Anda di halaman 1dari 13

1

KAJIAN PENGELOLAAN LIMBAH DI PETERNAKAN SAPI PERAH


TUNGGAK SEMI KABUPATEN GROBOGAN JAWA TENGAH

PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Oleh :
DEWI WULANDARI
23010114130216

PROGRAM STUDI S1 PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
2

JUDUL : KAJIAN PENGELOLAAN LIMBAH DI PETERNAKAN SAPI


PERAH TUNGGAK SEMI KABUPATEN GROBOGAN JAWA
TENGAH

LATAR BELAKANG
Sapi perah merupakan salah satu ternak yang dapat memenuhi gizi
masyarakat Indonesia yaitu dengan menghasilkan susu yang kaya akan nutrien.
Bertambahnya populasi penduduk di Indonesia menyebabkan permintaan
masyarakat akan susu juga semakin meningkat tiap tahunnya. Peningkatan
permintaan susu ini tentunya mempengaruhi jumlah peternak dalam memelihara
sapi perah dalam rangka mencukupi kebutuhan masyarakat akan susu. Semakin
bertambahnya populasi sapi perah tentu juga akan menyebabkan bertambahnya
limbah peternakan yang dihasilkan. Limbah ini dapat berupa sisa pakan ataupun
kotoran ternak yang berupa feses dan urin. Bertambahnya limbah ini apabila tidak
diiringi dengan pengelolaan yang baik tentu akan mengganggu produktivitas
ternak dan menyebabkan produksi susunya menurun.
Produktivitas sapi perah dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti genetik,
umur, pakan, lingkungan, kesehatan ternak dan tata laksana beternak.
Keberhasilan beternak sapi perah tergantung dari tata laksana beternak. Salah satu
upaya untuk meningkatkan produktivitas ternak dapat dilakukan dengan
pengelolaan limbah yang baik. Program pengelolaan limbah merupakan usaha
yang dilakukan agar produktivitas ternak terjaga.
Pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan melakukan pengolahan
limbah menjadi pupuk dan juga dengan melakukan sanitasi untuk mencegah
penyakit dengan cara menjaga kebersihan ternak, kandang, lingkungan, peralatan
peternakan dan pekerja yang masuk ke kandang. Kebersihan ternak dilakukan
dengan memandikan ternak supaya tubuh menjadi bersih dari kotoran. Kebersihan
kandang dilakukan dengan membersihkan lantai kandang dari feses, sisa pakan
dan selalu menyediakan air minum yang bersih. Kebersihan lingkungan dilakukan
dengan membangun sarana penampungan limbah. Pengelolaan limbah memegang
peranan penting yang menentukan keberhasilan suatu peternakan sehingga dengan
3

pengelolaan limbah ini, ternak menjadi terhindar dari berbagai macam penyakit
yang dapat menurunkan produktivitasnya.

TUJUAN
Tujuan dari praktek kerja lapangan yaitu untuk mengetahui manajemen
pengolahan limbah dan sanitasi di Peternakan Sapi Perah Tunggak Semi dan
mengetahui bagaimana tatacara pemeliharaan di peternakan tersebut.
Manfaat yang diperoleh yaitu mengetahui manajemen pengolahan limbah
dan sanitasi sapi perah yang ada di Peternakan Sapi Perah Tunggak Semi dan
dapat memberikan saran kepada peternak terkait dengan kondisi lingkungan yang
ada di Kabupaten Grobogan.

TINJAUAN PUSTAKA

Sapi Perah

Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) adalah jenis sapi perah yang
paling dominan dipelihara di Indonesia. Sapi PFH merupakan hasil persilangan
antara sapi FH dengan sapi lokal yang memiliki ciri – ciri hampir sama dengan
sapi FH namun produksi susunya relatif lebih rendah dibandingkan dengan sapi
FH (Siregar, 1995). Produksi susu sapi PFH di Indonesia sekitar 20 L/hari dengan
rata – rata produksi 10 L/hari (Sudono dkk., 2003). Ciri – ciri sapi PFH adalah
mempunyai tubuh yang besar,warna bulu hitam dan putih, kadar lemak susu
rendah, produksi susu mencapai 15 – 20 L/hari/masa laktasi, sifat tenang dan
jinak, lebih tahan panas dibandingkan dengan sapi FH, mudah beradaptasi dengan
lingkungan. Pemeliharaan sapi PFH di Indonesia dibagi menjadi dua daerah, yaitu
daerah rendah yang memiliki ketinggian hingga 300 meter di atas permukaan laut
dengan temperatur harian rata – rata 28 - 35ºC dan daerah tinggi yang memiliki
ketinggian lebih dari 750 meter di atas permukaan laut dengan temperatur harian
rata – rata 16 - 23ºC (Octaviani, 2010).
4

