Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam memasuki era globalisasi dan menghadapi tantangan ekonomi, politik,


hukum, dan sosial, suatu Negara perlu menyelenggarakan aktivitas dan
penyelenggaraan pemerintahan termasuk belanja Negara dan pembangunan ekonomi
nasional yang berkelanjutan. Dalam menyelenggarakan seluruh kegiatannya, suatu
Negara memerlukan sumber penerimaan sebagai penyokong seluruh kegiatan
tersebut. Setiap warga Negara perlu berkontribusi untuk penyelenggaraan kegiatan
pemerintahan demi terwujudnya kemakmuran bagi seluruh warga Negara salah
satunya melalui pajak.

Menurut Bappenas, di tahun 2018 ini Indonesia merupakan Negara yang


memiliki jumlah penduduk hampir mencapai 265 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk
yang sangat besar, Indonesia memiliki potensi sumber penerimaan pajak yang sangat
besar karena berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia
dinyatakan bahwa setiap warga Negara yang memenuhi syarat subyektif dan obyektif,
wajib untuk membayar pajak secara langsung maupun tidak langsung. Pengertian
pajak berdasarkan Undang-Undang KUP Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat (1)
Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan disebutkan bahwa pajak adalah
kontribusi wajib pajak kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Pajak merupakan sumber pendapatan utama Negara
Indonesia yang digunakan untuk mebiayain pengeluaran pemerintahan dan
pembangunan. Hal ini tertuang dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara

1
(APBN) dimana penerimaan pajak merupakan penerimaan dalam negeri yangt
terbesar (Mardiasmo, 2011:21).

Saat ini Pemerintah mulai melirik sektor swasta yang dipastikan memiliki
potensi yang besar untuk pemasukan pajak, yaitu dari Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM), omset dan labanya memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan
perusahaan-perusahaan besar. Keberadaan UMKM ditengah situasi yang serba sulit
dan penuh ketidakpastian menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah baik pusat
maupun daerah. UMKM memainkan sekitar 95% dari keseluruhan ekonomi dan
mereka berfungsi sebagai sumber penciptaan lapangan kerja, inovasi, persaingan,
dinamisme ekonomi yang pada akhirnya menyebabkan pengentasan kemiskinan dan
pertumbuhan nasional.

Pemerintah dalam rangka meningkatkan kontribusi masyarakat dalam


pembangunan, pemerintah merilis Peraturan Pemerintah yang mengatur perlakuan
khusus Pajak Penghasilan untuk usaha kecil, mikro dan menengah, yaitu Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2018 yang mulai diberlakukan
tanggal 1 Juli 2018. Sebelumnya sudah ada ketentuan perpajakan yang mengatur tarif
khusus PPh untuk UMKM Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46
Tahun 2013 yang mulai diberlakukan tanggal 1 Juli 2013 tetapi dengan tariff PPh
yang lebih tinggi yaitu sebesar 1% dari peredaran bruto. Peraturan Pemerintah
Nomor 23 yang berlaku sejak 1 Juli 2018 ini dimaksud untuk mendorong pemenuhan
kewajiban perpajakan secara sukarela dan untuk mendorong masyarakat berperan
serta dalam kegiatan ekonomi formal, dengan memberikan kemudahan serta lebih
berkeadilan kepada Wajib Pajak UMKM untuk jangka waktu tertentu.
Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti termotivasi untuk melakukan
penelitian yang berjudul “Pengaruh Penurunan Tarif UMKM Sesuai PP 23
Tahun 2018 Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak UMKM di Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur”.

2
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh variabel penurunan tarif UMKM terhadap tingkat
kepatuhan Wajib Pajak UMKM di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur.

1.3 Kegunaan Penelitian


Berdasarkan tujuan penelitian, maka kegunaan penelitian ini yaitu bagi:
1) Penulis
a. Dapat mewujudkan suatu bentuk Usulan Penelitian, sebagai salah satu
syarat untuk menyusun Tugas Akhir Studi
b. Diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam
mengenai pengaruh dari Penurunan Tarif UMKM sesuai PP 23 Tahun
2018 terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM.
2) Bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur
Penelitian ini dapat memberikan masukan dan sumbangan pemikiran bagi
instansi tentang Pengaruh Penurunan Tarif UMKM sesuai PP 23 Tahun 2018
terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM di Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Denpasar Timur.
3) Pihak Lain
a. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi
tulisan lain yang sejenis dan juga sebagai sumber informasi dalam
penelahaan lebih .lanjut.
b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi
khususnya untuk mengkaji topik-topik yang berkaitan dengan masalah
yang dibahas dalam penelitian ini.

