Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan pada bakteri didefinisikan sebagai pertumbuhan berat sel.


Mempelajari pertumbuhan bakteri merupakan faktor terpenting dalam
mengetahui beberapa aspek fisiologi suatu bakteri. Pertumbuhan adalah
merupakan pertambahan secara teratur semua komponen sel suatu organisme.
Pembelahan sel adalah hasil dari pembelahan sel. Pada jasad bersel tunggal
(uniseluler), pembelahan atau perbanyakan sel merupakan pertambahan jumlah
individu. Misalnya pembelahan sel pada bakteri akan menghasilkan
pertambahan jumlah sel bakteri itu sendiri. Pada jasad bersel banyak
(multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah
individunya, tetapi hanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah
besar jasadnya.
Dalam membahas pertumbuhan mikrobia harus dibedakan antara
pertumbuhan masing-masing individu sel dan pertumbuhan kelompok sel atau
pertumbuhan populasi.Pertumbuhan bakteri dapat diukur dengan dua cara
yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran pertumbuhan bakteri
secara langsung dapat dilakukan dengan metode total count, turbidikmetrik,
berat kering, electronic counter, plating techique, fltrasi membran. Sedangkan
pengukuran pertumbuhan bakteri secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
metode viable count, aktivitas metabolik dan berat sel kering.
Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur berdasarkan konsentrasi sel
(jumlah sel per satuan isi kultur) ataupun densitas sel. Dua parameter ini tidak
selalu sama karena berat kering sel rata-rat bervariasi pada tahap berlainan
dalam pertumbuhan kultur. Kedua parameter tersebut juga tidak bermakna
sama dalam penelitian mengenai biokimia mikroorganisme atau gizi
mikroorganisme, konsentrasi sel adalah kuantitas yang bermakna.
Berdasarkan uraian teori singkat pada latar belakang di atas, maka penulis
bermaksud memberikan penjelasan terkait materi “Metode Pengukuran
Mikroba dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba”.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah, sebagai berikut:
a. Bagaiman pertumbuhan pada Mikroba?
b. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam pertumbuhan
mikroba?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui pertumbuhan pada Mikroba
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam
pertumbuhan mikroba.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 1


1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah dapat
meningkatkan pengetahuan pembaca mengenai metode perubuhan bakteri
antau mikroorganisme, syarat-syarat dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam
pertumbuhan mikroba, Sebagai bahan masukan dan pembanding bagi penulis
selanjutnya dengan makalah yang relevan, dan Sebagai latihan bagi penulis
dalam menyusun makalah.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 2


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pertumbuhan Bakteri

Sebagian besar bakteri akan tumbuh pada medium biakan buatan. Namun
beberapa bakteri, seperti Mycobacterium leprae (kusta, morbus, Hansen) dan
Treponema pallidum (sifilis) belum dapat ditumbuhkan secara in vitro.
Pada kondisi yang sesuai (nutrisi, suhu, dan atmosfir), sebuah sel bakteri
akan bertambah besar dan kemudian membelah melalui proses pembelahan
biner menjadi dua sel identik. Kedua sel ini mampu tumbuh dan membelah diri
dengan kecepatan yang sama seperti sel induk asalkan kondisi lingkungannya
tetap stabil. Waktu yang dibutuhkan sejumlah bakteri untuk melipatgandakan
diri dalam biakan disebut waktu generasi, misalnya Escherichia coli memiliki
waktu generasi sekitar 30 menit pada kondisi yang optimal.
Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur berdasarkan konsentrasi sel
(jumlah sel per satuan isi kultur) ataupun destilasi sel (berat kering dari sel-sel
persatuan isi kultur). Dua parameter ini tidak selalu sama karena berat kering
sel rata-rata bervariasi pada tahap berlainan dalam pertumbuhan kultur, kedua
parameter tersebut juga tidak bermakna sama dalam penelitian mengenai
biokimia mikroorganisme atau gizi mikroorganisme. Densitas sel adalah
kuantitas yang lebih bermakna, sedangkan dalam penelitian mengenai
inaktivitas mikroorganisme, kosentrasi sel adalah kuantitas yang bermakna.
Perhitungan massa sel secara langsung atau tidak langsung sering
digunakan untuk mengukur pertumbuhan sel selama proses fermentasi, dimana
komposisi substrat atau bahan yang difermentasi dapat diamati dan diukur
dengan teliti. Untuk menentukan massa sel mikroba dalam suatu populasi,
dilakukan dengan cara menumbuhkannya dalam suspensi homogen pada
medium yang sesuai dengan konsentrasi (jumlah sel/ ml) dan densitasnya
(mg/ml), dihitung adanya peningkatan seiring dengan waktu. Pada kultur
pertumbuhan mikroba dapat ditentukan laju pertumbuhan dan waktu
penuh.Metode penentuan massa sel dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu
secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme
secara langsung dapat dilakukan dengan beberapa cara,yaitu :
a. Metode Total Count
Pada metode ini sampel ditaruh di suatu ruang hitung (seperti
hemasitometer) dan jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan
bantuan mikroskop (Hadioetomo, 1993).
b. Metode Turbidimetrik
Prinsip dasar metode turbidimeter adalah jika cahaya mengenai sel, maka
sebagian cahaya diserap dan sebagian cahaya diteruskan. Jumlah cahaya yang
diserap propisional (sebanding lurus dengan jumlah sel bakteri). Ataupun
jumlah cahaya yang diteruskan berbanding terbalik dengan jumlah sel bakteri.
Semakin banyak jumlah sel, semakin sedikit cahaya yang diteruskan. Metode
ini memiliki kelemahan tidak dapat membedakan antara sel mati dan sel hidup
(Purwoko, 2007).