Suhu Lingkungan

Sebagian besar sapi perah di Indonesia adalah bangsa PFH yang memiliki
iklim sedang dengan kisaran suhu termonetral rendah (18˚C - 25˚C) (Yani dan
Purwanto, 2006). Sapi perah PFH yang ditempatkan pada lokasi bersuhu tinggi
akan mengalami cekaman panas sehingga berdampak buruk terhadap
produktivitas yaitu pada produksi susunya (Yani dkk., 2007).
Suhu lingkungan di atas 29 oC akan terjadi penurunan produksi susu yang
lebih cepat dibandingkan kadar lemaknya (Wiliamson dan Payne, 1993). Suhu
lingkungan yang tinggi ternak pada umumnya ternak kurang bergairah melakukan
aktivitas (Sihombing, 1999).

Kelembaban Udara

Kelembaban optimum sapi perah sebesar 55%, pada kelembaban tersebut


sapi perah akan menunjukkan penampilan produksi terbaiknya (Yani dan
Purwanto, 2006). Kelembaban udara merupakan faktor penghambat proses stress
panas pada iklim lembab dan suhu udara kering adalah faktor pembatas stress
panas pada iklim kering (Suherman dkk., 2013).
Kelembaban udara yang tinggi dengan sedikit pergerakan udara akan
menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya stress panas pada sapi perah,
kondisi tersebut dapat mengakibatkan ternak mengalami kesulitan dalam
pelepasan panas (Zaki, 2015). Kelembaban udara akan mengakibatkan
peningkatan penambahan panas dan pengurangan jumlah panas yang dikeluarkan
melalui jalur evaporasi dari permukaan kulit dan saluran pernafasan (Purwanto
dkk., 1993).

Limbah Peternakan
Limbah peternakan merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha
peternakan yang meliputi usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan,
pengolahan produk ternak dan lain sebagainya. Limbah tersebut berupa limbah
padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa pakan, kulit telur, darah, bulu,
kuku, tulang, tanduk, isi rumen dan lain sebagainya (Sihombing, 2002).
5

Semakin berkembangnya usaha peternakan, maka semakin bertambah pula


limbah yang dihasilkan. Limbah peternakan sapi perah umumnya terdiri feses,
urine, air bekas cucian kandang, air bekas mandi sapi, air bekas cucian peralatan
kandang, dan limbah sisa pakan (Arum, 2009). Total limbah yang dihasilkan
dalam suatu peternakan tergantung dari spesies ternak, besar usaha dan tipe
usaha. Setiap hari sapi rata-rata dapat megeluarkan kotoran (feses dan urine)
antara 7-8% dari boot badannya. Sapi yang mempunyai bobot badan 450 kg dapat
menghasilkan kotoran (feses dan urine) sebanyak 25 kg (Wahyuni, 2013).

Pengelolaan Limbah
Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau
dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan
ternak) (soehadji, 1992).Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak
perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging sapi
menghasilkan 25 kg feses (Sihombing, 2000).Penggunaan feses sapi untuk media
hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi
dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain (Farida, 2000).
Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang
berwujud cair yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas
lingkungan (Wiguna, 2003). Tujuan dari pengolahan air limbah adalah untuk
mengurangi BOD, partikel tercampur, dan membunuh mikro organisme pathogen
serta menghilangkan bahan nutrisi komponen beracun yang tidak dapat
didegradasi (Sugiharto, 1987). Pupuk organik cair memberikan beberapa
keuntungan, misalnya pupuk ini dapat digunakan dengan cara menyiramkannya
ke akar ataupun di semprotkan ke tanaman dan menghemat tenaga. Sehingga
proses penyiraman dapat menjaga kelembaban tanah (Supardi, 2001).
Gas bio adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan
organik oleh mikroorganisme pada kondisi tanpa oksigen (anaerob). Gas bio
6

merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organic dengan bantuan
bakteri (Arum, 2009). Manfaat energi gas bio adalah sebagai peganti bahan bakar
khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak. Di samping itu, dari
proses produksi gas bio akan dihasilkan sludge atau lumpur yang dapat langsung
dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman atau budidaya pertanian
(Sihombing, 2000).

