Anda di halaman 1dari 29

PANDANGAN PEMERINTAH

ATAS PENJELASAN DPR RI MENGENAI RUU TENTANG KONSERVASI


SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

PADA RAPAT KERJA PEMERINTAH DENGAN KOMISI IV DPR RI


JAKARTA, 15 JANUARI 2019

1
OUTLINE PAPARAN

KRONOLOGIS RUU KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM


1 HAYATI DAN EKOSISTEMNYA (KSDAHE)

POSISI, KEDAYAGUNAAN, DAN PERAN UU NOMOR 5


2 TAHUN 1990 TENTANG KSDAHE

IMPLEMENTASI DAN KINERJA UU NOMOR 5 TAHUN 1990


3 TENTANG KSDAHE

4 ANALISIS MATERI KRUSIAL RUU KSDAE INISIATIF DPR

5 USULAN TINDAK LANJUT

2
KRONOLOGIS RUU KSDAHE

• Ketua DPR RI menyampaikan RUU tentang Konservasi Sumber Daya Alam


6 Desember 2017 Hayati dan Ekosistemnya, beserta Naskah Akademiknya
(Surat No. LG/2358/DPR RI/XII/2017)

• Mensesneg menyampaikan RUU tentang KSDAHE dan Naskah Akademik,


kepada Menteri LHK, Menteri KKP, Menteri Pertanian, Mendagri, dan Menteri
23 Januari 2018 KumHam, untuk dilakukan pembahasan DIM RUU (Surat No. B-
43/M.Sesneg/D-1/HK.00.02/01 /2018)

• FGD RUU tentang KSDAHE yang dihadiri oleh KLHK, KKP, Kemendagri,
15 Februari 2018 Kementan, Kementerian Hukum dan HAM, dan LIPI

• Pembahasan Pandangan dan Sikap Pemerintah atas RUU KSDAHE oleh KLHK,
23-24 Februari 2018 KKP, Kemendagri, Kementan, Kementerian Hukum dan HAM, LIPI, Pakar dan
Akademisi

• RAPAT TERBATAS KABINET TENTANG RUU KSDAHE, DIPIMPIN OLEH PRESIDEN


4 April 2018 dihadiri oleh Menteri LHK, Menteri KKP, Menteri ESDM, Kepala
4 LIPI, Menteri
Agraria dan Tata Ruang, Setkab, Menko Maritim, Menkumham dan lain-lain.

3
POSISI, KEDAYAGUNAAN, DAN PERAN UU
NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KSDAHE

4
Filosofi dasar UU 5 tahun 1990 ( yakni : perlindungan sistem
penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan
1. pemanfaatan lestari) mengacu pada Strategi Konservasi Dunia
(Worlds Conservation Strategy) 1984, yang bersifat universal.

UU Nomor 5 Tahun 1990 merupakan UU yang secara khusus


2. mengatur tentang konservasi KEHATI dan menjadi rujukan
hukum dalam pengelolaan KSDAHE.

UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, secara tegas


3. menyatakan “Dengan telah ditetapkannya UU 5/1990
tentang KSDAHE, maka semua ketentuan yang telah
POSISI DAN diatur UU tersebut tidak diatur lagi dalam UU 41/1999”
KEDAYAGUNAAN
UU NO. 5 TAHUN Menjadi acuan UU lainnya, al: UU No. 26/2007 tentang
4. Tata Ruang, UU No. 32/2009 ttg Perlindungan dan
1990 Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 21/2014 ttg Panas
Bumi, dan UU No. 23/2014 ttg Pemda.
Materi yang diatur UU No 5 Tahun 1990 masih relevan dengan
kondisi saat ini dan diperkuat dengan Rancangan Perpres
5. Renaksi Nasional Pengelolaan Terpadu Taman Nasional dan
Kawasan Konservasi Perairan Nasional yang disiapkan oleh
Kemenko Kemaritiman.

6. Sampai dengan saat ini UU No 5 tahun 1990 tidak pernah ada


gugatan yudisial review di Mahkamah Konstitusi.
5
AGENDA STRATEGIS TERKAIT KSDAHE

1. Geothermal (Panas Bumi);


2. PSN (Pembangunan Strategis Nasional).
3. Pemberdayaan Masyarakat/Hutan Sosial di
kawasan Konservasi.
4. Destinasi Wisata Alam.
5. Pengawetan dan pemanfaatan TSL/
Keanekaragaman Hayati/SD Genetik.
6. Hidro Power.
7. Kepentingan Budaya.