3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) adalah kegiatan ekonomi
rakyat yang bersekala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas
merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk dicegah dari
persaingan usaha yang tidak sehat. Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Usaha Mikro, Kecil, dan bertujuan
menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun
perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.

2.1.2 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018


PP 23 Tahun 2018 mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2018, dimana peraturan
ini mengatur tentang penghitungan Pajak Penghasilan Terutang bagi Wajib Pajak
yang memiliki peredaran bruto tertentu dengan pertimbangan untuk mendorong
masyarakat berperan serta dalam kegiatan ekonomi formal, dengan memberikan
kemudahan dan lebih berkeadilan kepada Wajib Pajak yang memiliki peredaran
bruto tertentu untuk jangka waktu tertentu, perlu mengganti Peraturan Pemerintah
Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha
yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto
Tertentu.
Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang
memiliki peredaran bruto tertentu tersebut dikenai Pajak Penghasilan yang
bersifat Final. Pajak penghasilan yang bersifat final merupakan pungutan pajak
penghasilan yang tidak dapat dikreditkan pada penghasilan tahunan. Selain itu,

4
pajak penghasilan yang bersifat final ini tidak ada tarif progresif. Artinya, Wajib
Pajak dipungut pajak pada waktu penghasilan itu diterima atau diperoleh. Adapun
besarnya tarif pajak penghasilan yang bersifat final dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 46 Tahun 2013 adalah 1% yang kini berubah menjadi PP 23 Tahun 2018
yang mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2018 dengan tarif pajak 0,5%, dimana dasar
pengenaan pajak yang digunakan adalah jumlah peredaran bruto setiap bulan
yang berasal dari usaha Wajib Pajak. Penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak
selain dari usaha, dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Undang-
Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Subjek pajak yang termasuk dalam PP Nomor 23 Tahun 2018 yaitu Wajib
Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang dikenai Pajak Penghasilan
final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) merupakan:
1) Wajib Pajak orang pribadi; dan
2) Wajib Pajak badan berbentuk koperasi, persekutuan komanditer, firma,
atau perseroan terbatas, yang menerima atau memperoleh penghasilan
dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar
delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
Adapun Pengecualian subjek pajak penghasilan sesuai dengan PP Nomor
23 Tahun 2018 yaitu:
1) Wajib Pajak memilih untuk dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf a, Pasal 17 ayat (2a1, atau Pasal 31E Undang-
Undang Pajak Penghasilan;
2) Wajib Pajak badan berbentuk persekutuan komanditer atau firma yang
dibentuk oleh beberapa Wajib Pajak orang pribadi yang memiliki keahlian
khusus menyerahkan jasa sejenis dengan jasa sehubungan dengan
pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4);
3) Wajib Pajak badan memperoleh fasilitas Pajak Penghasilan berdasarkan :
a. Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan atau

5
b. Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan
Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam
Tahun Berjalan beserta perubahan atau penggantinya; dan
4) Wajib Pajak berbentuk Bentuk Usaha Tetap.
Objek Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan terkait dengan PP 23 Tahun
2018 yaitu penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
dengan peredaran bruto kurang dari Rp 4.800.000.000 dalam 1 (satu) tahun Pajak.
Besarnya peredaran bruto tertentu sebagaimana dimaksud merupakan jumlah
peredaran bruto dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun
Pajak bersangkutan, yang ditentukan berdasarkan keseluruhan peredaran bruto
dari usaha, termasuk peredaran bruto dari cabang.

2.1.3 Kepatuhan Wajib Pajak


Menurut Mintje (2016 : 1034) kepatuhan wajib pajak adalah perilaku atau
tindakan wajib pajak untuk melaksanakan hak perpajakannya dan memenuhi
kewajiban perpajakannya seperti membuat NPWP, mengisi secara benar jumlah
pajak yang terutang, membayar pajak tepat pada waktunya tanpa ada pemaksaan,
serta memasukkan dan me-laporkan pada waktunya informasi yang diperlukan
sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.
Sesuai dengan PMK Nomor 192/PMK.03/2007 Pasal 1, wajib pajak yang
dapat ditetapkan sebagai wajib pajak patuh yang dapat diberikan pengembalian
pendahuluan kelebihan pembayaran pajak apabila memenuhi semua syarat yaitu,
(a) tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan, (b) tidak mempunyai
tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah
memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak, (c) laporan
keuangan diaudit oleh akuntan public atau lembaga pengawas keuangan
pemerintah dengan pendapat wajar tanpa pengecualian selama 3 tahun berturut-
turut dan (4) tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana dibidang

6
perpajakan berdasarkan keputusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
dalam jangka waktu 5 tahun terakhir.

