Anda di halaman 1dari 3

Eritromisin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Jump to navigationJump to search

Eritromisin merupakan antibiotik golongan makrolid. Antibiotika golongan makrolida mempunyai


persamaan yaitu terdapatnya cincin lakton yang besar dalam rumus molekulnya.
1. ASAL DAN KIMIA Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces erythreus. Zat ini
berupa kristal berwarna kekuningan, larut dalam air sebanyak 2 mg/ml. Eritromisin larut lebih
baik dalam etanol atau pelarut organik. Antibiotik ini tidak stabil dalam suasana asam, kurang
stabil pada suhu kamar tetapi cukup stabil pada suhu rendah. Aktivitas in vitro paling besar
dalam suasana alkalis. Larutan netral eritromisin yang disimpan pada suhu kamar akan menurun
potensinya dalam beberapa hari, tetapi bila disimpan pada suhu 5˚ biasanya tahan sampai
beberapa minggu.
2. AKTIVITAS MIKROBA Golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman dengan jalan
berikatan secara reversible dengan ribosom subunit 50S, dan bersifat bakteriostatik atau
bakterisid tergantung dari jenis kuman dan kadarnya. Spektrum antimikroba. In vitro, efek
terbesar eritromisin terhadap kokus gram positif, seperti Str. Pyogenes dan Str. Pneumoniae.
Str. Viridans mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadap eritromisin. S. aureus yang resisten
terhadap eritromisin serin dijumpai di rumah sakit (strain nosokmial). Batang gram positif yang
pka terhadap eritromisin ialah Cl. Perfringens, C. Diphtheriae, dan L. monocytogenes. Eritromisin
tidak aktif terhadap kebanyakan kuman gram negatif, namun ada beberapa spesies yang sangat
peka terhadap eritromisin yaitu N. Gonorrhoeae, Campylobacter jejuni, M. Pneumoniae,
Legionella pneumophila, dan C. Trachomatis. H. Influenzae mempunyai kepekaan yang
bervariasi terhadap obat ini.
3. RESISTENSI Resistensi terhadap eritromisin terjadi melalui 3 mekanisme yang diperantarai
oleh plasmid yaitu : 1.Menurunnya permeabilitas dinding sel kuman, 2.Berubahnya reseptor obat
pada ribosom kuman, dan 3.Hidrolisis obat oleh esterase yang dihasilkan oleh kuman tertentu
(Enterobacteriaceae)
4.FARMAKOKINETIK 1.Pemberian Eritromisin basa dihancurkan oleh asam lambung sehingga
obat ini diberikan dalam bentuk tablet salut enterik atau ester. Semua obat ini diabsorpsi secara
adekuat setelah pemberian per-oral. 2.Distribusi Distribusi eritromisin ke seluruh cairan tubuh
baik kecuali ke cairan sebrospinal. Obat ini merupakan satu di antara sedikit antibiotika yang
bedifusi ke dalam cairan prostat da mempunyai sifat akumulasi unit ke dalam makrofag. Obat ini
berkumpul di hati. Adanya inflamasi menyebabkan penetrasinya ke jaringan lebih baik.
3.Metabolisme Eritromisin dimetabolisme secara ekstensif dan diketahui menghambat oksidasi
sejumlah obat melalui interaksinya dengan sistemsitokrom P-450. 4.Ekskresi Eritromisin
terutama dikumpulkan dan diekskresikan dalam bentuk aktif dalam empedu. Reabsorpsi parsial
terjadi melalui sirkulasi enterohepatik.
5.EFEK SAMPING 1.Gangguan epigastrik Efek samping ini paling sering dan dapat
