Anda di halaman 1dari 28

Laporan kasus

Kandidiasis Oral

Disusun oleh:
Risma Arnis Putri, S.Ked 04054821618028
Amanda Putri Utami, S.Ked 04054821618048
Lidya Puspitasari, S.Ked 04054821618049

Pembimbing:
drg. Billy Sujatmiko, Sp.KG

DEPARTEMEN GIGI DAN MULUT


RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Kandidiasis Oral

Oleh:
Risma Arnis Putri, S.Ked 04054821618028
Amanda Putri Utami, S.Ked 04054821618048
Lidya Puspitasari, S.Ked 04054821618049

Pembimbing:
drg. Billy Sujatmiko, Sp.KG

Telah diterima sebagai syarat untuk mengikuti kepaniteraan klinik periode 24 Juli
– 9 Agustus 2017 di Departemen Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Palembang, Agustus 2017

drg. Billy Sujatmiko, Sp.KG

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan berkah, rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan journal reading yang berjudul “Kandidasis Oral”. Laporan kasus
ini disusun sebagai salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen
Gigi dan Mulut RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
drg. Billy Sujatmiko, Sp.KG selaku pembimbing yang telah memberikan
bimbingan selama penulisan dan penyusunan laporan kasus ini, serta semua pihak
yang telah membantu hingga selesainya laporan kasus ini.

Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan


laporan kasus ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari seluruh pihak agar laporan kasus ini menjadi lebih baik dan
dapat dipertanggungjawabkan. Semoga laporan kasus ini dapat memberikan
manfaat dan tambahan pengetahuan bagi penulis dan pembaca.

Palembang, Agustus 2017

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...............................................................................................1


HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................2
KATA PENGANTAR ............................................................................................3
DAFTAR ISI ...........................................................................................................4
BAB I LAPORAN KASUS ................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................11
BAB III ANALISIS KASUS ...............................................................................26
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................28

4
BAB I
LAPORAN KASUS

1.1 Identifikasi

Nama : Tn. RA (laki-laki)

Medical rec : 1019944

Tgl lahir : 22 tahun

Alamat : Tugu Mulyo, Kabupaten Ogan Komering Ulu

Agama : Islam

Status perkawinan : Belum Kawin

Pekerjaan : Pelajar

MRS : 16 Agustus 2017

Ruangan : Rupit 1.1

1.2 Anamnesa

Keluhan utama Pasien dikonsulkan dari bagian atau Departemen


Ilmu Penyakit Dalam RSMH untuk dilakukan
pemeriksaan gigi dan mulut untuk mengevaluasi
dan tatalaksana bercak putih pada lidah serta
adakah tanda-tanda fokal infeksi.

Keluhan tambahan Tidak ada

Riwayat perjalanan Pasien dirawat di bagian penyakit dalam RSMH


Penyakit dengan diagnosis Leukemia akut. Pasien
mengeluh gusi berdarah dan terdapat bercak putih
kekuningan pada permukaan atas lidah dan
langit-langit mulut sejak ± 5 hari yang lalu.
Pasien belum pernah ke dokter gigi untuk
mengobati kondisi gigi dan lidah tersebut. Pasien
merasa tidak nyaman karena lidah terasa kotor.
Sulit menelan tidak ada, nyeri menelan tidak ada,

5
demam tidak ada.

Riwayat penyakit dan keluhan sistemik


 Alergi debu / dingin  disangkal
 Darah tinggi  disangkal
 Diabetes mellitus  disangkal
 Kelainan darah  disangkal
 Hepatitis  disangkal
 Kelainan hati lainnya disangkal
 HIV/AIDS  disangkal
 Riwayat penyakit pernapasan  disangkal
 Kelainan pencernaan  disangkal
 Riwayat kelainan kelenjar ludah  disangkal
 Epilepsi  disangkal
 TB paru  disangkal

Riwayat perawatan gigi dan mulut sebelumnya


 Cabut gigi tidak ada 
 Tambal gigi tidak ada
 Trauma tidak ada
 Membersihkan karang gigi tidak ada

Riwayat Kebiasaan
 Pasien menggosok gigi 1x sehari saat mandi pagi. 
 Pasien tidak menggosok gigi setelah makan
 Pasien tidak pernah kontrol ke dokter gigi
 Kebiasaan mencongkel gigi yang berlubang dengan tangan / benda asing
disangkal
 Kebiasaan menggoyangkan gigi yang goyang hingga lepas sendiri
disangkal 
 Kebiasaan merokok (+) 1 bungkus sehari
6
1.3 Pemeriksaan fisik
a. Status Umum Pasien (Senin, 28 Agustus 2017. Pukul 15.00)
Keadaan Umum Pasien : Tampak sakit sedang
Sensorium : Compos Mentis
Vital Sign : TD = 130/80 mmHg
N = 87x/ menit, isi dan
tegangan cukup
T = 36,8oC
R = 22x/ menit

b. Pemeriksaan Ekstra Oral:


 Wajah 
Inspeksi : normocephali, simetris (+),
 Bibir : bibir kering agak kehitaman
 Pembesaran KGB : tidak teraba pembesaran dan tidak nyeri
 Temporomandibula joint: tidak ada trismus

b. Pemeriksaan Intra Oral:
 Debris : (+) semua regio
 Plak : tidak ada
 Kalkulus : tidak ada
 Perdarahan Papila interdental : tidak ada
 Identifikasi risiko karies : tidak ada
 Gingiva : tidak ada
 Mukosa : pucat
 Palatum : tampak bercak-bercak putih kekuningan
yang menyebar terutama di palatum molle
 Lidah : tampak bercak-bercak putih kekuningan
yang tersebar merata di dorsum lidah, bisa dikerok dan meninggalkan
dasar kemerahan

7
 Dasar Mulut : tidak ada kelainan
 Hubungan rahang : tidak ada kelainan
 Kelainan gigi geligi : tidak ada kelainan

c. Odontogram 

18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28

55 54 53 52 51 61 62 63 64 65

85 84 83 82 81 71 72 73 74 75

48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38

Gambar 1.1: Tampak bercak putih kekuningan pada dorsum lidah

8
Gambar 1.2: Tampak bercak putih kekuningan pada palatum

1.4 Pemeriksaan Penunjang


1. Laboratorium (15 Agustus 2017)
Hb 3,8 g/dl Kreatinin 0,78
WBC 33.400/mm3 Natrium 140
HT 10% Kalium 4,5
PLT 17.000/mm3 MCV 88,1
SGOT 232 MCH 35
SGPT 415 MCHC 40
Diff Count 0/0/3/12/0 GDS 100 g/dL
Albumin 3,5
Ureum 23

2. Mikrobiologi (06 September 2017)


Spesimen kultur diambil dari dua lokasi, yaitu dorsal lidah dan
orofaring. Hasil sebagai berikut.
Dorsal lidah : Candida tropicalis. KOH: Yeast cell (+).
Orofaring : Candida tropicalis. KOH: Yeast cell (+).

1.5 Temuan masalah


Didapatkan bercak-bercak putih kekuningan yang tersebar merata di
9
palatum molle dan dorsum lidahyang bisa dikerok dan meninggalkan
dasar kemerahan

1.6 Rencana terapi


 Dilakukan komunikasi, informasi dan edukasi kepada pasien tentang
perawatan kebersihan mulut (oral hygiene) dan pembersihan pada
rongga mulut.
 Diberikan nistatin suspensi oral dengan dosis 400.000 unit tiap 6 jam.
Jika sediaan yang tersedia 100.000 unit/mL, maka obat diberikan
sebanyak 4mL tiap 6 jam.
 Disarankan untuk pemberian obat kumur Betadine gargle.

1.7 Prognosis
Dubia ad bonam, karena bila faktor-faktor seperti kebiasaan oral
hygiene yang buruk diperbaiki, diharapkan infeksi dari bakteri ataupun jamur
akan tereliminasi. Oral hygiene yang baik sangat membantu dalam
meningkatkan prognosis.

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rongga Mulut


Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah
bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum
keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, ‘alveolar
ridge’, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang
membatasi rongga mulut.6

Anantomi rongga mulut


Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis
oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding
bagian lateral masing - masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari
pipi, pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya, pipi dilapisi oleh
membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi.
Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun
diantara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir
pada bagian bibir.