2.1.4 Perubahan Tarif Pajak


Tarif pajak adalah dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk
menentukan jumlah pajak terutang dari suatu objek pajak (Mustofa dkk, 2016 :
03). Bagi pemerintah, tarif pajak yang besar akan memudahkan dalam
memperoleh penerimaan Negara. Sebaliknya, bagi masyarakat selaku subjek
pajak hal ini akan dirasakan mengurangi kemampuan anggarannya dalam
memenuhi kebutuhannya.
Laffer (dalam Mir’tusholihah dkk, 2016 : 03) menjelaskan bahwa terdapat
suatu hubungan antara tarif pajak (tax rates) dengan penerimaan negara (tax
revenue) yang kemudian digunakan dalam sebuah kurva yang lebih dikenal
dengan laffer curve.

Gambar 2.1 Laffer Curve


Berdasarkan Gambar 2.1, sangat jelas bahwa pada tingkat tarif pajak 0%
pemerintah tidak mendapatkan penerimaan pajak, tidak peduli berapapun jumlah
tax base-nya. Begitu pula pada tingkat tarif 100%, pemerintah tidak mendapatkan
penerimaan yang berasal dari pajak karena willingness to pay dari masyarakat
akan berkurang hingga muncul perilaku penghindaran pajak.

7
2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Peneliti Judul Jenis Hasil Penelitian
Penelitian
Heny Pengaruh Tarif Pajak, Kuantitatif Tarif pajak dan kesadaran
Wachidatul Mekanisme membayar pajak tidak
Yusro dan Pembayaran Pajak dan berpengaruh terhadap
Kiswanto Kesadaran Membayar kepatuhan membayar pajak
(2014) Pajak Terhadap UMKM, sedangkan
Kepatuhan Wajib Pajak mekanisme pembayaran
UMKM Di Kabupaten pajak berpengaruh terhadap
Jepara kepatuhan membayar pajak
UMKM.
Norsain Pengaruh Perubahan Kuantitatif Perubahan tarif pajak,
dan Tarif, Kemudahan kemudahan membayar
Abu Yasid Membayar Pajak, dan pajak dan sosialisasi PP No.
(2014) Sosialisasi PP Nomor 46 tahun 2013 berpengaruh
46 Tahun 2013 secara parsial terhadap
Terhadap Persepsi persepsi wajib pajak, dan
Wajib Pajak UMKM secara simultan ketiga
variabel tersebut
berpengaruh terhadap
persepsi wajib pajak.

8
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian


Lokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Denpasar Timur yang beralamat di Jalan Tantular No. 4, Denpasar-Bali.

3.2 Obyek Penelitian


Obyek penelitian berupa Pengaruh Penurunan Tarif UMKM sesuai PP 23
Tahun 2018 terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak UMKM yang terdaftar di
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur Tahun 2018.

3.3 Identifikasi Variabel


Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013: 38). Variabel yang
digunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan menjadi: (1) variabel independen
(bebas), yaitu variabel yang menjelaskan dan memengaruhi variabel lain, dan (2)
variabel dependen (terikat), yaitu variabel yang dijelaskan dan dipengaruhi oleh
variabel independen.

3.3.1 Variabel Independen


Variabel independen adalah variabel yang sering disebut sebagai variabel
stimulus, prediktor, dan antesenden. Dalam bahasa Indonesia sering disebut
sebagai variabel bebas. Variabel ini memengaruhi atau yang menjadi sebab

9
perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2013: 39). Variabel
independen dalam penelitian ini adalah perubahan tarif UMKM sesuai PP 23
Tahun 2018 (X).

3.3.2 Variabel Dependen


Variabel dependen sering disebut sebagai variabel output, kriteria, dan
konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat.
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2013: 39). Variabel dependen dalam
penelitian ini adalah tingkat kepatuhan Wajib Pajak UMKM (Y).