mengakibatkan ketidakpatuhan pasien terhadap eritromisin. 2.Ikterus Kolestatik Efek samping ini
terjadi terutama pada eritromisin estolat. Reaksi ini timbul pada hari ke 10-20 setelah dimulainya
terapi. Gejalanya berupa nyeri perut yang menyerupai nyeri pada kolestasis akut, mual, muntah,
kemudian timbul ikterus, demam, leukositosis dan eosinofilia; transaminase serum dan kadar
bilirubin meninggi; kolesitogram tidak menunjukkan kelainan. 3.Ototoksisitas Ketulian sementara
berkaitan dengan eritromisin terutama dalam dosis tinggi. 4.Reaksi Alergi Reaksi alergi mungkin
timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan eksantem yang cepat hilang bila terapi dihentikan.
6.INTERAKSI OBAT 1.Eritromisin dengan obat asma (turunan teofilin) Efek obat asma dapat
meningkat. Obat asma digunakan untuk membuka jalan udara paru-paru dan untuk
mempermudah pernapasan penderita asma. Akibatnya : terjadi efek samping merugikan karena
terlalu banyak obat asma. Gejala yang dlaporkan : mual, salit kepala, pusing, mudah terangsang,
tremor, insomnia, aritmia jantung, takhikardia, dan kemungkinan kejang. 2.Eritromisin dengan
Karbamazepin Efek karbamazepin dapat meningkat. Karbamazepin adalah antikonvulsan yang
digunakan untuk mengendalikan kejang pada gangguan seperti ayan. Akibatnya : terjadi efek
samping merugikan yang disebabkan karena terlalu banyak karbamazepin. Gejala yang
dilaporkan : pusing, mual, nyeri perut, dan nanar. 3.Eritromisin dengan Digoksin Efek digoksin
meningkat. Digoksin digunakan untuk layu jantung dan untuk menormalkan kembali denyut
jantung yang tak teratur. Akibatnya : terjadi fek samping merugikan karena terlalu banyak
digoksin. Gejala yang dilaporkan : mual, kehilangan nafsu makan, aritmia jantung, takhikardia
atau bradikardia. 4.Erirtromisin dengan Klindamisin atau Linkomisin Efek antibiotika klindamisin
dan linkomisin dapat berkurang. Akibatnya : infeksi yang diobati mungkin tidak sembuh seperti
yang diharapkan. 5.Erirtromisin dengan Antibiotika penisilin Efek masing-masing antibiotika
dapat meningkat atau berkurang. Karena akibatnya sulit diramalkan, sebaiknya kombinasi ini
dihindari.
7.SEDIAAN DAN POSOLOGI Tabel Posologi eritromisin Preparat Kemasan Posologi/ cara
pemberian Keterangan Eritromisin Kapsul/tablet 250 mg dan 500 mg Dewasa : 1-2 g/hari, dibagi
dalam 4 dosis Anak : 30-50 mg/kg berat badan sehari dibagi dalam 4 dosis Dosis dapat
ditingkatkan 2x lipat pada infeksi berat Obat diberikan sebelum makan Eritromisin stearat Kapsul
250 mg dan tablet 500 mg Suspensi oral mengandung 250 mg/5 ml Dewasa : 250-500 mg tiap 6
jam atau 500 mg tiap 12 jam Anak : 30-50 mg/kg berat badn sehari dibagi dalam beberapa dosis
Idem Eritromisin etilsuksinat Tablet kunyah 200 mg Suspensi oral mengandung 200 mg/5 ml
dalam botol 60 ml Tetes oral mengandung 100 mg/2,5 ml dalam botol 30 ml Dewasa : 400-800
mg tiap 6 jam atau 800 m tiap 12 jam Anak: 30-50 mg/kg berat badan sehari dibagi dalam
beberapa dosis Obat tidak perlu diberikan sebelum makan