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 3


c. Metode Berat Kering
Cara yang paling cepat mengukur jumlah sel adalah metode berat kering.
Metode tersebut relatif mudah dilakukan, yaitu kultur disaringan atau
disentrifugasi, kemudian bagian yang disaring atau yang mengendap hasil
sentrifugasi dikeringkan.Pada metode ini juga tidak dapat membedakan sel
yang hidup dan mati.
Akan tetapi keterbatasan itu tidak mengurangi manfaat metode tersebut
dalam hal mengukur efesiensi fermentasi, karena pertumbuhan diukur dengan
satuan berat, sehingga dapat diperhitungkan dengan parameter konsumsi
substrat dan produksi senyawa yang diinginkan (Purwoko, 2007).
d. Metode Elektronic Counter
Pada pengukuran ini, suspensi mikroorganisme dialirkan melalui lubang
kecil (orifice) dengan bantuan aliran listrik. Elektroda yang ditempatkan pada
dua sisi orifice mengukur tekanan listrik (ditandi dengan naiknya tekanan) pada
saat bakteri melalui orifice. Pada saat inilah sel terhitung. Keuntungan metode
ini adalah hasil bisa diperoleh dengan lebih cepat dan lebih akurat, serta dapat
menghitung sel dengan ukuran besar.(Pratiwi, 2008).
e. Metode Plating Techique
Metode ini merupakan metode perhitungan jumlah sel tampak (visible)
dan di dasarkan pada asumsi bahwa bakteri hidup akan tumbuh, membelah dan
memproduksi satu koloni tunggal. Satuan perhitungan yang dipakai adalah
CFU (colony forming unit) dengan cara membuat seri pengenceran sampel dan
menumbuhkan sampel pada media padat. Pengukuran dilakukan pada plat
dengan jumlah koloni berkisar 25-250 atau 30-300(Pratiwi, 2008).
f. Metode filtrasi membrane
Pada metode ini sampel dialirkan pada suatu sistem filter membran dengan
bantuan vaccum. Bakteri yang terperangkap selanjutnya ditumbuhkan pada
media yang sesuai dan jumlah koloni dihitung. Keuntungan metode ini adalah
dapat menghitung sel hidup dan sistem perhitungannya langsung, sedangkan
kerugiannya adalah tidak ekonomis (Pratiwi, 2008).
.
2.2 Syarat Pertumbuhan Bakteri

Beberapa syarat pertumbuhan bakteri diantaranya yaitu:


a. Sumber karbon dan nitrogen
Bakteri diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar berdasarkan
senyawa yang dapat digunakan sebagai sumber karbon. Autotrof
memanfaatkan karbon inorganic dari karbon dioksida dan nitrogen dari
amoniak, nitrit dan nitrat. Kelompok ini kurang penting secara klinis.
Heterotroph memerlukan senyawa organic sebagai sumber utama karbon
dan energy mereka. Kelompok ini sebagian besar bakteri yang penting
secara klinis.
b. Kondisi atmosfer
 Karbon dioksida
Bakteri memerlukan CO2 untuk pertumbuhan jumlah yang
adekuat dapat diambil dari udara bebas atau dihasilkan dalam proses

