Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Manusia


membutuhkan pendidikan untuk memperoleh pengetahuan tentang aturan-aturan
kehidupan. Pendidikan berfungsi untuk membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sholichah
(2018:25) mengatakan bahwa kata pendidikan memiliki arti bimbingan yang
dilakukan oleh seseorang (orang dewasa) kepada anak-anak, untuk memberikan
pengajaran, perbaikan moral dan melatih intelektual. Dalam hal ini bimbingan yang
ditujukan untuk anak tidak hanya dilakukan dalam bentuk pendidikan formal seperti
yang diselenggarakan oleh pemerintah, melainkan peran keluarga dan masyarakat
dapat menjadi lembaga pembimbing yang mampu menumbuhkan pemahaman dan
pengetahuan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) belakangan ini


merambah ke semua aspek kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan. Maka dari itu
pemanfaatan IPTEK pada dunia pendidikan harus di maksimalkan, agar dapat
menciptakan generasi yang berkualitas dan mampu menghadapi era globalisasi.
Pendidikan saat ini mempunyai tuntutan untuk menghasilkan sumber daya manusia
yang mampu bersaing dan berkembang dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi melalui pembelajaran. Sugianto dalam Febriyanti (2017:2) mengatakan
bahwa , perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berpengaruh juga
terhadap kemajuan pendidikan terutama dalam hal inovasi media pembelajaran
karena modul virtual atau digital ini memiliki tampilan yang menarik, mudah
dipahami, dan mudah digunakan. Kehadiran multimedia dalam proses belajar
menjadi sangat bermanfaat. Salah satu media pembelajaran yang bisa dipadukan

1
2

menjadi satu antara model pembelajaran, bahan ajar teknologi cetak, dan
pemanfaatan teknologi komputer, yaitu modul digital. Modul digital juga dapat
digunakan di mana saja, sehingga lebih praktis untuk dibawa ke mana saja.

Sistem pembelajaran saat ini menuntut sekolah untuk mengubah pendekatan


pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning),
sehingga didapatkan individu yang kreatif, mengembangkan pengetahuan, teknologi
dan komunikasi, mandiri, serta berketerampilan proses dalam pembelajaran sains.
Berdasarkan Kurikulum 2013, mata pelajaran fisika tingkat SMA kelas X memiliki
alokasi waktu belajar fisika minimal 3 jam per minggu. Alokasi waktu tersebut harus
dimanfaatkan dengan efektif, sehingga diperlukan pendekatan yang mampu
membantu peserta didik memahami konsep yang diajarkan. Pembelajaran fisika
sebagai salah satu ilmu sains harus berpusat pada peserta didik atau student centered
active learning (Febriyanti. 2017:18) dan berdasarkan Permendikbud Nomor 81A
Lampiran IV tahun 2013 tentang implementasi Kurikulum 2013 menganut
pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari
pendidik ke peserta didik. Pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang
diberikan kepada peserta didik untuk mengonstruksi pengetahuan dalam proses
kognitifnya. Dalam memahami berbagai materi digunakan berbagai pendekatan
ilmiah, sehingga informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, dan tidak
bergantung pada pendidik. Oleh karena itu, proses pembelajarannya ditekankan pada
pendekatan saintifik yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang berlaku saat
ini.

Salah satu materi pokok yang akan dibelajarkan dalam mata pelajaran Fisika
SMA adalah Gerak Parabola. Materi yang mempelajari salah satu jenis gerak suatu
benda ini tidak cukup hanya dibelajarkan melalui metode ceramah yang
konvensional, karena siswa akan merasa cepat bosan dan mengalami kesulitan dalam
memahami materi yang abstrak ini. Sifat materi yang abstrak tidak dapat diamati
3

secara langsung, sehingga perlu adanya suatu tambahan media pembelajaran untuk
memvisualisasikan materi gerak parabola. Adapun media pembelajaran dapat berupa
gambar, video, animasi dan lain sebagainya. Disamping dapat membantu pendidik
dalam memvisualisasikan materi, media pembelajaran juga dapat membuat
pembelajaran fisika menjadi lebih menarik dan interaktif.

Menurut Prastowo (2011:104) Modul diartikan sebagai sebuah buku yang


ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau
dengan bimbingan guru. Gunadharma dalam Sugiyanto dkk (2013:102) mengatakan
bahwa modul elektronik dapat diimplementasikan sebagai sumber belajar mandiri
yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan kompetensi atau pemahaman
secara kognitif yang dimilikinya serta tidak bergantung lagi pada satu-satunya
sumber informasi. Modul elektronik juga dapat digunakan dimana saja, sehingga
lebih praktis untuk dibawa kemana saja. Karena merupakan penggabungan dari
media cetak dan komputer, maka modul elektronik dapat menyajikan informasi
secara terstruktur, menarik serta memiliki tingkat interaktifitas yang tinggi. Selain
itu, proses pembelajaran tidak lagi bergantung pada instruktur sebagai satusatunya
sumber informasi. Sedangkan Darmawati (2013) juga mengatakan modul elektronik
juga dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman konsep dari materi yang
disampaikan pendidik. Terdapat dua jenis modul pembelajaran yaitu dapat berupa
modul elektronik seperti E-book dan modul non elektronik atau cetak yang berupa
buku, majalah, dan lain sebagainya. Akan tetapi media informasi saat ini mulai
mengalami masa perkembangan dan transisi dari media cetak ke media digital,
sehingga penyajian bahan ajar dapat disajikan dalam bentuk media digital.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2016:46-54) Melalui