3.4 Definisi Operasional Variabel


Definisi operasional pada penelitian adalah unsur penelitian yang terkait
dengan variabel yang terdapat dalam judul penelitian atau yang tercakup dalam
paradigma penelitian sesuai dengan hasil perumusan masalah. Teori ini dipergunakan
sebagai landasan atau alasan mengapa suatu yang bersangkutan memang bisa
memengaruhi variabel tak bebas (Supranto, 2003: 322). Tarif pajak adalah dasar
pengenaan pajak yang digunakan untuk menentukan jumlah pajak terutang dari suatu
objek pajak (Mustofa dkk, 2016 : 03).
Menurut Mintje (2016 : 1034) kepatuhan wajib pajak adalah perilaku atau
tindakan wajib pajak untuk melaksanakan hak perpajakannya dan memenuhi
kewajiban perpajakannya seperti membuat NPWP, mengisi secara benar jumlah pajak
yang terutang, membayar pajak tepat pada waktunya tanpa ada pemaksaan, serta
memasukkan dan me-laporkan pada waktunya informasi yang diperlukan sesuai
dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

10
3.5 Jenis dan Sumber Data
3.5.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif,
yaitu data yang berupa angka-angka yang dapat diukur atau dapat
dikuantifikasikan. Data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah
akumulasi data pembayaran dan pelaporan Wajib Pajak UMKM yang terdaftar di
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur, serta didukung oleh hasil data
kuesioner yang dibagikan kepada Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Denpasar Timur.

3.5.2 Sumber Data


Sumber data yang data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui media
perantara. Data sekunder yang digunakan untuk menunjang penelitian ini berupa
data tingkat keterlambatan pembayaran dan pelaporan pajak serta data pembuatan
NPWP baru oleh Wajib Pajak UMKM yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Denpasar Timur tahun 2018.

3.6 Metode Pengumpulan Data


Metode pegumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Metode Observasi
Observasi yaitu suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan
pengamatan secara langsung terhadap obyek yang diteliti dengan cara
mengamati dan mempelajari dokumen-dokumen yang ada di Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur. Data yang diperoleh yaitu data
tingkat keterlambatan pembayaran dan pelaporan pajak serta data pembuatan

11
NPWP baru oleh Wajib Pajak UMKM yang terdaftar di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Denpasar Timur tahun 2018.
2) Wawancara
Wawancara dilakukan kepada pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Denpasar Timur sebagai bukti pendukung data penelitian yang akan
menggambarkan perpajakan yang diteliti oleh penulis.

3.7 Teknik Analisis Data


Penelitian ini adalah penelitian statistik deskriptif kuantitatif. Teknik statistik
deskriptif kuantitatif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan
cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana
adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau
generalisasi. Teknik ini digunakan untuk menganalisis Pengaruh Penurunan Tarif
UMKM Sesuai PP 23 Tahun 2018 Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur.

12
DAFTAR PUSTAKA

Mintje, Megahsari Seftiani. 2016. Pengaruh Sikap, Kesadaran, dan Pengetahuan


Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Pemilik (UMKM) dalam
Memiliki (NPWP). Jurnal Emba. 4(1): 1031-1043.
Mir’atusholihah., Srikandi K dan Bambang I. 2016. Pengaruh Pengetahuan
Perpajakan, Kualitas Pelayanan Fiskus dan Tarif Pajak Terhadapa Kepatuhan
Wajib Pajak. Artikel, Jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu
Administrasi, Universitas Brawijaya: 1-9.
Mustofa, Fauzi Achmad., Kertahadi dan Mirza M. R. 2016. Pengaruh Pemahaman
Peraturan Perpajakan, Tarif Pajak dan Asas Keadilan Terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak. Jurnal Perpajakan (JEJAK). 8(1): 1-7.
Norsain dan Abu Yasid. 2014. Pengaruh Perubahan Tarif, Kemudahan Membayar
Pajak, dan Sosialisasi PP Nomor 46 Tahun 2013 Terhadap Persepsi Wajib
Pajak UMKM. Jurnal Performance Bisnis dan Akuntansi. 4(2): 1-13.
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 Tentang Pajak Penghasilan atas
Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
Sugiyono (2002). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Supranto (1984). Ekonometrik (Buku Dua). Jakarta: FE UI.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.
Yusro, Heny Wachidatul dan Kiswanto. 2014. Pengaruh Tarif Pajak, Mekanisme
Pembayaran Pajak dan Kesadaran Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
UMKM Di Kabupaten Jepara. Accounting Analysis Journal. 3(4): 429-436.

13