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 4


metabolisme oleh organisme itu sendiri. Namun, beberapa bakteri
memerlukan tambahan CO2 untuk tumbuh (missal : Neisseria
meningitis, Campylobacter jejuni).
 Oksigen
Berdasarkan kebutuhan oksigennya bakteri di bagi menjadi 4
kelompok:
1) Aerob obligat hanya tumbuh jika terdapat oksigen (Psudomonas
aeruginosa)
2) Bakteri mikroaerofilik tumbuh paling baik dalam lingkungan
oksigen konsentrasi rendah (misal : Campylobacter jejuni)
3) Anaerob obligat tumbuh hanya jika tidak terdapat oksigen bebas
(misal : Clostridium tetani)
4) Anerob fakultatif dapat tumbuh dalam lingkungan yang
mengandung oksigen maupun tidak ( misal : Escherichia coli)
c. Suhu
Sebagian besar bakteri pathogen tumbuh paling baik pada suhu 37
derajat C. akan tetapi suhu optimal untuk pertumbuhan kadang lebuh
tinggi, misalnya untuk C. jejuni suhunya adalah 42 derajat C. kemampuan
beberapa bakteri untuk tumbuh pada suhu rendah (0-4)C penting dalam
mikrobiologi makanan ; Listeria monocytogenes, penyebab keracunan
makanan, akan tumbah perlahan pada 4 derajat C dan menyebabkan
ledakan kasus (outbreak) keracunan pada produk masak yang didinginkan
d. PH
Sebagian besar bakteri pathogen tumbuh paling baik pada pH yang
sedikit basa (pH 7,2-7,6). Terdapat beberapa pengecualian; Lactobacillus
acidophilus, terdapat di vagina wanita pascapubertas, menyukai medium
asam pH 4,0. Bakteri ini menghasilkan asam laktat yang menjaga sekret
vagina tetap asam yang kemudian mencegah terjadinya infeksi oleh
berbagai bakteri. Vibrio cholerae, penyebab kolera menyukai lingkungan
yang basa pH 8,5.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dapat


dibedakan menjadi dua, yaitu faktor fisik (abiotik) dan faktor kimia (biotic).
Dimana faktor fisik ini meliputi ; temperature, pH, tekanan osmotic, dan
cahaya/radiasi. Sedangkan faktor kimianya meliputi ; karbon, oksigen, dan
fakto-faktor pertumbuhan organic, termasuk nutrisi yang terdapat dalam media
pertumbuhan.
Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya.
Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan
fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap
perubahan faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat dengan cepat
menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Faktor lingkungan meliputi
faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 5


a . Faktor Abiotik
1. Suhu
a) Suhu pertumbuhan mikroba
Pertumbuhan mikroba memerlukan kisaran suhu tertentu.
Kisaran suhu pertumbuhan dibagi menjadi suhu minimum, suhu
optimum, dan suhu maksimum. Suhu minimum adalah suhu terendah
tetapi mikroba masih dapat hidup. Suhu optimum adalah suhu paling
baik untuk pertumbuhan mikroba. Suhu maksimum adalah suhu
tertinggi untuk kehidupan mikroba.
Berdasarkan kisaran suhu pertumbuhannya, mikroba dapat
dikelompokkan menjadi mikroba psikrofil (kriofil), mesofil, dan
termofil. Psikrofil adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh pada
suhu 0-300C dengan suhu optimum sekitar 150C. Mesofil adalah
kelompok mikroba pada umumnya, mempunyai suhu minimum 150C
suhu optimum 25-370C dan suhu maksimum 45-550C.
Mikroba yang tahan hidup pada suhu tinggi dikelompokkan
dalam mikroba termofil. Mikroba ini mempunyai membran sel yang
mengandung lipida jenuh, sehinggatitik didihnya tinggi. Selain itu
dapat memproduksi protein termasuk enzim yang tidak terdenaturasi
pada suhu tinggi.Di dalam DNA-nya mengandung guanin dan sitosin
dalam jumlah yang relatif besar, sehingga molekul DNA tetap stabil
pada suhu tinggi. Kelompokini mempunyai suhu minimum 40 0C,
optimum pada suhu 55-60 0C dan suhu maksimum untuk
pertumbuhannya 75 0C.
Untuk mikroba yang tidak tumbuh dibawah suhu 30 0C dan
mempunyai suhu pertumbuhan optimum pada 60 0C, dikelompokkan
kedalam mikroba termofil obligat. Untuk mikroba termofil yang dapat
tumbuh dibawah suhu 30 0C,dimasukkan kelompok mikroba termofil
fakultatif. Bakteri yang hidup di dalam tanah dan air, umumnya
bersifat mesofil, tetapi ada juga yang dapat hidup diatas 50 0C
(termotoleran).
Contoh bakteri termotoleran adalah Methylococcus capsulatus.
Contoh bakteri termofil adalah Bacillus, Clostridium, Sulfolobus,dan
bakteri pereduksi sulfat/sulfur. Bakteri yang hidup di laut (fototrof)
dan bakteri besi(Gallionella) termasuk bakteri psikrofil.
b) Suhu tinggi
Apabila mikroba dihadapkan pada suhu tinggi diatas suhu
maksimum, akanmemberikan beberapa macam reaksi. (1) Titik
kematian thermal, adalah suhu yang dapat memetikan spesies mikroba
dalam waktu 10 menit pada kondisi tertentu. (2) Waktu kematian
thermal, adalah waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu spesies
mikroba pada suatu suhu yang tetap. Faktor-faktor yang
mempengaruhi titik kematian thermal ialah waktu, suhu, kelembaban,
spora, umur mikroba, pH dan komposisi medium.
c) Suhu rendah
Apabila mikroba dihadapkan pada suhu rendah dapat
menyebabkan gangguan metabolisme. Yaitu seperti (1) Cold shock ,

