Anda di halaman 1dari 57

FAKULTAS KEDOKTERAN Makassar, 07 Januari 2019

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


BLOK URONEFROLOGI
LAPORAN PBL
SAKIT PERUT MENDADAK

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5 PBL
TUTOR : dr. Arni Isnaini.A,M.kes
Ade Apriani Ratnasari (11020150049)
Herika Laksmi Safitri K. (11020160015)
Fajrin Badaruddin (11020160017)
Anugrah Febriani Azis (11020160033)
Alysa Ahadyah P. P (11020160074)
Abd, Mirsyad (11020160084)
Ratih Pusmawati (11020160103)
Achmad Imron (11020160114)
Ida Putri Ihsani (11020160122)
Nurmala Sinta A (11020160145)
Firmawati. AR (11020160171)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, kami panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena limpahan
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga laporan hasil TUTORIAL dari kelompok 5 PBL Blok
Uronefrologi dapat terselesaikan dengan baik. Salam shalawat tak lupa kita kirimkan kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beserta keluarganya, para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in
dan orang yang senantiasa istiqmah di jalan-Nya.

Ucapan terimakasih yang sangat besar kepada setiap pihak yang telah membantu
terbuatnya laporan ini dan yang telah membantu selama masa TUTORIAL khususnya kepada
dr. Arni Isnaini.A,M.kes yang telah banyak membantu selama proses PBL berlangsung. Dan
kami juga mengucapkan permohonan maaf kepada setiap pihak jika dalam proses PBL telah
berbuat salah baik disengaja maupun tidak disengaja.

Semoga Laporan hasil TUTORIAL ini dapat bermanfaat bagi setiap pihak yang telah
membaca laporan ini dan khusunya bagi tim penyusun sendiri. Diharapkan mahasiswa dapat
melihat dan memahami aspek – aspek dalam kasus yang diberikan tentang aspek Bengkak Pada
Muka dan Perutserta pandangan islam dalam masalah ini.

Makassar, 3 Januari 2019


I. SKENARIO

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri pada perut kanan sejak 6
jam yang lalu. Nyeri dirasakan menjalar sampai ke lipat paha.Nyeri besifat kolik, tidak ada mual
maupun muntah

KATA KUNCI

1. Pria, 30 tahun
2. Nyeri pada perut kanan 6 jam yg lalu
3. Nyeri menjalar sampai ke paha
4. Nyeri bersifat kolik
5. Tidak ada mual dan muntah
II. PERTANYAAN
1. Jelaskan pembagian regio abdomen!
2. Jelaskan patomekanisme nyeri perut menjalar!
3. Jelaskan mengapa nyeri bersifat kolik!
4. Sebutkan penyakit dengan gejela nyeri perut sebelah kanan!
5. Jelaskan langkah-langkah diagnosis!
6. Jelaskan diagnosis banding dari scenario!
7. Perspektif islam dari scenario
III. PEMBAHASAN
1. Pembagian Regio Abdomen!

Abdomen adalah bagian tubuh yang berbentuk rongga terletak diantara toraks dan pelvis.
Rongga ini berisi viscera dan dibungkus dinding abdomen yang terbentuk dari dari otot
abdomen, columna vertebralis, dan tulang ilium. Untuk membantu menetapkan suatu lokasi di
abdomen. 1
Pembagian Daerah Abdomen
Terdapat beberapa cara untuk membagi permukaan dinding abdomen :
1. Pembagian dengan cara menarik garis tegak lurus terhadap garis median melalui umbilikus.
Dengan cara ini, dinding depan abdomen terbagi atas 4 daerah :
a. Kuadran kanan atas (right upper quadrant)
b. Kuadran kiri atas (left upper quadrant)
c. Kuadran kanan bawah (right lower quadrant)
d. Kuadran kiri bawah (left lower quadrant)
2. Pembagian yang paling sering dipakai adalah pembagian abdomen oleh dua buah bidang
bayangan horizontal dan dua bidang bayangan vertikal. Bidang bayangan tersebut membagi
dinding anterior abdomen menjadi sembilan daerah regiones. Dua bidang diantaranya
berjalan horizontal melalui setinggi tulang rawan. Iga kesembilan, yang bawah setinggi
bagian atas crista iliaca dan dua bidang lainnya vertikal di kiri dan kanan tubuh yaitu dari
tulang rawan iga kedelapan hingga ke pertengahan liga mentum inguinale. Regio abdomen
tersebut adalah: 1
a. hypocondriaca dextra,
b. epigastrica,
c. hypocondriaca sinistra,
d. lumbalis dextra,
e. umbilical,
f. lumbalis sinistra,
g. inguinalis dextra
h. pubica/hipogastrica,
i. inguinalis sinistra
Gambar 1. Pembagian anatomi abdomen berdasarkan lokasi organ yang ada di dalamnya
Proyeksi organ pada metode 4 kuadran abdomen
Kuadran kanan atas Kuadran kiri atas
- Hepar - Lobus kiri hepar
- Kandung empedu - Lambung
- Pilorus - Korpus pancreas
- Duodenum - Fleksura lienalis kolon
- Kaput pancreas - Sebagian kolon tranversum
- Fleksura hepatika kolon - Kolon desenden
- Sebagian kolon asendens
- Kolon tranversum
Kuadran kanan bawah Kuadran kiri bawah
- Saekum dan appendiks - Kolon sigmoid
- Sebagian kolon desenden
- Sebagian kolon assenden

Proyeksi organ pada metode 9 kuadran abdomen


Hypocondriaca dextra Epigastrica Hypocondriaca sinistra
lobus kanan hati, kantung pilorus gaster, duodenum, gaster, limpa, bagian kaudal
empedu, sebagian duodenum pankreas dan sebagian dari pankreas, fleksura lienalis
fleksura hepatik kolon, hepar. kolon, bagian proksimal ginjal
sebagian ginjal kanan dan kiri dan kelenjar suprarenal
kelenjar suprarenal kanan. kiri.

Lumbalis dextra Umbilical Lumbalis sinistra


kolon ascenden, bagian distal Omentum, mesenterium, kolon ascenden, bagian distal
ginjal kanan, sebagian bagian bawah duodenum, ginjal kiri, sebagian jejenum
duodenum dan jejenum. jejenum dan ileum. dan ileum.

Inguinalis dextra Pubica/Hipogastric inguinalis sinistra


sekum, apendiks, bagian distal ileum, vesica urinaria dan kolon sigmoid, ureter kiri dan
ileum dan ureter kanan. uterus (pada kehamilan). ovarium kiri. 1

2. Patomekanisme nyeri perut!

Rasa sakit perut, baik mendadak maupun berulang, biasanya selalu bersumber pada:

1. Visera perut

2. Organ lain di luar perut

3. Lesi pada susunan saraf spinal

4. Gangguan metabolik

5. Psikosomatik

Reseptor rasa sakit di dalam traktus digestivus terletak pada saraf yang tidak bermielin
yang berasal dari sistim saraf otonom pada mukosa usus. Jaras saraf ini disebut sebagai serabut
saraf C yang dapat meneruskan rasa sakit lebih menyebar dan lebih lama dari rasa sakit yang
dihantarkan dari kulit oleh serabut saraf A. 2

Reseptor nyeri pada perut terbatas di submukosa, lapisan muskularis dan serosa dari
organ di abdomen. Serabut C ini akan bersamaan dengan saraf simpatis menuju ke ganglia pre
dan paravertebra dan memasuki akar dorsa ganglia. Impuls aferen akan melewati medula spinalis
pada traktus spinotalamikus lateralis menuju ke talamus, kemudian ke konteks serebri. 2

Impuls aferen dari visera biasanya dimulai oleh regangan atau akibat penurunan ambang batas
nyeri pada jaringan yang meradang. Nyeri ini khas bersifat tumpul, pegal, dan berbatas tak jelas
serta sulit dilokalisasi. Impuls nyeri dan visera abdomen atas (lambung, duodenum,
pankreas,hati, dan sistem empedu) mencapai medula spinalis pada segmen thorakalis 6, 7, 8 serta
dirasakan didaerah epigastrium. 2

Impuls nyeri yang timbul dari segmen usus yang meluas dari ligamentum Treitz sampai
fleksura hepatika memasuki segmen Th 9 dan 10, dirasakan di sekitar umbilikus. Dari kolon
distalis, ureter, kandung kemih, dan traktus genitalia perempuan, impuls nyeri mencapai segmen
Th 11 dan 12 serta segmen lumbalis pertama. Nyeri dirasakan pada daerah supra publik dan
kadang-kadang menjalar ke labium atau skrotum. Jika proses penyakit meluas ke peritorium
maka impuls nyeri dihantarkan oleh serabut aferen stomatis ke radiks spinals segmentalis. 2

3. Defenisi nyeri,sifat-sifat,patomekanisme nyeri kolik!


Nyeri yang disebabkan oleh kelainan yang terdapat pada organ urogenitalia dapat dirasakan
sebagai nyeri local ataupun refferet pain.

1. Nyeri local : local pain adalah nyeri yang dirasakan pada organ atau daerah sekitar organ
itu sendiri misalnya pada nyeri ginjal , terasa pada region costovertebralis, mulai pada
VT10-12 –VL1, sudut costovertebralis, ke pinggang dan ke depan di bawah costa XII.
Nyeri pada testis juga terasa sakitnya pada testis yang bersangkutan dan nyeri pada
skrotum. 3,4,5
2. Nyeri yang menjalar : reffered pain adalah rasa nyeri yang menjalar dan terasa pada
daerah atau organ yang lebih jauh dariorgan yang sebenarnya sakit. Misalnya : nyeri
ureter akibat batu pada ureter proksimal akan terasa sakit yang hebat pada testis dipihak
yang sama disamping nyeri pada pinggang itu sendiri. Hal ini terjadi karena testis dan
ureter proksimal dari ginjal mempunyai pusat persarafan pada segmen yang sama di
medulla spinalis, hingga sakit pada ureter proksimal dan ginjal akan terasa pula seperti
dari testis. 3,4,5

Gambar 1 : nyeri alih dari ginjal (area putus-putus) dan ureter (area arsir)
I. SIFAT NYERI

Sifat nyeri ada dua macam yaitu :

1. Nyeri yang menetap dan terasa terus menerus misalnya pada infeksi, nyeri akan terasa
terus sampai keadaan ini teratasi/tertanggulangi
2. Kolik : suatu sensasi nyeri yang hebat yang bersifat serangan, datang-datang dan
berulang, kemudian hilang dengan atau tanpa obat. Beberapa saat kemudian akan datang
kembali bila belum diobati. Kolik ini biasa terjadi pada organ berupa saluran seperti
ureter, usus dan duktus choledochus, yang mengalami sumbatan atau obstruksi,
sementara organ tersebut dengan mekanisme peristaltic akan berusaha mendorong benda
yang menyumbat itu ke distal. Hiperperistaltik dari otot-otot proksimal sumbatan tersebut
begitu kuat sampai terjadi spasme yang hebat dan inilah yang menyebabkan rasa nyeri
yang hebat tersebut. Setelah kontraksi otot tersebut mencapai puncak maksimalnya
akhirnya akan relaksasi kembali dan nyeri akan hilang. Kalau benda yang menyumbat
tersebut belum turun/hilang misalnya batu pada ureter, kontraksi sampai spasme tersebut
akan berulang kembali. Begitu nyerinya kolik ini, penderita tersebut tak bisa istrahat,
jalan, duduk tetap sakit dan kadang-kadang terguling-guling keringatan, mual sampai
muntah. 3,4,5

