Anda di halaman 1dari 32

Tugas Kuliah Kimia Medisinal

(Hubungan Struktur Kimia Obat Terhadap Obat-Obat Kardiovaskuler)

Disusun oleh Kelompok IV :

Nada Soraya Mahmud (515 18 011 275)


Esnawati (513 18 011 031)
Nurhayani (515 18 011 278)
Yuda Inda Yani (515 18 011 116)
Sri Wahyuni (513 18 011 016)
Yakob Darwis (515 18 011 287)
Maryanti (514 17 011 310)
Delfia Ariany (505 18 011 146)
Wahyuni Marlinda ( )

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PANCASAKTI MAKASSAR
2018
DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang…......................................................................................... 1

I.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………..…. 2

I.3 Tujuan .……………………………………………………………………. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Jantung ………………………………………………………………….. 3

II.2 Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Kardiovaskular) …………….. 3

II.3 Penggolongan Obat Penyakit Kardiovaskular………………………….. 5

BAB III PEMBAHASAN


III.1 Mekanisme Kerja Obat Digoksin ………………………………….….. 23

III.2 Hubungan Struktur dan Aktivitas ……………………………………… 24

BAB IV PENUTUP
Kesimpulan ………………………………………………………………….. 30
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………
31
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam
nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul “Hubungan Struktur Aktiviitas Obat Kardiovaskular”
ini dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah kimia medisinal tentang Hubungan Struktur Aktiviitas Obat
Kardiovaskular ini telah kami susun sedemikian rupa tentunya dengan bantuan
berbagai macam pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan
selama proses pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima
kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini sebagai salah satu syarat standar kelulusan nilai bagi
matakuliah kimia medisinal.
Namun tidak terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu, kami mengundang
para pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi kita sekalian.

Makassar, 26 Desember 2018

Penulis

Kelompok IV
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Kimia medisinal adalah ilmu pengetahuan yang merupakan cabang dari


ilmu kimia dan biologi, yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan
mekanisme kerja obat. Sebagai dasar adalah mencoba menetapkan hubungan
struktur kimia dsan aktivitas biologis obat, serta menghubungkan perilaku
biosinamik melalui sifat-sifaf fisik dan kereaktifan kimia senyawa obat. Kimia
medisinal melibatkan isolasi, karakterisasi dan sintesis senyawa-semyawa yang
digunakan dalam bidang kedokteran, untuk mencegah dan mengobati penyakit
serta memelihara kesehatan (Burger, 1970).
Beberapa abad yang lalu, pada periode perkembangan bahan obat organik,
telah banyak perhatian diberikan untuk mencari kemungkinan adanya hubungan
antara struktur kimia, sifat- sifat kimia fisika dan aktivitas biologis senyawa aktif
atau obat. Pada abad ke 19, bahan alamiah yang secara empirik telah digunakan
oleh manusia untuk pengobatan, mulai dikembangkan lebih lanjut dengan cara
isolasi zat aktif, diidentifikasi struktur kimianya dan kemudian diusahakan untuk
dapat dibuat secara sintetik. Telah pula dilakukan berbagai modifikasi struktur zat
aktif, dengan cara sintesis, dalam usaha mendapatkan senyawa baru dengan
aktivitas yang lebih tinggi (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
Setelah ilmu pengetahuan makin berkembang, didapatkan bahwa struktur kimia
obat ternyata dapat menjelaskan sifat-sifat obat dan terlihat bahwa unit-unit
struktur atau gugus-gugus molekul obat berkaitan dengan aktivitas biologisnya.
Untuk mencari hubungan antara struktur kimia dan aktivitas biologis daat
dilakukan terutama dengan mengaitkan gugus fungsional tertentu dengan respons
biologis yang tertentu pula. Hal ini kadang-kadang mengalami kegagalan karena
terbukti bahwa senyawa dengan unit struktur kimia sama belum tentu
menunjukkan aktivitas biologis sama, sebaliknya aktivitas biologis sama,
sebaliknya aktivitas biologis yang sama sering diperlihatkan oleh senyawa-
senyawa dengan struktur kimia yang berbeda (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
Penyakit kardiovaskular adalah istilah luas yang digunakan untuk
sekelompok penyakit yang mengenai jantung dan pembuluh darah. Penyakit
kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Pada tahun
2008 ada lebih dari 17 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular. Dari data
yang terkumpul didapatkan sebuah kecenderungan peningkatan penyakit
kardiovaskular di negara berpendapatan rendah dan sedang (low- and middle-
income countries (LMIC)) (WHO, 2011; Mendis, 2011).

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai


berikut :
1. Apakah penyakit kardiovaskuler ?
2. Obat-obat golongan apa saja yang digunakan dalam pengobatan penyakit
kardiovaskular ?
3. Bagaimana hubungan struktur aktivitas serta mekanisme obat-obat
kardiovaskular ?
I.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini yaitu :


1. Mahasiswa/I dapat mengetahui tentang penyakit kardiovaskular.
2. Mahasiswa/I dapat mengetahui golongan obat-obatan yang digunakan dalam
pengobatan penyakit kardiovaskular.
3. Mahasiswa/I dapat mengetahui dan memahami hubungan struktur aktivitas
serta mekanisme kerja obat-obat kardiovaskular.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Jantung

Jantung adalah organ tubuh yang terdiri dari otot-otot yang kuat dan
memompa darah yang membawa oksigen dan membawa makanan ke seluruh
bagian tubuh. Jantung mempunyai dua arteri koroner utama dan memiliki banyak
cabang (Litbang Depkes RI, 2001).

Jantung juga merupakan salah satu organ tubuh yang vital. Jantung kiri
berfungsi memompa darah bersih (kaya oksigen atau zat asam) ke seluruh tubuh,
sedangkan jantung kanan menampung darah kotor (rendah oksigen, kaya karbon
dioksida atau zat asam arang), yang kemudian dialirkan ke paru-paru untuk
dibersihkan. Jantung normal besarnya segenggam tangan kiri pemiliknya. Jantung
berdenyut 60-80 kali per menit, denyutan bertambah cepat pada saat aktifitas atau
emosi, agar kebutuhan tubuh akan energi dapat terpenuhi. Andaikan denyutan
jantung 70 kali per menit, maka dalam 1 jam jantung berdenyut 4200 kali atau
100.800 kali sehari semalam. Tiap kali berdenyut dipompakan darah sekitar 70 cc,
jadi dalam 24 jam jantung memompakan darah sebanyak kira-kira 7000 liter
(Ulfah, 2000).
Untuk memenuhi kebutuhan energi otot jantung, tersedia pembuluh darah atau
arteri koroner yang mengalirkan darah sarat nutrisi. pembuluh ini keluar dari
pangkal pembuluh darah utama/aorta, ada dua yakni arteri koroner kiri (LCA) dan
arteri koroner kanan (RCA). Masing-masing arteri koroner ini bercabang-cabang
halus ke seluruh otot jantung, untuk mensuplai energi kimiawi (Ulfah, 2000).

