Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

TENTANG PERANG KOREA

Disusun oleh :

SMAN 20 KAB TANGERANG


Alamat Jl. Pakuhaji KM. 2, Buaran Bambu,
Kec. Pakuhaji, Kab. Tangerang Prov. Banten 15570

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Di Amerika Serikat, perang ini secara resmi dideskripsikan sebagai aksi polisional
karena tidak adanya deklarasi perang resmi dari Kongres AS. Dalam bahasa sehari-
hari, perang ini juga sering disebut "perang yang terlupakan" atau "perang yang tidak
diketahui", karena dianggap sebagai urusan PBB yang berakhir dengan kebuntuan
(stalemate), sedikitnya korban dari pihak AS, dan kurang jelasnya isu-isu penyebab
perang ini bila dibandingkan dengan Perang Vietnam dan Perang Dunia II.[5][6]
Di Korea Selatan, perang ini biasa disebut sebagai Perang 6-2-5 (yuk-i-o jeonjaeng)
yang mencerminkan tanggal dimulainya perang pada 25 Juni. Sementara itu, di Korea
Utara, perang ini secara resmi disebut choguk haebang chǒnjaeng ("perang
pembebasan tanah air"). Perang Korea juga disebut Chosǒn chǒnjaeng ("Perang
Joseon", Joseon adalah sebutan Korea Utara untuk tanah Korea).
Perang Korea secara resmi disebut Chao Xian Zhan Zheng (Perang Korea) di
Republik Rakyat Tiongkok. Kata "Chao Xian" merujuk ke Korea pada umumnya, dan
secara resmi Korea Utara.
Istilah Perang Korea juga dapat menyatakan pertempuran sebelum invasi maupun
setelah gencatan senjata dilakukan
B. RUSUMASAN MASALAH
1. Bagaimana terjadi perang korea?
2. Bagaimana pemisahan terjadi perang korea?
3. Mengetahui akhir dari perang korea ?

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perang Korea
Perang Korea (bahasa Korea:) adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan
yang terjadi sejak 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Perang ini juga disebut "perang yang
dimandatkan" (bahasa Inggris: proxy war) antara Amerika Serikat bersama sekutu PBB-nya
dengan komunis Republik Rakyat Tiongkok yang bekerjasama dengan Uni Soviet (juga
anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama
Korea Selatan adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun
banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB. Sekutu Korea Utara, seperti
Republik Rakyat Tiongkok menyediakan kekuatan militer, sementara Uni Soviet yang
menyediakan penasihat perang, pilot pesawat, dan juga persenjataan untuk pasukan Tiongkok
dan Korea Utara.
Pendudukan Jepang (1910–1945)
Setelah mengalahkan Dinasti Qing Tiongkok pada Perang Tiongkok-Jepang Pertama (1894–
96), Kekaisaran Jepang menduduki Kekaisaran Korea (1897–1910) yang dipimpin oleh
Kaisar Gojong.[8] Satu dekade kemudian, saat mengalahkan Kekaisaran Rusia pada Perang
Rusia-Jepang (1904–05), Jepang menjadikan Korea sebagai protektorat-nya melalui
Perjanjian Eulsa pada tahun 1905, kemudian menganeksasinya melalui Perjanjian Aneksasi
Jepang-Korea pada tahun 1910.[9][10]
Sejak saat itu banyak kaum nasionalis dan intelektual yang melarikan diri. Beberapa dari
mereka membentuk Pemerintahan Sementara Korea, dipimpin oleh Syngman Rhee, di
Shanghai pada tahun 1919, dan menjadi pemerintahan dalam pengasingan yang hanya diakui
oleh sedikit negara. Antara tahun 1919 hingga 1925, kaum komunis Korea memulai
pemberontakannya terhadap Jepang.
Korea dianggap sebagai bagian dari Kekaisaran Jepang bersama dengan Taiwan, yang
merupakan bagian dari Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya; pada tahun 1937,
Gubernur-Jenderal Minami Jiro memerintahkan dilakukannya asimilasi budaya Jepang
terhadap 23,5 juta penduduk koloni dengan melarang bahasa, sastra, dan budaya Korea, dan
menggantinya dengan budaya Jepang, serta memerintahkan orang Korea mengganti nama
mereka menjadi nama Jepang. Pada tahun 1938, pemerintahan kolonial menjalankan sistem
kerja paksa; hingga 1939, 2,6 juta orang Korea bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja
paksa; pada tahun 1942, pria-pria di Korea dipaksa menjadi tentara Jepang.
3
Sementara itu di Tiongkok, kelompok nasionalis Tentara Revolusi Nasional dan kelompok
komunis Tentara Pembebasan Rakyat mengorganisir (sayap-kanan dan sayap-kiri) patriot
Korea yang mengungsi. Kelompok Nasionalis yang dipimpin oleh Yi Pom-Sok bertempur di
Pertempuran Burma (Desember 1941 — Agustus 1945). Kelompok komunis, berada dibawah
pimpinan Kim Il-sung, bertempur melawan Jepang di Korea.
Selama Perang Dunia II, tentara Jepang memanfaatkan makanan, ternak, dan logam dari
Korea untuk tujuan perang. Tentara Jepang di Korea meningkat dari 46.000 (1941) ke
300.000 personel (1945). Tentara Jepang juga merekrut paksa 2,6 juta tenaga kerja yang
dikontrol oleh polisi kolaborasionis Korea; lebih dari 723.000 orang dikirim ke luar negeri
dan juga ke kota-kota di Jepang. Pada Januari 1945, 32% tenaga kerja Jepang adalah orang
Korea; pada Agustus 1945, ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hirosima, 25%
di antara mereka tewas.[11] Pendudukan Jepang di Korea dan Taiwan itu tidak diakui oleh
negara kekuatan dunia pada akhir perang.

B. Pemisahan Korea (1945)


Pada Konferensi Potsdam (Juli—Agustus 1945), Sekutu secara sepihak memutuskan untuk
membagi Korea tanpa melakukan konsultasi dengan pihak Korea sendiri. Hal ini tidak sesuai
dengan Konferensi Kairo (November 1943), ketika Churchill, Chiang Kai-shek, dan Franklin
D. Roosevelt mendeklarasikan bahwa Korea harus menjadi negara bebas dan merdeka. Selain
itu, sebelumnya, Konferensi Yalta (Februari 1945) mengizinkan Stalin membangun "zona
penyangga" Eropa — negara satelit yang berada di bawah Moskwa — sebagai balasan karena
telah membantu Amerika Serikat di Perang Pasifik melawan Jepang.
Pada tanggal 10 Agustus, Tentara Merah menguasai bagian utara semenanjung Korea,
sebagaimana yang telah disepakati, dan pada tanggal 26 Agustus berhenti di paralel utara ke-
38 selama 3 minggu untuk menunggu kedatangan pasukan Amerika Serikat di Selatan.[8]
Pada hari itu pula, dengan semakin dekatnya jadwal kapitulasi Jepang (15 Agustus), Amerika
Serikat ragu Uni Soviet akan mengakui peran mereka dalam "komisi bersama", perjanjian
pendudukan Korea yang disponsori Amerika Serikat. Sebulan sebelumnya, untuk memenuhi
persyaratan politik-militer Amerika Serikat, Kolonel Dean Rusk dan Charles Bonesteel III
membagi semenanjung Korea menjadi dua di garis lintang 38 derajat setelah dengan terburu-
buru (tiga puluh menit) memutuskan bahwa Daerah Pendudukan AS di Korea harus
setidaknya memiliki dua pelabuhan.
Untuk menjelaskan mengapa zona demarkasi (paralel ke-38) terlalu selatan, Rusk
mengatakan, "bahkan meskipun perbatasan itu lebih ke utara daripada yang dapat secara
4
realistis dicapai oleh pasukan Amerika, dalam hal terjadi perselisihan Soviet... kami merasa
penting untuk menyertakan ibu kota Korea sebagai tanggung jawab pasukan Amerika,"
terutama ketika "dihadapkan dengan kurangnya jumlah pasukan AS yang tersedia, juga faktor
ruang dan waktu, yang mengakibatkan sulitnya pasukan mencapai lebih jauh ke utara
sebelum pasukan Soviet sampai terlebih dahulu.”[17] Pasukan Soviet setuju dengan demarkasi
itu.
Dengan berkuasanya pemerintahan militer, Jenderal John R. Hodge secara langsung
mengontrol Korea Selatan (USAMGIK 1945–48).[21] Ia memperkuat kontrolnya dengan cara:
pertama, mengembalikan kekuasaan administrator-administrator kunci kolonial Jepang dan
juga polisi kolabolatornya; kedua menolak pengakuan USAMGIK terhadap Republik Rakyat
Korea (Agustus–September 1945)—pemerintahan sementara Korea yang mulai berkuasa di
semenanjung Korea—karena dianggap sebagai komunis. Kebijakan AS, yang menolak
pemerintahan populer di Korea, menimbulkan gejolak dalam masyarakat, dan mengakibatkan
munculnya Perang Saudara Korea.[9] Pada 3 September 1945, Letnan Jendral Yoshio Kozuki,
komandan, Tentara Wilayah ke-17 Jepang, menghubungi Hodge, mengatakan bahwa tentara
Soviet mulai bergerak ke arah selatan lintang 38 derajat di Kaesong. Hodge mempercayai
keakuratan informasi itu

C. Jalannya perang
Peran Joseph Stalin dan Mao Zedong
Professor Shen Zhihua, yang menggunakan dana pribadinya untuk membeli arsip-arsip Uni
Soviet, banyak menemukan telegram-telegram antara Moskwa dengan Beijing sebelum
perang dimulai. Berikut ini adalah ikhtisar singkat dari sejumlah telegram antara Mao dan
Stalin.
 Pada 1 Oktober 1950 Kim Il-sung mengirim telegram ke Tiongkok, meminta
intervensi militer. Pada hari yang sama, Mao Zedong menerima telegram Stalin, yang
juga meminta Tiongkok mengirim pasukan ke Korea.
 Pada 5 Oktober 1950, di bawah tekanan Mao Zedong dan Peng Dehuai, Komite Pusat
Komunis Tiongkok memutuskan untuk melakukan intervensi militer di Korea.
 Pada 11 Oktober 1950 Stalin dan Zhou Enlai mengirim telegram yang ditandatangani
bersama kepada Mao, yang menyatakan:
1. Tentara Tiongkok yang dikirimkan kurang persiapan dan tidak dilengkapi tank dan
artileri; dibutuhkan waktu dua bulan sebelum bantuan perlindungan udara sampai di
sana.
5
2. Dalam jangka waktu satu bulan, tentara dengan perlengkapan memadai harus sudah
siap di posisinya masing-masing; bila tidak, maka pasukan AS akan berjalan lebih
jauh ke utara dan mengalahkan Korea Utara.
3. Pasukan dengan perlengkapan yang memadai harus dikirim ke Korea dalam jangka
waktu enam bulan, bila lebih, maka Korea Utara diperkirakan telah diduduki AS,
sehingga bantuan tentara akan sia-sia.
 Pada 12 Oktober 1950, pukul 15:30 waktu Beijing, Mao mengirim telegram kepada
Stalin melalui duta besarnya: Saya setuju dengan keputusan Anda (Stalin dan Zhou).
 Pada 12 Oktober 1950, pukul 22:12 waktu Beijing, Mao mengirim telegram lain: Saya
setuju dengan telegram 10 Oktober, pasukan saya akan tetap di tempatnya, saya telah
mengeluarkan perintah untuk menunda rencana ke Korea.
 Pada 12 Oktober 1950, Stalin mengirim telegram ke Kim Il-sung, mengatakan: tentara
Rusia dan Tiongkok tidak akan datang.
 Pada 13 Oktober, duta besar Rusia di Beijing mengirim telegram kepada Stalin,
mengatakan: Mao Zedong telah memberitahu kepadanya bahwa Komite Pusat
Komunis Tiongkok telah menyetujui keputusan pengiriman pasukan ke Korea.

D. Korea Utara menyerang (Juni 1950)


Meskipun PBB menerima banyak pesan yang memberitahu bahwa Korea Utara akan
melakukan invasi, PBB menolak semuanya. Sebelum perang, pada awal tahun 1950, perwira
CIA stasiun Tiongkok Douglas Mackiernan menerima ramalan intelejen Tiongkok dan Korea
Utara yang meramalkan bahwa tentara Korut akan menyerang ke Selatan.
Dengan alasan membalas provokasi Korea Selatan, Tentara Korea Utara (tentara Korut)
menyebrangi paralel ke-38, dibantu tembakan artileri, Minggu pagi tanggal 25 Juni 1950.[8]
tentara Korut mengatakan bahwa pasukan Republik Korea (ROK), di bawah pimpinan
"bandit pengkhianat Syngman Rhee", telah menyebrangi perbatasan "terlebih dahulu", dan
mereka akan menangkap serta mengeksekusi Rhee.[14] Pada tahun-tahun sebelumnya, kedua
Korea telah saling menyerang satu sama lain.
Beberapa jam kemudian kemudian, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengecam
invasi Korea Utara terhadap Republik Korea, melalui Resolusi 82 DK PBB, meskipun Uni
Soviet dengan hak vetonya memboikot pertemuan sejak Januari.[29] Pada 27 Juni 1950,
Presiden Truman memerintahkan angkatan udara dan laut AS untuk membantu rezim Korea
Selatan. Setelah memperdebatkan masalah ini, DK PBB, pada 27 Juni 1950, menerbitkan
Resolusi 83 yang merekomendasikan negara anggota memberikan bantuan militer kepada
6
Republik Korea. Ketika menunggu pengumuman fait accompli dari dewan kepada PBB,
Wakil Menteri Luar Negeri Uni Soviet menuduh Amerika memulai intervensi bersenjata atas
nama Korea Selatan.[30]

E. Aksi Polisional: Intervensi Amerika Serikat


Jenderal MacArthur, UN Command CiC (duduk), mengamati penembakan laut di Incheon
dari USS Mt. McKinley, 15 September 1950.
 Infantri AS mengambil posisi, 1950–53.
 Seorang anak Korea melintasi tank M-46.
 Seorang infantri menghibur tentara lainnya.
 Tank AS di Song Sil-li, Korea, 10 Januari 1952.
Meskipun terjadi demobilisasi besar-besaran pasca Perang Dunia II di tubuh sekutu, ada
sepasukan tentara AS di Jepang dengan jumlah yang cukup besar di bawah pimpinan Jenderal
MacArthur. Mereka bisa melawan Korea Utara.[8] Selain AS, di sana, Inggris juga memiliki
kekuatan tempur yang hampir sama besarnya.
Pada hari Sabtu, 24 Juni 1950, Menteri Luar Negeri AS Dean Acheson memberi tahu
Presiden Harry S. Truman melalui telepon, "Bapak Presiden, saya memiliki berita yang
sangat serius. Korea Utara telah menyerang Korea Selatan."[33][34] Truman dan Acheson
mendiskusikan sebuah serangan balasan sebagai respon yang akan diambil AS dengan
pimpinan departemen pertahanan, yang setuju bahwa Amerika Serikat harus mengusir agresi
militer, lalu menghubungkannya dengan agresi Adolf Hitler pada tahun 1930 (yang ketika itu
didiamkan AS). Kesalahan seperti itu tidak boleh terulang.[35] Presiden Truman mengakui
bahwa pertempuran ini berkaitan dengan usaha Amerika mencegah komunisme yang semakin
mengglobal:

F. Eskalasi
Perang udara: USAF menyerang Wonsan selatan rel kereta api, pantai timur Korea Utara.
Dalam keputusasaan di Pertempuran Perimeter Pusan (Agustus-September 1950), Angkatan
Darat Amerika Serikat menahan serangan tentara Korut yang bermaksud merebut kota. Tak
lama kemudian, USAF dapat menghambat logistik tentara Korut dengan menghancurkan 32
jembatan.[8]. USAF juga menghancurkan depot logistik, penyulingan minyak, dan pelabuhan
untuk menghambat pasokan material tentara Korut. Sebagai akibatnya, tentara Korut di
semenanjung Selatan tidak bisa mendapatkan pasokan.

7
Di saat yang sama, garnisun AS di Jepang terus-menerus mengirim tentara dan bahan untuk
memperkuat Perimeter Pusan.[8] Batalion tank dikerahkan ke Korea dari San Francisco (di
daratan Amerika Serikat); pada akhir Agustus, Perimeter Pusan memiliki sekitar 500 tank. [8]
Pada awal September 1950, tentara Republik Korea dan pasukan komando PBB menyerang
balik 100.000 tentara Korut dengan 180.000 pasukan.[8][14]

G. Pertempuran Incheon
Keadaan di Pusan Perimeter telah berbalik; tentara Korut mulai kekurangan orang dan
pasokan sementara di sisi Republik Korea pasukan telah mendapatkan tambahan senjata dan
amunisi.[8] Untuk membantu pertahanan di Perimeter Pusan, Jenderal MacArthur
merekomendasikan sebuah pendaratan amfibi di Incheon, di belakang garis pertahanan
Korut.[8] Pada 6 Juli, ia memerintahkan Mayor Jenderal Hobart Gay, komandan Divisi
Kavaleri pertama, untuk merencanakan pendaratan amfibi tersebut pada 12—14 Juli, Divisi
Kavaleri pertama berangkat dari Yokohama untuk membantu Divisi Invantri ke-24.[39]
Operasi yang disebut sebagai Operasi Chromite ini dilaksanakan saat gelombang ombak
mengganas.[8] Jenderal McArthur telah lama merencanakan penyerbuan ini, namun Pentagon
selalu mencegahnya.[8] Ketika mendapatkan otoritas, ia mengerahkan pasukannya yang terdiri
dari 70.000 infantri Divisi Marinir Pertama, Divisi Infantri ke-7, dan 8.600 tentara Republik
Korea.[8] Pada tanggal hari-h tanggal 15 September, tim penyerang menghadapi sedikit—
namun kuat—tentara Korut; intelijen militer, operasi psikologis, pengintaian, dan
pengeboman turut berperan dalam operasi ini. Pengeboman itu sendiri menghancurkan
sebagian besar kota Incheon

H. Serangan PBB: Invasi ke Korea Utara (September–Oktober 1950)

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Serangan PBB, 1950


Pada tanggal 1 Oktober 1950, Komando PBB mendorong tentara Korut hingga ke Utara,
melewati paralel ke-38, Republik Korea kemudian mengejar mereka masuk ke wilayah Korea
Utara.[8] Enam hari kemudian, pada 7 Oktober, dengan otorisasi dari PBB, pasukan Komando
PBB mengikuti pasukan Republik Korea menyerang ke wilayah Utara.[8] Angkatan Darat AS
kedepalam dan tentara Republik Korea menyerang ke bagian Barat Korea, dan berhasil
merebut Pyongyang, ibukota Korea Utara, pada 19 Oktober 1950. Di akhir bulan, pasukan
PBB menahan 135,000 tawanan perang; dan mereka melihat adanya perpecahan di tentara
Korea Utara.

8
Jenderal MacArthur dan beberapa politisi Amerika sempat mengusulkan untuk menyerang
Komunis Tiongkok untuk menghancurkan depot Tentara Rakyat China yang memasok
kebutuhan perang Korea Utara, namun Presiden Truman tidak setuju, dan memerintahkan
Jenderal MacArthur tidak melewati perbatasan Tiongkok-Korea.[8]
Pertempuran urban:Marinir Amerika Serikat bertempur untuk merebut ibukota Korea Utara.
Intervensi Tiongkok
Pada 27 Juni 1950, dua hari setelah invasi terhadap Korut dan tiga bulan sebelum intervensi
Tiongkok untuk Perang Korea, Presiden Truman mengirimkan Armada 7 AS ke Selat
Taiwan, untuk melindungi Republik Nasionalis Tiongkok dari ancaman Republik Rakyat
Tiongkok (RRT).[41] Tanggal 4 Agustus 1950, Mao Zedong melapor kepada Politbiro bahwa
ia akan melakukan intervensi bila Tentara Relawan Rakyat (PVA) sudah siap untuk
dimobilisasi. Pada 20 Agustus 1950, Perdana Menteri Zhou Enlai menginformasikan
Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa "Korea adalah tetangga Tiongkok... Rakyat Tiongkok
harus terlibat mencari solusi untuk masalah Korea "-dengan demikian, melalui diplomat dari
negara netral, Tiongkok memperingatkan AS, bahwa dalam menjaga keamanan nasional
Tiongkok, mereka akan melakukan intervensi terhadap Komando PBB di Korea.[8] Presiden
Truman menafsirkan pesan ini sebagai "sebuah usaha untuk pemerasan terhadap PBB", dan
mengabaikannya.[42] Politbiro mengizinkan intervensi Tiongkok di Korea pada tanggal 2
Oktober 1950-sehari setelah tentara Republik Korea menyeberangi perbatasan 38-paralel.[43]
Kemudian, Tiongkok mengklaim bahwa pesawat-pesawat pembom AS telah melanggar
wilayah udara nasional RRT dalam perjalanannya menuju Korea Utara-sebelum Tiongkok
melakukan invervensi di Korea Utara.[44]
Senjata AS:Tentara Amerika Serikat mengawaki sebuah 105 mm howitzer, Uirson, Korea,
Agustus 1950.
Operasi sapu-bersih: Marinir pertama Divisi Infantri menahan tentara PVA di front tengah,
Hoengsong, Korea, 2 Maret 1951.

I. Kebuntuan (Juli 1951—Juli 1953)


Pada tahun-tahun berikutnya, tentara PBB dan China tetap berperang, namun perubahan
wilayah kekuasaan tidak banyak berubah dan terjadi kebuntuan. Sementara pengeboman
wilayah Korea Utara terus berlangsung, perundingan gencatan senjata dimulai tanggal 10 Juli
1951 di Kaesong.[8][8] Pertempuran juga terus berlangsung meskipun perundingan tengah
berjalan; tujuan Korsel-PBB adalah untuk merebut kembali seluruh Korea Selatan dan
menghindari kehilangan wilayah.[8] Tentara China dan Korut juga melakukan operasi serupa
9
serta melakukan operasi-operasi psikologikal. Pertempuran-pertempuran utama dalam fase
ini antar alain Pertempuran Bloody Ridge(18 Agustus—15 September 1951)[8] dan
Pertempuran Heartbreak Ridge (13 September—15 Oktober 1951), Pertempuran Old Baldy
(26 Juni—4 Agustus 1952), Pertempuran White Horse (6–15 Oktober 1952), Pertempuran
Triangle Hill (14 Oktober—25 November 1952), dan Pertempuran Hill Eerie(21 Maret—21
Juni 1952), pengepungan Outpost Harry (10—18 Juni 1953), Pertempuran Hook (28—29
Mei 1953), dan Pertempuran Pork Chop Hill (23 Maret—16 Juli 1953).

J. Tokoh perang korea


1. Sygnam Rhee
2. Kim IL Sung
3. General Douglas MacArthur
4. Harry S Truman
5. Dwight D Eisenhower
6. Mao Zedong
7. Joseph Stalin

K. Korban perang
Tentara PBB dan AS menghitung jumlah tentara China dan Korea Utara yang tewas
berdasarkan laporan korban-tewas di lapangan, interogasi tahanan perang, dan intelejen
militer (dokumen, mata-mata, dan lain-lain).[63] Korban tewas: AS: 36.940 terbunuh,
China:100.000—1.500.000 terbunuh; kebanyakan sumber memperkirakan 400.000 orang
yang terbunuh; Korea Utara: 214,000–520,000; kebanyakan sumber memperkirakan 500.000
orang yang terbunuh. Korea Selatan: Rakyat sipil: 245.000—415.000 terbunuh; Total rakyat
sipil yang tewas antara 1.500.000—3.000.000; kebanyakan sumber memperkirakan
2.000.000 orang tewas.

L. Akhir perang
Perang ini berakhir pada 27 Juli 1953 saat Amerika Serikat, Republik Rakyat Tiongkok, dan
Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan, Syngman
Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan
senjata tersebut. Namun secara resmi, perang ini belum berakhir sampai dengan saat ini.

10
BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
 Semenanjung Korea merupakan kawasan yang berada di kawasan Asia Timur.
Semenanjung Korea telah mengalami beberapa kali penjajahan atau penguasaan.
Jepang menguasai Semenanjung Korea hingga tahun 1910. Kekalahan Jepang pada
Perang Dunia II, menjadi akhir dominasi Jepang di Semenanjung Korea. Kepergian
Jepang dimanfaatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet karena kedua negara
merupakan negara pemenang Perang Dunia Kedua. Amerika Serikat menguasai Korea
bagian Selatan dan Uni Soviet menguasai Korea bagian Utara.
 Pada tahun 1948, PBB mengusulkan agar dilaksanakannya Pemilu untuk menyatukan
kedua negara, namun Korea Utara menolak karena keberadaan Amerika Serikat di
Korea Selatan. Penolakan ini mengakibatkan Pemilu hanya dilaksanakan di Korea
Selatan dibawah pengawasan PBB.
 Atas dukungan Uni Soviet, Kim Il sung mendirikan pemerintahan komunis dengan
nama Republik Rakyat Korea. Keputusan ini membuat Syngman Rhee dan Amerika
Serikat untuk melakukan hal yang sama. Tiga bulan kemudian, Syngman Rhee
mendirikan Republik Korea yang Pro terhadap Amerika Serikat. Kedua negara
menganut ideologi yang berbeda. Korea Utara menganut ideologi kominis dan Korea
Selatan menganut ideologi liberalis.Masing
 -masing pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan menganggap bahwa
pemerintahannya adalah pemerintahan yang paling sah, sehingga upaya dominasi
dilakukan oleh kedua negara. Upaya
 -upaya tersebut akhirnya menyebabkan terjadi Perang Korea.

DAFTAR PUSTAKAN
 ^ On This Day 29 August 1950 from The BBC
 ^ The Korean War at Veterans Affairs Canada
 ^ [1] at Korean-War.com
 ^ French Participation in the Korean War Embassy of France, Retrieved October 31, 2006
 ^ "Remembering the Forgotten War: Korea, 1950-1953". Naval Historical Center.
Diakses tanggal 2007-08-16.
 ^ Halberstam, David (2007). The Coldest Winter: America and the Korean War. New
York: Disney Hyperion. hlm. 2. ISBN 978-1-4013-0052-4. Over half a century later, the war
still remained largely outside American political and cultural consciousness. The Forgotten

11