Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Leukemia merupakan nama kelompok penyakit maligna yang dikarakteristikan oleh
perubahan kualitatif dan kuantitatif dalam leukositsirkulasi. Leukemia dihubungkan
dengan pertumbuhan abnormal leukosityang menyebar mendahului sumsum tulang. Kata
kata leukemia diturunkandari bahasa Yunani leukos dan aima yang berarti “putih”
dan “darah” yang mengacu pada peningkatan abnormal dari leukosit .
Peningkatan t i d a k terkontrol ini akhirnya menimbulkan anemia, infeksi,
trobositopenia, dan pada beberapa kasus menyebabkan kematian (Jan Tambayong, 2000).

Salah satu penyakit noninfeksi (degeneratif adalah kanker.Kanker merupakan


salah satu penyebab utama kematian disleuruh dunia . World Health Organization
(WHO) mengestimasikan bahwa 84 juta orang meninggal akibat kanker dalam rentang
waktu 2005 – 2015. Pada tahun 2000 terdapat 10 juta orang 5,3 juta laki-laki dan
6,2 juta wanita menderita kanker di seluruh dunia dan 6,2 juta diantaranya
meninggal dunia (Case Fatality Rate/CFR 62%)(WHO, 2003)

Data American Cancer Society (2004, angka kejadian leukemia di Amerika Serikat 33.440
kasus, 19.020 kasus diantaranya pada laki-laki (56,88% dan 14.420 kasus baru lainnya
pada perempuan (43,12%).

Insiden rate (IR) leukemia pada laki-laki di Kanada 14 per 100.000 penduduk dan pada
wanita 8 per 100.000 penduduk pada tahun yang sama. Data The Leukemia and
Lymphoma Society (2009) menyebutkan bahwa setiap 4 menit terdapat 1 orang
meninggal karena kanker. Diperkirakan 139.680 orang di Amerika terkena leukemia,
lymphoma, dan myeloma dan 53.420 orang meninggal karena kasus ini (CFR 38,1%). IR
leukemia yaitu 12,2 per 100.000 penduduk. Penyakit tersebut mempunyai banyak faktor
penyebab namun belumada yang mendominasi hingga ter jadinya penyakit
tersebut. Oleh karena itu,untuk mencegah leukemia atau kanker darah kita
harus mengenal lebih jauh tentang leukemia, bagaimana gejalanya, dampak
dari penyakit leukemia, cara diagnosa dan penyembuhannya Penyakit leukimia
ini harus ditangani dengan tepat agar penderita tidak ter jangkit penyakit
lainnya karena tranfusi yang tidak steril. :erdasarkan paparan dari fakta inilah maka

0|Page
kamiselaku penulis tertarik untuk membahas kasus mengenai penyakit leukimia
inidan sebagai pemenuhan tugas pada blok sistem imun dan hematologi.

2. Tujuan
2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mengetahui asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan sel darah putih (leukemia)

2.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa mengetahui definisi leukemia
2. Mahasiswa mengetahui etiologi leukemia
3. Mahasiswa mengetahui patofisiologi leukemia
4. Mahasiswa mengetahui manifestasi klinis leukemia
5. Mahasiswa mengetahui pemeriksaan penunjang leukemia
6. Mahasiswa mengetahui pathway leukemia
7. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan medis leukemia
8. Mahasiswa mengetahui konsep keperawatan leukemia

1|Page
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN LEUKEMIA PADA ANAK

A. Definisi
Leukemia adalah kanker dari salah satu jenis sel darah putih di sumsum tulang belakang,
yang menyebabkan proliferasi salah satu jenis darah putih dengan menyingkirkan jenis
sel lain (Corwin, 2008)
Leukemia tampak merupakan penyakit klonal, yang berarti satu sel kanker abnormal
berproliferasi tanpa terkendali, menghasilkan sekelompok sel anak yang abnormal. Sel-
sel ini menghambat sel darah lain di sumsum tulang untuk berkembang secara normal,
sehingga mereka tertimbun di sumsum tulang. Karena faktor-faktor ini, leukemia disebut
gangguan akumulasi sekaligus gangguan klonal. Pada akhirnya, sel-sel leukemia
mengambil alih sumsum tualng, sehingga menurunkan kadar sel-sel nonleukemik di
dalam darah yang merupakan penyebab berbagai gejala umum leukemia (Corwin, 2008)

