Anda di halaman 1dari 69

BAB 1

PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang Masalah

Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi


fungsi individu antara lain fungsi berfikir dan berkomunikasi, menerima dan
menginterprestasikan realita, dan merasakan (Saswati, Dasuki, & Ermayan,
2017). Skizofrenia dapat di sebabkan oleh kerusakan otak atau abnormalitas,
keturunan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, alkohol, ketidakseimbangan
zat kimia dalam otak dan kuman atau virus, sehingga si penderita mengalami
disfungsi otak (Novitayan, 2017).
Gejala umum yang timbul pada pasien skizofrenia seperti halusinasi
(mendengar, melihat atau merasakan hal-hal yang tidak ada), delusi (selalu
berkeyakinan palsu, rasa curiga yang besar), gangguan perilaku, dan
gangguan afek (emosi) (WHO, 2018). Skizofrenia yang berkelanjutan akan
menyebabkan perubahan afek atau emosi maupun perilaku, dorongan afek
emosi yang semakin kuat dan tidak mampunya untuk mengalihkan pada
kegiatan yang lain, sehingga emosi tersebut dapat menyebabkan ganguan
perilaku seperti resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri maupun orang lain
(Novitayan, 2017). Resiko perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan
dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara
fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, disertai dengan amuk dan
gaduh gelisah yang tak terkontrol (Pangestika, Rochmawati, & Purnomo,
2015).
Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan
yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data (WHO, 2018),
terdapat sekitar 300 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar,
23 juta terkena skizofrenia, serta 50 juta terkena dimensia. Di Indonesia,
dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan
keanekaragaman penduduk; maka jumlah kasus gangguan jiwa terus
bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan
produktivitas manusia untuk jangka panjang.

1
Data Riskesdas 2018 memunjukkan prevalensi penyakit gangguan
jiwa meningkat, dari hasil riskesdes antara tahun 2013 dan 2018 mengalami
peningkatan sebesar 5,3%, terutama untuk skizofrenia berat seperti gangguan
perilaku hingga dengan pasung pada 3 bulan terakhir mengalami peningkatan
sebesar 16,2% .Sedangkan untuk Jawa Timur penyakit skizofrenia juga
mengalami peningkatan, menurut data Riskesdes antara tahun 2013 dan 2018,
skizofrenia di Jawa Timur mengalami peningkatan sebesar 3% (Riskesdes
2018).
Di Kabupaten Ponorogo jumlah kasus gangguan jiwa di Puskesmas
Kabupaten Ponorogo Tahun 2016 sebanyak 13.377 kasus. Kunjungan ini
menurun jika dibandingkan dengan Tahun 2015 yang sebanyak 14.416
kasus. Jumlah tersebut merupakan pasien yang berkunjung ke puskesmas
dan rumah sakit termasuk pasien gangguan jiwa dari luar wilayah
Kabupaten Ponorogo. Jumlah ini masih sedikit jika dibandingkan dengan
jumlah kasus yang sebenarnya karena belum semua laporan dari sarana
pelayanan yang lain masuk. Hal ini dikarenakan di Kabupaten Ponorogo
belum ada dokter spesialis jiwa. Selain itu banyak kasus gangguan jiwa
yang langsung kunjungan dan atau dengan rujukan ke RSJ di Lawang atau
Solo, (Profil Ponorogo, 2016)
Menurut penelitian (Pangestika, Rochmawati, & Purnomo, 2015),
Prevalensi pada pasien resiko perilaku kekerasan lebih banyak pada jenis
kelamin laki-laki lebih yaitu 32 responden (60.4%), sedangkan responden
perempuan 21/(39.6%), dan diperoleh jumlah responden terbanyak adalah
kelompok usia 22 - 40 tahun. Rentang usia tersebut dapat dikategorikan
pada kelompok usia dewasa awal. Sedangkan menurut penelitian (M
Arsyad Subu, 2018) Perilaku Kekerasan pada pasien gangguan jiwa lebih
banyak berdampak pada orang lain, terutama orang yang mereka kenal
terlebih dahulu seperti keluarga dan lingkungan (10-36%), itu sebabnya
keluarga merasa takut melakukan perawatan mandiri di rumah, dan lebih
memilih rumah sakit jiwa sebagai tempat rehabilitas untuk kesembuhan
keluarganya yang mengalami gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan.

2
Penyebab skizofrenia dibagi menjadi 3 kategori yaitu, biologi,
psikososial, dan spiritual, kategori biologi disebabkan karena pasien kurang
perawatan kesehatan di masa lalu, kerusakan otak atau abnormalitas,
keturunan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, alkohol, ketidakseimbangan
zat kimia dalam otak dan kuman atau virus. Kemudian kategori ke dua adalah
psikososial yang disebabkan oleh stres yang dialami individu. Hubungan
antar stres dan gejala psikotik dapat merupakan dampak dari suatu kerentanan
yang mendasarinya. Sedangkan pada kategori yang ke tiga adalah spiritual,
bentuk penyebab kategori spiritual adalah cobaan dari Allah SWT atau/dan
hukuman dari Allah SWT atas perbuatannya terdahulu adalah persepsi
terbanyak dari pasien terhadap penyebab dirinya mengalami skizofrenia
(Novitayan, 2017).
Proses terjadinya skizofrenia dibagi menjadi beberapa fase, fase
pertama adalah Fase Prodomal, fase ini berlangsung antara 6 bulan sampai 1
tahun, dampak pada fase ini adalah dapat berupa selfcare, gangguan dalam
akademik, gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan
pikiran dan persepsi. Kemudian fase yang ke dua adalah Fase Aktif,
berlangsung kurang lebih 1 bulan, dampak pada fase ini berupa gejala
psikotik, halusinasi, delusi, disorganisasi proses berpikir, gangguan bicara,
gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi. Yang terakhir adalah Fase
Residual, dampak padak fase ini klien mengalami minimal 2 gejala yaitu
gangguan afek dan gangguan peran,sampai dengan timbulnya gangguan
perilaku seperti serangan yang timbul pada fase ini biasanya berulang-ulang
(Yosep & Sutini, 2014).
Menurut (Moorhead, Johnson, Maas, & Swanson, 2013 ), kriteria
hasil pada pasien gangguan jiwa dengan resiko perilaku kekerasan adalah
adanya impulse self control atau impuls control diri seperti pasien dapat
mengidentifikasi faktor yang menyebabkan perilaku kekerasan, dapat
mengidentifikasi cara alternative untuk mengatasi masalah, tidak menganiaya
orang lain secara fisik, emosi atau seksual, dan dapat mengidentifikasi kapan
marah, prustasi atau merasa agresif.

3
Perawat dapat memberikan intervensi seperti Manajemen Perilaku
kepada pasien berdasarkan Nursing Interventions Classification dengan
tindakan menghindari kesendirian pasien, mengarahkan perhatian dari sumber
agitasi, menghindari berdebat dengan pasien, mengabaikan perilaku yang
tidak pantas, mencegah perilaku agresif-pasif, memberikan pujian upaya
pengendalian diri, memberikan pengobatan seperlunya (Bulechek, Butcher,
Docherman, & Wagner, 2013). Sehingga perawat dapat melakuan asuhan
keperawatan pada salah satu anggota keluarga yang skizofrenia dengan resiko
perilaku kekerasan terhadap orang lain seperti membina hubungan saling
percaya (BHSP) pada pasien maupun keluarga, setelah itu perawat dapat
melakukan setrategi pelaksanaan pada pasien skizofrenia dengan perilaku
kekerasan dari setrategi pelaksanaan 1 sampai dengan setrategi pelaksanaan
5. Setrategi pelaksanaan 1 (identifikasi marah, tanda dan gejala yang
dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, serta mengontrol scara fisik
dengan relaksasi nafas dalam), Setrategi pelaksanaan 2 (mengontrol perilaku
kekerasan scara fisik dengan pukul kasur dan bantal), sampai dengan
Setrategi pelaksanaan 5 (mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat)
(Dermawan & Rusdi, 2013).
Tindakan berikutnya yang dapat di lakukan pada pasien skizofrenia
dengan resiko perilaku kekerasan adalah seperti penelitian yang di lakukan
oleh (Pangestika, Rochmawati, & Purnomo, 2015) Pengendalian marah yang
cukup baik berarti pasien dapat mengendalikan atau mengurangi marah
dengan melakukan relaksasi, relaksasi yang sesuai dengan pasien resiko
perilaku kekerasan adalah relaksasi otot progresif. Pemberian relaksasi otot
progresif memiliki manfaat untuk meningkatkan teknik ketenangan pasien,
dengan didukung dengan lingkungan yang tenang, posisi yang nyaman, dan
keadaan responden yang kooperatif dapat memaksimalkan manfaat dari
intervensi tersebut.

4
Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
keluarga pasien adalah dengan melakukan setrategi pelaksanaan pada
keluarga, yaitu SP1 (melakukan penyuluhan pada keluarga tentang cara
merawat pasien resiko perilaku kekerasan), SP2 (melatih keluarga melakukan
cara - cara mengontrol kemarahan pada pasien) (Dermawan & Rusdi, 2013).
Selain itu keluarga juga dapat berperan dalam proses pengobatan klien
yaitu dalam bentuk dukungan keluarga terhadap kepatuhan perilaku minum
obat yang dilakukan oleh pasien skizofrenia. Dukungan keluarga yang
diberikan pada pasien secara keseluruhan meliputi dukungan keluarga yang
diberikan pada penderita skizofrenia mulai dari menyiapkan, memberikan
atau meminumkan obat maupun dalam proses pengobatan, hingga dalam
aktivitas dan keseharian penderita yang dapat dibagi lagi menjadi beberapa
bentuk. Para penderita sendiri memiliki perilaku minum obat yang bervariatif,
karena penderita memiliki latar belakang penyakit skizofrenia yang harus
teratur minum obat, maka hal ini menyebabkan penderita memiliki dinamika
dalam perilaku minum obat sehari-hari (Lia Minarni, 2015).
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk memberikan Asuhan
Keperawatan pada Salah Satu Anggota Keluarga yang Skizofrenia dengan
Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain di Puskesmas Kecamatan
Jambon Kabupaten Ponorogo

1.2. Batasan Masalah


Sehubung dengan banyak ditemukanya kasus Skizofrenia dengan
Resiko Perilaku Kekerasan di Puskesmas Jambon, Ponorogo, maka dalam
Karya Tulis Ilmiah ini penulis hanya membatasi pada Asuhan Keperawatan
pada Salah Satu Anggota Keluarga yang Skizofrenia dengan Resiko Perilaku
Kekerasan kepada Orang Lain di Puskesmas Kecamatan Jambon Kabupaten
Ponorogo pada tahun 2018.

5
1.3. Rumusan Masalah
Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada salah satu anggota keluarga
yang Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain di
Puskesmas Kecamatan Jambon, Ponorogo.

1.4. Tujuan Penulisan


1.4.1. Tujuan Umum
Tujuan umum studi kasus ini adalah melakukan Asuhan
Keperawatan pada salah satu anggota keluarga yang Skizofrenia dengan
Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain di Puskesmas
Kecamatan Jambon, Ponorogo

1.4.2. Tujuan Khusus


1. Melakukan pengkajian pada salah satu anggota keluarga yang
Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain
di Puskesmas Kecamatan Jambon, Ponorogo.
2. Menetapkan diagnosa pada salah satu anggota keluarga yang
Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain
di Puskesmas Kecamatan Jambon, Ponorogo.
3. Menyusun intervensi keperawatan pada salah satu anggota keluarga
yang Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang
Lain di Puskesmas Kecamatan Jambon, Ponorogo
4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada salah satu anggota
keluarga yang Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan
kepada Orang Lain di Puskesmas Kecamatan Jambon, Ponorogo
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada salah satu anggota keluarga
yang Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang
Lain di Puskesmas Kecamatan Jambon, Ponorogo.

6
1.5. Manfaat Penulisan
1.5.1. Manfaat Teoritis
Ilmu Keperawatan
Dapat menambah pengetahuan dan membantu mengaplikasikan ilmu
keperawatan dengan melaksanakan asuhan keperawatan pada salah
satu anggota keluarga yang skizofrenia dengan resiko perilaku
kekerasan kepada orang lain.