metode research and development (RnD) dibuat pengembangan media pembelajaran
interaktif yaitu buku saku digital. Berdasarkan tujuan penelitian yang telah
dirumuskan, maka hasil dari pengamatan, observasi dan proses pembelajaran
teridentifikasi kebutuhan media pembelajaran yang interaktif untuk membantu
4

peserta didik. Produk media pembelajaran interaktif menghasilkan prototipe buku


saku digital melalui aplikasi Sigil. Hasil penilaian kelayakan buku saku digital oleh
pakar dengan persentase rata-rata yaitu 95, 23% dinilai “Sangat layak” untuk
digunakan sebagai media pembelajaran. Sedangkan hasil penilaian pendapat media
oleh peserta didik dianggap positif karena memiliki persentase rata-rata yaitu 91,43%
dimana buku saku digital dapat digunakan sebagai media pembelajaran.

Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Febriyanti, dkk.


(2017:18-26) yang berjudul “Pengembangan Modul Digital Fisika Berbasis
Discovery Learning pada Pokok Bahasan Kinematika Gerak Lurus” menyatakan
hasil analisis kebutuhan peserta didik yang menunjukkan bahwa bahan ajar fisika
untuk Kurikulum 2013 yang digunakan disekolah saat ini hanyalah buku teks;
77,03% pendidik menjelaskan materi fisika secara teoritis hanya memberikan rumus
dan latihan soal; 73,6% pendidik menjelaskan dengan menggunakan buku teks; dan
hanya 34,36% pendidik yang menjelaskan materi dengan media
(software/simulasi/PPT, video, animasi, dan gambar), padahal 91,22% dari 148
responden peserta didik mengatakan bahwa mereka lebih senang bila pendidik
menggunakan media audio-visual dan 76,35% peserta didik lebih mengerti pelajaran
fisika dengan menggunakan media tersebut. Peserta didik menganggap bahwa buku
teks yang tersedia sulit dipahami, sehingga peserta didik umumnya tidak membaca
buku teks sebelum pembelajaran dimulai. Selain itu Asyhar, dkk. (2017:18-27) juga
memaparkan berdasarkan wawancara terhadap guru pengajar fisika di SMA Negeri 1
Raja Ampat, pada ujian Kompetensi Dasar 3 tahun ajaran 2016/2017, peserta didik
kelas X IPA hanya mencapai ketuntasan 30%. Peserta didik mengalami kesulitan
dalam memahami konsep fisika terutama pada materi yang bersifat penerapan. Pada
laboratorium sekolah belum adanya alat peraga yang dapat digunakan untuk
mensimulasikan materi yang bersifat penerapan, maka digunakan multimedia
interaktif sebagai salah satu solusinya. Pemanfaatan multimedia interaktif ini dapat
5

meningkatkan aktivitas peserta didik, hal ini didukung dari penelitian-penelitian


sebelumnya, dalam penggunaan multimedia interaktif ini.

Menurut Sadiman (2011:17) media pendidikan mempunyai fungsi untuk


mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra. Misalnya gerak yang terlalu
lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan fitur timelapse, objek yang terlalu
kompleks dapat disajikan dengan model, objek yang terlalu besar atau terlalu kecil
dapat digantikan dengan gambar dan film bingkai. Selain itu penggunaan media
pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif dari peserta didik,
dalam hal ini media berperan sebagai pembangkit gairah belajar, memungkinkan
interaksi yang lebih langsung antara peserta didik dengan lingkungan dan kenyataan,
dan memungkinkan peserta didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
Modul elektronik berbasis Sigil ini dapat diisi dengan berbagai materi berupa
gambar, video, animasi, simulasi, hingga kuis yang dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa pada materi yang diajarkan. Modul elektronik
LCDS disusun secara sistematis, sehingga dapat memenuhi syarat pelaksanaan
pendekatan scientific dalam Kurikulum 2013 yang meliputi mengamati, menanya,
mengeksplorasi, menganalisis, dan mempresentasikan. Modul elektronik berbasis
Sigil dapat diterapkan dalam pembelajaran blended learning, yang mana
pembelajaran memadukan antara penggunaan modul dengan pemberian bimbingan
atau materi dari guru di dalam kelas. Dengan begitu, Kurikulum 2013 dapat terwujud
dengan adanya pelaksanaan pembelajaran dengan sistem Student Center Learning
(SCL).

Jadi jelas bahwa penggunaan modul elektronik sangat dibutuhkan dalam


pembelajaran fisika. Mengingat pentingnya pemahaman konsep dalam pembelajaran
Fisika dan juga agar peserta didik dapat belajar mandiri tanpa bantuan guru atau
instruktur. Sedangkan dengan perkembangan teknologi kita dapat mewujudkan
konsep-konsep Fisika yang abstrak tersebut menjadi konkret (visual/animasi)
sehingga pembelajaran Fisika menjadi lebih aktif, inovatif dan kreatif khususnya
6

pada materi Gerak Parabola. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan melalui sebuah
penelitian yang berjudul “Pengembangan Modul Pembelajaran Elektronik Fisika
Berbasis Software Sigil Pada Materi Gerak Parabola”.

B. Identifikasi Masalah

1. Pendekatan scientific pada kurikulum 2013 belum maksimal diimplementasikan


dalam pembelajaran fisika

2. Penggunaan model dan metode pembelajaran yang konvensional masih


dilakukan dalam pembelajaran Fisika, sehingga kurang tercapainya tujuan
pembelajaran yang diinginkan

3. Materi Fisika yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa, sehingga siswa
kurang termotivasi untuk belajar secara mandiri, masih bergantung pada guru
sebagai pemberi informasi.

4. Pengembangan bahan ajar Fisika yang menarik masih belum maksimal, seperti
modul.

5. Inovasi teknologi belum maksimal diimplementasikan dalam pembelajaran


Fisika, khususnya pada modul elektronik.

C. Pembatasan Masalah

Guna lebih mengarahkan dan mencapai sasaran penelitian maka diperlukan


suatu batasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu
sebagai berikut :
7

1. Penggembangan bahan ajar berupa modul pembelajaran elektronik berbasis


software Sigil

2. Modul pembelajaran Fisika memuat materi Gerak Melingkar dan diperuntukkan


bagi siswa SMA Kelas X

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan


masalah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengembangan modul pembelajaran elektronik berbasis software


Sigil tentang materi Gerak Parabola?

2. Apakah hasil dari modul yang telah dikembangkan memenuhi kriteria baik?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah tersebut yaitu


sebagai berikut:

1. Mengembangkan modul elektronik berbasis software Sigil untuk digunakan


sebagai media pembelajaran pada materi gerak parabola.

2. Mengetahui modul pembelajaran elektronik yang dikembangkan memenuhi


kriteria baik atau tidak.

F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan


8

Spesifikasi produk yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu sebagai


berikut:

1. Modul elektronik yang dikembangkan ini berisikan materi gerak parabola yang
ditujukan untuk siswa SMA Kelas X yang disertai gambar, simulasi, animasi,
video pembelajaran, kuis, contoh soal serta evaluasi.

2. Modul pembelajaran yang dikembangkan ini ditujukan sebagai pelengkap


maupun tambahan media pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran Fisika di
sekolah bagi siswa SMA Kelas X.

3. Jenis file hasil modul digital yang dikembangkan berformat .epub yang dapat
dibuka pada laptop maupun ponsel android melalui aplikasi epub reader

4. Tampilan modul pembelajaran yang dikembangkan dibuat semenarik mungkin


guna mendukung kegiatan pembelajaran yang lebih interaktif sehingga
diharapkan dapat meningkatkan motivasi serta kemandirian belajar siswa.

G. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Modul pembelajaran elektronik berbasis software Sigil yang dihasilkan
dapat digunakan untuk bahan ajar dalam pembelajaran Fisika pada materi
Gerak Parabola.
b. Bagi Siswa
Modul pembelajaran elektronik berbasis software Sigil dapat digunakan
sebagai fasilitas belajar baik secara mandiri maupun di kelas.
9

c. Bagi Sekolah
Modul pembelajaran elektronik berbasis software Sigil yang dikembangkan
dapat menambah pustaka yang berkaitan dengan mata pelajaran Fisika.
2. Manfaat Teori
a. Bagi Peneliti
Modul pembelajaran elektronik berbasis software Sigil yang dikembangkan
ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pengembangan bahan ajar
selanjutnya, baik untuk materi yang sama maupun berbeda.

H. Asumsi Penelitian

Hasil produk modul elektronik pembelajaran fisika berbasis software Sigil


yang dikembangkan dalam penelitian ini berdasarkan pada beberapa asumsi sebagi
berikut:

1. Modul pembelajaran elektronik berbasis software Sigil ini disusun dan


dikembangkan berdasarkan pada prosedur penelitian dan pengembangan yang
dikembangkan dengan metode ADDIE (Analysis, Design, Develop, Implement,
Evaluate).

2. Adapun ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa yang memvalidasi produk
modul adalah dosen-dosen ahli yang memiliki pengetahuan di bidang Fisika,
media pembelajaran, dan kebahasaan.

3. Reviewer yang menilai produk media adalah guru mata pelajaran Fisika SMA
dan peer-reviewer yang menilai produk adalah mahasiswa pendidika Fisika yang
memiliki pemahaman terkait dengan kualitas buku dan materi.

4. Modul pembelajaran Fisika berisi materi tentang Gerak Parabola