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 6


adalah penurunan suhu yang tiba-tiba menyebabkan kematian bakteri,
terutama pada bakteri muda atau pada fase logaritmik, (2) Pembekuan
(freezing), adalah rusaknya sel dengan adanya kristal es di dalam air
intraseluler, (3) Lyofilisasi , adalah proses pendinginan dibawah titik
beku dalam keadaan vakum secara bertingkat. Proses ini dapat
digunakan untuk mengawetkan mikroba karena air protoplasma
langsung diuapkan tanpa melalui fase cair (sublimasi).
2. Kandungan air (pengeringan)
Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk
hidupnya, biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau
kelembaban relatif. Mikrobaumumnya dapat tumbuh pada aw 0,998-0,6.
bakteri umumnya memerlukan aw 0,90-0,999. Mikroba yang osmotoleran
dapat hidup pada aw terendah (0,6) misalnya khamirSaccharomyces
rouxii.
Aspergillus glaucus dan jamur benang lain dapat tumbuh pada aw 0,8.
Bakteri umumnya memerlukan aw atau kelembaban tinggi lebih dari 0,98,
tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0,75. Mikroba yang tahan
kekeringan adalah yang dapat membentuk spora, konidia atau dapat
membentuk kista.
3. Tekanan osmosis
Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan
kandungan air. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka
selnya akan mengalami plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran
sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma.
Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel mikroba akan
mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam
sel, sel membengkak dan akhirnya pecah.
Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan
menjadi
(1) mikroba osmofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar
gula tinggi,
(2) mikroba halofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar
garam halogen yang tinggi,
(3) mikroba halodurik, adalah kelompok mikroba yang dapat tahan
(tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar
garamnya dapat mencapai 30 %. Contoh mikroba osmofil adalah
beberapa jenis khamir.
Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan
konsentrasi lebih dari 65 % wt/wt (aw = 0,94). Contoh mikroba halofil
adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium, misalnya Halobacterium.
Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi, umumnya mempunyai
kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Selain itu bakteri ini
memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya.
Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer, dinding
selnya terdiri dari murein, sehingga tahanterhadap ion Natrium.
4. Ion-ion dan listrik
a) Kadar ion hidrogen (pH)
Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Beberapa