II.2. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Kardiovaskular)

Menurut buku pedoman Depkes RI (2007), penyakit jantung dan pembuluh darah
merupakan suatu kelainan yang terjadi pada organ jantung dengan akibat
terjadinya gangguan fungsional, anatomis serta sistem hemodinamis. Sumber lain
mendefinisikan bahwa penyakit Jantung adalah penyakit pada jantung yang terjadi
karena adanya kelainan pada pembuluh darah jantung. Risiko terjadinya penyakit
jantung dapat dikurangi dengn menjalankan berbagai tahap untuk mencegah dan
mengontrol faktor risiko yang memperburuk terjadinya penyakit jantung atau
serangan jantung (The State Gooverment of Victoria, 2004).
Dalam arti luas yang dimaksud dengan penyakit jantung adalah penyakit
yang terdiri dari berbagai macam keadaan sakit jantung. Kejadian penyakit
jantung yang paling sering adalah penyakit jantung koroner, serangan jantung dan
kondisi sakit jantung lainnya (The State Gooverment of Victoria, 2004).
Gejalanya bisa berupa nyeri atau perasaan tidak enak di dada seperti terbakar,
tertekan, diperasperas, atau dicekik. Rasa tersebut sering menjalar ke lengan,
dagu, leher, punggung atau ke perut yang menjadi kembung, mual atau muntah.
Gejala teersebut berlangsung cukup lama (lebih dari beberapa menit) dan tidak
berkurang/hilang dengan istirahat. Bahkan sering disertai gejala lain seperti sesak
napas, tubuh terasa lemas (melayang), pucat, berkeringat dingin, berdebar-debar,
dan perasaan cemas atau takut mati (Suaramerdeka, 2002).
Jenis penyakit yang dapat digolongkan kedalam penyakit Jantung dan
Pembuluh Darah menurut Depkes RI (2007), adalah:
1. Penyakit jantung koroner (PJK, penyakit jantung iskemik, serangan jantung,
2. infark miokard, angina pektoris).
3. Penyakit pembuluh darah otak (stroke, TIA (transient ischemic attack).
4. Penyakit jantung hipertensi.
5. Penyakit pembuluh darah perifer.
6. Penyakit gagal jantung.
7. Penyakit jantung rematik.
8. Penyakit jantung bawaan.
9. Penyakit kardiomiopathy
10. Penyakit jantung katub

II.3. Penggolongan Obat Penyakit Kardiovaskular


Obat-obat penyakit kardiovaskular dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Obat Kardiotonik
Kardiotonik adalah obat yang dapat meningkatkan kekuatan kontraksi
jantung dan menunjukkan efek penting pada eksitabilitas, automatosis dan
kecepatan konduksi jantung. Kardiotonik terutama digunakan untuk pengobatan
untuk pengobatan payah jantung kongeStif fibrilasi dan denyut atrial serta
pengobatan takikardia atrial paroksimal. Pada pengotan takiaritmia atau kegagalan
ventrikular akut, sebagai obat pilihan adalah ouabain dan deslanatosid C karena
mempunyai awal kerja cepat dan dapat diberikan secara intravena. Untuk keadaan
yang kurang akut dan kronik diberikan daun digitalis atau digitoksin secara oral
karena mempunyai awal masa kerja yang moderat.
Indeks terapeutik obat kardiotonik relatif sama, mempunyai batas
keamanan yang sempit dosis pengobatan ± 50-60 % dosis toksis. Penggunaan
jangka panjang glikosida jantung menimbulkan intoksikasi digitalis dengan gejala
awal penurunan nafsu makan, salivasi, mual, muntah dan diare.
Efek sampimg umum adalah timbulnya hipokalemi. Adapun mekanisme
kerja obat kardiotonik. Ada tiga hipotesis mekanisme kerja glikosida jantung
yaitu:

a. Mempengaruhi pergerakan ion Na dan K dalam melewati sehingga sel


kehilangan ion K
b. Kerja secara langsung pada protein kontraktif,yaitu pada miokardial.
c. Meningkatkan kadar ion Ca dalam sel dengan melepaskan kation tempat
ikatannya dan meningkatkkan pemasukan ion melalui membran sel.

Obat kardiotonik dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :


a. Turunan Kardeolida (Butenolida)
Contoh: serbuk daun digitalis, digitoksin , digoksin, lanatosid C, deslanatosid C
dan ouabain.
1. Digitoksin, didapat dari Digitalis lanata dan Digitalis purpurea,
digunakan untuk pengobatan payah jantung kongetif dan takiaritmia
supraventrikular. Absorpsi obat dalam saluran cerna cukup baik, 90%
terikat oleh protein plasma. Di tubuh mengalami siklus enterohepatik
sehingga masa kerjanya sangat panjang, waktu paro 4-6 hari.
2. Digoksin (Lanoxin, fargoxin), didapat dari Digitalis lanata, digunakan
untuk pengobatan payah jantung kongestif, sering dikombinasi dengan
diuretik,dan pengobatan takiaritmia supraventrikuler. Absorpsi obat dalam
saluran cerna cukup baik, 20-30% terikat oleh protein plasma,dan 50-70%
diekskresikan dalam bentuk tak berubah melalui urin. Mula kerja obat
cepat dengan masa kerja yang relatif singkat. Batas keamanannya sempit
dan toksisitasnya tinggi sehingga penggunaannya harus dikontrol secara
ketat.
3. Lanatosid C (Cedilanid), adalah glikosida digoksigenin yang didapat dari
daun Digitalis lanata. Absorbsi obat dalam saluran cerna rendah.
Deasetilisasi dalam suasana basa akan menghasilkan deslanatosid C
(Cedilanid D). Lanatosid C digunakan untuk keadaan darurat pada payah
jantung kongestif akut, karena mempunyai awal kerja cepat dan dapat
diberikan secara intravena.
4. Ouabain (G-strofantin), adalah glikosida yang didapat sari biji Strophantus
gratus dan kayu Acokantera schimperii. Penggunaanya hampir sama
dengan deslanatosid C.
b. Perangsang β-Adrenoreseptor
Contoh: salbutamol, dobutamin HCL, dopamin HCL (Oridop), oksifedrin
dan terbutalin sulfat. Oksifedrin (lidamen), merupakan agonis parsial β-
adrenergik, dapat menimbulkan efek vasodilatasi koroner dan initropik positif.
Senyawa ini mempunyai model kerja yang khas sebagai dasar pengobatan
penyakit jantung iskemik, yaitu memperbaiki mikrosirkulasi miokardial.
Fungsi ventrikular kiri dan mengurangi konsumsi oksigen. Oksifedrin
digunakan sebagai antiangina dan pengobatan gangguan koroner. Dosis awal :
16 mg 3dd, pemeliharaan : 8 mg 3 dd.

