Anda di halaman 1dari 16

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Uji Densitas, Bulky dan Durabilitas


Densitas adalah massa partikel yang menempati satu unit volume tertentu
(Wirakartakusumah, 1992). Kepadatan atau densitas pelet (g/cm3) dihitung dengan
cara membandingkan massa (g) dengan volume pelet (cm3) seperti dijelaskan
dalam USDA (1999). Densitas pelet juga dibandingkan dengan densitas campuran
bahan dalam bentuk mesh (tepung) yaitu tanpa diproses menjadi pelet atau tanpa
pemadatan (kerapatan tumpukan) dihitung menurut Khalil (1999).Bahan pakan
dengan nilai densitas kecil akan menempati ruang simpan besar karena kemampuan
pemadatan bahan rendah sehingga bahan pakan dengan densitas kecil memerlukan
ruang simpan baik karung, gudang dan ruang saluran cerna yang besar pada berat
yang sama. Krisnan dan Ginting (2009) menyatakan bahwa densitas digunakan
untuk mengetahui kekompakan dan tekstur pakan. Tekstur pakan yang kompak
akan tahan terhadap pengaruh proses penekanan sehingga ikatan antar partikel
penyusun pakan menjadi sangat kuat dan ruang antar partikel bahan pakan tidak
terisi rongga udara. Analisis sifat fisik yaitu densitas merupakan salah satu bagian
penting untuk mengetahui pakan yang dihasilkan.
Tekstur pakan yang kompak akan tahan terhadap proses penekanan
sehinggga ikatan antara partikel pemyusun pakan menjadi kuat dan ruang antara
partikel penyusun pakan menjadi sangat kuat dan ruang antara partikel bahan pakan
tidak terisi rongga udara (Murdinah, 1989). Analisis sifat fisik yaitu densitas
merupakan salah satu bagian penting untuk mengetahui pakan yang
dihasilkan.Salah satu contoh dari pengaruh densitas adalah pembuatan pelet.
McEllhiney (1994) menyatakan bahwa dua faktor yang mempengaruhi ketahana
serta sifat pelet yaitu karakteristik bahan dan ukuran pertikel. Hal ini juga diperkuat
pendapat Balago et al. (1988) bahwa ukuran partikel yang kecil akan menyebabkan
pellet semakin kuat. Faktor lain yang mempengaruhi kekerasan pellet adalah kadar
kehalusan bahan pakan.
Menurut murdjiman (1984) bahwa bahan campuran pakan yang halus akan
menyebabkan kekerasan pellet yang kuat. Menurut Murdjiman (1984), sifat – sifat
fisik partikel ditentukan oleh asal bahan dan proses pengolahannya, salah satu sifat
yang sangat penting dari pakan bentuk granula dan tepung adalah ukuran partikel
serta distribusi ukuran. Pengamatan sifat fisik meliputi densitas, kekerasan,
stabilitas pellet, berat jenis dan kadar air. Pengamatan terhadap sifat fisik pellet
merupakan bagian penting untuk mengetahi mutu pellet yang dihasilkan.
Pengujian densitas dilakukan berdasarkan metode yang pernah dilakukan
Murdinah (1989), yaitu dengan mengukur tinggi dan diameter masing – masing
pellet tersebut dan menimbangnya dengan menggunakan neraca analitik untuk
mendapatkan angla yang teliti. Densitas diperoleh dengan membagi berat pellet
(gram) dengan volume yang diperoleh melalui rumus sebagai berikut :
kg Berat Bahan (kg)
Densitas ( 3 ) =
m Volume Ruang (m3 )

Keuntungan pelet dengan densitas yang tinggi yaitu dapat mengurangi


keambaan, mengurangi tempat penyimpanan, menekan biaya transportasi,
memudahkan penanganan dan penyajian pakan. Densitas yang tinggi juga akan
meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer serta dapat
mencegah peruraian kembali komponen penyusun pelet sehingga konsumsi pakan
sesuai dengan kebutuhan standar (Krisnan dan Ginting 2009).

Uji Bulky
Bulk Density merupakan salah satu metode penentuan kualitas bahan pakan
sebelum dilakukan analisis kimia yang mendasar pada ukuran berat bahan pakan
per satuan volume (g/l). Kerapatan pemadatan tumpukan merupakan perbandingan
berat bahan terhadap volume ruang yang ditempatinya setelah mengalami proses
pemadatan seperti guncangan. Kerapatan pemadatan tumpukan dan kerapatan
tumpukan mempunyai hubungan sangat erat dan sangat berperan dalam
pencampuran bahan pakan serta tempat penyimpanan dan pengemasan. Suadnyana
(1998) mengungkapkan nilai kerapatan pemadatan tumpukan menurun dengan
semakin tingginya kandungan air. Pencampuran bahan dengan ukuran partikel yang
sama, tetapi memiliki kerapatan tumpukan lebih dari 0,5 g/cm3, maka bahan
tersebut sulit dicampur serta mudah terpisah kembali. Sedangkan bahan yang
mempunyai kerapatan tumpukan rendah yaitu kurang dari 0,45 g/cm3
mengindikasikan bahan tidak sulit dalam pencampuran dengan hasil yang kompak,
namun membutuhkan waktu untuk mengalir lebih lama (Krisnan dan Ginting
2009).Bulk density merupakan berat suatu massa per satuan volume tertentu. Menurut
Wirakartakusumah et al. (1992) kerapatan tumpukan menunjukkan porositas
bahan, yaitu jumlah rongga udara yang terdapat diantara partikel-partikel bahan.
Kerapatan tumpukan diukur dengan cara mencurahkan sampel sebanyak 100g ke
dalam gelas ukur kemudian sampel dalam gelas ukur tersebut dilihat ketinggiannya
berdasarkan ketinggian yang tertera pada gelas ukur (Khalil 1999). Kerapatan
tumpukan dihitung dengan rumus:
Berat Bahan (kg)
Kerapatan pemadatan tumpukan (kg m−3 ) =
Volume setelah pemadatan (m3 )
Uji bulk density (Berat jenis) bahan pakan bertujuan untuk mengetahui
kualitas bahan sekaligus untuk meminimalkan pemalsuan (pencemaran) bahan
(Agus, 2007). Jika dalam bahan pakan terdapat kontaminasi ataupun pemalsuan
dalam pembelian maka nilai bulk density akan berubah menjadi lebuh besar
ataupun lebih kecil. Pengukuran uji bulky tergantung pada kemampuan analiser
untuk identifikasi penampakan bahan pakan dengan mempertimbangkan bentuk,
warna, bentuk partikel, kelembutan, kekerasan serta tekstur dan jamur (Hartadi,
1997).

Uji Durabilitas
Durabilitas pellet adalah ketahanan partikel pellet yang dirumuskan sebagai
persentase dari banyaknya pakan pellet utuh setelah melalui perlakuan fisik dalam
alat uji tumbling cane terhadap jumlah pakan semula sebelum dimasukkan ke dalam
alat. Indeks Ketahanan (durabilitas) pelet kemungkinan merupakan parameter mutu
pelet paling penting (Payne et al 2001). Durabilitas yaitu jumlah pellet yang
kembali dalam keadaan utuh setelah diaduk dengan mekanik (pneumatic) (Balazs
et al. 1973).
Durabilitas pelet dapat diukur menggunakan dua metode yaitu
pneumatic/hembusan dan mekanis.
a) Pengukuran durabilitas pelet secara hembusan
Pengukuran dengan metode ini menggunakan alat yang disebut The
Borregaard LT Portable Pellet Tester. Caranya adalah dengan menimbang 100
gram pelet yang sudah disaring kemudian dimasukkan ke dalam alat dan akan
terbentur ke dinding oleh hembusan angin yang kuat. Kemudian pelet secara
otomatis tersaring, pelet yang masih utuh ditimbang. Prosentase jumlah pelet yang
masih utuh merupakan nilai durabilitas pelet. Metode ukur ini bersifat kompak,
cepat, akurat, repeatable dan bebas debu (Payne et al 2001).
b) Pengukuran durabilitas pelet secara mekanis
Pengukuran dengan metode ini menggunakan alat yang disebut Tumbling
can (ASAE) Method. Caranya dengan menimbang 500 gram pelet yang sudah
disaring kemudian dimasukkan ke dalam alat. Ketika alat dihidupkan maka pelet
akan mengalami goncangan akibat jatuh bergulingan (tumbling) di dalam alat.
Setelah selesai proses kemudian sampel disaring dan ditimbang. Prosentase jumlah
pelet yang masih utuh merupakan nilai durabilitas pelet (Payne et al 2001).
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai durabilitas pelet adalah (1) karakteristik
bahan baku, dalam hal ini faktor yang dimaksud adalah protein, lemak, serat, pati, dan
density (kepadatan), tekstur, dan air, serta kestabilan karakteristik bahan akan
menghasilkan kualitas pelet yang baik, dan (2) ukuran partikel. Faktor yang
mempengaruhi keutuhan bentuk pelet berupa benturan, tekanan dan gesekan (Pfost
et al 1962). Pecahnya pelet disebabkan oleh dua jenis peristiwa yaitu
fragmentasi/pematahan dan abrasi/goresan (Thomas 1998).
Menurut McEllhiney (1994) pengukuran durability dilakukan dengan cara
memasukkan pelet atau pakan uji ke dalam alat penguji daya gesekan (pellet
durability tester) dengan putaran 50 rpm selama 10 menit. Alat yang digunakan
pada penelitian ini adalah pellet durability tester model thumbling. Rumus
durabilitas menurut Balazs et al. (1973) adalah sebagai berikut:

Berat pelet setelah diputar


Durabilitas = 𝑥 100%
Berat pelet sebelum diputar
Pellet yang baik memiliki indeks ketahanan yang baik, sehingga pellet
memiliki tingkat kekuatan dan ketahanan yang baik selama proses penanganan dan
transportasi. Standar spesifikasi durability indeks yang digunakan adalah minimum
80% (Dozier 2001).
BAB III
BAHAN DAN METODE

A. Uji Densitas, Bulky dan Durabilitas


3.1 Uji Densitas
3.1.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam uji densitas terhadap bahan pakan adalah
sebagai berikut:
Tabel 1. Alat yang digunakan dalam uji densitas
No. Alat Fungsi
1. Timbangan Untuk menimbang pakan uji
2. Beaker glass Sebagai wadah bahan uji
3. Tabung reaksi Sebagai wadah larutan bahan uji
4. Pipet Untuk mengambil sampel larutan
5. Penggaris Untuk mengukur total bahan dalam beaker glass

Bahan yang digunakan dalam uji densitas terhadap bahan pakan adalah
sebagai berikut:
Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam uji densitas
No. Bahan Fungsi
1. Tepung jagung Sebagai bahan baku pakan
2. Dedak padi Sebagai bahan baku pakan
3. Tepung ikan Sebagai bahan baku pakan

3.1.2 Metode, Prosedur, dan Tahapan Praktikum


Metode yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya adalah metode
mengamati. Praktikum ini dilakukan dengan memadatkan bahan lalu diamati.
Prosedur serta tahapan yang perlu dilakukan dalam praktikum diantaranya sebagai
berikut:
Ditimbang Beaker glass (1000 ml) kosong ( a gram)

Dimasukkan pakan yang akan diuji kedalam beaker glass sampai penuh
kemudian goyang dengan tangan selama 1 menit kemudian ditimbang ( b gram)

Diamati apakah terlihat ada pemisahan partikel bahan dan ukur dengan
penggaris tinggi total bahan dalam beaker glass ( x cm)

dipadatkan pakan dalam beaker glass sampai pakan tidak muat lagi dan
selanjutnya ditimbang (c gram)

3.1.3 Parameter yang Diamati


Berdasarkan hasil praktikum uji densitas terdapat parameter yang diamati
adalah sebagai berikut:
 Kekompakan

3.2 Uji Bulky


3.2.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam uji bulky terhadap bahan pakan adalah sebagai
berikut:
Tabel 3. Alat yang digunakan dalam uji bulky
No. Alat Fungsi
1. Gelas ukur Sebagai pengukur larutan
2. Penggaris Untuk mengukur ketinggian pakan

Bahan yang digunakan dalam uji bulky terhadap bahan pakan adalah
sebagai berikut:
Tabel 4. Bahan yang digunakan dalam uji bulky
No. Bahan Fungsi
1. Dedak halus Sebagai bahan baku pakan
2. Tepung jagung Sebagai bahan baku pakan
3. Tepung ikan Sebagai bahan baku pakan

3.2.2 Metode, Prosedur, dan Tahapan Praktikum


Metode yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya adalah metode
mencampur dan mengamati. Praktikum ini dilakukan dengan mencampurkan bahan
lalu diamati kenampakannya. Prosedur serta tahapan yang perlu dilakukan dalam
praktikum diantaranya sebagai berikut:

Diamati dengan penciuman

Diambil gelas ukur kemudian masukkan air kedalam sampai 3/4 bagian
kemudian dimasukkan bahan kedalam gelas ukur

Dibiarkan beberapa menit sampai sebagian bahan tenggelam, kemudian diamati


bagian yang tenggelam dan terapung

diaduk perlahan, diamati apakah bahan yang terapung jadi tenggelam, apakah
terlarut atau tidak

3.2.3 Parameter yang Diamati


Berdasarkan hasil praktikum uji densitas terdapat parameter yang diamati
adalah sebagai berikut:
 Kerapatan
3.3 Uji Durabilitas
3.3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam uji durabilitas terhadap bahan pakan adalah
sebagai berikut:
Tabel 5. Alat yang digunakan dalam uji durabilitas
No. Alat Fungsi
1. Timbangan Untuk menimbang pakan uji
2. Alat pemutar Sebagai alat penguji
3. Beban Bagian dalam alat pemutar
4. Saringan Sebagai alat untuk menyaring atau memisahkan
pakan berdasarkan ukuran
5. Kertas/ aluminium foil Sebagai wadah penyimpanan

Bahan yang digunakan dalam uji durabilitas terhadap bahan pakan adalah
sebagai berikut:
Tabel 6. Bahan yang digunakan dalam uji durabilitas
No. Bahan Fungsi
1. Pellet uji 50 gram Sebagai sampel pakan yang diuji

3.3.2 Metode, Prosedur, dan Tahapan Praktikum


Metode yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya adalah metode
penggoyangan. Praktikum ini dilakukan dengan memasukkan bahan lalu digoyang
dengan menggunakan alat kemudian diamati kenampakannya. Prosedur serta
tahapan yang perlu dilakukan dalam praktikum diantaranya sebagai berikut:
Ditimbang Beaker glass (1000 ml) kosong ( a gram)

Dimasukkan pakan yang akan diuji kedalam beaker glass sampai penuh
kemudian goyang dengan tangan selama 1 menit kemudian ditimbang ( b gram)

Diamati apakah terlihat ada pemisahan partikel bahan dan ukur dengan
penggaris tinggi total bahan dalam beaker glass ( x cm)

dipadatkan pakan dalam beaker glass sampai pakan tidak muat lagi dan
selanjutnya ditimbang (c gram)

3.1.3 Parameter yang Diamati


Berdasarkan hasil praktikum uji densitas terdapat parameter yang diamati
adalah sebagai berikut:
 Ketahanan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Uji Densitas, Bulky dan Durabilitas


4.1. Uji Densitas
4.1.1 Hasil
Hasil yang diperoleh pada pengujian densitas pakan dengan bahan baku
dedak halus adalah sebagai berikut:
Berat beaker glass = 243 gram
Berat dedak dalam beaker glass = 689 gram
Berat dedak dalam beaker glass setelah dipadatkan = 816
𝐷1 = (b − a) 𝐷2 = (c − a)
= 689 − 243 = 816 − 243
= 446 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 573 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐷1
Dedak halus = 𝐷2 × 100%

446
= × 100%
573

= 77,83%

Hasil yang diperoleh pada pengujian densitas pakan dengan bahan baku
tepung jagung adalah sebagai berikut:
Berat tepung dalam beaker glass = 1007 gram
Berat tepung dalam beaker glass setelah dipadatkan = 1107 gram
𝐷1 = (b − a) 𝐷2 = (c − a)
= 1009 − 243 = 1107 − 243
= 766 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 864 𝑔𝑟𝑎𝑚
766
Tepung Jagung = 864 × 100%

= 88,65 %
4.1.2 Pembahasan
Melihat dari hasil praktikum diatas, densitas tepung jagung lebih besar
dibanding dedak halus. Hal ini dikarenakan tekstur pakan pada tepung jagung lebih
kompak sehingga tahan terhadap proses tekanan sehingga ikatan antar partikel
penyusun pakan menjadi kuat dan ruang antara partikel bahan pakan tidak terisi
rongga udara.
Dedak halus maupun tepung jagung merupakan bahan baku yang baik untuk
pembuatan pelet karena akan mengahasilkan nilai densitas yang tinggi pada pelet
tersebut. Hal tersebut didukung oleh pernyataan McEllhiney (1994) yang
menyatakan bahwa dua faktor yang mempengaruhi ketahanan serta sifat pelet yaitu
karakteristik bahan dan ukuran pertikel. Hal ini juga diperkuat pendapat Balago et
al. (1988) bahwa ukuran partikel yang kecil akan menyebabkan pelet semakin kuat.
Faktor lain yang mempengaruhi kekerasan pelet adalah kadar kehalusan bahan
pakan. Menurut murdjiman (1984) bahwa bahan campuran pakan yang halus akan
menyebabkan kekerasan pellet yang kuat.

4.2 Uji Bulky


4.2.1 Hasil
Hasil uji bulky adalah sebagai berikut:
 Pakan yang tenggelam sebelum diaduk memiliki ketebalan 1,7 cm
 Pakan yang terapung sebelum diaduk memiliki ketebalan 0,3 cm
 Setelah diaduk terjadi perubahan yaitu semua tenggelam
4.2.2 Pembahasan
Hasil pengujian diketahui waktu yang dibutuhkan untuk dedak tenggelam
sebagian adalah 1 menit 45 detik dengan ketebahan terapung 0,3 cm dan ketebalan
tenggelam 1,7 cm. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa bahan baku yang di
uji memiliki tekstur halus dikarenakan pada saat perlakuan tenggelamnya sebagian
bahan pakan cukup lama, hal ini sesuai dengan pernyataan (Asmawi 1983) yaitu
semakin halus bahan pakan, akan semakin stabil pelet berada dalam air, sehingga
tidak cepat tenggelam ke dasar atau pecah berantakan.
Uji ini sangat efektif dikarenakan perlakuan uji ini yang cukup praktis dan
cepat sehingga tidak memerlukan biaya yang mahal dan alat canggih untuk
melakukannya.
4.3 Uji Durabilitas
4.3.1 Hasil
Hasil pengujian durabilitas pakan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Data Hasil Penimbangan Bobot Pakan sebelum dan Sesudah Perlakuan
Berat Pakan Sebelum Perlakuan Berat Pakan Setelah Perlakuan
500 gram 496 gram

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝐷𝑖𝑝𝑢𝑡𝑎𝑟


𝐷𝑢𝑟𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑥 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝐷𝑖𝑝𝑢𝑡𝑎𝑟
496
= 𝑥 100%
500
= 99,2%
4.3.2 Pembahasan
Hasil yang diperoleh pada uji durabilitas ini yaitu 99,2% dengan hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa pelet yang dihasilkan memiliki kualitas sangat
baik. Hal ini menandakan pakan tersebut tahan terhadap goncangan, goyangan dan
gesekan. Hal ini didukung oleh pernyataan Fasina (2008), nilai durabilitas pelet
yang baik telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Pelet dikatakan bermutu baik jika
nilai durabilitasnya di atas 80%, sedang jika di antara 70-80%, dan rendah jika di
bawah 70%. Adanya beberapa bagian pelet yang hancur disebabkan oleh benturan
dan gesekan yang terjadi selama pengujian dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Agus, A. 2007. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Badian Nutrisi dan
Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Asmawi, S. 1983. Pemeliharaan Ikan dalam Karamba. PT. Gramedia. Jakarta
Balazs, G.H., Ross, E., Brooks, C.C., 1973. Preliminary Studies on the Preparation
and Feeding of Crustacean Diets. Aquaculture. 8, 755 – 766.
Dozier WA. 2001. Pellet quality for more economical poultry meat. J Feed
International. 52 (2): 40-42.
Fasina OD, Sokhansanj S. 1993. Effect of moisture on bulk handling properties of
alfalfa pellets. J Canada Agric Engine. 35(4): 269-272.
Hartadi H., S. Reksohadiprojo, AD. Tilman. 1997. Tabel Komposisi Pakan Untuk
Indonesia. Cetakan Keempat, Gadjah Mada Uivesity Press, Yogyakarta.
Khalil 1999. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap perubahan
perilaku fisik bahan pakan lokal: kerapatan tumpukan, kerapatan
pemadatan tumpukan, dan berat jenis. Med Pet 22(1):1-11.
Krisnan R, Ginting SP. 2009. Penggunaan solid ex-decanter sebagai perekat
pembuatan pakan komplit berbentuk pelet : Evaluasi fisik pakan komplit
berbentuk pelet. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. Deli Serdang (ID) : Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih.
McEllhiney RR. 1994. Feed Manufacturing Industry. 4 th Ed. Arlington (US):
American Feed Industry assosiaction Inc.
Murdinah. 1989. Studi stabilitas dalam air dan daya pikat pakan udang bentuk
pelet. J Penelitian Pascapanen Perikanan. 15(1): 115-127.
Mudjiman A. 2004. Makanan Ikan. Edisi revisi. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Ruttloff C. 1981. Technologis Mischfultermittel. VEB. Leipzig (DE):
Fachbuchverlag
Suadnyana IW. 1998. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap
perubahan sifat fisik pakan lokal sumber protein [skripsi]. Fakultas
Peternakan IPB Bogor.
Syarief R, Irawati A. 1993. Pengetahuan Bahan untuk Industri Pertanian. Jakarta
(ID): Gramedia Pustaka Utama
Thomas M, Zuilichem DJV, van der Poel AFB. 1997. Physical quality of peleted
animal feed 2. Contribution of process and its conditions. J Anim Feed Sci
and Tech. 64 (2): 173-192.
USDA. 1999. Practical procedures for grain handlers: Inpecting Grain. United
States Department of Agriculture-Grain INspection, Packers and Stockyards
Aministration.
Wirakartakusumah MA, Abdullah K, Syarif AM. 1992. Sifat Fisik Pangan.
Depdikbud. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas
Pangan dan Gizi, IPB.
LAMPIRAN

Sendok Timbangan dan Beaker glass

Dedak halus Dedak halus dalam beaker glass

Dedak halus ditimbang Tepung Jagung