Klasifikasi Leukemia
Menurut Perpustakaan Nasional (2008), Tambayong (2000), dan Handayani (2008),
klasifikasi leukemia dapat berdasarkan jenis sel (limfositik atau mielositik) dan perjalan
penyakit (akut atau kronik).
1. Leukemia Akut
Leukemia Akut dapat dibagi menjadi dua kategori umum, leukemia mieloid akut
(AML) dan leukemia limfoblastik akut (AAL).Pasien biasanya mengalami riwayat
penurunan berat badan yang cepat, memar, perdarahan, pucat, lelah, dan infeksi
berulang di mulut dan tenggorokan.Hitung darah lengkap sering kali menunjukkan
anemia dan trombositopenia.Hitung sel darah putih dapat meningkat atau sangat
rendah.Perdarahan di area vital, akumulasi leukosit dalam organ vital.
2. Leukemia Mieloid Akut
AML jarang terjadi pada anak dan insidennya meningkat seiring pertambahan usia.
AML sekunder kadang terlihat pada orang yang diobati dengan kemoterapi sitotoksik
atau radioterapi.
3. Leukemia Limfoblastik Akut
ALL adalah bentuk keganasan hematologisyang umum terjadi pada anak. Akan tetapi,
ALL terjadi pada orang dewasa, dengan peningkatan insidens seiring pertambahan
usia.

2|Page
Banyak tanda dan gejala ALL yang mirip dengan AML serta sebagian besar
menyebabkan kegagalan sumsum tulang. Pasien juga mengalami manifestasi spesifik
yang meliputi pembesaran nodus limfe (limfadenopati), hati, dan limpa
( hepatosplenomegali),serta infiltrasi pada sistem saraf pusat.
4. Leukemia Mieloid Kronik
CML adalah gangguan sel benih yang disebabkan produksi tidak beraturan dari sel
darah putih mieloid. CML dapat mengenai semua kelompok usia, namun terutama
berusia antara 40 dan 60 tahun.
5. Leukemia Limfosit Kronik
CLL adalah gangguan proliferatif limfosit.Sel ini terakumulasi di darah, sumsum
tulang, nodus limfe dan limfa.CLL adalah kasus di jumpai pada individu berusia di
atas 50 tahun.

B. Etiologi
Menurut Handayani (2008) ada beberapa faktor yang terbukti dapat menyebabkan
leukemia, faktor genentik, sinar radioaktof, dan virus.
1. Faktor genetik
Insidensi leukemia akut pada anak-anak penderita sindrom Down adalah 20 kali lebih
banyak daripada normal. Pada anak kembar identik yang akan berisiko tinggi bila
kembaran yang lain mengalami leukemia.
2. Radioaktif
Sinar radioaktif merupakan faktor eksternal yang paling jelas dapat menyebabkan
leukemia pada manusia. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa penderita yang diobati
dengan dinar radioaktif akan menderita leukemia pada 6 % klien,dan baru terjadi
sesudah 5 tahun.
3. Virus
Sampai saat ini belum dapat dibuktikan bahwa penyebab leukemia pada manusia
adalah virus.namun, ada beberapa hasil penelitian yang mendukung teori virus sebagai
penyebab leukemia, yaitu enzyme reverse transcriptase ditemukan dalam darah
manusia.

C. Patofisiologis
Menurut Hidayat (2006) dan Handayani (2008), leukimia terjadi akibat dari beberapa
faktor antara lain faktor genetik, sinar radioaktif, dan virus. Menurut Corwin (2009) dan