11
2.1.1 Bibir dan Palatum
Bibir adalah lekukan jaringan lunak yang mengelilingi bagian yang
terbuka dari mulut. Bibir terdiri dari otot orbikularis oris dan dilapisi oleh kulit
pada bagian eksternal dan membran mukosa pada bagian internal. Secara
anatomi,bibir dibagi menjadi dua bagian yaitu bibir bagian atas dan bibir bagian
bawah. Bibir bagian atas terbentang dari dasar dari hidung pada bagian superior
sampai ke lipatan nasolabial pada bagian lateral dan batas bebas dari sisi
vermilion pada bagian inferior. Bibir bagian bawah terbentang dari bagian atas
sisi vermilion sampai ke bagian komisura pada bagian lateral dan ke bagian
mandibula pada bagian inferior
Kedua bagian bibir tersebut, secara histologi, tersusun dari epidermis, jaringan
subkutan, serat otot orbikularis oris, dan membran mukosa yang tersusun dari
bagian superfisial sampai ke bagian paling dalam. Bagian vermilion merupakan
bagian yang tersusun atas epitel pipih yang tidak terkeratinasi. Epitel- epitel pada
bagian ini melapisi banyak pembuluh kapiler sehingga memberikan warna yang
khas pada bagian tersebut. Selain itu, gambaran histologi juga menunjukkan
terdapatnya banyak kelenjar liur minor. Folikel rambut dan kelejar sebasea juga
terdapat pada bagian kulit pada bibir, namun struktur tersebut tidak ditemukan
pada bagian vermilion.
Permukaan bibir bagian dalam dari bibir atas maupun bawah berlekatan
dengangusi pada masing-masing bagian bibir oleh sebuah lipatan yang berada di
bagian tengah dari membran mukosa yang disebut frenulum labial. Saat
melakukan proses mengunyah, kontraksi dari otot-otot businator di pipi dan otot-
otot orbukularis oris di bibir akan membantu untuk memosisikan agar makanan
berada di antara gigi bagian atas dan gigi bagian bawah. Otot-otot tersebut juga
memiliki fungsi untuk membantu proses berbicara. Palatum merupakan sebuah
dinding atau pembatas yang membatasi antara rongga mulut dengan rongga
hidung sehingga membentuk atap bagi rongga mulut. Struktur palatum sangat
penting untuk dapat melakukan proses mengunyah dan bernafas pada saat yang
sama. Palatum secara anatomis dibagi menjadi dua bagian yaitu palatum durum
(palatum keras) dan palatum mole (palatum lunak).
12
Palatum durum terletak di bagian anterior dari atap rongga mulut. Palatum
durum merupakan sekat yang terbentuk dari tulang yang memisahkan antara
rongga mulut dan rongga hidung. Palatum durum dibentuk oleh tulang maksila
dan tulang palatin yang dilapisi oleh membran mukosa. Bagian posterior dari atap
rongga mulut dibentuk oleh palatum mole. Palatum mole merupakan sekat
berbentuklengkungan yang membatasi antara bagian orofaring dan nasofaring.
Palatum mole terbentuk dari jaringan otot yang sama halnya dengan paltum
durum, juga dilapisi oleh membran mukosa

2.1.2 Lidah
Lidah merupakan salah satu organ aksesoris dalam sistem pencernaan.
Secara embriologis, lidah mulai terbentuk pada usia 4 minggu kehamilan. Lidah
tersusun dari otot lurik yang dilapisi oleh membran mukosa. Lidah beserta otot-
otot yang berhubungan dengan lidah merupakan bagian yang menyusun dasar dari
rongga mulut. Lidah dibagi menjadi dua bagian yang lateral simetris oleh septum
median yang berada disepanjang lidah. Lidah menempel pada tulang hyoid pada
bagian inferior, prosesus styloiddari tulang temporal dan mandibula.
Setiap bagian lateral dari lidah memiliki komponen otot-otot ekstrinsik
dan intrinsik yang sama. Otot ekstrinsik lidah terdiri dari otot hyoglossus, otot
genioglossus dan otot styloglossus. Otot-otot tersebut berasal dari luar lidah
(menempel pada tulang yang ada di sekitar bagian tersebut) dan masuk kedalam
jaringan ikat yang ada di lidah. Otot-otot eksternal lidah berfungsi untuk
menggerakkan lidah dari sisi yang satu ke sisi yang berlawanan dan
menggerakkan ke arah luar dan ke arah dalam. Pergerakan lidah karena otot
tersebut memungkinkan lidah untuk memosisikan makanan untuk dikunyah,
dibentuk menjadi massa bundar, dan dipaksa untuk bergerak ke belakang mulut
untuk proses penelanan.
Selain itu, otot-otot tersebut juga membentuk dasar dari mulut dan
mempertahankan agar posisi lidah tetap pada tempatnya. Otot-otot intrisik lidah
berasal dari dalam lidah dan berada dalam jaringan ikat lidah. Otot ini mengubah
bentuk dan ukuran lidah pada saat berbicara dan menelan. Otot tersebut terdiri
13
atas : otot longitudinalis superior, otot longitudinalis inferior, otot transversus
linguae, dan otot verticalis linguae. Untuk menjaga agar pergerakan lidah terbatas
ke arah posterior dan menjaga agar lidah tetap pada tempatnya, lidah berhubungan
langsung dengan frenulum lingual, yaitu lipatan membran mukosa yang berada
pada bagian tengah sumbu tubuh dan terletak di permukaan bawah lidah, yang
menghubungkan langsung antara lidah dengan dasar dari rongga mulut.
Pada bagian dorsum lidah (permukaan atas lidah) dan permukaan lateral
lidah, lidah ditutupi oleh papila. Papila adalah proyeksi dari lamina propria yang
ditutupi oleh epitel pipih berlapis. Sebagian dari papila memiliki kuncup perasa,
reseptor dalam proses pengecapan, sebagian yang lainnya tidak. Namun, papila
yang tidak memiliki kuncup perasa memiliki reseptor untuk sentuhan dan
berfungsi untuk menambah gaya gesekan antara lidah dan makanan, sehingga
mempermudah lidah untuk menggerakkan makanan di dalam rongga mulut.

