Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hospitalisasi pada anak usia sekolah merupakan pengalaman yang penuh
dengan stress, baik bagi anak itu sendiri maupun orang tua. Banyaknya
stressor yang dialami anak ketika menjalani hospitalisasi menimbulkan
dampak negatif yang mengganggu perkembangan anak. Hospitalisasi
merupakan suatu proses karena suatu alasan yang terencana atau darurat,
mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. (A, Sudiana,
Kristiawati, & P, 2007).
Angka kesakitan anak di Indonesia yang dirawat di rumah sakit
cukup tinggi yaitu sekitar 35 per 100 anak, yang ditunjukkan dengan
selalu penuhnya ruang anak baik di rumah sakit pemerintah ataupun rumah
sakit swasta (Sumaryoko, 2008). The National Centre For Health Statistic
memperkirakan bhwa 3-5 juta anak dibawah usia 15 tahun menjalani
hospitalisasi setiap tahun.
Kondisi sakit pada anak sekolah sangat memungkinkan anak
membutuhkan pelayanan kesehatan di rumah sakit (RS). Di Amerika
Serikat, diperkirakan lebih dari 5 juta anak menjalani hospitalisasi karena
prosedur pembedahan dan lebih dari 50% dari jumlah tersebut, anak
mengalami kecemasan dan stres (Kain, et al, 2006). Diperkirakan juga
lebih dari 1,6 juta anak dan anak usia antara 10-19 tahun menjalani
hospitalisasi disebabkan karena injury dan berbagai penyebab lainnya
(Diseases Control, National Hospital Discharge Survey (NHDS), 2004
dalam Stubbe, 2008). Di Indonesia, diperkirakan 35 per 1000 anak
menjalani hospitalisasi (Sumaryoko, 2008 dalam Purwandari, 2009).
Perawatan anak sakit selama dirawat dirumah sakit atau hospitalisasi
menimbulkan krisis dan kecemasan tersendiri bagi anak dan keluarganya

1
Hospitalisasi selama kanak-kanak adalah pengalaman yang memiliki
efek yang lama. Kira-kira satu dari tiga anak pernah mengalami
hospitalisasi (Fortinas & Worret, 2011). Menurut penelitian Katalae
(2007) hospitalisasi dapat menyebabkan munculnya stress, kecemasan dan
ketakutan diantara pasien anak-anak yang belum memahami alasan
mereka dirawat di rumah sakit. Untuk menghadapi kecemasan anak
Beberapa terapi bermain telah digunakan diantaranya adalah dengan terapi
bermain. Penelitian yang dilakukan oleh Goodyear (2002) yang menyatakan
terapi bermain mampu mempercepat pencapaian proses terapi dan
meningkatkan kedekatan terapis dan anak selama proses terapi.
(Syisnawati, Helena, & Setiawan, 1 JULI 2016)
Diharapkan setelah kita terutama orang tua yang mempunyai anak pada
masa sekolah dapat mengetahui dampak dari hospitalisasi pada anak yang
meliputi pengurangan kecemasan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, masalah yang dapat dirumuskan adalah
bagaimanakah teori atau sebuah konsep tentang Hospitalisasi pada Anak Usia
Sekolah ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan dan manfaat pembuatan makalah adalah untuk melatih dan
menambah pengetahuan tentang Hospitalisasi pada Anak Usia Sekolah. Di
samping itu juga sebagai syarat dari tugas mata kuliah Keperawatan Anak.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hasil Penelitian