3|Page
Hidayat (2006), leukimia tampak merupakan penyakit klonal, yang berarti satu sel
kanker abnormal berpoliferasi tanpa terkendali, menghasilkan sekelompok sel anak yang
abnormal sehingga dapat menyebabkan terjadinya anemia trombositopenia.Kemudian
leukimia atau limfositik akut merupakan kanker jaringan yang menghasilkan leukosit
yang imatur dan berlebih sehingga jumlahnya yang menyusup ke berbagai organ seperti
sum-sum tulang dan mengganti unsur sel yang normal sehingga mengakibatkan jumlah
eritrosit kurang untuk mencukupi kebutuhan sel (Hidayat, 2006).Karena faktor-faktor ini
leukimia disebut gangguan akumulasi sekaligus gangguan klonal.Pada akhirnya, sel-sel
leukemik mengambil alih sum-sum tulang. Sehingga menurunkan kadar sel-sel
nonleukemik di dalam darah yang merupakan penyebab berbagai gejala umum leukimia.
Trombosit pun berkurang sehingga timbul pendarahan. Proses masuknya leukosit yang
berlebihan dapat menimbulkan hepatomegali apabila terjadi pada hati, splenomegali, dll.
(Hidayat, 2006)

D. Manifestasi Klinis Leukimia


Leukemia akut memperlihatkan gejala klinis yang mencolok.Leukemia kronis
berkembang secara lambat dan mungkin hanya memperlihatkan sedikit gejala sampai
stadium lanjut.
1. Kepucatan dan rasa lelah akibat anemia
2. Infeksi berulang akibat penurunan sel darah putih
3. Perdarahan dan memar akibat trombositopenia dan gangguan koagulasi
4. Nyeri tulang akibat penumpukan sel di sumsum tulang, yang menyebabkan
peningkatan tekanan dan kematian sel. Tidak seperti nyeri yang semakin mingkat,
nyeri tulang berhubungan dengan leukemia biasanya bersifat progresif.
5. Penurunan berat karena berkurangnya nafsu makan dan peningkatan konsumsi kalori
oleh sel-sel neoplastik.
6. Limfadenopati, spinomegali, dan hepatomegali akibat infiltrasi sel leukemik ke organ-
organ limfoid dapat terjadi.
7. Gejala system saraf pusat dapat terjadi. (Davey, 2005)

Gejala leukemia akut biasanya terjadi setelah beberapa minggu dan dapat dibedakan
menjadi tiga tipe:
1. Gejala kegagalan sumsum tulang merupakan manifestasi keluhan yang paling umum.
Leukemia menekan fungsi sumsum tulang, menyebabkan kombinasi dari anemia,
leucopenia (jumlah sel darah putih rendah), dan trombositopenia (jumlah trombosit
rendah). Gejala yang tipikal adalah lelah dan sesak napas (akibat anemia), infeksi

4|Page
bakteri (akibat leucopenia), dan perdarahan (akibat trombositopenia dan terkadang
akibat koagulasi intravascular diseminata (DIC). Pada pemeriksaan fisis ditemukan
kulit yang pucat, beberapa memar, dan perdarahan. Demam menunjukkan adanya
infeksi, walaupun pada beberapa kasus, demam dapat disebabkan oleh leukemia itu
sendiri. Namun, cukup berbahaya apabila kita menganggap bahwa demam yang
terjadi merupakan akibat leukemia itu sendiri.
2. Gejala sistemik berupa malaise, penurunan berat badan, berkeringat, dan anoreksia
cukup sering terjadi.
3. Gejala local, terkadang pasien datang dengan gejala atau tanda infiltrasi leukemia di
kulit, gusi, atau system saraf pusat. (Corwin, 2009)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hitung darah lengkap (FBC) biasanya menunjukkan gambaran anemia dan
trombositopenia. Jumlah sel darah putih yang normal biasanya berkurang dan jumlah
sel darah putih total dapat rendah, normal, atau meningkat. Apabila normal atau
meningkat, sebagian besar selnya adalah sel darah putih primitif (blas). (Patrick,
2005)
a. Leukemia limfoblastik akut
Pada kira-kira 50% pasien ditemukan jumlah leukosit melebihi 10.000/mm 3 pada
saat didiagnosis, dan pada 20% pasien melebihi 50.000/mm3.Neutropenia (jumlah
neutrofil absolut kurang dari 500/mm3 [normalnya 1500/mm3] sering
dijumpai.Limfoblas dapat ditemukan di darah perifer, tetapi pemeriksa yang tidak
berpengalaman dapat melaporkan limfoblas tersebut sebagai limfosit atipik.
(William, 2004)
b. Leukemia nonlimfositik akut
Evaluasi laboratorium secara tipikal menunjukkan adanya neutropenia, anemia,
da trombositopenia.Jumlah leukosit bervariasi, walaupun pada saat didiagnosis
kira-kira 25% anak memiliki jumlah leukosit melebihi 100.000/mm3.Pada darah
perifer dapat ditemukan sel blas.Diagnosis pasti ditegakkan dengan dilakukan
pemeriksaan aspirat sumsum tulang, yang menunjukkan adanya sel blas lebih dari
25%.Seperti pada leukemia limfoblastik akut, cairan spinal juga harus diperiksa
untuk menemukan bukti adanya leukemia.Mencapai 15% pasien memiliki bukti
sel blas pada cairan spinal pada saat didiagnosis. (William, 2004)
c. Leukemia mielositik kronis
Evaluasi laboratorium secara tipikal memperlihatkan leukositosis nyata,
trombositosis, dan anemia ringan.Sumsum tulang hiperselular tetapi disertai
maturasi mieloid yang normal.Sel blas tidak banyak dijumpai. Pada kira-kira 90%