6
PERAN UU NO. 5 TAHUN 1990
DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL

• PP 28 Tahun 2011 jo. PP 108 Tahun


2015 Pengelolaan KSA dan KPA,
Kepentingan strategis
• Permen LHK P.46 tahun 2016 tentang
(panas bumi)
Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas
Bumi di TN, Tahura, dan TWA

Pembangunan Strategis • PP 28 tahun 2011


Nasional Sesuai Perpres No. 3
• Permenhut No. P.85 tahun 2014
Tahun 2016 jo. 58 th2017 (Jalan
Strategis, Listrik, Pertahanan, • Permen LHK No. P44 tahun 2017
Jaringan Telekomunikasi) tentang Kerjasama dalam KSA dan KPA

• PP 108 tahun 2015


Pemberdayaan Masyarakat • Permen LHK No. 43 tahun
6
2017 tentang
pemberdayaan masyarakat di sekitar
KSA dan KPA
7
Pengembangan Destinasi • PP 36 tahun 2010 tentang Pengusahaan
Wisata Alam Pariwisata Alam di SM, TN, TWA dan Tahura.

Pengawetan dan • PP 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis


Tumbuhan dan Satwa
Pemanfaatan Jenis
• PP 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis
Tumbuhan Dan Satwa Liar dan Tumbuhan Satwa Liar.

• PP No 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan KSA


Pemanfaatan Massa Air
dan KPA
Dan Energi Air
• Permenhut No P.64/Menhut- II/2013.

• PP No 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan KSA


Kepentingan Masyarakat dan KPA
Tradisional , Religi, 6
• Permenhut No P.76/Menhut-II/2015 tentang
Budaya, dan Sejarah
Kriteria Zona dan Blok KSA dan KPA.
8
IMPLEMENTASI DAN KINERJA
UU NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG
KSDAHE

9
DENGAN LUAS 27, 14 JUTA HEKTARE

10
Situs Warisan
Dunia

1. TN. Komodo (1991)


2. TN. Ujung Kulon dan Cagar Alam Anak
Gn. Krakatau (1991)
3. TN. Lorentz (1999)
4. Tropical Heritage Rainforest of Sumatra
- TN. Kerinci Seblat (2004)
- TN. Gunung Leuser (2004)
- TN. Bukit Barisan Selatan (2004)

11
Cagar
Biosfer

1. Cagar Biosfer Cibodas (1977)


2. Cagar Biosfer Komodo (1977)
3. Cagar Biosfer Tanjung Puting (1977)
4. Cagar Biosfer Lore Lindu (1977)
5. Cagar Biosfer Pulau Siberut (1981)
6. Cagar Biosfer Gunung Leuser (1981)
7. Cagar Biosfer Giamsiak Kecil BB (2009)
8. Cagar Biosfer Wakatobi (2012)
9. Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru Arjuno (2015)
10. Cagar Biosfer Taka Bonerate Kepulauan Selayar (2015)
11. Cagar Biosfer Belambangan (2016)

12
Situs Ramsar
(Wetland)

1. TN. Berbak (1992)


2. TN Danau Sentarum (1994)
3. TN. Wasur (2006)
4. TN. Sembilang (2011)
5. TN. Rawa Aopa Watumohai (2011)
6. SM. Pulau Rambut (2011)
7. TN. Tanjung Puting (2013)

