Anda di halaman 1dari 3

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian terhadap obat yang

mempengaruhi saluran pencernaan khususnya antitukak. tukak lambung menjadi


suatu penyakit yang banyak diderita masyarakat. Tukak lambung merupakan salah
satu bentuk tukak peptik yang ditandai dengan rusaknya lapisan mukosa, bahkan
sampai ke mukosa muskularis. Ketidakseimbangan antara faktor agresif dan
protektif merupakan awal terjadinya tukak lambung. Hipersekresi asam lambung
sebagai faktor agresif adalah kondisi patologis yang terjadi akibat sekresi HCl yang
tidak terkontrol dari sel-sel parietal mukosa lambung melalui pompa proton H+/K+-
ATPase, sedangkan kerusakan lapisan mukusyang berfungsi sebagai faktor
protektif pada permukaan mukosa lambung dapat memperparah keadaan.

Tukak lambung atau ulkus peptikum didasarkan pada kerusakan pada


lapisan mukosa, submukosa sampai lapisan otot saluran cerna yang disebabkan oleh
aktivitas pepsin dan asam lambung yang berlebihan. penyakit maag dengan tukak
lambung berbeda dilihat dari gejala yang dirasakan apabila maag hanya
menimbulkan mual muntah yang diakibatkan sekresi asam lambung yang berlebih
sedangkan tukak lambung menimbulkan rasa nyeri panas yang hebat akibat sekresi
asam lambung dan pelepasan gastrin meningkat sehingga pertahanan luka menurun
akibat lapisan mukosa yang rusak atau infeksi. Namun apabila sudah memiliki
penyakit maag sangat beresiko untuk mengalami tukak lambung karena sama sama
terjadi pada lambung yang diakibatkan oleh karena gangguan keseimbangan asam-
basa pada lambung dimana terjadi peningkatan keasaman lambung dan penurunan
daya tahan/proteksi jaringan lambung. Faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi
dan ulkus pada saluran pencernaan adalah ketidakseimbangan antara faktor agresif
(asam dan pepsin) dan faktor pertahanan (defensif) dari mukosa. Faktor pertahanan
ini antara lain adalah pembentukan dan sekresi mukus, sekresi bikarbonat, aliran
darah mukosa dan difusi kembali ion hidrogen pada epitel serta regenerasi epitel
adapun faktor lainnya seperti predisposisi (kontribusi) untuk terjadinya tukak peptik
antara lain daerah geografis, jenis kelamin, faktor stress, herediter, merokok, obat-
obatan dan infeksi bakteria (helicobacter pylori).

Pato
Pada pengujian hewan dipuasakan kurang lebih 18 jam namun tetap diberi
minum hal ini bertujuan, tikus yang digunakan sebanyak 3 ekor, masing masing
mecit dikelompokan menjadi mecit kontrol negatif yaitu hanya diberi akuadest
sebagai kontrol sehingga untuk pengamatan tukak yang sehat atau tidak
diinduksi,kemudian tikus kontrol positif diberi alkohol 70% hal ini bertujuan
sebagai penginduksi karena alkohol dapat meningkatkan sekresi asam lambung
sehingga untuk pengamatan lambung yang mengalami bintik pendarahan sampai
tukak lambung, lalu tikus pembanding yang diberikan sukralfat. Sukralfat adalah
kompleks antara aluminium hidroksida dan sukrosa octasulfate. Sukralfat
merupakan substansi yang bekerja lokal pada lingkungan asam (pH<4). Sukralfat
menjadi kental dan lengket dalam lingkungan asam serta melekat erat ke protein di
kawah ulkus. Sukralfat melindungi ulkus dari erosi lebih lanjut dan menghambat
kerja agresif pepsin dan empedu di tempat ulkus. Mekanisme sukralfat sebagai
antitukak bereaksi dengan asam hidroklorik dalam lambung membentuk sebuah
cross-linked yang memiliki konsistensi kental seperti bahan perekat yang mampu
bereaksi sebagai buffer asam untuk waktu yang lama, yaitu 6-8 jam setelah
diminum dalam dosis tunggal. Sukralfat membentuk kompleks ulser adheren
dengan eksudat protein seperti albumin dan fibrinogen pada sisi ulser dan
melindunginya dari serangan asam, membentuk barier viskos pada permukaan
mukosa di lambung dan duodenum, serta menghambat aktivitas pepsin dan
membentuk ikatan garam dengan empedu. Perlindungan fisik atau kompleks
itu besifat melindungi permukaan ulkus dan mencegah kerusakan lebih lanjut oleh
asam, pepsin dan empedu. Kemungkinan sukralfat juga mencegah kembalinya
difusi ion hidrogen, penyerapan pepsin dan asam empedu, dan dapat menstimulasi
peningkatan protaglandin E2, epidermal growth factors (EGF), fibroblast growth
factor dan mukus lambung. Sukralfat sebaiknya dikonsumsi pada saat perut kosong
untuk mencegah ikatan dengan protein dan fosfat (Hasanah, 2007; Waller et al .,
2009).
Kemudian setelah perlakuan diatas tikus didiamkan selama 1 jam untuk
memastikan obat terabsorpsi sempurna dalam saluran cerna sehingga dapat
menimbulkan efek farmakologi. Tikus dikorbankan dengan cara dislokasi leher
dengan cara kematian tanpa rasa sakit perlu dilakukan sedemikian sehingga hewan
akan mati dengan seminimal mungkin rasa sakit. Adapun cara lain untuk
pengorbanan hewan dengan menggunakan gas karbondioksida dalam wadah
khusus atau dengan pemberian pentobarbital natrium pada takaran letalnya. Pada
dasarnya cara fisik yaitu dengan melakukan dislokasi leher adalah cara yang paling
cepat, mudah dan berprikemanusiaan, penanganan yang tidak wajar terhadap hewan
percobaan dapat mempengaruhi hasil percobaan, memberikan penyimpangan hasil
tetapi cara perlakuan kematian juga perlu ditinjau bila ada tujuan dari pengorbanan
hewan percobaan dalam rangkaian percobaan, tujuan dari pengorbanan hewan
dikarenakan akan dilakukan pengamatan lebih lanjut terhadap tikus dengan cara
pembedahan. Lambung yang telah diisolasi didokumentasi kan untuk melihat
adanya perbedaan anatomi masing-masing kelompok.

Berdasarkan hasil pengamatan tikus kontrol positif dengan pemberian


alkohol 70% tidak menimbulkan adanya tukak namun masih dalam bentuk bintik
pendarahan hal tersebut dikarenakan kondisi tikus dalam keadaan imun yang baik,
sehingga pemberian induksi dengan konsentrasi 70% tidak mengakibatkan tukak
lambung, namun apabila pemberian diatas konsentrasi 70% maka memungkinkan
terjadinya tukak lambung. Pada tikus kontrol negatif setelah dilakukan pemberian
akuades dan dilakukan pembedahan untuk mengisolasi lambung didapat bahwa
kondisi lambung pada tikus tidak menunjukan adanya tukak lambung karena
saluran pencernaan tikus dalam keadaan normal. Kemudian pada tikus uji dengan
pemberian sukralfat