5|Page
kasus, tanda sitogenik yang khas pada leukemia mielositik kronis yang terlihat
adalah: kromosom Philadelphia. (William, 2004)
2. Pemeriksaan biokimia dapat menunjukkan adanya disfungsi ginjal, hipokalemia, dan
peningkatan kadar bilirubin. (Patrick, 2005)
3. Profil koagulasi dapat menunjukkan waktu protombin dan waktu tromboplastin
parsial teraktivasi (APPT) yang memanjang karena sering terjadi DIC (disseminated
intravaskular coagulation). (Patrick, 2005)
4. Kultur darah karena adanya risiko terjadi infeksi. (Patrick, 2005)
5. Foto toraks: pasien dengan ALL (acute tymphoblastic leukaemia) jalur sel T sering
memiliki massa mediastinum yang dapat dilihat pada foto toraks. (Patrick, 2005)
6. Golongan darah karena cepat atau lambat akan dibutuhkan transfusi darah dan
trombosit. (Patrick, 2005)
7. Pemeriksaan penunjang diagnosis spesifik termasuk aspirasi sumsum tulang yang
memperlihatkan limfoblas lebih dari 25%, biopsi trephine, penanda sel, serta
pemeriksaan sitogenetik untuk membedakan ALL (akut limfoblastik leukemia)
dengan AML (akut mieloblastik leukemia) secara akurat. Auer rod di sitoplasma sel
blas merupakan tanda patognomonik pada AML, namun hanya ditemukan pada 30%
kasus. Pemeriksaan penanda sel dapat membantu membedakan ALL jalur sel B atau
sel T dan juga membedakan subtipe AML yang berbeda-beda. Ini berguna bagi
hematolog untuk merancang terapi dan memperkirakan prognosis. Analisis kromosom
sel leukemia berguna untuk membedakan ALL dan AML, dan yang penting adalah
dapat memberikan informasi prognosis. (Patrick, 2005)
8. Cairan spinal juga perlu diperiksa karena sistem saraf pusat merupakan tempat
persembunyian penyakit ekstramedular. (Patrick, 2005)

F. PATHWAY

Faktor genetik

Sinar radioaktif

Virus

leukemia

Poliferasi sel darah putih tanpa


terkendali atau leukosit abnormal

Peningkatan jumlah
leukosit imatur/abnormal 6|Page

Pembesaran limfa Nyeri


Nyeri
Masuk sumsum tulang belakang dan hati Masuk ke organ
Jika sudah tubuh
tulang/persendian
kronis
Menghambat semua sel darah
lain di sumsum tulang belakang

Gagal atau terganggunya


produksi sel

Sel darah merah Trombosit Sel darah putih


menurun menurun normal
menurun

Anemia Terjadi
gangguan Kekebalan tubuh
pembekuan menurun
Pucat, lemah, lemas darah