1.5.2. Manfaat Praktis


1. Klien
Mendapat perawatan yang tepat dan benar sehingga dapat
mengurangi gejala-gejala yang timbul untuk melakukan perilaku
kekerasan kepada orang lain
2. Keluarga
Memberikan pengetahuan dan wawasan pada keluarga
pasien agar keluarga mampu merawat serta dapat
mengaplikasikan kepada pasien tentang cara merawat pasien
skizofrenia dengan resiko perilaku kekerasan kepada orang lain.
3. Masyarakat
Memberikan pengetahuan serta gambaran tentang tanda dan
gejala serta pencegahan atau pengobatan pada pasien skizofrenia
dengan resiko perilaku kekerasan kepada orang lain
4. Institusi Pendidikan
a. Meningkatkan dan mengembangakan profesi perawat untuk
menjadi perawat professional, khusunya dalam bidang
keperawatan jiwa.
b. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam
memberikan asuahan keperawatan keluarga pada salah satu
anggota skizofrenia dengan resiko perilaku kekerasan kepada
orang lain.
c. Memberi gambaran informasi bagi penulis studi kasus
berikutnya.

7
5. Puskesmas
Menambah pengetahuan dan wawasan dalam pemberian
asuhan keperawatan keluarga pada salah satu anggota skizofrenia
dengan resiko perilaku kekerasan kepada orang lain
6. Penulis
Memberikan saran untuk menambah pengetahuan, wawasan
dan pengalaman bagi penulis agar penulis dapat memberikan
asuahan keperawatan keluarga secara tepat dan benar.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTTAKA

2.1. Konsep Skizofrenia


2.1.1. Definisi
Penyakit skizofrenia atau schizophrenia adalah penyakit yang
diartikan sebagai kepribadian yang terpecah, antara pikiran, perasaan,
dan perilaku. Dalam artian apa yang dilakukan tidak sesuai dengan
pikiran dan perasaanya. Scara spesifik skizofrenia adalah seseorang
yang mengalami gangguan emosi, pikiran, dan perilaku (Prabowo,
2014).
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan
penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realitasi
(halusinasi atau waham), afek tidak wajar atau tumpul, gangguan
kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta mengalami kesukaran
beraktifitas sehari-hari, (Keliat, Wiyono, & S.Kp, Manajemen Kasus
Gngguan Jiwa, 2011).
Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan yang ditandai
dengan disorganisasi kepribadian yang cukup parah, distorsi realita dan
ketidakmampuan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang
yang menglami skizofrenia biasanya pikiranya tidak teratur, dan
mungkin dapat mengalami delusi maupun gangguan perilaku, (Ardani
& Tristiadi, 2013).

2.1.2. Etiologi
Etiologi skizofrenia menurut (Junaidi, 2012), adalah :
padawalnya skizofrenia diyakini di sebabkan oleh gangguan
utama pada fungsi kognitif yang menunjuk pada faktor organik karena
afek meracuni diri sendiri (auto-intoxication). Selanjutnya beberapa
psikonalis mencoba menjelaskan penyebab skizofrenia dari bidang
psikodinamik. Namun, kini semakin banyak ditemukan bukti-bukti

9
yang menunjukan dominasi peranan faktor biologis pada skizo-frenia,
seperti :
1. Abnormalitas struktur anatomi otak
2. Defisit pada pemrosesan perhatian dan informasi
3. Infeksi virus
4. Faktor lingkungan seperti kekurangan gizi selama kehamilan,
masalah dalam proses kelahiran dan stress pada kondisi
lingkungan
5. Faktor bawaan/genetik
Petunjuk nyata peranan genetik pada skizofrenia kelihatan
pada penelitian epidemiologi genetik yang memperlihatkan
adanya peningkatan yang bermakna insiden skizofrenia dari
keluarga penderita. Peneliti ini di perkuat dengan penelitian anak
adopsi yang memperlihatkan tetap tingginya resiko untuk
menderita skizofrenia pada anak yang berasal dari keluarga
penderita skizofrenia, walaupun iya telah di adopsi oleh keluarga
lain yang tidak ada skizofrenia. Penelitian terhadapa anak kembar
pemperlihatkan resiko skizofrenia jauh lebih tinggi pada anak
kembar satu telur di bandingkan kembar dua telur.

2.1.3. Patofisiologi Skizofrenia


Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa
awal sampai dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase
antara lain:
1. Fase Prodomal : Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahurn.
Gangguan dapat berupa selfcare, gangguan dalam akademik,
gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan
pikiran dan persepsi.
2. Fase Aktif : Berlangsung kurang lebih 1 bulan. angguan dapat
berupa gejala psikotik; halusir asi, delusi, disorganisasi proses
berpikir, gangguan bicara, gangguan perilaku, disertai kelainan
neurokimiawi

10
3. Fase Residual : Klien mengalami minimal 2 gejala; gangguan afek
dan gangguan peran serangan biasanya berulang-ulang. Tahapan
halusinasi dan delusi yang biasa menyertai ganggua jiwa, klien
yang mengalami gangguan jiwa sebagian besar disertai halusinasi
dan delusi yang meliputi beberapa tahapan antara lain :
a. Tahap Comforting
Timbul kecemasan ringan di tandai gejala kesepian, perasaan
berdosa, klien biasanya mengkompensasikan stressornya dengan
koping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari
ancaman.
b. Tahap Condeming
Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi
selanjutnya klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut
apabila orarig lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan
sehingga timbul perilaku menarik diri (withdrawl)
c. Tahap Controling
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang
timbul tetapi tersebut terus-menerus mengikuti, sehingga
menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila
suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian/sedih
d. Tahap Conquering
Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila
tidak dikuti perilaku klien dapat bersipat merusak atau dapat timbul
perilaku suicide. Kemudian selain dampak panik, pasien juga
mengalami perubahan pada susunan saraf pusat (otak) pasien
skizofrenia. Penelitian mutakiur menyebutkan bahwa perubahan-
perubahan pada neurotransmiter dan resptor di sel-sel saral otak
(neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin,
ternyata mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang
menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif dan negatif
skizofrenia. Selain perubahan-perubahan yang sifatnya
neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan menggunakan CT

11
Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak
pasien, terutama pada penderita kronis. Perubahannya ada pada
pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks bagian depan, dan atrofi
otak kecil (cerebel- lum) (Yosep & Sutini, 2014).

2.1.4. Klasifikasi Skizofrenia


Tipe dan klasıfikasi Skizotrenia menurut (Prabowo, 2014), adalah :
1. Skizofrenia simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas geajala pertama
pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran
kemauan, gangguan proses berpikir sukar ditemukan, waham dan
halusinasi jarang sekali terdapat
2. Skizofrenia bebefrenik
Permulaanya perlahan-lahan/sub akut dan seri timbul pada
masa remaja/antara 15-25 Tahun gejala menyolok ialah gangguan
proses berpikir gangguan kemauan dan adanya
depersonalisasi/double personality. Gangguan psikornotor seperti
perilaku kekanak-kaniakan sering terdapat pada bebefrenik, waham
dan halusinasi banyak sekali
3. Skizofrenia Katatonk
Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun dan
biasanya akut serta sering di dahului oleh stres emosional, mungkin
terjadi gaduh gelisah katatanik stupor katatonik
4. Stupor Katatonik
Pada stupor katatonik penderita tidak menunjukkan perhatian
sama sekali terhadap lingkungannya. Emosinya sangat dangkal,
gejala yang paling penting ialah gejala psikomotor seperti :
a. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup
b. Muka tanpa mimik seperti topeng
c. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang
lama, beberapa hari, bahkan kadang-kadang sampai beberapa
bulan

12
5. Gaduh-gelisah Katatonik
Terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi tidak disertai dengan
emosi yang semetinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari
luar. Penderita terus berbicara/bergerak saja ia menunjukkan
stereotopi, menerisme, grimas dan Neologisme, ia tidak dapat tidur,
tidak makan dan minum sehingga mungkin terjadi dehidrasi/kolabs
dan kadang kadang kematian.
6. Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain
dalam jalannya penyakit, bebefronik dan katatonik sering lama-
kelamaan menunjukkan gelaja-gejala skizofrenia simplex, atau
gejala- gejala bebefrenik dan katatonik percampuran, tidak demikian
halnya dengan Skizofrenia paranoid yang jalannya agak konstan,
gejala-gejala yang paling menyolok ialah Waham primer, disertai
dengan waham-waham sekunder dan halusinasi baru dengan
pemeriksaan yang ternyata adanya gangguan proses berfikir
gangguan efek, emosi dan kemauan.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun
permulanaanya mungkin sub akut, tetapi mungkin juga akut.
kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan
skizoid. Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri agak congak,
dan kurang percaya din pada orang lain. Skizofrenia Residual ialah
keadaan Skizofrenia dengan gejala-gejala primernya bleuler, tetapi
tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder, keadaan ini timbul sesudah
beberapa kali serangan Skizofrenia.
7. Jenis Skizo-aktif (Skizofrenia skizo afektif)
Disamping gejala-gejala Skizotrenia terdapat menonjol secara
bersamaan juga gejala-gejala depresi (skizo-depresif) atau gejala-
gejala (skizo-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh
tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul lagi serangan

13
2.1.5. Gambaran Klinis
Menurut (Keliat & S.Kp, 2014), Gejala-gejala Skizofrenia adalah
sebagai berikut :
1. Gejala Positif
a. Waham : Keyakinan yang salah, tidak sesuai dengan kenyatan,
di pertahankan dan di sampaikan berulang-ulang (waham kejar,
waham curiga, waham kebesaran)
b. Halusinasi : Gangguan penerimaan pancaindra tanpa ada
stimulus eksternal (halusinasi pendengaran, pengelihatan,
pengecapan, penciuman, dan perabaan)
c. Gangguan arus pikir
1) Arus pikir terputus : Dalam pembicaraan tiba-tiba tidak
dapat melanjutkan pembicaraan
2) Inkoheren : Berbicara tidak selaras dengan lawan bicara
(bicara kacau)
3) Neologisme : Menggunakan kata-kata yang hanya
dimengerti oleh pasien sendiri, tetapi tidak dimengerti oleh
orang lain
d. Perubahan perilaku
1) Hiperakftif : Perilaku motorik yang berlebihan
2) Agitasi : Perilaku yang menunjukan kegelisahan
3) Iritabilitas : Mudah tersinggung
2. Gejala Negatif
a. Sikap masa bodoh (apatis)\
b. Pembicaraan terhenti tiba-tiba (blocking)
c. Menarik diri dari pergaulan sosial (isolasi sosial)
d. Menurunya kinerja atau aktivitas sosial sehari-hari.

14
2.1.6. Penatalaksanaan
1. Obat-obatan
Penggunaan obat untuk terapi skizofrenia pertama kali
diperkenalkan oleh Delay dan Deniker pada tahun 1955, dengan
menyebut istilah obat neuroleptik, misalnya clorpromazine dan
reserpin. Sedangkan mekanisme kerja obat melalui reseptor dopamin
baru diketahui beberapa tahun kemudian, dan diikuti dengan penemuan
haloperidol oleh Janssen pada tahun 1958. Sejak saat itu, berbagai obat
dikembangkan dengan mekanisme utama sebagai antagonis reseptor
dopamin.
Ditemukannya obat clozapine pada tahun 1970-an dianggap
sebagai era baru pada pengobatan skizofienia karena obat ini efektif
dalam menghilangkan gejala skizofrenia dengan efek samping yang
kecil. Berbeda dengan obat-obat sebelumnya, selain bekerja di reseptor
dopamin, clozapine juga bekerja di reseptor serotonin. Cara kerja obat
pada keseimbangan kedua reseptor ini menjadi dasar pengembangan
obat-obat lain. Dewasa ini, beberapa obat telah disetujui untuk
digunakan pada skizofrenia seperti risperidone, olanzapine, sertindole,
ziprazidone, dan quetiapine. Obat antipsikotik golongan baru ini bukan
hanya meminimalkan. efek samping tetapi juga memperkenalkan
dimensi baru dalam target terapi, yaitu pada gejala positif, negatif,
afektif, dan juga fungsi kognitif. Perkembangan terakhir ternyata obat
bukan hanya bekerja pada dopamin dan serotonin, tetapi juga pada
reseptor asetil kolin dan glutamat yang juga berperan dalam
patofisiologi terjadinya skizofrenia
2. Terapi Kejut Arus Listrik
Metode lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk
terapi skizofrenia adalah dengan Electro Compulsive Therapy (ECT)
yang diperkenalkan oleh UgoCerlitti dan Luigi Bini pada 1938.
Pengobatan cara ini adalah dengan memberikan kejutan listrik di kepala
penderita sehingga alur penyalur arus listrik penyebab skizofrenia
dikacaukan dengan harapan akan menghentikan skizofrenia. Terapi ini

15
hanya bersifat sementara karena setelah beberapa waktu pola arus listrik
otak yang mengarah pada gangguan skizofrenia kembali terjadi dan
tentu saja pasien akan mengalami serangan skizofenia. Terapi kejut
listrik ini umumnya hanya digunakan pada saat serangan hebat yang
membuat pasien agresif, mengamuk, dan dapat membahayakan dirinya
sendiri maupun orang lain.
3. Psikoterapi
Sebelum tahun 1970-an, dasar psikoterapi adalah pendekatan
psikodinamik yang menekankan bahwa skizofrenia disebabkan oleh
pola perilaku dan komunikasi yang salah dari penderita dan keluarga.
Psikoterapi bertujuan meningkatkan kemampuan penderita dalam
menghadapi stres kehidupan, meningkatkan kemampuan sosial, serta
intervensi pada keluarga. Pendekatan psikoterapi ditujukan untuk
mengatasi gejala dan bukan merupakan pendekatan untuk
menghilangkan penyebab dari skizofrenia (Junaidi, 2012).