8.PENGGUNAAN KLINIK 1.Infeksi Mycoplasma pneumoniae Eritromisin yang diberikan 4 kali


500 mg sehari per oral mempercepat turunnya panas dan mempercepat penyembuhan sakit.
2.Penyakit Legionnaire Eritromisin merupakan obat yang dianjurkan untuk pneumonia yang
disebabakan oleh Legionella pneumophila. Dosis oral ialah 4 kali 0,5-1 g sehari atau secara
intravena 1-4 g sehari. 3.Infeksi Klamidia Eritromisin merupakan alternatif tetrasiklin untuk infeksi
klamidia tanpa komplikasi yang menyerang uretra, endoserviks, rektum atau epididimis.
Dosisnya ialah 4 kali sehari 500 mg per oral yang diberikan selama 7 hari. Eritromisin
merupakan obat terpilih untu wanita hamil dan anak-anak dengan infeksi klamidia. 4.Difteri
Eritromisin sangat efektif untuk membasmi kuman difteri baik pada infeksi akut maupun pada
carrier state. Perlu dicatat bahwa eritromisin maupun antibiotika lain tidak mempengaruhi
perjalanan penyakit pada infeksi akut dan komplikasinya. Dalam hal ini yang penting antitoksin.
5.Infeksi streptokokus Faringitis, scarlet fever dan erisipelas oleh Str. Pyogenes dapat diatasi
dengan pemberian eritromisin per oral dengan dosis 30 mg/kg BB/hari selama 10 hari.
Pneumonia oleh pneumokokus juga dapat diobati secara memuaskan dengan dosis 4 kali sehari
250-500 mg. 6.Infeksi stapilokokus Eritromisin merupakan alternatif penisilin untuk infeksi ringan
oleh S. Aureus (termasuk strain yang resisten terhadap penisilin). Tetapi munculnya strain-strain
yang resisten telah mengurangi manfaat obat ini. Untuk infeksi berat oleh stafilokokus yang
resisten terhadap penisilin lebih efektif bila digunakan penisilin yang tahan penisilinase (misalnya
dikloksasilin atau flkloksasilin) atau sefalosporin. Dosis eritromisin untuk infeksi stafilokokus pada
kulit atau luka ialah 4 kali 500 mg sehar yang diberikan selama 7-10 hari per oral. 7.Infeksi
Campylobacter Gastroenteritis oleh Campylobacter jejuni dapat diobati dengan eritromisin per
oral 4 kali 250 mg sehari. Dewasa ini fluorokuinolon telah menggantikan peran eritromisin untuk
infeksi ini. 8.Tetanus Eritromisin per oral 4 kali 500 mg sehari selama 10 hari dapat membasmi
Cl. tetani pada penderita tetanus yan alergi terhadap penisilin. Antitoksin, obat kejang dan
pembersih luka merupakan tindakan lain yang sangat penting. 9.Sifilis Untuk penderita sifilis
stadium diniyang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan eritromisin per oral dengan dosis 2-4
g sehari selama 10-15 hari. 10.Gonore Eritromisin mungkin bermanfaat untuk gonore diseminata
pada wanita hamil yang alergi tehadap penisilin. Dosis yang diberikan ialah 4 kali 500 mg sehari
yang diberika selama 5 hari per oral. Angka relaps hampir mencapai 25 % 11.Penggunaan
profilaksis Obat terbaik untuk mencegah kambuhnya demam reumatik ialah penisilin. Sulfonamid
dan eritromisin dapat dipakai bila penderita alergi terhadap penisilin. Eritromisin juga dapat
dipakai sebagai pengganti penisilin untuk penderita endokarditis bakterial yang akan dicabut
giginya. Dosis eritromisin untuk keperluan ini ialah 1 g per oral yang diberikan 1 jam sebelum
dilakukan tindakan, dilanjutkan dengan dosis tunggal 500 mg yang diberikan 6 jam kemudian.
12.Pertusis Bila diberikan pada awal infeksi, eritromisin dapat mempercepat penyembuhan.
9.NAMA DAGANG DIPASARAN 1.Aknemycin 2.Arsitrosin 3.Bannthrocin 4.Cetathrocin
5.Corsatrocin 6.Decathrocin 7.Erira 8.Eritromec 9.Erphatrocine 10.Erybiotic 11.Erycoat forte
12.Eryderm 13.Erymed 14.Erymed plus 15.Eryprima 16.Erysanbe 17.Erythrin 18.Erythrocin
19.Erythrocin E.E.S 20.Hoprin 21.Jeracin 22.Kemothrocin 23.Konithrocin 24.Medoxin
25.Opithrocin 26.Pharothrocin 27.Rythron 28.Tamaret 29.Throcidan 30.Tromilin 31.Zapphire

DAFTAR PUSTAKA
1. Ganiswara, G, Suliatia, dkk., 1995., Farmakologi Dan Terapi Edisi ke-4., Fakultas Kedokteran
UI., Jakarta., 675-678 2. J. Mycek, Mary, dkk., 2001., Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi ke-
2., Widya Medika., Jakarta., 321-323 3. Harkness, Richard., 1984., Interaksi Obat., ITB.,
Bandung., 210-211 4. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia., ISO., Jakarta., 501