Judul dan Nama


No. Hasil Penelitian Pembahasan Kesimpulan
Pengarang

1. Pengalaman Hasil dari penelitian didapatkan lima tema 1. Terbatasnya melakukan Jadi dapat disimpulkan
Hospitalisasi Anak pengalaman hospitalisasi pada anak usia kegiatan rutin sehari-hari bahwa ada 5 pengalaman
Usia Sekolah, Oleh sekolah. Tema tersebut adalah sebagai “Di sini enggak bisa anak pada masa
siti Chodidjah dan berikut: bantuin Abi masak….” hospitalisasi yang
Elfi Syahreni tahun 1. Terbatasnya melakukan kegiatan rutin (partisipan 3) menyebabkan anak
2015 sehari-hari “Soalnya udah kelas 6, mengalami kecemasan :
2. Suasana ruang rawat inap yang tidak entar kalo ujian gimana, 1. Terbatasnya
nyaman takut nilainya jelek, takut melakukan kegiatan
3. Tidak bebas menentukan keinginan ketinggalan pelajaran…” rutin sehari-hari
4. Mengalami nyeri selama perawatan (partisipan 8) 2. Suasana ruang rawat
5. Menemukan cara mengatasi masalah 2. Suasana ruang rawat inap inap yang tidak
selama dirawat yang tidak nyaman nyaman
“Kebangun mulu, banyak 3. Tidak bebas
berisik, ada kayak suara menentukan
orang ngobrol, ada suara anak keinginan
nangis… bayinya bangun, 4. Mengalami nyeri
nangis, iya bikin susah selama perawatan
tidur….” (partisipan 10) 5. Menemukan cara
3. Tidak bebas menentukan mengatasi masalah

3
keinginan selama dirawat
“Enggak bisa bergerak bebas,
kalau bergerak ketarik-tarik Oleh karena itu
terus…..”(partisipan 6) Hospitalisasi dapat
“Bete karena cuma tidur memberikan pengalaman
doang terus pengennya jalan- menyedihkan sekaligus
jalan, gitu ” (partisipan 10). bagi anak usia sekolah.
4. Mengalami nyeri selama Seperti perpisahan
perawatan dengan keluarga maupun
“Disuntik sakit banget gitu, dengan teman-teman.
ngilu, he-eh, sampe teriak Juga perpisahan dengan
malah…” (partisipan 10). dunia bermainnya.
“Sakit perut tapi bagian Namun juga dapat
bawah, waktu pipis” memberikan pengalaman
(partisipan 8). tersendiri karena anak
5. Menemukan cara mengatasi mendapat wawasan
masalah selama dirawat selama perawatan di
“Diinfus, buat ngasih cairan rumah sakit dan dapat
biar sehat…” (partisipan 2). mengatasi kecemasan
6. “Jangan jajan sembarangan ketakutannya sendiri.
lagi, biar ususnya gak
infeksi” (partisipan 6).

4
2. REAKSI ANAK Dapat diketahui mayoritas distribusi Berdasarkan hasil
TERHADAP reaksi anak terhadap stressor hospitalisasi penelitian dan
STRESSOR di rumah sakit daerah dr.Zainoel Abidin pembahasan, kami
HOSPITALISASI Banda Aceh berada pada kategori berat mendapatkan hasil dari
DENGAN sebanyak 41 orang (59,4%). 41 anak 39 diantaranya
TINGKAT mengalami kecesamsan
KECEMASAN jadi dapat di simpulkan
ANAK USIA bahwa atraumatic care
SEKOLAH RSUD Berdasarkan hasil penelitian didapatkan dan pencegahan
dr. ZAINOEL data bahwa dari 41 anak yang kecemasa pada anak usia
ABIDIN mengalami reaksi stressor hospitalisasi sekolah bisa dikatkan
oleh Mimi Afriani berat, terdapat 39 anak dengan belum berhasil maka
Sri Intan kecemasan berat. dapat disimpulkan bahwa
Rahayuningsih Ada hubungan reaksi
Hasil penelitian sesuai dengan pandapat anak terhadap stressor
Hasil penelitian terhadap 69 responden hospitalisasi dengan
diperoleh data tentang hubungan nilai Supartini (2004) Hospitalisasi (rawat
inap) pada pasien anak dapat tingkat kecemasan pada
reaksi anak terhadap stressor hospitalisasi anak usia sekolah di
dengan tingkat kecemasan di Rumah menyebabkan kecemasan dan stres
pada semua tingkatan usia. Penyebab rumah sakit umum
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin daerah dr. Zainoel
Banda Aceh diketahui bahwa dari 41 dari kecemasan dipengaruhi oleh
banyak faktor, baik Abidin Banda Aceh.
responden dengan reaksi stressor Yang kebanyakan
hospitalisasi berat terdapat 39 responden faktor dari petugas (perawat, dokter dan
tenaga kesehatan lainnya), lingkungan dipengaruhi oleh
dengan kecemasan berat. perpisahan dengan orang
baru, maupun keluarga yang
mendampingi selama perawatan. tua dan keluarga,
prosedur pemeriksaan dan
pengobatan dan akibat
berada di lingkungan

5
asing.