2.1.7. Pencegahan
Sebenarnya keluarga dapat melihat dan menduga ada yang tidak
beres dengan penderita skizofrenia pada tahap dini karena tingkah laku
aneh yang diperlihatkannya, tetapi tidak mencermati lebih jauh dan
menganggap itu bukan penyakit yang serius. Itu sebabnya penderita
hanya dibawa berobat ke berbagai tempat, misalnya ke orang pintar,
rohaniwan, pengobatan alternatif, dan sebagainya, bukan ke dokter
Setelah semua usaha gagal, barulah mereka sadar bahwa anggota
keluarga mereka menderita penyakit dan memer- lukan pengobatan
serius, kemudian membawanya ke dokter. Oleh karena itu,
meningkatkan pengetahuan masyarakat atas penyakit ini penting untuk
memungkinkan upaya inter- vensi dini sesegera mungkin.
Keterlambatan penanganan skizofrenia ini akan berdampak buruk,
penderita akan semakin sukar disembuhkan dan sering kambuh. Selain
itu, pengobatan menjadi semakin sulit dan akhirnya membuat penderita
jatuh pada keadaan kronis berkepanjangan. Selain itu, gejala-gejala

16
skizofrenia yang muncul bila didiamkan akan berdampak buruk pada
perkembangan otak dan akhirmya penderita mengalami penurunan
fungsi sosial yang berat (deteorisasi) dan menjadi kronis
Penderita skizofienia yang terlambat berobat akan cenderung
"kebal" dengan obat-obatan atau menggunakan obat dengan dosis yang
lebih tinggi, serta harus menjalani perawatan di rumah sakit lebih lama.
Pada akhirnya, semua itu akan meningkatkan biaya pengobatan dan
menjadi beban ekonomi bagi keluarga. Penyakit yang berkelanjutan
juga akan sangat merugikan perkembangan psikologis dan kehidupan
sosial penderita. Karena penyakitnya ini, penderita akan mengurung
diri, terisolasi dari kehidupan osial, dan menjadi pasif dalam banyak
hal. Penderita akan kehilangan banyak kesempatan dalam
kehidupannya, kehilangan teman, keterampilan, pekerjaan, dukungan
sosial, can kepercayaan diri.
Kelompok pertama yang perlu mendapatkan perhatian adalah
para remaja atau dewasa muda yang menunjukkan gejala-gejala awal
skizofrenia sepeti terjadinya penurunan prestasi di sekolah atau di
pekerjaan, perubahan perilaku adanya gangguan tidur, penurunan nafsu
makan, emosi yang labil, tegang, stres, mempunyai kepercayaan yang
aneh atau tidak masuk akal, serta penurunan fungsi kognitif. Perlu
diingat bahwa keberadaan gejala-gejala tersebut merupakan pertanda
dan bukan suatu kepastian diagnosis. Beberapa gejala mungkin hanya
merupakan penyimpangan jiwa yang masih normal dari kehidupan
remaja. Karena itu, konsultasi dengan ahli (psikiater) sangat diperlukan
untuk memastikan langkah pengobatan
Kelompok lain adalah mereka yang berasal dari keluarga yang
banyak menderita skizofrenia serta mengalami beberapa gejala psikiatri
ringan. Hingga kini, faktor genetik dipercaya mcmpunyai peranan yang
besar sebagai penyebab skizofrenia. Beberapa penelitian genetik yang
menggunakan kelainanneuro-kognitif sebagai fenotip menunjukkan
hasil yang positif. Ini sejalan dengan teori bahwa gangguan neuro-
kognitif disebabkan oleh kelainan genetik (Junaidi, 2012).

17
2.1.8. Intervensi Dini
Mengingat perbedaan dalam karakteristik, program pengobatan
dini pada skizofrenia berbeda dengan penanganan penderita skizofrenia
kronik Pengobatan dini dilakukan pada usia muda dan mempunyai
kesempatan yang lebih tinggi untuk sembuh atau kembali berinteraksi
dengan masyarakat atau dengan kata lain dapat melanjutkan
kehidupannya dengan lebih baik. Penanganan dini yang diberikan harus
hati-hati, penuh empati dan tidak menimbulkan stigma negatif bagi
penderita. dan keluarganya.
Ciptakan suasana kondusif sehingga penderita dan keluarga
merasa bahwa seluruh staf medis adalah bagian dari keluarga besar
mereka. Ini penting untuk memastikan tingkat kepatuhan terhadap
pengobatan. Penanganan sebaiknya menggunakan pendekatan manajer
kasus yaitu salah satu staf medis berperan sebagai manajer bagian
proses pengobatan dan kesembuhan penderita. Setiap manajer berperan
aktif untuk memastikan seluruh proses pengobatan berjalan dengan
baik. Manajer juga berperan sebagai penghubung antara keluarga
dengan sistem pelayanan di rumah sakit, antara pasien dengan
lingkungan kerja, dan dalam keadaan darurat dapat bertindak sebagai
agen pengobatan lini pertama.
Konsultasi rutin penting agar penderita dapat meningkatkan
kemampuannya dalam mengatasi tekanan hidup dan stres, serta siap
menghadapi gejala-gejala yang mungkin timbul. Beberapa program
dibuat khusus baik untuk penderita mau- pun untuk keluarga, melalui
grup terapi, terapi okupasi atau pelatihan, konseling keluarga, dan grup
terapi untuk keluarga.
Keluarga mendapat porsi yang sama besar dalam intervensi dini
ini. Pertemuan antaranggota keluarga perlu difasilitasi dalam sesi grup
terapi agar keluarga dapat saling belajar mengatasi masalah-masalah
yang timbul. Secara khusus, sebaiknya dilakukan evaluasi terhadap
fungsi kognitif, mengingat terganggunya fungsi kognitif akan
menyulitkan proses penyembuhan.

18
Khusus untuk program pencegahan dan intervensi dini, obat yang
digunakan hendaklah yang terbaik. Obat-obat yang telah lama beredar
disebut sebagai obat-obat tipikal, sebaiknya tidak digunakan. Efek
samping obat tipikal mungkin timbul seperti kekakuan otot yang dapat
menyebabkan pasien berjalan seperti robot dan tampak linglung akan
mengurangi tingkat kepatuhan, serta juga meningkatkan stigma negatif.
Obat-obat terbaru yang disebut dengan atipikal atau obat generasi kedua
serta generasi ketiga akarn lebih baik dan lebih bisa diterima penderita
(Junaidi, 2012).

2.1.9. Komplikasi
Komplikasi pada skizofrenia, terjadi jika skizofrenia tersebut
pada pada tahap skizofrenia kronik, dan munculnya gejala–gejala
negatif pada pasien tersebut sperti, munculnya sikap apatis yang nyata,
kemiskinan pembicaraan, kurangnya dorongan, afek yang lambat dan
tumpul atau kongruen, dan biasanya menyebabkan penarikan diri scara
sosial dan menurunya performa sosial.
Terjadinya perubahan perilaku personal. Gejala ini dapat
ditandai sebagai perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
dan keseluruhan beberapa aspek perilaku personal, yang bermanifestasi
sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, dan perilaku
memendam masalah (self absorbed attiude) serta penarikan diri scara
sosial (Keliat B. A. & Akemat, 2014).

19
2.2. Konsep Askep Keluarga Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan
2.2.1. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan salah satu elemen terkecil dari masyarakat
yang keberadaanya di dalam masyarakat akan menentukan
perkembangan dalam masyarakat. Keluarga menjadi tempat tempat
sentral pertumbuhan dan perkembangan individu, sehingga keluarga
menjadi aspek terpenting dari keperawatan. Keluarga bersama dengan
individu, kelompok, dan komunitas adalah klien atau resipien
keparawatan (Susanto, 2012).

2.2.2. Pengkajian
Pengkajian keperawatan keluarga merupakan suatu tahapan
dimana perawat mengambil informasi dengan pendekatan sistematis
untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui
kebutuhan keluarga yang dibinanya. Metode yang dapat digunakan
perawat dalam melakukan pengkajian keluarga diantaranya wawancara,
observasi fasilitas dan keadaan rumah, pemeriksaan fisik dari anggota
keluarga, measurement dari data sekunder (kartu keluarga, hasil lab,
papsmear, dan sebagainya.
Model Friedman menguraikan beberapa hal yang dapat dikaji
dalam keluarga binaan. Pengkajian ditekankan pada pengkajian
keluarga seutuhnya dan pengkajian terhadap anggota keluarga,
beberapa aspek yang dikaji dalam keluarga seperti data sosial budaya,
Sedangkan model sistem adaptasi dari Neuman dapat digunakan dalam
menilai terhadap stressor yang dihadapi oleh keluarga tersebut. Stressor
yang dihadapi oleh keluarga akan melewati 3 garis pertahanan dalam
sistem keluarga yaitu garis pertahanan fleksibel, garis pertahanan
normal, dan garis pertahanan resisten. Ketiga garis pertahanan tersebut
terkait dengan komponen dalam keluarga dan anggota keluarga seperti
fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Garis
pertahanan tersebut melindungi struktur dasar dari keluarga.
(Susanto, 2012)

20
Pengkajian pasien resiko perilaku kekerasan dengan 13 Domain Nanda:
1. Domain 1 (Promosi Kesehatan) :
a. Identitas pasien : Nama, Umur, Jenis Kelamin,
Suku/Bangsa, Agama, Status, Pendidikan, Pekerjaan ,
Alamat, Diagnosa Medis
1) Umur : Menurut penelitian (Pangestika, Rochmawati, &
Purnomo, 2015), Umur yang beresiko mengalami
gangguan jiwa dengan resiko perilaku kekerasan adalah
usia dengan kategori dewasa awal yaitu umur 22-40
tahun
2) Jenis kelamin : Menurut penelitian (Wahyudi &
AFibriana, 2016), jenis kelamin laki-laki lebih beresiko
mengalami gangguan jiwa atau skizofrenia,sebab laki-
laki cenderung memiliki produksi hormon stres yang
berlebihan.
3) Status perkawinan : Status seseorang yang belum kawin
lebih berisko menegalami gangguan jiwa di bandingkan
status yang belum kawin karena dalam sebuah hubungan
perkwinan mengalami pertukaran ego sehingga tercapai
kedamaian, perhatian dan kasih sayang sangat
fundamental bagi pencapaian suatu hidup yang berarti
dan memuaskan (Wahyudi & AFibriana, 2016).
4) Pendidikan : Menurut (Wahyudi & AFibriana, 2016),
seseorang yang berpendidikan rendah lehih beresiko
mengalami gangguan jiwa karena kurangnya
pengetahuan tentang gangguan jiwa.
5) Pekerjaan : Seseorang yang tidak bekerja akan lebih
mudah mengalami setress dan depresi dalam dirinya
sehingga memicu terjadinya gangguan jiwa pada
seseorang tersebut (Wahyudi & AFibriana, 2016).