Resiko injury Resiko infeksi


Kelemahan

G. Penatalaksanaan Medis pada Leukimia


1. Kemoterapi
Terapi definitive leukemia akut adalah dengan kemoterapi sitotoksik menggunakan
kombinasi obat multiple.Obat sitotoksik bekerja dengan berbagai mekanisme namun
semuanya dapat menghancurkan sel leukemia.Tetapi dengan metode ini beberapa sel
normal juga ikut rusak dan ini menyebabkan efek samping seperti kerontokan rambut,
mual, muntah, nyeri pada mulut (akibat kerusakan pada mukosa mulut), dan
kegagalan sumsum tulang akibat matinya sel sumsum tulan.Salah satu konsekuensi
mayor dari neutropenia akibat kemoterapi adalah infeksi berat.Pasien harus diterapi
selama berbulan-bulan (AML) atau selama 2-3 tahun (ALL).

Menurut Suriadi (2006) dan Yuliani (2006), fase penatalakasanaan kemoterapi


meliputi tiga fase yaitu fase induksi, fase proflaksis, fase konsolidasi.

7|Page
a. Fase Induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnose ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi
kortikosteroid (prednison), vincristin, dan L asparaginase.Fase induksi dinyatakan
berhasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum
tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.
b. Fase Profilaksis
Sistem saraf pusat, pada terapi ini diberikan metotreksat, cytarabine dan
hydrocortisone melalui intrathecal untuk mencegah invasi sel leukemia ke
otak.Terapi irradiasi cranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang
mengalami gangguan system saraf pusat.
c. Konsolidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisi dan
mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh.Secara berkala,
mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai
respon sumsum tulang terhadap pengobatan.Jika terjadi surpresi sumsum tulang,
maka pengobatan dihentikan sementra atau dosis obat dikurangi.

Penatalaksanaan medis dalam pemberian kemoterapi dan radioterapi:


1. Prednison untuk efek antiinflamasi
2. Vinkristin (oncovin) untuk antineoplastik yang menghambat pembelahan sel
selama metaphase
3. Asparaginase untuk menurunkan kadar asparagin (asam amino untuk
pertumbuhan tumor)
4. Metotreksat sebagai antimetabolik untuk menghalangi metabolism asam folat
sebagai zat untuk sintesis nucleoprotein yang diperlukan yang diperlukan sel-sel
yang cepat membelah
5. Sitarabin untuk menginduksi remisi pada pasien dengan leukemia granulositik
yang menekan sumsum tulang yang kuat.
6. Alopurinol sebagai penghambat produksi asam urat dengan menghambat reaksi
biokimia.
7. Siklofosfamid sebagai antitumor kuat.
8. Daurnorubisin sebagai penghambat pembelahan sel selama pengobatan leukemia
akut (Hidayat, Aziz. 2008)

2. Transplantasi sumsum tulang


Ini merupakan pilihan terapi lain setelah kemoterapi dosis tinggi dan radioterapi pada
beberapa pasien leukemia akut. Transplantasi dapat bersifat autolog, yaitu el sumsum
tulang diambil sebelum pasien meneraima terapi dosis tinggi, disimpan, dan kemudian
diinfusikan kembali.Selain itu, dapat jug bersifat alogenik, yaitu sumsum tulang
berasal dari donor yang cocok HLA-nya. Kemoterapi dengan dosis sangat tinggi akan
8|Page
membunuh sumsum tulang penderita dan hal tersebut tidak dapat pulih kembali.
Sumsum tulang pasien yang diinfusikan kembali akan mengembalikan fungsi sumsum
tulang pasien tersebut. Pasien yang menerima transplantasi alogenik memiliki risiko
rekurensi yag lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang menerima transplantasi
autolog, karena sel tumor yang terinfusi kembali dapat menimbulkan relaps. Pada
transplantasi alogenik memiliki risiko rekurensi yang lebih rendah dibandingkan
dengan pasien yang menerima transplantsi autolog, karena sel tumor yang terinfusi
kembali dapat menimbulkan relaps. Pada transplantasi alogenik, terdapat bukti kuat
yang menunjukan bahwa sumsum yang ditransplantasikan akan berefek antitumor
yang kuat karena limfosit T yang tertransplantasi. Penelitian-penelitian baru
menunjukan bahwa transplantasi alogenik menggunakan terapi dosis rendah dapat
dilakukan dan memiliki kemungkinan sembuh akibat mechanism imunologis.