Nyeri kolik pada renal merupakan suatu keadaan emergensi yang sering dan penting pada
praktek kesehatan. Hal ini biasanya disebabkan oleh obstruksi dari saluran kemih oleh karena
batu. Sekitar 5-12% populasi akan menderita batu saluran kemih selama hidup. Biasanya pada
usia 30-60 tahun dengan rata-rata 3x lebih sering pada laki-laki. Angka kekambuhan sekitar 50%
selama 10 tahun. Gejala klasik dari kolik renal akut yaitu: nyeri yang menjalar dari pinggang ke
paha dan disertai hematuria mikroskopis (85%), warna urin tidak jernih, mual dan muntah. 3,4,5
Nyeri kolik pada renal merupakan nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga
yang umumnya disebabkan karena hambatan pasase dalam rongga tersebut. Nyeri ini timbul oleh
karena hipoksia, dirasakan hilang timbul, dapat disertai mual dan muntah. Sedangkan renal
adalah ginjal. Kolik renal adalah suatu nyeri hebat pada pinggang yang disebabkan oleh karena
batu di ureter atau di Pelvic Ureter Junction (PUJ) (urolithiasis). 3,4,5
Mekanisme nyeri yang berasal dari ginjal terdiri dari dua tipe yaitu kolik renal dan non
kolik renal. Kolik renal terjadi oleh karena peningkatan tekanan dinding dan peregangan dari
sistem genitourinary. Non kolik renal disebabkan oleh karena distensi dari kapsul renal. Secara
klinis sulit untuk membedakan kedua tipe ini. Peningkatan tekanan pelvis renal oleh karena
obstruksi berupa batu akan menstimulasi sintesis dan pelepasan prostaglandin yang secara
langsung menyebabkan spasme otot ureter. Serta kontraksi otot polos ureter ini akan
menyebabkan gangguan peristaltik dan pembentukan laktat lokal. Akumulasi dari laktat ini akan
menyebabkan iritasi serabut syaraf tipe A dan C pada dinding ureter. Serabut syaraf ini akan
mengirimkan sinyal ke dorsal root ganglia T11 –L1 dari spinal cord dan akan diinterprestasikan
sebagai nyeri pada korteks serebri. Kolik renal terjadi karena obstruksi dari urinary flow oleh
karena BSK, dan diikuti dengan peningkatan tekanan dinding saluran kemih (ureter dan pelvik),
spasme otot polos ureter, edema dan inflamasi daerah dekat BSK, meningkatnya peristaltik serta
peningkatan tekanan BSK di daerah proksimal. 3,4,5
Peningkatan tekanan di saluran kemih ini serta peningkatan tekanan aliran darah dan
kontraksi otot polos uretra merupakan mekanisme utama timbulnya nyeri atau kolik ini. Selain
itu juga karena terjadinya peningkatan sensitifitas terhadap nyeri. Peningkatan tekanan di pelvik
renal akan menstimulasi sintesis dan pelepasan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi dan
diuresis dimana hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan intrarenal. Prostaglandin
berperan langsung pada ureter untuk spasme otot polos ureteral. Permanen obstruksi saluran
kemih oleh karena BSK, menyebabkan lepasnya prostaglandin sebagai respon terhadap
inflamasi. Beberapa waktu pertama obstruksi ini perbedaan tekanan antara glomerulus dan pelvik
menjadi sama sehingga berakibat GFR (Glomerular Filtration Rate) dan aliran darah ginjal
menurun. Jika obstruksi ini tidak diatasi maka dapat terjadi gagal ginjal akut (acute renal
failure). 3,4,5
Gejala utama kolik renal ini adalah nyeri dengan onset akut dan intensitas berat,
unilateral yang berawal dari daerah pinggang atau daerah flank yang menyebar ke labia pada
wanita dan pada paha atau testis pada laki-laki. Nyeri berlangsung beberapa menit atau jam, dan
terjadi spasme otot bersifat hilang timbul. Nyeri biasanya sangat berat dan merupakan
pengalaman buruk yang pernah dialami pasien. Derajat keparahan nyeri tergantung pada derajat
obstruksi dan ukuran batu. Posisi batu juga berhubungan dengan penyebaran nyeri. Kolik
biasanya disertai dengan mual, muntah, sering BAK, disuria, oliguria dan hematuria. 3,4,5
Kolik renal muncul oleh karena hasil dari obstruksi saluran kemih oleh batu pada area
anatomi yang sempit di ureter, Pelvic Ureter Junction (PUJ), Vesico Ureteric Juntion (VUJ).
Lokasi nyeri berhubungan dengan prediksi letak batu namun bukan merupakan hal yang akurat.
Batu yang berada pada Pelvic Uretra Junction (PUJ) biasanya nyeri dengan derajat berat pada
daerah sudut kostovertebra dan menyebar sepanjang ureter dan gonad. Jika batu pada midureter,
maka rasa nyeri sama dengan batu di PUJ, namun pasien mengeluhkan nyeri tekan pada regio
abdominal bawah. Batu yang berada pada daerah distal ureter akan menimbulkan rasa nyeri yang
menyebar ke paha serta ke testis pada laki-laki dan ke labia mayor pada perempuan. Pada
pemeriksaan fisik didapati pasien banyak bergerak untuk mencari posisi tertentu untuk
mengurangi nyeri dan hal ini sangat kontras dengan iritasi abdomen yaitu dimana pasien dengan
posisi diam untuk mengurangi nyeri. Selain itu juga didapati nyeri pada sudut kostovertebra
ataupun pada kuadran bawah. Hematuria masif sekitar 90%. Namun absen hematuri tidak
mengeksklusi adanya BSK. Mual dan muntah juga muncul oleh karena distensi sistem saraf
splanchnic dari kapsul renal dan usus. Jenis batu yang biasanya didapati adalah batu kalsium
(kalsium oksalat, kalsium posfat dan campuran kalsium oksalat dan posfat). Sedangkan 20%
lainya disebabkan asam urat, sistin dan sturvit. 3,4,5
4. Penyakit-penyakit dengan gejala nyeri perut sebelah kanan!

a. Kolesistitis Akut
Kolesistitis akut ditandai oleh nyeri dan tekan abdomen kuadran kanan atas, biasanya
disertai demam dan leukositosis. Nyeri disebabkan oleh distensi dan peradangan vesica
biliaris. 6,7,8
b. Kolesistitis Kronis
Inflamasi dengan nyeri dari obstruksi duktus sistikus berulang mengacu pada kolesistitis
kronis dengan gejala utama berupa nyeri yang konstan dan berlangsung sekitar 1-5 jam,,
mual muntah, kembung. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan nyeri tekan pada kuadran
kanan atas. 6,7,8
c. Batu Saluran Kemih
Batu saluran kemih (urolitiasis) adalah adanya batu di saluran kemih, mulai dari ginjal
hingga uretra. Berdasarkan manifestasi klinis terdapat, batu ginal ( nefrolitiasis) yang
ditandai nyeri pinggang dari pegal hingga menetap, batu ureter (ureterolitiasis) dengan ciri
utama nyeri kolik, batu buli- buli (vesikolitiasis) terdapat nyeri menetap pada suprapubik,
serta batu uretra (uretrolitiasis) yang ditandai urine menetes dan nyeri. 6,7,8
d. Pankreatitis Akut
Pankreatitis akut terjadi karena peradangan pancreas yang menyebabkan aktivitas enzim-
enzim pankreas di dalam sel pankreas, sehingga menyebabkan kerusakan pancreas
ditandai dengan nyeri hebat di abdomen (biasa daerah epigastrium, kadang terjadi di
abdomen kanan atas). 6,7,8
e. Abses Hepar.
Infeksi pada hati oleh bakteri, parasit,jamur, atau nekrosis steril dari sistem
gastrointestinal yang ditandai dengan proses supurasi dengan pembentukan pus. Gejalanya
dapat berupa demam, nyeri perut kanan atas yang terkadang muncul dengan intensitas
berat, batuk, ikterus, bab pucat, urin gelap, anoreksia, malaise. 6,7,8
f. Appendisitis
Appendisitis adalah peradangan dari appendix vermiformis dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Keluhan apendisitis diulai dari nyeri perium umbilicus
dan muntah karena rangsangan peritoneum visceral. Dalam waktu 2-12 jam sering dengan
iritasi peritoneal, nyeri perut akan berpindah ke kuadran kanan bawah yang menetap dan
diperberat dengan batuk dan berjalan. 6,7,8
g. Pielonefritis akut
Pielonefritis akut adalah reaksi inflamasi akibat infeksi yang terjadi pada pielum dan
parenkim ginjal. Gambaran klasik dari pielonefritis akut adalah demam tinggi dengan
disertai menggigil, nyeri di daerah perut dan pinggang, disertai mual dan muntah.
Kadang-kadang terdapat gejala iritasi pada buli-buli yaitu berupa disuri, frekuensi, atau
urgensi. 6,7,8
h. Abses Ginjal
Abses ginjal adalah abses yang terdapat pada parenkim ginjal. Abses ini dibedakan dalam
2 macam yaitu abses korteks ginjal dan abses kortiko-meduler. Pasien mengeluh nyeri
pinggang, demam, disertai menggigil, teraba massa di pinggang (pada abses peri atau
pararenal), keluhan miksi. Nyeri dapat dirasakan pula di daerah (1) pleura karena pleuritis
akibat penyebaran infeksi ke subprenik dan intrathorakal, (2) inguinal, dan (3) abdominal
akibat iritasi pada peritoneum posterior. 6,7,8

5. Langkah-langkah diagnosis!

Untuk menegakkan diagnosis kelainan-kelainan urologi, seorang dokter dituntut untuk


dapat melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dasar urologi dengan seksama dan secara sistematik
mulai dari:

1. Pemeriksaan subyektif yaitu mencermati keluhan yang disampaikan oleh pasien yang digali
melalui anamnesis yang sistematik.

2. Pemeriksaan obyektif yaitu melakukan pemeriksaan fisis terhadap pasien untuk mencari
data-data yang objektif mengenai keadaan pasien.