21
b. Faktor predisposisi :
1) Keluhan utama/alasan masuk :
Pasien mengalami gangguan perilaku dan emosi di sertai
hiilangnya kendali, melukai diri, bunuh diri atau
membiarkan diri dalam bentuk penelantaran diri.
Sedangkan pada orang lain adalah tindakan agresif yang
ditujukan untuk melukai atau membunuh orang lain.
(Nihayat, Yusuf, & PK, 2015)
2) Riwayat penyakit dahulu :
Menurut penelitian (Wahyudi & AFibriana, 2016), Pada
pasien gangguan jiwa yang dahulunya memeliki riwayat
gangguan jiwa, dapat menyebabkan kekambuhan pada
pasien tersebut karena tidak patuh minum obat dan tidak
melakukan kegiatan terapi yang di anjurkan oleh tenaga
kesehatan
3) Riwayat penyakit keluarga :
Faktor genetik dari keluarga yang ada riwayat gangguan
jiwa dapat menjadi pemicu gangguan jiwa pada
keturunan selanjutnya (Wahyudi & AFibriana, 2016).
2. Domain 2 (Nutrisi) :
Dalam keadaan depresi pada pasien gangguan jiwa nafsu
makan akan menurun, sehingga dapat mengganggu penyerapan
zat gizi yang masuk kedalam tubuh terutama asupan energi dan
protein. Apabila asupan makanan rendah dan berlangsung
dalam jangka waktu yang relatif panjang, seseorang akan
mengalami defisiensi energi dan protein. Sehingga dapat
mempangaruhi proses pengobatan pada pasien itu sendiri
(Uswatun Chasanah, 2013).
3. Domain 3 (Eliminasi dan Pertukaran) :
pada pasien gangguan jiwa dengan rasa emosi yang tinggi akan
menyebabkan peningkatan respirasi pada pasien tersebut
(Nihayat, Yusuf, & PK, 2015).

22
4. Domain 4 (Aktivitas atau Istirahat) :
Pasien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang
kurang, menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan
termasuk dalam perawatan diri (Personal hygiene), (Dermawan
& Rusdi, 2013).
5. Domain 5 (Persepsi atau Kognisi) :
Pasien akan mengalami gangguan dalam pempersepsikan
sesuatu, seperti halusinasi pendengaran ataupun visual yang
mengakibatkan munculnya rasa emosi, frustasi di sertai
hiilangnya kendali, melukai diri sendiri, lingkungan, dan
bahkan orang lain (Keliat B. A. & Akemat, 2014).
6. Domain 6 (Persepsi Diri) :
Gangguan citra tubuh
munculnya perilaku frustasi yang merupakan hasil dari
dorongan insting (instinctual drives) dari pasien itu sendiri.
Selain itu :
a. Pasien gangguan jiwa akan mengalami gangguan citra
tubuh karena penyakiit yang di deritanya, perubahan
penampilan, proses pengobatan yang berdampak pada
struktur dan fungsi tubuh.
b. Gangguan harga diri : gangguan harga diri terjadi karena
pasien merasa mendapat penolakan dan juga munculnya
rasa tidak percaya diri karena kurangnya mendapat suatu
penghargaan (Nihayat, Yusuf, & PK, 2015).
7. Domain 7 (Hubungan Peran) :
Karena penyakit yang di derita pasien gangguan jiwa, banyak
masyarakat yang mengucilkan dirinya selain itu stigma
masyarakat pada pasien tersebut cenderung negatif sehingga
pasien akan mengalami gangguan rasa percaya diri dan
munculnya isolasi sosial yang menyebabkan pasien mengalami
hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain atau masyarakat
(Nirwan, Tahlil, & Usman, 2016).

23
8. Domain 8 (Seksualitas) :
Kehilangan ketertarikan yang nyata atau yang di bayangkan,
seperti kehilangan cinta dan kasih sayang seseorang
(Dermawan D. & Rusdi, 2013)
9. Domain 9 (Koping atau Toleransi Setress) :
Karena koping tidak efektif muncul perilaku cemas, menarik
diri untuk memindahkan dari sumber setress,dan munculnya
perilaku isolasi, (Dermawan D. & Rusdi, 2013).
10. Domain 10 (Prinsip Hidup) :
Spiritual dapat membantu kesembuhan dari penyakit jiwa yaitu
berkurangnya gejala-gejala sakit jiwa selain dengan cara minum
obat. Selain itu sebagai makhluk Allah, mereka meminta
kesembuhan kepada sang maha pencipta dengan berdoa karena
mereka yakin bahwa sakitnya juga dari Allah (Wijayanti &
Sari, 2014).
11. Domain 11 (Keamanan atau Perlindungan) :
Skizofrenia yang berkelanjutan akan menyebabkan perubahan
afek atau emosi maupun perilaku, dorongan afek emosi yang
semakin kuat dan tidak mampunya untuk mengalihkan pada
kegiatan yang lain, sehingga emosi tersebut dapat menyebabkan
ganguan perilaku seperti resiko perilaku kekerasan pada diri
sendiri maupun orang lain (Novitayan, 2017).
12. Domain 12 (Kenyamanan) :
Terjadinya isolasi sosial, sehingga pasien akan menghindar dari
orang lain, menyendiri, memisahkan diri dari orang lain dan
menolak berhubungan dengan orang lain (Nihayat, Yusuf, &
PK, 2015).
13. Domain 13 (Pertumbuhan dan Perkembangan) :
Terjadinya gangguan keterlambatan dalam pemahaman dan
penggunaan bahasa, serta masalah bahasa dapat memengaruhi
perkembangan kemandirian dan dapat menetap hingga pada
usia dewasa (Nihayat, Yusuf, & PK, 2015).

24
2.2.3. Diagnosis Keparawatan Keluarga
Diagnosis keperawatan adalah keputusan klinis mengenai
invidu ,keluarga atau masyarakat yang diperoleh melalui proses
pengumpulan data dan analisis cermat dan sistematis, memberikan
dasar untuk menetapkan tindakan-tindakan dimana perawat
bertanggung jawab melaksanakannya. Diagnosis keperawatan keluarga
dianalisis dari hasil pengkajian terhadap adanya masalah dalam tahap
perkembangan keluarga, lingkungan keluarga, struktur keluarga, fungsi-
fungsi keluarga dan koping keluarga, baik yang bersifat aktual, resiko
maupun sejahtera dimana perawat memiliki kewenangan dan tanggung
jawab untuk melakukan tindakan keperawatan bersama-sama dengan
keluarga dan berdasarkan Diagnosis keperawatan keputusan klinis
mengenai individu kemampuan dan sumber daya keluarga.
Diagnosis keperawatan keluarga diangkat setelah stressor
mengenai garis pertahanan dalam keluarga baik garis pertahanan
fleksibel, garis pertahanan normal, dan garis pertahanan resisten.
Stressor-stressor tersebut akan mempengaruhi tahap perkembangan
keluarga, lingkungan keluarga, struktur keluarga, fungsi-fungsi
keluarga dan koping keluarga setiap garis pertahanan yang ada dalam
keluarga. Diagnosis keperawatan dapat bersifat aktual, risiko maupun
sejahtera tergantung dari garis pertahanan dalam keluarga yang terdapat
stressor baik sehat maupun sakit.
Tipologi atau sifat dari diagnosis keperawatan keluarga adalah
aktual, risiko, dan sejahtera. Tipologi diagnosa keperawatan keluarga
bersifat aktual berarti terjadi defisit/gangguan kesehatan dalam keluarga
dan dari hasil pengkajian didapatkan data mengenai tanda dan gejala
dari gangguan kesehatan. Diagnosis keperawatan luarga bersifat risiko
(ancaman kesehatan) berarti sudah ada data yang menunjang namun
belum terjadi gangguan, misalnya lingkungan rumah yang kurang
bersih atau pola makan tidak adekuat, diagnosis keperawatan keluarga
bersifat keadaan sejahtera, merupakan suatu keadaan dimana keluarga
dalam keadaan sejahtera, sehingga kesehatan perlu ditingkatkan.

25
Diagnosa Keperawatan :
Diagnosa keperawatan menurut (Herdman & Kamitsuru, 2018) :
1. Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain
2. Isolasi Sosial berhubungan dengan Ketidak Mampuan Menjalin
Hubungan Yang Memuaskan
3. Harga Diri Rendah Kronik berhubungan dengan Gangguan
Psikiatrik

2.2.4. Perencanaan Keperawatan Keluarga


Perencanaan keperawatan keluarga merupakan kumpulan
tindakan yang ditentukan oleh perawat bersama-sama sasaran yaitu
keluarga untuk dilaksanakan, sehingga masalah kesehatan dan masalah
keperawatan yg telah didentifikasi dapat diselesaikan. Perencanaan
keperawatan keluarga sebaiknya berdasarkan masalah yang jelas, harus
realitas, sesuai dengan tujuan, dibuat secara tertulis, dan dibuat bersama
keluarga. Dalam perencanaan keperawatan keluarga ada beberapa hal
yang harus dilakukan perawat keluarga yaitu penyusunan tujuan,
mengidentifikasi sumber-sumber, mendefinisikan pendekatan alternatif,
memilih intervensi perawatan, dan penyusunan prioritas.
1. Menetapkan Prioritas Masalah Keperawatan diagnosa keperawatan
keluarga adalah dengan menggunakan Skala menyusun prioritas dari
Bailon dan Maglaya, 1978
2. Menetapkan Tujuan Keperawatan Tujuan keperawatan harus
mewakili status yang diinginkan yang dapat dicapai atau
dipertahankan melalui program intervensi keperawatan (mandiri).
Sasaran merupakan tujuan umum (yang merupakan akhir yang dituju
dengan semua usaha). Tujuan merupakan pernyataan spesifik
tentang hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan yang terdiri
dan jangka panjang dan jangka pendek.

26
Tujuan jangka panjang adalah target dari kegiatan atau akhir
yang diharapkan dari rangkaian proses penyelesaian masalah
keperawatan (penyelesaian satu diagnosa atau masalah) dan biasanya
berorientasi pada perubahan perilaku sepert pengetahuan, sikap, dan
ketrampilan. Sedangkan tujuan jangka pendek merupakan hasil yang
diharapkan dari setiap akhir kegiatan yang dilakukan pada waktu
tertentu disesuaikan dengan penjabaran jangka panjang.
3. Menyusun rencana Tindakan Keperawatan keluarga
Rencana tindakan keperawatan keluarga merupakan langkah
dalam menyusun alternatif-alternatif dan mengidentifikasi sumber-
sumber kekuatan dari keluarga (kemampuan perawatan mandiri,
sumber pendukung/bantuan yang bisa dimanfaatkan) yang di-
gunakan untuk menyelesaikan masalah dalam keluarga. Dalam setiap
rencana keperawatan perawat keluarga menetapkan aktifitas untuk
setiap tujuan keperawatan. Perawat keluarga merencanakan apa
kegiatan yang akan dilakukan, kapan, bagaimana melakukan, siapa
yang melakukan, dan berapa banyak yang akan dilakukan
Intervensi keperawatan keluarga ditekankan pada penguatan
garis pertahanan keluarga karena keluarga merupakan suatu sistem.
Penguatan garis pertahanan keluarga pada model Neuman dengan
menekankan pada 3 tingkat pencegahan yaitu: pencegahan primer
untuk garis pertahanan fleksibel, pencegahan sekunder untuk garis
pertahanan normal, dan pencegahan tersier untuk garis pertahanan
resisten (Susanto, 2012).
Intervensi keperawatan yang dilakukan pada pasien dan
keluarga menurut Buku Ajar Asuhan Keperwatan Jiwa (Direja, 2011),
adalah dengan melakukan Setrategi Pelaksanaan (SP), 5 Setrategi
Pelaksanaan pada Pasien dan 4 Setrategi Pelaksanaan pada Keluarga,
dengan Krireia Hasil :
Dapat melakukan Setrategi Pelaksanaan yang telah di ajarkan
oleh perawat sebagai proses terapi atau pengobatan sperti :

27
a. SP 1
1) Menyebutkan tanda, gejala, dan akibat perilaku kekerasan.
2) Memperagakan cara fisik 1 untuk mengontrol perilaku
kekerasan (tarik nafas dalam)
b. SP 2
1) Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2) Memperagakan cara fisik untuk mengontrol perilaku
kekerasan (pukul kasur / bantal)
c. SP 3
1) Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2) Memperagakan cara sosial/verbal untuk mengontrol perilaku
kekerasan
d. SP 4
1) Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2) Memperagakan cara spiritual
e. SP 5
1) Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2) Memperagakan cara patuh obat dengan prinsip (5B).
Sedangkan kriteria hasil kepada keluarga menurut (Hastuti, 2014),
adalah keluarga di harapkan mampu melakukan :
1 SP 1
a. Mampu Menjelaskan penyebab, tanda, gejala, dan akibat
perilaku kekerasan
b. Mampu memperagakan cara merawat pasien resiko perilaku
kekerasan dengan tarik nafas dalam dan pukul bantal
2 SP 2
a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan
b. Mampu memperagakan cara merawat pasien resiko perilaku
kekerasan dengan minum obat (Prinsip 5 benar)
c. Mampu merawat serta dapat membuat RTL