c. Penghambat Enzim Fosfodiesterrase


Contoh: amrinon laktat, sulmazol dan teofilin.
1. Amrinon laktat (Inocor)
Amrinon laktat (Inocor) merupakan vasodilator inotropik yang
kuat.digunakan untuk pengobatan payah jantung kongestif kronik berat
dan payah jantung akut yang disebabkan oleh kegagalan jantung. Pada
pemberian secara oral, amniron mempunyai masa kerja ± 6 jam.
Pemakaian jangka panjang menimbulkan efek samping cukup berat,
seperti gangguan saluran cerna, trombositopenia, hipotensi dan
menurunnya fungsi hati. Pemberian intravena memerlukan perhatian
khusus untuk menghindari ekstravagasi. Dosis awal I.V. : 0,75 mg/kg
bb, sampai 2-3 menit kemudian 5-10 μg/kg/menit, maksimal 10
mg/kg/hari.
2. Sulmazol
Sulmazol mempunyai sifat inotropik positif dan vasodilator, sangat
baik untuk pengobatan payah jantung kongetif karena reaksi sampingnya
lebih ringan.

2. Obat Aritmia
Obat antiaritmia adalah senyawa yang digunakan untuk memperbaiki atau
memodifikasi irama jantung sehingga menjadi normal.aritmia jntung disebabkan
oleh kelainan pembentukan rangsangan elektrik dan gangguan konduksi
rangsangan melalui miokardium.
Kerja obat antiaritmia adalah dengan memodifikasi secara langsung
ataupun tidak langsung makromolekul yang mengontrol aliran ion dan
transmembran miokardial. Berdasarkan kegunaannya obat antiaritmia dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu :
a. Senyawa yang digunakan untuk pengobatan takiaritmia contoh : glikosida
digitalis, disopramid, prokainamin, kuinidin, lidokain, verapamil, β-bloker,
bretilium, penghambat kolinesterase dan vaso konstriktor.
b. b. Senyawa yang digunakan untuk pengobatan bradiaritmia, contoh :
atropin dan isoproterenol.

Berdasarkan tipe kerjanya obat aritmia dibagi 2 kelompok yaitu :


a. Obat yang berstruktur khas
Obat yang berstruktur khas yaitu obat yang bekerja dengan
membentuk kompleks dengan reseptor contoh : β-bloker. Obat yang
berstruktuk khas mempunyai struktur umum sebagai berikut :
Struktur umum diatas mirip dengan struktur obat anastesi setempat atau β-
bloker. Ar adalah cicin aromatik yang bersifat lipofil, dapat berinterkalasi dengan
rantai alkil fosfolipid membran melalui ikatan hirofob dan van der Waals. Rantai
alkil mengandung substituen bersifat lipofil, dapat membentuk ikatan hidrogen
dengan bagian polar posfolipid membran. Gugus amino kationik yang terionisasi
pada pH tubuh dapat berinteraksi dengan gugus anion fosfolipid atau polipeptida
membran. Interaksi obat yang berstruktur tidak khas dengan bagian tetentu
membran mikrokardial menyebabkan berkumpulnya obat secara selektif pada
membran, menyebabkan penekanan dan hambatan tidak khas beberapa fungsi
membran.

b. Obat yang berstruktur tidak khas


Obat yang berstruktur tidak khas obat yang bekerja dengan cara
berkumpul pada daerah tertentu membrane sel miokardial,menyebabkan
peningkatan tekanan dalam membran dan menghambat fungsi biologis komponen
membran normal, contoh : kuinidin dan prokainamid.
Kuinidin, bekerja secara langsung pada membran sel miokardial yaitu
dengan mengurangi pemasukan Na+ dan pengeluaran K+ yang melewati
membran.dan secara tidak langsung karena menimbulkan efek antikolenergik.
Efek obat antiaritmia adalah menekan automastisitas, mengurangi
kecepatan konduksi dan memperpanjang potensial aksi, dengan demikian efektif
terhadap periode refraktori jaringan miokardial.

Berdasarkan pengaruh pada potensial kerja jantung obat antiaritmia dibagi


menjadi tiga kelompok yaitu obat yang menstabilkan membran, senyawa pemblok
β-adrenergik, obat yang memperpanjang potensial kerja dan antagonis kalsium
selektif.
a. Obat Yang Menstabilkan Membran
Obat yang menstabilkan membran adalah senyawa yang
berstruktur tidak khas, bekerja dengan cara berkumpul pada daerah
tertentu membran sel miokardial, menyebabkan peningkatan tekanan
permukaan dalam membran dan menghambat fungsi biologis komponen
membran normal.
Contoh: glikosoda, digitalis, disopiramid fosfat, proksinamid HCL,
kuinidin sulfat, prajmalium bitatrat, lidokain HCL dan toksinid HCL.
b. Senyawa Pemblok β-Adrenergik
β-bloker menimbulkan efek antiaritmia dengan jalan memblok β-
adrenoreseptor jantung sehingga menghambat respon katekolamin pada
miokardial. Pada dosis besar β-bloker menimbulkan efek stabilisasi
membran. Efek pertama yang dihasilkan adalah menekan automatisitas,
mengurangi kecepatan jantung dan kontraksi miokardial, dan
memperpanjang waktu konduksi atrioventrikular. Pada umumnya β-bloker
lebih banyak digunakan sebagai antiangina dan antihipertensi. Contoh :
asebutolol (corbutol, sentral), alpenolol (alpresol), atenolol (betablok,
tenormin, farnormin), karteolol (mikelan), propranolol (blocard, inderal),
metoprolol tatrat (cardiosel, lopresor, seloken), nadolol (corgard,
farmagard), oksprenolol (trasicor) dan pindolol (decreten, visken)
c. Obat Yang Memperpanjang Potensial Kerja
Golongan ini menimbulkan efek antiaritmia dengan cara :
1. Menekan sinus atrial dan fungsi atrioventrikular nodal dengan
meningkatkan waktu konduksi sinoatrial dan waktu rekoveri sinus nodal.
2. Meningkatkan periode refraktori atrial.
3. Memperlambat konduksi atrioventrikular nodal.

