Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

INTOLERANSI DALAM BERAGAMA

OLEH :

MUH. FERDIYANSYAH RACHMAN


DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN

BAB II PEMBAHASAN

2.1 TOLERANSI DAN INTOLERANSI DALAM BERAGAMA

2.2 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB SIKAP INTOLERANSI DALAM


MASYARAKAT BERAGAMA

2.3 GEJALA INTOLERANSI DALAM BERAGAMA

2.4 CARA MENGATASI SIKAP INTOLERANSI DALAM MASYARAKAT


BERAGAMA

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya, kebudayaan, dan
juga agama. Mayoritas masyarakat Indonesia menganut agama Islam, namun banyak pula
yang menganut agama lain seperti Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya. Pasal 29 ayat (2)
UUD 1945 menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaan itu.
Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa keanekaragaman pemeluk agama yang ada di
Indonesia diberi kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya
masing-masing.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, memiliki dinamika dan
dialektika dalam kehidupan bernegara di atas pilar Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka
Tunggal Ika. Komitmen terhadap empat pilar tersebut merupakan ikhtiar mewujudkan
suasana damai dan harmonis, namun dalam kenyataannya pada akhir-akhir initerjadi banyak
intoleransi agama. Di sinilah pentingnya pendidikan kewarganegaraan sebagai ikhtiar
mencegah konflik dan disintegrasi bangsa.
Fenomena kekerasan dan intoleransi antar umat beragama masih terus berlangsung
sampai saat ini dan terjadi di sejumlah tempat. Di tengah-tengah fakta intoleransi yang kian
merebak, dan aktivisme kekerasan atas nama agama dan moralitas yang berlangsung dalam
eskalasi yang tinggal di negeri ini, banyak orang-orang yang bertanya-tanya “jika agama tak
ramah, melegitimasi intoleransi, kezaliman dan penindasan atas manusia., apakah ia masih di
butuhkan?” ini adalah suatu pertanyaan yang tidak terelakan. Indonesia adalah bangsa yang
memiliki keanekaragaman agama, ras, etnis, dan bahasa. Secara ilmiah, hal tersebut tidak
untuk dibeda-bedakan antara satu dan yang lainnya, justru perbedaan tersebut di jadikan
perekat dalam keragaman

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana toleransi dan intoleransi dalam beragama?
2. Apa saja faktor-faktor penyebab sikap intoleransi dalam masyarakat beragama ?
3. Bagaimana gejala intoleransi dalam beragama ?
4. Bagaimana cara mengatasi sikap intoleransi dalam masyarakat beragama ?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui toleransi dan intoleransi dalam beragama.
2. Untuk mengetahui gejala intoleransi dalam beragama
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab intoleransi dalam masyarakat beragama.
4. Untuk mengetahui cara mengatasi sikap intoleransi dalam masyarakat beragama.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 TOLERANSI DAN INTOLERANSI DALAM BERAGAMA

Istilah “toleransi” berasal dari bahasa Latin, toleran, yang berarti membiarkan mereka
yang berpikiran lain atau berpandangan lain tanpa dihalang-halangi1. Toleransi di dalam
bahasa Arab diartikan ikhtimal, tasyaamuh yang artinya sikap membiarkan, lapang dada 2.
Mengutip dari Zagorin (2003) toleransi adalah istilah dalam konteks social, budaya dan
agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap
kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu
masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya3. Dengan toleransi dan kerukunan
ini diharapkan dapat terwujud ketenangan, saling menghargai ketertiban dan keaktifan
menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinannya masing-masing. Kerukunan hidup
antarumat beragama merupakan ajaran agama dan agama adalah suatu hukum peraturan
hidup yang bersumber pada Tuhan Yang Maha Esa.

Kini mulai terjadi kemunduran atas rasa dan semangat kebersamaan yang sudah
dibangun selama ini. Intoleransi semakin menebal ditandai dengan meningkatnya rasa benci
dan saling curiga diantara sesama anak bangsa. Bahkan rasa individual semakin melekat
dalam kehidupan sosial dan cenderung menutup diri dari orang lain. Hegemoni mayoritas
atas minoritas pun semakin menebal, mengganti kasih sayang, tenggang rasa, dan semangat
untuk berbagi. Intoleransi muncul akibat hilangnya komitmen untuk menjadikan toleransi
sebagai jalan keluar untuk mengatasi berbagai persoalan yang membuat bangsa terpuruk. Kita
semua tau bahwa setiap agama, baik islam, Kristen dan agama-agama lain mengajarkan
kebaikan dan hidup toleransi, namun pada kenyataannya justru konflik dan pertikaian sering
terjadi yang mengatasnamakan harga diri karena untuk mempertahankan agama. Padahal
agama seharusnya bisa menjadi energi posistif untuk membangun nilai toleransi guna
mewujudkan negara yang adil dan sejahtera serta hidup berdampingan dalam perbedaan.

Untuk itu kita perlu menyadari walaupun setiap agama tidak sama, tetapi agama
selalu mengajarkan toleransi, baik dalam beragama maupun hidup dalam dunia majemuk dan
diperlukan kesediaan menerima kenyataan bahwa dalam masyarakat ada cara hidup,
berbudaya, dan berkeyakinan agama yang berbeda. Keanekaragaman itu indah bila kita
menyadari dan mensyukuri setiap perbedaan yang ada dan menjadikan perbedaan itu sebagai
warna-warni kehidupan seperti halnya pelangi yang terdiri dari warna-warna yang berbeda
namun menyatu untuk memancarkan keindahan.

Setiap pemeluk agama akan memandang benar agama yang dipeluknya. Karenanya
akan amat riskan untuk memaksakan suatu agama terhadap orang yang sudah beragama.
Memberikan kebebasan kepada setiap pemeluk suatu agama untuk menjalankan agamanya
secara patut adalah sikap demokratis di dalam beragama. Dan memperkenalkan identitas
agama yang dipeluk kepada pemeluk agama lain agar saling memaklumi dan menghormati
adalah langkah arif dalam membina hubungan antar umat beragama.

2.2 GEJALA INTOLERANSI DALAM BERAGAMA

Banyaknya agama yang dianut oleh bangsa Indonesia membawa persoalan


hubungan antar penganut agama. Pada mulanya persoalan timbul karena penyebaran agama 4.
Setiap agama, terutama Islam dan Kristen sangat mementingkan masalah penyebaran agama.
Karena masing-masing pemeluk merasa memiliki kewajiban untuk menyebarkannya, masing-
masing yakin bahwa agamanyalah satu-satunya kebenaran yang menyangkut keselamatan di
dunia dan diakhirat. Oleh karena itu sangat wajar apabila mereka sangat terpanggil untuk
menyelamatkan orang lain lewat ajakan memeluk agama yang diyakininya, ketegangan
dalam penyebaran agama timbul ketika dilakukan pada masyarakat yang telah atau menganut
agama tertentu. Selain itu, faktor SARA, suku, agama, ras, dan antar golongan selama masa
reformasi muncul kembali dengan memanfaatkan suasana kebebasan yang disalahgunakan
oleh orang atau golongan untuk kepentingannya sendiri-sendiri dan menurut tafsirannya
masing-masing. Kebebasan telah dibajak dan dengan memanfaatkan sentimen-sentimen
primordial yang berbau SARA, ditambah lagi oleh kenyataan bahwa struktur penguasaan
sumberdaya ekonomi dan politik ternyata berkembang sangat timpang, sehingga
menyebabkan terjadinya fenomena konflik dan kasus-kasus kekerasan dan ketidakadilan.

2.3 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB INTOLERANSI DALAM MASYARAKAT


BERAGAMA

Masalah kurangnya toleransi dalam kehidupan beragama yang saat ini banyak terjadi
akhirnya menjadi sebuah konflik, terjadinya konflik ini dikarenakan oleh beberapa faktor.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Kurang menghormati;
2. Menganggap rendah pemeluk agama lain yang tidak sama dengan agama yang
dipeluknya;
3. Kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama
pihak lain;
4. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam
kehidupan masyarakat;
5. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat;
6. Para pemeluk agama tidak mampu mengontrol diri, sehingga tidak menghormati
bahkan memandang randah agama lain;
7. Kecurigaan terhadap pihak lain, baik antar umat beragama, intern umat beragama,
atau antara umat beragama dengan pemerintah.
Ketika salah satu dari faktor penyebab tersebut terjadi maka permasalahan konflik antar
umat beragama akan timbul. Oleh karena itu faktor penyebab masalah kurangnya toleransi
antar umat beragama harus diminimalisir atau bahkan di hilangkan dengan beberapa solusi
permasalahan.

2.4 CARA MENGATASI SIKAP INTOLERANSI DALAM MASYARAKAT


BERAGAMA

Untuk mengubah stigma masyarakat dan menghindari konflik yang berbau akan sara
dan agama perlu adanya perubahan pada bidang pendidikan saat ini. Hal ini karena
pendidikan merupakan fondasi pertama dalam menciptakan suatu kedamaian dalam
kehidupan bermasyarakat. Selain daripada itu perlu juga adanya sosok pemimpin yang
mampu mengubah keadaan situasi masyarakat. Sehingga bisa terciptanya kehidupan
bermasyarakat yang tenteram dan tenang. Sehingga bisa disimpulkan bahwa penyebab dari
konflik yang ada selama ini bukanlah akibat dari agama itu sendiri, melainkan karena adanya
faktor politik dan tidak meratanya pendidikan agama ataupun modern dalam tubuh
masyarakat. Dengan beragama membuat hidup manusia menjadi terarah lebih baik. Serta
setiap manusia memiliki haknya masing-masing untuk memilih agama apa yang akan mereka
anut karena setiap manusia diberikan kebebasan untuk menganut agama yang kita pilih.
Sebagai umat yang beragama, seharusnya masyarakat lebih menyadari pentingnya kedamaian
dalam perbedaan, karena tanpa adanya kedamaian dalam perbedaan maka akan dapat
menimbulkan berbagai macam konflik yang menimbulkan keretakan dalam hubungan antar
umat beragama.

Hal yang melatar belakangi permasalahan atau konflik agama yang ada di sekitar
lingkungan masyarakat yaitu karena rendahnya toleransi, hal tersebut terbukti dengan masih
banyaknya konflik antar agama yang disebabkan oleh rendahnya toleransi, seperti tidak
saling menghargai, saling mencela, dan sebagainya. Maka dari itu untuk dapat mengurangi
dan menyelesaikan permasalahan konflik antar agama ini diperlukan peningkatan rasa
toleransi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengadakan seminar-seminar
mengenai toleransi, mengadakan acara sosial tanpa memandang perbedaan agama, dan
sebagainya. Selain itu diperlukan pula peran dan kerja sama dari seluruh masyarakat,
pemerintah dan tokoh agama untuk mengurangi konflik antar agama yang terjadi di
masyarakat, pemerintah dapat membuat suatu kebijakan, menyelenggarakan acara-acara
tertentu yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama, begitu pun dengan tokoh agama,
tokoh agama dapat mensosialisasikan kepada masyarakat untuk terus menanamkan dan
mengembangkan rasa toleransi pada setiap masyarakat, sehingga masyarakat dapat
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan sesama manusia di lingkungannya
seperti menjaga perkataan, perbuatan dan pikiran yang menjatuhkan agama, saling tolong-
menolong, saling menghormati, tidak memandang sebelah mata dan merendahkan agama
lain, dan sebagainya
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Pada dasarnya agama merupakan suatu tatanan aturan yang menghendaki adanya
ketertiban, keteraturan, keharmonisan, ketenangan, dan kedamaian bagi pemeluknya dalam
kehidupan sehari-hari. terjadinya konflik ini dikarenakan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor
tersebut antara lain kurang menghormati, menganggap rendah pemeluk agama lain yang tidak
sama dengan agama yang dipeluknya, kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan
agamanya sendiri dan agama pihak lain, dan lain sebagainya. Untuk mengubah stigma
masyarakat dan menghindari konflik yang berbau akan sara dan agama perlu adanya
perubahan pada bidang pendidikan saat ini. Untuk itu diperlukan peran dan kerja sama dari
seluruh masyarakat, pemerintah, dan tokoh agama untuk mengurangi konflik antar agama
yang terjadi di masyarakat.

Anda mungkin juga menyukai