Sanitasi
Sanitasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencegah berbagai macam
penyakit meyerang ternak. Sanitasi terdiri dari berbagai macam, diantaranya
adalah sanitasi ternak, sanitasi, lingkungan, sanitasi kandang, sanitasi peralatan
dan saitasi pekerja. Sanitasi ternak dilakukan dengan memandikan ternak dan
menggosok tubuhnya supaya bersih dari kotoran (Makin, 2011). Sanitasi kandang
juga sangat penting dilakukan untuk menjaga kebersihan tubuh dan kesehatan sapi
perah. Sanitasi kandang dilakukan dengan membersihkan dari fases,
membersihkan kandang dari kotoran dan sisa pakan, membersihkan palung pakan,
menyikat kandang, disemprotkan desinfektan (Syarif dan Harianto, 2011).
Desinfektan yang dapat digunakan untuk sanitasi kandang adalah jenis lysol dan
karbol (Susilorini dkk., 2008).

MATERI DAN METODE

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada Peternakan Sapi Perah


Tunggak Semi Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan. dilaksankan 13
Agustus 2018 – 12 September 2018.

Materi
Materi yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah
semua jenis limbah yang ada , kandang, lingkungan dan peralatan kandang yang
ada di Peternakan Sapi Perah Tunggak Semi. Alat yang digunakan antara lain
adalah thermohygrometer untuk mengukur suhu dan kelembaban kandang, sekop
7

untuk membersihkan feses dan sisa pakan, angkong untuk tempat feses dan sisa
pakan, sapu lidi untuk menyapu dan membersihkan sisa pakan, sikat untuk
membersihkan tubuh ternak, selang air untuk membersihkan tubuh ternak dan
lantai kandang, ember untuk mencuci peralatan, spons untuk membersihkan
peralatan, lap untuk membersihkan puting sapi sebelum diperah.

Metode
Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) di
Peternakan Sapi Perah Tunggak Semi adalah metode partisipasi aktif di lapangan
dengan mengikuti semua kegiatan yang dilakukan di Peternakan Sapi Perah
Tunggak Semi antara lain memandikan sapi, membersihkan feses dan urin sapi
sebelum dilakukan pemerahan, menyapu lingkungan sekitar kandang,
membersihkan tempat pakan dan minum, mencuci peralatan yang digunakan
setelah pemerahan dan juga mengamati pengolahan limbah. Data yang sudah
diperoleh kemudian dianalisis, dideskripsikan, dibandingkan dengan pustaka dan
disusun menjadi laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
8

JADWAL KEGIATAN
Kegiatan Juli Agst Sept Okt Nov Des
Persiapan
Pelaksanaan
Penyusunan
Laporan
Ujian
9

DAFTAR PUSTAKA

Arum, S. S. 2009. Pengolahan Limbah Ternak di UPTD Aneka Usaha Ternak


Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sragen. Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret, Surakarta. (Tugas Akhir).

Makin, M. 2011. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah. Graha llmu, Yogyakarta.

Octaviani, T. T. 2010. Kinerja Reproduksi Sapi Perah Peranakan Friesian Holstein


(PFH) di Kecamatan Musuk Boyolali. Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret, Surakarta. (Skripsi)

Purwanto BP, Matsumoto T, Nakamasu F, Ito T, Yamamoto S. 1993. Effect of


standing and lying behaviours on heat production of dairy heifers differing
in feed intake levels. AJAS 6:271 – 274 (JP).

Sihombing, D. T. H. 2002. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha


Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soehadji, 1992. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pengembangan Industri


Peternakan dan Penanganan Limbah Petemakan. Makalah Seminar.
Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Suherman, D., B. P. Purwanto., W. Manalu. dan I. G. Permana. 2013. Model


penentuan suhu kritis sapi perah berdasarkan kemampuan produksi dan
manajemen pakan. J. Sain Peternakan. 8 (2): 121-138.

Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Universitas Indonesia


Press. Jakarta

Supardi, A. 2001.”Aplikasi pupuk Cair hasil Fermentasi Kotoran PadatKambing


Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica Junceal). Universitas
Muhamadiah Surakrta. (Skripsi Sarjana Peternakan).

Siregar, S. 1995. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha.
Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudono, A., F. Rosdiana dan S. Budi. 2003. Beternak Sapi Perah. Agromedia
Pustaka, Jakarta.

Susilorini, T. E., M. E. Sawitri dan Muharlien. 2008. Budi Daya 22 Ternak


Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta. 23
10

Syarif, E. K. dan B. Harianto. 2011. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah.
Agromedia Pustaka, Jakarta.

Wahyuni, S. 2013. Panduan Praktis Biogas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wiguna, J. 2003. Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair Urin Kelinci dan
Macam Pengajiran Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Mentimun (Cucumis sativus /L.) Varietas Bella F1. Fakultas Pertanian.
Universitas Winaya Mukti, Sumedang. (Skripsi Sarjana Pertanian)

Williamson, G. dan W.J.A. Payne, 1993. Pengantar Peternakan di Daerah


Tropis. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Yani, A dan B. P. Purwanto. 2006. Pengaruh iklim mikro terhadap respons


fisiologis sapi Peranakan Fries Holland dan modifikasi lingkungan untuk
meningkatkan produktivitasnya. Media Peternakan 29 (1) :35-46.

Yani, A., H. Suhardiyanto., R. Hasbullah. dan B. P. Purwanto. 2007. Analisis dan


simulasi distribusi suhu udara pada kandang sapi perah menggunakan
Computional Fluid Dynamics (CFD). J. Media Peternakan. 30 (3): 218-
228.
11

Lampiran. Daftar Kuosioner

1. Kadaan Umum Peternakan


a. Nama peternakan
b. Sejarah peternakan
c. Bentuk usaha
d. Tanggal berdiri
e. Pemilik peternakan
Nama
Umur
Pendidikan
f. Nomor surat izin berdiri

2. Lokasi peternakan
a. Alamat lokasi
b. Luas area peternakan dan penggunaannya
c. Denah lokasi
d. Lay out peternakan
e. Jarak dari pemukiman penduduk
f. Jarak dari pusat kota
g. Jarak dari pasar hewan
h. Jarak dari sumber pakan
i. Ketinggian tempat
j. Suhu
k. Kelembaban
l. Curah hujan

3. Struktur Organisasi
a. Nama pemilik dan pengurus lainnya
b. Tugas dari masing-masing jabatan
c. Terdapat konsultan atau tidak
d. Tenaga kerja
12

Jumlah
Jenis kelamin
Umur
Pendidikan
Kriteria pemilihan tenaga kerja
Asal tenaga kerja
Gaji tenaga kerja
Terdapat bonus atu tidak
Tugas masing-masing pekerja
Jam kerja

4. Fasilitas Peternakan
a. Transportasi
b. Komunikasi
c. Bangunan
Kantor
Gudang pakan
Mess
Tempat menyimpan hijauan dan jerami
Tempat membuat konsentrat
Tempat parkir pekerja
Tempat istirahat pekerja
Tempat ibadah
Tempat penimbangan ternak
Kamar mandi

5. Pengelolaan Limbah
a. Populasi ternak
b. Jenis limbah yang dihasilkan
c. Produksi limbah (5 ekor sapi selama 3 hari)
13

 Feses
 Urine
d. Pembersihan dan penanganan limbah
e. Pengolahan dan pemanfaatan limbah
 Pembuatan biogas
 Pembuatan pupuk organik

6. Pembuatan Biogas
a. Ukuran/volume digester biogas
b. Produksi biogas
c. Pemanfaatan biogas

7. Pembuatan Pupuk Organik (Kompos)


a. Ukuran/volume tempat pembuatan kompos
b. Bahan-bahan yang digunakan
c. Proses pembuatan kompos
d. Volume awal kompos
e. Volume akhir kompos
f. Pemasaran kompos
g. Harga kompos