Adapun Contoh yang memperpanjang potensi kerja yaitu amiodaron dan bretilium
tosilat.
1. Amiodaron HCl (cordarone) mempunyai efek antiadrenergik, antiangina
dan antiaritmia, digunakan secara oral untuk pengobatan aritmia
ventrikular dan supraventrikular refraktori serta untuk profilaksis angina
pektoris. Amiodaron bekerja sebagai antiangina karena dapat
meningkatkan aliran darah koroner, mengurangi konsumsi oksigen dan
mengontrol keluaran jantung. Setelah diabsorpsi dalam saluran cerna, obat
didistribusikan ke seluruh tubuh, kadar plasma tertinggi dicapai dalam
waktu 7 jam setelah pemberian oral. Obat terikat sangat kuat pada jaringan
sehingga mempunyai awal kerja sangat lambat dan masa kerja yang
panjang. Waktu paronya antara 28-30 hari.
2. Bretilium tosilat, adalah senyawa pemblok saraf adrenergik yang mula-
mula digunakan sebagai antihipertensi. Sekarang lebih banyak digunakan
sebagai antiaritmia karena dapat memperpanjang periode refraktori efektif
relatif sehingga memperpanjang potensial kerja. Bretillium tidak menekan
depolarisasi membran

3. Obat Antihipertensi
Secara garis besar obat anti hipertensi dibagi menjadi lima kelompok
sebagai berikut :
a. Senyawa penekan simpatetik
1. Senyawa dengan efek sentral, contoh : klonidin HCL, guanfasin
HCL, 1-α-metildopa.
2. Senyawa dengan efek sentral dan perifer, contoh : serbuk
raulwolfia Serpentinae, reserpine dan reskinamin.
3. Senyawa pemblok transmisi saraf efektor, contoh : bretillium
tosilat, debrisokuin sulfat, dan guanetidin monosulfat.
4. Senyawa pemblok β-adrenergik, contoh : asebutolol, atenolol,
metoprolol tartat, nadolol, oksprenol dan pindolol.
5. Senyawa pemblok α-adrenergik, contoh : doksazosin mesilat,
prazosin HCL, terazosin, dan bunahosin HCL.
6. Senyawa penghambat monoamine oksidase, contoh : pargillin
HCL.
b. Vasodilator dengan efek samping
1. Vasodilator arteri, contoh : hidralazin, dihidralazin sulfat.
2. Vasodilator vena dan arteriola, contoh : natrium nitroprusid.
c. Antagonis Angiotensin (penghambat angiotensin-converting system)
Contoh : kaptopril, enalamin maleat, lisinopril dihidrat, ramipril,
kuinapril, benazepril dan delapril.
d. Antagonis kalsium selektif
Contoh : diltiazem, felodipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin, dan
verapamil.
e. Diuretika
Contoh : hidroklortiazid, politiazid, klortalidon, klopamid, indapamid
dan xipamid.
Berdasarkan mekanisme kerjanya obat hipertensi dibagi menjadi tiga kelompok
yaitu obat hipertensi yang meknisme kerjanya pada saraf, pada vaskural dan
humoral.
a. Antihipertensi yang Mekanisme Kerjanya pada Saraf
Obat yang mekanisme kerjanya pada saraf dibagi menjadi empat kelompok yaitu
senyawa dengan efek sentral, senyawa dengan efek sentral dan perifer, senyawa
yang memblok transmisi saraf efektor dan senyawa penghambat monoamin.
1. Senyawa dengan Efek Sentral
Contoh : klonidin HCL, guanfasin HCL dan 1-α-metildopa
a. Klonidin HCL (catapres), mempunyai keuntungan disbanding obat
hipertensi yang lain yaitu jarang menimbulkan efek samping
hipotensi ortostatik. Klonidin juga mempunyai efek sedative,
menyebabkan kontsipasi dan mulut kering. Obat mempunyai massa
kerja cukup panjang dengan waktu paro ± 20 jam.
b. Gunfasin ( estulic), diabsorbsi dengan sempurna dalam saluran
cerna. Ikatan obat dengan protein plasma rendah ± 60 %, dan
waktu paro eliminasinya ± 18 jam, sehingga mempunyai masa
kerja yang cukup panjang. Efek samping yang ditmbulkan oleh
guanfsin adalah sedative, mulut kering da konstipasi.
c. c. α-Metildopa (tensipas,dopamet) digunakan untuk pengobatan
hipertensi yang ringan, sedang dan berat. α-metildopa
menyebabkan penurunan tekanan darah dengan bekerja secara
langsung pada pusat α-adrenoresptor melalui metabolitnya yaitu
nordefrin. 2. Senyawa dengan efek sentral dan perifer
2. Senyawa dengan efek sentral dan perifer, terutama bekerja dengan
mengosongkan katekolamin, norefineprin, dan serotonin dari tempat
penyimpanan pada saraf periferdan pusat simpatetik. Contoh : reserpine,
serbuk raulwolfiae serpentinae dan reskinamin.
3. Senyawa yang Memblok Transmisi Saraf Efektor
Senyawa pemblok transmisi saraf efektor bekerja dengan mengosongkan
norefineprin dari tempat penyimpanan perifer, terjadi pemblokan aktivitas
adrenergic pada adrenoreseptor buluh rendah, yang menghasilkan
penurunan tekanan darah. Contoh : bretillium tosilat, debrisokuin sulfat
dan guanetidin monosulfat.
4. Senyawa Penghambat Monoamin Oksidase
Senyawa penghambat monoamine oksidase efektif untuk menurunkan
tekanan darah sistolik dan diastolic tanpa menimbulkan efek depresi.
Penghambatan enzim monoamine oksidase akan menurunkan metabolisme
ketakolamin dalam saraf dan hati, terjadi penimbunan oktopamin, suatu
transmitter dengan efek presor yang lebih rendah disbanding norefineprin.
Contoh : pargilin HCL (Eutonyl).
b. Antihipertensi yang Mekanisme Kerjanya pada Veskuler
Obat antihipertensi yang mekanisme kerjanya pada veskuler dibagi
menjadi lima kelompok yaitu senyawa pemblok β-adrenergik, senyawa pemblok
α-adrenergik, vasodilator arteri, vasodilator vena dan arteriola, serta antagonis
kalsium selektif.
1. Senyawa Pemblok β-adrenergik
Mekanisme kerja antihipertensi dari senyawa pemblok β-
adrenergik (β-bloker) disebabkan oleh antagonis kompetitif dengan
katekolamin pada β-adrenoreseptor khas, terjadi pemblokan efek
rangsangan β-reseptor sehingga mengurangi daya tahan vaskuler perifer
dan menyebabkan penurunan tekanan darah. Contoh : asebutolol, atenolol,
metoprolol, nadolol, oksprenolol, dan pindolol.
2. Senyawa Pemblok α-adrenergik
Mekanisme kerja antihipertensi α-bloker disebabkan oleh antagonis
kompetitif dengan katekolamin pada α-adrenoreseptor khas, terjadi
pemblokan efek rangsangan α-reseptor dan penurunan daya tahan
(menimbulkan vasodilatasi) vascular perifer, sehingga tekanan darah
menurun. Struktur kimia golongan ini sangat bervariasi, salah satu banyak
digunakan sebagai antihipertensi adalah turunan kuinazolin. Contoh :
doksazosin mesilat, prazosin HCL, terazosin, dan bunazosin HCL.
3. Vasodilator Arteri
Mekanisme kerja vasodilator arteri adalah secara langsung
mengadakan relaksasi otot polos arteriola sehingga terjadi vasodilatasi
buluh artreri perifer. Contoh : hidralazin HCL, dihidralazin sulfat, dan
minoksidil.
4. Vasodilator Vena dan Arteriola
Mekanisme kerja vasodilator vena dan arteriola adalah secara
langsung mengadakan relaksasi otot polos vena dan artreriola sehingga
terjadi vasodilatasi buluh vena dan arteri perifer yang menyebabkan
penurunan tekanan darah. contoh : natrium nitroprusid. Natrium
Nitroprusid , mudah teroksidasi, sehingga larutan harus dibuat baru dan
setelah pembuatan. Dosis : 50 mg dalam 250 ml larutan infus dektrosa 5%,
dengan kecepatan 0,5-10 μg/kgbb/menit. (struktur natrium nitroprusid)
5. Antagonis Kalsium Selektif
Antagonis kalsium bekerja secara selektif pada otot vascular, yaitu
menurunkan tonus otot polos arteriola sehingga terjadi vasodilatasi buluh
arteri perifer yang menyebabkan penurunan darah.
Contoh : diltiazem, felodipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin, dan
verapamil.

