Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap bulan secara periodik seorang wanita normal akan mengalami

peristiwa reproduksi, yaitu menstruasi. Peristiwa itu begitu wajar dan alami

sehingga dapat dipastikan bahwa semua wanita yang normal pasti akan

mengalami proses itu. Walaupun begitu, pada kenyataannya banyak wanita

yang mengalami masalah menstruasi, diantaranya adalah nyeri haid. Nyeri

haid adalah nyeri yang bersifat cramping (dipuntir puntir) di bagian bawah

perut, punggung bawah bahkan sampai paha. Nyeri ini timbul bersamaan

dengan haid, sebelum haid atau bisa juga segera setelah haid. (Liyewllyn

Derek , 2005).

Setiap 70% wanita mengalami dismenorhea pada saat menstruasi dalam

kehidupan mereka. Di amerika serikat, prevalensi dismenorhea diperkirakan

hampir 90% dan10-15 diantaranya mengalami dismenorhea berat.(Kingston,

2008).

Angka kejadian dismenorhea di Indonesia adalah sekitar 58-89%,

sedangkan sisanya 45-11% adalah penderita dengan tipe sekunder, yaitu yang

disebabkan oleh penyakit tertentu. Dismenorhea juga bertanggung jawab atas

ketidakhadiran saat bekerja dan sekolah sebanyak 13-51% wanita telah absen

sedikitnya sekali dan 5-14% berulang kali absen. Nyeri haid adalah

perubahan ginekologis yang paling sering terjadi pada wanita (Depkes, 2009).

1
Nyeri saat haid menyebabkan ketidaknyamanan dalam aktivitas fisik

sehari-hari. Keluhan ini berhubungan dengan ketidakhadiran berulang di

sekolah ataupun di tempat kerja, sehingga dapat mengganggu produktivitas.

40-70%wanita pada masa reproduksi mengalami nyeri haid, dan sebesar 10

persen mengalaminya hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Sekitar 70-90

persen kasus nyeri haid terjadi saat usia remaja dan remaja yang mengalami

nyeri haid akan terpengaruh aktivitas akademis, sosial dan olahraganya

(Singh dkk, 2008).

Nyeri haid / dismenerhoe merupakan ketidakseimbangan hormone

progesteron dalam darah sehingga mengakibatkan rasa nyeri timbul, faktor

psikologis juga ikut berperan terjadinya dismenerhoe pada beberapa wanita

wanita pernah mengalami dismenerhoe sebanyak 90 %. Masalah ini

setidaknya mengangu 50 % wanita masa reproduksi dan 60-85% pada usia

remaja, yang mengakibatkanbanyaknya absensi pada sekolah maupun kantor.

Pada umumnya 50-60% wanita diantaranya memerlukan obat-obatan

analgesik untuk mengatasi masalah dismenerhoe ini (Ofedoff, 2005).

Dismenorhea merupakan keluhan yang paling sering ditemukan oleh ahli

ginekologi, pemeriksaannya harus dilakukan secara sistematis. Riwayat medis

dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh merupakan cara diagnostik yang

berhubungan dengan asal dismenorhea ( Andira Dita, 2010 ).

2
Nyeri haid dapat dibagi menjadi 2 yaitu nyeri haid primer dan nyeri haid

sekunder. Nyeri haid primer didefinisikan sebagai nyeri kram yang berulang

yang terjadi saat menstruasi tanpa ada kelainan patologik pada pelvis. Nyeri

haid sekunder adalah nyeri saat haid yang didasari oleh adanya kelainan

patologik pada pelvis, contohnya endometriosis (Dawood, 2006).

Nyeri haid primer biasanya mulai saat usia remaja, saat dimana siklus

ovulasi mulai teratur. Penyebab nyeri haid primer sampai saat ini masih

belum jelas, tetapi beberapa teori menyebutkan bahwa kontraksi miometrium

akan menyebabkan iskemia pada uterus sehingga menyebabkan rasa nyeri.

Kontraksi miometrium tersebut disebabkan oleh sintesis prostaglandin.

Prostaglandin disebut dapat mengurangi atau menghambat sementara suplai

darah ke uterus, yang menyebabkan uterus mengalami kekurangan oksigen

sehingga menyebabkan kontraksi miometrium dan terasa nyeri (Eby, 2006).

Gejala dari nyeri haid primer berupa rasa nyeri di perut bagian

bawah,menjalar ke daerah pinggang dan paha. Kadang-kadang disertai mual,

muntah, diare, sakit kepala dan emosi yang labil. Nyeri timbul sebelum haid

dan berangsur hilang setelah darah haid keluar (Dawood, 2006).

Penanganan awal pada penderita nyeri haid primer adalah dengan

memberikan obat obatan penghilang rasa nyeri dan sebesar 80% penderita

mengalami penurunan rasa nyeri haid setelah minum obat penghambat

prostaglandin (Speroff, 2005). Obat-obatan anti inflamasi golongan non-

steroid seperti ibuprofen,naproksen, asam mefenamat dan aspirin banyak

3
digunakan sebagai terapi awal untuk nyeri haid (Dawood, 2006). Tetapi obat-

obatan tersebut memiliki efek samping gangguan gastrointestinal seperti

nausea, dispepsia, dan muntah-muntah (Harel, 2006). Meskipun keluhan

nyeri haid umum terjadi pada wanita, sebagian besar wanita yang mengalami

nyeri haid jarang pergi ke dokter, mereka mengobati nyeri tersebut dengan

obat-obat bebas tanpa resep dokter. Telah diteliti bahwa sebesar 30-70%

remaja wanita mengobati nyeri haidnya dengan obat anti nyeri yang dijual

bebas (Jones, 2005). Hal ini sangat berisiko, karena efek samping dari obat-

obatan tersebut jika digunakan secara bebas dan tanpa pengawasan dokter.

Sebagai alternatif, dilakukan berbagai penelitian untuk menemukan terapi

pengganti ataupun terapi pelengkap yang lebih aman jika dibandingkan terapi

dengan NSAID, seperti terapi herbal, terapi suplemen, terapi akupuntur,

terapi tingkah laku, dan aroma terapi (Proctor dan Murphy, Han dkk, 2006)

Masih banyak perempuan yang menganggap nyeri haid sebagai hal yang

biasa, mereka beranggapan 1-2 hari sakitnya akan hilang. Padahal nyeri haid

hebat bisa menjadi tanda gejala suatu penyakit misalnya Endometriosis yang

bisa mengakibatkan sulitnya punya keturunan. Menurut dr. Andon

Hestiantoro, SpOG(K) upaya preventif perlu dilakukan untuk mengurangi

kelanjutan dari penyakit. Begitu mengalami nyeri haid yang perlu diatasi

dengan minum obat, sebaiknya segera memeriksakan diri, memang bisa

merupakan nyeri haid primer atau normal, tetapi tidak ada salahnya periksa

bahkan jika masih gadis atau belum menikah. (Pieter,H, 2010).

4
Hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 pada siswi SMP

Muhammadiya Banda Aceh menunjukkan bahwa terdapat 76,6% siswi

mengalami dismenorhea pada saat menstruasi, yang diikuti dengan tingkat

kecemasan sedang sampai berat. Dampak dari kejadian dismenorhea tersebut

menyebabkan para siswi memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Melihat

dampak dari dismenorhea tersebut dapat disimpulkan bahwa dismenorhea

merupakan salah satu stressor dalam kehidupan remaja putri, terutama bagi

kaum remaja yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah. Sehingga akan

menimbulkan suatu kecemasan. Kurangnya pengetahuan dalam menghadapi

gangguan nyeri pada saat menstruasi oleh remaja putri akan berdampak

kurang baik dalam kehidupan. Jika remaja putri tidak diberi informasi tentang

perubahan dan gangguan yang terjadi selama menstruasi tersebut, maka akan

rendah juga motivasi atau minat untuk datang berobat ketempat pelayanan

kesehatan, maka pengalaman perubahan itu akan menjadi pengalaman yang

traumatis (Barry, 2006).

Dalam studi pendahuluan bulan November 2014 puskesmas Bulan Sabit

lampaseh kota di temukan data bahwa belum ada siswi SMP Muhammadiyah

yang datang berobat ke Puskesmas dengan diagnosa dismenorhea tersebut,

jadi dapat di ambil simpulkan bahwa masyarakat kita masih menganggap

dismenorhea bukalah suatu penyakit yang perlu dilakukan pemeriksaan pada

pelayanan kesehatan, bahkan dismenorhea dianggap sepele oleh masyarakat.

Berdasarkan wawancara kepada 10 siswa SMP Muhammadiyah Banda Aceh

sebanyak 9 orang yang mengalami nyeri haid dan hanya satu siswi yang

5
telah datang berobat ke dokter. Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik

untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi siswi SMP

tentang dismenorhea untuk periksa pada pelayanan kesehatan Di SMP

Muhammadiyah Banda Aceh

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut diatas maka rumusan

masalahnya yaitu “Adakah hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi

motivasi siswi SMP terhadap pemeriksaan dismenorhea pada pelayanan

kesehatan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh tahun 2014 ?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi

siswi SMP Muhammadiyah terhadap pemeriksaan dismenorhea pada

pelayanan kesehatan

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan dengan motivasi siswi SMP

terhadap pemeriksaan dismenorhea pada pelayanan kesehatan.

b. Untuk mengetahui pengaruh Informasi dengan motivasi siswi SMP

terhadap pemeriksaan dismenorhea pada pelayanan kesehatan.

c. Untuk mengetahui pengaruh Dukungan orang tua dengan motivasi siswi

SMP terhadap pemeriksaan dismenorhea pada pelayanan kesehatan.

6
d. Untuk mengetahui pengaruh Peran tenaga kesehatan dengan motivasi

siswi SMP terhadap pemeriksaan dismenorhea pada pelayanan

kesehatan.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Dengan penelitian ini bisa menambah pengetahuan, wawasan dan

pengalaman secara langsung yang dapat digunakan untuk praktek di

lapangan nantinya.

2. Bagi instusi pendidikan

Memberi informasi dalam mengidentifikasi hubungan pengetahuan siswi

tentang dismenorhea dengan motivasi untuk periksa ke pelayanan

kesehatan.

3. Bagi tempat penelitian

Memberikan gambaran tentang hubungan pengetahuan siswi tentang

dismenorhea dengan motivasi untuk periksa.