A. Pemeriksaan penunjang yaitu melakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium, radiologi


atau imaging (pencitraan), uroflometri atau urodinamika, elektromiografi, endourologi, dan
laparoskopi. 9,10,11

B. ANAMNESIS

Kemampuan seorang dokter dalam melakukan wawancara dengan pasien ataupun


keluarganya diperoleh melalui anamnesis yang sistematik dan terarah. Hal ini sangat penting
untuk mendapatkan diagnosis suatu penyakit. Anamnesis yang sistematik itu mencakup;

a. Identitas pasien: menanyakan nama, umur, alamat dan pekerjaan pasien penting untuk
menentukan diagnosis dan membangun hubungan antar dokter dan pasien.

b. Keluhan Utama: menanyakan apakah ada nyeri akibat kelainan urologi, gangguan
berkemih seperti oliguria maupun poliuria, apakah terdapat luka serta bengkak pada
daerah perut maupun pinggang dan daerah sekitarnya. Menggali lebih lanjut riwayat
penyakit ini seperti warna, jumlah, dan konsistensi urin, apakah berpasir atau hematuria
dan disertai nyeri.

c. Keluhan penyerta: menanyakan apakah keluhan disertai dengan demam dan menggigil,
menanyakan mengenai kelainan urologi lain seperti malaise, pucat dan uremia.
Menanyakan terapat nyeri tekan dan rasa tidak enak pada daerah abdomen, pinggang dan
sekitarnya. 9,10,11

Pasien datang ke dokter mungkin dengan keluhan:

Nyeri yang disebabkan oleh kelainan yang terdapat pada organ urogenitalia dirasakan
sebagai nyeri lokal yaitu nyeri yang dirasakan di sekitar organ itu sendiri, atau berupa referred
pain yaitu nyeri yang dirasakan jauh dari tempat organ yang sakit. Sebagai contoh nyeri lokal
pada kelainan ginjal dapat dirasakan di daerah sudut kostovertebra; dan nyeri akibat kolik ureter
dapat dirasakan hingga ke daerah inguinal, testis, dan bahkan sampai ke tungkai bawah. 9,10,11

Nyeri lain yang dapat dirasakan juga meliputi nyeri ginjal akibat regangan kapsul ginjal.
Nyeri vesika yang dirasakn di daerah suprasimpisis. Nyeri prostat karena inflamasi yang
menyebabkn edema kelenjar prostat dan distensi kapsul prostat. yeri kolik terjadi akibat spasmus
otot polos ureter karena gerakan peristaltiknya terhambat oleh batu, bekuan darah, atau oleh
benda asing lain. Nyeri ini dirasakan sangat sakit, hilang-timbul sesuai dengan gerakan
peristaltik ureter. 9,10,11

Keluhan yang dirasakan oleh pasien pada saat miksi meliputi keluhan iritasi, obstruksi,
inkontinensia, dan enuresis. Keluhan iritasi meliputi urgensi, polakisuria, atau frekuensi,
nokturia, dan disuria; sedangkan keluhan obstruksi meliputi hesitansi, harus mengejan saat miksi,
pancaran urine melemah, intermitensi, dan menetes serta masih terasa ada sisa urine sehabis
miksi. Keluhan iritasi dan obstruksi dikenal sebagai lower urinary tract symptoms. 9,10,11

Pasien juga dapat datang dengan keluhan Inkontinensi urine yaitu ketidak mampuan
seseorang untuk menahan urine yang keluar dari buli-buli, baik disadari ataupun tidak disadari.
Hematuria yaitu didalatkannya darah atau sel darah merah dalam urine. Pneumaturia atau
berkemih tercampur dengan udara. Dan Cloudy Urin yaitu urin berwarna keruh dan berbau
busuk diakibatkan oleh infeksi.
d. Riwayat penyakit sebelumnya: Mungkin saja keluhan sudah berulang dikarenakan
prognosis dari penyakit-penyakit urogenitalia memang baik, namun tidak menutup
kemungkinan bahwa penyakit tersebut akan berulang atau menyerang pasien kembali.
Menggali penyakit-penyakit sebelumnya yang berkaitan dengan masalah berkemih,
bengkak dan nyeri pada pinggang/perut, menanyakan apakah pernah mengalami trauma.

e. Riwayat kebiasaan: Menanyakan riwayat kebiasaan pasien baik itu mengenai makanan,
minuman yang dikonsumsi, riwayat hubungan seksual dan mengenai daerah tempat
tinggalnya (keadaan air di daerah tempat tinggal).

f. Riwayat keluarga: Penyakit urologi khususnya ISK dapat menurun. Ibu dengan riwayat
ISK dapat meningkatkan faktor risiko bagi anak9

g. Riwayat pengobatan: Beberapa golongan obat tertentu memiliki kontraindikasi terhadap


pasien-pasien urologi. Tapi, tidak semua memiliki efek samping yang begitu buruk.
Beberapa efek samping yang dapat timbul dari penggunaan obat ialah reaksi
hipersensitivitas, ruam kulit, mual, muntah, diare, vertigo, dll. Kemungkinan terburuk
dari penggunaan obat jangka panjang dan dosis berlebihan dapat menyebabkan kerusakan
hati. 9,10,11

C. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisis pasien meliputi pemeriksaan tentang keadaan umum pasien dan
pemeriksaan urologi. Sering kali kelainan-kelainan di bidang urologi memberikan manifestasi
penyakit umum (sistemik), atau tidak jarang pasien-pasien urologi kebetulan menderita penyakit
lain.

1. Kesan umum pasien

a. Keadaan umum: sakit ringan, sakit sedang atau sakit berat

b. Kesadaran pasien: compos mentis, apatis, somnolen, stupor atau koma

c. Status gizi: obesitas, kurus atau normal

d. Tanda vital: Tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, dan suhu


2. Pemeriksaan Urologi

a. Pemeriksaan Ginjal:

Adanya pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas harus di
perhatikan pada saat melakukan inspeksi. Pembesaran mungkin disebabkan oleh
hidronefrosis atau tumor pada daerah retroperitoneum. Pembesaran ginjal karena
hidronefrosis atau tumor ginjal, mungkin teraba pada palpasi dan terasa nyeri pada
perkusi.
b. Pemeriksaan Buli-Buli:

Pada pemeriksaan buli-buli di perhatikan adanya benjolan/massa atau jaringan


parut bekas irisan/operasi di suprasimfisis. Massa di daerah suprasimfisis mungkin
merupakan tumor ganas buli-buli atau karena buli-buli yang terisi penuh dari suatu
retensi urine. Dengan palpasi dan perkusi dapat ditentukan batas atas buli-buli
c. Pemeriksaan Genitalia Eksterna:

Pada inspeksi genitalia eksterna diperhatikan kemungkinan adanya kelainan pada


penis/uretra antara lain: mikropenis, makropenis, hipospadia, kordae, epispadia, stenosis
pada meatus uretraeksterna, fimosis/parafimosis, fisteluretro-kutan, dan ulkus/tumor
penis. Strikturauretra anterior yang berat menyebabkan fibrosis korpus spongiosum yang
teraba pada palpasi di sebelah ventral penis, berupa jaringan keras yang dikenal dengan
spongiofibrosis. Jaringan keras yang teraba pada korpus kavernosum penis mungkin
suatu penyakit Peyrone.

d. Pemeriksaan Skrotum dan Isinya:

Perhatikan apakah ada pembesaran pada skrotum, perasaan nyeri pada saat diraba,
atau ada hipoplasi kulit skrotum yang sering dijumpai pada kriptorkismus. Untuk
membedakan antara massa padat dan massa kistus yang terdapat pada isi skrotum,
dilakukan pemeriksaan transiluminasi (penerawangan) pada isi skrotum. Pemeriksaan
penerawangan dilakukan pada tempat yang gelap dan menyinari skrotum dengan cahaya
terang. Jika isi skrotum tampak menerawang berarti berisi cairan kistus dan dikatakan
sebagai transiluminasi positif atau diafanoskopi positif.
e. Colok Dubur (Rectal Toucher):

Pada pemeriksaan colok dubur dinilai: (1) tonus sfingter ani dan reflex bulbo-
kavernosus (BCR), (2) mencari kemungkinan adanya massa di dalam lumen rektum, dan
(3) menilai keadaan prostat. Penilaian reflex bulbo-kavernosus dilakukan dengan cara
merasakan adanya reflex jepitan pada sfingter ani pada jari akibat rangsangan sakit yang
kita berikan pada glans penis atau klitoris.

f. Pemeriksaan Neurologi:

Pemeriksaan neurologi ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan


neurologik yang mengakibatkan kelainan pada sistem urogenitalia, seperti pada lesi
motor neuron atau lesi saraf perifer yang merupakan penyebab dari buli-bulineurogen.
9,10,11

C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

1. Urinalisis

Pemeriksaan urinalisis merupakan pemeriksaan yang paling sering dikerjakan


pada kasus- kasus urologi. Pemeriksaan ini meliputi uji:

 Makroskopik dengan menilai warna, bau, dan berat jenis urine

 Kimiawi meliputi pemeriksaan derajat keasaman/pH, protein, dan gula dalam


urine

 Mikroskopik mencari kemungkinan adanya sel-sel, cast (silinder), atau bentukan


lain di dalam urine.

Urine mempunyai pH yang bersifatasam, yaitu rata-rata: 5,5 - 6,5. Jika didapatkan
pH yang relative basa kemungkinan terdapat infeksi oleh bakteri pemecah urea,
sedangkan jika pH yang terlalu asam kemungkinan terdapat asidosis pada tubulus ginjal
atau ada batu asam urat.
Didapatkannya eritrosit di dalam darah secara bermakna (> 2 per lapangan
pandang) menunjukkan adanya cedera pada sistem saluran kemih; dan didapatkannya
leukosituri bermakna (> 5 per lapangan pandang) atau piuria merupakan tanda dari
inflamasi saluran kemih

2. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah rutin terdiri atas pemeriksaan kadar hemoglobin, leukosit, laju
endap darah, hitung jenis leukosit, dan hitung trombosit.
3. Kultur urine

Pemeriksaan kultur urine diperiksa jika ada dugaan infeksi saluran kemih. Jika
didapatkan kuman di dalam urine, dibiakkan di dalam medium tertentu untuk mencari
jenis kuman dan sekaligus sensitivitas kuman terhadap antibiotika yang diujikan.
4. Sitologi urine

Pemeriksaan sitiologi urine merupakan pemeriksaan sitopatologi sel-sel urotelium


yang terlepas dan terikut urine. Contoh urine sebaiknya diambil setelah pasien melaukuan
aktivitas (loncat-loncat atau lari di tempat) dengan harapan lebih banyak sel-sel urotelium
yang terlepas di dalam urine. Derajat perubahan sel-sel itu diklasifikasikan dalam 5 klas
mulai dari (1) normal, (2) sel sel yang mengalami keradangan, (3) sel-sel atipik, (4)
diduga menjadi sel- sel ganas, dan (5) sel-sel yang sudah mengalami perubahan
morfologi menjadi sel ganas.

5. C-Reactive Protein (CRP)

Kadar CRP akan meningkat pada kondisi inflamasi. CRP merupakan penanda
inflamasi dan salah satu protein fase akut yang disintesis di hati untuk memantau secara
non-spesifik penyakit lokal maupun sistemik. Kadar CRP meningkat setelah adanya
trauma, infeksi bakteri, dan inflamasi. Sebagai biomarker, CRP dianggap sebagai respon
peradangan fase akut yang mudah dan murah untuk diukur dibandingkan dengan penanda
inflamasi lainnya. CRP juga dijadikan sebagai penanda prognostik untuk inflamasi.
6. Laju Endap Darah (LED)

Laju endap darah ditujukan untuk melihat kecepatan darah dalam membentuk
endapan. Laju endap darah akan meningkat atau naik apabila mengalami cidera,
peradangan, atau kehamilan. Laju endap darah juga akan meningkat apabila terkena
infeksi yang kronis atau kasus-kasus dimana peradangan menjadi kambuh. Adanya
tumor, keracunan logam, radang ginjal maupun liver juga kadang memberikan nilai yang
tinggi untuk laju endap darah seseorang.