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 7


bakteri dapat hidup pada Ph tinggi (medium alkalin). Contohnya
adalah bakteri nitrat, rhizobia, actinomycetes, dan bakteri
pengguna urea. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran
terhadap kemasaman, misalnya Lactobacilli, Acetobacter, dan
Sarcina ventriculi.
Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Jamur
umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah. Apabila mikroba
ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi
oleh jamur, tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan
didominasi oleh bakteri.
Berdasarkan pH-nya mikroba dapat dikelompokkan
menjadi 3 yaitu (a) mikroba asidofil, adalah kelompok mikroba
yang dapat hidup pada pH 2,0-5,0, (b) mikroba mesofil (neutrofil)
adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5-8,0, dan
(c) mikroba alkalifil, adalah kelompok mikroba yang dapat hidup
pada pH 8,4-9,5.
b) Buffer
Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH
yang konstan, terutama padamikroba yang dapat menghasilkan
asam. Misalnya Enterobacteriaceae dan
beberapaPseudomonadaceae. Oleh karenanya ke dalam medium
diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan. Buffer
merupakan campuran garam mono dan dibasik, maupun
senyawasenyawaorganik amfoter. Sebagai contoh adalah buffer
fosfat anorganik dapat mempertahankanpH diatas 7,2. Cara kerja
buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan
garammonobasik akan bereaksi dengan ion OH-.
c) Ion-ion lain
Logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, dan Pb pada kadar
rendah dapat bersifat meracun (toksis). Logam berat mempunyai
daya oligodinamik, yaitu daya bunuh logam berat pada kadar
rendah. Selain logam berat, ada ion-ion lain yang dapat
mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroba, yaitu ion sulfat, tartrat,
klorida, nitrat, dan benzoat. Ion-ion tersebut dapat mengurangi
pertumbuhan mikroba tertentu.
Oleh karena itu sering digunakan untuk mengawetkan suatu
bahan, misalnya digunakan dalam pengawetan makanan. Ada
senyawa lain yang jugamempengaruhi fisiologi mikroba, misalnya
asam benzoat, asam asetat, dan asam sorbat.
d) Listrik
Listrik dapat mengakibatkan terjadinya elektrolisis bahan
penyusun medium pertumbuhan. Selain itu arus listrik dapat
menghasilkan panas yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
mikroba. Sel mikroba dalam suspensi akan mengalami
elektroforesis apabila dilalui arus listrik.
Arus listrik tegangan tinggi yang melalui suatu cairan akan
menyebabkan terjadinya shock karena tekanan hidrolik listrik.
Kematian mikroba akibat shock terutama disebabkan oleh oksidasi.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 8


Adanya radikal ion dari ionisasi radiasi dan terbentuknya ion
logam dari elektroda juga menyebabkan kematian mikroba.
e) Radiasi
Radiasi menyebabkan ionisasi molekul-molekul di dalam
protoplasma. Cahaya umumnyadapat merusak mikroba yang tidak
mempunyai pigmen fotosintesis. Cahaya mempunyai pengaruh
germisida, terutama cahaya bergelombang pendek dan
bergelombang panjang. Pengaruh germisida dari sinar
bergelombang panjang disebabkan oleh panas
yangditimbulkannya, misalnya sinar inframerah. Sinar x (0,005-1,0
Ao), sinar ultra violet (4000-2950Ao), dan sinar radiasi lain dapat
membunuh mikroba. Apabila tingkat iradiasi yang diterima sel
mikroba rendah, maka dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada
mikroba.
f) Tegangan muka
Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan
cairan tersebut menyerupai membran yang elastis. Seperti telah
diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang
dilindungi dinding sel, maka apabilaada perubahan tegangan muka
dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma.
Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan
mikroba dan bentuk morfologinya. Zat-zat seperti sabun, deterjen,
dan zat-zat pembasah (surfaktan) seperti Tween80 dan Triton A20
dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan. Umumnya
mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi.
g) Tekanan hidrostatik
Tekanan hidrostatik mempengaruhi metabolisme dan
pertumbuhan mikroba. Umumnyatekanan 1-400 atm tidak
mempengaruhi atau hanya sedikit mempengaruhi metabolisme
danpertumbuhan mikroba. Tekanan hidrostatik yang lebih tinggi
lagi dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan, oleh
karena tekanan hidrostatik tinggi dapat menghambat sintesis RNA,
DNA, dan protein, serta mengganggu fungsi transport membran sel
maupun mengurangiaktivitas berbagai macam enzim. Tekanan
diatas 100.000 pound/inchi2 menyebabkan denaturasi protein.
Akan tetapi ada mikroba yang tahan hidup pada tekanan
tinggi (mikroba barotoleran), dan ada mikroba yang tumbuh
optimal pada tekanan tinggi sampai 16.000 pound/inchi2 (barofil).
Mikroba yang hidup di laut dalam umumnya adalah barofilik atau
barotoleran. Sebagai contoh adalah bakteri Spirillum.
h) Getaran
Getaran mekanik dapat merusakkan dinding sel dan
membran sel mikroba. Oleh karenaitu getaran mekanik banyak
dipakai untuk memperoleh ekstrak sel mikroba. Isi sel dapat
diperoleh dengan cara menggerus sel-sel dengan menggunakan
abrasif atau dengan cara pembekuan kemudian dicairkan berulang
kali. Getaran suara 100-10.000 x/ detik juga dapat digunakan untuk
memecah sel.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 9