c. Antihipertensi yang Mekanisme Kerjanya pada Humoral


Mekanisme antihipertensi pada humoral berhubungan dengan kerja obat
sebagai antagonis angiotensin. Renin bekerja pada globulin darah yaitu pada
angiotensinogen, menghasilkan angiotensin I, yang oleh angiotensin converting
enzim (ACE) dibah menjadi angiotensin II. Peredaran angiotensin II menyebabkan
secara langsung konstriksi arteriola, menghasilkan secara cepat kenaikan tekanan
darah. Angiotensin II dapat merangsang pengeluaran aldosterone, suatu hormone
yang menimbulkan retensi Na, sehingga terjadi peningkatan volume cairan ekstra
sel dan menyebabkan tekanan darah naik.
Senyawa antihipertensi yang bekerja pada humoral berdasarkan
mekanisme kerjanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu senyawa penghambat
ACE dan antagonis reseptor angiotensin II.
1. Senyawa Penghambat ACE
Senyawa penghambat ACE seperti kaptopril, enalapril, lisinopril,
perindopril, ramipril, kuinapril, benazepril, fosinopril, silazepril, dan
delapril merupakan antihipertensi yang kuat dengan efek samping yang
relatif ringan, seperti kelesuan, sakit kepala, diare, batuk dan mual.
Kaptopril mengandung gugus SH yang dapat berinteraksi
membentuk kelat dengan ion Zn dalam tempat aktif ACE, terjadi idak
boleh digunakan lebih 4 jam hambatan secara kompetitif ACE sehingga
peredaran angiotensin II dan kadar aldosterone menurun. Akibatnya tidak
terjadi vasokonstriksi dan retensi Na, sehingga tekanan darah menurun.
Mekanisme lain dari senyawa penghambat ACE adalah menghambat
pemecahan bradikin menjadi fragmen tidak aktif, sehingga kadar bradikin dalam
darah meningkat, menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.
Hubungan struktur-aktivitas senyawa penghambat ACE Model tempat aktif pada
ACE ditunjukkan oleh adanya :
a. Ion Zn++, yang dapat membentuk kompleks dengan ligas dengan gugus
sulhidril(SH) dari kaptopril, gugus karbonil dari enalapril, lisinopril,
perindopril, ramipril, deapril, kuinapril, benazepril, imidapril, dan
silsazapril serta gugus fosforus dan fosinopril.
b. Gugus yang dapat membentuk ikata hydrogen dengan gugus karbonil.
c. Gugus yang bermuatan positif yang terikat melalui ikatan ion dengan
gugus karboksilat yang bermuatan negative.