2.2 Kandidiasis Oral

2.2.1. Definisi
Kandidiasis oral merupakan salah satu manifestasi dari penyakit mulut
berupa infeksi yang disebabkan oleh jamur candida albicans4.Penyakit kandidiasi
oral ini sering ditemukan pada pada orang memiliki imunitas rendah seperti pada
orang terkena HIV5.

2.2.2. Epidemiologi

Kandidiasis oral atau dikenal juga dengan thrush adalah infeksi


oportunistik umum pada rongga mulut yang disebabkan oleh pertumbuhan yang
berlebihan dari spesies Candida. Penyakit ini kerap terjadi pada pasien HIV/AIDS
3
yang jumlah CD4+ dibawah 200sel/mm (Akpan A, 2008; Gabler IG et al, 2008).
Kira-kira 40% dari populasi mempunyai spesies Candida di dalam mulut dalam
jumlah kecil sebagai bagian yang normal dari mikroflora oral, dengan berbagai
hal mikroflora oral normal ini bisa menjadi pathogen pada keadaan:
imunokompromise, obat-obatan (antibiotik, kortikosteroid), chemotherapy,
14
diabetes mellitus, produksi saliva yang menurun, dan protese (Lewis Michael AO,
1998; Suhonen RE, 1999).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka prevalensi untuk kandidiasis
oral pada pasien HIV/AIDS di India sekitar 43,2%, di Rumah sakit Eduardo de
Menezes di Brazil sekitar 50%, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
sekitar 80,8%, Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung sekitar 27%, RSUP H
Adam Malik Medan jumlah kasus kandidiasis oral dari tahun 2008 sampai tahun
2009 terdapat 28,7% (Gabler IG, et al. 2008; Sudjana P, 2009; VCT- Pusyansus
RSUP. HAM Medan, 2009).

2.2.3 Faktor resiko

Pada orang yang sehat, Candida albicans umumnya tidak menyebabkan


masalah apapun dalam rongga mulut, namun karena berbagai faktor, jamur
tersebut dapat tumbuh secara berlebihan dan menginfeksi rongga mulut. Faktor-
faktor tersebut dibagi menjadi dua, yaitu1 :
a. Patogenitas jamur
Beberapa faktor yang berpengaruh pada patogenitas dan proses infeksi Candida
adalah adhesi, perubahan dari bentuk ragi ke bentuk hifa, dan produksi enzim
ekstraseluler. Adhesi merupakan proses melekatnya sel Candida ke dinding sel
epitel host. Perubahan bentuk dari ragi ke hifa diketahui berhubungan dengan
patogenitas dan proses penyerangan Candida terhadap sel host. Produksi enzim
hidrolitik ekstraseluler seperti aspartic proteinase juga sering dihubungkan dengan
patogenitas Candida Albicans.
b. Faktor Host
Faktor host dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lokal dan faktor
sistemik. Termasuk faktor lokal adalah adanya gangguan fungsi kelenjar ludah
yang dapat menurunkan jumlah saliva. Saliva penting dalam mencegah timbulnya
kandidiasis oral karena efek pembilasan dan antimikrobial protein yang
terkandung dalam saliva dapat mencegah pertumbuhan berlebih dari Candida, itu
sebabnya kandidiasis oral dapat terjadi pada kondisi Sjogren syndrome,

15
radioterapi kepala dan leher, dan obat-obatan yang dapat mengurangi sekresi
saliva. Pemakaian gigi tiruan lepasan juga dapat menjadi faktor risiko timbulnya
kandidiasis oral. Sebanyak 65% orang tua yang menggunakan gigi tiruan penuh
rahang atas menderita infeksi Kandida, hal ini dikarenakan pH yang rendah,
lingkungan anaerob dan oksigen yang sedikit mengakibatkan Kandida tumbuh
pesat. Selain dikarenakan faktor lokal, kandidiasis juga dapat dihubungkan
dengan keadaan sistemik, yaitu usia, penyakit sistemik seperti diabetes, kondisi
imunodefisiensi seperti HIV, keganasan seperti leukemia, defisiensi nutrisi, dan
pemakaian obat-obatan seperti antibiotik spektrum luas dalam jangka waktu lama,
kortikosteroid, dan kemoterapi.