3. Resusitasi
Pasien yang baru didiagnosis leukemia akut biasanya berada dalam keadaan sakit
berat dan renta terhadap infeksi berat dan atau perdarahan. Prioritas utamanya adalah
resusitasi mengguakan antibiotic dosis tinggi intravena untuk melawan infeksi,
transfusi trombosit atau plasma beku segar (fresh frozen plasma) utuk mengatasi
anmia. Penggunaan antibiotic dalam situasi ini adalah tindakan yang tepat walaupun
demam yang terjadi ternyata merupakan akibat dari penyakit itu sendiri dan bukan
akibat infeksi.Lebih mudah menghentikan pemberian antibiotic daripada
menyelamatkan pasien dengan syok dan septicemia yang telah diberikan tanpa terapi
antibiotik. (Patrick. 2005)

H. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya
b. Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal
kembar (monozigot)
c. Kaji adanya tanda – tanda anemia : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala,
anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat
d. Kaji adanya tanda – tanda leukopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi
pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi kulit dapat timbul kemerahan atau
hiotam tanpa pus

9|Page
e. Kaji adanya tanda – tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan
membran mukosa, pembentukan hematoma, kaji adanya tanda – tanda invasi ekstra
medulla; limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.
f. Kaji adanya pembesaran testis, hematuria, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di
sekitar rektal dan nyeri.
2. Analisa Data Keperawatan

a. Data Subjektif
Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita leukemia adalah sebagai
berikut :
 Lelah
 Letargi
 Pusing
 Sesak
 Nyeri dada
 Napas sesak
 Priapismus
 Hilangnya nafsu makan
 Demam
 Nyeri Tulang dan Persendian.
b. Data Objektif
Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita leukemia adalah sebagai
berikut :
 Pembengkakan Kelenjar Lympa
 Anemia
 Perdarahan
 Gusi berdarah
 Adanya benjolan tiap lipatan
 Ditemukan sel – sel muda
3. Diagnosa Keperawatan
a. Kelemahan / Keletihan
b. Risiko cidera
c. Risiko infeksi
d. Nyeri

10 | P a g e
I. Rencana Keperawatan

No. Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi


keperawatan
1 Kelemahan/keletihan NOC: NIC:
(00093) - Endurance Energy management
- Concentrasion - Observasi adanya
- Energy conservation
- Nutritional status: energy pembatasan klien dalam
Criteria hasil : melakukan aktivitas
- Memverbalisasikan - Dorong anak untuk
peningkatan energy untuk mengungkapkan perasaan
merasa lebih baik terhadap keterbatasan
- Menjelaskan penggunaan - Kaji adanya factor yang
energy untuk mengatasi menyebabkan kelelahan
kelelahan - Monitor nutrisi dan sumber
- Kecemasan menurun energy yang adekuat
- Glukosa darah adekuat - Monitor klien akan adanya
- Kualitas hidup meningkat
- Istirahat cukup kelelahan fisik dan emosi
- Mempertahankan secara berlebihan
kemampuan untuk - Monitor respon

berkonsentrasi kardiovaskuler terhadap


aktivitas
- Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat klien
- Dukung klien dan keluarga
untuk mengungkapkan
perasaan berhubungan
dengan perubahan hidup
yang disebabkan keletihan
- Bantu aktivitas sehari-hari
sesuai dengan kebutuhan
- Tingkatkan tirah baring dan
pembatasan aktivitas
(tingkatkan periode istirahat)
- Konsultasi dengan ahli gizi
untuk meningkatkan asupan
makanan yang berenergi