Gugus karboksi yang mebentuk kompleks dengan Zn++ dapat berupa


karboksilat bebas (lisinopril), tetapi dalam bentuk ester etil (enalapril, perindopril,
ramipril, delapril, kuinapril, benazepril, imidapril dan silsazapril), untuk
memperpanjang masa kerja obat. Bentuk ester dalam pra-obat, dalam tubuh akan
terhidroliis menjadi bentuk asam yang aktif.
Gugus lain pada umumnya untuk meningkatkan lipofiflitas senyawa, sehingga
distribusi obat dalam tubuh menjadi lebih baik. Contoh senyawa penghambat
ACE : kaptopril, enalapril, lisinopril, perindopril, ramipril, deapril, kuinapril,
benazepril, imidapril, dan silsazapril

4. Obat Vasodilator
Vasodilator adalah senyawa yang dapat menyebabkan vasodilatasi buluh
darah. Efeknya ditunjukkan terutama pada buluh darah jantung atau pada bagian
tertentu sistem vascular.
Adapun Mekanisme kerja vasodilator yaitu vasodilator bekerja dengan
menurunkan tonus otot polos vaskular sehingga terjadi dilatasi arteri dan vena.
Sisi kerja beberapa vasodilator, sisi reseptor khas untuk nitrat dan nitrit (N),
senyawa pemblok β-adrenergik (A) dan natrium nitropusid (S), menimbulkan efek
vasodilatasi melelui sisi vasodilator yang umum (V). papaverin, teofilin dan
turunannya, menghambat enzim fosfodiesterase (PDE), mengubah cAMP menjadi
5n-AMP.
Obat vasodilator dibagi menjadi tiga kelompok yaitu vasodilator koroner,
vasodilator sistemik serta vasodilator sereberal dan perifer.
Vasodilator koroner dan sistemik juga digunakan sebagai obat antiangina,
mekanisme kerjanya serupa dengan obat antiangina.
a. Vasodilator Koroner
Vasodilator koroner digunakan untuk pengobatan payah jantung
kongestif kronik yang sulit sidembuhkan, dengan cara mengembangkan
fungsi miokardial tanpa meningkatkan kebutuhan energi. Beberapa
diantaranya juga digunakan sebagai antiangina. Berdasarkan lama
pengobatan vasodilator koroner dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Untuk pengobatan jangka pendek, contoh : salbutamol, reritritil, tetranitrat,
gliseril trinitrat dan natrium nitroprusid.
2. Untuk pengobatan jangka panjang, contoh : kaptopril, diltiazem,
dipiridamol, enalapril, hidralazin HCl, isosorbit dinitrat, minoksidil,
nifedipin, oksifedrin, pentaeritritol tetranitrat, prazosin HCl, dan verapamil
HCl.
b. Vasodilator Sistemik
Vasodilator sistemik atau vasodilator umum adalah senyawa yang
dapat menimbulkan efek vasodilatasi pada semua baian sistem peredaran
darah. Contoh : amil nitrit, buflomedil diHCl, etofilin nikotinat, flunarizin,
iproksamin, isoksuprin HCl, naftidrofuril oksalat, nikardipin, nisergolin,
pentaeritritol tetranitrat, pentoksifilin dan pidolol.
c. Vasodilator Perifer dan Serebral
Obat golongan ini dapat menimbulkan dilatasi buluh darah kulit
dan otak. Walaupun melalui mekanisme kerja yang berbeda, senyawa
dapat mengurangi tonus otot polos vaskular sehingga meningkatkan aliran
darah perifer serebral. Vasodilator perifer digunakan untuk pengobatan
penyakit vaskular perifer kronik, seperti aterosklerosis obliterans.
Vasodilator serebral digunakan untuk pengobatan gangguan serebral
kardiovaskular. Pada dosis besar, obat golongan ini menimbulkan
hipotensi postural.
Obat golongan ini menimbulkan vasodilatasi perifer dan serebral melalui beberapa
mekanisme berikut :
1. Pemblokan α-adrenoreseptor yang terdapat pada buluh darah
anggota badan dan otak, contoh : ergot alkaloida mesilat
(Hydergin, Ergotika), hidroergotksin metasulfonat (Stofilan),
nisergolin dan raubasin.
2. Merangsang β-adrenoreseptor yang terdapat pada otot rangka,
isokpurin (Duvadilan).
3. Efek langsung pada otot polos vaskular, contoh : papaverin dan
turunannya., niasin (asam nikotinoat), meso-inositol
heksanikoninoat, nikotinil alkohol dan prazosin.
4. Mekanisme lain-lain.
Contoh vasodilator perifer dan serebral yang lain adalah
bensiklan hidrogen fumarat (Fludilat), buflomedil HCl, kaptopril,
sinarizin, sinepazid maleat, guanetidin monosulfat, flunarizin,
nimodipin, piratekol diHCl, reserpin, pritinol HCl dan natrium
nitroprusid. Adapun senyawa vasoilator perifer dan serebral yaitu
sebagai berikut