Tabel 1. Faktor Risiko

Faktor Sistemik Faktor Lokal

Faktor Psycological Xerostemia


- Bayi - Radioterapi
- Usia Tua - Obat-obatan

Gangguan Endokrin Obat


- Diabetes Melitus - Antibiotik spektrum lua
- Hipotiroid - Kortikosteroid

Faktor Gizi Diet Karbohidrat tinggi


- Besi
- Asam folat
- Kekurangan B12

Keganasan Gigi Palsu


- Leukemia akut - Hygene gigi palsu
- Agranulositosis - Trauma

Imunosupresi, Gangguan Imun Merokok


- AIDS

Sumber Journal of Marmara University Institute of Health Sciences Volume: 1, Number: 2, 2011
16
2.2.4. Manifestasi Klinis
Pada stadium awal tampak selaput lendir bewarna merah dengan gambaran
granula yang kasar. Pada hari berikutnya tampak bercak putih sebesar jatum
pentul, dalam waktu 2-3 hari akan bergabung menjadi bercak besar seperti
membran. Bagian yang paling sering terkena adalah mukosa bukalis bagian dorsal
dan lateral lidah , dan gusi. Terasa nyeri yang terutam terjadi bila tersentuh
makanan2.
Pada kasus infeksi HIV, candidiasis bukanlah disebabkan oleh infeksi HIV
nya tetapi karena terjadinya penurunan barisan sel darah putih (lifosit CD4) yang
berguna pada pertahanan tubuh terhadap infeksi candida.

2.2.5. Klasifikasi
Kandidiasi oral dapat dikelompokkan menjadi tiga3:
1. Kandidiasis Oral Akut
a. Kandidiasis pseudomembranous Akut
Kandidiasis pseudomembranous akut yang disebut juga sebagai trush,
pertama kali tampak plak mukosa yang putih, difus, bergumpal atau
seperti beludru terdiri dari sel epitel dekumuasi, fibrin dan hifa jamur
dapat dihapus sehingga meninggalkan permukaan merah dan kasar.
Biasanya dijumpai pada mukosa pipi, lidah dan palatum lunak dan
sering biasanya mengeluhkan rasa terbakar pada mulut. Kandidiasis
pseudomembranous akut ini sering pada pasien imun rendah, seperti
HIV/ AIDS, pasien yang mengkonsumsi kortikosteroid dan
kemoterapi. Diagnosanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis,
kultur jamur, atau pemeriksaan mikrokopis yang langsung kerokan
dari jamur.

17
Gambar 1. Kandidiasis Pseudomembranosus Akut pada lidah dan mukosa bukal pasien

b. Kandidiasis Atropik Akut


Kandidiasis jenis ini biasanya disebut sebagai antibiotik sore tongue
atau atau kandidiasis eritematus dan biasanya dijumpai pada daerah
mukosa bukal, palatum, dan bagian dorsalis lidah dengan daerah
permukaan mukosa oral yang mengelupas dan tampak sebai bercak-
bercak merah difus yang rata. Infeksis ini terjadi karena pemakaian
antibiotik berspektrum lua terutam tetrasiklin yang mana obat
mengganggu keseimbangan ekosistem oral antara Lactobacilus
acidophilus dan kandida albikan. Pasien biasanya mengelu sakit seperti
terbakar.

Gambar 2. Kandidiasis Atropik Akut

2. Kandidiasis oral kronik


a. Kandidiasis atropik kronik
Kandidiasis ini disebut juga ‘dentura stomatitis’ atau ‘alergi gigi
tiruan’ merupakan bentuk kandidiasis yang paling umum ditemukan
18
24-60% pengguna gigi tiruan. Mukosa palatum maupun mandibula
tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah, kondisi ini
dikategorikan sebagai bentuk infeksi Kandidia. Gigi tiruan yang
menutup mukosa dari saliva menyebabkan daerah tersebut mudah
terinfeksi jamur
Berdasarkan gambaran klinis yang terlihat pada mukosa terinflamasi di
bawah gigi tiruan rahang atas diklasifikasikan atas tiga yaitu :
 Tahap I : tahap awal dengan adanya pin point hiperemi yang
terlokalisir
 Tahap II : tampak eritema difus pada mukosa yang berkontak
dengan gigi tiruan
 Tipe III : tipe granular (inflamatory papilary hyperplasia) yang
baisanya tampak pada bagian tengah palatum keras.

Gambar 3. Kandidiasis Atropik Kronik


b. Kandidiasi Hiperplastik Kronik
Infeksi Jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa
bintik-bintik putih yang tepinya menimbul tegas dengan beberapa
daerah merah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi displasia berat
atau keganasan, dan kadang disebut sebagai kandida leukoplakia.
Bintik-bintik putih tersebut tidak dapat dihapus , sehingga diagnosa
harus ditentukan dengan biopsi. Kandidiasis ini paling sering diderita
oleh perokok

19
Gambar 4. Kandidiasis Hiperplastik Kronik

c. Median Rhomboid Glositis


Median rombhoid Glositis adalah daerah simetris kronis di anterior
lidah ke papila sirkumvalata, tepatnya terletak pada duapertiga anterior
dan sepertiga posterior lidah.