3. Kecemasan Anak Diketahui bahwa dari 17 responden rata Kecemasan anak dalam menghadapi Berdasarkan hasil
Usia Sekolah rata skor kecemasan sebelum diberikan tindakan pemberian obat melalui injeksi penelitian dan
Sebelum dan intervensi berada pada pada angka 3,24 dipengaruhi beberapa hal antara lain pembahasan, peneliti
Sesudah dengan skala kecemasan terrendah adalah karena kurang pengetahuan, mengambil
Mendapatkan 1 dan tertinggi adalah 5. Setelah pemahaman, dan informasi serta adanya kesimpulan berupa :
Informasi Saat diberikan intervensi, rata-rata skor perubahan-perubahan yang terjadi. anak usia sekolah
Pemberian Obat kecemasan yang diperoleh berada pada Adanya kegelisahan, rasa takut, sebelum diberi informasi
Injeksi oleh Sutrisno angka 1, 88 dengan skala kecemasan kerisauan dan kecemasan ketika mengenai
Gipta Galih terrendah adalah 0 dan tertinggi adalah 4. menghadapi tindakan yang diartikan pemberian obat saat
Widodo2, Herry Berdasarkan tabel 2. didapatkan bahwa sebagai sesuatu yang menyakiti, injeksi sebagian besar
Susanto Aisyah hasil analisis uji Wilcoxon terhadap 17 memberikan ancaman. Anak usia mengalami kecemasan
responden tentang perbedaan kecemasan sekolah yang sudah pernah mendapat ringan, sesudah diberi
sebelum dan sesudah diberikan intervensi di informasi atau pengalaman dari orang informasi mengenai
RSUD Ambarawa didapatkan nilai p (p lain akan merasa lebih tenang pemberian obat saat
value) sebesar 0,0001 (α= 0,05), dibanding dengan anak yang belum injeksi sebagian besar
sehingga dapat dirumuskan terdapat pernah mendapat pengetahuan sama tidak mengalami
perbedaan kecemasan sebelum dan sekali. kecemasan, Pada
sesudah diberikan penelitian ini tingkat
intervensi di RSUD Ambarawa. kecemasan responden
menurun setelah
dilakukan pemberian

6
informasi mengenai
tindakan injeksi. Ada
perbedaan tingkat
4. HUBUNGAN a. Berdasarkan penelitian komunikasi a. Penelitian ini terkait dengan Komunikasi terapeutik
KOMUNIKASI terapeutik tahap kerja dengan Katinawati (2012), pada perawat pada anak usia
TERAPEUTIK cemas karena perpisahan penelitiannya terapi bermain sekolah 6-12 tahun di
PERAWAT menunjukan terdapat hubungan dengan teknik bercerita IRINA E BLU RSUP
DENGAN STRES tahap kerja dengan cemas karena menurunkan kecemasan anak, Prof.DR.R.D. Kandou
HOSPITALISASI perpisahan dengan nilai p = 0,019 dimana terapi bermain bentuk Manado sebagian besar
PADA ANAK USIA dan nilai OR = 0,063 kali peluang, komunikasi. Pada anak usia baik, Stres hospitalisasi
SEKOLAH 6 -12 serta tahap kerja baik = cemas sekolah sebelum mendapatkan pada anak usia 6-12
TAHUN DI IRINA sebanyak 5 orang, kurang = tidak komunikasi terapeutik anak tahun di IRINA E
E BLU RSUP cemas mengalami kecemasan dan hilang BLURSUP
PROF. DR. R. D. b. Berdasarkan penelitian komunikasi kendali. Setelah dilakukan Prof.DR.R.D. Kandou
KANDOU, Nelko terapeutik tahap orientasi dengan komunikasi terapeutik kecemasan Manado sebagian besar
Rudini Henwil kehilangan berkurang. menunjukan tidak cemas
Tewuh Greta J.P kendali menunjukan terdapat b. Penelitian ini terkait dengan dan tidak hilang kendali,
Wahongan Franly hubungan tahap orientasi dengan Evelina (2011) pada serta terdapat hubungan
Onibala hilang kendali dengan nilai p = penelitiannya peran perawat komunikasi terapeutik
0,004 dan nilai OR = 0,046 kali dalam pencegahan dampak perawat dengan stres
peluang, serta tahap orientasi baik hospitalisasi anak di Rumah Sakit hospitalisasi pada anak
= hilang kendali sebanyak 5 Umum Medan menyimpulkan usia sekolah 6-12 tahun
orang, kurang = tidak hilang peran perawat berpengaruh besar di IRINA E BLU RSUP
kendali sebanyak 1 orang. dalam pencegahan dampak Prof.DR.R.D. Kandou
hospitalisasi pada anak salah Manado.
satunya yaitu kehilangan kendali,
dimana salah satu peran perawat
anak yaitu pembina hubungan

7
terapeutik (Supartini, 2004).

5. METODE Rerata skor stres pada kelompok intervensi Anak usia sekolah yang sudah Hasil analisis yang
BIMBINGAN di BRSU Anutapura Palu, RSUD Undata mempunyai pengalaman hospitalisasi dan diperoleh terbukti bahwa
IMAJINASI Palu, dan RSD Madani Palu sebelum yang belum mengalami pengalaman bimbingan imajinasi
REKAMAN AUDIO intervensi 56,88 dan sesudah mendapat hospitalisasi, memiliki pengetahuan rekaman audio dapat
UNTUK intervens rerata skor stres menjadi 49,50. berbeda yang berhubungan dengan menurunkan stres
MENURUNKAN Skor stres pada kelompok kontrol di BRSU tingkat stressor anak. Pada anak yang hospitalisasi pada anak
STRES Anutapura Palu, RSUD Undata Palu, dan memiliki pengalaman hospitalisasi anak usia sekolah. Hasil ini
HOSPITALISASI RSD Madani Palu sebelum intervensi rata- telah mengetahui dengan baik bagaimana dapat didukung oleh
PADA ANAK USIA rata 54,00 dan sesudah perlakuan pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh adanya penurunan rerata
SEKOLAH DI kelompok kontrol skor stres meningkat tenaga medis. Sehingga stressor yang skor stres hospitalisasi
RUMAH SAKIT DI menjadi 56,69 sehingga mengalami dialami anak pun cenderung menurun. responden sebelum
KOTA PALU Fitria peningkatan 2,69 Pada metode bimbingan imajinasi dan sesudah intervensi
Masulili rekaman audio terhadap anak usia pada kelompok
sekolah yang sudah memiliki pengalaman intervensi. Sementara
hospitalisasi didapatkan penurunan skor pada kelompok kontrol
stres hospitalisasi hanya sebesar 11,5%. terjadi peningkatan rerata
Persentasi pengaruh bimbingan imajinasi skor stres
ini menurut peneliti tidak terlalu besar, sebelum dan sesudah
mungkin dikarenakan adanya intervensi.
keterbatasan penelitian yaitu: pelaksanaan Bimbingan imanjinasi
bimbingan imajinasi yang seharusnya rekaman audio
dilakukan pada tempat khusus, tidak berkontribusi sebesar
bising dan tidak banyak orang lalu lalang, 11,5% terhadap
tetapi tidak penurunan skor stres. Hal
dilakukan dengan seharusnya, sehingga ini menunjukkan bahwa
banyak stimulus yang diterima responden ada pengaruh bimbingan

8
(anak) yang membuat anak kurang imajinasi rekaman audio
berkonsentrasi atau menikmati imajinasi terhadap penurunan stres
yang dianjurkan hospitalisasi pada
responden. Persentasi
pengaruh bimbingan
imajinasi rekaman audio
terhadap penurunan skor
stres responden sebesar
11,5 % dan menurut
peneliti dengan
presentase sekitar 11,5%
itu tidak terlalu besar.
6. Menurunkan Rerata skor tingkat kecemasan pada Penelitian ini menerapkan terapi Gambaran tingkat
Kecemasan Anak kelompok kontrol setelah pemberian bermain all kecemasan anak usia
Usia Sekolah Selama terapi bermain all tangled up pada tangled up untuk menurunkan kecemasan sekolah sebelum
Hospitalisasi Dengan kelompok intervensi jauh lebih tinggi anak diberikan terapi bermain
Terapi Bermain All yaitu 43,18 dibandingkan dengan skor usia sekolah. sebagai langkah awal all tangled up yaitu
Tangled Up oleh tingkat kecemasan pada kelompok peneliti berada pada tingkat
Syisnawati Novy intervensi 27,82. Rata-rata skor penurunan melakukan pre tes untuk melihat kecemasan sedang.
Helena dan Agus kecemasan pada kelompok intervensi tingkat Terapi bermain all
Setiawan JOURNAL adalah 10,8 sedangkan pada kelompok kecemasan anak sebelum diberikan tangled up mampu
OF ISLAMIC kontrol terjadi kenaikan skor sebesar intervensi menurunkan kecemasan
NURSING 2,97, hal ini menggambarkan angka dan diperoleh rata-rata tingkat anak usia sekolah yang
penurunan skor tingkat kecemasan pada kecemasan anak sedang mendapatkan
kelompok intervensi jauh lebih besar sebelum diberikan terapi bermain all perawatan di rumah
dibandingkan penurunan skor tingkat tangled up sakit dari tingkat
kecemasan pada kelompok kontrol. pada kelompok kontrol dan kelompok kecemasan sedang
intervensi adalah 43,15 dan 38,62. menjadi kecemasan

9
Dari hasil ringan pada kelompok
uji menunjukan ada perbedaan antara intervensi. Terdapat
tingkat perubahan kecemasan
kecemasan sebelum diberikan terapi pada kelompok kontrol
bermain namun perubahan yang
all tangled up antara kelompok kontrol terjadi hanya
dan peningkatan skor tetapi
kelompok intervensi (p=0,0001). Hasil kecemasan tetap berada
ini pada tingkat kecemasan
dimungkinkan karena antara kelompok sedang, hal ini berarti
kontrol kecemasan pada
dan kelompok intervensi memiliki kelompok kontrol tidak
karakteristik mengalami perubahan
yang hampir sama dari karakteristik secara signifikan.
umur, jenis
kelamin, jenis penyakit dan lama
rawat.
Berdasarkan skor penilaian kecemasan,
tingkat
kecemasan responden sebelum
intervensi
berada pertengahan dan diperkirakan
berada
pada tingkat kecemasan sedang. Anak
dengan
kecemasan sedang memungkinkan anak
berfokus pada hal yang penting dan
mengesampingkan hal yang lain (Stuart,

10
2002).

7. HUBUNGAN Karakteristik Anak Berdasarkan Usia, dari Hasil penelitian ini menunjukkan Berdasarkan hasil
PERILAKU hasil tersebut didapatkan jumlah responden bahwa responden anak kebanyakan penelitian dan
KOPING terbanyak adalah pada anak usia 8 tahun menyatakan bahwa mereka tidak merasa pembahasan hubungan
ORANGTUA yaitu berjumlah 10 orang dengan takut dengan keadaan di rumah sakit. perilaku koping orangtua
DENGAN persentase 32.3 %. Hasil uji Chi-Square Dalam hal ini, beberapa anak dengan tingkat stres
KEJADIAN STRES dari tabel di atas didapatkan nilai mengatakan bahwa mereka merasa anak usia sekolah usia
HOSPITALISASI signifikansi sebesar 0,376, artinya nilai takut jika ternyata perawat membawa sekolah yang sedang
PADA ANAK USIA signifikansi lebih besar dari 0,05 jarum suntik untuk menyuntikkan obat mengalami hospitalisasi
SEKOLAH YANG sehingga menunjukkan hasil bahwa tidak atau untuk mengambil darah. Pada di RSUD dr. Soedarso
DIRAWAT DI terdapat hubungan antara perilaku koping penelitian ini, kebanyakan orangtua Pontianak, maka dapat
RSUD DR. orangtua dengan tingkat stres menunjukkan perilaku koping destruktif disimpukan bahwa tidak
SOEDARSO hospitalisasi anak usia sekolah meliputi kesulitan tidur, banyak terdapat hubungan antara
PONTIANAK menunjukkan perilaku gelisah, mudah perilaku koping orangtua
Priska Septri Wahyu marah, serta beberapa orangtua juga dengan tingkat stres anak
Putri*Titan menyatakan bahwa mereka memiliki usia sekolah yang
Ligita**Arina perasaan bersalah atas sakit yang sedang sedang mengalami
Nurfianti** 2014 dialami oleh anaknya. Para orangtua ini hospitalisasi di RSUD dr.
bersikap menyalahkan diri sendiri atas Soedarso Pontianak tahun
kondisi sakit yang sedang dialami 2014.
oleh anaknya.

11
2.2 Review Jurnal
1. Pengalaman
Dalam jurnal Pengalaman Hospitalisasi Anak Usia Sekolah, Oleh siti
Chodidjah dan Elfi Syahreni dapat disimpulkan bahwa Hospitalisasi
dapat memberikan pengalaman menyedihkan sekaligus menyenangkan
bagi anak usia sekolah. Seperti perpisahan dengan keluarga maupun
dengan teman-teman. Juga perpisahan dengan dunia bermainnya.
Namun juga dapat memberikan pengalaman menyenangkan karena
anak mendapat wawasan selama perawatan di rumah sakit dan dapat
mengatasi kecemasan ketakutannya sendiri. (chodidjah & syahreni,
Maret 2015, )
2. Reaksi
Dalam jurnal REAKSI ANAK TERHADAP STRESSOR
HOSPITALISASI DENGAN TINGKAT KECEMASAN ANAK
USIA SEKOLAH RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN oleh Mimi Afriani
Sri Intan Rahayuningsih dapat disimpulkan bahwa Ada hubungan
reaksi anak terhadap stressor hospitalisasi dengan tingkat kecemasan
pada anak usia skolah di rumah sakit umu daerah dr. Zainoel
Abidin Banda Aceh. (afriani & rahayuningsih, 2016)
3. Penatalaksanaan kecemasan
Dalam jurnal Kecemasan Anak Usia Sekolah Sebelum dan Sesudah
Mendapatkan Informasi Saat Pemberian Obat Injeksi oleh Sutrisno
Gipta Galih Widodo2, Herry Susanto Aisyah dapat disimpulkan bahwa
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti mengambil
kesimpulan berupa : anak usia sekolah sebelum diberi informasi
mengenai pemberian obat saat injeksi sebagian besar mengalami
kecemasan ringan, sesudah diberi informasi mengenai pemberian
obat saat injeksi sebagian besar tidak mengalami kecemasan, Pada
penelitian ini tingkat kecemasan responden menurun setelah
dilakukan pemberian informasi mengenai tindakan injeksi. Ada
perbedaan tingkat. (sutrisno, widodo, & susanto, 2017)

12
4. Dampak hospitalisasi pada anak sekolah
Dalam jurnal HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK
PERAWAT DENGAN STRES HOSPITALISASI PADA ANAK
USIA SEKOLAH 6 -12 TAHUN DI IRINA E BLU RSUP PROF.
DR. R. D. KANDOU, Nelko Rudini Henwil Tewuh Greta J.P
Wahongan Franly Onibala dapat disimpulkan bahwa Komunikasi
terapeutik perawat pada anak usia sekolah 6-12 tahun di IRINA E
BLU RSUP Prof.DR.R.D. Kandou Manado sebagian besar baik,
Stres hospitalisasi pada anak usia 6-12 tahun di IRINA E
BLURSUP Prof.DR.R.D. Kandou Manado sebagian besar
menunjukan tidak cemas dan tidak hilang kendali, serta terdapat
hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan stres hospitalisasi
pada anak usia sekolah 6-12 tahun di IRINA E BLU RSUP
Prof.DR.R.D. Kandou Manado. (Tewuh, Wahongan, & Onibala,
agustus 2013)
5. Faktor faktor yang memepengaruhi hospitalisasi anak masa sekolah
Dalam jurnal METODE BIMBINGAN IMAJINASI REKAMAN
AUDIO UNTUK MENURUNKAN STRES HOSPITALISASI PADA
ANAK USIA SEKOLAH DI RUMAH SAKIT DI KOTA PALU
Fitria Masulili dapat disimpulkan bahwa Bimbingan imanjinasi
rekaman audio berkontribusi sebesar 11,5% terhadap penurunan skor
stres. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh bimbingan imajinasi
rekaman audio terhadap penurunan stres hospitalisasi pada responden.
Persentasi pengaruh bimbingan imajinasi rekaman audio terhadap
penurunan skor stres responden sebesar 11,5 %. (masulili, , November
2013;)
6. Dalam jurnal Menurunkan Kecemasan Anak Usia Sekolah Selama
Hospitalisasi Dengan Terapi Bermain All Tangled Up oleh
Syisnawati Novy Helena dan Agus Setiawan dapat disimpulkan
Gambaran tingkat kecemasan anak usia sekolah sebelum diberikan
terapi bermain all tangled up yaitu berada pada tingkat
kecemasan sedang. Terapi bermain all tangled up mampu

13
menurunkan kecemasan anak usia sekolah yang sedang mendapatkan
perawatan di rumah sakit dari tingkat kecemasan sedang menjadi
kecemasan ringan pada kelompok intervensi. Terdapat perubahan
kecemasan pada kelompok kontrol namun perubahan yang terjadi
hanya peningkatan skor tetapi kecemasan tetap berada pada tingkat
kecemasan sedang, hal ini berarti kecemasan pada kelompok
kontrol tidak mengalami perubahan secara signifikan. (Syisnawati,
helena, & setiawan, , Juli 2016 )
7. Dalam jurnal HUBUNGAN PERILAKU KOPING ORANGTUA
DENGAN KEJADIAN STRES HOSPITALISASI PADA ANAK
USIA SEKOLAH YANG DIRAWAT DI RSUD DR. SOEDARSO
PONTIANAK Priska Septri Wahyu Putri*Titan Ligita**Arina
Nurfianti** 2014 dapat disimpulkan Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan hubungan perilaku koping orangtua dengan tingkat
stres anak usia sekolah usia sekolah yang sedang mengalami
hospitalisasi di RSUD dr. Soedarso Pontianak, maka dapat
disimpukan bahwa tidak terdapat hubungan antara perilaku koping
orangtua dengan tingkat stres anak usia sekolah yang sedang
mengalami hospitalisasi di RSUD dr. Soedarso Pontianak tahun 2014.
(PUTRI, 2014)

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hospitalisasi dapat memberikan pengalaman menyedihkan
sekaligus menyenangkan bagi anak usia sekolah. Hasil penelitian
sesuai dengan pandapat Supartini (2004) Hospitalisasi (rawat
inap) pada pasien anak dapat menyebabkan kecemasan dan
stres pada semua tingkatan usia. Anak usia sekolah sebelum
diberi informasi mengenai pemberian obat saat injeksi sebagian
besar mengalami kecemasan ringan, sesudah diberi informasi
mengenai pemberian obat saat injeksi sebagian besar tidak
mengalami kecemasan. Menurunkan Kecemasan Anak Usia
Sekolah Selama Hospitalisasi Dengan Terapi Bermain All Tangled
Up , metode pemberian bimbingan imajinaif dengan audio dan
komunikasi terapeutik.
3.2 Kritik dan Saran
Diharapkan dengan adanya penjelasan mengenai perawatan
anak usia sekolah, dapat menunjang kita dalam proses
pembelajaran pada mata kuliah Keperawatan Anak I serta menjadi
bahan pembelajaran. Oleh karena itu dengan adanya bahan materi
ini diharapkan kita dapat mengaplikasikan konsep ini saat praktek
keperawatan anak di RS dan dalam melaksanakan profesi kita
sebagai perawat nantinya.

15