7. Patologi anatomi

Pada pemeriksaan ini dapat ditentukan suatu jaringan normal, mengalami proses
inflamasi, pertumbuhan benigna, atau terjadi pertumbuhan maligna. Selain itu
pemeriksaan ini dapat menentukan stadium patologik serta derajat diferensiasi suatu
keganasan. 9,10,11

D. PEMERIKSAAN RADIOLOGI (PENCITRAAN)

1. Foto polos abdomen

Foto polos abdomen atauKUB (Kidney Ureter Bladder) adalah foto skrining
untuk pemeriksaan kelainan-kelainan urologi. Selain itu perlu di perhatikan adanya
bayangan radio-opak yang lain, misalnya bayangan jarum-jarum (susuk) yang
terdapatdisekitar paravertebra yang sengaja di pasang untuk mengurangi rasa sakit
pada pinggang atau punggung, atau bayangan klip yang dipasang pada saat operasi
untuk menjepit pembuluh darah.

2. Pielografi Intra Vena (PIV)

Pielografi Intra Vena (PIV) atau Intravenous Pyelography (IVP) atau dikenal
dengan Intra Venous Urography atau urografi adalah foto yang dapat menggambarkan
keadaan sistem urinaria melalui bahan kontras radio-opak. Pencitraan ini dapat
menunjukkan adanya kelainan anatomi dan kelainan fungsi ginjal.
3. USG (Ultrasonografi)

Pemeriksaan pada ginjal dipergunakan: (1) untuk mendeteksi keberadaan dan


keadaan ginjal (hidronefosis, kista, massa, ataupengkerutanginjal).
Pada buli-buli, USG berguna untuk menghitung sisa urine pasca miksi dan
mendeteksi adanya batu atau tumor di buli-buli.
Pada kelenjar prostat, melalui pendekatan transrektal (TRUS) dipakai untuk
mencari nodul pada keganasan prostat dan menentukan volume/besarnya prostat. Jika
didapatkan adanya dugaan keganasan prostat, TRUS dapat dipakai sebagai penuntun
dalam melakukan biopsi kelenjar prostat.
Pada testis, berguna untuk membedakan antara tumor testis dan hidrokel testis,
serta kadang-kadang dapat mendeteksi letak testis kriptorkid yang sulit diraba dengan
palpasi
Pada keganasan, selain untuk mengetahui adanya massa padat pada organ
primer, juga untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis pada hepar atau
kelenjar para aorta.
4. CT Scan dan MRI (Computerized Tomography Scan dan Magnetic Resonance
Imaging)

Kedua pemeriksaan ini banyak dipakai dalam bidang onkologi untuk


menentukan penderajatan (staging) tumor yaitu: batas-batas tumor, invasike organ di
sekitar tumor, dan mencari adanya metastasis ke kelenjar limfe serta ke organ lain.
9,10,11

F. PENATALAKSANAAN AWAL

Terapi Konservatif :

1. Konsumsi air yang banyak hingga urin yang dikeluarkan mencapai minimal 2L per hari.
2. Mengurangi konsumsi protein hewani hingga sekitar 0,8 – 1,0 gr/KgBB/hari.
3. Diet rendah Natrium sekitar 2 – 3 gr/hari atau 80 – 100 mEq/hari.
Terapi medikamentosa

1. Diberikan obat golongan alfa blocker atau MET ( medical expulsion Therapy)
2. Diberikan obat anti nyeri.
6. Diagnosis banding!

1.URETEROLITHIASIS

DEFINISI

Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di dalam ureter. Batu ureter pada umumnya berasal
dari batu ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter terbentuk ketika konsentrasi substansi tertentu
seperti kalium, oksalat, kalium fosfat, dan asam urat meningkat. 14,15

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia. Angka kejadian penyakit ini tidak
sama di berbagai belahan bumi. Di negara-negara berkembang banyak dijumpai pasien batu buli-
buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian atas;
hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. Di Amerika Serikat 5
± 10% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1 ± 12
% penduduk menderita batu saluran kemih. 14,15

ETIOLOGI

Penyebab pembentukan batu saluran kemih berdasarkan jenis batunya, antara lain:

Batu kalsium (kalsium oksalat dan/atau kalsium fosfat):

Hiperkalsiuria

 Hiperkalsiuria idiopatik
 Hiperparatiroidisme primer
 Sarkoidosis
 Kelebihan vitamin D atau kalsium
 Asidosis tubulus ginjal tipe I

Hiperoksaluria

 Hiperoksaluria enterik
 Hiperoksaluria idiopatik
 Hiperoksaluria herediter (tipe I & II)

Hiperurikosuria

 Diet purin berlebih

Hipositraturia

 Idiopatik
 Asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap)
 Konsumsi asetazolamid
 Diare, latihan jasmani dan masukan protein tinggi

Ginjal spongiosa medular

 Volume air kemih sedikit


 Batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik)

Batu Asam Urat

 pH air kemih rendah


 Hiperurikosuria (primer dan sekunder)

Batu Struvit

 Infeksi saluran kemih dengan organism yang memproduksi urease

Batu Sistin
 Sistinuria herediter
 Batu lain seperti matriks, xantin 2.8 dihidroksadenin, ammonium urat, triamteren, silikat

Faktor resiko terbentuknya batu saluran kemih di antaranya:

 Faktor nutrisi
 Protein hewani, oksalat, sodium, sukrosa, fruktosa, dan vitamin C
 Volume masukan cairan
- Volume urine kurang dari 1 L/hari
 Kondisi sistemik
- Hiperparatiroid primer
- Asidosis tubulus renal
- Obesitas
- Hiperurikosemia
- Diabetes Mellitus
- Penyakit Crohn:
- Operasi bypass lambung
 Jenis cairan yang diminum
 Soft drink > 1 L per minggu menyebabkan pengasaman dengan asam fosfor
 Jus apel dan anggur14,15

PATOFISIOLOGI

Batu pada ureter umumnya berasal dari batu pada ginjal yang tidak terlalu besar yang turun.
Pembentukan batu biasanya dimulai di kaliks dan pelvis, kemudian dapat menyebar ke ureter dan
vesika urinaria. Dapat juga terbentuk di saluran kemih bagian bawah. Sehingga komposisinya
sama dengan batu ginjal. Batu berukuran kecil (<5mm) dapat keluar spontan sedangkan yang
berukuran lebih besar menetap dalam ureter  periureteritis dan obstruksi kronis (hidronefrosis).
14,15
GAMBARAN KLINIS

Keluhan yang disampaikan oleh pasien tergantung pada : posisi atau letak batu, besar batu.
Gerakan peristaltik ureter mencoba mendorong batu ke distal, sehingga menimbulkan kontraksi
yang kuat dan dirasakan sebagai nyeri yang hebat (kolik). Nyeri ini dapat menjalar hingga ke
perut bagian depan, perut bagian bawah, daerah inguinal, dan samapi ke kemaluan. Batu yang
terletak di sebelah distal ureter dirasakan oleh pasien sebagai nyeri pada saat kencing atau sering
kencing. Batu yang berukuran kecil (<5mm) pada umumnya dapat keluar dengan spontan
sedangkan yang lebih besar seringkali tetap berada di ureter dan menyebabkan reaksi peradangan
serta menimbulkan obstruksi kronik berupa hidroureter/hidronefrosis. 14,15

1. Nyeri
Kolik renal dan non-kolik renal merupakan 2 tipe nyeri yang berasal dari ginjal. Kolik
renal biasanya disebabkan oleh peregangan collecting system atau ureter, sedangkan non-kolik
renal disebabkan oleh distensi kapsul ginjal. Obstruksi saluran kemih merupakan mekanisme
utama penyebab kolik renal. Kolik renal tidak selalu hilang timbul seperti kolik usus atau
kandung empedu, tetapi lebih konstan. Pasien dengan batu ginjal biasanya mengalami nyeri
akibat obstruksi saluran kemih. 14,15

Gejala kolik renal akut tergantung pada lokasi batu; beberapa daerah yang dipengaruhi,
yaitu: kaliks renal, pelvis renal, ureter bagian atas dan tengah, serta ureter distal.

 Kaliks renal – nyeri tumpul pada pinggang atau punggung, dengan intensitas berat hingga
ringan. Nyeri mungkin diperparah dengan konsumsi cairan yang berlebih.
 Pelvis renal – batu pada pelvis ginjal dengan diameter > 1 cm pada umumnya
mengobstruksi ureterovesico junction, sehingga menyebabkan nyeri pada costovertebral
angle. Nyeri bervariasi dari tumpul hingga sangat tajam dan biasanya konstan, serta sulit
diacuhkan. Nyeri biasanya menjalar ke pinggang serta daerah abdomen ipsilateral bagian
atas.
 Ureter bagian atas dan tengah – nyeri bersifat tajam dan berat pada punggung atau
pinggang. Nyeri akan bertambah berat dan intermiten apabila batu bergerak semakin ke
bawah pada ureter dan menyebabkan obstruksi menetap. Batu yang menetap pada lokasi
tertentu dapat menyebabkan nyeri yang tidak terlalu berat, terutama bila obstruksi yang
ditimbulkan bersifat parsial. Nyeri pada batu ureter sering terporyeksi pada dermatom
dan daerah inervasi saraf spinalis. Nyeri batu ureter bagian atas menjalar pada daerah
lumbar dan pinggang. Batu pada ureter bagian tengah menyebabkan nyeri yang menjalar
secara kaudal dan anterior ke abdomen tengah dan bawah
 Ureter distal – batu pada ureter bagian bawah sering menyebabkan nyeri yang menjalar
pada daerah inguinal atau testis padaa pria dan labia mayor pada wanita. 14,15
2. Hematuria
3. Infeksi
4. Demam
5. Mual dan muntah14,15
DIAGNOSIS

1. Anamnesis

Nyeri perut bagian kanan bawah, nyeri pinggang, nyeri saat miksi, mual, hematuri

2. Pemeriksaan Fisik
 Inspeksi
Terlihat pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas. Pembesaran ini
mungkin karena hidronefrosis.
 Palpasi
Ditemukan nyeri tekan pada abdomen sebelah atas. Bisa kiri, kanan atau dikedua belah
daerah pinggang. Pemeriksaan bimanual dengan memakai dua tangan atau dikenal juga
dengan nama tes Ballotement. Ditemukan pembesaran ginjal yang teraba disebut
Ballotement positif.
 Perkusi
Ditemukan nyeri ketok pada sudut kostovertebra yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta
terakhir dengan tulang vertebra. 14,15
3. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
a) Urinalisis
 Makroskopik didapatkan hematuria.
 Mikroskopik ditemukan sedimen urin yang menunjukkkan adanya leukosituria, kristal-
kristal pembentuk batu.
 Pemeriksaan kimiawi ditemukan pH urin lebih dari 7,6 menunjukkan adanya
pertumbuhan kuman pemecah urea dan kemungkinan terbentuk batu fosfat. Bisa juga pH
urin lebih asam dan kemungkinan terbentuk batu asam urat.
 Pemeriksaan kultur urin menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.
 Pemeriksaan Faal Ginjal. Pemeriksaan ureum dan kreatinin adalah untuk melihat fungsi
ginjal baik atau tidak. Pemeriksaan elektrolit untuk memeriksa factor penyebab
timbulnya batu antara lain kadar kalsium, oksalat, fosfat maupun urat di dalam urin. 14,15
b) Pemeriksaan Darah Lengkap
Dapat ditemukan kadar hemoglobin yang menurun akibat terjadinya hematuria. Bisa juga
didapatkat jumlah lekosit yang meningkat akibat proses peradangan di ureter. 14,15
Radiologis
Foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya batu, apakah terjadi bendungan atau tidak.
Pada foto BNO batu yang dapat dilihat disebut sebagai batu radioopak, sedangkan batu yang
tidak tampak disebut sebagai batu radiolusen, berikut ini adalah urutan batu menurut densitasnya,
dari yang paling opak hingga yang paling bersifat radiolusen : calsium fosfat, calsium oxalat,
magnesium amonium fosfat, sistin, asam urat, xantine. 14,15

Jenis Batu Radioopasitas


Kalsium Opak
Magnesium Amonium Fosfat Semiopak
Urat/Sistin Non opak

IVP (Intravena Pielografi)


Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Juga untuk mendeteksi
adanya batu semi-opak ataupun batu non-opak yang tidak terlihat oleh foto polos abdomen. 14,15
Ultrasonografi
USG dikerjakan bila tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV yaitu pada keadaan seperti alergi
terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil. Terlihat
gambaran echoic shadow jika terdapat batu. 14,15
CT-SCAN
Tehnik CT scan adalah tehnik pemeriksaan yang paling baik untuk melihat gambaran semua
jenis batu dan juga dapat terlihat lokasi dimana terjadinya obstruksi. 14,15
PENATALAKSANAAN

Medikamentosa

Jenis Faktor Penyebab Jenis Obat / Tindakan Mekanisme Kerja Obat


Batu Timbulnya

Kalsium Hiperkalsiuri absorbtif Natrium selulosa fosfat Mengikat Ca dalam usus

Thiazide Reabsorbsi Ca di
tubulus
Orthofosfat

Sintesa vitamin D
Urine inhibitor
Hiperkalsiuri renal Thiazide Reabsorbsi Ca di
tubulus
Hiperkalsiuri resorptif Paratiroidektomi Resorpsi Ca dari tulang

Hipositraturi Potasium sitrat pH sitrat Ca urine

Hipomagnesiuri Magnesium sitrat Mg urine

Hiperuriosuri Allopurinol Urat


pH
Potasium Alkali

Hiperoksaluria Allopurinol Urat

Pyridoxin
Kalsium suplemen

MAP Infeksi Antibiotika Eradikasi infeksi,


urease inhibitor
AHA (amino hydroamic
acid)

Urat Dehidrasi Hidrasi cukup Meningkatkan pH

(pH urin turun) Potasium alkali Menurunkan Urat

Hiperurikosuri Allopurinol

ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsi)


Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980.
Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui
tindakan invasif atau pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah
dikeluarkan melalui saluran kemih. 14,15
Endourologi
1). Ureteroskopi atau uretero-renoskopi : memasukkan alat ureteroskopi guna melihat keadaan
ureter atau sistem pielokaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam
ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan ureteroskopi atau uretero-
renoskopi ini. 14,15
2). Ekstraksi Dormia : mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya dengan keranjang
Dormia.
Bedah Laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkembang. Cara
ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter. 14,15
Bedah terbuka
Ureterolitotomi : mengambil batu di ureter. 14,15
Non –medikamentosa
Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah (1) rendah protein, karena
protein memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan pH urin meningkat, (2) rendah oksalat,
(3) rendah garam karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri, dan (4) rendah puri.
14,15

KOMPLIKASI

1. Komplikasi akut : kematian, kehilangan ginjal, avulsi ureter, trauma organ pencernaan,
sepsis, trauma vaskuler, hidro atau pneumotorak, emboli paru dan urinoma, perforasi ureter,
hematom perirenal, ileus, stein strasse, infeksi luka operasi, ISK dan migrasi stent.
2. Komplikasi jangka panjang : striktur ureter, Obstruksi adalah komplikasi dari batu ginjal
yang dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis dan kemudian berlanjut dengan atau tanpa
pionefrosis yang berakhir dengan kegagalan faal ginjal yang terkena. Komplikasi lainnya
dapat terjadi saat penanganan batu dilakukan. Infeksi, termasuk didalamnya adalah
pielonefritis dan sepsis yang dapat terjadi melalui pembedahan terbuka maupun noninvasif
seperti ESWL. 14,15

PENCEGAHAN

Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan selanjutnya yang tidak kalah
pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran
kemih rata-rata 7% pertahun atau kurang lebih 50% dalam 10 tahun.
Pencegahan yang dilakukan adalah berdasar atas kandungan unsure yang menyusun batu
saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu. Pada umumnya pencegahan ini berupa:
1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakanproduksi urin sebanyak 2-3
liter perhari.
2. Diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu.
3. Aktivitas harian yang cukup
4. Pemberian medikamentosa. 14,15
PROGNOSIS
Prognosis batu ginjal tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu, dan adanya
infeksi serta obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu, makin buruk prognosisnya. Letak batu
yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi. Makin besar
kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor obstruksi akan dapat menyebabkan
penurunan fungsi ginjal. 14,15

Pada pasien dengan batu yang ditangani dengan ESWL, 60% dinyatakan bebas dari batu,
sisanya masih memerlukan perawatan ulang karena masih ada sisa fragmen batu dalam saluran
kemihnya. Pada pasien yang ditangani dengan PNL, 80% dinyatakan bebas dari batu, namun
hasil yang baik ditentukan pula oleh pengalaman operator. 14,15

2.NEFROLITHIASIS

Definisi

Batu ginjal adalah massa keras seperti batu yang berada di ginjal dan salurannya
dan dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih, atau infeksi.

Sinonim

Nephrolithiasis, kidney stones, renal stones, urinary stones, urolithiasis,


ureterolithiasis, kidney calculi, renal calculi, ureteral calculi, urinary calculi, acute
nephrolithiasis, urinary tract stone disease. 16

Etiologi

Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan


aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan
lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologis terdapat beberapa
faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu
adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor
ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 16

Faktor intrinsik itu antara lain adalah :

1. Herediter (keturunan)
Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.

2. Umur
Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.

3. Jenis kelamin
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien
perempuan.

Beberapa faktor ekstrinsik diantaranya adalah:

1. Geografi
Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih
tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagi daerah stone belt (sabuk batu),
sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu
sauran kemih.

2. Iklim dan temperatur


3. Asupan air
Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi,
dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.

4. Diet
Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit batu saluran
kemih.

5. Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau
kurang aktivitas atau sedentary life.
Banyak teori yang menerangkan proses pembentukan batu di saluran kemih tetapi hingga kini
masih belum jelas teori mana yang paling benar. Beberapa teori pembentukan batu adalah :

1. Teori Nukleasi : Batu terbentuk didalam urine karena adanya inti batu (nukleus).
Partikel-partikel yang berada dalam larutan yang kelewat jenuh (supersaturated) akan
mengendap didalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti batu dapat
berupa kristal atau benda asing di saluran kemih.
2. Teori Matriks : Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin,globulin
dan mukoprotein) merupakan kerangka tempat diendapkannya kristal-kristal batu.
3. Teori Penghambat Kristalisasi : Urine orang normal mengandung zat-zat
penghambat pembentuk kristal, antara lain : magnesium, sitrat, pirofosfat,
mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat itu
berkurang, akan memudahkan terbentuknya batu didalam saluran kemih. 16
Epidemiologi

Penelitian epidemiologik memberikan kesan seakan-akan penyakit batu


mempunyai hubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan berubah sesuai
dengan perkembangan kehidupan suatu bangsa. Berdasarkan pembandingan data
penyakit batu saluran kemih di berbagai negara, dapat disimpulkan bahwa di negara
yang mulai berkembang terdapat banyak batu saluran kemih bagian bawah, terutama
terdapat di kalangan anak. 17

Di negara yang sedang berkembang, insidensi batu saluran kemih relatif


rendah, baik dari batu saluran kemih bagian bawah maupun batu saluran kemih bagian
atas. Di negara yang telah berkembang, terdapat banyak batu saluran kemih bagian atas,
terutama di kalangan orang dewasa. Pada suku bangsa tertentu, penyakit batu saluran
kemih sangat jarang, misalnya suku bangsa Bantu di Afrika Selatan.17

Satu dari 20 orang menderita batu ginjal. Pria:wanita = 3:1. Puncak kejadian di
usia 30-60 tahun atau 20-49 tahun. Prevalensi di USA sekitar 12% untuk pria dan 7%
untuk wanita. Batu struvite lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria. 16,17,18
INSIDENSI UROLITHIASIS

PEMBENTUK BATU India USA Japan UK

Calcium Oxalate Murni 86.1 33 17.4 39.4

Calcium Oxalate bercampur 4.9 34 50.8 20.2


Phosphate

Magnesium Ammonium 2.7 15 17.4 15.4


Phosphate (Struvite )

Asam Urat 1.2 8.0 4.4 8.0

Cystine 0.4 3.0 1.0 2.8

Patogenesis

Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama pada
tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (stasis urine), yaitu
pada sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises
(stenosis uretero-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada
hyperplasia prostat benigna, stiktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-
keadaan yang memudahkan terjadinya pembentukan batu. 18

Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik maupun
anorganik yang terlarut dalam urine. Kristal-kristal tersebut tetap berada dalam
keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada keadaan-keadaan
tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal yang saling
mengadakan presipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang kemudian akan
mengadakan agregasi dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang
lebih besar. 18

Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum cukup
mampu membuntu saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel pada epitel
saluran kemih (membentuk retensi kristal), dan dari sini bahan-bahan lain
diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk
menyumbat saluran kemih. Kondisi metastabel dipengaruhi oleh suhu, pH larutan,
adanya koloid di dalam urine, laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya
korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu.,18

Lebih dari 80% batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang
berikatan dengan oksalat maupun dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat
dan kalsium fosfat sedangkan sisanya berasal dari batu asam urat, batu magnesium
ammonium fosfat (batu infeksi), batu xanthyn, batu sistein dan batu jenis lainnya. 18