Gambar 5. Median Rhomboid Glositis


3. Kelitis Angularis
Kelitis angularis merupakan infeksi kandida albican pada sudut mulut,
dapat bilateral maupun unilateral. Sudut mulut yang terkena infeksi
tampak merah dan pecah-pecah dan terasa sakit ketika membuka mulut.
Kelitis angularis ini dapat terjadi pada penderita defisiensi vitamin B12
dan anemia defisiensi besi.

20
Gambar 6. Angular Cheilitis
2.2.6. Patofisiologi
Terjadinya kandidiasis pada rongga mulut di awali dengan adanya
kemampuan kandida untuk melekat pada mukosa mulut, hal ini yang
menyebabkan awal terjadinya infeksi. Sel ragi atau jamur tidak melekat apabila
mekanisme pembersihan oleh saliva, pengunyahan dan penghancuran oleh asam
lambung berjalan normal. Perlekatan jamur pada mukosa mulut mengakibatkan
proliferasi, kolonisasi tanpa atau dengan gejala infeksi8.
Bahan – bahan polimerik ekstra selular (mannoprotein) yang menutupi
permukaan kandida albikans merupakan komponen penting untuk perlekatan pada
mukosa mulut. Kandida albikans menghasilkan proteinnase yang dapat
mengdegradasi protein saliva termasuk sekretori imunoglobulin A, laktoferin,
musin dan keratin juga sitotoksis terhadap sel host. Batas – batas hidrolisis dapat
terjadi pada pH 3.0/3.5 – pH 6.0. Dan mungkin melibatkan beberapa enzim lain
seperti fosfolipase, akan di hasilkan pada pH 3.5 – 6.0. Enzim ini menghancurkan
membran sel selanjutnya akan terjadi invasi jamur tersebut pada jaringan host.
Hifa mampu tumbuh meluas pada permukaan sel host8.

2.2.7. Pemeriksaan
Diagnosis kandidiasis harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis,
disamping pemeriksaan klinis dan mengetahui riwayat penyakit. Bahan
pemeriksaan dapat diambil dengan beberapa cara yaitu usapan (swab) atau
kerokan (scraping) lesi pada mukosa atau kulit. Juga dapat digunakan darah,
sputum dan urine. Selanjutnya bahan pemeriksaan tersebut diletakkan pada gelas
objek dalam larutan potassium hydroksida (KOH) 10%, hasilnya akan terlihat

21
pseudohyphae yang tidak beraturan atau blastospora. Selain pemeriksaan
mikroskopis.dapat dilakukan kultur dengan menggunakan agar sabouraud`s atau
eosinmethylene blue pada suhu 37 % C, hasilnya akan terbentuk koloni dalam
waktu 24 – 48 jam. Pada kasus hyperplastik kandidiasis kronis pada umumnya
dilakukan biopsi, bahan pemeriksaan dapat diwarnai dengan periodic acid schiff
(P.A.S),hasilnya akan terlihat pseudomyselia dan hifa.Disamping itu akan terlihat
parakeratosis dan leukosit polimorfonuklear8.
Adapun tes tambahan yaitu:
1. Sitologi eksfoliatif
2. Kultur
3. Biopsi jaringan

2.2.8. Tatalaksna
Menejemen yang dilakukan pada kandidiasis oral adalah dengan
pengobatan secara topikal. Setelah dilakukan pengobatan topikal maka
dilanjutkan pengobatan selama dua minggu setelah terjadinya resolusi pada lesi.
Ketika terapi topikal mengalami kegagalan maka dilanjutkannya terapi sistemik
karena gagalnya respon obat adalah merupakan pertanda adanya penyakit sistemik
yang mendasari. Follow up setelah 3 sampai 7 hari pengobatan untuk mengecek
efek dari obat-obatan. Adapun tujuan utama dari pengobatan adalah4.
1. Untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor-faktor yang berkontribusi.
2. Untuk mencegah penyebaran sistemik.
3. Untuk mengurangi kekurangnyamanan yang terjadi.
4. Untuk mengurangi perkembangbiakan kandida.

Pengobatan pada kandidiasis terdiri atas lini pertama dan pengobatan lini
kedua. Pengobatan kandidiasis oral lini pertama yaitu:
1. Nistatin
Nistatin merupakan obat lini pertama pada kandidiasis oral yang terdapat dalam
bentuk topikal. Obat nistatin tersedia dalam bentuk krim dan suspensi oral. Tidak

22
terdapat interaksi obat dan efek samping yang signifikan pada penggunaan obat
nistatis sebagai anti kandidiasis.
2. Ampoterisin B
Obat ini dikenal dengan Lozenge (fungilin 10 mg) dan suspensi oral 100 mg/ml
dimana diberikan tiga sampai empat kali dalam sehari. Ampoterisin B
menginhibisi adhesi dari jamur kandida pada sel epitel. Efek samping pada obat
ini adalah efek toksisitas pada ginjal.

3. Klotrimazol
Obat ini mengurangi pertumbuhan jamur dengan menginhibisi ergosterol.
Klotrimazol dikontraindikasikan pada infeksi sistemik. Obat ini tersedia dalam
bentuk krim dan tablet 10 mg. Efek utama pada obat ini adalah rasa sensasi tidak
nyaman pada mulut, peningkatan level enzim hati, mual dan muntah.

Adapun pengobatan kandidiasis lini kedua yaitu:


a. Ketokonazol
Ketokonazol memblok sintesis ergosterol pada membran sel fungal dan
diserap dari gastrointestinal dan dimetabolisme di hepar. Dosis yang
dianjurkan adalah 200-400 mg tablet yang diberikan sakali atau dua kali
dalam sehari selama dua minggu. Efek samping adalah mual, muntah,
kerusakan hepar dan juga interaksinya dengan antikoagulan.
b. Flukonazol
Obat ini menginhibisi sitokrom p450 fungal. Obat ini digunakan pada
kandidiasis orofaringeal dengan dosis 50-100mg kapsul sekali dalam
sehari dalam dua sampai tiga minggu. Efek samping utama pada
pengobatan dengan menggunakanflukonazol adalah mual, muntah dan
nyeri kepala.
c. Itrakonazol
trakonazol merupakan salah satu antifungal spektrum luas dan
dikontraindikasikan pada kehamilan dan penyakit hati. Dosis obat

23
adalah 100 mg dalam bentuk kapsul sehari sekali selama dua minggu.
Efek samping utama adalah mual, neuropati dan alergi.

Tabel 2. Antifungal Drugs for treatment of Oropharyngeal candidiasis

Sumber Dangi, Y. Sngh. 2010. Oral Candidiasis. Institute of Pharmaceutical Sciences, Guru
Ghasidas Central University.Vol 2.

2.2.9. Diagnosis Banding


1. Pseudomembranous Candidiasis (Thrush) dengan difeteia.
Perbedaan dapat dilihat pada letak maksudnya thrush lesi putih terletak
dipalatum daan membran mukosa bukal sedangkan pada penyakit difteri
terletak pada faring. Perbedan lainnya adalah apabila pada trush lesi putih
tersebut diangkat hanya akan menimbulkan bekas merah sedangkan pada
difteri akan timbul perdarahnan
2. Chronic Hyperpalstic Candidiasis dengan Leukoplakia

2.2.10. Komplikasi
Kandidiasis oral yang disebabkan oleh jamur candida, apabila candida
masuk ke esofagus (pada kasus yang berat) maka akan terjadi candidiasis
esofaghitis maka pasien akan mengalami kesulitan dalam menelan dan apabila

24
tidak di obati maka akan tertelan ke usus sehingga menyebab timbulnya difeteri
dan lebih parahnya akan terjadi infeksi usus9.

2.2.11. Prognosis
Prognosis dari oral kandidiasis adalah baik ketika faktor-faktor
predisposisi yang berhubungan dengan infeksi ini tereliminasi. Ketika faktor-
faktor predisposisi meningkat pada pasien kandidiasis primer maka meningkatkan
pula resiko yang lebih buruk pada kandidiasis. Pada kebanyakan kasus kandidiasis
oral adalah penyebab dari infeksi superfisial sekunder yang dapat dengan mudah
diobati dengan terapi antifungal2.

25
BAB III
ANALISIS MASALAH

Tn. RA, 22 tahun, laki-laki, dirawat di bagian penyakit dalam RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang dengan diagnosis leukemia akut sejak tanggal 21
Agustus 2017. Pasien mengeluh gusi berdarah dan terdapat bercak putih
kekuningan pada permukaan lidah. Pasien selama ini belum berobat ke dokter gigi
untuk keluhannya.
Riwayat gusi berdarah (+) merupakan manifestasi dari keadaan
trombositopenia yang disebabkan oleh proses penyakit leukemia, sekarang
keluhan gusi berdarah sudah tidak lagi ditemukan. Keluhan terdapat bercak putih
kekuningan pada permukaan lidah merupakan manifestasi dari keadaan
neutropenia pada pasien leukemia akut yang menyebabkan pasien rentan untuk
terinfeksi bakteri, virus, atau jamur. Keadaan sistem imun yang buruk pada pasien
leukemia akut ini dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya infeksi pada rongga
mulut seperti kandidiasis oral.
Dari riwayat kebiasaan, adanya kebiasaan oral hygiene pasien yang buruk
berupa menggosok gigi hanya satu kali sehari, tidak pernah menggosok gigi
setelah makan, serta adanya kebiasaan merokok 1 bungkus perhari. Kebiasaan-
kebiasaan ini merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya kandidiasis oral.
Saat dikonsulkan ke bagian Gigi dan Mulut, keadaan umum pasien tampak
kompos mentis, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 87 x/m, pernafasan 22 x/m,
suhu 36.80 C dan Keadaan gizi pasien adalah gizi kurang, hal ini dapat
menyebabkan pertahanan sistem imunitas pasien berkurang, sehingga komplikasi
kesehatan oral pada pasien mudah terjadi.
Pada pemeriksaan ekstraoral tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan
intraoral, ditemukan adanya debris di semua regio, bercak-bercak putih
kekuningan yang menyebar terutama di palatum molle, dan bercak-bercak putih
kekuningan yang tersebar merata di dorsum lidah, bisa dikerok, dan meninggalkan
dasar kemerahan. Kemungkinan terjadinya infeksi jamur pada pasien akibat
higienitas mulut yang buruk disertai buruknya sistem imun akibat leukemia akut.

