pendengaran. Hal
ini disebabkan koklea terletak di dalam tulang.4
Untuk menentukan jenis dan derajat ketulian yang akurat, evaluasi
audiologik dilakukan' menggunakan audiometer di dalam ruangan dengan
pengaturan bunyi. Audiometer adalah suatu alat listrik yang menghasilkan nada
dengan frekuensi yang beragam (dalam satuan Hertz) mulai dari 125 hingga 8.000
atau 12.000 Hz, dan dengan intensitas (dalam satuan desibel) mulai dari 10 dB
hingga 120 dB.2,4
Langkah pertama dalam evaluasi adalah penentuan derajat ketulian dengan
pemerihsaan hantaran udara. Pemeriksaan dilakukan dengan earphone agar
ambang tiap telingadapat diukur secara individual. Untuk anak kecil yang tidak
dapat menggunakan earphone, pemeriksaan dilakukan dalam ruang-bunyi (sound
field) melalui pengeras suara. Pemeriksaan hantaran udara digunakanuntuk menilai
seluruh sistem pendengarandengan c'ara menghantarkan bunyi dari earphone
melalui telinga luar, telinga tengah, dan koklea. Hasil pemeriksaan direkam pada
suatu audiogram. Tanda O berwarna merah menunjukan ambang dengar telinga
kanan, tanda X biru menunjukkan pendengaran telinga kiri, dan tanda S
menunjukkan ambang dengar di ruang-bunyi (sound-field).2,4
Pemeriksaan hantaran tulang memintas telinga luar dan tengah, .serta
digunakan untuk menilai secara langsung fungsi telinga dalam. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara menempelkan alat penggetar (vibrator) yang dihantarkan
oleh tulang pada tulang mastoid di belakang daun telinga. Osilator ini
menggetarkan tulang kepala dan merangsang kedua koklea secara bersamaan.
Masking digunakan untuk menghilangkan respons telinga yang lain selama
melakukan pemeriksaan pada satu telinga. Pada waktu dilakukan pemeriksaan

7
dengan earphone, bunyi merambat dari telinga satu ke telinga yang lain melalui
hantaran udara, sehingga bunyi keras yang diberikan pada satu telinga melalui
earphone, dapat terdengar oleh telinga yang lain. Bunyi yang dihantarkan oleh
udara menyeberang ke telinga yang berlawanan dengan intensitas sekitar 40 dB.
Untuk menilai pendengaran secara akurat pada satu telinga yang sedang diperiksa,
diperlukan masking pada telinga yang tidak diperiksa apabila terdapat perbedaan
intensitas bunyi di antara kedua telinga sebesar 40 dB. Hal ini dilakukan dengan
memberikan bising masking di telinga yang tidak diperiksa. Selama pemeriksaan
hantaran tulang, stimulus mencapai kedua koklea pada waktu yang sama, sehingga
masking selalu diperlukan. Pertanyaan pertama ketika menginterpretasi suatu
audiogram adalah bagaimana menentukan derajat ketulian. Derajat ketulian
ditentukan dengan merata-rata ambang dengar hantaran udara masing-masing
telinga, pada frekuensi 500, 1000, dan 2000 Hz. Setelah derajat ketulian untuk
hantaran udara ditentukan, perhitungah yang sama dilakukan untuk hantaran
tulang. Dengan membandingkan ambang dengar hantaran udara dan tulang, dapat
diperoleh informasi mengenai jenis ketulian.2,4
Jika ambang dengar hantaran udara dan tulang dalam batas normal,
pendengaran dianggap normal. Jika ambang dengar hantaran udara tidak dalam
batas normal dan ambang dengar hantaran tulang memiliki nilai yang sama dengan
hantaran udara, ketuliannya merupakan tuli sensorineural (terjadi di dalam koklea
atau di bagian saraf sistem pendengaran). Jika ambang dengar hantaran tulang
berada dalam batas ,normal dan ambang dengar hantaran udara menunjukkan
ketulian, tulinya merupakan tuli konduktif (terjadi di telinga luar atau tengah).
Jika'ambang dengar hantaran tulang berada di luar batas normal, tetapi ambang
dengar hantaran udara lebih buruk daripada ambang dengar hantaran tulang,pasien
tersebut menderita tuli campuran; Dengan kata lain, ketuliannya memiliki kedua
komponen kqnduktif dan sensorineural. Pendengaran normal pada frekuensi
rendah, tetapi sécara bertahap menurun ' menjadi tuli berat. Tuli jenis ini sering
terjadi pada orang dewasa yang lebih tua dan mungkin akibat pajanan bising.2,4
Hasil pemeriksaan penunjang untuk kasus ini belum ada

Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis klinis (WD dan DD):
tuli sensorineural, tuli konduktif

8
Kelainan telinga dapat menyebabkan tuli konduktif atau tuli sensorineural (perseptif).
Tuli konduktif, disebabkan oleh kelainan yang terdapat di telinga luar atau telinga tengah.4,5
Telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif ialah atresia Iiang telinga, sumbatan oleh
serumen, otitis eksterna sirkumskripta, osteoma Iiang telinga.
Kelainan di telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif ialah tuba katar /
sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanosklerosis, hemotimpanum dan
dislokasi tulang pendengaran.5
Tuli sensorineural (perseptif) dibagi dalam tuli sensorineural koklea dan
retrokoklea.Tuli sensorineural koklea disebabkan oleh aplasia (kongenital), labirintitis (oleh
bakteri/ virus), intoksikasi obat streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal
atau alkohol. Selain itu juga dapat disebabkan oleh tuli mendadak (sudden deafness), trauma
kapitis, trauma akustik dan pajanan bising.5 Tuli sensorineural retrokoklea disebabkan oleh
neuroma akustik, tumor sudut pons serebelum, mieloma multipel, cedera otak, perdarahan
otak dan kelainan otak lainnya. Kerusakan telinga oleh obat, pengaruh suara keras dan usia
lanjut akan menyebabkan kerusakan pada penerimaan nada tinggi di bagian basal koklea.4,5

Pajanan yang dialami

Dalam langkah ini ditentukan pajanan kebisingan yang dialami saat ini dan
sebelumnya dan ini didapatkan terutama dari anamnesis yang teliti dan adalah lebih baik jika
ada pengukuran lingkungan pasien.
Bising (noise) adalah bunyi yang ditimbulkan oleh gelombang suara dengan intensitas
dan frekuensi tidak menentu. Di sector industry, bising berarti bunyi yang sangat mengganggu
dan menjengkelkan serta sangat membuang energy.4-6
Umumnya, terdapat 4 jenis bising; terus menerus atau stabil, berfluktuasi, terputus-
putus, dan bising impuls. Bising yang terus menerus atau stabil adalah suara yang memiliki
mutu dan intensitas konstan dalam jangka waktu tertentu. Variasi bising yang terjadi biasanya
kurang dari 3 dB. Contoh sumber bising yang stabil meliputi generator listrik, mesin cetak,
dan mesin pemintal. Bising yang berfluktuasi adalah bising yang tetjadi terusmenerus dengan
intensitas bising yang bervariasi lebih dari 3 dB.4-6
Bising yang terputus-putus adalah bising dengan intensitas yang turun hingga tingkat
batas beberapa kali. Turunnya intensitas ini terjadi dalam jangka waktu satu detik atau lebih,
misalnya bising yang disebabkan gergaji kayu glondongan. Bising impuls atau bising tubruk

9
adalah suara dengan perubahan intensitas mendadak setidaknya sebesar 40 dB. Bising ini
berjangka waktu pendek, umumnya kurang dari 0,5 detik. Contoh bising impuls meliputi
suara mesin pembuat lubang dan suara tembakan senjata.6
Pada kasus ini pasien sudah 5 tahun bekerja di pabrik mobil, bagian perakitan dan
terus menerus terpajan oleh salah satu jenis pajanan fisik yaitu bising

Hubungan pajanan dengan diagnosis klinis

Pertama-tama diidentifikasikan pajanan yang ada. Dalam hal ini pajanannya adalah
kebisingan. Dihubungkan apakah ada hubungan antara pajanan kebisingan dengan gejala
penyakit yang dialami pasien berdasarkan evidence based yang didapatkan dari hasil
anamnesis pada pasien dan pengukuran kebisingan pada tempat kerja. Dalam kasus ini
didapatkan bahwa pasien mengeluh menurunnya pendengara telinga kiri sejak satu bulan lalu
Keluhan ini sudah dirasakan 3 tahun yang lalu, tetapi makin menurun sejak sebulan terakhir.
Tempat kerjanya adalah di pabrik mobil bagian perakitan sudah lima tahun. Pasien terpapar
dengan intensitas kebisingan 100 db selama 6 hari seminggu ada hubungan dengan keluhan
menurunnya pendengaran
Pengaruh bising pada pekerja secara umum dibedakan dua macam yaitu pengaruh
auditorial berupa tuli akibat bising (Noise Induced Hearing Loss/NIHL) dan pengaruh non
auditorial. Pengaruh auditorial berupa tuli akibat bising (Noise Induced Hearing Loss/NIHL)
umumnya terjadi dalam lingkungan kerja dengan tingkat kebisingan yang tinggi. Pengaruh
Non Auditorial dapat bermacam macam misalnya gangguan komunikasi, gelisah, rasa tidak
nyaman, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah dan lain sebagainya.4,5
Telah diketahui secara umum bahwa bising menimbulkan kerusakan di telinga dalam.
Lesinya sangat bervariasi dari disosiasi organ Corti, ruptur membran, perubahan stereosilia
dan organel subseluler. Bising juga menimbulkan efek pada sel ganglion, saraf, membran
tektoria, pembuluh darah dan stria vaskularis. Pada observasi kerusakan organ Corti dengan
mikroskop elektron ternyata bahwa sel-sel sensor dan sel penunjang merupakan bagian yang
paling peka di telinga dalam. Jenis kerusakan pada stuktur organ tertentu yang ditimbulkan
bergantung pada intensitas, lama pajanan dan frekuensi bising. Penelitian menggunakan
intensitas bunyi 120 dB dan kualitas bunyi nada murni sampai bising dengan waktu pajanan
1-4 jam menimbulkan beberapa tingkatan kerusakan sel rambut.4
Efek auditori pada pemaparan bising. Apabila telinga normal terpapar bising pada
intensitas yang merusak selama periods waktu yang cukup lama, akan terjadi penurunan

10
pendengaran yang temporer, yang akan menghilang setelah berisitirahat beberapa menit atau
beberapa jam. Kurang pendengaran temporer ini merupakan fencmena yang fisiologis dan
disebut sebagai perubahan ambang temporer (temporary threshold shift =TTS ). Diduga
terjadi di sel rambut organ Corti dan mun gkin berhubungan dengan perubahan metabolik di
sel rambut, perubahan kimia di dalam cairan telinga dalam atau perubahan vaskuler di telinga
dalam. Bila pemaparannya lebih lama dan atau intensitasnya lebih besar, akan tercapai suatu
tingkat ketulian yang tidak dapat kembali lagi ke tingkat pendengaran semula. Keadaan
tersebut disebut ketulian akibat bising (noise induced hearing loss) atau perubahan ambang
permanen (permanent threshold shift/PTS).4,6
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat dan beratnya ketulian yang didapatkan
pada kasus-kasus ketulian akibat kerja, yaitu intensitas atau kerasnya bunyi (sound pressure
level),tipe bising (Spektrum frekuensi), periode pemaparan per hari (duty cycle perday),
lamanya masa kerja, kerentanan individual, umur pekerja, penyakit telinga yang menyertai,
sifat lingkungan tempat bising dihasilkan, jarak dari sumber bunyi, dan posisi tiap telinga
terhadap gelombang suara. Empat yang pertama merupakan faktor-faktor terpenting dalam
pemaparan bising. Telah diobservasi bahwa-pemaparan singkat terhadap tingkat bising yang
tinggi biasanya tidak menyebabkan ketulian yang berarti, sedangkan pemaparan yang lama
terhadap bising lebih dari 90 dB akan menyebabkan ketulian yang nyata setelah beberapa
tahun. Karena itu yang perlu diketahui tidak hanya berapa besar kebisingan, tetapi juga bising
macam apa dan berapa lama. Sementara telah banyak dipelajari tentang pemaparan bising dan
ketulian yang disebabkan oleh bising yang menetap, pengetahuan kita tentang akibat buruk
dari bising dentuman seperti ledakan, letusan pistol dan dentangan palu terhadap
pendengaran masih sangat terbatas.4-6

Jumlah pajanan

A. Patofisiologis penyakit

Mekanisme yang mendasari NIHL diduga berupa adanya stres mekanis dan
metabolik pada organ sensorik auditorik bersamaan dengan kerusakan sel sensorik
atau bahkan kerusakan total organ Corti di dalam koklea. Kehilangan sel sensorik pada
daerah yang sesuai dengan frekuensi yang terlibat adalah penyebab NIHL yang paling
penting. Kepekaan terhadap stres pada sel rambut luar ini berada dalam kisaran 0-50
dB, sedangkan untuk sel rambut dalam di atas 50 dB. Biasanya dengan terjadinya

11
TTS, ada kerusakan bermakna pada sel rambut luar. Frekuensi yang sangat tinggi
lebih dari 8kHz memengaruhi dasar koklea.4,6

Proses Mekanis

Berbagai proses mekanis yang dapat menyebabkan kerusakan sel rambut


akibat pajanan terhadap bising meliputi aliran cairan yang keluar pada sekat koklea
dapat menyebabkan robeknya membran Reissner sehingga cairan dalam endolimfe
dan perilimfe bercampur yang mengakibatkan kerusakan sel rambut, gerakan
membran basilar yang kuat dapat menyebabkan gangguan organ Corti dengan
pencampuran endolimfe dan kortilimfe yang mengakibatkan kerusakan sel rambut,
aliran cairan yang kuat pada sekat koklea yang dapat langsung merusak sel rambut
dengan melepaskan organ Corti atau merobek membran basiler. Berbagai proses
tersebut biasanya dapat dilihat pada pajanan terhadap bising dengan intensitas tinggi
dan NIHL terjadi dengan cepat.4,6

Proses metabolik

Berbagai proses metabolik yang dapat merusak sel rambut akibat pajanan
bising meliputi pembentukan vesikel dan vakuol di dalam reticulum endoplasma sel
rambut serta pembengkakan mitokondria yang dapat berlanjut menjadi robekan
membran sel dan hilangnya sel rambut, sel rambut luar yang lebih mudah terangsang
suara dan membutuhkan energi yang lebih besar sehingga menjadi lebih rentan
terhadap cedera akibat iskemia atau mungkin terdapat interaksi sinergis antara bising
dengan pengaruh lain yang merusak telinga.4,6

Daerah organ Corti sekitar 8 hingga 10 mm dari ujung basal (sesuai dengan
daerah 4 kHz pada audiogram) dianggap sebagai daerah yang secara khas rentan
terhadap kebisingan. Walaupun penjelasan mengenai cekungan 4 kHz yang paling
mungkin adalah adanya ciri resonansi saluran telinga, penyebab lain juga telah
dikemukan. Hal ini meliputi: daerah 4 kHz mungkin lebih rentan karena insufisiensi
vaskular akibat bentuk anatomis yang tidak biasa di daerah ini dan amplitude
pemindahan di dalam saluran koklea mulai terbentuk di daerah 4 kHz saat kecepatan
perambatan gelombang yang berjalan masih cukup tinggi dan struktur anatomi koklea
menyebabkan pergeseran cairan pada daerah 4 kHz.6

12
A. Epidemiologi

Laporan dini tentang NIHL meliputi uraian tentang ketulian seorang tukang
besi yang timbul akibat pekerjaannya dan tiga perempat pembuat ketel mempunyai
kesulitan mendengar di gereja atau di pertemuan masyarakat umum, dibandingkan
pembuat cetakan besi sebanyak 12% dan pada tukang pos sebanyak 8% mempunyai
keluhan sama.6
Efek kebisingan suara pesawat terbang terhadap pendengaran dan jalur
pendengaran diteliti pada 112 pegawai bandara menggunakan audiometri dan
potensial Iistrik yang ditimbulkan pangkal otak menunjukkan pola NIHL yang khas
berupa cekungan pada frekuensi 3 atau 4 kHz dan tuli sedang pada frekuensi 6 hingga
8 kHz. Di antara para pegawai ini, angka prevalensi tuli pada frekuensi tinggi secara
keseluruhan adalah 41,9% dengan prevalensi tertinggi sebesar 65,% pada pekerja
bagian pemeliharaan yang terus-menerus terpajan suara bising. Di antara 6.000
pegawai pada fasilitas kesehatan yang besar, pola kelainan pendengaran ditemukan 59
per 308 pekerja (19%) terpajan tingkat kebisingan yang berpotensi berbahaya. Ada 36
kasus NIHL terdokumentasi yang mengalami pajanan pada pekerjaan di rumah sakit.
NIHL dan gangguan akibat kebisingan lebih sering terjadi di antara mereka yang
bekerja di galangan kapal (rata-rata kadar kebisingan 98 dBA) dibandingkan mereka
yang bekerja di bengkel mesin dalam kapal (85,5 dBA) Di antara 197 pekerja yang
bekerja dalam hitungan jam yang dipilih secara acak dari pabrik yang bising di
Pittsburgh dcngan kadar kobisingan lebih atau sama dcngan 89 dBA, ambang
pendengaran rata-rata untuk orang yang bekerja di ruangan percetakan secara
bermakna lebih tinggi pada frekuensi 2, 3, dan 6 kHz.6

B. Pengukuran dan pemantauan bising di lingkungan kerja

Sound pressure level meter


Cara terbaik untuk menentukan besarnya pajanan pada seorang individu
pekerja adalah dengan mengukur derajat pajanan b'ising di lokasi tempat kerja,
dengan peralatan yang disebut sound pressure level meter. Sound pressure level
meter merupakan instrumen dasar untuk mengukur variasi tekanan bunyi di udara,
yang dapa t men gubah bising menjadi suatu sinYal elektrik, dan hasilnya dapat
dibaca secara langsung pada monitor dengan satuan desibel (dB). Pada prinsipnya,
alat ini berisi sebuah mikrofon dan sebuah amplifier, sebuah peiemah bunyi yang
13
sudah dikalibrasi, satu set network frequency response, dan sebuah monitor.
Beberapa sound pressure level meter mempunyai rentang pengukuran 40-140 dB.
Peralatan ini didesain untuk digunakan di lapangan, maka peralatan tersebut harus
akurat, mantap, stabil, ringan, dan bertenaga baterai. Seperti lazimnya peralatan
pengukur lainnya, sound level meter pun harus dikalibrasi sebelum dan sesudah
pengukuran bising, biasanya dengan enggunakan kalibrator akustik. Pada prinsipnya,
telinga manusia yang sehat tidak memiliki respons yang sama terhadap semua
frekuensi bunyi. Oleh karena itu, alat pengukur tensitas bunyi (sound level meter)
dilengkapi oleh suatu filter untuk menyaring unyi yang frekuensinya tidak dapat
terdengar oleh telinga manusia yang sehat. Pada intensitas yang sama, bising pada
frekuensi tinggi iebih berbahaya dibandingkan yang berfrekuensi lebih rendah.3
American National Standards Institute (ANSI) menetapkan 3 skala
pembobotan respons frekuensi yang sesuai dengan nilai ambang batas yang dapat
didengar telinga manusia untuk peralatan sound pressure level meter, yaitu skala A, B
dan C. Skala A memberikan respons paling lambat pada frekuensi bunyi yang rendah.
Oleh karena itu, untuk pengukuran bising, peralatan dengan skala A ini yang paling
sering digunakan, karena peralatan ini memberikan bobot yang paling mendekati
karakteristik respons telinga manusia, yang lebih merespons bunyi dengan frekuensi
tinggi (1000-6000 Hz). Skala B dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana
individu merespons bunyi-bunyi dengan intensitas yang sedang (jarang digunakan).
Sedangkan skala C memberikan respons mendatar, yaitu bobot yang kira-kira sama
pada seluruh spektrum bunyi. Berdasarkan alasan inilah pengukuran derajat pajanan
bunyi yang berbobot skala A menjadi metode yang direkomendasikan oleh ACGIH
dan lembaga kedokteran kerja lainnya. Karena filter yang digunakan disebut filter A,
maka pengukuran dengan peralatan ini dilaporkan dengan satuan dBA. Oleh sebab
itu, untuk mengukur bising yang terjadi secara terusmenerus, peralatan pengukuran
derajat pajanan suara harus diatur pada bobot skala A respons lambat. Untuk
pengukuran bising yang meledak-Iedak clan tidak beraturan (misal pukulan palu),
sebaiknya digunakan peralatan pengukur bunyi dengan derajat pajanan suara yang
khusus yaitu in1pact~noise level meter. Seperti lazimnya peralatan pengukur lainnya,
sound level meter harus dikalibrasi sebelum clan sesudah pengukuran suara bising,
biasanya dengan menggunakan kalibrator akustik.3,6

14
Octave band analyzer
Untuk mengatasi masalah kebisingan cli tempat kerja, kadang-kadang perlu
digunakan sejenis mesin penganalisis, guna menentukan perkiraan frekuensi yang
dominan clan membahayakan dalam suatu spektrum bising. Teridentifikasinya
komponen nada murni akan mempunyai nilai diagnostik yang sangat penting, untuk
menemukan dan mengurangi cfek gangguan kebisingan suatu sumber bising.
Misalnya, dengungan yang berasal dari kipas blower biasanya difokuskan pada
frekuensi putaran lempeng kipas, yang merupakan hasil perkalian dari jumlah
lempcng kipas dan kccepatan fan, yaitu beberapa frekuensi kelipatan 60Hz. Octave
band analyzer menggunakan filter yang menyebabkan komponcn pcralatan sound
pressure level meter yang ada di dalamnya hanya dapat mcngukur satu frckucnsi nada
bising yang dihasilkan.3,6

Noise dosimeter
Pekerja yang berpindah-pindah lcmpat dalam mclaksanakan bebcrapa tugasnya, dan
terpajan bising yang bcrdea-bcda, tidak dapat diukur dengan alat pengukur yang
ditcmpatkan tetap pada satu tcmpat kerja. Pada situasi Seperti ini, digunakan noise
dosimeter, yang terus dipakai pckerja untuk mencatat besarnya pajanan selama jam
kerja.3

Berikut adalah tabel yang berisi nilai ambang batas kebisingan

Tabel 1. Nilai Ambang Batas Kebisingan

Intensitas bising (dB) Waktu pajanan per hari dalam


jam
85,0 8
90,0 4
95,0 2
100,0 1
105,0 ½
110,0 ¼
115,0 1/8

15
Pada kasus ini didapatkan hasil pemeriksaan lingkungan kerja tempat pasien bekerja
adalah 100 dB dan pasien terpajan 8 jam sehari selama masa kerja. Angka 100 dB telah
melewati nilai ambang batas normal (NAB 85 dB dalam 8 jam kerja). Pada kasus tidak
diketahui pasien memakai APD atau tidak, tapi kemungkinan pasien tidak memakai APD atau
memakai APD yang sudah usang dan tidak berfungsi lagi karena jika pasien memakai APD
berupa earplug atau earmuff saat bekerja, kemungkinan terkena gangguan pendengarannya
akan sangat kecil bahkan tidak ada.

Faktor individu

Faktor individu menyangkut riwayat atopi/alergi, riwayat penyakit dalam keluarga,


hiegene perorangan.3,6 Pada kasus ini pasien tidak mempunyai riwayat penyakit jadi pada
kasus ini tidak ada faktor individu yang berperan.

Faktor lain diluar pekerjaan

Apakah ada hubungan gejala pasien dengan hobi seperti mendengar musik dengan
menggunakan earphone atau mendengar musik atau menonton televisi dengan suara yang
kuat. Juga dilihat apa ada hubungan antara gejala pasien dengan pajanan bising di rumah atau
diluar rumah dan apakah pasien berkerja sambilan di tempat yang bising juga.3,6 Juga apakah
dia merokok dan mempunyai gangguan psikologis seperti insomnia. Pada kasus ini tidak ada
faktor lain diluar pekerjaan

Diagnosis okupasi

Diagnosis NIHL akibat kerja ditegakkan berdasarkan riwayat pajanan terhadap bising
di tempat kerja dan tidak ditempat lainnya, pemeriksaan fisik yang telah disingkirkan
penyebab tuli lain dan profil audiologi.5 Pada kasus ini didapatkan hasil anamnesis adalah
seorang laki-laki 45 tahun, datang dengan keluhan pendengaran menurun pada telinga kiri,
sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan ini sudah dirasakan 3 tahun yang lalu, tetapi makin menurun
sejak sebulan terakhir. Pasien sudah berobat ke puskesmas tetapi keluhan tidak hilang setelah
meminum obat yang diberikan; tidak ada nyeri, tidak keluar cairan dari telinga, tidak ada
demam, serta tidak ada riwayat mengorek telinga. Untuk riwayat pekerjaannya pasien sudah 5
tahun bekerja di pabrik mobil, bagian perakitan. Hasil pemeriksaan fisik pada kasus ini adalah
TTV dan pemeriksaan THT telinga luar dan tengah dalam batas normal. Hasil pemeriksaan
penunjang untuk kasus ini belum ada. Pasien terpajan salah satu jenis pajanan fisik yaitu

16
bising. Pasien terpapar dengan intensitas kebisingan 100 db selama 6 hari seminggu yang
sangat ada hubungan antara keluhan menurunnya pendengaran dan pajanan kebisingan di
tempat kerja. Angka 100 dB telah melewati nilai ambang batas normal (NAB 85 dB dalam 8
jam kerja). Pada kasus tidak diketahui pasien memakai APD atau tidak, tapi kemungkinan
pasien tidak memakai APD atau memakai APD yang sudah usang dan tidak berfungsi lagi.
Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit jadi pada kasus ini tidak ada faktor individu yang
berperan. Pada kasus ini tidak ada factor lain diluar pekerjaan . faktor individu dan faktor lain
diluar pekerjaan adalah screening untuk menentukan penyakit akibat kerja atau bukan. jika
terdapat kedua faktor tersebut maka bisa dikatakan bukan penyakit akibat kerja, tapi jika
kedua faktor tersebut tidak ada maka dapat dikatakan penyakit akibat kerja. Pada kasus ini
tidak ada factor individu dan factor lasin diluar pekerjaan seperti mendengar musik dengan
menggunakan earphone maupun karena penggunaan obat ototoksik. Jadi gangguan
pendengaran yang dialami pasien ini murni karena kebisingan ditempat kerja. Hal ini
diperkuatkan lagi dari anamnesis dan hasil pemeriksaan tempat kerja dimana pasien terpapar
oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa memakai APD. Jadi
dari kasus ini pasien mengalami penyakit akibat kerja NIHL (Noise Induced Hearing Loss)

A. Gejala klinis NIHL

Tuli akibat bising (Noise Induced Hearing Loss) ialah kurang pendengaran
yang timbul akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang
cukup lama, biasanya di sebabkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat ketuliannya
adalah tuli saraf koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga.7
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan,
pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang untuk pendengaran
seperti audiometri.5
Anamnesis pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam
jangka waktu yang cukup lama biasanya lima tahun atau lebih. Pada pemeriksaan
otoskopik tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan audiologi tes penala
didapatkan hasil Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya
lebih baik dan Schwabach memendek. Kesan jenis ketuliannya tuli sensorineural.
Pemeriksaan audiometri nada murni didapat kan tuli sensorineural pada frekuensi
antara 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik (notch) yang
patognomonik untuk jenis ketulian ini. .Pemeriksaan audiologi khusus seperti SlSl

17
(Short Increment Sensitivity Index), ABLB (Alternate Binaural Loudness Balance)
MLB (Monoaural Loudness Balance), audiometeri Bekesy, audiomteri tutur
(speech audiometry), hasil menunjukkan adanya fenomena rekrutmen (recruitment)
yang patognomonik untuk tuli sensorineural koklea.5,7
Rekrutmen adalah suatu fenomena pada tuli sensorineural koklea, dimana
telinga yang tuli menjadi Iebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang
kecil pada frekuensi tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya. Sebagai contoh
orang yang pendengaranya normal tidak dapat mendeteksi kenaikan bunyi 1 dB bila
sedang mendengarkan bunyi nada murni yang kontinyu, sedangkan bila ada
rekrutmen dapat mendeteksi kenaikan bunyi tersebut. Contoh sehari-hari pada
orang tua yang menderita presbikusis (tuli sensorineural koklea akibat proses
penuaan) bila kita berbicara dengan kekerasan (volume) biasa dia mengatakan
jangan berblsik, tetapi bila kita berbicara agak keras dia mengatakan jangan
berteriak, sedangkan orang yang pendengarannya normal tidak menganggap kita
berteriak.5
Orang yang menderita tuli sensorineural koklea sangat terganggu oleh
bising latar belakang (background noise), sehingga bila orang tersebut
berkomunikasi di tempat yang ramai akan mendapat kesulitan mendengar dan
mengerti pembicaraan; Keadaan ini disebut sebagai cocktail party deafness.5
Apabila seorang yang tuli mengatakan lebih mudah berkomunikasi di
tempat yang sunyi atau tenang, maka orang tersebut menderita tuli sensorineural
koklea.

B. Terapi

Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya


dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat
pelindung teliga terhadap bising seperti sumbat telinga, tutup telinga dan pelindung
kepala.5,7Oleh karena NIHL adalah tuli sensorineural koklea yang bersifat menetap
(irreversible), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan
berkomunikasi dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat
bantu dengar / ABD (hearing aid). Apabila pendengarannya telah sedemikian
buruk, sehingga pemakaian ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat,

18
perlu dilakukan psikoterapi agar dapat menerima keadaannya. Latihan pendengaran
(auditory training) agar dapat menggunakan sisa pendengarannya dengan ABD
secara effisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik, dan
gerakan anggota badan, serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Di
samping itu, oleh karena pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemah,
rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah
dan irama percakapan. Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat
dipertimbangkan untuk pemasanagn implant koklea (cochlear implant). 5,7

C. Prognosis

Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural
koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun
pembedahan, maka prognosisnya kurang baik. Oleh karena itu yang terpenting
adalah pencegahan terjadinya ketulian.5,7

Penatalaksanaan penyakit akibat kerja

Tidak ada pengobatan untuk NIHL. Satu-satunya cara pemecahan masalah ini adalah
pencegahan. Penting bahwa program pelindungan pendengaran (HCP) diselengarakan di
tempat kerja yang bising. Unsur HCP yang efektif meliputi: survey kebisingan; upaya untuk
mengurangi pajanan tehadap bisin melalui pengendalian kebisingan (pengendalian industri)
atau pengendalian administrative, dan perlindungan pendengaran perorangan bila
pengendalian tersebut tidak cukup mengurangi pajanan; pemeriksaan medis termasuk tes
PTA, pemberitahuan kepada pegawai tentang bahaya bising; dan penyimpanan catatan medis
dengan baik.6

A. Survei bising

Program perlindungan pendengaran harus selalu diawali survei bising


pendahuluan. Tujuan survei pendahuluan adalah mengenali daerah di tempat kerja
yang menyebabkan pekerja terpajan terhadap tingkat kebisingan yang
membahayakan. Survei bising pendahuluan harus mampu memberikan informasi ada
atau tidaknya masalah kebisingan, besarnya permasalahan, dan menemukan daerah
yang membutuhkan survei bising terperinci. Survei bising terperinci memberikan
informasi tingkat kebisingan di berbagai temoat kerja untuk dapat membuat pedoman

19
pengendalian industry dan administrative. Survei ini akan memberikan batasan
daerah yang memerlukan perlindungan dengan terhadap kebisingan dan mengetahi
pegawai mana yang harus dimasukkan ke dalam program tes audiometric. Survei
bising perlu dilakukan dengan memakai pengukur tingkat suara yang telah
diakuiyang dipasang pada skala A reaksi lambat. Informasi yang diperoleh dari
survey ini akan memberikan informasi apakah pekerja terpajan di atas action level
dan tingkat pajanan yang masih diperbolehkan (permissible exposure level, PEL)
yang sudah ditetapkan peraturan mengenai bahaya di tempat kerja.6
Action level dan PEL secara umum berdasarkan nilai ambang batas (threshold
limit value, TLV). TLV untuk bising menunjukkan tingkat tekanan suara dan lama
pajanan yang mewakili keadaan yang diyakini tidak memberikan efek buruk pada
kemampuan pekerja untuk mendengar dan mengerti pembicaraan normal bila pekerja
terpajan berulang kali. TLV telah ditetapkan American Conference of Govermental
Industrial Hygienists (AGGIH) sebagai rekomendasi atau pedoman mengendalikan
bahaya kesehatan potensial. TLV telah dimasukkan ke dalam peraturan atau
digunakan sebagai standard diberbagai Negara, musalnya action level setara dengan
tingkat suara terus-menerus 85 dBA atau dosis kebisingan harian sama dengan 0,5
dan PEL setara dengan suara terus-menerus sebesar 90 dBA atau dosis kebisingan
harian sama dengan 1 di bawah peraturan bising pabrik dan mesin pada tahun 1989 di
Malaysia. Harus diakui bahwa penerapan TLV tidak dapat melindungi semua
pegawai dari efek buruk pajanan terhadap bising. TLV dipakai untuk memberi
pedoman lamanya pajanan yang diperbolehkan. Kriteria bising yang dapat diterima
adalah keputusan masyarakat. Disarankan bahwa pengurangan tingkat pajanan
terhadap bising diperbolehkan dari 90 dBA menjadi 85 dBA akan melindungi NIHL
sebesar 99% dari 96% populasi bekerja selama rata-rata sepanjang waktu hidup.
Mengenai sosial ekonomi telah diperhitungkan pada pencapaian PEL yang dipakai
mengugunakan standar yang ditetapkan.6

B. Pengendalian industri

Mekanisme pengendalian bising dapat dilaksanakan melalui 3 arah, yaitu


sumber bising, transmisi bising, dan penerima bising. Pengendalian ini dilakukan
dengan cara mengurangi intensitas sumber bising, menghambat transmisi bising.

20
Mengurangi intensitas sumber bising dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti memilih mesin dengan teknologi yang lebih maju guna mendapatkan mesin
dengan suara yang lebih halus, mengubah jenis pendorong mesin, memasang
peralatan yang menghambat distribusi suara, menggunakan pelemah getaran lempeng
sumber suara, menggunakan peralatan pemotong yang tajam dan bentuknya sesuai
dengan kebutuhan, mesin yang kecil dan berkecepatan tinggi diganti dengan mesin
yang lebih besar tetapi kecepatannya lebih rendah, mengurangi daya atau kecepatan
mesin.
Menghambat transmisi bising dapat dilakukan melalui benda padat dan udara.
Menghambat transmisi suara melalui benda padat dengan menggunakan bantalan
yang fleksibel atau yang mempunyai daya pegas, mengurangi transmisi bising
melalui udara dengan menggunakan bahan peredam suara pada dinding dan atap
ruangan, mengisolasi. (mengurung) sumber bising, peralatan yang dapat mengatur
distribusi suara (buffle), misalnya traktor yang dilengkapl peredam bising (fully
insulated tractor).

- Mengisolasi operator pada ruangan yang kedap suara.

Pada kasus ini yang bisa dilakukan adalah menggunakan atau memasang
pembatas atau tameng atau perisai yang dikombinasikan dengan akustik (peredam
suara) yang dipasang di langit-langit. Kebisingan dengan frekuensi tinggi dapat
dikurangi dengan menggunakan perisai/tameng. Perisai ini akan menjadi lebih efektif
jika lebih tinggi dan lebih dekat dengan sumber bunyi. Kegunaan perisai/tameng akan
berkurang bila langit-langitnya bukan peredam suara (akustik). Di dalam industri
mobil sering terdapat beberapa deret proses perakitan dan terdapat satu deret proses
perakitan yang menimbulkan kebisingan lebih keras dari yang lainnya. Proses atau
pekerjaan menggerinda kerangka mobil dapat menimbulkan suara frekuensi tinggi,
yang mengganggu setiap orang yang berada di dalam pabrik.Cara pengendalian
dengan cara melindungi bagian lain dari kebisingan yang ditimbulkan dari proses
menggerinda dengan sekat perisai pada kedua sisinya dan
menempatkan/menggantung “baffels” penyerap suara pada langit-langitnya.8

C. Pengendalian administratif

21
Bila pengendalian industri tidak mungkin dilakukan, pengendalian
administrative dapat diperkenalkan untuk mengurangi pajanan pegawai secara
perorangan. Dengan “prinsip persamaan energi” mengizinkan pertukaran antara
tingkat bising dan lama pajanan. Lama pajanan yang diperbolehkan bergantung pada
tingkat pajanan yang diperbolehkan atau dosis harian 1.Bila tingkat pajanan
bervariasi dalam satu hari, dosis bising per hari perlu dihitung untuk menjamin dosis
bising per hari kurang dari 1, yaitu kepatuhan.6
Pengendalian administrasi dapat dilaksanakan dengan menukar pegawai di
daerah bising tinggi dengan mereka yang di daerah tinggi rendah selang waktu
tertentu. Hal ini juga melibatkan penjadwalan waktu pengoperasian sedemikian rupa
agar dapat mengurangi jumlah pegawai yang terpajan tingkat kebisingan tinggi.

