Anda di halaman 1dari 22

B.

Riwayat Penggunaan Obat Harian

RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO


PURWOKERTO RM
INSTALASI FARMASI
Nama : Tn. S Nomor RM : 0 0 9 8 5 3 8
7
1
Tgl lahir/Umur : 05-03-1954 /64 th BB : 48 kg; TB : 157 cm; Kamar : SR 209A
RPM : Pingsan RPD : Parkinson, Stroke Ringan
DPJP : dr. RAS,Dr.MSc.,Sp.PD. Diagnosis : Anemia, AF Post Stroke Incompatibility Mayor
Merokok : - batang/hr; Kopi : - gelas/hr; Lainnya : - ; Alergi : -
RIWAYAT PENGGUNAAN OBAT HARIAN
Diisi oleh Apoteker yang merawat :
Parameter Penyakit / Tanggal Nilai Normal 02/11/18 03/11/18 04/11/18 05/11/18 06/11/18
Tanda Vital

Tekanan Darah (mm Hg) < 150/90 120/70 110/90 140/80 140/80 140/80
Nadi (kali per menit) 60 - 100 80 80 120 86 87
Suhu Badan (oC) 36,5 - 37,5 37 32 36,1 36,1 36,7
Respirasi (kali per menit) 16-20 20 20 20 20 20
Pusing +++ ++ +++ +++ +
KELUHAN

Lemas +++ +++ +++ +++ -


Sulit Bicara +++ ++ - - -
Penurunan Kesadaran +++ - - - -
Nyeri Perut - - +++ +++ +++
Urine Keruh - - +++ +++ +
Laboratorium Rutin / Tanggal Nilai Normal
Hemoglobin (g/dL) 11,2-17,3 6,9 - 5,5 - 5
Trombosit (u/L) 150.000 - 440.000 96000 - 95000 - 113000
Leukosit (u/L) 3000 - 10600 16900 - 14610 - 13920
Laboratorium Rutin

Hematokrit (%) 40 - 52 21 - 17 - 16
Eritrosit (10^6/UL) 4,4 – 5,9 1,7 - 1,4 - 1,3
MCV (fL) 80 – 100 124,7 - 124,4 - 122,8
RDW 11,5 – 14,5 19,8 - 16,8 - 15,2
Limfosit 25-40% 9,9 - 3,5 - 5,2
Bilirubin Direct 0 – 0,2 - 1,02 - - -
Bilirubin Indirect 0–1 - 3,05 - - -
SGOT 15 – 37 50 - - - -
SGPT 16 – 63 37 - - - -
Kalium 3,4 – 4,5 - - 3,9 - -
Terapi (Nama Obat, Kekuataan) Aturan Pakai
    
PARENTERAL

Injeksi Ranitidin 25 mg 2 x 1 amp


Injeksi Mecobalamin 500 µg 2 x 1 amp     
Inj. Methylprednisolon 125 mg 3 x 1 amp    - -
Inj. Methylprednisolon 125 mg 4 x 1 amp - - -  

Anemolat 1 mg 3x1     
Paracetamol 500 mg 2x1     
Citicolin 500 mg 2x1     
ORAL

Sandimmune 100 mg 1x1     


Amlodipine 10 mg 1x1     
Aspilet 80 mg 1x1     
Digoxin 0,25 mg 1x1     
NS 0,9% 20 tpm     
I.V.F.D

Transfusi PRC 2 kolf     -


.

BB : Berat Badan; TB : Tinggi Badan; RPM : Riwayat Penyakit saat MRS; RPD : Riwayat Penyakit Dahulu
BAB III
HASIL PEMANTAUAN
A. Rekonsiliasi Obat

RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO RM


PURWOKERTO
Nama : Tn. S Nomor RM : 0 0 9 8 5 3 8
7
Tanggal lahir / Umur : 05-03-1954 /64 th BB : 48 kg TB : 157 cm

Tgl MRS : 02/11/2018 Tanggal KRS :

REKONSILIASI OBAT
Dari : IGD tgl : 02/11/18 Ke : Ruang SR Atas tgl : 02/11/2018
Nama Obat, Bentuk
Dilanjutkan Dilanjutkan
Sediaan & Kekuatan Jml Aturan
No. pada saat rawat pada saat pulang Ket.
(termasuk Jamu, Obat Pakai
inap ? ?
Supplemen, OTC, dll)
1 Ranitidine 25 mg Inj 1 amp 2x1 √ Ya  Tidak  Ya  Tidak 07.14
2 Mecobalamin 500 µg 2 amp 2x1 √ Ya  Tidak  Ya  Tidak 07.14
3 Digoxin 0,25 mg 1 tab 1x1 √ Ya  Tidak  Ya  Tidak 16.30

Methylprednisolon 125
4 1 amp 3x1 √ Ya  Tidak  Ya  Tidak 16.30
mg
5 Anemolat 1 mg 1 tab 3x1 √ Ya  Tidak  Ya  Tidak 16.30
07.14, diganti
menjadi
6 Citicolin 250 mg Inj 1 amp 2x1 √ Ya  Tidak  Ya  Tidak
sediaan tab.
500 mg

Obat sudah diserahkan kepada perawat/farmasi tanggal ................................................ Paraf ........................


Obat sudah diserahkan kepada pasien tanggal ................................................................ Paraf ........................

Petugas Rekonsiliasi

(……………..)
C. Asuhan Kefarmasian

RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO


PURWOKERTO RM
INSTALASI FARMASI
Nama : Tn. S Nomor RM : 0 2 2 1 7 3 1
0
Tgl lahir/Umur : 05-03-1954 /64 th BB : 48 kg; TB : 157 cm; Kamar : 209A SR Atas

PEMANTAUAN TERAPI OBAT (2)


Diisi oleh Apoteker yang merawat
Asuhan Kefarmasian
Tgl.
Subjektif Objektif Assessment Planning
02/11/  Pusing Data Vital Kemungkinan terjadinya Monitoring kemungkinan
2018  Lemas  TD : 120/70 potensi interaksi obat potensi interaksi obat
 Sulit Bicara mmHg antara: diantaranya:
 Penurunan  Nadi : 80x / menit
Kesadaran  Suhu tubuh : 36°C 1. Sandimmune dengan 1. Monitoring toksisitas
 RR: 20x/menit digoxin dapat Digoxin:
menyebabkan - Anoreksia: susah
Data Lab. peningkatan kadar makan
 Hb: 6,9 g/dL digoxin sehingga - Mual, muntah
 Trombosit: 96000 memungkinkan - Aritmia: TTV Nadi
u/L terjadinya toksisitas - Nyeri abdominal
digoxin (DIF, 2009) (Greenway et.all, 1996)
 Leukosit: 16900
u/L
 Hematokrit: 21 %
2. Aspirin dengan digoxin 2. Monitoring kadar
 Eritrosit: dapat meningkatkan serum kalium pasien
1,7.106/uL serum kalium
 MCV: 124,7 fL (Medscape.com)
 RDW: 19,8
 Limfosit: 9,9%
 SGOT : 50 3. Adanya potensi Reaksi 3. Monitoring kadar Hb,
 SGPT : 37 Obat yang Tidak eritrosit, bilirubin
Dikehendaki (ROTD) indirect, bilirubin
Terapi pada penggunaan direct, SGOT, SGPT
 Inf. NS 0,9% 20 Ranitidine Injeksi yaitu
TPM salah satunya adalah
 Transfusi PRC 2 anemia hemolitik. Dan
kolf potensi efek samping
 Inj. Rantin 25 mg fatalnya adalah
2x1 amp hepatotoksisitas
 Inj. Mecobalamin (MIMS, 2016-2017)
500 µg 2x1 amp
 Inj.
Methylprednisolon
125 mg 3x1amp
 Digoxin tab 0,25
mg 1x1amp
 Anemolat 1 mg
3x1
 Paracetamol 500 4. Adanya duplikasi 4. Konfirmasi kepada
mg 2x1 pengobatan yaitu DPJP untuk
 Citicolin 500 mg sandimmune dengan menggunakan
2x1 methylprednisolone methylprednisolone
 Sandimmune 100 yang keduanya bekerja karena merupakan lini
mg 1x1 sebagai imunosupresan utama pada pengobatan
 Amlodipine 10 mg (Sinha et al, 2008) AIHA (Zanella et al,
1x1 2014)
 Aspilet 80 mg 1x1
5. Evaluasi efektivitas 5. Monitoring efektivitas
terapi terapi diantaranya:
a. Cyclosporin, Anemolat,
Mecobalamin:
Monitoring perkembangan
kadar Hb, Trombosit,
Hematokrit, Eritrosit,
MCV, RDW
b. Methylprednisolone:
Monitoring perkembangan
kadar limfosit pasien dan
leukosit pasien
c. Sandimmune
(Cyclosporine):
Monitoring perkembangan
kadar leukosit pasien
d. Ranitidine:
Monitoring keluhan
pasien dalam masalah
pencernaan agar tetap
dalam kondisi baik dan
monitoring efek samping
dari ranitidine yaitu kadar
Hb, eritrosit, bilirubin
direct, bilirubin
indirect,SGOT dan SGPT
e. Paracetamol:
Monitoring suhu tubuh
pasien agar tetap stabil
f. Amlodipine:
Monitoring tekanan darah
pasien agar tetap stabil
g. Digoxin, Citicoline,
Aspirin:
Monitoring kondisi pasien
agar tetap dalam kondisi
baik
h. Infus NS 0,9%:
Monitoring keluhan pasien
untuk lemas dan pusing
yang dikeluhkannya.
03/11/  Pusing Data Vital (IDEM) (IDEM)
2018  Lemas  TD : 110/90 mmHg
 Sulit bicara  Nadi : 80x / menit
 Suhu tubuh :
37,4°C
 RR: 22x / menit

Data Lab.
Bilirubin Direct: 1,02
Bilirubin Indirect:
3,05

Terapi
(IDEM)
04/11/  Pusing Data Vital 1. Kemungkinan 1. Saran:
2018  Lemas  TD : 140/80 mmHg mengalami potensi - Konfirmasi dokter untuk
 Nyeri perut  Nadi : 120x / menit interaksi obat antara mengetahui toksisitas
 Urine  Suhu tubuh : sandimmune dengan digoxin dengan
keruh 36,5°C digoxin yang dapat menyarankan untuk
 RR: 22x / menit menyebabkan melakukan pemeriksaan
peningkatan kadar EKG jika takikardi dan
Data Lab. digoxin sehingga nyeri abdominal semakin
Hb: 5,5 g/dL memungkinkan persisten.
Trombosit: 95000 u/L terjadinya toksisitas (DIH, 2008-2009)
Leukosit: 14610 u/L digoxin (DIF, 2009)
Hematokrit: 17% Manifestasinya yaitu - Monitoring nadi pasien
6
Eritrosit: 1,4.10 /uL nadi pasien 120x/menit - Monitoring keluhan
MCV: 124,4 fL (takikardia) dan nyeri abdominal
RDW: 16,8 keluhan nyeri
Limfosit: 3,5% abdominal (bagian
Kalium: 3,9 mEq/L perut).

Terapi
Terapi sama dengan 2. Aspirin dengan digoxin 2. Monitoring kadar
tanggal sebelumnya, dapat meningkatkan serum kalium pasien
namun ada serum kalium
peningkatan pada (Medscape.com)
penggunaan MP
menjadi 4x125 mg
3. Adanya potensi Reaksi 3. Monitoring kadar Hb,
Obat yang Tidak eritrosit, bilirubin
Dikehendaki (ROTD) indirect, bilirubin
pada penggunaan direct, SGOT, SGPT
Ranitidine Injeksi yaitu
salah satunya adalah
anemia hemolitik. Dan
potensi efek samping
fatalnya adalah
hepatotoksisitas
(MIMS, 2016-2017)
4. Adanya duplikasi 4. Konfirmasi kepada
pengobatan yaitu DPJP untuk
sandimmune dengan menggunakan
methylprednisolone methylprednisolone
yang keduanya bekerja karena merupakan lini
sebagai imunosupresan utama pada pengobatan
(Sinha et al, 2008) AIHA (Zanella et al,
2014)

5. Evaluasi efektivitas 5. Monitoring efektivitas


terapi terapi diantaranya:
a. Cyclosporin, Anemolat,
Mecobalamin:
Monitoring perkembangan
kadar Hb, Trombosit,
Hematokrit, Eritrosit,
MCV, RDW
b. Methylprednisolone:
Monitoring perkembangan
kadar limfosit pasien dan
leukosit pasien
c. Sandimmune
(Cyclosporine):
Monitoring perkembangan
kadar leukosit pasien
d. Ranitidine:
Monitoring keluhan
pasien dalam masalah
pencernaan agar tetap
dalam kondisi baik dan
monitoring efek samping
dari ranitidine yaitu kadar
Hb, eritrosit, bilirubin
direct, bilirubin
indirect,SGOT dan SGPT
e. Paracetamol:
Monitoring suhu tubuh
pasien agar tetap stabil
f. Amlodipine:
Monitoring tekanan darah
pasien agar tetap stabil
g. Digoxin, Citicoline,
Aspirin:
Monitoring kondisi pasien
agar tetap dalam kondisi
baik
h. Infus NS 0,9%:
Monitoring keluhan pasien
untuk lemas dan pusing
yang dikeluhkannya
05/11/  Pusing Data Vital 1. - Nadi pasien sudah 1. Tetap melakukan
2018  Lemas  TD : 140/80 mmHg membaik yaitu 86x/ monitoring potensi
 Urine keruh  Nadi : 86 x / menit menit toksisitas digoxin
 Nyeri perut  Suhu tubuh : 37°C - Kemungkinan karena merupakan obat
 RR: 20 x / menit potensi toksisitas dengan golongan
digoxin (-) karena indeks terapi sempit.
Data Lab. nadi pasien membaik, Toksisitas digoxin
(blm ada pemeriksaan untuk keluhan pasien diantaranya:
lanjut) pada nyeri abdominal - Anoreksia: susah
yang masih persisten makan
Terapi adalah kemungkinan - Mual, muntah
Terapi sama dengan dari gejala hemolitik - Aritmia: TTV Nadi
tanggal sebelumnya, berat pada pasien - Nyeri abdominal
namun ada (Lanzkowsky, 2005) (Greenway et.all, 1996)
peningkatan pada
penggunaan MP
menjadi 4x125 mg 2. Aspirin dengan digoxin 2. Monitoring kadar
dapat meningkatkan serum kalium pasien
serum kalium
(Medscape.com)

3. Adanya potensi Reaksi 3. Monitoring kadar Hb,


Obat yang Tidak eritrosit, bilirubin
Dikehendaki (ROTD) indirect, bilirubin
pada penggunaan direct, SGOT, SGPT
Ranitidine Injeksi yaitu
salah satunya adalah
anemia hemolitik. Dan
potensi efek samping
fatalnya adalah
hepatotoksisitas (MIMS,
2016-2017)

4. Adanya duplikasi 4. Konfirmasi kepada


pengobatan yaitu DPJP untuk
sandimmune dengan menggunakan
methylprednisolone yang methylprednisolone
keduanya bekerja karena merupakan lini
sebagai imunosupresan utama pada pengobatan
(Sinha et al, 2008) AIHA (Zanella et al,
2014)

5. Evaluasi efektivitas 5. Monitoring efektivitas


terapi terapi diantaranya:
a. Cyclosporin, Anemolat,
Mecobalamin:
Monitoring perkembangan
kadar Hb, Trombosit,
Hematokrit, Eritrosit,
MCV, RDW
b. Methylprednisolone:
Monitoring perkembangan
kadar limfosit pasien dan
leukosit pasien
c. Sandimmune
(Cyclosporine):
Monitoring perkembangan
kadar leukosit pasien
d. Ranitidine:
Monitoring keluhan
pasien dalam masalah
pencernaan agar tetap
dalam kondisi baik dan
monitoring efek samping
dari ranitidine yaitu kadar
Hb, eritrosit, bilirubin
direct, bilirubin
indirect,SGOT dan SGPT
e. Paracetamol:
Monitoring suhu tubuh
pasien agar tetap stabil
f. Amlodipine:
Monitoring tekanan darah
pasien agar tetap stabil
g. Digoxin, Citicoline,
Aspirin:
Monitoring kondisi pasien
agar tetap dalam kondisi
baik
h. Infus NS 0,9%:
Monitoring keluhan pasien
untuk lemas dan pusing
yang dikeluhkannya

06/11/  Pusing Data Vital (IDEM) (IDEM)


2018 berkurang,  TD : 140/80 mmHg
masih nyeri  Nadi : 87x / menit
perut, urine  Suhu tubuh :
keruh mulai 36,7°C
berkurang  RR: 20x / menit

Data Lab.
Hb: 5 g/dL
Trombosit: 113000
u/L
Leukosit: 13920 u/L
Hematokrit: 16%
Eritrosit: 1,3.106/uL
MCV: 122,8 fL
RDW: 15,2
Limfosit: 5,2
Terapi
Terapi sama dengan
tanggal sebelumnya,
namun ada
peningkatan pada
penggunaan MP
menjadi 4x125 mg
BAB IV
PEMBAHASAN

Tn. S dibawa ke IGD RSMS oleh keluarganya pada tanggal 02 November 2018
karena mengalami penurunan kesadaran (pingsan) disertai keluhan pusing, lemas dan sulit
berbicara ketika pasien mulai sadarkan diri. Di IGD pasien mendapatkan terapi Injeksi
Ranitidin 25 mg 2x1, Mecobalamin Injeksi 500 µg 2x1, Digoxin tablet 0,25 mg 1x1,
Methylprednisolon 125 mg Injeksi 3x1, Anemolat 1 mg 3x1 dan Citicoline Injeksi 250 mg
2x1. Dokter mendiagnosa awal Tn. S mengalami Anemia, AF post stroke incompatibility
major dan dinyatakan Anemia hemolitik, AF post stroke incompatibility mayor pada tanggal
06 November 2018.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa rata-rata Hemoglobin pasien
rendah (5,8 g/dL), Trombosit rendah (101333,3 u/L), Leukosit tinggi (15143,3 u/L),
Hematokrit rendah (18%), Eritrosit rendah (1,46.106/uL), MCV tinggi (123,9 fL), RDW
tinggi (17,3) dan Limfosit rendah (6,2%). Hemoglobin merupakan senyawa pembawa
oksigen pada sel darah merah. Hb dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb per 100 ml dapat
digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah (Indrawaty, 2011). Jika
produksi hemoglobin menurun, maka komponen sel darah merah pun akan berkurang
sehingga mengakibatkan terjadinya anemia. Anemia yang diderita oleh pasien merupakan
anemia hemolitik dengan dibuktikan dari manifestasi data kliniknya yaitu kadar bilirubin
indirect yang tinggi pada tanggal 03 November 2018 dimana hal ini menunjukkan bahwa
anemia tersebut terjadi karena adanya hemolisis atau kerusakan pada sel darah merah yang
diakibatkan dari penyakit autoimun yang menyerang langsung sel darah merah penderita
(Deborah, 2017) dimana hal ini dapat terjadi karena ketika eritrosit rusak, maka sel tersebut
akan terbagi menjadi dua yaitu heme dan globin, dan heme inilah yang akan menghasilkan
bilirubin yang tinggi ketika terjadinya kerusakan eritrosit. Setelah itu, dapat dilihat dari
manifestasi data klinik dikatakan bahwa bilirubin indirect memiliki kadar yang lebih tinggi
daripada bilirubin direct, hal ini menandakan bahwa adanya penghancuran eritrosit yang
menimbulkan hiperbilirubinemia akibat hemolisisis intravaskular (kelainan autoimun,
mikroangiopati atau hemoglobinopati) sehingga suplai bilirubin melampaui kemampuan sel
hati yang mengakibatkan bilirubin indirect meningkat dalam darah. Karena bilirubin indirect
tidak larut dalam air maka tidak dapat diekskresikan ke dalam urine dan tidak terjadi
bilirubinuria sehingga tidak terjadi kerusakan hati (Nuryanto, 2018) dan hal ini telah
dibuktikan dari manifestasi data klinik pada tanggal 02 November 2018 bahwa kadar SGPT
pasien berada dalam batas normal (37 µ/L) yang merupakan enzim hati yang terdapat
didalam sel parenkim hati.
Anemia hemolitik terbagi menjadi tiga tipe yaitu warm, cold dan mixed. Anemia
hemolitik warm terjadi pada suhu 37°C sedangkan untuk cold terjadi pada suhu dibawah
31°C hingga 4°C dan untuk mixed terjadi pada suhu keduanya (warm dan cold). Untuk
mengetahui tipe anemia hemolitik tersebut, diperlukan adanya Coombs test ataupun Thermal
amplitude sehingga dapat diketahui tipe anemia hemolitik pasien agar dapat guideline terapi
yang tepat untuk pasien. Namun, dari data yang didapat dari EMRI terlihat bahwa dokter
memberikan guideline terapi anemia hemolitik warm yaitu sebagai berikut:

(Zanella et al, 2014) dimana, setiap harinya pasien mendapatkan terapi injeksi
methylprednisolone dengan dosis 375 mg/hari dan ditingkatkan dosisnya hingga 500 mg/hari.
Hal ini juga sudah sesuai dengan dosis yang diberikan untuk IV Succinate yaitu 15
mg/kg/hari atau sekitar 720 mg/hari karena berat badan pasien adalah 48 kg (DIH, 2018-
2019). Adapun tujuan dari pemberian kortikosteroid ini adalah untuk menekan antibody anti-
eritrosit yang terbentuk oleh sel B secara cepat, dan dengan adanya autoantibodi dalam tubuh
dapat menyebabkan terjadinya hemolisis (Sinha et al, 2008). Namun, pada pengobatannya
adanya DRP yaitu duplikasi pengobatan yaitu cyclosporin pada sandimmune dimana obat ini
juga bekerja menekan respon imun atau sebagai imunosupresan sehingga diperlukannya
konfirmasi kepada DPJP atau Dokter Penanggungjawab Pasien untuk menghentikan terapi
sandimmune karena pada guideline-nya terlihat bahwa pemakaian sandimmune atau
cyclosporin dapat diberikan ketika pasien tidak menunjukkan perkembangan yang baik ketika
dilakukan splenektomi dan terapi rituximab (Zanella et al, 2014) sedangkan pada
kenyatannya pasien belum dilakukan splenektomi maupun terapi rituximab. Namun, hal ini
belum terealisasikan dimana belum sempat bertemunya dengan DPJP sehingga terapi
sandimmune tetap dilanjutkan.
Akibat dari terjadinya anemia hemolitik, maka adanya kondisi gangguan produksi pada
eritrosit. Gangguan tersebut mengakibatkan implikasi klinik dimana terjadinya penurunan
Hb, HCt dan eritrosit sehingga dalam hasil pemeriksaan lab pasien juga menunjukkan bahwa
ketiganya mengalami penurunan (Indrawaty, 2011). Dikarenakan ketiganya mengalami
penurunan, maka diperlukan interpretasi data klinik pada MCV (Mean Corpuse Volume) atau
volume corpuse rata-rata, dimana hasilnya menunjukkan bahwa MCV tinggi sehingga dapat
dikatakan bahwa anemia tersebut merupakan anemia makrositik dimana pasien mengalami
defisiensi asam folat dan vitamin B12. Oleh karena itu, pasien diberikan terapi asam folat
dengan dosis yang sesuai yaitu 3 mg per hari (DIH, 2018-2019) dan diberikannya terapi
mecobalamin untuk defisiensi vitamin B12 dengan dosis yang sesuai yaitu 1000 µg perhari
(DIH, 2018-2019).
Selain itu, dari data klinik menunjukkan bahwa Hb pasien dalam kategori rendah
sehingga memerlukan transfusi darah pada hari ke 1 hingga hari ke 4. Transfusi darah
merupakan rangkaian proses pemindahan darah dari seorang donor kepada resipien yang
bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan volume peredaran darah normal,
meningkatkan oksigenasi jaringan serta memperbaiki fungsi hemostatis (Permono dkk,
2005).
Selanjutnya dilihat dari hasil data klinik pasien pada kadar limfositnya menunjukkan
hasil yang rendah yaitu 6,2%. Hal ini menandakkan bahwa tubuh pasien sedang mengalami
peradangan. Berkaitan dengan penyakit autoimun pasien, limfosit yang rendah juga dapat
diakibatkan dari autoimun pasien, dimana limfosit tersebut merupakan sumber
immunoglobulin yang penting dalam respon imun seluler tubuh. Maka, untuk memperbaiki
produksi limfosit memerlukan terapi methylprednisolone sebagai antiradangnya sehingga
dapat menormalkan kadar limfosit dalam tubuh pasien sehingga respon imun seluler tubuh
pasien semakin membaik. Dalam terapinya pun sudah memakai dosis yang sesuai yaitu 375
mg/hari dan pada hari ke 4 dan 5 dosisnya ditingkatkan hingga pemakaian 500 mg/hari,
namun hal ini masih dalam rentang dosis yang sesuai dengan kategori high dose yaitu 15
mg/kg/hari atau sekitar 720 mg/hari (DIH, 2018-2019).
Penggunaan digoxin 0,25 mg, paracetamol 500 mg, citicolin 500 mg, amlodipine 10 mg
dan aspilet 80 mg merupakan kombinasi obat yang digunakan untuk mengatasi riwayat
penyakit pasien dahulu yaitu parkinson dengan stroke incompatibilitas mayor dimana dalam
penggunaannya yaitu :
a. Penggunaan digoxin selalu digunakan pada pasien dengan riwayat atrial fibrilasi
dengan mekanisme kerjanya mengontrol laju ventrikel pada pasien fibrilasi atrium
(Pramudianto, 2016) dan dosis yang digunakan untuk digoxin adalah 0,25 mg perhari
dimana hal ini sesuai dengan rentang dosis yaitu 0,125-0,5 mg/hari untuk atrial
fibrilasi (Medscape.com).
b. Penggunaan paracetamol bertujuan untuk mengurangi suhu tubuh ± 0,3°C sehingga
dapat mencegah demam pada pasien post stroke yang memiliki suhu tubuh ± 37°C
(Ridder IR, dkk. 2011) dan dosis yang digunakan untuk paracetamol adalah 1000 mg
perhari dimana hal ini telah terbukti dapat mengontrol suhu tubuh pasien post stroke
(Ridder IR, dkk. 2011).
c. Penggunaan citicolin yaitu sebagai neuroprotektan pada level neuronal dimana
kerjanya yaitu memperbaiki membrane sel dengan cara menambah sintesis
phosphatidylcholine yang merupakan komponen utama terutama otak. Dengan
meningkatnya phosphatidylcoline akan berpengaruh pada perbaikan fungsi
membrane sel yang mengarah pada perbaikan sel (Doijad, et.all 2012 dalam
Taufiqurrohman, dkk. 2016) dan dosis yang digunakan untuk citicoline adalah 1000
mg perhari, hal ini sesuai dengan rentang dosis yaitu 500-2000 mg perhari dimana
pada dosis tersebut menunjukkan hasil neurologis yang baik dan tidak ada efek
samping (Taufiqurrohman, dkk. 2016).
d. Penggunaan Amlodipin untuk mengontrol hipertensi pasien agar tetap stabil, karena
dalam penelitian Leorita pada tahun 2014 juga dikatakan bahwa terapi amlodipine
menghasilkan subjek penelitian yang paling banyak mencapai target tekanan darah
yaitu sebesar 75% sesuai dengan JNC 8 pada pasien stroke umur < 60 tahun maupun
≥ 60 tahun. Dosis yang digunakan untuk amlodipine yaitu 10 mg perhari dan hal ini
sudah sesuai dengan JNC 8 yaitu 5-10 mg/hari.
e. Penggunaan aspirin untuk menekan pembentukan TXA2 (sintesis tromboksan A2) di
dalam trombosit sehingga terjadi pengurangan agregasi trombosit yang dapat
mencegah kekambuhan stroke (Khalilullah, 2011). Dosis yang digunakan untuk
aspirin adalah 80 mg perhari dan hal ini juga sudah sesuai dengan rentang dosis
penggunaan aspirin yaitu 75-325 mg perhari untuk pasien atrial fibrilasi (DIH, 2008-
2009).
Selain duplikasi pengobatan, beberapa kategori DRP (Drug Related Problem) untuk
pengobatan pasien Tn. Sutrisno yang lainnya yaitu interaksi obat dan ROTD. Untuk interaksi
obat, terdapat dua potensi interaksi diantaranya sandimmune dengan digoxin serta aspirin
dengan digoxin. Untuk interaksi antara sandimmune dengan digoxin yaitu dapat
menyebabkan peningkatan kadar digoxin sehingga memungkinkan terjadinya toksisitas
digoxin, dengan mekanismenya belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan besar
berasal dari farmakokinetiknya (DIF, 2009). Dari assessment tersebut, diperlukan monitoring
toksisitas digoxin diantaranya anoreksia (dengan tanda-tanda pasien susah makan, berat
badan menurun drastis), mual, muntah, aritmia dengan ditandai tanda vital nadi lebih cepat
(takikardi) atau lebih lambat (bradikardi), serta adanya keluhan nyeri abdominal atau nyeri
pada bagian perut (Medscape.com). Sedangkan untuk interaksi antara aspirin dengan digoxin
yaitu dapat meningkatkan serum kalium (Medscape.com), namun dari data klinik
menunjukkan bahwa kadar kalium pasien masih dalam batas normal yaitu 3,9 mEq/UL.
Sedangkan dari assessment potensi interaksi obat antara sandimmune dengan digoxin,
telah diketahui pada hari ke 3 pengobatan, pasien mengalami takikardi yaitu denyut nadi
120x/menit disertai keluhan sakit di bagian perut. diperlukannya planning untuk mengatasi
masalah tersebut yaitu menyarankan dokter untuk melakukan EKG untuk mengetahui potensi
toksisitas digoxin karena digoxin memiliki indeks terapi sempit sehingga perlu pengawasan
yang ketat agar tidak terjadinya potensi interaksi dengan obat yang lain (DIH, 2008-2009).
Namun dugaan ini dinyatakan negatif karena dibuktikan dari manifestasi data klinik pada hari
ke 5 bahwa nadi pasien kembali membaik, tetapi nyeri abdominal persisten dan nilai Hb yang
semakin menurun. Hal ini dapat terjadi karena adanya hemolisis pada sel darah merah pasien
sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan kadar Hb yang cepat. Sedangkan untuk nyeri
abdominal persisten dapat diketahui dari gejala anemia hemolitik yang diderita oleh pasien
diantaranya pusing, pening, mudah lelah, malaise, demam, gangguan pernapasan, kedinginan,
urine berwarna gelap dan nyeri perut/punggung (Lanzkowsky, 2005).
Kemudian untuk Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD) pada pengobatan Tn.
Sutrisno telah diketahui bahwa efek samping dari ranitidine salah satunya adalah anemia
hemolitik dan untuk potensial fatalnya yaitu hepatotoksisitas sehingga perlu dilakukannya
monitoring kadar kadar Hb, eritrosit, bilirubin indirect, bilirubin direct, SGOT, SGPT untuk
mengetahui apakah obat ranitidine dapat mencegah stress ulcer pasien dengan mengurangi
volume sekresi lambung serta jumlah asam lambung yang disekresikan atau memberikan efek
samping yang tidak diinginkan yaitu meningkatkan resiko anemia hemolitik lebih buruk atau
justru terjadinya hepatotoksisitas pada pasien (MIMS, 2008-2009).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari hasil pemantauan terapi obat Tn. S pada tanggal 02 November-06 November 2018
dapat diketahui bahwa adanya beberapa kategori DRP yaitu interaksi obat antara
sandimmune dengan digoxin serta aspirin dengan digoxin, Reaksi Obat yang Tidak
Diinginkan (ROTD) yaitu efek samping dari ranitidine yang dapat berpotensi anemia
hemolitik serta hepatotoksisitas, serta duplikasi pengobatan yaitu methylprednisolone dengan
sandimmune yang keduanya merupakan imunosupresan. Dari ketiga DRP tersebut maka
diperlukannya monitoring atau follow up lebih lanjut untuk keadaan pasien Tn. Sutrisno
hingga pengobatan menunjukkan hasil yang baik.

B. Saran

Diperlukan pemantauan lebih lanjut terkait perkembangan kondisi pasien serta


dilakukannya edukasi kepada pasien terkait non farmakologinya sebagai terapi penunjang
seperti mengkonsumsi makanan kaya akan asam folat yaitu sayuran hijau, alpukat, buah bit,
dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Charles F, et.all. 2008-2009. Drug Information Handbook 17th edition. Lexi-Comp: American
Pharmacists Association.
Deborah, Oktafany. 2017. Seorang Perempuan 21 tahun dengan Autoimmune Hemolytic
Anemia (AIHA) dan Systemic Lupus Erythematosis (SLE). Jurnal AgromedUnila
Volume 4(1). Fakultas Kedokteran: Universitas Lampung.
Dhaliwal, et.all. 2004. Hemolytic Anemia. The Journal of American Family Physician
Volume 69(11): America.
Doijad RC, et.all. 2012. Theurapeutic Applications of Citicoline and Piracetam as Fixed
Dose Combination. The Journal of Asian J Biomedical and Pharm Sci. Volume 2(12).
Fradgley, S., 2003, Interaksi Obat dalam Aslam, M., Tan., C., K., dan Prayitno, A., Farmasi
Klinis. Penerbit PT. Elex Media Komputindo kelompok Gramedia: Jakarta
Ganiswara, S.G. 2000.Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, 800, Bagian Farmakologi FKUI:
Jakarta.
Indrawaty, Sri. 2011. Pedoman Interpretasi Klinik. Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
James, P.A. 2013. Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure In
Adult: Report From the Panel Members Appointed to the Eighth Joint National
Committee (JNC 8). American Medical Association: JAMA.
Khalilullah, Said A. 2011. Penggunaan antiplatelet (aspirin) pada akut stroke iskemik. Jurnal
Publish online FK University of Syiah Kuala: Malaysia.
Lanzkowsky, P. 2005. Manual of Pediatric Hematology and Oncology 4th Edition. Elsevier
Academic Press: California.
Leorita, Mesi dkk. 2014. Gambaran Pencapaian Target Tekanan Darah Sesuai JNC 8 Pada
Pasien Pasca Stroke Yang Menjalan Terapi Antihipertensi Tunggal di RSU
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2014. Jurnal Pharmauho Volume
1(2). Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo: Kendari.
Medscape.com/Application
Mutschler, E., 1991. Dinamika Obat Edisi V. Penerbit ITB: Bandung.
Permono, dkk. 2005. Buku Ajar Hematologi Onkologi Anak. Badan Penerbit IDAI: Jakarta.
Pramudianto A, Evaria. 2016. MIMS Indonesia petunjuk konsultasi edisi 16. BIP: Jakarta.
Rajabto, dkk. 2016. Profil Pasien Anemia Hemolitik Auto Imun (AHAI) dan Respon
Pengobatan Pasca Terapi Kortikosteroid di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr.
Cipto Mangunkusumo. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. Volume 3(4). FKUI:
Jakarta.
Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit: Jakarta.
Ridder IR, dkk. Ned Tijdschr Geneeskd. 2011. Abstrak “Apakah Parasetamol meningkatkan
pemulihan setelah stroke?”. [Jurnal Terjemahan, diakses tanggal 06 November 2011
pukul 23.14].
Sinha, et al. 2008. Pulse Steroid Therapy. Indian Journal of Pediatrics (75).
Tatro, David S. 2009. Drug Interaction Facts. E-book Fact&Comparisons: Wolters Kluwer
Health.
Taufiqurrohman, dkk. 2016. Manfaat Pemberian Sitikoline Pada Pasien Stroke Non
Hemoragik (SNH). Jurnal Medula Unila Volume 6(1). FK Universitas Lampung:
Lampung.
Zanella, et al. 2014. Treatment of autoimmune hemolytic anemias. Haematologica Vol.
99(10).
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan
untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Adapun tujuan
dilakukan PTO yaitu untuk meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan resiko
“Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki” (ROTD) (Permenkes RI, 2016).
Pedoman Pemantauan Terapi Obat menyatakan bahwa tatalaksana pemantauan terapi
obat meliputi:
1. Seleksi Pasien
Kegiatan PTO hendaknya dilaksanakan untuk seluruh pasien. Mengingat terbatasnya
jumlah apoteker dibanding jumlah pasien, maka perlu ditentukan prioritas pasien yang akan
dipantau. Seleksi dapat dilakukan berdasaran:
a. Kondisi Pasien
 Pasien yang masuk RS dengan multi penyakit sehingga menerima polifarmasi.
 Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika.
 Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan ginjal.
 Pasien geriatri dan pediatri.
 Pasien hamil dan menyusui.
 Pasien dengan perawatan intensif.
b. Obat
1) Jenis Obat
Pasien yang menerima obat dengan resiko tinggi, seperi:
 Obat dengan indeks terapi sempit (seperti Digoksin dan Fenitoin).
 Obat yang bersifat nefrotoksik (seperti Gentamisin) dan hepatotoksik
(seperti OAT)
 Sitotastika (seperti MTX).
 Antikoagulan (seperti Warfarin, Heparin).
 Obat yang menimbulkan ROTD (seperti Metoklorpramid, AINS).
 Obat kardiovaskular (seperti Nitrogliserin).
2) Kompleksitas Regimen
 Polifarmasi
 Variasi rute pemberian
 Variasi aturan pakai
 Cara pemberian khusus (seperti inhalasi).
2. Pengumpulan Data Pasien
Data dasar pasien merupakan komponen penting dalam proses PTO. Data
diperoleh dari:
a. Rekam medik.
b. Profil pengobatan pasien/pencatatan penggunaan obat.
c. Wawancara dengan pasien, anggota keluarga, dan tenaga kesehatan lain.
Rekam medik merupakan kumpulan data medik pasien mengenai pemeriksaan,
pengobatan, dan perawatannya di suatu RS. Data yang dapat diperoleh yakni: data demografi
pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan terdahulu, riwayat penggunaan obat,
riwayat keluarga, hasil pemeriksaan laboratorium, diagnosa, dan terapi yang digunakan.
Semua data yang diterima, dikumpulkan dan dilakukan pengkajian. Data yang
berhubungan dengan PTO diringkas dan disusun ke dalam format yang sesuai.
Suatu data yang diperoleh dari rekam medik kadang belum cukup untuk melakukan PTO,
olehkarena itu perlu dilengkapi dengan daa yang diperoleh dari wawancara pasien, anggota
keluarga, dan tenaga kesehatan lain.
3. Identifikasi Masalah Terkait Obat
Setelah data terkumpul, perlu dilakukan analisis untuk identifikasi adanya masalah
terkait obat. Masalah terkait obat menurut Hepler dan Strand dapat dikategorikan yaitu:
a. Ada indikasi tetapi tidak di terapi
Pasien yang diagnosisnya telah ditegakkan dan membutuhkan terapi obat tetapi
belum/tidak diresepkan. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua keluhan/gejala
klinik harus diterapi dengan obat.
b. Pemberian obat tanpa indikasi
Pasien mendapat obat yang tidak diperlukan.
c. Pemilihan obat yang tidak tepat
Pasien mendapat obat yang bukan pilihan utama/pilihan terbaik untuk kondisinya
(obat yang tidak cost effective).
d. Dosis terlalu tinggi
e. Dosis terlalu rendah
f. Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD)
g. Interaksi obat
Adanya indikasi terjadinya interaksi obat pada beberapa terapi yang diberikan.
h. Pasien tidak menggunakan obat karena suatu sebab
Beberapa penyebab pasien tidak menggunakan obat antara lain: masalah ekonomi,
obat tak tersedia, ketidakpatuhan pasien, dan kelalaian tenaga kesehatan.
Seorang apoteker perlu membuat prioritas masalah sesuai dengan kondisi pasien, dan
menentukan masalah tersebut sudah terjadi atau berpotensi akan terjadi. Bila terjadi masalah,
perlu penyelesaian dan hendaknya diprioritaskan sesuai dengan kondisi pasien (Permenkes
RI, 2016).
Pada kasus ini, terdapat pasien bernama Tn. S yang mengalami anemia hemolitik dengan
post AF stroke incompatibilitas mayor dengan beragam pengobatan dan salah satunya adalah
penggunaan digoxin yang menjadikan kemungkinan terjadinya DRP (Drug Related Problem)
yaitu salah satunya adalah potensi interaksi obat.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan pengobatan pasien Tn. S pada penyakit anemia hemolitik
AF stroke incompatibilitas mayor?

C. Tujuan Makalah

Untuk mengetahui perkembangan pasien Tn. S dalam pengobatan Anemia Hemolitik Af


stroke incompatibilitas mayor dengan melakukan pemantauan terapi obat pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik auto imun (AHAI) merupakan salah satu penyakit imunologi
didapat yang mana eritrosit pasien diserang oleh autoantibodi yang diproduksi sistem imun
tubuh pasien sendiri, sehingga mengalami hemolisis (Rajabto, 2016). Anemia yang paling
sering ditemukan melalui tes laboratorium, tetapi sejarah dan pemeriksaan fisik dapat
memberikan petunjuk penting tentang keberadaan hemolysis dan penyebab yang
mendasarinya. Pasien mungkin mengeluhkan dyspnea atau kelelahan yang disebabkan oleh
anemia, urin gelap dan kadang-kadang sakit punggung dapat dilaporkan oleh pasien dengan
hemolisis intravaskular (Dhaliwal, et.all. 2004).

B. Interaksi Obat
Interaksi obat merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi respon tubuh
terhadap pengobatan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan atau minuman, zat kimia atau
dengan obat lain. Dikatakan terjadi interaksi apabila makanan, minuman, zat kimia, dan obat
lain tersebut mengubah efek dari suatu obat yang diberikan bersamaan atau hampir
bersamaan (Ganiswara, 2000).
Beberapa obat sering diberikan secara bersamaan pada penulisan resep, maka
mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Obat pertama dapat memperkuat atau
memperlemah, memperpanjang atau memperpendek kerja obat kedua. Interaksi obat harus
lebih diperhatikan, karena interaksi obat pada terapi obat dapat menyebabkan kasus yang
parah dan tingkat kerusakan-kerusakan pada pasien, dengan demikian jumlah dan tingkat
keparahan kasus terjadinya interaksi obat dapat dikurangi (Mutschler, 1991).
Kejadian interaksi obat yang mungkin terjadi diperkirakan berkisar antara 2,2%
sampai 30% dalam penelitian pasien rawat inap di rumah sakit, dan berkisar antara 9,2%
sampai 70,3% pada pasien di masyarakat. Kemungkinan tersebut sampai 11,1% pasien yang
benar-benar mengalami gejala yang diakibatkan oleh interaksi obat (Fradgley, 2003).
PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN TN. S DENGAN DIAGNOSA
ANEMIA HEMOLITIK AF POST STROKE INCOMPATIBILITY MAJOR DI
RUANGAN SOEPARDJO ROESTAM ATAS

Disusun oleh:
Ajeng Gandila Kusumah (UMP)
1808020049

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARDJO
PERIODE OKTOBER-NOVEMBER
2018