26
Pasien leukemia akut terjadi gangguan produksi maupun maturasi neutrofil
sehingga secara kuantitatif maupun fungsional yang terganggu, serta terapi
intervensi pada pasien leukemia seperti kortikosteroid, kemoterapi, transplantasi
stem sel dan radiasi dapat menyebabkan menurunnya jumlah maupun fungsi
neutrofil sehingga terjadi defisiensi pertahanan tubuh dan mengakibatkan
tingginya risiko terkena infeksi bakteri, virus, dan jamur dan meningkatkan risiko
terjadinya infeksi sistemik.
Pada pemeriksaan intraoral, ditemukan adanya debris di semua regio,
bercak-bercak putih kekuningan yang menyebar terutama di palatum molle, dan
bercak-bercak putih kekuningan yang tersebar merata di dorsum lidah, bisa
dikerok, dan meninggalkan dasar kemerahan. Hal tersebut terjadi karena oral
hygine yang kurang baik dan sistem imun yang buruk.
Pada pemeriksaan tambahan berupa kultur jamur, didapatkan jamur
Candida tropicalis pada spesimen yang berasal dari dorsal lidah dan orofaring.
Selain itu, pada pemeriksaan mikroskopis KOH didapatkan yeast cell positif pada
kedua spesimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyebab bercak putih
kekuningan pada penderita ini adalah Candida yang menyebabkan terjadinya
kandidiasis oral.
Rencana terapi yang diberikan pada pasien ini adalah pemberian obat
kumur betadine gargle dan nistatin suspensi oral dengan dosis 400.000 unit tiap 6
jam. Pemberian nistatin sampai minimal 48 jam setelah gejala perioral
menghilang dan tidak ditemukan lagi jamur Candida pada kultur. Selain itu juga
dilakukan perawatan dengan menjaga oral hygiene pasien. Mengedukasikan
kepada pasien mengenai oral hygiene untuk mengatasi adanya komplikasi yang
lebih lanjut. Edukasi juga dilakukan pada pasien dalam cara menyikat gigi yang
benar dan teratur serta memberitahu kepada pasien mengenai pentingnya
kunjungan ke dokter gigi setiap 6 bulan, terutama setelah pasien menjalankan
terapi untuk leukemianya.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Hakim, luqmanul dan Ricky ramadian.2015.Kandidiasis Oral. Fakultas


Kedokteran Lampung. Volume 4; nomor 18
2. Lukisari, cane dan 2010. Penatalksanaan Kandidiasis oral disebabkan
Candida tropikalis pada anak dengan gangguan sistemik. Fakultas Gigi
Universitas Airlangga. Vol. 9; no. 2
3. Mourent, Miftahul Laila. 2010. Kandidiasis Oral Pada penderita Leukemia
Akut yang Menjalani Kemoterapi. FKG Universitas Sumatra Utara. Diakses
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17808/3/Chapter%20II.pdf
4. Rao, Prasanna Kumar. 2012. Oral Candidiasis –Review. Scholarly Journal of
Medicine. ISSN 2276-7134
5. Grenberg, M.S. 2008. Burket Oral Medicine 8th ed. BC Pecker Inc, Hamilton
Ontario.
6. Snell,Richard S, . 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran; alih
bahasa Liliana Sugiharto; Ed 6. EGC : Jakarta.
7. Tarcin, B. Gumru. 2011.Oral Candidiasis, Aetiology, Clinical Manifestasion,
Diagnosis and Management. Journal of Marmara University Institute of
Health Sciences Volume: 1, Number: 2
8. Herawati E. 2008. Kandidiasis Rongga Mulut, Gambaran Klinis, dan
Terapinya. Bandung : FKG UNPAD.
9. Bagian ilmu penyakit kulit & kelamin. 2009. Ilmu penyakit kulit dan kelamin.
FKUI: Jakarta
10. Dangi, Y. Sngh. 2010. Oral Candidiasis. Institute of Pharmaceutical Sciences,
Guru Ghasidas Central University.Vol 2. ISSN-0975-1491

28