b. Faktor Biotik
1. Interaksi dalam satu populasi mikroba
Interaksi antar jasad dalam satu populasi yang sama ada dua
macam, yaitu interaksipositif maupun negatif. Interaksi positif
menyebabkan meningkatnya kecepatan pertumbuhansebagai efek
sampingnya. Meningkatnya kepadatan populasi, secara teoritis
meningkatkankecepatan pertumbuhan. Interaksi positif disebut juga
kooperasi. Sebagai contoh adalahpertumbuhan satu sel mikroba menjadi
koloni atau pertumbuhan pada fase lag (fase adaptasi).Interaksi negatif
menyebabkan turunnya kecepatan pertumbuhan dengan meningkatnya
kepadatan populasi. Misalnya populasi mikroba yang ditumbuhkan dalam
substrat terbatas, atauadanya produk metabolik yang meracun. Interaksi
negatif disebut juga kompetisi. Sebagai contoh jamur Fusarium dan
Verticillium pada tanah sawah, dapat menghasilkan asam lemak dan
H2Syang bersifat meracun.
2. Interaksi antar berbagai macam populasi mikroba
Apabila dua populasi yang berbeda berasosiasi, maka akan timbul
berbagai macam interaksi. Interaksi tersebut menimbulkan pengaruh
positif, negatif, ataupun tidak ada pengaruh antar populasi mikroba yang
satu dengan yang lain. Nama masing-masing interaksi adalah sebagai
berikut:
a) Netralisme
Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak
saling mempengaruhi. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi
yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalammikrohabitat,
serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. Sebagai contoh
interaksi antaramikroba allocthonous (nonindigenous) dengan
mikroba autochthonous (indigenous), dan antarmikroba
nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah.
Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif, misal dalam
keadaan kering beku, atau fase istirahat (spora, kista).
b) Komensalisme
Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila
satu populasi diuntungkantetapi populasi lain tidak terpengaruh.
Contohnya adalah:
- Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan
ekskresi sistein. Sistein dapatdigunakan oleh Legionella
pneumophila.
- Desulfo vibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi
anaerobik Methanobacterium.
c) Sinergisme
Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu
kemampuan untuk dapatmelakukan perubahan kimia tertentu di dalam
substrat. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasiatau lebih dalam
keperluan nutrisi bersama, maka disebut sintropisme. Sintropisme
sangatpenting dalam peruraian bahan organik tanah, atau proses
pembersihan air secara alami.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 10


d) Mutualisme (Simbiosis)
Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang
keduanya salingtergantung dan sama-sama mendapat keuntungan.
Mutualisme sering disebut juga simbiosis.Simbiosis bersifat sangat
spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak
dapatdigantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip.
Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. yanghidup pada
bintil akar tanaman kacang-kacangan. Contoh lain adalah Lichenes
(Lichens), yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria
dengan fungi. Algae (phycobiont) sebagai produsen yang dapat
menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik.
Senyawaorganik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont), dan fungi
memberikan bentuk perlindungan(selubung) dan transport
nutrien/mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae.

2.4 Pembelahan Biner

Pada pembelahan ini, sifat sel anak yang dihasilkan sama dengan sifat sel
induknya.
Pembelahan biner mirip mitosis pada sel eukariot. Badanya, pembelahan biner
pada sel bakteri tidak melibatkan serabut spindle dan kromosom. Pembelahan
Biner dapat dibagi atas tiga fase, yaitu sebagai berikut:
1. Fase pertama, sitoplasma terbelah oleh sekat yang tumbuh tegak lurus.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 11