a. Nisergolin (Serimon), dapat mengurangi daya tahan vaskular,


meningkatkan aliran darah arteri dan meningkatkan konsumsi oksigen dan
glukosa. Nisergolin digunakan untuk pengobatan gangguan metabolik
vaskuloperifer dan serebral yang akut dan kronik, seperti osteosklerosis,
trombosis dan emboli serta lain-lain gejala pada gangguan aliran darah
serebral dan perifer. Untuk meningkatkan absorbsi obat, lebih baik
diberikan pada waktu perut kosong. Dosis : 10-20 mg 2-3 dd.
b. Sinarizin (Cinnipirine, Stugeron, Vertizine), dapat meningkatkan aliran
darah arteri dan secara cepat meringankan berbagai gejala gangguan
peredaran darah perifer dan serebral, gangguan keseimbangan, mencegah
mabuk dan serangan migrain. Absorbsi sinarizin dalam saluran cerna
cukup baik, kadar darah tertinggi obat dicapai dalam waktu 2,3 jam setelah
pemberian oral, dengan waktu paro plasma ± 5 jam. Dosis : 25-75 mg dd.
c. Flunarizin (Sebelium), adalah pemblok pemasukkan kalsium secara
selektif mempunyai masa kerja panjang dan tidak menimbulkan efek
terhadap kontraksi dan konduksi jantung. Flunarizin dapat mencegah
serangan migrain, meringankan gejala gangguan perifer dan sserebral serta
untuk pengobatan gangguan keseimbangan. Dosis : 5-10 mg 1 dd.
d. Blufomedil HCl (Loftyl), adalah senyawa vasoaktif yang dapat
meningkatkan aliran darah serebral dan perifer dengan cra menghambat
efek pada agregasi platelet dan memperbaiki fleksibilitas eritrosit.
Blufomedil digunakan untuk meringankan gangguan peredaran perifer dan
serebral. Obat cepat diabsorbsi dalam saluran cerna, kadar serum tertinggi
dicapai ± 1,5-3 jam setelah pemberian oral, dengan waktu pao biologis
plasma ± 1,91-3,65 jam. Dosis : 150 3-4 dd, selama 3- dd.
e. Sinepazid maleat (Vasodistal), dapat meningkatkan aliran darah arteri
(vasodilator artei), digunakan untuk meringankan berbagai gejala
gangguan peredaran perifer dan serebral serta gangguan keseimbangan.
Dosis : 200 mg 3 dd.
f. Piritinol HCl (Enchephabol), merupakan vasodilator yang digunakan
untuk pengobatan gangguan peredaran dan metabolik serebral serta trauma
kranioserebral. Dosis : 100 mg 3 dd, selama 2-3 bulan.
g. Nikotinil alkohol (Ronicol), merupakan vasodilator yang digunakan untuk
pengobatan gangguan peredaran pada buluh perifer dan serebral. Dosis :
25-50 mg 3 dd.
5. Obat Antilipemik
Obat antilipemik digunakan untuk pengobatan aterosklerosis, suatu
penyakit yang disebabkan oleh endapan plasma lipid, terutama ester
kolesterol, yang terlokalisasi pada dinding arteri membentuk plaque
ateromateus atau ateroma, suatu karakteristik luka pada aterosklerosis.
Aterosklerosis dapat menyebabkan penyakit jantung koroner. Faktor-
faktor yang dapat meningkatkan aterosklerosis antara lain adalah
hipertensi, merokok, kurang gerak badan, diabetes melitus, kegemukan,
alkohol, keturunan, dan hiperlididemia.
Diagnosis hiperlipidemia berdasarkan pada adanya
ketidaknormalan lipoprotein yang khas. Karena lipoprotein berbeda pada
komposisi, ukuran, muatan elektrik dan kerapatan maka dapat dipisahkan
dengan elektroforesis, sentrifuge ultra atau pengendapan kimia.
Lipoprotein dibagi menjadi lima kelompok besar, yaitu :
a. Chylomicrons.
b. Very Low Density Lipoprotein (VLDL = pra-β-lipoprotein).
c. Intermediate Density Lipoproteins (IDL = broad β-lipoproteins).
d. Low Density Lipoproteins (LDL = β-lipoprotein).
e. High Density Lipoproteins (HDL = α-lipoprotein).
Kelebihan chylomicrons, VLDL, IDL dan LDL dapat
menimbulkan beberapa tipe hiperlipoproteinemia, sebagai dasar timbulnya
aterosklerosis.
Mekanisme kerja obat antilipemik Secara teoritis obat antilipemik
kemungkinan mempunyai satu atau lebih dari mekanisme kerja berikut ini:
a. Menghambat biosintesis kolesterol atau prekursornya.
b. Menurunkan kadar trigliserilida dan menghambat mobilisai lemak,
dengan cara :
1. Menghambat aktivitas enzim trigliserilida lipase sehingga menurunkan
kecepatan hidroisis trigliserilida,
2. Memblok kerja hormon pelepas asam lemak bebas,
3. Menghambat pengikatan asam lemak bebas pada albumin.
4. Menurunkan tingkat β-lipoprotein dan pra- β-lipoprotein.
5. Menghilangkan plaque.
6. Mempercepat ekskresi lipid dan menghambat absorpsi kolesterol.
Berdasarkan perbedaan struktur kimia obat antilipemik dibagi menjadi
lima kelompok yaitu turunan asam klofibrat, turunan asam nikotinat,
kopolimer, serat dan golongan lain-lain.
a. Turunan Asam Klofibrat
Turunan asam klofibrat terutama menimbulkan efek
hipotrigliseridemia. Mekanisme kerjanya beum begitu jelas, kemungkinan
adalah menghambat sintesis trigliserilida hepatik sehingga menurunkan
produksi trigliserilida atau meningkatkan aktivitas enzim lipoprotein lipase
sehingga meningkatkan kecepatan pengeluaran lipoprotein serum yang kaya
trigliserilida. Contoh : klofibrat, beza fibrat, simfibrat (Cholesovin), fenofibrat
(Lipantyl) dan gemibrozil.
b. Asam Nikotinat dan Turunannya
Turunan asam nikotinat dapat menghambat lipolisis jaringan adiposa
sehingga menurunkan aliran asam lemak bebas ke hati, kecepaan biosintesis
trigliserilida dan menurunkan sintesis serta sekresi VLDL. Mekanisme yang
lain secara langsung menghambat biosintesis VLDL hati, menghambat
biosintesis kolesterol hati, meningkatkan katabolisme kolesterolatau VLDL
sehingga menigkatkan pembebasan chylomicron dan VLDL. Contoh : Niasin,
Asipimoks, dan DL-α-tokoferil nikotinat.
c. Kopolimer
Kopolimer tidak diabsorbsi dalam saluran cerna, dapat mengikat asam
empedu dalam usus kecil dan mencegah absorbsi kembali asam tersebut dari
perdaran enterohepatik, akibatnya kecepatan biosintesis hepatik asam empedu
dari kolesterol meningkat sehingga kadar lemak sterol (kolesterol) menjadi
turun. Contoh : Resin kolestiramin dan Kolestipol.
d. Serat
Serat adalah senyawa dengan berat molekul tinggi, digunakan sebagai
antihiperlipidemia karena mempunyai sifat melarutkan asam empedu dan
sterol netral pada saluran usus. Contoh : selulosa, dekstran, pektin dan lesitin
kedelai.
e. Penghambat HMG-CoA Reduktase
Lovastatin (Lipovas, Lovatrol, Lipostat, Mevacor) dan senyawa-
senyawa analognya seperti simastatin (Zocor), dan mevastatin adalahpra-obat
dalam tubuh segera terhidrolisis menghasilkan senyawa aktif yang dapat
menghambat secara bersaing HMG-CoA (hidroksimetilglutaril-CoA)
reduktase, enzim yang mengkatalisis perubahan HMG-CoA menjadi asam
mevalonat, salah satu tahap penting dalam jalur sintesis kolesterol. Hambatan
enzim menyebabkan peningkatan densitas reseptor LDL-kolesterol dan
trigliselida.
Pravastatin (Pravachol, Mevalotin), fluvastatin (Lescol) dan trovastatin
(Lipitor) adalah senyawa analog dalam bentuk aktif. Dosis fluvastatin : 40 mg
1 dd, dan dosis atrovastatin : 10-80 mg 1 dd. Turunan ini umumnya diberikan
malam hari, pada waktu makan.
f. Golongan Lain-lain
Contoh : norentindron asetat, oksandrolon, probukol, neomisin sulfat,
asam salisilat, sitosterol dan dekstrotiroksin Na.
BAB III
PEMBAHASAN