13
Taman Warisan
ASEAN

1. TN. Gunung Leuser (1984)

2. TN. Lorentz (1984)


3. TN. Kerinci Seblat (1984)
4. TN. Way Kambas (2015)
5. TN. Kepulauan Seribu (2017)
6. TN. Wakatobi (2017)

14
Konservasi Keanekaragaman Hayati

PNBP Pemanfaatan
TSL Tahun 2018

24,73 miliar 22,05 miliar

15
Pemanfaatan Jasa Lingkungan
Hutan Konservasi

Kunjungan Wisata
Alam Tahun 2018

263 4,26
ribu juta
wisman wisnus
Data s.d. November 2018

PNBP Wisata Alam


Tahun 2018

167,9
milyar
Data s.d. November 2018

16
Pengelolaan Ekosistem Esensial di luar
kawasan konservasi

22 5 2 6
TAMAN KEE KEE KEE
KEHATI MANGROVE KARST KORIDOR

Total luas Kawasan Ekosistem Esensial 723.780 Hektar

17
18
19
ANALISIS
MATERI KRUSIAL
RUU KSDAE INISIATIF
DPR

20
I. Filosofi Dasar Konservasi

1. Pasal 1 angka 1 RUU KSDAHE mengubah


konsepsi pengelolaan konservasi menjadi
Perlindungan, Pemanfaatan dan Pemulihan

• Konsepsi dasar konservasi yang digunakan oleh UU 5 /


1990 adalah Perlindungan, Pengawetan, dan
Pemanfaatan. Konsepsi tersebut diadopsi dari Strategi
Konservasi Dunia (World Conservation Strategi) yang
bersifat universal.
• Konsepsi dasar berpengaruh terhadap materi pengaturan
yang sudah ada.

21
2. Pasal 4 ayat (1) “membagi Lingkup wilayah Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, menjadi :
a. konservasi yang dilakukan di wilayah darat;
b. konservasi yang dilakukan di wilayah perairan;
c. konservasi yang dilakukan di wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil.”

• Konservasi SDAHE didasarkan atas ekosistem yang satu


dengan yang lain saling berkaitan (Ecosystem Based
Management)
• Pemisahan konservasi antara wilayah daratan,
perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil belum selaras
dengan keilmuan (scientific) tentang prinsip-prinsip
dasar ekologi.

22
II. Konsepsi Hak Menguasi Negara Atas SDA
BAB III. HUBUNGAN NEGARA, MASYARAKAT HUKUM ADAT, SERTA
ORANG DENGAN SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA
Pasal 6 ayat (2) huruf c. jo Pasal 8 ayat (2) “menyerahkan sebagian
pengelolaan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya kepada:
badan usaha milik negara atau milik daerah; perguruan tinggi; dan
badan usaha milik swasta nasional.
• Hak penguasaan negara atas SDA sesuai pasal 33 ayat (3) UUD 1945
bahwa “ bumi , air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat”
• Judul Bab III memberikan pemaknaan bahwa Negara, Masyarakat Hukum
Adat, dan Orang berkedudukan sebagai subyek hukum yang setara.
• Penyerahan kewenangan pengelolaan KSDAHE kepada swasta/korporasi,
bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD tahun 1945. Pemanfaatan
tumbuhan dan satwa liar serta jasa lingkungan pada zona/blok tertentu dari
KSA/KPA melalui perizinan sesuai UU No. 5 Tahun 1990
• Mengatur masyarakat hukum adat dalam RUU ini tidak relevan dengan
materi pokok pengaturan Konservasi. Selain itu juga, karena saat ini sedang
berproses RUU tentang Masyarakat Hukum Adat (MHA).
23
III. Konsepsi Izin sebagai implimentasi Hak Menguasai Negara
BAB VIII IZIN USAHA PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN
EKOSISTEMNYA
Pasal 132
ayat (2) “Izin usaha pengelolaan diberikan di semua zona dan/atau blok di
wilayah kawasan suaka alam dan/atau kawasan pelestarian alam”
Ayat (3) “Izin usaha pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
terhadap SDG, Spesies, dan Ekosistem yang meliputi: pelindungan;
pemanfaatan; pemulihan; pengamanan; rehabilitasi dan/atau reklamasi;
restorasi ekosistem; ilmu pengetahuan dan teknologi; sarana dan prasarana;
pendanaan; dan sumber daya manusia.

• Pemberian izin usaha pengelolaan pada semua zona dan /atau


blok Kawasan Suaka Alam dan /atau Kawasan Pelestarian Alam untuk
semua aktifitas pengelolaan (tanpa ada batasan) bertentangan
dengan hak menguasai negara dan menggangu kelestarian SDAHE.
• Konsep usaha/komersialisasi tidak relevan atau paradox dengan
konsep Konservasi. Jalan tengah yang diambil dan sudah berlangsung
adalah pemanfaatan jasa lingkungan; bukan pengelolaan usaha
sumber daya genetik, species dan ekosistem.

24
IV. Ketentuan Peralihan Dan Penutup
Pasal 154 “semua kawasan konservasi yang berada di wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil, perairan, dan perairan pedalaman yang saat ini dikelola
oleh menteri yang menangani urusan di bidang kehutanan dalam jangka
waktu 2 tahun diserahkan kepada Menteri yang menangani kelautan dan
perikanan,
Pasal 157 “Peraturan Pemerintah yang merupakan peraturan pelaksanaan
Undang- Undang ini ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak
Undang- Undang ini diundangkan. (RUU ini Mengamanatkan 30 PP)

• Pasal tersebut tidak sesuai dengan UU No. 12 tahun 2011 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, lampiran 2 huruf c.4 butir 127,
bahwa ketentuan peralihan memuat penyesuaian pengaturan tindakan hukum
atau hubungan hukum yang sudah ada berdasarkan Peratuan Perundang-
undangan yang lama terhadap peraturan UU yg baru.
• Pengaturan ini tidak relevan dalam UU karena merupakan kewenangan penuh
Presiden. Hal ini telah diatasi dengan diterbitkannya Peraturan Presiden tentang
Renaksi Nasional Pengelolaan Terpadu Taman Nasional dan Kawasan Konservasi
Perairan Nasional.

25
PROYEKSI KEBUTUHAN UNTUK PENYESUAIAN
SUBSTANSI UU N0. 5 TAHUN 1990
Konvensi Internasional (sedang • Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD)
diselesaikan dengan RPP tentang • Protokol Nagoya tentang Akses dan Benefit Sharing atas
Perlindungan Sistem Penyangga Pemanfaatan Sumber Daya Genetik)
Kehidupan)
• Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati
Perlindungan Ekosistem (telah
disusun PP 28/2011 jo. PP • Cagar biosfer dan Taman Buru
108/2015 dan PP 13/1994 serta • Kawasan Ekosistem Esensial (KEE)
sedang diselesaikan RPP tentang
Cagar Biosfer)

Peran serta Masyarakat (sedang • Peran serta masyarakat


diselesaikan RPP tentang peran • Pengelolaan daerah penyangga
serta masyarakat dan
perlindungan system penyangga • Protokol Nagoya tentang Akses dan Benefit Sharing
kehidupan dan telah disusun PP atas Pemanfaatan Sumber Daya Genetik)
36/2010)

LIPI sedang mengajukan Perpres dan • Pengelolaan Micro Organisme


telah diterbitkan PP 7/1999 serta PP • Perlindungan atas Pengetahuan Tradisional
8/1999
Penguatan Penegakan Hukum
(diatasi dengan kombinasi hukum • Sanksi Pidana, Kewenangan Kepolisian Khusus dan
Multi doors dan UU 32 tahun 2009) PPNS, serta Sanksi Administratif 26
USULAN TINDAK LANJUT
1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 telah
memiliki peran dan kinerja yang cukup efektif
dalam rangka KSDAHE yang ada di Indonesia
2. RUU KSDAHE yang merupakan RUU inisiatif dari
DPR terdapat banyak Pasal yang tidak sesuai
dengan filosofi konservasi dan prinsip dasar
ekologi serta belum sejalan secara filosofis
universal tentang konservasi dan belum sejalan
dengan pasal 33 ayat (3) UUD 1945
3. Masih diperlukan pendalaman secara mendasar
terkait filosofi konservasi dan prinsip-prinsip
ekologi
27
4. Pemerintah akan merampungkan 3 (tiga)
rancangan PP menjadi PP sesuai amanah UU
Nomor 5 Tahun 1990 yang mengamanatkan 8
(delapan) PP dengan mengakomodir dan
mengintegrasikan muatan dari K/L
5. Mohon perkenan dukungan Komisi IV DPR RI
untuk memberikan waktu kepada Pemerintah
memperbaiki secara mendasar, komperhensif,
dan sistematis diawali dengan substansi
akademik, kerangka konseptual, subtansi dasar,
referensi praktikal, desain teknis dan
penormaan

28
36

Terima Kasih
Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan

29