2. Fase kedua, tumbuhnya sekat akan diikuti oleh dinding melintang.
3. Fase ketiga, terpisahnya kedua sel anak yang identik.
Ada bakteri yang segera berpisah dan terlepas sama sekali. Sebaliknya,
ada pula bakteri yang tetap bergandengan setelah pembelahan, bakteri
demikian merupakan bentuk koloni.Pada keadaan normal bakteri dapat
mengadakan pembelahan setiap 20 menit sekali. Jika pembelahan berlangsung
satu jam, maka akan dihasilkan delapan anakan sel. Tetapi pembelahan bakteri
mempunyai faktor pembatas misalnya kekurangan makanan, suhu tidak sesuai,
hasil eksresi yang meracuni bakteri, dan adanya organisme pemangsa bakteri.
Jika hal ini tidak terjadi, maka bumi akan dipenuhi bakteri.
a. Replikasi DNA Bakteri
Mekanisme reproduksi normal pada bakteri adalah pembelahan biner.
Informasi genetic terkandung dalam DNA untai ganda yang meskipun tersusun
secara melingkar, mengalami pelipatan berkali-kali agar dapat masuk kedalam
sel. Sebuah enzim, DNA girase, berperan penting dalam proses pelipatan ini.
Struktur dan replikasi DNA bakteri serupa dengan DNA sel eukariot. DNA
bakteri terdiri dari dua untai berpasangan (komplementer) dan, selama
pembelahan sel, kedua untai tersebut memisahkan diri dan masing-masing
untai berfungsi sebgai cetakan untuk pembentukan dua molekul untai-ganda
baru.
b. Sintesis Protein
DNA ditranskripsi menjadi RNA yang kemudian akan ditranslasikan
menjadi protein baru melalui RNA messenger (mRNA) dan ribosom .
Berikut adalah tahap-tahap utama sintesis protein :
1) Transkripsi; mRNA ditranskripsi dari untaian DNA kromosom
2) Translasi; Kodon (triplet nukleotida) di mRNA menentukan asam
amino yang akan diinersikan ke dalam polipeptida yang sedang
terbentuk selama translasi; kodon ditranslasikan melalui pengikatan
RNA transfer (tRNA) dengan pembentukan sebuah protein yang diatur
oleh molekul mRNA spesifik yang menampilakan nukleotida yang
sesuai dengan masing-masing kodon; tRNA mengangkut asam amino
yang sesuai:
(a) Ribosom berikatan dengan mRNA
(b) Enzim peptidil transferase mempermudah transfer tiap asam
amino baru kerantai peptide yang sedang terbentuk .
(c) mRNA ditranslasikan secara sekuensial melalui mekanisme ini
sampai dijumpai sebuah kodon ‘nonsense’ yang menyebabkan
pembentukan rantai peptide tersebut terhenti.
c. Variasi Genotip
Kemampuan bakteri untuk mengubah informasi genetic mereka
merupakan hal yang penting bagi kelangsungan hidup mereka dalam
lingkungan yang terus berubah. Variasi dalam genom tersebut dapat terjadi
melalui dua cara: mutasi dan rekombinasi (transfer genetik)
d. Mutasi

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 12


Mutasi dapat terjad secara spontan atau terjadi bila bakteri terpapar radiasi
atau bahan-bahan kimia mutagenik. Perubahan yang besar, yang menyebabkan
perubahan signifikan pada organisme, sering bersifat merugikan dan organisme
mutan yang terbentuk mungkin tidak dapat bertahan hidup.
Namun, pada keadaan tertentu, perubahan tersebut dapat menghasilkan sel
mutan dengan sifat sel unggul yang signifikan, yang dapat mengungguli sel
anak lainnya, misalnnya mutan resisten antibiotic dapat berhasil bertahan hidup
ketika berada di lingkungan yang mengandung antibiotic tersebut. Prinsip
mutasi dan seleksi lingkungan merupakan hal yang universal dalam biologi.
e. Rekombinasi (transfer genetik)
1) Transformasi
Beberapa bakteri mampu menyerap fragmen DNA larut yang berasal
dari spesies lain, yaitu umumnya masih ada hubungan dekat, langsung dari
dinding mereka. Proses transformasi ini pertama kali dijumpai pada
Streptococcus pneumonia.
2) Transduksi
Virus yang menginfeksi bakteri disebut bakteriofag. Selama replikasi
di dalam bakteri, bakteriofag mungkin menyerap sebagian DNA pejamu ke
dalam struktur mereka. Ketika virus ini dilepaskan dan menginfeksi sel
bakteri baru, DNA dari sel bakteri donor dapat diintegrasikan ke dalam
kromosom resipien. Rentang bakteri yang dapat diinfeksi oleh bakteriofag
sempit sehingga bentuk rekombinasi DNA hanya dapat terjadi di antara
galur-galur bakteri yang berhubungan erat.
Bakteriofag juga dapat menginsersikan DNAnya sendiri ke dalam
kromosom bakteri; kadang kala hal ini dapat menyebabkan bakteri
tersebut mensintesis protein baru, misalnya toxin difteri dan toksin
eritrogenik dari streptokakus B-hemolitikus grup A keduanya disandi oleh
fag DNA.
f. Konjugasi
Pada beberapa bakteri dapat dijumpai segmen DNA ektrakromosom,
yang disebut plasmid, yang berbeda dari kromosom. Plasmid bereplikasi
secara mandiri tanpa tergantung kromosom dank arena itu plasmid harus
menyandi gen-gen esensial tertentu yang penting untuk replikasi DNA.
Gen yang dikandung plasmid dapat mengatur satu atau lebih karakteristik
fenotip sel bakteri, seperti resistensi antibiotic dan sintesis toksin bakteri.
Plasmid tertentu yang dikenal dengan plasmid konjugatif, berperan
dalam transfer DNA antar bakteri. Plasmid konjugatif mengandung gen
yang mengatur pembentukan pili. Hal ini memungkinkan sel bakteri
melekat ke sel kedua melalui jembatan sitoplasma. Plasmid konjugatif
membelah diri dan salinannya dipindahkan melalui jembatan sitoplasma
tersebut ke sel penerimanya. Plasmid nonkonjugatif lainnya juga dapat
dipindahkan melalui prosesnya.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 13


Pemindahan informasi geetik melalui plasmid dapat terjadi dengan
cepat dan antara bakteri-bakteri yang tidak berhubungan dekat.
Pemindahan gen resisten antibiotic melalui plasmid adalah mekanisme
terpenting dalam penyebaran resistensi antibiotic. Beberapa plasmid
bahkan dapat membawa enam gen resisten antibiotik yang berlainan.
Elemen genetic bergerak yang dikenal sebagai transposon (‘jumping
genes’) adalah elemen genetic kecil yang dapat berpindah antara plasmid
dan DNA kromosom di dalam sel. Di kedua ujung transposon terdapat
sekuense basa spesifik yang dikenal sebagai sekuens insersi yang
memungkinkan DNA transposon masuk ke untai DNA yang ada.
Transposon memungkinkan informasi genetic dipindahkan secara cepat
antara plasmid dan DNA kromosom sehingga mempermudah penyebaran
informasi genetik di dalam populasi bakteri.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Berdasarkan pembahasan tersebut maka dapat ditarik beberapa


kesimpulan sebagai berikut:
Pertumbuhan pada bakteri didefinisikan sebagai pertumbuhan berat
sel. Mempelajari pertumbuhan bakteri merupakan faktor terpenting dalam
mengetahui beberapa aspek fisiologi suatu bakteri. Pertumbuhan adalah
merupakan pertambahan secara teratur semua komponen sel suatu organisme.
Pembelahan sel adalah hasil dari pembelahan sel. Pada jasad bersel tunggal
(uniseluler), pembelahan atau perbanyakan sel merupakan pertambahan
jumlah individu.
Metode pengukuran mikroba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
perhitungan langsung dan tidak langsung. Perhitungan langsung meliputi
metode turbidimetri, total count, dan berat kering. Perhitungan tidak langsung
yaitu viable count.
Syarat pertumbuhan bakteri yaitu meliputi Sumber karbon, Nitrogen ,
Kondisi atmosfer (Karbon dioksida dan Oksigen) ,Suhu dan PH.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba terdiri dari
Faktor abiotik yang terdiri dari (Suhu, Kandungan air, Tekanan osmosis serta
Ion-ion dan listrik) dan Faktor biotik yang terdiri dari ( Interaksi dalam satu
populasi mikroba, Interaksi diantara berbagai macam populasi mikroba, yang
mencakup “ Netralisme, Komensalisme, Sinerginisme, Mutualisme”)

3.2 Saran

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 14


Saran yang dapat saya ajukan dalam makalah ini gunakanlah makalah ini
sebagai sumber bacaan untuk menambah wawasan/pemahaman dan bisa
menjadi bahan pelajaran bagi mahasiswa mengenai Pertumbuhan Bakteri,
Syarat-syarat pertumbuhan mikroba dan Faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba.

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 15


DAFTAR PUSTAKA

- Elliott, Tom, dkk (2007). Mikrobiologi Kedokteran & Infeksius Edisi 4.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC (2009).
- Pratiwi, Silvia T. 2008. MikrobiologiFarmasi. FakultasFarmasiUGM :
Yogyakarta.
- http://zonabawah.blogspot.com/2011/05/faktor-faktor-yang-
mempengaruhi.html
- http://adnanhidayat32.blogspot.com/2012/03/perhitungan-jumlah-
bakteri.html

Mikrobiologi I (Pertumbuhan Bakteri) 16