III.1. Mekanisme Kerja Obat Digoksin

Glikosida jantung merupakan obat yang digunakan untuk terapi gagal


jantung. Obat pertama yang digunakan untuk terapi gagal jantung kronis adalah
digitalis, ekstrak dari tanaman Digitalis purpurea. 20 Digoksin sekarang menjadi
obat dari golongan glikosida jantung yang paling sering diresepkan karena murah
dan mudah didapat. Kerugian obat ini adalah jendela terapi yang sempit.
Pemberian digoksin pada pasien gagal jantung, tebukti tidak mempengaruhi angka
kematian secara umum, namun dapat mengurangi angka rawat inap pada pasien
dengan gagal jantung secara umum atau pasien dengan gagal jantung yang
memburuk
Efek digoksin yang dipakai pada pengobatan gagal jantung adalah:
1. Inotropik positif: digoksin menghambat pompa Na-K-ATPase pada
membrane sel otot jantung sehingga meningkatkan kadar Na+ intrasel, ini
menyebabkan berkurangnya pertukaran Na+ - Ca2+ selama repolarisasi
dan relaksasi otot jantung sehingga Ca2+ tertahan dalam sel, kadar Ca2+
intrasel meningkat, dan ambilan Ca2+ ke dalam retikulum sarkoplasmik
(SR) meningkat. Dengan demikian, Ca2+ yang tersedia dalam SR untuk
dilepaskan ke dalam sitosol untuk kontraksi meningkat, sehingga
kontraktilitas sel otot jantung meningkat.
2. Kronotropik negatif dan mengurangi aktifitas saraf simpatis: pada kadar
terapi (1-2 ng/mL), digoksin meningkatkan tonus vagal dan mengurangi
aktifitas simpatis di nodus sino atrial (SA) maupun atrio ventrikular (AV),
sehingga dapat menimbulkan bradikardia sinus sampai henti jantung
dan/atau prepanjangan konduksi AV sampai meningkatnya blok AV. Efek
pada nodus AV inilah yang mendasari penggunaan digoksin pada
pengobatan fibrilasi atrium.
Digoksin yang diberikan secara oral diserap secara bervariasi tergantung dari
jenis sediaannya. Kurang lebih 25% digoksin terikat dengan protein plasma,
mempunyai volume distribusi yang besar (4-7 liter/kg), dan dapat melewati sawar
darah otak serta plasenta. Digoksin dieliminasi melalui ginjal, lewat filtrasi
glomerulus dan sekresi tubular. Waktu paruhnya berkisar antara 36-48 jam,
sehingga diberika sekali sehari, dan kadar mantap dicapai setelah 1 minggu.
Waktu paruh digoksin akan memanjang pada gangguan fungsi ginjal (Setiawati,
2007).

III.2. Hubungan Struktur dan Aktivitas


Glikosida kardiotonik dapat menghambat Na+, K+, -ATP yang
bertanggungjawab untuk memelihara ketidak seimbangan distribusi ion Na+ dan
K+ dalam melewati membran sel. Kadar ion Na lebih besar di luar sel sedang
kadar ion K lebih besar di dalam sel. Perubahan dipolarisasi permeabilitas
membran sel miokardial diikuti pergerakan secara cepat ion Na ke dalam sel
melalui difusi pasif dan pergerakan ion K ke luar sel. Pergerakan ini bersifat
terpulihkan dan disebut proses “pompa sodium”, yang dikatalisis oleh enzim Na+,
K+, ATP-ase membutuhkan energi yang diperoleh dari hidrolisis ATP menjad.
penghambatan enzim Na+, K+, ATP-ase menyebabkan efek initropik positif
sehingga kadar aktivator ion Ca meningkat.
Efek toksik gliosida jantung disebabkan oleh pemasukan ion Ca yang
berlebihan atau kehilangan ion K yang berlebihan, atau kedua-duanya. Sumber
glikosida jantung dapat berasal dari tanaman Digitalis purpurea, Digitalis lanata.
Strophantus gratus dan Strophantus kombe.
Struktur glikosida jantung terdiri dari komponen karbohidrat (gula) yang
mengandung tiga atau empat monosakarida dan steroid (genin atau glikon) yang
mengandung cincin lakton dan teriikat pada C-17. Gula yang terdapat pada
glukosida jantung antara lain β-D-digitoksoSa, β-D-glukosa, β-L-ramnosa dan β-
D-simaroda.
Sebagai aglikon antara lain adalah kardenolida, seperti digitoksigenin,
digoksigenin, gitoksigenin, oubagenin atauu strofantidin, dan bufadienolida,
seperti bufalin. Glikosida kardiotonik menunjukkan efek inotropik positif, yaitu
meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung (miokardial). Pada payah jantung
kongestif, glikosida kardiotonik menimbulkan beberapa respons yang
menguntungkan yaitu meningkatkan keluaran jantung menurunkan tekanan vena
dan volume darah,menurunkan ukuran jantung dan mengurangi bengkak karena
mempunyai efek diuretik.

Oubagenin
Untuk aktivitas kadiotonik, bagian struktur glikosida jantung yang berperan
adalah :
1. α-β-lakton tidak jenuh pada posisi 17β
2. Gugus 14β-hidrolisis
3. Konfigurasi cis antara cincin A dan B serta C dan D.

Gugus gula meskipun kurang penting tetapi berperan dalam mengatur


aktivitas glikosida jantung. Thomass (1981), membuat sesuatu model interaksi
gliosida jantung dan enzim Na+, K+, ATP-ase, cincin lakton, inti steroid, dan
gugus gula akan mengikat enzim sehingga mencegah terjadinya ikatan ATP-
enzim. Sistem steroid berinteraksi pada bentuk stereokimia optimalnya yaitu pada
pengaturan cis-trans-cis. Interaksi pada reseptor ini terutamaa melibatkan ikatan
hidrogen, ikatan hidrofob, daya tarik elektrostatik.
Cincin lakton mengikat tempat reseptor A melaui daya tarik menarik
elektrostatik (gugus C=C) dan ikatan hydrogen (gugus C=O). