Anda di halaman 1dari 8

Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan

pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dan untuk tujuan lain dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Pemeriksaan pajak merupakan bagian tak terpisahkan (built-in) dengan sistem self
assessment yang dianut dalam sistem perpajakan di Indonesia. Pemeriksaan pajak dilakukan
dalam rangka pengawasan (control) kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan. Tanpa
pengawasan, Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya cenderung
menghindari bayar pajak. Bahkan banyak juga Wajib Pajak yang menghindari bayar pajak
dengan cara yang tidak benar seperti menurunkan omset, atau menambah biaya yang pada
akhirnya menghilangkan keuntungan fiskal atau meminimalkan penghasilan kena pajak.

Menurut sistem self assessment, Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan
objektif wajib:
a. mendaftar diri ke Kantor Pelayanan Pajak untuk mendapatkan NPWP sesuai tempat tinggal,
tempat domisili atau tempat kedudukan Wajib Pajak tersebut.
b. Menghitung sendiri jumlah pajak yang terutang.
c. Menyetor sendiri pajak yang terutang ke bank persepsi.
d. Melaporkan kegiatan usaha, penghasilan, harta, dan hutang melalui media Surat
Pemberitahuan (SPT) dengan benar, lengkap, jelas dan ditandatangan.

Benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur
lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan. Jelas adalah melaporkan asal-usul atau
sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.

Penjelasan terbaik sistem self assessment ada pada Pasal 12 UU KUP. Pasal ini merupakan
penegasan bahwa kewajiban perpajakan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan
pajak. Penerbitan surat ketetapan pajak terbatas hanya pada Wajib Pajak tertentu yang terbukti
melaporkan SPT tidak benar. Berbeda dengan sistem official assessment bahwa pajak terutang
timbul dari terbitnya surat ketetapan pajak.
Berikut kutipan Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang KUP dan bagian penjelasannya.

Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan
pajak.

Penjelasan

Pajak pada prinsipnya terutang pada saat timbulnya objek pajak yang dapat dikenai pajak, tetapi
untuk kepentingan administrasi perpajakan saat terutangnya pajak tersebut adalah:
a. pada suatu saat, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak ketiga;
b. pada akhir masa, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pemberi kerja, atau yang
dipungut oleh pihak lain atas kegiatan usaha, atau oleh Pengusaha Kena Pajak atas pemungutan
Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah; atau
c. pada akhir Tahun Pajak, untuk Pajak Penghasilan.
Jumlah pajak yang terutang yang telah dipotong, dipungut, atau pun yang harus dibayar oleh
Wajib Pajak setelah tiba saat atau masa pelunasan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 dan Pasal 10 ayat (2), oleh Wajib Pajak harus disetorkan ke kas negara melalui tempat
pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1).

Berdasarkan Undang-Undang ini Direktorat Jenderal Pajak tidak berkewajiban untuk


menerbitkan surat ketetapan pajak atas semua Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib
Pajak. Penerbitan suatu surat ketetapan pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang
disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan atau karena ditemukannya
data fiskal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak.
Jenis-Jenis Pemeriksaan Pajak yang
Perlu Diketahui Wajib Pajak
Berbicara tentang perpajakan, Indonesia adalah negara yang menganut sistem
perpajakan Self Assessment. Artinya, Wajib Pajak (WP) diberikan kepercayaan untuk
menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri kewajiban perpajakannya. Namun,
sistem ini hanya akan berjalan jika WP memiliki pengetahuan perpajakan yang baik dan
kepatuhan yang tinggi dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Pemeriksaan pajak adalah serangkaian kegiatan menghimpun serta mengolah data,
keterangan, dan bukti yang dilaksanakan secara objektif serta profesional berdasarkan
standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan. Atau
bertujuan untuk melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang
perpajakan. Jadi, pemeriksaan pajak merupakan bagian akhir dari pengendalian proses
perpajakan untuk memastikan WP menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)
dengan benar, jelas, dan lengkap.

Tujuan Pemeriksaan Pajak


Sebagai bagian akhir dari proses pengendalian perpajakan, pemeriksaan pajak penting
untuk dilakukan dan memiliki tujuan:

Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan, meliputi:


1. SPT lebih bayar, termasuk yang telah diberikan pengembalian pendahuluan pajak.
2. SPT rugi.
3. SPT terlambat, yaitu melampaui jangka waktu Surat Teguran yang disampaikan.
4. Melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi, pembubaran, atau akan
meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.
5. Menyampaikan SPT yang memenuhi kriteria seleksi berdasarkan hasil analisis yang
mengindikasikan adanya kewajiban perpajakan WP yang tidak dipenuhi.
Selain itu, pemeriksaan pajak juga memiliki tujuan tambahan yang lainnya, yaitu:
1. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) secara jabatan.
2. Penghapusan NPWP.
3. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan pencabutan PKP.
4. WP mengajukan keberatan.
5. Pengumpulan bahan untuk penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
6. Pencocokan data dan atau alat keterangan.
7. Penentuan WP berlokasi di daerah terpencil.
8. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
9. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak.
10. Penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas perpajakan.
11. Pemenuhan informasi negara mitra Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda.

Jenis Pemeriksaan Pajak


Untuk menjamin Wajib Pajak melakukan kewajiban perpajakan secara benar dan jujur,
petugas pajak akan melakukan dua jenis pemeriksaan pajak.

1. Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan lapangan dilakukan di tempat tinggal, tempat usaha, atau tempat bekerja
WP, serta tempat lain yang dianggap perlu. Dalam pelaksanaannya, Wajib Pajak
diwajibkan untuk:

 Memperlihatkan buku atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan dan dokumen lain yang
berhubungan dengan penghasilan, kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau objek yang
terutang pajak.
 Memberi kesempatan untuk mengakses data yang dikelola secara elektronik.
 Memberi kesempatan memasuki dan memeriksa ruangan, barang bergerak atau tidak bergerak
yang diduga digunakan untuk menyimpan buku atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan,
dokumen lain, uang atau barang yang memberi petunjuk penghasilan yang diperoleh, kegiatan
usaha, pekerjaan bebas WP atau objek yang terutang pajak.
 Memberi bantuan untuk kelancaran pemeriksaan, berupa:
 Menyediakan tenaga dan atau peralatan atas biaya WP jika dalam mengakses data yang dikelola
secara elektronik memerlukan peralatan dan atau keahlian khusus.
 Memberikan kesempatan Pemeriksa Pajak membuka barang bergerak dan atau tidak bergerak.
 Menyediakan ruangan khusus tempat dilakukannya Pemeriksaan Lapangan untuk memeriksa
buku, catatan, dan dokumen yang tidak memungkinkan dibawa ke Kantor Direktorat Jenderal
Pajak.
 Menyampaikan tanggapan secara tertulis atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan.
 Memberikan keterangan lisan atau tertulis yang diperlukan.

2. Pemeriksaan Kantor
Pemeriksaan Kantor dilakukan di Kantor Direktorat Jenderal Pajak atau Kantor
Pelayanan Pajak.

Saat pelaksanaan pemeriksaan kantor, Wajib Pajak diwajibkan untuk:


 Memenuhi panggilan menghadiri pemeriksaan sesuai waktu yang ditentukan.
 Memperlihatkan buku atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan dan dokumen lain termasuk
data yang dikelola secara elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan, kegiatan usaha,
pekerjaan bebas WP, atau objek yang terutang pajak.
 Memberi bantuan untuk kelancaran pemeriksaan.
 Menyampaikan tanggapan secara tertulis atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan.
 Meminjamkan kertas kerja pemeriksaan yang dibuat Akuntan Publik.
 Memberikan keterangan lisan atau tertulis yang diperlukan.

Hak Wajib Pajak Selama Pemeriksaan Pajak


Dalam pelaksanaan pemeriksaan pajak untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dengan jenis Pemeriksaaan Lapangan dan Pemeriksaan Kantor, Wajib Pajak
berhak:

 Meminta Pemeriksa Pajak memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat
Perintah Pemeriksaan.
 Meminta Pemeriksa Pajak memberikan pemberitahuan tertulis pelaksanaan
Pemeriksaan Lapangan.
 Meminta Pemeriksa Pajak memberikan penjelasan alasan dan tujuan Pemeriksaan.
 Meminta Pemeriksa Pajak memperlihatkan Surat Tugas jika susunan Tim Pemeriksa
Pajak mengalami perubahan.
 Menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan.
 Menghadiri Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam waktu yang ditentukan.
 Mengajukan permohonan untuk dilakukannya pembahasan oleh Tim Pembahas jika ada
perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dan Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir
Hasil Pemeriksaan.
 Memberikan pendapat pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak melalui formulir
Kuesioner Pemeriksa.
 Mengajukan pengaduan jika kerahasiaan dibocorkan kepada pihak lain yang tidak
berhak.
Kriteria Pemeriksaan Pajak Berdasarkan Latar
Belakang Pemeriksaan
Pemeriksaan pajak, bisa dilakukan dengan dua kriteria berdasarkan latar belakang
alasan dilakukannya pemeriksaan, yaitu:

1. Pemeriksaan Rutin
Pemeriksaan pajak rutin ini dilakukan karena berhubungan dengan pemenuhan hak atau
pelaksanaan kewajiban perpajakan WP, antara lain:

1. Menyampaikan SPT Tahunan PPh atau SPT Masa PPN yang menyatakan LB restitusi.
2. Menyampaikan SPT Tahunan PPh atau SPT Masa PPN yang menyatakan LB tidak disertai
permohonan pengembalian kelebihan.
3. Menyampaikan SPT Masa PPN LB kompensasi.
4. Sudah mendapat pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak.
5. Menyampaikan SPT rugi.
6. Melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi, atau akan meninggalkan Indonesia
selamanya.
7. Melakukan perubahan tahun buku, metode pembukuan, dan penilaian aktiva tetap.

2. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan pajak khusus ini dilakukan berdasarkan hasil analisis risiko yang
menunjukkan adanya indikasi ketidakpatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan.
Pemeriksaan khusus dijalankan dengan mengacu pada beberapa ketentuan, seperti:

1. Berdasarkan analisis risiko yang dibuat berdasarkan profil WP atau data internal lainnya serta
data eksternal secara manual ataupun komputerisasi.
2. Ruang lingkupnya dapat meliputi satu, beberapa, atau seluruh jenis pajak.
3. Pemeriksaannya menggunakan pemeriksaan lapangan.

Ruang Lingkup Pemeriksaan Pajak


Berdasarkan jenis dan periode pencatatan, ruang lingkup pemeriksaan pajak memiliki
cakupan objek pemeriksaan, di antaranya:

1. Berdasarkan Jenis Pajaknya


Ruang lingkup pemeriksaan pajak meliputi:
 Satu jenis pajak
 Beberapa jenis pajak
 Seluruh jenis pajak

2. Berdasarkan Periode Pencatatan


Meliputi:
 Satu masa pajak
 Beberapa masa pajak
 Bagian tahun pajak
 Tahun pajak

Jangka Waktu Pemeriksaan Pajak


Pemeriksaan pajak dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam jangka waktu yang sudah
ditentukan. Jangka waktu pemeriksaan dibuat secukupnya yang bertujuan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan yang tediri dari proses pengujian dan
pembahasan akhir hasil pemeriksaan pajak. Keduanya memiliki jangka waktu yang
berbeda. Untuk mengetahui lebih lengkapnya, di bawah ini diuraikan perihal jangka waktu
tersebut.

1. Jangka Waktu Pengujian


Jangka waktu ini meliputi:

1. Pemeriksaan Lapangan, yang dilakukan paling lama 6 bulan, dihitung sejak Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan disampaikan kepada WP, wakil, kuasa, atau pegawainya sampai tanggal
Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) disampaikan kepada WP, wakil, kuasa, atau
pegawainya.
2. Pemeriksaan Kantor, yang dilakukan paling lama 4 bulan, dihitung sejak tanggal WP, wakil,
kuasa, atau pegawainya datang memenuhi surat panggilan pemeriksaan sampai tanggal Surat
Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) disampaikan kepada WP, wakil, kuasa, atau
pegawainya.
Jangka waktu pengujian dapat diperpanjang paling lama 2 bulan, dengan alasan:

1. Ruang lingkup pemeriksaan diperluas, seperti pemeriksaan satu masa pajak menjadi tahun
pajak.
2. Ada permintaan data kepada pihak ketiga.
3. Pertimbangan kepala unit pemeriksaan.
Sementara jangka waktu pengujian Pemeriksaan Lapangan yang berkaitan dengan WP
kontraktor kontrak kerja sama pertambangan minyak dan gas bumi, WP satu grup, atau
WP yang terindikasi melakukan rekayasa transaksi keuangan dapat diperpanjang paling
lama 6 bulan atau paling banyak 3 kali sesuai kebutuhan.

2. Jangka Waktu Pembahasan Akhir Pemeriksaan


Baik pemeriksaan lapangan maupun pemeriksaan kantor dilakukan paling lama 2 bulan,
dihitung sejak tanggal SPHP disampaikan kepada WP, wakil, kuasa, atau pegawainya
sampai tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP).

Pahami Pemeriksaan Pajak Demi Kelancaran


Administrasi Perpajakan Anda
Hal yang utama dalam proses pemeriksaan pajak adalah Anda memahami alurnya serta
paham urusan administrasinya. Uraian di atas memberikan gambaran detail tentang
berkas dan proses yang harus dijalani Wajib Pajak sehingga memudahkan
melaksanakan kewajiban perpajakannya. Selain mengetahui kewajiban waktu
pemeriksaan pajak, Wajib Pajak sebaiknya juga mengetahui haknya sebagai Wajib
Pajak.