28
3 SP 3
a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan
b. Mampu memperagakan cara merawat pasien resiko perilaku
kekerasan dengan bicara yang baik dan spiritual
c. Mampu merawat serta dapat membuat RTL
4 SP 4
a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan
b. Mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk follow-up
pasien dengan resiko perilaku kekerasan
c. Mampu merawat serta dapat membuat RTL

Tabel 2.1. Intervensi Keperawatan Pasien Resiko Perilaku Kekerasa kepada Orang Lain

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

Pasien mampu : Setelah dilakukan 1 x SP 1 :


1. Mengidentifikasi penyebab, Pertemuan pasien mampu : 1. Identifikasi penyebab,
dan tanda perilaku kekerasan 1. Menyebutkan tanda, gejala, tanda, dan gejala serta
2. Menyebutkan jenis perilaku dan akibat perilaku akibat perilaku kekerasan
kekerasan yang pernah kekerasan. 2. Latih cara fisik 1 : Tarik
dilakukan 2. Memperagakan cara fisik 1 nafas dalam
3. Menyebutkan akibat dari untuk mengontrol perilaku 3. Masukan dalam jadwal
perilaku kekerasan yang kekerasan (tarik nafas harian pasien
dilakukan dalam)
4. Menyebutkan cara
mengontrol perilaku
kekerasan
5. Mengontrol perilaku
kekerasannya dengan cara:
1) Fisik
2) Sosial Setelah dilakukan 1 x SP (2)
3) piritual pertemuan, diharapakan pasien 1. Evaluasi kegiatan yang
4) Terapi mampu : lalu (SP 1)
5) Psikofarmaka (Obat) 1. Menyebutkan kegiatan yang 2. Melatih cara fisik ke-2 :
sudah dilakukan Pukul kasur / bantal
2. Memperagakan cara fisik 3. Masukan,dalam
untuk mengontrol perilaku jadwal,harian pasien
kekerasan (pukul kasur /
bantal)

29
Setelah dilakukan 2 x SP (3)
pertemuan, diharapakan pasien 1. Evaluasi kegiatan yang
mampu : lalu (SP 1 dan 2)
1. Menyebutkan kegiatan yang 2. Latih secara sosial / verbal
sudah dilakukan a. Menolak dengan baik
2. Memperagakan cara sosial / b. Meminta dengan baik
verbal untuk mengontrol c. Mengungkapkan
perilaku kekerasan dengan baik
3. Masukan dalam jadwal
harian pasien

Setelah dilakukan 1 x SP (4)


pertemuan, diharapakan pasien 1. Evaluasi kegiatan yang
mampu : lalu (SP 1, 2, dan 3)
1. Menyebutkan kegiatan yang 2. Latih,cara spiritual :
sudah dilakukan Berdo’a
2. Memperagakan cara spiritual Shalat
3. Masukan dalam jadwal
harian pasien

Setelah dilakukan 2 x SP 5
pertemuan, diharapakan pasien 1. Evaluasi kegiatan yang
mampu : lalu (SP 1, 2, 3, dan 4)
1. Menyebutkan kegiatan yang 2. Latih patuh minum obat:
sudah dilakukan 3. Minum obat scara teratur
2. Memperagakan cara patuh dengan prinsip 5 B
obat dengan prinsip (5B) 4. Susun jadwal minum
obat scara teratur
5. Masukan dalam jadwa
lharian pasien.

Menurut : (Dermawan & Rusdi, 2013).

30
Tabel 2.2. Intervensi Keperawatan Keluarga Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi


Keluarga mampu : Setelah dilakukan 2 x SP 1
Merawat pasien di rumah dengan pertemuan, diharapakan 1. Identifikasi masalah yang
setrategi pelaksanaan yang sudah keluarga mampu: dirasakan keluarga dalam
di ajarkan oleh tenaga kesehatan 1. Menjelaskan penyebab, merawat pasien
tanda, gejala, dan akibat 2. Jelaskan tentang perilaku
perilaku kekerasan kekerasan:
2. Mampu memperagakan a. Penyebab
cara merawat pasien b. Akibat
Resiko Perilaku Kekerasan c. Cara merawat
dengan tarik nafas dalam 3. Latih cara merawat pasien
dan pukul bantal dengan tehnik tarik nafas
dalam dan pukul bantal
4. RTL keluarga / jadwal
untuk merawat pasien

Setelah dilakukan 2 x pertemuan SP 2


diharapakan keluarga mampu : 1. Evaluasi kegiatan yang
1. Menyebutkan kegiatan lalu (SP 1)
yang sudah dilakukan dan 2. Latih cara merawat pasien
2. Mampu memperagakan dengan minum obat
cara merawat pasien (Prinsip 5 benar) untuk
dengan minum obat merawat pasien.
(prinsip 5 benar) 3. Latih langsung ke pasien
3. Mampu merawat serta 4. RTL keluarga / jadwal
dapat membuat RTL keluarga utuk merawat
pasien

Setelah dilakukan 2 x SP 3
pertemuan, diharapakan 1. Evaluasi kegiatan yang
keluarga mampu : lalu (SP 1, dan 2)
1. Menyebutkan kegiatan 2. Latih cara merawat pasien
yang sudah dilakukan dan dengan tehnik bicara yang
2. Mampu memperagakan baik dan spiritual
cara merawat pasien 3. Latih langsung ke pasien
dengan tehnik bicara yang 4. RTL keluarga / jadwal
baik dan spiritual keluarga untuk merawat
3. Mampu merawat serta pasien
dapat membuat RTL

31
Setelah dilakukan 1 x SP 4
pertemuan, diharapakan 1. Evaluasi kegiatan yang
keluarga mampu : lalu (SP 1, 2, 3, dan 4)
1. Menyebutkan kegiatan 2. Latih langsung ke pasien
yang sudah dilakukan dan 3. Latih keluarga untuk
2. Mampu memanfaatkan dapat memanfaatkan
fasilitas kesehatan untuk fasilitas kesehatan
follow up pasien resiko sehingga dapat follow up
perilaku kekerasan pasien dengan resiko
3. Mampu merawat serta perilaku kekerasan
dapat membuat RTL 4. RTL keluarga
a. Follow Up
b. Rujukan
Menurut : (Hastuti, 2014)

2.2.5. Implementasi Keperawatan Keluarga


Implementasi keperawatan keluarga merupakan pelaksanaan
dari rencana asuhan kerawatan yang telah disusun perawat bersama
keluarga. Inti pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan keluarga
adalah perhatian. Jika perawat tidak memiliki falsafah untuk memberi
perhatian, maka tidak mungkin perawat dapat melibatkan diri bekerja
dengan keluarga. Perawat pada tahap ini menghadapi kenyataan dimana
keluarga mencoba segala daya cipta dalam mengadakan perubahan
dalam mengatasi rasa frustasi sehingga tidak dapat berbuat apa-apa.
Perawat harus membangkitkan keinginan untuk bekerja sama
melaksanakan tindakan keperawatan untuk kebaikan keluarga (Susanto,
2012)

2.2.6. Evaluasi
Evaluasi keperawatan menurut (Susanto, 2012), merupakan
suatu langkah dalam menilai hasil asuhan yang dilakukan dengan
membandingkan hasil yang dicapai berupa respon keluarga terhadap
tindakan yang dilakukan dengan indikator yang ditetapkan. Hasil
asuhan keperawatan dapat diukur melalui:
1. Keadaan fisik,
2. Sikap/psikologis,
3. Pengetahuan atau kelakukan belajar

32
4. Perilaku kesehatan.
Hasil evaluasi keperawatan keluarga akan menentukan apakah
keluarga sudah dapat dilepas dari pembinaan/asuhan pada tingkat
kemandirian yang dinginkan, atau masih perlu tindak lanjut. Bila
kunjungan berkelanjutan maka perlu dibuat cacatan
perkembangannya. Jika tujuan tidak tercapai maka perlu dilihat:
a. Apakah tujuan realistis
b. Apakah tindakan sudah tepat, dan
c. faktor lingkungan apa yang tidak dapat diatasi.

2.3. Konsep Masalah Keperawatan


2.3.1. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan
untuk melukai seseorang, baik scara fisik maupun psikologis.
Berdasarkan definisi ini, perilaku kekerasan dapat berbentuk scara
verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain, lingkungan. Perilaku
kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu perilaku kekerasan saat
sedang berlangsung atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku
kekerasan) (Keliat B. A. & Akemat, 2014).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan scara fisaik, baik pada
dirinya sendiri maupun orang lain, disertai dengan amuk dan gaduh
gelisah yang tidak terkontrol (Direja, 2011).
Perilaku kekerasan adalah nyata melakukan kekerasan
ditunjukan pada diri sendiri/orang lain secara verbal maupun non
verbal, dan pada lingkungan (Dermawan D. & Rusdi, 2013)

33
2.3.2. Etiologi
Etiologi Resiko Perilaku Kekerasan menurut (Direja, 2011), di bagi
menjadi 2 faktor utama, yaitu :
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor psikologis
1). Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu
tujuan mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif
yang memotivasi perilaku kekerasan.
2). Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu yang
tidak efektif dan masa kecil yang tidak menyenangkan.
3). Rasa frustasi.
4). Adanya kekerasan dalam rumah tangga, keluarga atau
lingkungan
5). Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan
berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah.
Agresi dan kekerasan dapat memberikan kekuatan dan
prestise yang dapat meningkatkan citra diri serta memberikan
arti dalam kehidupannya. Teori lainnya berasumsi bahwa
perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan
pengungkapan secara terbuka tehadap rasa ketidakberdayaan
nya dan rendahnya harga diri pelaku tindak kekerasan.
6). Teori pembelajaran
Perilaku kekerasan merupakan perilaku yang dipelajari,
individu yang memiliki pengaruh biologik terhadap perilaku
kekerasan lebith cenderung untuk dipengaruhi oleh contoh
peran eksternal dibandingkan anak-anak tanpa faktor
predisposisi biologik

34
b. Faktor sosial budaya
Seseorang akan berespons terhadap peningkatan
emosionalnya secara agresif sesuai dengan respons yang
dipelajarinya. Munculnya agresif tidak berbeda dengan respons-
respons yang lain. Faktor ini dapat dipelajari melalui observasi
atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan maka
semakin besar kemungkinan terjadi. Budaya juga dapat
mempengaruhi perilaku kekerasan.
Adanya norma dapat membantu mendefinisikarn ekspresi
marah yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima. Kontrol
masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku
kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat
merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan
c. Faktor biologis
Berdasarkan teori biologis, ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan, yaitu
sebagai berikut:
1 Pengaruh neurofisiologik
Beragam komponen sistem neurologis mempunyai implikasi
dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem
limbik sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku
bermusuhan dan respons agresif
2 Pengaruh biokimia
Berbagai neurotransmitter (epineprin, norepineprin,
dopamine, asetilkolin, dan serotonin), sangat berperan dalam
memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Peningkatan
hormone androgen dan norefineprin serta penurunan
serotonin dan GABA (6 dan 7) pada cairan serebrospinal
merupakan faktor predisposisi penting yang menyebabkan
timbulnya perilaku agresif pada seseorang

35
3 Pengaruh genetik
Menurut penelitian (Wahyudi & AFibriana, 2016), Faktor
genetik dari keluarga yang ada riwayat gangguan jiwa dapat
menjadi pemicu gangguan jiwa pada keturunan selanjutnya.
4 Gangguan otak
Sindrom otak organic berhubungan dengan berbagat
gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbic dan
lobus temporal), trauma otak, penyakit ensefalitis, epilepsy
(epilepsytobus temporal) terbukti berpengaruh terhadap
perilaku agresif dan tindak
2. Faktor presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa
terancam, baik berupa injurí secara fisik, psikis, atau ancaman
konsep diri. Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah
sebagi berikut
a. Klien : Kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan,
kehidupan yang penuh dengan agresif, dan masa lalu yang tídak
menyenangkan
b. Interaksi: Penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti,
konflik, merasa terancam baik internal dari permasalahan diri
klien sendiri maupun eksternal dari lingkungan
c. Lingkungan: panas, padat, dan bising.
Sedangkan Menurut (Dermawan D. & Rusdi, 2013), hal-hal yang
dapat menimbulkan perilaku kekerasan atau penganiayaan antara
lain sebagi berikut :
1) Kesulitan kondisi sosial ekonomi
2) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu
3) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan
ketidakmampuannya dalam menempatkan diri sebagai orang
yang dewasa.

36
4) Pelaku mungkin mempunyai riwayat antisocial seperti
penyalahgunaan obat dan alkohol serta tidak mampu
mengontrol emosi pada saat menghadapl rasa frustasi.
5) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan
pekerjaan, perubahan tahap perkembangan, atau perubahan
tahap perkembangan keluarga.

2.3.3. Patofisiologi Proses Terjadinya Resiko Perilaku Kekerasan


Menurut (Nihayat, Yusuf, & PK, 2015) patofisiologi Resiko
perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :
Resiko perilaku kekerasan muncul karena adanya masalah dalam
keluarga maupun pada individu itu sendiri dengan respons koping yang
dimiliki tidak efektif adalah pemicu munculnya rasa stress, dan cemas.
Kecemasan dan setress yang berkelajutan serta ketidakmampuan untuk
meningkatkan respon koping yang dimiliki invidu itu sendiri akan
mengakibatkan rasa bersalah pada diri sendiri sehingga muncul masalah
harga diri rendah yang dapat menimbulkan kurangnya rasa percaya diri
pada invidu itu sendiri.
Individu tersebut juga akan mengalami penurunan atau bahkan
sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya
sehingga dampak yang muncul adalah isolasi sosial dengan munculnya
perasaan kesepian, merasa tidak berguna, dan merasa di tolak yang
kemudian akan mengalami gangguan perilaku dan emosi, frustasi,
agresif, sehingga dapat menimbulkan kemarahan yang dapat mengarah
pada perilaku kekerasan, baik perilaku kekerasan eksternal (kepada
orang lain), mapun perilaku kekerasan internal (kepada diri sendiri).

37
Pathway menurut (Nihayat, Yusuf, & PK, 2015)

Resiko mencedarai orang lain

Resiko mencedarai Perilaku Kekerasan


orang lain

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri


rendah

Koping individu inefektif

Koping keluarga Respons pascatrauma


inefektif

38
2.3.4. Gambaran Klinis
Menurut (Direja, 2011), Tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan
sebagai berikut :
1. Fisik
Mata melotot/pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup,
wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku. –
2. Verbal
Mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan
nada keras, kasar, ketus.
3. Perilaku
Menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak
lingkungan, amuk/agresif
4. Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam,
jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi,
menyalahkan, dan menuntut.
5. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, dan tidak
jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme. .
6. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak
bermoral, dan kreativitas terhambat.
7. Sosial
Menarlk diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, dan
sindiran.
8. Perhatian
Bolos, melarikan diri, dan melakukan penyimpangan seksual.

2.3.5. Rentang respons Perilaku Kekerasan :


1. Asertif : Individu dapat mengungkapakan marah tanpa menyalahkan
orang lain dan memberi ketenangan
2. Frustasi : Invidu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan
tidak dapat menemukan alternatif
3. Pasif : Individu tidak dapat mengungkapkan perasaanya
4. Agresif : Perilaku yang menyertai marah, terdapat dorongan untuk
menuntut, tetapi masih terkontrol
5. Kekerasan : Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta
hilangnya kontrol (Direja, 2011).

39
2.3.6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien Resiko Perilaku Kekerasan adalah
dengan melaakukan Setrategi Pelaksanaan (SP), pada pasien RPK
terdapat 5 Setrategi pelaksanaan dengan tindakan pertama, melakukan
pendekatan dengan prinsip Bina Hubungan Saling Percaya untuk
memberikan rasa percaya pada pasien kepada perawat, setelah rasa
saling percaya satu sama lain terbentuk maka perawat akan lebih
mudah melakukan tindakan keperawatan, menurut (Direja, 2011),
Setrategi Pelaksanaan kepada Pasien dengan 5 SP yaitu :
1. SP ( 1) :
a. Identifikasi penyebab, tanda dan gejala, serta akibat perilaku
kekerasan
b. Latih cara fisik 1 : melakukan latihan tarik nafas dalam
c. Masukan dalam jadwal harian pasien
2. SP (2)
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1)
b. Melatih cara fisik ke-2 : Pukul kasur / bantal
c. Masukan dalam jadwal harian pasien
3. SP (3)
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 dan 2)
b. Latih secara sosial / verbal
1) Menolak dengan baik
2) Meminta dengan baik
3) Mengungkapkan dengan baik
c. Masukan dalam jadwal harian pasien
4. SP (4)
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1, 2, dan 3)
b. Latih cara spiritual :
1) Berdo’a
2) Shalat
c. Masukan dalam jadwal harian pasien.

40
5. SP (5)
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1, 2, 3, 4, dan 5)
b. Melatih patuh minum obat :
1) Minum obat scara teratur dengan prinsip 6 B
2) Susun jadwal minum obat scara teratur dan
3) Memasukan ke dalam jadwal harian pasien.
Sedangkan penatalaksanaan keluarga menurut (Hastuti,
2014), adalah keluarga adalah dengan melakukan setrategi
pelaksanaan yang di harapkan keluarga mampu melakukan :
1. SP 1
a. Mampu Menjelaskan penyebab, tanda, gejala, dan akibat
perilaku kekerasan
b. Mampu memperagakan cara merawat pasien resiko perilaku
kekerasan dengan tarik nafas dalam dan pukul bantal
2. SP (2)
a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan
b. Mampu memperagakan cara merawat pasien resiko perilaku
kekerasan dengan minum obat (Prinsip 6 benar)
c. Mampu merawat serta dapat membuat RTL
3. SP 3
a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan
b. Mampu memperagakan cara merawat pasien resiko perilaku
kekerasan dengan bicara yang baik dan spiritual
c. Mampu merawat serta dapat membuat RTL
4. SP 4
a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan
b. Mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk follow-up
pasien dengan resiko perilaku kekerasan.

41
Tablel 2.3. Indikator Pengukur Kemampuan Pasien Resiko Perilaku Kekerasan Kepada
Orang Lain
Pre Post
1 Kemampuan pasien
Ya Tidak Ya Tidak
Mampu mengenal penyebab, tanda dan gejala, perilaku
1 serta akibat PK

Mampu mempraktekan mengontrol PK dengan cara


2 tarik nafas dalam

Mampu mempraktekan mengontrol PK dengan cara


3 memukul bantal dan kasur

Mampu menyebutkan dan mempraktekan cara


mengontrol PK dengan obat (menjelaskan prinsip 6
4 benar : jenis, guna, dosis, frekuensi, cara, kontinuitas
minum obat), nama obat CPZ (Clorpromazine), THP
(Trihexiphenidyl), HLP (Haloperidol)
Mampu mempraktekan cara mengontrol PK secara
verbal: meminta dengan baik (“Saya minta jangan di
ambil buku itu dari saya, nanti saya bisa marah”),
menolak dengan baik , (“Saya menolak di jadikan
5
ketua arisan, nanti saya bisa marah”), dan
mengungkapkan dengan cara yang baik, (“Saya tidak
suka kamu bicara seperti itu atau bersikap seperti itu,
nanti saya bisa marah”)
Mampu mempraktekan cara mengontrol PK secara
6 verbal: menolak dengan baik (“Saya menolak di
jadikan ketua arisan, nanti saya bisa marah”)
Mampu mempraktekan cara mengontrol PK secara
verbal: mengungkapkan dengan cara yang baik (“Saya
7 tidak suka kamu bicara seperti itu atau bersikap seperti
itu, nanti saya bisa marah”)
Mampu mempraktekan cara mengontrol PK dengan
cara Spiritual (Melakukan tarik nafas dalam dari
8
hidung dan menghembuskan nafas dari mulut dengan
mengucapkan “Astagfirullahal Adzim)
Total Nilai
Keterangan :

Pasien
Kemampuan Keterangan
8 Baik
6-7 Cukup
3-5 Sedang
0-2 Kurang

42
Tabel 2.4. Indikator Pengukur Kemampuan Keluarga Pasien Resiko Perilaku Kekerasan
Kepada Orang Lain

Pre Post
2 Kemampuan Keluarga
Ya Tidak Ya Tidak
Mampu mengenal masalah yang dirasakan keluarga
1 dalam merawat pasien dan cara yang dilakukan untuk
mengatasi masalah
Mampu menjelaskan pengertian, tanda dan gejala,
2 perilaku dan akibat
Mampu membimbing pasien cara mengontrol PK
3 dengan melakukan kegiatan fisik: tarik nafas dalam
dan pukul kasur dan bantal
Mampu membimbing pasien minum obat (menjelaskan
prinsip 6 benar : jenis, guna, dosis, frekuensi, cara,
4 kontinuitas minum obat), nama obat CPZ
(Clorpromazine), THP (Trihexiphenidyl) ,HLP
(Haloperidol)
Mampu mepraktekan cara membimbimbing
mengontrol PK secara verbal: meminta dengan baik
(“Saya minta jangan di ambil buku itu dari saya, nanti
saya bisa marah”), menolak dengan baik , (“Saya
5
menolak di jadikan ketua arisan, nanti saya bisa
marah”), dan mengungkapkan dengan cara yang baik,
(“Saya tidak suka kamu bicara seperti itu atau bersikap
seperti itu, nanti saya bisa marah”)
Mampu mempraktekan cara membimbing pasien
mengontrol PK secara verbal: menolak dengan baik
6 (“Saya menolak di jadikan ketua arisan, nanti saya bisa
marah”)
Mampu mempraktekan cara membimbing pasien
mengontrol PK secara verbal: mengungkapkan dengan
7 cara yang baik (“Saya tidak suka kamu bicara seperti
itu atau bersikap seperti itu, nanti saya bisa marah”)
Mampu membimbing pasien mengontrol PK dengan
8 spiritual (Melakukan tarik nafas dalam dari hidung dan
menghembuskan nafas dari mulut dengan
mengucapkan “Astagfirullahal Adzim)
Mampu menyebutkan cara keluarga memodifikasi
lingkungan untuk pasien dengan resiko perilaku
9
kekerasan seperti, tempat, danbarang-barang yang
dapat digunakan sebagai saran RPK
Mampu menyebutkan tanda dan gejala kekambuhan
yang memerlukan rujukan dan melakukan follow up ke
10
fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur

Total Nilai

43
Keterangan :

Keluarga
Kemampuan Keterangan
10 Baik
7-9 Cukup
4-6 Sedang
0-3 Kurang

44
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian


Desain penelitian ini menyangkut studi kasus yang merupakan
rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit penelitian secara
intensif misalnya satu klien, keluarga ,kelompok, komunitas atau intitusi.
Meskipun jumlah subjek cenderung sedikit namun jumlah variable yang di
teliti sangat luas. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui semua
variable yang berhubungan dengan masalah penelitian.Rancangan data studi
kasus bergantung pada keadaan kasus namun tetap mempertimbangkan factor
penelitian waktu. Riwayat dan pola perilaku sebelumnya biasanya dikaji
secara rinci. Keuntungan yang paling besar dari rancangan ini adalah
pengkajian secara rinci meskipun jum;ah responden sedikit, sehingga akan di
dapatkan gambaran satu unit subjek secara jelas (Nursalam, 2015)
Desain penelitian yang dilakukan adalah studi untuk mengeksplorasi
masalah asuhan keperawatan pada salah satu anggota keluarga yang
Skizofrenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain di
Puskesmas Jambon, Ponorogo.

3.2 Batasan Istilah


Dalam Proposal/Studi Kasus Karya Tulis Ilmiah ini adalah asuhan
keperawatan pada salah satu anggota keluarga yang skizofrenia dengan resiko
perilaku kekerasan kepada orang lain di Puskesmas Jambon, Ponorogo, maka
penyusun studi kasus harus menjabarkan tentang kosnep skizofrena dengan
resiko perilaku kekerasan.

3.3 Unit Analisis


Unit analisis studi kasus ini adalah salah satu anggota keluarga yang
skizofrenia dengan resiko perilaku kekerasan (RPK) di Puskesmas Jambon,
Kabupaten Ponorogo. Kriteria Subjek yaitu :

45
1. Keluarga dengan anggota yang skizofrenia dengan resiko perilaku
kekerasan
2. Keluarga skizofrenia dengan perilaku kekerasan yang kooperatif
3. Pasien skizofrenia dengan prilaku kekerasan sedang
4. Pasien dengan jenis kelamin laki-laki dan beragama Islam

3.4 Lokasi dan Waktu


1 Lokasi Penelitian
Penelitian asuhan keperawatan pada salah satu anggota keluarga
yang skizofrenia dengan resiko perilaku kekerasan di lakukan di
Puskesmas Jambon, Ponorogo. Puskesmas Jambon bertempat di Desa
Blembem, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo yang beralatmatkan
di jalan Raya Jambon, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa timur
2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai sejak pembuatan proposal pada bulan
November 2018, yang di awali dari pengajuan judul, dan ujian proposal
dilaksanakan pada bulan Desember 2018, pengambilan data di lakukan
pada bulan Februari 2019, sedangkan sidang studi kasus di adakan pada
bulan Mei 2019.

