Anda di halaman 1dari 51

PRAKATA...

Beton, hingga saat ini, adalah salah satu material konstruksi yang paling
dominan digunakan dan terus mengalami penyesuaian terhadap
perkembangan teknologi bahan dan struktur.
Lahir dari keinginan untuk meningkatkan mutu beton, mempermudah
pelaksanaan dengan menyediakan suatu pedoman dasardan sebagai
pelaksanaan knowledge management system, maka PT Wijaya Karya
melalui Biro Enjiniring telah menyusun suatu buku yang berisi pengetahuan
dan pedoman-pedoman dasar untuk pekerjaan yang berhubungan dengan
beton. Buku ini diharapkan dapat menjadi semacam “how to do it” manual
bagi para pelaksana di lapangan, maupun sebagai sumber pengetahuan
bagi para pembacanya.

Jakarta, Agustus 2005

Ir. Sapto Dewantono Ir. Muryadi Yusuf


General Manager Operasional II General Manager Operasional I
PENGANTAR...
Fakta bahwa kita mempunyai permasalahan yang sama setiap kali kita
mengerjakan pekerjaan beton, bukanlah hal yang disebabkan oleh
material betonnya saja. Hal ini juga dikarenakan kurangnya disiplin untuk
mengaplikasikan pengetahuan umum dan cara-cara sederhana untuk
membuat adukan beton, mengecor dan merawat beton, sehingga hasilnya
adalah beton dengan kualitas yang kurang dari perencanaan semula.
Untuk memperbaikinya, maka harus direncanakan dan dilaksanakan
dengan matang. Kemampuan, pengetahuan dan pengalaman dibutuhkan
untuk berhubungan dengan segala macam proporsi campuran dan kondisi
lapangan. Selain perencanaan yang baik, memiliki sumber daya manusia
yang layak, ketersediaan peralatan dan waktu operasi yang tepat untuk
kondisi lapangan adalah penting.
Standar Pekerjaan Beton ini berisi hal-hal yang umum dan mendasar
untuk membantu pelaksanaan dan peningkatan mutu beton. Standar
ini tidak menutup kemungkinan untuk lebih dikembangkan sesuai
spesifikasi permintaan dan perkembangan teknologi beton.

Desember 2004

Penyusun
SAFETY GUIDE
Petunjuk Keam anan Pekerjaan Beton

* K o n ta k dengan beton s e g a r (yang belum m en g e ra s ), m o rtar,


sem en a ta u ad u kan sem en d a p a t m en y eb a b kan irita s i, luka
b a k a r k im ia w i yang b e ra t dan lu ka serius pada m ata

* H ind ari k o n ta k dengan m a ta dan k u lit

* S elalu m en g g u n akan sarung ta n g a n ked ap air, baju lengan


panjang dan pelindung m a ta s a a t b e k e rja dengan ad u kan beton

* J ik a harus berdiri pada beton yang m asih basah, p a k a ila h


s ep atu boot ta h a n a ir yang ra p a t d ib ag ian a ta s dan cukup
tin gg i u n tu k m e n c e g a h beton m asu k k ed alam s e p a tu . P ak a ila h
ju g a b a n ta la n lu tu t u n tuk m elin du ng i lu tu t s a a t sedang m ela k u k an
finishing beton

*C u ci dan b ers ih k a n beton basah, m o rtar, sem en a ta u adu kan


sem en dari k u lit dan p a k a ia n dengan a ir yang bersih s e s e g e ra
m ungkin s e te la h k o n ta k berlangsung
Kritik dan saran serta berbagai bentuk masukan dari Pembaca akan
membantu penyempurnaan buku ini di masa depan.

Anda dapat mengirim kritik, saran dan masukan ke:

Biro Enjiniring, PT Wijaya Karya


Jl. DI Panjaitan Kav. 9 Jakarta 13340, Indonesia
PO BOX 4174/JKTJ
Telp. +62 21 8192808; 8508640; 8508650
Fax. +62 21 85911972
E-mail: adwijaya@wika.co.id

U C A P A N T E R IM A K A S IH

Penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk


setiap masukan dan kontribusi dari para personel yang terlibat dari Biro
Enjiniring, Divisi Sipil Umum, Divisi Peralatan Konstruksi, PT WIKA Beton
dan Pabrik Beton Pracetak PT WIKA Beton

TIM PENYUSUN
Ir. Suardi Bahar, MT
Ir. Nur Al Fata, MT
Ir. Rahman Suhanda
Enny Kurniawati, ST
DAFTAR ISI

BAGIAN I PENGETAHUAN UMUM BETON


1.1 DEFINISI BETON I-1
1.2 JENIS-JENIS BETON I-2
1.3 SIFAT-SIFAT BETON I-3
1.4 HIDRASI I- 6
1.5 MUTU BETON I- 6

BAGIAN 2 MATERIAL PEMBENTUK BETON


2.1 SEMEN II-1
2.2 AGREGAT II-3
2.3 AIR II-5
2.4 BAHAN TAMBAHAN (ADITIF) II-7

BAGIAN 3 MIX DESIGN


3.1 TATA CARA PEMBUATAN RENCANA CAMPURAN
BETON NORMAL SESUAI SNI T-15-1990-03 IIM
3.2 TATA CARA PERANCANGAN PROPORSI CAMPURAN
BETON NORMAL SESUAI SNI 03-2847-2002 POIN 7.3 IIM 3

BAGIAN 4 PELAKSANAAN
4.1 PEN CAM P U RAN/MIXING IV-1
a. Site-Mix IV-1
b. Ready-Mix IV-3
4.2 PENGANGKUTAN IV-4
4.3 PERSIAPAN LOKASI IV-5
4.4 PERALATAN PENGECORAN IV- 6
a. Agitator Truck IV- 6
b. Concrete Pump IV-7
c. Tremie IV-7
d. Placing Boom IV- 8
e. Vibrator IV-9
4.5 PENGECORAN IV-10
IV-15
4.6 PEMADAT AN/COMPACTING
4.7 FINISHING IV-17
a. Screeding IV-17
b. Hand Tamping IV-19
c. Floating IV-20
d. Edging IV-21
e. Trowelling IV-21
f. Brooming IV-23
g. Grinding IV-24
h. Sack-rubbed Finishing IV-24
i. Exposed Aggregate Finishing IV-25
4.8 PERAWATAN IV-25
4.9 EVALUASI & PENGENDALIAN MUTU BETON IV-31
a. Pengujian Kualitas beton IV-32
b. Langkah Pemeriksaan Mutu Beton di Lapangan IV-36

BAGIAN 5 RETAK DAN PERBAIKAN CACAT BETON


5.1 RETAK V-1
a. Retak Akibat Early Thermal Contraction V-2
b. Retak Akibat Long Term Drying Shrinkage V-2
c. Retak Plastic V-5
c. 1 Plastic Settlement Crack V- 6
c.2 Plastic Shrinkage Crack V- 8
5.2 PERBAIKAN CACAT BETON V-9
a. Plinth Antar Sambungan V-9
b. Bunting Akibat Bekisting Berubah Bentuk V-10
c. Keropos V-10
d. Pecah Kecil (<5 cm dalamnya) V-11
e. Pecah Besar (>5 cm dalamnya) V-11
f. Lubang Besar Akibat Udara Terperangkap V-12
g. Tali Air/Lubang Kecil Akibat Udara Terperangkap V-12
h. Retak Rambut (Lebar <0.5 mm) V-13
i. Retak Besar dan Dalam (Lebar >0.5 mm dan dalam >1 V-13
cm)
5.3 APLIKASI ACIAN PEWARNAAN V-14
BAGIAN 6 PENGENALAN SELF-COMPACTING CONCRETE
6.1 PENDAHULUAN VI-1
6.2 SIFAT-SIFAT BETON KERAS VI-2
6.3 SIFAT-SIFAT BETON SEGAR DAN CARA VI-4
PENGUJIANNYA
a. Daya Alir VI-5
b. Kekentalan VI - 6
c. Passing Ability VI-7
d. Daya Tahan Segregasi/Segregation Resistance VI - 8
6.4 MIX-DESIGN VI-11
6.5 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT VI-15
PELAKSANAAN
6 .6 MEMPERBAIKI KUALITAS AKHIR SCC VI-16

BAGIAN 7 PENGETAHUAN BETON PRACETAK


7.1 PENDAHULUAN VII-1
7.2 JENIS-JENIS HASIL PRODUKSI VII-1
7.3 MATERIAL DAN SPESIFIKASI VII - 6
7.4 PROSES PRODUKSI VII-9
7.5 MIX-DESIGN VII-12
7.6 CETAKAN VII-13
7.7 PENGADUKAN BETON DAN PENGECORAN VII-13
7.8 PEMADATAN VII-14
7.9 PEKERJAAN STRESSING VII-15
7.10 PERAWATAN BETON VII-16
7.11 PENGANGKATAN VII-17
7.12 PENGANGKUTAN VII-18
7.13 QUALITY CONTROL VII-19