11 | P a g e
tinggi
Behavior Management
Activity Terapy
Energy Management
Nutrition Management
2 Risiko cidera NOC: NIC:
- Risk Control Environment management
Criteria hasil (manajemen lingkungan)
- Klien terbebas dari cidera
- Klien mampu menjelaskan - Sediakan lingkungan yang
cara/metode untuk mencegah aman untuk klien
- Identifikasi kebutuhan
injury/cedera
- Klien mampu menjelaskan keamanan klien, sesuai
factor resiko dari kondisi fisik dan fungsi
lingkungan/perilaku personal kognitifn klien dan riwayat
- Mempunyai gaya hidup untuk penyakit terdahulu klien
mencegah injury - Menghindarkan lingkungan
- Menggunakan fasilitas yang berbahaya (misalnya
kesehatan yang ada memindahkan perabotan)
- Mampu mengamati - Memasang side rail tempat
perubahan status kesehatan tidur
- Menyediakan tempat tidur
nyaman dan bersih
- Menempatkan saklar lampu
ditempat yang mudah
dijangkau klien
- Membatasi pengunjung
- Menganjurkan keluarga
untuk menemani klien
- Mengontrol lingkungan dari
kebisingan
- Memindahkan barang-
barang yang dapat
membahayakan
- Berikan penjelasan pada
klien dan keluarga atau
pengunjung adanya
perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit.

12 | P a g e
3 Resiko infeksi NOC: NIC:
- Immune status Infection control (control
- Knowledge : infection control infeksi)
- Risk control
Keiteria hasil: - Bersihkan lingkungan
- Klien bebas daru tanda dan setelah dipakai klien lain
gejala infeksi - Pertahankan teknik isolasi
- Mendeskripsikan proses - Batasi pengunjung bila perlu
- Instruksikan kepada
penularan penyakit, factor
pengunjung untuk mencuci
yang mempengaruhi
tangan sebelum berkunjung
penularan serta
dan setelah meninggalkan
penatalaksanaannya
- Menunjukkan kemampuan klien.
- Gunakan sabun antimikroba
untuk mencegah timbulnya
untuk cuci tangan
infeksi
- Cuci tangan setiap sebelum
- Jumlah leukosit dalam batas
dan sesudah melakukan
normal
- Menunjukkan perilaku hidup tindakan keperawatan
- Gunakan baju, sarung
sehat.
tangan sebagai alat
pelindung
- Pertahankan lingkungan
aseptic selama pemasangan
alat
- Ganti letak IV perifer dan
line control dan dressing
sesuai dengan petunjuk
umum
- Tingkatkan intake nutrisi
- Berikan terapi antibiotic bila
perlu
4 Nyeri akut NOC: NIC:
- Pain level Pain management
- Pain control - Lakukan pengkajian nyeri
- Comfort level
Criteria hasil : secara komprehensif
- Mampu mengontrol nyeri termasuk lokasi,
(tahu penyebab nyeri, mampu karakteristik, durasi,
menggunakan teknik untuk frekuensi, kualitas dan factor

13 | P a g e
mengurangi nyeri, mencari presipitasi
- Observasi reaksi nonverbal
bantuan)
- Melaporkan bahwa nyeri dari ketidaknyamanan
- Gunakan teknik komunikasi
berkurang dengan
teraupetik untuk mengetahui
menggunakan management
pengalaman nyeri klien
nyeri
- Kaji kultur yang
- Mampu mengenali nyeri
mempengaruhi respon nyeri
(skala, intensitas, frekuensi
- Evaluasi pengalaman nyeri
dan tanda nyeri)
- Menyatakan rasa nyaman masa lampau
- Evaluasi bersama klien dan
setelah nyeri berkurang.
tim kesehatan lain tentang
ketidakefektifan control
nyeri masa lampau
- Bantu klien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
- Control lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebingungan
- Kurangi factor presipitasi
nyeri
- Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan
interpersonal)
- Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik non
farmakologis
- Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
- Evaluasi keefektifan control
nyeri

14 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, Aziz. 2008. Pengantar Ilmu Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika

Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi: Buku Saku Edisi 3. Jakarta: EGC.

Davey, Patrick. 2005. At a glance Medicine. Jakarta: EGC.

Handayani, Wiwik & Hariwibowo, Andi Sulistyo. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan
pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta: Salemba Medika .

Herman, T. Heather. 2012. Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta : EGC.

Hidayat, Aziz Alimut. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. Jakarta: Salemba Medika

Hidayat, Aziz Alimut. 2008. Pengantar Ilmu Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika.

Schwartz, M. William. 2004. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC.

Suriadi. Yuliani, Rita. 2006. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: Penebar Swadaya

15 | P a g e
16 | P a g e