Batu struvit

Batu struvit, disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Batu dapat tumbuh menjadi lebih
besar membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal.
Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan kuman pemecah urea atau urea
splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi
bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak, seperti pada reaksi:
CO(NH2)2+H2O2NH3+CO2. 18
Sekitar 75% kasus batu staghorn, didapatkan komposisi batunya adalah
matriks struvit-karbonat-apatit atau disebut juga batu struvit atau batu triple
phosphate, batu fosfat, batu infeksi, atau batu urease, walaupun dapat pula
terbentuk dari campuran antara kalsium oksalat dan kalsium fosfat. 18

suasana basa ini yang memudahkan garam-garam magnesium,


ammonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amoniun fosfat
(MAP) atau (Mg NH4PO4.H2O) dan karbonat apatit (Ca10[PO4]6CO3. Karena
terdiri atas 3 kation Ca++ Mg++ dan NH4+) batu jenis ini dikenal dengan nama batu
triple-phosphate. Kuman-kuman yang termasuk pemecah urea diantaranya adalah
Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobacter, Pseudomonas, dan Stafilokokus.
Meskipun E.coli banyak menyebabkan infeksi saluran kemih, namun kuman ini
bukan termasuk bakteri pemecah urea. 18

Batu Kalsium

Batu jenis ini paling banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70-80% dari
seluruh batu saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalium oksalat,
kalium fosfat, atau campuran dari kedua unsur tersebut

Factor terjadinya batu kalsium adalah:

1. hiperkalsiuri, yaitu kadar kalsium di dalam urin lebih besar dari 250-300
mg/24 jam. Menurut Pak (1976) terdapat tiga macam penyebab terjadinya
hiperkalsiuri, antara lain:
a. hiperkalsiuri absortif yang terjadi karena adanya peningkatan absorbsi
kalsium melalui usus.
b. hiperkalsiuri renal terjadi karena adanya gangguan kemampuan
reabsorbsi kalsium melalui tubulus ginjal.
c. hiperkalsiuri resorbtif terjadi karena adanya peningkatan resorpsi
kalsium tulang yang banyak terjadi pada hiperparatiroidisme primer
atau tumor paratiroid.
2. Hiperoksaluri
3. hiperurikosuri
4. hipositraturia
5. hipomagnesiuria
Manifestasi Klinis

Batu pada kaliks ginjal memberikan rada nyeri ringan sampai berat karena
distensi dari kapsul ginjal. Begitu juga baru pada pelvis renalis, dapat bermanifestasi
tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya gejala batu saluran kemih merupakan
akibat obstruksi aliran kemih dan infeksi. Keluhan yang disampaikan oleh pasien
tergantung pada posisi atau letak batu, besar batu, dan penyulit yang telah terjadi. 18

Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien adalah nyeri pada pinggang. Nyeri
ini mungkin bisa merupakan nyeri kolik ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena
aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk
mengeluarkan batu dari saluran kemih. Peningkatan peristaltik itu menyebabkan tekanan
intraluminalnya meningkat sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf yang
memberikan sensasi nyeri. 18

Nyeri ini disebabkan oleh karena adanya batu yang menyumbat saluran kemih,
biasanya pada pertemuan pelvis ren dengan ureter (ureteropelvic junction), dan ureter.
Nyeri bersifat tajam dan episodik di daerah pinggang (flank) yang sering menjalar ke
perut, atau lipat paha, bahkan pada batu ureter distal sering ke kemaluan. Mual dan
muntah sering menyertai keadaan ini.18

Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi
hidronefrosis atau infeksi pada ginjal. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri
ketok pada daerah kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis,
terlihat tanda-tanda gagal ginjal, retensi urine, dan jika disertai infeksi didapatkan
demam-menggigil. 18

Diagnosis

Selain pemeriksaan melalui anamnesis dan jasmani untuk menegakkan diagnosis,


penyakit batu perlu ditunjang dengan pemeriksaan radiologik, laboratorium dan
penunjang lain untuk menentukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi
dan gangguan faal ginjal. Secara radiologik, batu dapat radioopak atau radiolusen. Sifat
radioopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga jenis
batu yang dihadapi. 18

Batu kalsium akan memberikan bayangan opak, batu magnesium amonium fosfat
akan memberikan bayangan semiopak, sedangkan batu asam urat murni akan
memberikan bayangan radiolusen. Batu staghorn dapat diidentifikasi dengan foto polos
abdomen karena komposisinya yang berupa magnesium ammonium sulfat atau campuran
antara kalsium oksalat dan kalsium fosfat sehingga akan nampak bayangan radioopak. 18

Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat


menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menentukan
sebab terjadinya batu.

Pemeriksaan renogram berguna untuk menentukan faal kedua ginjal secara


terpisah pada batu ginjal bilateral atau bila kedua ureter tersumbat total. Cara ini dipakai
untuk memastikan ginjal yang masih mempunyai sisa faal yang cukup sebagai dasar
untuk melakukan tindak bedah pada ginjal yang sakit. Pemeriksaan ultrasonografi dapat
untuk melihat semua jenis batu, menentukan ruang dan lumen saluran kemih, serta dapat
digunakan untuk menentukan posisi batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah
tertingggalnya batu. 18
Diagnosis Banding

Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang lebih lanjut,
misalnya distensi usus dan pionefrosis dengan demam. Oleh karena itu, jika dicurigai
terjadi kolik ureter maupun ginjal, khususnya yang kanan, perlu dipertimbangkan
kemungkinan kolik saluran cerna, kandung empedu, atau apendisitis akut. Selain itu
pada perempuan perlu juga dipertimbangkan adneksitis. 18

Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan


apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu, perlu juga diingat bahwa batu
saluran kemih yang bertahun-tahun dapat menyebabkan terjadinya tumor yang
umumnya karsinoma epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi. Pada batu ginjal
dengan hidronefrosis, perlu dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari
jenis ginjal polikistik hingga tumor Grawitz. 18

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk penegakkan diagnosis


dan rencana terapi antara lain:

1. Foto Polos Abdomen


Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya
batu radio opak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium
fosfat bersifat radio opak dan paling sering dijumpai diantara batu lain, sedangkan
batu asam urat bersifat non opak (radio lusen). Urutan radioopasitas beberapa batu
saluran kemih seperti pada tabel 1.
Gambar : Foto polos Abdomen menunjukkan gambaran bayangan radio-opaque pada
renalis dextra dan cavum pelvis

Tabel 1. Urutan Radioopasitas Beberapa Jenis Batu Saluran Kemih

Jenis Batu Radioopasitas

Kalsium Opak

MAP Semiopak

Urat/Sistin Non opak

2. Pielografi Intra Vena (PIV)


Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu
PIV dapat mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun batu non opak yang tidak
dapat terlihat oleh foto polos abdomen. Jika PIV belum dapat menjelaskan
keadaan sistem saluran kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal, sebagai
penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograd.
Gambar: Pielografi Intra Vena (PIV)

3. Ultrasonografi
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV, yaitu
pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun,
dan pada wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan USG dapat menilai adanya batu
di ginjal atau di buli-buli (yang ditunjukkan sebagai echoic shadow),
hidronefrosis, pionefrosis, atau pengkerutan ginjal.
Gambar : Ultrasonografi

4. Pemeriksaan Mikroskopik Urin, untuk mencari hematuria dan Kristal.


5. Renogram, dapat diindikasikan pada batu staghorn untuk menilai fungsi ginjal.
6. Analisis batu, untuk mengetahui asal terbentuknya.
7. Kultur urin, untuk mecari adanya infeksi sekunder.
8. DPL, ureum, kreatinin, elektrolit, kalsium, fosfat, urat, protein, fosfatase alkali
serum.
Penatalaksanaan

Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih secepatnya harus
dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk
melakukan tindakan atau terapi pada batu saluran kemih adalah jika batu telah
menimbulkan obstruksi, infeksi, atau harus diambil karena suatu indikasi sosial.
Obstruksi karena batu saluran kemih yang telah menimbulkan hidroureter atau
hidronefrosis dan batu yang sudah menimbulkan infeksi saluran kemih, harus segera
dikeluarkan. 18

Kadang kala batu saluran kemih tidak menimbulkan penyulit seperti diatas,
namun diderita oleh seorang yang karena pekerjaannya (misalkan batu yang diderita
oleh seorang pilot pesawat terbang) memiliki resiko tinggi dapat menimbulkan
sumbatan saluran kemih pada saat yang bersangkutan sedang menjalankan profesinya
dalam hal ini batu harus dikeluarkan dari saluran kemih. Pilihan terapi antara lain

1. Terapi Konservatif
Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter <5 mm. Seperti disebutkan
sebelumnya, batu ureter <5 mm bisa keluar spontan. Terapi bertujuan untuk
mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan pemberian diuretikum, berupa :

b. Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari


c. α - blocker
d. NSAID
Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu syarat lain
untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya infeksi dan
obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan observasi bukan merupakan
pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-pasien tertentu
(misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi ginjal ) tidak ada
toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan intervensi. 18

2. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)


Berbagai tipe mesin ESWL bisa didapatkan saat ini. Walau prinsip kerjanya
semua sama, terdapat perbedaan yang nyata antara mesin generasi lama dan baru,
dalam terapi batu ureter. Pada generasi baru titik fokusnya lebih sempit dan sudah
dilengkapi dengan flouroskopi, sehingga memudahkan dalam pengaturan target/posisi
tembak untuk batu ureter. Hal ini yang tidak terdapat pada mesin generasi lama,
sehingga pemanfaatannya untuk terapi batu ureter sangat terbatas. Meskipun
demikian mesin generasi baru ini juga punya kelemahan yaitu kekuatan tembaknya
tidak sekuat yang lama, sehingga untuk batu yang keras perlu beberapa kali tindakan.
18
Dengan ESWL sebagian besar pasien tidak perlu dibius, hanya diberi obat
penangkal nyeri. Pasien akan berbaring di suatu alat dan akan dikenakan gelombang
kejut untuk memecahkan batunya Bahkan pada ESWL generasi terakhir pasien bisa
dioperasi dari ruangan terpisah. Jadi, begitu lokasi ginjal sudah ditemukan, dokter
hanya menekan tombol dan ESWL di ruang operasi akan bergerak. Posisi pasien
sendiri bisa telentang atau telungkup sesuai posisi batu ginjal. Batu ginjal yang sudah
pecah akan keluar bersama air seni. Biasanya pasien tidak perlu dirawat dan dapat
langsung pulang. 18
ESWL ditemukan di Jerman dan dikembangkan di Perancis. Pada Tahun
1971, Haeusler dan Kiefer memulai uji coba secara in-vitro penghancuran batu ginjal
menggunakan gelombang kejut. Tahun 1974, secara resmi pemerintah Jerman
memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL. Kemudian pada awal tahun 1980,
pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich menggunakan
mesin Dornier Lithotripter HMI. Kemudian berbagai penelitian lanjutan dilakukan
secara intensif dengan in-vivo maupun in-vitro. Barulah mulai tahun 1983, ESWL
secara resmi diterapkan di Rumah Sakit di Jerman. Di Indonesia, sejarah ESWL
dimulai tahun 1987 oleh Prof.Djoko Raharjo di Rumah Sakit Pertamina, Jakarta.
Sekarang, alat generasi terbaru Perancis ini sudah dimiliki beberapa rumah sakit besar
di Indonesia seperti Rumah Sakit Advent Bandung dan Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo. 18
Pembangkit (generator) gelombang kejut dalam ESWL ada tiga jenis yaitu
elektrohidrolik, piezoelektrik dan elektromagnetik. Masing-masing generator
mempunyai cara kerja yang berbeda, tapi sama-sama menggunakan air atau gelatin
sebagai medium untuk merambatkan gelombang kejut. Air dan gelatin mempunyai
sifat akustik paling mendekati sifat akustik tubuh sehingga tidak akan menimbulkan
rasa sakit pada saat gelombang kejut masuk tubuh. 18
ESWL merupakan alat pemecah batu ginjal dengan menggunakan
gelombang kejut antara 15-22 kilowatt. Meskipun hampir semua jenis dan ukuran
batu ginjal dapat dipecahkan oleh ESWL, masih harus ditinjau efektivitas dan
efisiensi dari alat ini. ESWL hanya sesuai untuk menghancurkan batu ginjal dengan
ukuran kurang dari 3 cm serta terletak di ginjal atau saluran kemih antara ginjal dan
kandung kemih (kecuali yang terhalang oleh tulang panggul). Hal laim yang perlu
diperhatikan adalah jenis batu apakah bisa dipecahkan oleh ESWL atau tidak. Batu
yang keras (misalnya kalsium oksalat monohidrat) sulit pecah dan perlu beberapa kali
tindakan. ESWL tidak boleh digunakan oleh penderita darah tinggi, kencing manis,
gangguan pembekuan darah dan fungsi ginjal, wanita hamil dan anak-anak, serta
berat badan berlebih (obesitas) 18
Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan anak-
anak juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada kemungkinan terjadi
kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada data yang valid, untuk wanita di
bawah 40 tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-jelasnya
3. Endourologi
Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan
batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya
dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih.
Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan).
Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai energi
hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan energi laser.

Beberapa tindakan endourologi antara lain:

a. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) yaitu mengeluarkan batu yang


berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke
sistem kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau
dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. 18
PNL yang berkembang sejak dekade 1980-an secara teoritis dapat
digunakan sebagai terapi semua batu ureter. Tapi dalam prakteknya sebagian
besar telah diambil alih oleh URS dan ESWL. Meskipun demikian untuk batu
ureter proksimal yang besar dan melekat masih ada tempat untuk PNL. Prinsip
dari PNL adalah membuat akses ke kalik atau pielum secara perkutan.
Kemudian melalui akses tersebut kita masukkan nefroskop rigid atau
fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya batu ureter diambil secara utuh
atau dipecah dulu. 18
Keuntungan dari PNL, bila batu kelihatan, hampir pasti dapat
diambil atau dihancurkan; fragmen dapat diambil semua karena ureter bisa
dilihat dengan jelas. Prosesnya berlangsung cepat dan dengan segera dapat
diketahui berhasil atau tidak. Kelemahannya adalah PNL perlu keterampilan
khusus bagi ahli urologi. Sebagian besar pusat pendidikan lebih banyak
menekankan pada URS dan ESWL dibanding PNL.

b. Litotripsi (untuk memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan
alat pemecah batu/litotriptor ke dalam buli-buli) 18
c. ureteroskopi atau uretero-renoskopi. Keterbatasan URS adalah tidak bisa
untuk ekstraksi langsung batu ureter yang besar, sehingga perlu alat pemecah
batu seperti yang disebutkan di atas. Pilihan untuk menggunakan jenis
pemecah batu tertentu, tergantung pada pengalaman masing-masing operator
dan ketersediaan alat tersebut. 18
d. ekstraksi Dormia (mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat
keranjang Dormia). 18
Pengembangan ureteroskopi sejak tahun 1980 an telah mengubah secara
dramatis terapi batu ureter. Kombinasi ureteroskopi dengan pemecah batu ultrasound,
EHL, laser dan pneumatik telah sukses dalam memecah batu ureter. Juga batu ureter
dapat diekstraksi langsung dengan tuntunan URS. Dikembangkannya semirigid URS
dan fleksibel URS telah menambah cakupan penggunaan URS untuk terapi batu
ureter. 18

4. Bedah Terbuka
Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk
tindakan-tindakan endourologi, laparoskopi, maupun ESWL, pengambilan batu masih
dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain adalah:
pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal, dan
ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien harus menjalani tindakan
nefrektomi atau pengambilan ginjal karena ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi
nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis, atau mengalami pengkerutan
akibat batu saluran kemih yang menimbulkan obstruksi atau infeksi yang menahun. 18
Beberapa variasi operasi terbuka untuk batu ureter mungkin masih
dilakukan. Tergantung pada anatomi dan posisi batu, ureterolitotomi bisa dilakukan
lewat insisi pada flank, dorsal atau anterior. Meskipun demikian dewasa ini operasi
terbuka pada batu ureter kurang lebih tinggal 1 -2 persen saja, terutama pada
penderita-penderita dengan kelainan anatomi atau ukuran batu ureter yang besar. 18

5. Pemasangan Stent
Meskipun bukan pilihan terapi utama, pemasangan stent ureter terkadang
memegang peranan penting sebagai tindakan tambahan dalam penanganan batu
ureter. Misalnya pada penderita sepsis yang disertai tanda-tanda obstruksi, pemakaian
stent sangat perlu. Juga pada batu ureter yang melekat (impacted).

Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan selanjutnya yang tidak
kalah pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan. Angka
kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7% per tahun atau kurang lebih 50% dalam
10 tahun. 18

Pencegahan

Pencegahan yang dilakukan adalah berdasarkan atas kandungan unsur yang


menyusun batu saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu. Pada umumnya
pencegahan itu berupa :

1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakan produksi urin 2-3
liter per hari.
2. Diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu.
3. Aktivitas harian yang cukup.
4. Pemberian medikamentosa.
Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah:

1. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan
menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.
2. Rendah oksalat.
3. Rendah garam, karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri.
4. Rendah purin.
Diet rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperkalsiuri
tipe II. 18

Komplikasi

Dibedakan komplikasi akut dan komplikasi jangka panjang. Komplikasi akut


yang sangat diperhatikan oleh penderita adalah kematian, kehilangan ginjal, kebutuhan
transfusi dan tambahan intervensi sekunder yang tidak direncanakan. Data kematian,
kehilangan ginjal dan kebutuhan transfusi pada tindakan batu ureter memiliki risiko
sangat rendah. Komplikasi akut dapat dibagi menjadi yang signifikan dan kurang
signifikan. Yang termasuk komplikasi signifikan adalah avulsi ureter, trauma organ
pencernaan, sepsis, trauma vaskuler, hidro atau pneumotorak, emboli paru dan urinoma.
Sedang yang termasuk kurang signifikan perforasi ureter, hematom perirenal, ileus,
stein strasse, infeksi luka operasi, ISK dan migrasi stent. 18

Komplikasi jangka panjang adalah striktur ureter. Striktur tidak hanya


disebabkan oleh intervensi, tetapi juga dipicu oleh reaksi inflamasi dari batu, terutama
yang melekat. Angka kejadian striktur kemungkinan lebih besar dari yang ditemukan
karena secara klinis tidak tampak dan sebagian besar penderita tidak dilakukan evaluasi
radiografi (IVP) pasca operasi. 18

Obstruksi adalah komplikasi dari batu ginjal yang dapat menyebabkan


terjadinya hidronefrosis dan kemudian berlanjut dengan atau tanpa pionefrosis yang
berakhir dengan kegagalan faal ginjal yang terkena. Komplikasi lainnya dapat terjadi
saat penanganan batu dilakukan. Infeksi, termasuk didalamnya adalah pielonefritis dan
sepsis yang dapat terjadi melalui pembedahan terbuka maupun noninvasif seperti
ESWL. Biasanya infeksi terjadi sesaat setelah dilakukannya PNL, atau pada beberapa
saat setelah dilakukannya ESWL saat pecahan batu lewat dan obstruksi terjadi. Cidera
pada organ-organ terdekat seperti lien, hepar, kolon dan paru serta perforasi pelvis
renalis juga dapat terjadi saat dilakukan PNL, visualisasi yang adekuat, penanganan
yang hati-hati, irigasi serta drainase yang cukup dapat menurunkan resiko terjadinya
komplikasi ini. 18
Pada batu ginjal nonstaghorn, komplikasi berupa kehilangan darah, demam,
dan terapi nyeri yang diperlukan selama dan sesudah prosedur lebih sedikit dan berbeda
secara bermakna pada ESWL dibandingkan dengan PNL. Demikian pula ESWL dapat
dilakukan dengan rawat jalan atau perawatan yang lebih singkat dibandingkan PNL.14

Komplikasi akut meliputi transfusi, kematian, dan komplikasi keseluruhan.


Dari meta-analisis, kebutuhan transfusi pada PNL dan kombinasi terapi sama (< 20%).
Kebutuhan transfusi pada ESWL sangat rendah kecuali pada hematom perirenal yang
besar. Kebutuhan transfusi pada operasi terbuka mencapai 25-50%. Mortalitas akibat
tindakan jarang, namun dapat dijumpai, khususnya pada pasien dengan komorbiditas
atau mengalami sepsis dan komplikasi akut lainnya. Dari data yang ada di pusat urologi
di Indonesia, risiko kematian pada operasi terbuka kurang dari 1%.18

Komplikasi ESWL meliputi kolik renal (10,1%), demam (8,5%), urosepsis


(1,1%) dan steinstrasse (1,1%). Hematom ginjal terjadi akibat trauma parietal dan
viseral. Hasil studi pada hewan tidak menunjukkan adanya kelainan lanjut yang berarti.
Dalam evaluasi jangka pendek pada anak pasca ESWL, dijumpai adanya perubahan
fungsi tubular yang bersifat sementara yang kembali normal setelah 15 hari. Belum ada
data mengenai efek jangka panjang pasca ESWL pada anak. 18

Komplikasi pasca PNL meliputi demam (46,8%) dan hematuria yang


memerlukan transfusi (21%). Konversi ke operasi terbuka pada 4,8% kasus akibat
perdarahan intraoperatif, dan 6,4% mengalami ekstravasasi urin. Pada satu kasus
dilaporkan terjadi hidrothoraks pasca PNL. Komplikasi operasi terbuka meliputi
leakage urin (9%), infeksi luka (6,1%), demam (24,1%), dan perdarahan pascaoperasi
(1,2%). Pedoman penatalaksanaan batu ginjal pada anak adalah dengan ESWL
monoterapi, PNL, atau operasi terbuka. 18

Prognosis

Prognosis batu ginjal tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu, dan
adanya infeksi serta obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu, makin buruk
prognosisnya. Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah
terjadinya infeksi. Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor
obstruksi akan dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal. 18

Pada pasien dengan batu yang ditangani dengan ESWL, 60% dinyatakan
bebas dari batu, sisanya masih memerlukan perawatan ulang karena masih ada sisa
fragmen batu dalam saluran kemihnya. Pada pasien yang ditangani dengan PNL, 80%
dinyatakan bebas dari batu, namun hasil yang baik ditentukan pula oleh pengalaman
operator. 18

3.APPENDISITIS

DEFINISI

Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan
dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan
penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi.

Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika
umbai cacing yang terinfeksi hancur. Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks
vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendiks disebut juga
umbai cacing. Istilah usus buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang
tepat, karena yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum. Sampai saat ini belum
diketahui secara pasti apa fungsi apendiks sebenarnya. Namun demikian, organ ini sering sekali
menimbulkan masalah kesehatan. 12,13

Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung panjang dan sempit. Panjangnya kira-
kira 10 cm (kisaran 3-15cm) dan berpangkal di caecum. Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml
per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya dialirkan ke
caecum. Adanya hambatan dalam pengaliran tersebut, tampaknya merupakan salah satu
penyebab timbulnya appendisitis. Di dalam apendiks juga terdapat immunoglobulin sekretoal
yang merupakan zat pelindung efektif terhadap infeksi (berperan dalam sistem imun). Dan
immunoglobulin yang banyak terdapat di dalam apendiks adalah IgA. Namun demikian, adanya
pengangkatan terhadap apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh. Ini dikarenakan jumlah
jaringan limfe yang terdapat pada apendiks kecil sekali bila dibandingkan dengan yang ada pada
saluran cerna lain. Apendisitis dapat mengenai semua umur, baik laki-laki maupun perempuan.
Namun lebih sering menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun. Tipe apendisitis:

Apendisitis akut

Gejala apendisitis akut adalah demam, mual-muntah, penurunan nafsu makan, nyeri
sekitar pusar yang kemudian terlokalisasi di perut kanan bawah, nyeri bertambah untuk berjalan,
namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang,
atau mual-muntah saja. 12,13

Apendisitis kronik

Gejala apendisitis kronis sedikit mirip dengan sakit asam lambung dimana terjadi nyeri
samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali
disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut
kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut. 12,13

Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak apendiks itu sendiri
terhadap usus besar, apabila ujung apendiks menyentuh saluran kemih, nyerinya akan sama
dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi
apendiks ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada
posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik. 12,13

ETIOLOGI

Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi ini
biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan
limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh, dan cacing askaris dapat pula
menyebabkan terjadinya sumbatan. Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah
disebutkan di atas, fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang
paling sering terjadi. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi
mukosa apendiks oleh parasit E. Hystolitica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peranan
kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya
penyakit apendisitis. Tinja yang keras dapat menyebabkan terjadinya konstipasi. Kemudian
konstipasi akan menyebabkan meningkatnya tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua
ini akan mempermudah timbulnya apendisiti. 12,13

PATOGENESIS

Patologi apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh


lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus setiap harinya.
Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks ke caecum menjadi
terhambat. Makin lama mukus makin bertambah banyak dan kemudian terbentuklah bendungan
mukus di dalam lumen. Namun karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal
tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan timbulnya
edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal
yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Jika sekresi mukus terus
berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding apendiks. Peradangan
yang timbul pun semakin meluas dan mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan
nyeri di daerah perut kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendicitis supuratif akut. Bila
kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding apendiks yang disusul dengan
terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan apendisitis ganggrenosa. Jika dinding apendiks
yang telah mengalami ganggren ini pecah, itu berarti apendisitis berada dalam keadaan perforasi.
Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan ini.
Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus halus, sehingga terbentuk
massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak
terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikulerakan menjadi tenang dan
selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. Pada anak-anak dengan omentum yang lebih
pendek, apendiks yang lebih panjang, dan dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan
tubuh yang masih kurang, memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua,
perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah. Apendiks yang pernah
meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut. Jaringan
ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan tersebut
dapat kembali menimbulkan keluhan pada perut kanan bawah. Pada suatu saat organ ini dapat
mengalami peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi. 12,13

MANIFESTASI KLINIS

Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar
(nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini
biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan
menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik
Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri
somatik setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap
berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai
dengan demam derajat rendah sekitar 37,5-38,5 derajat celcius. 12,13

Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari
apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang.Berikut gejala
yang timbul tersebut. 12,13

Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum),
tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa
nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan,
bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor
yang menegang dari dorsal.Bila apendiks terletak di rongga pelvis. Bila apendiks terletak di
dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum,
sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-
ulang (diare). Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi
peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya. Gejala apendisitis terkadang
tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak
ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi.
Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.Pada anak-anak.
12,13

Gejala awalnya sering menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan
rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntah-muntah dan anak menjadi lemah
dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi.
Begitupun pada bayi, 80-90% apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.Pada
lansia.Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru
dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi. Pada wanita Gejala apendisitis sering dikacaukan
dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital
(proses ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita
hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah,
dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada
kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak
dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. 12,13

PEMERIKSAAN

Pemeriksaan fisik

Inspeksi :pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada
pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut. 12,13

Palpasi : pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan
dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari
apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini
disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga
akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). 12,13
Pemeriksaan colok dubur : pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk menentukan
letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa
nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis.Pemeriksaan ini
merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika. 12,13

Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui
letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat
hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan
ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut
akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi
sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator
internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.
Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika. 12,13

Pemeriksaan penunjang

Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada
pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara10.000-20.000/ml (leukositosis)
dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. 12,13

Radiologi : + GAMBAR terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan
USG ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks.
Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit
serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. 12,13
Gambar appendicogram

Tampak lumen <±5 mm (sempit)

Gambar USG

Keadaan appendiks yang perforasi ditandai dengan tebal dinding appendiks yang asimentris,
cairan bebas di intraperitoneal dan abses tunggal

DIAGNOSIS

Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis
masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi pada
perempuan dibanding laki-laki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama yang
masih muda sering mengalami gangguan yang mirip apendisitis. Keluhan itu berasal dari
genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik
lain.Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis meragukan, sebaiknya dilakukan
observasi penderita di rumah sakit dengan pengamatan setiap 1-2 jam. Foto barium kurang
dapat dipercaya. Ultrasonografi dan laparoskopi bisa meningkatkan akurasi diagnosis pada kasus
yang meragukan. 12,13
TATALAKSANA

Bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat adalah
segera dilakukan apendiktomi. Apendektomi dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu cara terbuka
dan cara laparoskopi. Apabila apendisitis baru diketahui setelah terbentuk massa periapendikuler,
maka tindakan yang pertama kali harus dilakukan adalah pemberian/terapi antibiotik kombinasi
terhadap penderita. Antibiotik ini merupakan antibiotik yang aktif terhadap kuman aerob dan
anaerob. Setelah gejala membaik, yaitu sekitar 6-8 minggu,barulah apendektomi dapat
dilakukan. Jika gejala berlanjut, yang ditandai dengan terbentuknya abses, maka dianjurkan
melakukan drainase dan sekitar 6-8 minggu kemudian dilakukan apendisektomi. Namun,
apabila ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan
laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi antibiotik,
maka dapat dipertimbangkan untuk membatalkan tindakan bedah. 12,13

KOMPLIKASI
Perforasi usus,peritonitis umum,abses appendiks,tromboflbitis supuratif sistem portal,abses
suprenikus,sepsis dan obstruksi usus. 12,13

PROGNOSIS
Tingkat mortalitas dan morbiditas sangat kecil dengan diagnosis yang akuran serta
pembedahan.Tingkat ortalitas keseluran berkisaran antara 0,2- 0,8% dan di sebabkan oleh
komplikasi penyakit dari pada intervensi bedah.Pada anak angka ini berkisaran antara 0.1-
1%,sedangkan pasien diatas 70 tahun angkat ini meningkat diatas 20% terutama karna
keterlambatan diagnosis dan terapi. 12,13
Perspektif Islam

Allah berfirman menceritakan kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam,

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” [QS Asy Syu’ara: 80]

1. ‫ي ْش ِفي ِْن فهو م ِرضْت ِإذا و‬

Di surat Al An’am (ayat: 17), “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu,
maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan
kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

Maka obat dan dokter hanyalah cara kesembuhan, sedangkan kesembuhan hanya datang dari
Allah. Karena Dia sendiri menyatakan demikian, “Dialah yang menciptakan segala sesuatu.”
Semujarab apapun obat dan sesepesialis dokter itu, namun jika Allah tidak menghendaki
kesembuhan, kesembuhan itu juga tidak akan didapat.
DAFTAR PUSTAKA

1. Djojoningrat D, Rani HAA, Daldiyono, Syam AF. Pemeriksaan Fisik Abdomen. Dalam :
Setiati S, Nafrialdi, Alwi I, Syam AF, dan Simadibrata M. Anamnesis & Pemeriksaan
Fisis Komprehensif. Interna Publishing. Jakarta. 2013.
2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Edisi III. Balai penerbit FK UI : Jakarta.2013
3. Ahmad, Palinrungi. Ilmu Bedah Urologi Gambaran Klinik Penyaki-penyakit dan
Kelainan Traktus Urogenitalia.Makassar:Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
2012.hal.26-30
4. Macfarlane. T, Michael. Genitourinary Painin :Urology.Ed.4th .California: Lippincott
Williams & Wilkins.2006.p.Ch7
5. Golzari S.E, Soleimanpour H, Rahmani F, et.al. Therapeutic approaches for renal colic in
the emergency department : A review article. Anesth Pain Med.2014 February.
6. Sabiston, David.C. 1995. Abdomen Akut. Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC. Halaman 507
7. Tanto, Chris. 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Ed.4. Jakarta : Media Aesculapius.
Halaman 213, 215, 277, 278, 604, 670.
8. Purnomo, Basuki. B. 2003. Dasar- Dasar Urologi. Jakarta : Sagung Seto. Halaman 51,
62, 63.
9. Purnomo, Basuki B. 2007, Dasar-Dasar Urologi. Edisi 2. Jakarta:SagungSeto. Halaman
15-41

10. Irawanto, Eko. 2017. Buku Manual Keterampilan Klinik Topik Keterampilan
Pemeriksaan Kulit .Kementrian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Universitas
Sebelas Maret Fakultas Kedokteran. Halaman 15 -37

11. Sarwono, J., dkk. 2014. C-Reactive Protein dan Soluble Tumor Necrosis Factor
Receptor-1 pada pasien Hemodialisis yang mengalami Aterosklerosis. Jurnal Penyakit
Dalam Indonesia. Vol. 1, No.2. Halaman 120-125

12. Gomes, Augusto Carlos. 2015. Acute Appendicitis : proposal of a new comprehensive
grading system based on clinical, imaging and laparoscopic pindings. Word journal of
emergency surgary. 10:60
13. Daldiyono, Syam Fahrial Ari. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I Edisi V.
Jakarta : internal publishing.
14. Purnomo BB. 2015. Dasar-Dasar Urologi. Edisi Ke-3. Jakarta : Perpustakaan Nasional
republik Indonesia
15. Setiati,Siti. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi VI. Jakarta: FK UI.
Interna Publishing
16. Soeparman, dkk. 2014. Ilmu Penyakit Dalam edisi 6 Jilid II. Hlmn 378. Balai Penerbit
FKUI : Jakarta
17. Sjamsuhidayat. De jong, wim. Buku ajar ilmu Bedah. Hlmn 1024-1034. EGC : Jakarta.
18. Rasyad, Syahriar, dkk. 2014. Radiologi Diagnostik, Ed.8, Balai Penerbit FKUI: Jakarta.