D. Alat pelindung pendengaran

Perlindungan pendengaran diselenggarakan untuk melengkapi tindakan


pengendalian seperti yang disebutkan di atas. Tujuan utama pemakaian pelindung
pendengaran adalah secara ekonomis mengurangi pajanan yang berbahaya hingga
pada tingkat aman bagi telinga pegawai untuk mencegah kehilangan pendengaran.
Alat pelindung pendengaran harus disediakan secara gratis bagi semua pekerja
yang terpajan tingkat bising di atas 85 dB. Alat ini terdiri dari dua jenis utama:6,7

1. Sungkup telinga (Ear muff)


- Menutup penuh kedua daun telinga (mirip dengan perangkat-kepala)
- Harus terpasang dengan baik di kepala
- Ikat kepala atau bandana dapat mengganggi alat pelindng lainnya
- Desain khusu dapat digunakan bersama helm keras
- Jenis-jenis yang dilengkapi radio penerima di tutup telinga (earcup)
disangsikan karena bising radio dapat mengganggi mendengar alarm
peringatan
- Dapat membuat telinga panas dan tidak nyaman
2. Sumbat telinga (Ear plug)
- Jenis permanen:
 Harus sesuai dengan setiap pekerja

22
 Harus dijaga kebersihannya dengan cermat agar tidak memasukkan
kotoran ke dalam saluran telinga dan menyebabkan peradanagan
sehingga tidak dapat menggunakan alat ini lebih lanjut
- Jenis sekali pakai:
 Biasanya diletakkan di mesin dispenser untuk dapat diambil oleh pekerja
yang membutuhkannya
 Hanya dapat dipakai satu kali
 Murah namun efektif
 Beberapa jenis alat ini perlu dipelintir dengan menggunakan ibu jari dan
telunjuk sebelum dimasukkan ke dalam telingan – tangan harus bersih
sebelum melakukannya
 Tidak mengganggu pakaian atau alat pelindung lainnya.

Pegawai harus dapat memilih pelindung pendengaran dan diberi


pelatihan mengenai cara pemakaian dan pemeliharaannya. Pengepasan pelindung
pendengaran yang sesuai adalah penting karena terdapat variasi diameter dan
bentuk kanal telinga. Kadang-kadang ada masalah yang dihadapi dalam
menemukan penyumbat telinga yang cocok bagi beberapa orang dan pesanan yang
sesuai ukuran mungkin diperlukan. Jenis pelindung pendengaran yang dipakai
bergantung pada faktor pelemahan (angka pengurangan bising) dan ciri spektrum
lingkungan bising tempat pegawai bekerja.6,7

G. Edukasi

Suatu program penyuluhan merupakan upaya dalam pembentukan sikap


selamat dan sikap yang konstruktif. Alat pelindung telinga dan Pengujian
audiometri mungkin merupakan suatu hal yang baru bagi sebagian besar
masyarakat industri. Oleh karenanya dapat diperkirakan bahwa kerjasama
mereka pada permulaan akan kecil. Pendidikan atau Penyuluhan kesehatan
sebaiknya diberikan kepada semua orang yang terlibat secara langsung maupun
tidak pada program pemeliharaan pendengaran.
Program penyuluhan sangat penting harus direncanakan untuk mencapai
sasaran sebagai berikut :
- mendidik manajemen dalam pendidikan khusus. Hal ini merupakan kunci
program pemeliharaan pendengaran.
23
- menjelaskan tujuan program pemeliharaan pendengaran.
- menerangkan kepda semua tenaga kerja tentang pentingnya perlindungan
telinga
- melatih tenaga kerja tentang cara-cara pemakaian alat pelindung telinga
secara benar, cara merawat dan cara penyimpanan alat tersebut.
- menerangkan apa yang harus dilakukan apabila pendengaran berkurang.8

Kesimpulan

Tuli akibat bising (Noise Induced Hearing Loss) ialah kurang pendengaran yang
timbul akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama,
biasanya di sebabkan oleh bising lingkungan kerja. NIHL (Noise Induced Hearing Loss) dapat
ditegakkan dengan menggunakan 7 langkah diagnosis Penyakit Akibat Kerja, dengan
anamnesis dan pemeriksaan yang baik. Pengetahuan akan dapat rusaknya pendengaran oleh
karena pajanan bising harus dijadikan suatu dasar dalam pencegahan terjadinya NIHL, karena
NIHL sendiri sangat sulit untuk diobati. Perlindungan untuk setiap pekerja wajib dilakukan
untuk menghindari terjadinya NIHL pada pekerja

Daftar Pustaka

1. Adams, Boies, Higler. Buku ajar penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta : EGC; 2008.h.4-5,
46-68.
2. Lucente FE, Har-el G. Ilmu THT esensial. Edisi ke-5. Jakarta : EGC; 2011.h.59-66,
86-124, 666-72.
3. Harrianto R. Buku ajar kesehatan kerja. Jakarta : EGC; 2009.h. 129-44.
4. Ballenger JJ. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Jakarta : Binarupa
Aksara; 2008.h.273-331.
5. Bashiruddin J, Soetirto I. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala &
leher. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.h. 10-3, 42-5.
6. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta : EGC; 2009.h.237-
9, 248-9.

24
7. Soepardi EA. Penatalaksanaan penyakit dan kelainan telinga hidung tenggorok.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2008. h. 52-5.
8. Soeripto M. Higiene industri. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2009. h.323-5, 369-80.

25