3.5 Pengumpulan Data


Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan
proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu
penelitian.Langkah-Langkah dalam pengumpulan data bergantung pada
rancangan penelitian dan teknik instrument yang digunakan.Selama proses
pengumpulan data,peneliti memfokuskan pada penyediaan subjek,melatih
tenaga pengumpulan data (jika diperlukan), memerhatikan prinsip-prinsip
validitas dan rehabilitas, serta menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi
agar data dapat terkumpul sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan.
(Nursalam, 2015)

46
1. Prosedur penelitian
a. Mencari surat pengantar dari kampus
b. Memberikan surat pengantar ke Puskesmas untuk melakukan
peneltian
c. Memberikan inform consent kepada keluarga pasien
2. Metode pengumpulan data
a. Wawancara
Wawancara adalah salah satu instrument yang dapat di
gunakan untuk menggali data secara lisan. (Sujarweni, 2014)Dimana
peneliti mendapatkan keterangan atau informasi secra lisan dari
seseorang sasaran peneliti (responden) atau bercakap-cakap berhadpan
muka dengan orang tersebut (face to face).Jadi data di peroleh secara
langsung melalui suatu pertemuan atau percakapan.Gejala-gejala
social yang tidak dapat terlihat untuk diperoleh melalui observasi
dapat digali dari wawancara. (Notoatmodjo, 2010). Wawancara
bukanlah sekedar memperoleh angka lisan saja, sebab dengan
wawancara peneliti akan dapat :
1) Memperoleh kesan langsung dari responden
2) Menilai kebenaran yang di nilai oleh responden
3) Membaca air muka (mimik) dari responden
4) Memberikan penjelasan bila pertanyaan tidk dimengerti responden
5) Memancing jawaban bila jawaban macet (Notoatmodjo, 2010)
Dalam pelaksanaan penelitian, wawancara kadang-kadang
bukan merupakan hal yang terpisah khusus, melainkan merupakan
pelengkap atau suplemen bagi metode-metode yang lain. Diharapkan
dengan wawancara diperoleh suatu yang lebih valid seperti keluhan
utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit keluarga, riwayat
penyait dahulu dan lain-lain. Pada metode wawancara ini penelitian
dapat memperoleh informasi dari keluarga pasien. Informasi yang bisa
diperoleh dari keluarga, misalnya riwayat penyakit keluarga pasien,
(Notoatmodjo, 2010).

47
Pada penelitian ini yang dapat di wawancarai untuk
mendapatkan data untuk menunjang penelitian adalah :
a) Pasien resiko perilaku kekerasan / klien yang sudah terpilih
menjadi pasien kelolaan, untuk mengetahui keluhan utama yang
di rasakan pasien, riwayat penyakit sekarang, tanda dan gejala
yang di rasakan
b) Keluarga pasien, untuk mengetahui riwayat penyakit keluarga,
dan tingkat pengetahuan keluarga terhadap penyakit pasien
tersebut
c) Tenaga kesehatan untuk mengetahui data dari pasien dan
pemeriksaan yang dilakukan, serta tindakan yang sudah di
lakukan tenaga kesehatan tersebut saat pasien berobat ke
Puskesmas.
b. Pengamatan (Observasi)
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistemik
terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. (Sujarweni, 2014)
Dalam penelitian, pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana,
yang antara lain meliputi melihat, mendengar dan mencatt sejumlah
dan taraf aktivitas tertentu atau situasi tertentu yang ada hubunganya
dengan masalah yang diteliti. Jadi dalam melakukan observasi bukan
hanya mengunjungi,‘’melihat atau menonton saja’’, tetapi di sertai
kreaktifan jiwa atau perhatian khusus dan melakukan pencatatan-
pencatatan
Yang di observasi pada pasien gangguan jiwa antara lain :
1) Keadaan umum pasien
2) Tanda gejala yang muncul pada pasien
3) Respon pasien
4) Tanda-tanda vital
5) Perubahan perilaku pada pasien
6) Respon keluarga / terapi yang di lakukan keluarga kepada pasien.

48
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dalam pengkajian keperawatan
dipergunakan untuk memperoleh data objektif dan data subjektif dari
klien.pemeriksaan fisik dapat dilakukan melalui empat teknik yaitu
inpeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Penelitian menggunakan
pemeriksaan hand to toe unutk mengetahui keadaan fisik pasien dari
kepala sampai ujung kaki.
d. Studi dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan kegiatan untuk memperoleh
dukungan teoritis terhadap masalah peneliti yang dipilih ,maka
peneliti perlu mencari banyak buku-buku literature. Peneliti
mengumpulkan data dengan cara mengambil data yang berasal dari
dokumen asli. Dokumen asli tersebut dapat berupa gambar , table atau
riwayat pengobatan, hasil laboratorium. Yang mungkin dapat di
temukan di puskesmas seperti :
1) Status kesehatan pasien dan keluarga
2) Hasil pemeriksaan pasien
3) Riwayat pengobatan pasien
4) Pemeriksaan laboratorium pasien

3.6 Analisa Data


Analisa Data diartian sebagai upaya data yang sudah tersedia
kemudian di kelolah dengan stastik dan dapat dipergunakan untuk menjawab
rumusan masalah dalam penelitian. (Sujarweni, 2014). Pengelolahan dan
analisis data penelitian (data mentah) harus diolah berdasarkan prinsip-prinsip
pengelolaan data secara professional. Ketidakauratan dalam pengelolaan data
akan berakibat kesimpulan hasil penelitian yang ‘’bisa’’ yang dapat
membahayakan kesehatan masyarakat.Hasil dari pengelolaan dan analisis
data tersebut terwujud dalam ‘’data penelitian’’ yang terekam dalam
berbaagai bentuk. Diharapkan dari data yang dilihat penelitian ,peneliti dapat
menganalisa data menjadi 2 data yaitu data objektif dan data subjektif. Data
subjektif adalah data yang diinformasikan dari pasien atau keluarga pasien

49
sedangkan data objektif adalah data yang peneliti dapat dari hasil observasi
yang telah dilakukan penelitian selama melakukan pengkajian pada pasien.
Peneliti menggunakan lembar Observasi Setrategi Pelaksanaan :
Resiko Perilaku Kekerasan kepada Orang Lain dengan karakteristik Mampu
mengenal penyebab, tanda dan gejala, perilaku serta akibat PK, Mampu
mempraktekan mengontrol PK dengan cara tarik nafas dalam, Mampu
mempraktekan mengontrol PK dengan cara memukul bantal dan kasur,
Mampu menyebutkan dan mempraktekan cara mengontrol PK dengan obat
(menjelaskan 6 benar: jenis, guna, dosis, frekuensi, cara, kontinuitas minum
obat), Mampu mempraktekan cara mengontrol PK secara verbal: meminta
dengan baik, menolak dengan baik, dan mengungkapkan dengan cara yang
baik, Mampu mempraktekan cara mengontrol PK secara verbal: menolak
dengan baik, Mampu mempraktekan cara mengontrol PK secara verbal:
mengungkapkan dengan cara yang baik, Mampu mempraktekan cara
mengontrol PK dengan cara Spiritual (Dermawan & Rusdi, 2013). Masing-
masing indikator di nilai dengan penjabaran sebagai berikut :
a. Kemampuan Pasien :
1) Baik :8
2) Cukup : 6-7
3) Sedang : 3-5
4) Kurang : 0-2
Jadi semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tidak ada
penyimpangan dari batas normal dan semakin rendah skor yang diperoleh
maka semakin parah penyimpangan. Kemudian penilaian yang di jadikan
indikator kemampuan keluarga dalam merawat pasien di rumah adalah sebagai
berikut :
b. Kemampuan Keluarga :
1) Baik : 10
2) Cukup : 7-9
3) Sedang : 4-6
4) Kurang : 0-3

50
3.7 Etik Penelitian
Masalah etika pada penelitian yang menggunakan subjek manuasia
menjadi isu sentral yang berkembang saat ini. Pada penelitian ilmu
keperawatan , karena hampir 90% subjek yang dipergunakan adalah
manusia,maka peneliti harus memahami prinsip-prinsip etika penelitian. Jika
hal ini tidak dilaksanakan maka penelitian akan melanggar hak (otonom)
manusia yang kebetulan sebagai klien. Penelitian yang sekaligus pengamat
sering memperlakukan subjek penelitian seperti memperlakukan kliennya,
sehingga harut menurut semua ajuran yang diberikan. (Nursalam, 2015)
Secara umum prinsip etika dalam penelitian/pengumpulan data dapat
dibedakan menjadi tiga bagian yaitu prinsip manfaat,prinsip menghargai hak-
hak subjek dan prinsip keadilan.
a. Prinsip manfaat
1) Bebas dari penderita
Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada
subjek,khususnya jika menggunakan tindakan khusus. (Nursalam,
2015) (Nursalam, 2008)
2) Bebas dari eksploitasi
Partisipasi subjek dala penelitian, harus di hindarkan dari keadaan yang
tidak menguntungkan. (Nursalam, 2015)
3) Resiko (benefit ratio)
Peneliti harus berhati-hati mempertimbangkan resiko dan keuntungan
yang akan berakibat kepada subjek pada setiap tindakan. (Sujarweni,
2014)
b. Prinsip menghargai hak-hak subjek
1) Hak untuk ikut/tidak menjadi responden (right to selt determination)
Subjek harus di berlakukan secara manusiawi.Subjek mempunyai hak
memutuskan apakah mereka bersedia menjadi subjek ataupun tidak,
tanpa ada sangsi apapun atau akan berakibat akan kesembuhan, jika
mereka seorang klien. (Nursalam, 2015)

51
2) Hal untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan (right to
full disclosure)
Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara terperinci serta
bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi pada subjek.
(Nursalam, 2015)
3) Informed consert
Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan
penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas
berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Pada informed consert
perlu di cantumkan bahwa data yang di peroleh hanya akan di gunakan
untuk pengembangan ilmu. (Nursalam, 2015)
c. Prinsip keadilan (right to justice)
1) Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil
Subjek haruss diperlakukan secara adil baik sebelum,selama dan
sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya
diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau dikeluarkan
dari penelitian. (Nursalam, 2015)
2) Hak di jaga kerahasiannya
Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwaa ada yang diberikan
haru di rahasiaakan,untuk itu perlu adanya tanpa nama (anonymity)
dan rahasia (Confidentiality). (Nursalam, 2015)

52
Daftar Pustaka

Ardani, & Tristiadi, A. (2013). Cetakan Ilmu Kedokteran Jiwa. Malang: C.V
Karya Putra Darwati.
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Docherman, J. M., & Wagner, C. M. (2013).
Nursing Interventions Classification. America: Mosby Elsevier.
Dermawan, D., & Rusdi. (2013). KEPERAWATAN JIWA KONSEP DAN
KERANGKA KERJA ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. Yogyakarta:
Goysen Publishing.
Direja, A. H. (2011). BUKU AJAR ASUHAN KEPERAWATAN JIWA.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Hastuti, R. Y. (2014). Pelatihan Asuhan Keperawatan Jiwa. Surakarta: RS Jiwa
Daerah Surakarta.
Junaidi, D. (2012). ANOMALI JIWA ( Cara Mudah Mengetahui Penyimpangan
Jiwa da Perilaku Tidak Normal Lainya ). Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.
Kasim, J. (2018). HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA
TERHADAP PERAWATAN ANGGOTA KELUARGA YANG
MENGALAMI GANGGUAN JIWA DI PUSKESMAS BANTIMURUNG
KAB. MAROS . Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 12 Nomor 1 ,
112-113.
Keliat, B. A., & Akemat. (2014). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Keliat, S. M., & S.Kp, M. A. (2014). MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN
PROFESIONAL JIWA. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Keliat, S. M., Wiyono, S. M., & S.Kp, M. H. (2011). Manajemen Kasus Gngguan
Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
kemenkes. (2015). Infodatin pusat data dan informasi kementerian kesehatan RI.
infodatin , 1.
Lia Minarni, J. S. (2015). DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERILAKU
MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA YANG SEDANG
RAWAT JALAN. Jurnal Experientia Volume 3, Nomor 2 , 13-22.
M Arsyad Subu, I. W. (2018). Stigma, Stigmatisasi, Perilaku Kekerasan dan
Ketakutan diantara Orang engan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Indonesia:
Penelitian Constructivist Grounded theory. Jurnal Kedokteran Brawijaya
Vol. 30, No. 1 , 58.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013 ). Nursing
Outcomes Classification. America: Mosby Elsevier.