BAGIAN 8 INSPEKSI PERALATAN


8.1 PENDAHULUAN VIII-1
8.2 MACAM-MACAM FORMULIR INSPEKSI VIII-1
LAMPIRAN 1 SPESIFIKASI PRODUK BETON PRACETAK PT W IKA BETON

LAMPIRAN 2 FORMULIR INSPEKSI PERALATAN

GLOSSARY
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Material Utama Pembentuk Beton

Gambar 1.2 Potongan Melintang Beton

Gambar 1.3 Proporsi Bahan Penyusun Beton

Gambar 1.4 Strength vs Workability

Gambar 1.5 Diagram Laju Kenaikan Kuat Tekan Beton

Gambar 2.1 Setting Time Semen


Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton (Penelitian Pengaruh
Gambar 2.2 Perbedaan Kadar Lumpur Pasir)

G b 3 1 Hubungan Faktor Air Semen dan Kuat Tekan Rata-rata


am ar . Silinder Beton (Sebagai Perkiraan FAS)
Gambar 3.2 Grafik Mencari Faktor Air-Semen
Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat Keseluruhan
Gambar 3.3 untuk Ukuran Butir Maksimum 10 mm

Gambar 3.4 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat Keseluruhan


untuk Ukuran Butir Maksimum 20 mm

Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat Keseluruhan


Gambar 3.5 untuk Ukuran Butir Maksimum 40 mm

Grafik Hubungan Kandungan Air, Berat Jenis Agregat


Gambar 3.6 Campuran dan Berat Beton

G b 3 7 Diagram Alir Perancangan Proporsi Campuran Berdasarkan


Ga r SNI 03-2847-2002
Gambar 4.1 Teknik Pengecoran

Gambar 4.2 Pemadatan Manual

Gambar 4.3 Pemadatan Mekanis

Gambar 4.4 Alat Screed Mekanis

Gambar 4.5 Alat Hand Tamping

Gambar 4.6 Floating

Gambar 4.7 Edger


Gambar 4.8 Trowel Baja IV-22

Gambar 4.9 Perbandingan Kekuatan Beton (Dipelihara dan Tidak) IV-25

Gambar 4.10 Perawatan dengan Karung Goni yang Dibasahi IV-27

Gambar 4.11 Perawatan dengan Lapisan Waterproof IV-27

Gambar 4.12 Diagram Proses Pengendalian IV-31

Gambar 4.13 Variabilitas IV-32

Gambar 4.14 Diagram Pemeriksaan Mutu Beton di Lapangan IV-36

Gambar 5.1 Contoh Plastic Settlement Crack 1 V- 6

Gambar 5.2 Contoh Plastic Settlement Crack 2 V- 6

Gambar 5.3 Contoh Plastic Settlement Crack 3 V-7

Gambar 5.4 Tensile Srain Capacity and Shrinkage Strain V- 8

Gambar 5.5 Contoh Plastic Shrinkage Crack V- 8

Gambar 5.6 Perbaikan Keropos pada Beton V-10

Gambar 6.1 Ukuran Base Plate untuk Pengujian Slump-flow VI - 6

Gambar 6.2 Dimensi V-Funnel (Pengujian Kekentalan) VI - 6

Gambar 6.3 Pengujian Passing Ability dengan L-box VI - 8

Gambar 6.4 Ukuran dan Desain L-box yang Umum VI - 8

Gambar 6.5 Prosedur Mix-Design VI-14

Gambar 7.1 Proses Produksi PC Piles VII-9


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tipe Portland Semen II-1

Tabel 2.2 Perkiraan Komposisi Berbagai Tipe Standar Semen Portland II-2
Kandungan Ion Klorida Maksimum untuk Perlindungan Baja
Tabel 2.3 II- 6
Tulangan Terhadap Korosi
Tabel 3.1 Nilai Deviasi Standar III-1

Tabel 3.2 Faktor Pengali Deviasi Standar III-1

Tabel 3.3 Perkiraan Kuat Tekan Beton (MPa) dengan FAS 0.5 III-3
FAS Maksimum untuk Berbagai Pembetonan dan Lingkungan
Tabel 3.4 III-4
Khusus
Tabel 3.5 Penetapan Nilai Slump III-5

Tabel 3.6 Perkiraan Kebutuhan Air Per Meter Kubik Beton (Liter) III-5
Kebutuhan Semen Minimum untuk Berbagai Pembetonan dan
Tabel 3.7 III- 6
Lingkungan Khusus
Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton
Tabel 3.8 III-7
yang Berhubungan dengan Air Tanah yang Mengandung Sulfat
Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton
Tabel 3.9 III- 8
Bertulang/Prategang Kedap Air
Tabel 3.10 Batas Gradasi Pasir III-9

Tabel 3.11 Formulir Perancangan Adukan Beton III-12


Faktor Modifikasi untuk Deviasi Standar Jika Jumlah Pengujian
Tabel 3.12 III-14
Kurang Dari 30 Contoh
Kuat Tekan Rata-rata Perlu Jika Data Tidak Tersedia untuk
Tabel 3.13 III-14
Menetapkan Deviasi Standar
Tabel 3.14 Persyaratan Beton untuk Lingkungan Khusus III-16
Persyaratan untuk Beton yang Dipengaruhi Oleh Lingkungan
Tabel 3.15 III-17
yang Mengandung Sulfat
Tabel 4.1 Standar Waktu Minimum Pemutaran Alat Pencampur Beton IV-2

Tabel 4.2 Getaran Minimum dengan Internal Vibrator IV-16

Tabel 4.3 Metode Curing IV-2 9

Tabel 4.4 Perbandingan Kuat Tekan Beton Uji IV-33

Tabel 4.5 Sampling Benda Uji IV-34


Tabel 5.1 Jenis dan Tipe Retak V-1

Tabel 5.2 Batasan Lebar retak (ACI 224R-19) V-3


Aplikasi Acian Pewarnaan untuk Tutup Lubang Bekas Tie-Rod
Tabel 5.3 V-14
Parapet
Aplikasi Acian Pewarnaan untuk Lubang Besar Akibat Udara
Tabel 5.4 Terperangkap dan Tali Air/Lubang Kecil Akibat Udara V-15
Terperangkap

Tabel 5.5 Aplikasi Acian Pewarnaan untuk Plinth dan Keropos-Kolom V-16

Tabel 6.1 Metode Pengujian Beton Segar VI-4

Tabel 6.2 Klasifikasi Slump-flow dan Aplikasinya VI-5

Tabel 6.3 Klasifikasi Kekentalan dan Aplikasinya VI-7

Tabel 6.4 Klasifikasi Passing Ability dan Aplikasinya VI-7

Tabel 6.5 Klasifikasi Daya Tahan Segregasi dan Aplikasinya VI-9


Sifat-sifat SCC untuk Berbagai Penggunaan Berdasarkan
Tabel 6 .6 VI-9
Penelitian Walraven, 2003
Tabel 6.7 Klasifikasi Aditif VI-11

Tabel 6 .8 Rentang Umum Komposisi Campuran SCC VI-13

Tabel 6.9 Cacat Keropos seperti Sarang Lebah VI-16

Tabel 6.10 Cacat Pengelupasan VI-16

Tabel 6.11 Perbaikan Cacat Burik VI-17

Tabel 6.12 Cacat Cold-joint VI-18

Tabel 6.13 Cacat Permukaan yang Tidak Rata VI-18

Tabel 6.14 Variasi Warna VI-19

Tabel 6.15 Cacat Tali Air VI-19

Tabel 6.16 Cacat akibat Retak Plastis VI-20

Tabel 7.1 Spesifikasi Material dan Spesifikasi Umum Beton Pracetak VII- 6
DEFINISI BETON
JENIS-JENIS BETON
SIFAT-SIFAT BETON
HIDRASI
MUTU BETON

BAGIAN 1
PENGETAHUAN UMUM
BETON
Pengetahuan umum beton

1.1 DEFINISI BETON


Material komposit yang terdiri dari medium pengikat (pada umumnya campuran
semen hidrolis dan air), agregat halus (pada umumnya pasir) dan agregat kasar
(pada umumnya kerikil) dengan atau tanpa bahan tambahan/campuran/additives

Beton

Air
Kerikil
Pasir
Semen

G am bar 1.1 Material Utama Pembentuk Beton

Agregat
Kasar

Pasta Semen
Mengisi Celah
Antar Agregat

G am bar 1.2 Potongan Beton


Pengetahuan umum beton

Gam bar 1.3. Proporsi Bahan Penyusun Beton

A ir Entrained Concrete: Beton yang didalamnya terdapat gelembung-gelembung udara


kecil yang sengaja dibuat terperangkap oleh bahan tambahan khusus sehingga akan
merubah sifat-sifat beton. Pada beton segar, entrained air akan meningkatkan
workability campuran sehingga mengurangi jumlah air dan pasir yang dibutuhkan.

1.2 JENIS-JENIS BETON


a. Beton ringan
Berat jenisnya<1900 kg/m3, dipakai untuk elemen non-struktural. Dibuat
dengan cara-cara berikut: membuat gelembung udara dalam adukan
semen, menggunakan agregat ringan (tanah liat bakar/batu apung) atau
pembuatan beton non-pasir.

b. Beton norm al
Berat jenisnya 2200-2500 kg/m3, dipakai hampir pada semua bagian
struktural bangunan.

c. Beton berat
Berat jenis>2500 kg/m3, dipakai untuk struktur tertentu, misal: struktur
yang harus tahan terhadap radiasi atom.
d. Beton je n is lain
o Beton massa (mass concrete)
Beton yang dituang dalam volume besar, biasanya untuk pilar, bendungan
dan pondasi turbin pada pembangkit listrik. Pada saat pengecoran beton
jenis ini, pengendalian diutamakan pada pengelolaan panas hidrasi yang
timbul, karena semakin besar massa beton maka suhu didalam beton
semakin tinggi. Bila perbedaan suhu didalam beton dan suhu di
permukaan beton >20 oC dapat menimbulkan terjadinya tegangan tarik
yang disertai retak-retak
Pengetahuan umum beton

Retak beton juga dapat timbul akibat penyusutan beton (shrinkage) yang
dipengaruhi oleh kelembaban beton saat pengerasan berlangsung.
Selain itu, besarnya volume beton saat pengecoran mass concrete akan
beresiko timbulnya cold-joint pada permukaan beton baru dengan beton lama
mengingat waktu setting beton yang singkat ( ± 2 jam), sehingga perlu
direncanakan metode pengecoran yang sesuai dengan perilaku beton tersebut.
Berdasarkan hal-hal diatas, maka langkah preventif untuk menghindari
terjadinya retak beton dapat dikategorikan atas pemilihan komposisi beton (nilai
slump, pemberian admixture, FAS) dan praktek pelaksanaan di lapangan (suhu
udara saat pengecoran, curing, menggunakan bekisting dengan kemampuan
isolasi yang bagus dan menyiapkan construction joint) . Pemberian tulangan
ekstra untuk menahan gaya tarik akibat panas hidrasi dapat juga dilakukan
sebagai salah satu pertimbangan struktural.

o Ferosemen (ferrocement)
Mortar semen yang diberi anyaman kawat baja. Beton ini mempunyai
ketahanan terhadap retakan, ketahanan terhadap patah lelah, daktilitas,
fleksibilitas dan sifat kedap air yang lebih baik dari beton biasa.
o Beton serat (fibre concrete)
Komposit dari beton biasa dan bahan lain yang berupa serat, dapat berupa
serat plastik/baja. Beton serat lebih daktail daripada beton biasa, dipakai
pada bangunan hidrolik, landasan pesawat, jalan raya dan lantai jembatan.
o Beton siklop
Beton biasa dengan ukuran agregat yang relatif besar-besar. Agregat kasar
dapat sebesar 20 cm. Beton ini digunakan pada pembuatan bendungan dan
pangkal jembatan.
o Beton hampa
Seperti beton biasa, namun setelah beton tercetak padat, air sisa reaksi
hidrasi disedot dengan cara vakum (vacuum method)
o Beton ekspose
Beton ekspose adalah beton yang tidak memerlukan proses finishing,
biasanya beton ini dihasilkan dengan menggunakan bahan bekisting yang
dapat menghasilkan permukaan beton yang halus (misal baja dan multiplek
film). Beton ini sering dijumpai pada gelagar jembatan, lisplang, kolom dan
balok bangunan

.3 SIFAT-SIFAT BETON
Beton Segar
o Kemudahan pengerjaan/Workability,umumnya dinyatakan dalam besaran
nilai slump (cm) dan dipengaruhi oleh:
• Jumlah air yang dipakai. Makin banyak air, beton makin mudah
dikerjakan
• Penambahan semen. Semen bertambah, air juga ditambah agar FAS
tetap, maka beton makin mudah dikerjakan
• Gradasi campuran pasir dan kerikil
• Pemakaian butir maksimum kerikil yang dipakai
• Pemakaian butir-butir batuan yang bulat
Pengetahuan umum beton

G am bar 1.4. Strength vs Workability

o Segregasi, kecenderungan agregat kasar untuk memisahkan diri dari


campuran adukan beton, peluang segregasi diperbesar dengan:
• Campuran yang kurus/kurang semen
• Pemakaian air yang terlalu banyak
• Semakin besar butir kerikil yang dipakai
• Campuran yang kasar, atau kurang agregat halus
• Tinggi jatuh pengecoran beton yang terlalu tinggi
o Bleeding, kecenderungan air campuran untuk naik keatas (memisahkan
diri) pada beton segar yang baru saja dipadatkan. Hal ini dapat dikurangi
dengan cara:
• Memberi lebih banyak semen dalam campuran
• Menggunakan air sesedikit mungkin
• Menggunakan pasir lebih banyak
• Menyesuaikan intensitas dan durasi penggetaran pemadatan sesuai
dengan nilai slump campuran

Beton Keras
1). Sifat jangka pendek
o Kuat tekan, dipengaruhi oleh:
• Perbandingan air semen dan tingkat pemadatan
• Jenis semen dan kualitasnya
• Jenis dan kekasaran permukaan agregat
• Umur (pada keadaan normal, kekuatan bertambah sesuai dengan
umurnya). Lihat Gam bar 1.5
• Suhu (kecepatan pengerasan bertambah dengan naiknya suhu)
Perawatan
Pengetahuan umum beton

o Kuat tarik
Kuat tarik beton berkisar 1/18 kuat tekan beton saat umurnya masih
muda dan menjadi 1/20 sesudahnya. Kuat tarik berperan penting dalam
menahan retak-retak akibat perubahan kadar air dan suhu

o Kuat geser
Didalam prakteknya, kuat tekan dan tarik selalu diikuti oleh kuat geser.

Sifat jangka panjang


o Rangkak, adalah peningkatan deformasi (regangan) secara bertahap
terhadap waktu akibat beban yang bekerja secara konstan, dipengaruhi
oleh:
• Kekuatan. Rangkak berkurang bila kuat tekan makin besar
• Perbandingan campuran. Bila FAS berkurang maka rangkak berkurang
• Agregat. Rangkak bertambah bila agregat halus dan semen bertambah
banyak
• Umur. Kecepatan rangkak berkurang sejalan dengan umur beton

o Susut, adalah berkurangnya volume beton jika terjadi kehilangan


kandungan uap air akibat penguapan, dipengaruhi oleh:
• Agregat. Berperan sebagai penahan susut pasta semen
• Faktor air semen. Efek susut makin besar jika FAS makin besar
• Ukuran elemen beton. Laju dan besarnya penyusutan berkurang jika
volume elemen beton makin besar

Gam bar 1.5. Diagram Laju Kenaikan Kuat Tekan Beton


Pengetahuan umum beton

Beton yang Baik


1. Bahan pengisi baik
• kekerasan butiran
• gradasi
• kepadatan butiran
• bentuk butiran
2. Bahan perekat baik
• semen sesuai
• FAS sesuai
3. Lekatan / ikatan baik
• kekasaran permukaan butiran baik
• material alam bersih
4. Pemeliharaan baik

1.4 HIDRASI
Proses Hidrasi
Adalah reaksi kimia antara partikel semen dan air menghasilkan pasta semen / bahan
pengikat

2(3CaO.SiO2)+6H2O —► 3Ca.2SiO2.3H2O+3Ca(OH)2+panas hidrasi


kalsium silikat (unsur utama semen) + air —► kalsium silikat hidrat (bahan pengikat) +
kapur bebas (pengisi pasif) + panas hidrasi

Panas Hidrasi
Adalah efek samping dari proses hidrasi yaitu berupa pelepasan panas / kalori
dari reaksi hidrasi

Jumlah panas kalori yang dikeluarkan tergantung :


• jenis / tipe semen ( kandungan FM, C3A dan C3S)
• FAS
• temperatur curing

Efek panas hidrasi yg terlalu tinggi terhadap beton adalah timbulnya retak-retak

1.S KUAT TEKAN BETON


Suatu nilai yang ditunjukkan oleh besarnya beban tekan yang dapat dipikul oleh
benda uji/sample dari beton tersebut sampai runtuh
Pengetahuan umum beton

Notasi Kuat Tekan Beton


• K : adalah suatu nilai statistik dari suatu kumpulan hasil kuat tekan benda uji kubus
dalam jumlah tertentu pada umur 28 hari dengan nilai gagal yang diijinkan
sebesar 5 %, satuan kg/cm2.
Contoh: K500, maka a bk=500 kg/cm 2

• C : sama dengan K, hanya disini biasanya dipakai untuk benda uji berbentuk
silinder
Pada contoh diatas, bila K500 bila dikonversikan menjadi nilai C maka
C=500x0.83=415 kg/cm2, maka f’c=415 kg/cm2, dengan 0.83 adalah nilai konversi
dari bentuk kubus menjadi silinder.

Kuat Tekan Beton yang Disyaratkan:


Adalah nilai kuat tekan dari satu atau sekumpulan benda uji yang telah ditetapkan

Mutu Beton Ao dan Bo


Adalah mutu beton dengan K< 125 yang biasanya dipakai untuk elemen bangunan
non-struktural

Mutu Beton yang Lebih Tinggi:


K125-<K175, digunakan sebagai lantai kerja atau penimbunan kembali dengan
beton

K175-<K250, umumnya digunakan sebagai struktur beton tanpa tulangan, misal:


beton siklop, trotoar dan pasangan batu kosong yang diisi adukan dan
pasangan batu

K250-<K400, umumnya digunakan untuk beton bertulang, misal: pelat lantai


jembatan, gelagar beton bertulang, diafragma, kerb beton pracetak,
gorong-gorong beton bertulang dan bangunan bawah jembatan

K400-K800, umumnya digunakan untuk beton prategang, seperti tiang pancang


beton prategang, gelagar beton prategang, pelat beton prategang dan
sejenisnya
SEMEN
AGREGAT
AIR
BAHAN TAMBAHAN (ADITIF)

BAGIAN 2
PEMILIHAN MATERIAL
Pemilihan material 11-1

2.1 SEMEN
Berfungsi sebagai bahan pengikat HIDRAULIS dari berbagai macam agregat

a. Semen harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:


o SNI 15-2049-1994. Semen Portland.
o ASTM C595. Spesifikasi semen blended hidrolis, kecuali tipe S dan SA.
yang tidak diperuntukkan sebagai unsur pengikat utama struktur beton.
o ASTM C845. Spesifikasi semen hidrolis ekspansif.

b. Tipe Semen Portland sesuai jenis pekerjaannya adalah:

Tabel 2.1 Tipe Portland Semen


Tipe
S yarat Penggunaan Pemakaian
PC
I Kondisi biasa, tidak Perkerasan jalan, gedung,
memerlukan jembatan biasa dan konstruksi
persyaratan khusus tanpa serangan sulfat
II Serangan sulfat Bangunan tepi laut, dam,
konsentrasi sedang bendungan, irigasi dan beton
massa
III Kekuatan awal tinggi Jembatan dan pondasi dengan
beban berat
IV Panas hidrasi rendah Pengecoran yang menuntut
panas hidrasi rendah dan
diperlukan setting time yang lama
V Ketahanan yang tinggi Bangunan dalam lingkungan
terhadap sulfat asam, tangki bahan kimia dan
pipa bawah tanah

c. Penyimpanan semen:
o Silo harus kedap air
o Lantai gudang tidak lembab
o Tinggi timbunan sak semen maksimum 2 m
o Suhu ruang tidak boleh lebih dari 70 oC
o Kapasitas gudang mampu untuk stok 20 hari dan tergantung
kelancaran pengiriman
o Stok yang telah disimpan lebih dari 3 bulan tidak boleh dipakai
Pemilihan material

S etting tim e awal


Waktu yang dibutuhkan semen sejak saat bereaksi dengan air
sampai didapat pasta semen yg mulai kaku dan mulai tidak dapat
dikerjakan (kehilangan sebagian sifat plastisnya)

S etting tim e akh ir


Waktu yg dibutuhkan semen sejak bereaksi dengan air sampai
didapat suatu padatan dari pasta semen yang utuh dan tidak
dapat dirubah bentuknya

Gam bar 2.1. Setting Time Semen

Tabel 2.2 Perkiraan Komposisi Berbagai Tipe Standar Semen Portland

Type Tricalcium Dicalcium Tricalcium Tetracalcium Air permeability


Silicate Silicate (C2 S) Alumínate Aluminoferrite specific surface
(C3 S) % (C3A) (C4 AF) m2/kg
% % %
I 42-65 10-30 0-17 6-18 300-400
II 35-60 15-35 0-8 6-18 280-380
III 45-70 10-30 0-15 6-18 450-600
IV 20-30 50-55 3-6 8-15 280-320
V 40-60 15-40 0-5 10-18 290-350
Pemilihan material

2.2 AGREGAT
Butiran mineral dengan ukuran diameter & gradasi butiran tertentu yang
apabila dicampur dengan semen & air akan menghasilkan beton

Tujuan penggunaan agregat


• sumber kekuatan dari beton
• menghemat semen
• memperkecil tingkat penyusutan beton
• mencapai kepadatan beton yang maksimal
• memperoleh workability yang baik

a. Agregat harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:


o ASTM C33. Spesifikasi agregat untuk beton
o SNI 03-2461-1991. Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktur.

b. Spesifikasi umum:
o Material dari bahan alami dengan kekasaran permukaan yang optimal
sehingga kuat tekan beton besar.
o Butiran tajam, keras, kekal (durable) dan tidak bereaksi dengan material
beton lainnya.
o Berat jenis agregat tinggi yang berarti agregat padat sehingga beton
yang dihasilkan padat dan awet.
o Gradasi sesuai spesifikasi teknik yang diminta (dapat dilihat pada poin
2 .2 a) dan hindari gap graded aggregate karena akan membutuhkan
semen lebih banyak untuk mengisi rongga dan harga satuan beton akan
menjadi lebih mahal.
o Bentuk yang baik adalah bulat, karena akan saling mengisi rongga dan
jika ada bentuk yang pipih dan lonjong dibatasi maksimal 15% berat
total agregat.
o Kadar lumpur agregat tidak boleh melampaui standar pada Butir (a),
karena akan berpengaruh pada kuat tekan beton. Lihat G am bar 2.2
c. Ukuran maksimum agregat kasar harus tidak melebihi:
o 1/5 jarak terkecil antara sisi-sisi cetakan, ataupun
o 1/3 ketebalan pelat lantai, ataupun
o % jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan, kawat-
kawat, bundel tulangan, tendon-tendon prategang atau
selongsong-selongsong.
Pemilihan material 11-4

K u a t t e k a n b e t o n ( Kq / c m 2
500

450
'l 431
400
. 394
360
350

300 ~
250
250
2 38
/
200
178
150

100
/ t
50
!/
0 /

Um u r h ari

□ K a d ar i u m p u r J % Volume
Cl) Kadar lum pur 5 % Volume

G am bar 2.2. Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton


( Penelitian Pengaruh Perbedaan Kadar Lumpur Pasir)

a. Agregat Kasar
Agregat dengan ^ butiran >5 mm

Jen is agregat kasar:


1. Alami ^ hasil desintegrasi alam (kerikil), dengan penggolongan:
- kerikil halus ^ ^ 0,5 - 10 mm
- kerikil sedang ^ ^ 1 0 - 2 0 mm
- kerikil kasar ^ ^ 20 - 40 mm
- kerikil kasar sekali ^ ^ 40 - 70 mm

2. Hasil pemecahan ^ dengan stone crusher, dengan penggolongan:


^ ^ 0,5 - 1 0 mm (screen)
^ ^ 1 0 - 2 0 mm
^ ^ 20 - 40 mm
^ ^ 40 - 80 mm

Agregat Halus
Agregat dengan ^ butiran antara 0,14 s/d 5,0 mm

Jenis agregat halus :


• buatan ^ pasir hasil pemecahan
• alami ^ pasir gunung, pasir sungai, pasir laut

Agregat halus sangat berperanan dalam menentukan


• kemudahan pengerjaan ^ w o rk a b ility
• kekuatan beton ^ stre n g th
keawetan beton ^ d u ra b ility
Pemilihan material II-5

Pemakaian K erikil d ib and ing Batu Pecah


• Keuntungan:
• harga lebih murah
• dengan workability yg sama pasta semen terpakai lebih sedikit
^ harga beton per m 3 akan lebih murah

• Kerugian:
• kontinuitas pengadaan kurang terjamin
• ukuran butiran amat bervariatif
• permukaannya relative halus sehingga daya ikatnya kurang ^
sulit mencapai mutu beton tinggi
• kandungan lumpur relatif tinggi

2.3 AIR
Fungsi air dalam beton:
• Bahan penghidrasi semen, agar semen bisa berfungsi sebagai
bahan pengikat
• Bahan pelumas, yaitu mempermudah proses pencampuran agregat
& semen serta mempermudah pelaksanaan pengecoran beton
(workability)

a. Air untuk campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan yang
merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik atau
bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton ataupun tulangan.

b. Air pencampur yang digunakan untuk beton prategang atau pada beton
yang didalamnya tertanam logam alumunium, termasuk air bebas yang
terkandung didalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam
jumlah yang membahayakan.
Pemilihan material II-6

Tabel 2.3. Kandungan Ion Klorida Maksimum untuk Perlindungan Baja


Tulangan Terhadap Korosi
Ion K lo rid a te rla ru t (C A-)
Jen is K om ponen
pada Beton
S tru k tu r
% thd Berat Semen
Beton prategang 0.06
Beton bertulang yang
terpapar klorida selama masa 0.15
layannya
Beton bertulang yang dalam
kondisi kering atau terlindung
1.0 0
dari air selama masa
layannya
Konstruksi beton bertulang
0.30
lainnya
Catatan: Untuk beton keras umur 28 hingga 42 hari

Bila dilakukan pengujian untuk menentukan kandungan ion klorida yang


dapat larut dalam air, prosedur uji harus sesuai dengan ASTM C1218

c. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali
ketentuan berikut terpenuhi:
o Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran
beton yang menggunakan air dari sumber yang sama.
o Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar harus
mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90%
kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum.
Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan
serupa, terkecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai
dengan ”Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis
(menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 cm)” ASTM
C109
o Bila terpaksa menggunakan air laut, disarankan hanya untuk beton
tanpa tulangan dengan kandungan maksimal garam terlarut 35.000
ppm
o Hindari penggunaan air dengan dengan pH<3
Pemilihan material

Jumlah Air Optimum (JAO)


Adalah jumlah air dalam suatu rancangan campuran beton yang menghasilkan
tingkat kemudahan pengecoran yang sesuai dengan tuntutan (dinyatakan dengan
SLUMP)

• Jika jumlah air<JAO


o Dalam batas tertentu kuat tekan akan naik
o Pengecoran lebih sulit
o Daya pelumasan material oleh air berkurang (ditunjukkan oleh nilai slump
yang lebih kecil)
o Proses pengecoran dituntut lebih singkat dan diperlukan pemadatan ekstra
agar didapat beton yang tidak keropos

• Jika jumlah air>JAO


o Kuat tekan beton akan turun
o Pengecoran lebih mudah
o Bisa terjadi segregasi (pemisahan butiran)
o Cenderung terjadi penyusutan (air kelebihan akan menguap meninggalkan
pori-pori beton)

2.4 BAHAN TAMBAHAN


a. Spesifikasi umum:
Kalsium klorida atau bahan tambahan yang mengandung klorida tidak boleh
digunakan pada beton prategang, beton dengan aluminium tertanam, atau
beton yang dicor dengan menggunakan bekisting baja galvanis.

b. Jenis-jenis bahan tambahan:


Ada dua kategori bahan tambahan, yaitu admixture dan aditif. A d m ix tu re
merupakan bahan tambahan kimiawi yang dapat mengubah sifat beton secara
kimia sedangkan a d itif merupakan bahan tambahan yang hanya berfungsi
sebagai filler dan tidak mengubah sifat secara kimiawi.

Macam-m acam adm ixture:


o W ater R ed ucer/P la sticiser/S up er P la s tic is e r
Berfungsi mengurangi jumlah air dan semen dengan kekuatan beton yang
dihasilkan tetap dan meningkatkan keplastisan beton untuk pengecoran di
tempat-tempat yang sulit (karena pengecoran tersebut membutuhkan nilai
slump tinggi sehingga bahan tambahan ini lebih dipilih daripada menambah
air).

o V is c o s ity M o d ify in g A d m ix tu re (VMA)


Memodifikasi kohesi (biasanya digunakan untuk self-compacting concrete)
tanpa mengubah fluiditas secara signifikan.

o R etarder
Memperlambat pengikatan awal, digunakan untuk pengecoran jarak jauh dan
mass concrete yang perlu panas hidrasi rendah.
Pemilihan material 11-8

Ketiga bahan tambahan diatas ataupun campuran


ketiganya harus memenuhi ASTM C494. Spesifikasi
bahan tambahan kimiawi untuk beton atau ASTM C1017.
Spesifikasi untuk bahan tambahan kimiawi untuk
menghasilkan beton dengan kelecakan yang tinggi.

o A c c e le ra to r
Mempercepat pengikatan dan pengerasan awal beton, digunakan untuk
pengecoran yang berhubungan dengan air/efisiensi waktu pemakaian
cetakan.

o A ir E n tra in in g
Menambah gelembung udara pada beton, dapat mengurangi bleeding,
mengurangi kebutuhan air dan mengurangi segregasi. Digunakan untuk
pengecoran dengan concrete pump. Harus memenuhi SNI 03-2496-1991.
Spesifikasi bahan tambahan pembentuk gelembung untuk beton.

Macam-m acam aditif:


o A bu Terbang
Harus memenuhi ASTM C618. Spesifikasi untuk abu terbang dan
pozzolan alami murni atau terkalsinasi untuk digunakan sebagai bahan
tambahan mineral pada beton semen portland. Meningkatkan kohesi dan
mengurangi sensitivitas terhadap perubahan-perubahan kadar air, tetapi
harus dijaga agar kadarnya tidak terlalu tinggi dapat menyebabkan pasta
menjadi terlalu kohesif sehingga dapat menghambat daya alir.

o M ine ral fille r


Misalnya batu kapur, dolomite, dll. Distribusi ukuran partikel, bentuk dan
daya serap air mempengaruhi kebutuhan air.

o Kerak Tungku P ijar yang diperh alus


Harus memenuhi ASTM C989. Spesifikasi untuk kerak tungku pijar yang
diperhalus untuk digunakan pada beton dan mortar. Mengurangi panas
hidrasi, tetapi setting time menjadi lebih lama, pemakaian aditif jenis ini
juga meningkatkan resiko segregasi.

o S ilica Fum e
Harus sesuai dengan ASTM C1240. Spesifikasi untuk silika fume untuk
digunakan pada beton dan mortar semen-hidrolis. Meningkatkan kohesi
dan daya tahan segregasi, serta mengurangi atau menghilangkan
bleeding tetapi jika terlalu banyak dapat menimbulkan percepatan
pembentukan kerak di permukaan beton, yang akan menghasilkan cold-
jo in t atau cacat permukaan.

o A d itif lainnya
Metakaolin, pozzolan alami, dan bahan pengisi halus lainnya dapat
digunakan, tetapi akibat-akibat yang ditimbulkan perlu dievaluasi secara
khusus dan hati-hati terhadap akibat jangka pendek dan panjang yang
timbul terhadap beton.
Pemilihan material

2.5 SERAT
Baik serat metalik maupun polym er dapat digunakan.

Serat polym er dapat digunakan untuk membantu mencegah settlement


dan retak/crack akibat plastic shrinkage.

Serat besi maupun serat polym er struktural berukuran panjang digunakan


untuk memodifikasi daktilitas beton yang telah mengeras. Jumlah dan
ukuran panjangnya dipilih berdasarkan ukuran maksimum agregat dan
syarat struktural.
TATA CARA PEMBUATAN RENCANA CAMPURAN BETON NORMAL
SESUAI SNI T-15-1990-03 DAN SNI 03 -2 8 3 4 -2 0 0 0

TATA CARA PERANCANGAN PROPORSI CAMPURAN BETON NORMAL


SESUAI SNI 0 3 -2 8 4 7 -2 0 0 2 Poin 7.3

BAGIAN 3
PERENCANAAN CAMPURAN
BETON
Perencanaan campuran beton

.1 TATA CARA PEMBUATAN RENCANA


CAMPURAN BETON NORMAL,
SNI T-15-1990-03
Penentuan kuat tekan beton yang disyaratkan (fc’) pada umur tertentu
Yaitu kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu
hanya sebesar 5% saja.

Penetapan deviasi standar (sd)


Ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaan
pencampuran betonnya.

Tabel 3.1 Nilai Deviasi Standar


T in gkat Pengendalian Mutu Pekerjaan Sd (Mpa)
Memuaskan 2 .8
Sangat baik 3.5
Baik 4.2
Cukup 5.6
Jelek 7.0
Tanpa kendali 8.4

1). Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa
pada masa yang lalu. Jumlah data hasil uji minimum 30 buah (satu data
hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang
dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau
umur pengujian lain yang ditetapkan). Jika jumlah data uji kurang dari
30, maka dilakukan koreksi dengan suatu faktor pengali nilai deviasi
standar.

Tabel 3.2 Faktor 'engali Deviasi Standar


Jum lah Data 30 25 20 15 <15
Faktor Pengali 1.0 1.03 1.08 1.16 Tidak boleh

2). Jika pelaksana tidak mempunyai catatan hasil pengujian beton serupa
pada masa yang lalu/bila data hasil uji kurang dari 15 buah, maka nilai
margin langsung diambil sebesar 1 2 Mpa.
Perencanaan campuran beton

c. Penghitungan nilai tambah (M)


o Jika nilai tambah sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa, maka langsung ke
Langkah d
o Jika nilai tambah dihitung berdasarkan deviasi standar Sd, maka
dilakukan dengan rumus berikut:
M = k * Sd

Dengan: M = Nilai tambah, Mpa


k = 1.64
Sd = deviasi standar, MPa

d. Penetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan


fcr’ = fc’ + M

Dengan: fcr’ = Kuat tekan rata-rata, MPa


fc’ = Kuat tekan yang disyaratkan, MPa
M = Nilai tambah, Mpa

e. Penetapan jenis semen Portland


Lihat macam-macam semen pada Poin 2.1.b

f. Penetapan jenis agregat


Lihat poin 2.2 dan dipilih agregat alami atau batu pecah.

g. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut:
o Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder
beton yang direncanakan pada umur tertentu. Lihat G am bar 3.1

Faktor Air-Semen

G am bar 3.1 Hubungan Faktor Air Semen dan Kuat Tekan Rata-Rata
Silinder Beton (Sebagai Perkiraan FAS)
Perencanaan campuran beton

Berdasarkan jenis semen, jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang
direncanakan pada umur tertentu. Lihat Tabel 3.3 dan G am bar 3.2
Langkahnya sebagai berikut:
• Tabel 3.3 Dengan data jenis semen, jenis agregat kasar dan umur
beton yang dikehendaki, dibaca perkiraan kuat tekan silinder beton
yang akan diperoleh jika dipakai faktor air semen 0.5.

Tabel 3.3 Perkiraan Kuat Tekan Beton (MPa) dengan FAS 0.5
Jenis Umur [hari)
Jenis Agregat Kasar
Semen 3 7 28 91
Alami 17 23 33 40
I, II, V
Batu pecah 19 27 37 45
Alami 21 28 38 44
III
Batu pecah 25 33 44 48

• Gam bar 3.2 Lukislah titik A pada Gam bar 3.2, dengan FAS 0.5
sebagai absis dan kuat tekan beton yang diperoleh dari Tabel 3.3
sebagai ordinat. Dari titik A dibuat grafik baru yang bentuknya sama
dengan dua grafik yang sudah ada didekatnya. Selanjutnya tarik garis
mendatar dari sumbu tegak di kiri pada kuat tekan rata-rata yang
dikehendaki sampai memotong grafik baru tersebut, lalu ditarik
kebawah untuk mendapatkan FAS yang dicari.

G am bar 3.2 Grafik Mencari Faktor Air-Semen


Perencanaan campuran beton 111-4

h. Penetapan faktor air semen maksimum


Lihat Tabel 3.4 Jika FAS maksimum ini lebih rendah dari langkah g, maka
FAS maksimum ini yang digunakan.

Tabel 3.4 FAS Maksimum untuk Berbagai Pembetonan & Lingkungan


Khusus

Jen is Pem betonan FAS M aksim um


Beton didalam ruang bangunan:
a. Keadaan keliling non-korosif 0.60
b. Keadaan keliling korosif, disebabkan 0.52
oleh kondensasi atau uap korosi
Beton diluar ruang bangunan:
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik 0.55
matahari langsung
b. Terlindung dari hujan dan terik 0.60
matahari langsung
Beton yang masuk kedalam tanah:
a. Mengalami keadaan basah dan kering 0.55
berganti-ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali Tabel 3.8
dari tanah
Beton yang selalu berhubungan dengan
Tabel 3.9
air tawar/payau/laut

i. Penetapkan nilai slump


Penetapan nilai slump dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan
pembuatan, pengangkutan, penuangan, pemadatan dan jenis strukturnya.
Misal: pengecoran dengan conncrete pump membutuhkan nilai slump
besar, pemadatan dengan vibrator dapat dilakukan dengan nilai slump
yang agak kecil. Lihat Tabel 3.5 sebagai pertimbangan.

Pengukuran N ilai Slump


Perencanaan campuran beton

Tabel 3.5 Penetapan Nilai Slump


Pemakaian Beton Maks Min
Dinding, plat fondasi dan fondasi
12.5 5.0
telapak bertulang
Fondasi telapak tidak bertulang,
9.0 2.5
kaison dan struktur dibawah tanah
Pelat, balok, kolom dan dinding 15.0 7.5
Pengerasan jalan 7.5 5.0
Pembetonan masal 7.5 2.5

Tabel 3.6 Perkiraan Kebutuhan Air Per Meter Kubik Beton (Liter)
Besar Slum p mm)
Ukuran Jenis
M aksim um Batuan 0-10 10-30 30-60 60-180
K erikil (mm)
10 Alami 150 180 205 225
Batu 180 205 230 250
pecah
20 Alami 135 160 180 195
Batu 170 190 2 10 225
pecah
40 Alami 115 140 160 175
Batu 155 175 190 205
pecah
Catatan:
• Koreksi suhu diatas 20oC, setiap kenaikan 5OC harus ditambah air 5
liter per m 3 adukan beton
• Kondisi permukaan: untuk permukaan agregat yang kasar harus
ditambah air ± 1 0 liter per m 3 adukan beton

Penetapan besar butir agregat maksimum


Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai
terkecil dari ketentuan pada poin 2 .2 .c

Penetapan jumlah air yang diperlukan per meter kubik beton,


berdasarkan ukuran maksimum agregat, jenis agregat dan slump yang
diinginkan. Lihat Tabel 3.6

Jika menggunakan agregat halus dan agregat kasar dari jenis yang
berbeda (alami dan pecahan), maka jumlah air yang diperkirakan
diperbaiki dengan rumus:
A = 0.67Ah + 0.33 Ak
Dengan: A = Jumlah air yang dibutuhkan (lt/m3)
Ah = Jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat halusnya
Ak = Jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat kasarnya
Perencanaan campuran beton

l. Hitung berat semen yang diperlukan


Dihitung dengan membagi jumlah air dari Langkah k dengan FAS
yang diperoleh pada Langkah g dan h

m. Hitung kebutuhan semen minimum

Ditetapkan dengan Tabel 3.7-3.9. Kebutuhan semen minimum ini


ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan
khusus, misalnya: lingkungan korosif, air payau dan air laut.

Tabel 3.7 Kebutuhan Semen Minimum untuk Berbagai Pembetonan dan


Lingkungan Khusus
Semen
Jen is Pem betonan M inim um
(kg/m 3 beton)
Beton didalam ruang bangunan:
a. Keadaan keliling non-korosif 275
b. Keadaan keliling korosif, disebabkan oleh
kondensasi atau uap korosif 325
Beton diluar ruang bangunan:
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari 325
langsung
b. Terlindung dari hujan dan terik matahari 275
langsung
Beton yang masuk kedalam tanah:
a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti- 325
ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali dari tanah Tabel 3.8
Beton yang selalu berhubungan dengan air
Tabel 3.9
tawar/payau/laut

s .
Perencanaan campuran beton

Tabel 3.8 Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton yang

K onsentrasi S ulfat (SO3) K andungan


Dalam Tanah sem en m inim um Faktor
SO 3 (kg/m 3) A ir
SO 3
dalam Semen
dalam air Jen is Semen
Total cam puran Ukuran Maks. (FAS)
tanah
SO 3 air:tanah A g re gat (mm) Maksim
(g/lt) 40 20 10 um
= 2:1
(g/lt)
Tipe I dengan atau 280 300 350
<0 . 2 <0 . 1 <0.3 tanpa Pozzolan 0.5
(15-40%)
Tipe I tanpa 290 330 380 0.5
Pozzolan

Tipe I dengan
Pozzolan (15-40%)
0 .2 - 0 .5 1 .0 - 1 .9 0.3-1.2 Atau 270 310 360 0.55
Semen Portland
Pozzolan

Tipe II atau V
250 290 430 0.55
Tipe I dengan 340 380 430 0.45
Pozzolan (15-40%)
Atau
Semen Portland
0.5-1.0 1.9-3.1 1.2-2.5
Pozzolan

Tipe II atau V
290 330 380 0.5
1 .0 -2 . 0 3.1-5.6 2.5-5.0 Tipe II atau V 330 370 420 0.45
Tipe II atau V dan
>2 . 0 >5.6 >5.0
lapisan pelindung 330 370 420 0.45
Perencanaan campuran beton III-8

n. Penyesuaian kebutuhan semen


Apabila kebutuhan semen yang diperoleh dari Langkah l ternyata lebih
sedikit daripada Langkah m, maka kebutuhan semen harus dipakai yang
minimum (yang nilainya lebih besar)

o. Penyesuaian jumlah air atau FAS


Jika jumlah semen ada perubahan akibat Langkah n, maka nilai faktor air
semen berubah. Dalam hal ini dilakukan dua cara berikut:
• Cara pertama, faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi
jumlah air dengan jumlah semen minimum
• Cara kedua, jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen
minimum dengan faktor air semen
Catatan: Cara pertama akan menurunkan faktor air semen, sedangkan
cara kedua akan menaikkan jumlah air yang diperlukan

p. Penentuan daerah gradasi agregat halus


Klasifikasikan daerah gradasi agregat dengan menggunakan Tabel 3.10.

q. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar


Diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik. Pada
langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dan berat
agregat campuran. Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar
butir maksimum agregat kasar, nilai slump, FAS dan daerah gradasi
agregat halus. Berdasarkan data tersebut dan G am bar 3.3-3.5 dapat
diperoleh persentase berat agregat halus terhadap berat agregat
campuran

Tabel 3.9 Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton
Bertulang/Prategang Kedap Air
K andungan sem en
m inim um
B erhubungan FAS
Tipe Semen
dengan: M aksim um Ukuran M aksim um
A gre gat (mm)
40 20
Air tawar 0.50 Semua tipe I-V 280 300
0.45 Tipe I + Pozzolan 340 380
(15-40%)
Atau Semen Portland
Air payau
Pozzolan 290 330

0.50 Tipe II atau V


Air laut 0.45 Tipe II atau V 330 370
Perencanaan campuran beton

Tabel 3.10 Batas Gradasi Pasir


Lubang Persen Berat B u tir yang Lew at A yakan
Ayakan
1 2 3 4
(mm)
10 .0 0 100 100 100 100
4.80 90-100 90-100 90-100 95-100
2.40 60-95 75-100 85-100 95-100
1.2 0 30-70 55-90 75-100 90-100
0.60 15-34 35-59 60-79 80-100
0.30 5-20 8-30 12-40 15-50
0.15 0 -10 0 -10 0 -10 0-15

S»j m :
'*•1°'»'» 1 0 - 3 0 mm 30-60mci 6 0 - ISO mm
«SCI________________ 3 0 ________________ 3 0 ________________ < 0 ______________

».4 0.6 O.S 0.4 U.ft 0.3 0.4 0.6 0.3 0.4 0.6 0.3
Ku k : o r j i r • s e i n e n

G am bar 3.3 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat


Keseluruhan untuk ukuran Butir Maksimum 10 mm

. lid lll .
II • 10 Hiiu 1 0 > 31) m m J l) - 6 0 m m 60 - IS O m m

G am bar 3.4 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat


Keseluruhan untuk ukuran Butir Maksimum 20 mm
Perencanaan campuran beton III-10

G am bar 3.5 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat


Keseluruhan untuk kuran Butir Maksimum 40 mm

Berat jenis agregat campuran


Bj camp = P/100*bj ag hls + K/100*bj ag ksr

Dengan: Bj camp = Berat jenis agregat campuran


Bj ag hls = Berat jenis agregat halus
Bj ag ksr = Berat jenis agregat kasar
P = Persentase agregat halus terhadap agregat
campuran
K = Persentase agregat kasar terhadap agregat
campuran
Berat jenis agregat halus dan kasar diperoleh dari hasil pemeriksaan
laboratorium, namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2.60 untuk
agregat tak dipecah dan 2.70 untuk agregat pecahan
Penentuan berat jenis beton
Menggunakan data berat jenis agregat campuran dari Langkah r dan
kebutuhan air tiap meter kubik betonnya, maka dengan grafik pada
G am bar 3.6 dapat diperkirakan berat jenis betonnya. Caranya:
• Dari berat jenis agregat campuran pada langkah q dibuat garis
kurva berat jenis gabungan yang sesuai dengan garis kurva yang
paling dekat dengan garis kurva pada Gam bar 3.6.
• Kebutuhan air yang diperoleh pada Langkah k dimasukkan dalam
G am bar 3.6 dan dari nilai ini ditarik garis vertikal keatas sampai
mencapai kurva yang dibuat pada langkah pertama
• Dari titik potong ini, tarik garis horisontal kekiri sehingga diperoleh
nilai berat jenis beton
Perencanaan campuran beton 111-11

t. Kebutuhan agregat campuran


Dihitung dengan cara mengurangi berat beton per meter kubik dikurangi
kebutuhan air dan semen

u. Hitung berat agregat halus yang dibutuhkan, berdasarkan hasil Langkah


q dan r. Kebutuhan agregat halus diperoleh dengan cara mengalikan
kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya

v. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan, berdasarkan hasil Langkah r


dan s. Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi
kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus.

Dalam perhitungan diatas, agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam
keadaan jenuh kering muka, sehingga di lapangan yang pada umumnya
keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka, harus dilakukan koreksi
terhadap kebutuhan bahannya. Koreksi harus dilakukan minimum satu kali
per hari.

Hitungan koreksi dilakukan dengan rumus berikut:


Air = A-[(Ah-A1 )/100]xB-[(Ak-A2)/100]xC
Agregat halus = B+[Ah-A1)/100]xB
Agregat kasar = C+[(Ak-A2)/100]xC

Dengan:
A = Jumlah kebutuhan air (liter/m3)
B = Jumlah kebutuhan agregat halus (kg/m3)
C = Jumlah kebutuhan agregat kasar (kg/m3)
Ah = Kadar air sesungguhnya dalam agregat halus (%)
Ak = Kadar air sesungguhnya dalam agregat kasar (%)
A1 = Kadar air pada agregat halus jenuh kering-muka (%)
A2 = Kadar air pada agregat kasar jenuh kering-muka (%)

Kaadtaigai u t { lir'igJ b«oo )

G am bar 3.6 Grafik Hubungan Kandungan Air, Berat Jenis Agregat


Campuran dan Berat Beton
Perencanaan campuran beton

Untuk mempermudah dapat mempergunakan formulir isian di bawah ini:

Tabel 3.11 Formulir Perancangan Adukan Beton


No Uraian T abel/Grafik/Perhitungan Nilai
1. Kuat tekan yang disyaratkan (fc’) ditetapkan ..N/mm“1pada..hari
2. Deviasi standar (srt) Tabel 3 atau Tabel 4 .................. N/mmJ
3. Nilai tambah/margin (M) 1.64 x Sa ................. N/mm2
4. Kuat tekan rata-rata yang direncanakan (fcr’) fc’ + M .................N/mm2
5. Jenis semen Poin 2.1.b
6. J en is agregat:
• Agregat kasar Poin 2.2
• Agregat halus
7. Faktor air semen bebas Gambar 8 atau
Tabel 5 dan Gambar 9
(pilih yang terkecil)
8. Faktor air semen maksimum Tabel 6
9. Slump Tabel 7 ..................... mm
10. Ukuran agregat maksimum Poin 2.2.c ..................... mm
11. Kadar air bebas Tabel 8 ...................... U/m'3
12. Jumlah semen (11/8) atau (11/7) .................... kg/m'3
13. Jumlah semen maksimum Ditetapkan .................... kg/mJ
14. Jumlah semen minimum Tabel 9-11
Kemudian pilih yang ................... kg/m3
terbesar dari (14) dan (12)
15. Faktor air semen yang disesuaikan Poin 3.1 Langkah 0
16. Gradasi agregat halus Tabel 12 1/2/3/4
17. Persentase agregat halus Gambar 10-12 ........................ %
18. Berat jenis relatif agregat (kering Poin 3.1 Langkah u ................... kg/m'3
permukaan)
19. Berat jenis beton Gambar 9 ................... kg/m'3
20. Kadar agregat campuran (19H14+11) ................... kg/m'3
21. Kadar agregat halus (20) x (17) ................... kg/m3
22. Kadar agregat kasar (20H21) ................... kg/m'3
Proporsi campuran
Semen : Air : Agregat Halus : Agregat Kasar
(kg) (kg/lt) (kg) (kg)
1 m3 ......................................... .................... ...................

1 adukan ......................................... .................... ....................

L
Perencanaan campuran beton III-13

3.2 T a ta Cara Perancangan Proporsi Campuran


beton Normal SNI 03-2847-2002 Poin 7.3

Fasilitas beton mempunyai catatan uji kuat tekan lapangan untuk mutu yang
disyaratkan atau dalam kisaran 7 MPa dari mutu beton yang disyaratkan
*

Tidak

dua kelompok uji berurutan 15 hingga 29 uji


1
>30 contoh uji berurutan [ (total >30 berurutan

Tidak 1 1 1
Ya Tidak Ya Tidak (Tidak
ada daté
Ya 1 r ~ . r ~ n ¡
hitung s hitung s rata-rata hitung s dan koreksi
menggunakan tabel 4

I
kuat tekan rata-rata perlu
Ir- ______ !
kuat tekan rata-rata perlu
dari tabel 5
dari persamaan 1 atau 2
*
tersedianya catatan lapangan dari sekurang-
kurangnya sepuluh hasil berurutan dengan 4 atau
menggunakan bahan yang sama dan
pada kondisi yang sama

Tidak i
buat campuran percobaan yang
^menggunakan sekurang-kurangnya tiga
Ya |
rasio air-semen atau kadar bahan
semen yang berbeda 7.3(3(2))
hasil mewakili satu
proporsi campuran
plot grafik kuat tekan rata-rata terhadap
proporsi campuran dan lakukan interpolasi
untuk mendapatkan kuat tekan rata-rata
Tidak hasil mewakili dua atau perlu
Ya lebih campuran ____________I

l tentukan proporsi campuran


kuat tekan rata-rata plot grafik kuat rata-rata menurut pasal 7.4 (membutuh
> kuat rata-rata terhadap proporsi campuran dan kan izin khusus)
perlu lakukan interpolasi untuk
mendapatkan kuat rata-rata perlu

Tidak

Ya

persetujuan

G am bar 3.7 Diagram Air Perancangan Proporsi Campuran Berdasarkan


SNI 03-2847-2002
Perencanaan campuran beton

Kuat tekan rata-rata perlu f’cr ditentukan sebagai dasar pemilihan proporsi
campuran beton harus diambil sebagai nilai terbesar dari persamaan 1 atau 2
dibawah ini:
f’cr = f’c + 1.34 S........................................ (1)
f’cr = f’c + 2.33 S -3.5.................................(2)

Tabel 3.12 Faktor Modifikasi untuk Deviasi Standar Jika Jumlah


Pengujian Kurang Dari 30 Contoh
Faktor M o difikasi u n tu k Deviasi
Jum lah Pengujian
Standar
<15 contoh Gunakan Tabel 15
15 contoh 1.16
2 0 contoh 1.08
25 contoh 1.03
30 contoh atau lebih 1.0 0
Catatan: Interpolasi untuk jumlah pengujian yang berada diantara nilai-nilai
diatas

Tabel 3.13 Kuat Tekan Rata-Rata Perlu Jika Data Tidak Tersedia Untuk
Menetapkan Deviasi Standar
Persyaratan Kuat Tekan, f ’c Kuat Tekan Rata-Rata Perlu, f ’c r
MPa MPa
Kurang dari 21 f’c + 7.0
21-35 f’c + 8.5
Lebih dari 35 f’c + 1 0 . 0
Perencanaan campuran beton III-15

Pasal 7.3(3(2)) SNI 03-2847-2002, menyebutkan tentang pembuatan proporsi


campuran beton yang diperoleh dari campuran percobaan yang dapat digunakan
jika batas-batas ini dipenuhi:
o Kombinasi bahan yang digunakan harus sama dengan yang digunakan pada
pekerjaan yang akan dilakukan.
o Campuran percobaan yang memiliki proporsi campuran dan konsistensi yang
diperlukan untuk pekerjaan yang akan dilakukan harus dibuat menggunakan
sekurang-kurangnya tiga jenis rasio air-semen yang berbeda-beda untuk
menghasilkan suatu kisaran kuat tekan beton yang mencakup kuat rata-rata
perlu f’cr
o Campuran uji harus direncanakan untuk menghasilkan kelecakan dengan
kisaran ± 2 0 mm dari nilai maksimum yang diizinkan, dan untuk beton dengan
bahan tambahan penambah udara, kisaran kandungan udaranya dibatasi
±0.5% dari kandungan udara maksimum yang diizinkan
o Untuk setiap rasio air-semen, sekurang-kurangnya harus dibuat tiga buah
contoh silinder uji untuk masing-masing umur uji dan dirawat sesuai dengan
SNI 03-2492-1991. Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di
Laboratorium. Silinder harus diuji pada umur 28 hari atau pada umur uji yang
ditetapkan untuk penentuan f’c
o Dari hasil uji silinder tersebut harus diplot kurva yang memperlihatkan
hubungan antara rasio air-semen atau kadar semen terhadap kuat tekan
pada umur uji yang ditetapkan
o Rasio air-semen maksimum atau kadar semen minimum untuk beton yang
akan digunakan pada pekerjaan yang akan dilakukan harus seperti yang
diperlihatkan pada kurva untuk menghasilkan kuat rata-rata yang sesuai
dengan syarat-syarat diatas, kecuali bila rasio air semen yang lebih rendah
atau kuat tekan yang lebih tinggi disyaratkan sesuai Pasal 6 SNI 03-2847­
2 0 0 2 .

Pasal 6 SNI 03-2847-2002. Persyaratan Keawetan Beton


6.1 Rasio air-semen
Rasio air semen yang disyaratkan pada Tabel 3.14 dan Tabel 3.15 harus
dihitung menggunakan berat semen, sesuai dengan ASTM C150, ASTM
C595 M atau ASTM C845 ditambah dengan berat abu terbang dan
pozzolan lainnya sesuai dengan ASTM C618, kerak sesuai dengan ASTM
C989 dan silica fume sesuai dengan ASTM C1240 bilamana digunakan.
Perencanaan campuran beton III-16

6.2 Pengaruh lingkungan

Tabel 3.14 Persyaratan Beton untuk Lingkungan Khusus


Rasio air- f ’c
K ond isi Lingkungan sem en m inim um 2
m aksim um 1 MPa
Beton dengan permeabilitas rendah
0.50 28
yang terkena pengaruh lingkungan air
Untuk perlindungan tulangan terhadap
korosi pada beton yang terpengaruh
0.40 35
lingkungan yang mengandung klorida
dari garam atau air laut

Catatan:
1. Dihitung terhadap berat dan berlaku untuk beton normal
2. Untuk beton berat normal dan beton berat ringan

„ *ri 3 ® ^ ;

- J -f *' *' *

BB»

Struktur Peiaßuhan,: Saiah Satu Contoh Beton daCam Pengaruh A ir Laut

6.3 Pengaruh lingkungan yang mengandung sulfat


o Beton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat
yang terdapat dalam larutan atau tanah harus memenuhi pada
Tabel 3.15, atau harus terbuat dari semen tahan sulfat dan
mempunyai rasio air-semen maksimum dan kuat tekan minimum
sesuai dengan Tabel 3.15
Perencanaan campuran beton III-17

Tabel 3.15 Persyaratan untuk Beton yang Dipengaruhi oleh Lingkungan


__________ Yang Mengandung Sulfat______________________________
Sulfat
(SO4)
f’c
Dalam Rasio Air­
Sulfat minimum
Tanah Semen
Papara (SO4) (Beton
yang Maksimum
n Dalam Air berat
Dapat dalam
Lingku­ Jenis Semen normal
Larut Berat
ngan Mikron dan
Dalam Air (Beton
Sulfat gram per ringan)
Berat
gram
Persen Normal)
MPa
terhadap
berat
Ringan 0 .0 0 - 0 . 1 0 0-150 - - -
II,IP(MS),
IS(MS),P(MS)
Sedan
0 . 1 0 -0 . 2 0 150-1500 0.5 28
g I(PM)(MS),
I(SM)(MS)*
1500­ V
Berat 0 .2 0 -2 . 0 0 0.45 31
1000
Sangat
>2 . 0 0 > 100 0 0 V+Pozzolan 0.45 31
berat
Catatan:
*Semen campuran sesuai ketentuan ASTM C595
Perencanaan campuran beton iii-18

6.4 Perlindungan tulangan terhadap korosi


o Tulangan didalam beton harus diberikan perlindungan terhadap korosi,
maka konsentrasi ion klorida maksimum yang dapat larut dalam air
pada beton keras umur 28-42 hari tidak boleh melebihi batasan pada
Tabel 3.15. Bila dilakukan pengujian untuk menentukan kandungan ion
klorida yang dapat larut dalam air, prosedur uji harus sesuai ASTM
C1218
o Persyaratan nilai rasio air-semen dan kuat tekan beton pada Tabel 3.14
dan persyaratan tebal selimut beton pada pasal 9.7 s N i 03-2847-2002
harus dipenuhi apabila beton akan berada pada lingkungan yang
mengandung klorida yang berasal dari air garam, air laut atau cipratan
dari sumber garam tersebut. Untuk tendon kabel prategang tanpa
lekatan dapat dilihat ketentuannya pada Pasal 20.16 sN i 03-2847-2002.

Pasal 7.4 SNi 03-2847-2002. Menyebutkan tentang perancangan campuran


tanpa berdasarkan data lapangan atau campuran percobaan.
o Jika data hasil uji pekerjaan beton sebelumnya tidak tersedia, maka
proporsi campuran beton harus ditentukan berdasarkan percobaan atau
informasi lainnya, bilaman hal tersebut disetujui oleh pengawas lapangan.
Kuat tekan rata-rata perlu, f’cr beton yang dihasilkan dengan bahan yang
mirip dengan yang akan digunakan harus sekurang-kurangnya 8.5 Mpa
lebih besar daripada f’c yang disyaratkan. Alternatif ini tidak boleh
digunakan untuk beton dengan kuat tekan yang disyaratkan lebih besar
dari 28 Mpa.
o Campuran beton yang dirancang menurut butir ini harus memenuhi
persyaratan keawetan pada Pasal 6 (diatas) dan kriteria pengujian kuat
tekan pada Pasal 7.6 SNI 03-2847-2002
PT WIJAYA KARYA
DITERBITKAN OLEH :
BIRO ENJINIRING DAN LABORATORIUM JASA KONSTRUKSI
PT. WIJAYA KARYA