53
Nihayat, H. E., Yusuf, A., & PK, R. F. (2015). BUKU AJAR KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA. Jakarta: Salemba Medika.
Nirwan, Tahlil, T., & Usman, S. (2016). Dukungan Keluarga Dalam Perawatan
Pasien Gangguan Jiwa Dengan Pendekatan Health Promotion Model. Jurnal
Ilmu Keperawatan .
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT RINEKA
CIPTA.
Novitayan, S. (2017). PENYEBAB SKIZOFRENIA PADA PASIEN RAWAT
JALAN DI ACEH . Idea Nursing Journal Vol. VIII No. 3 .
Nursalam. (2008). KONSEP DAN PENERAPAN METODOLOGI PENELITIAN
ILMU KEPERAWATAN Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. (2015). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis.
Jakarta: Salemba Medika.
Pangestika, A. T., Rochmawati, D. H., & Purnomo. (2015). PENGARUH
RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KEMAMPUAN
MENGONTROL MARAH PADA PASIEN RISIKO PERILAKU
KEKERASAN DI RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO PROVINSI
JAWA TENGAH . Juornal Kebidananan , 7,6.
Ponorogo, D. K. (2016). Profil Kesehatan Kabupaten Ponorogo . Jakarta: Dinas
Kesehatan Kabupaten Ponorogo.
Prabowo, S. M. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.
Saswati, N., Dasuki, & Ermayan. (2017). Hubungan pengetahuan dan perilaku
peran keluarga dalam melakukan perawatan pasien skizofrenia di RSJD
Provinsi Jambi . Riset Informasi Kesehatan, Vol. 6, No. 2 , 140.
Sujarweni, V. W. (2014). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogjakarta:
GAVA MEDIA.
Susanto, T. (2012). Buku Ajar Keperawatan Keluarga (Aplikasi Teori Pada
Praktik Asuhan Keperawatan Keluarga). Jakarta: CV. Trans Info Medika.
Uswatun Chasanah, S. B. (2013). Hubungan Tingkat Depresi dengan Asupan
Energi dan Protein Pasien Depresi Rawat Inap di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Dr Amino Gondohutomo Semarang . JURNAL GIZI UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SEMARANG, VOLUME 2, NOMOR 2 , 53-54.
Wahyudi, A., & AFibriana, A. I. (2016). FAKTOR RESIKO TERJADINYA
SKIZOFRENIA(Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Pati II. Public
Health Perspective Journal , 6.
WHO. (2018). Mental Disoders. Health Journal , 3.

54
Wijayanti, D. Y., & Sari, S. P. (2014). KEPERAWATAN SPIRITUALITAS
PADA PASIEN SKIZOFRENIA . Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 .
Yosep, H. I., & Sutini, T. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung: PT
Refika Aditama.

55
Lampiran 1

MATRIK WAKTU PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH


Kegiatan WAKTU/BULAN
Okt 2018 Nov 2018 Des 2018 Jan 2019 Feb 2019 Mar 2019 Apr 2019 Mei 2019 Jum 2019
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan judul dan
pengesahan judul
penelitian
Penyusunan proposal
(BAB I, II, dan III)
Seminar proposal
penelitian
Revisi proposal
penelitian
Pengambilan data
Pengelolahan data
dan penyusunan
laporan
Bimbingan BAB IV,
V
Ujian Sidang
KTI/Skripsi
Revisi KTI/Skripsi
Pengumpulan Hasil
KTI/Skripsi

56
57
Lampiran 2
SURAT PENGANTAR

Kepada Yth.
...........................

Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Seftian Darma Wisana
NIM : 201601113
Alamat : Ds. Dayakan, Kec. Badegan, Kab. Ponorogo
Telp : 083131394122
Saya adalah mahasiswa Prodi Diploma III Keperawatan Ponorogo
Kampus 6 Poltekkes Kemenkes Malang yang sedang melaksanakan studi kasus
dengan judul : “ASUHAN KEPERAWATAN PADA SALAH SATU
ANGGOTA KELUARGA YANG SKIZOFRENIA DENGAN RESIKO
PERILAKU KEKERASAN DI PUSKESMAS KECAMATAN JAMBON
PONOROGO”, Tujuan studi kasus ini untuk mengetahui pelaksanaan asuhan
keperawatan yang sudah dilakukan dan upaya meningkatkan mutu asuhan
keperawatan. Kerahasiaan identitas dan informasi yang diberikan dijaga. Jika
terjadi hal-hal yang memberatkan maka pasien di perbolehkan mengundurkan diri
dari kegiatan studi kasus ini dengan menghubungi penulis pada nomor yang
tercantum di atas.
Apabila anda menyetujui maka saya mohon kesediaannya menandatangani
lembar persetujuan. Atas kesediaan dan kerjasamanya dalam proposal (studi
kasus) ini, saya ucapkan terimakasih.

Hormat saya

Seftian Darma Wisana

58
Lampiran 3
LEMBAR PERSETUJUAN

(informed consent)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bersedia menjadi
bekerjasamadalam karya tulis (studi kasus) yang berjudul “ASUHAN
KEPERAWATAN PADA SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA YANG
SKIZOFRENIA DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI
PUSKESMAS KECAMATAN JAMBON PONOROGO”.
Setelah membaca dan memahami surat pengantar persetujuan maka saya
menyatakan bersedia bekerjasama dalam kegiatan ini. Saya menyadari bahwa data
yang dihasilkan merupakan rahasia dan hanya digunakan untuk keperluan karya
tulis danpengembangan ilmu keperawatan. Saya juga memahami bahwa kegiatan
ini tidak merugikan dan tidak berdampak pada diri saya, namun saya yakin bahwa
kegiatan in akan memberikan manfaat pada peningkatan mutu pelayanan
keperawatan.

Ponorogo, ....................2019
Responden

59
Lampiran 4

Tabel Indikator Pengukur Tanda dan Gejala Resiko Perilaku Kekerasan Kepada
Orang Lain
Pre Post
No Aspek Penilaian
Ya Tidak Ya Tidak
1 Tanda dan Gejala
1 Mata melotot/pandangan tajam
2 Tangan mengepal
3 Rahang mengatup
4 Wajah memerah
5 Postur tubuh kaku
6 Mengancam
7 Mengumpat dengan kata-kata kotor
8 Suara keras
9 Bicara kasar, ketus
10 Menyerang orang lain
11 Melukai diri sendirir/orang lain
12 Merusak lingkungan
13 Amuk/agresif
Total Nilai

Keterangan :

Pasien
Tanda dan Gejala Keterangan
1-4 Ringan
5-8 Sedang
9-13 Berat

60
Lampiran 5
PRODI DIPLOMA III KEPERAWATAN PONOROGO
POLTEKKES KEMENKES MALANG
Jl. Dr. CiptoMangunkusumo No. 82 A Telp (0352) 461792
PONOROGO

FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : Tanggal pengkajian :
Umur : :
Informan :

II. KELUHAN UTAMA


_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
_____________________________________________

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ? Ya Tidak
2. Pengobatan sebelumnya. Berhasil kurang berhasil
tidak berhasil
3.
Pelaku/Usia Korban/Usia Saksi/Usia

Aniaya fisik

Aniaya seksual

Penolakan

Kekerasan
dalam keluarga

61
Tindakan
criminal
Jelaskan No. 1, 2, 3 :

Masalah keperawatan :

4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?


Ya Tidak

Hubungan keluarga Gejala Riwayat pengobatan/perawatan

Masalah keperawatan :

5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan


____________________________________________________________
____________________________________________________________
______________________________________________
Masalah Keperawatan
__________________________________________________________

IV. FISIK

1. Tanda vital : TD : _____N : ____S : ____P : ____

2. Ukur : TB : _____ BB : ____

3. Keluhan fisik : Ya Tidak

Jelaskan :_______________________________________________

Masalah keperawatan : __________________________________________

62
V. PENGETAHUAN KURANG TENTANG :
Penyakit jiwa System pendukung
Faktor presipitasi Penyakit fisik
Koping Obat-obatan
Lainnya :
____________________________________________________________
Masalah Keperawatan :
____________________________________________________________
VI. PSIKOSOSIAL
1. Genogram
Jelaskan : ________________________________________
Masalah Keperawatan : ________________________________________

2. Konsep diri
a. Gambaran diri : _________________________________________
b. Identitas : _________________________________________
c. Peran : _________________________________________
d. Ideal diri : _________________________________________
e. Harga diri : _________________________________________

Masalah Keperawatan : _______________________________________

3. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti : _______________________________________
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat : _____________
c. Hambatan dalam berbuhungan dengan orang Lain : ______________

Masalah keperawatan : ____________________________________

4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : _____________________________________
b. Kegiatan ibadah : ______________________________________

Masalah Keperawatan : ______________________________________

63
VII. STATUS MENTAL DAN NUTRISI
1. Penampilan
Tidak rapi Penggunaan pakaian Cara berpakaian tidak
seperti tidak sesuai biasanya

Jelaskan : __________________________________________________

Masalah Keperawatan : ________________________________________

2. Pembicaraan
Cepat Keras Gagap Inkoheren Apatis

Lambat Membisu Tidak mampu memulai pembicaraan

Jelaskan : ___________________________________________________

Masalah Keperawan : _________________________________________

3. Aktivitas Motorik:
Lesu Tegang Gelisah Agitasi
Tik Grimasen Tremor Kompulsif
Jelaskan : ___________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________
4. Alam perasaaan
Sedih Ketakutan Putus asa
Khawatir Gembira berlebihan
Jelaskan : __________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________
5. Afek
Datar Tumpul Labil Tidak sesuai
Jelaskan : __________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________
6. lnteraksi selama wawancara
Bermusuhan Tidak kooperatif Mudah tersinggung
Kontak mata (-) Defensif Curiga
Jelaskan : __________________________________________________

64
Masalah Keperawatan : _______________________________________
7. Persepsi
Pendengaran Penglihatan Perabaan
Pengecapan Penghidu
Jelaskan : __________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________

8. Proses Pikir
Sirkumtansial Tangensial Kehilangan asosiasi
Flight of idea Blocking Pengulangan
pembicaraan/persevarasi
Jelaskan : ___________________________________________________
Masalah Keperawatan : ________________________________________
9. Isi Pikir
Obsesi Fobia Hipokondria
Depersonalisasi Ide yang terkait Pikiran magis
Jelaskan : ___________________________________________________
Masalah Keperawatan : ________________________________________
10. Tingkat kesadaran
Bingung Sedasi Stupor
Disorientasi
Waktu Tempat Orang
Jelaskan : __________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________
11. Memori
Gangguan daya ingat jangka panjang Gangguan daya ingat
jangka pendek
Gangguan daya ingat saat ini Konfabulasi
Jelaskan : __________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________

65
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Mudah beralih Tidak mampu konsentrasi
Tidak mampu berhitung sederhana
Jelaskan : __________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________
13. Kemampuan penilaian
Gangguan ringan Gangguan bermakna
Jelaskan : ___________________________________________________
Masalah Keperawatan : ________________________________________
14. Daya tilik diri
Mengingkari penyakit yang diderita Menyalahkan hal-hal
diluar dirinya
Jelaskan : ___________________________________________________
Masalah Keperawatan : _______________________________________

15. Makan dan minum

Makan :

Minum :

VIII. MEKANISME KOPING


Adaptif Maladaptif
Bicara dengan orang lain Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat/berlebih
Teknik relaksasi Bekerja berlebihan
Aktivitas konstruktif Menghindar
Olahraga Mencederai diri
Lainnya _________ Lainnya : ________

Masalah Keperawatan : ______________________________________

66
IX. Masalah Psikososial dan Lingkungan:
Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik ______________

___________________________________________________________
Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik ____________

___________________________________________________________
Masalah dengan pendidikan, spesifik ______________________

__________________________________________________________

Masalah dengan pekerjaan, spesifik ________________________

Masalah dengan perumahan, spesifik _______________________

___________________________________________________________

Masalah ekonomi, spesifik ______________________________

___________________________________________________________

Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik ________________

__________________________________________________________

Masalah lainnya, spesifik ________________________________

___________________________________________________________
Masalah Keperawatan : ________________________________________

__________________________________________________________________

X. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Riwat jatuh masa kanak-kanak :

Gangguan perkembangan :

67
Analisa Data

Data Masalah
Subjektif :

Objektif :

Subjektif :

Objektif :

XI. ASPEK KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan :
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
Terapi/Setrategi Pelaksanaan :
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
XII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________

Mahasiswa

(………………………………)

68
69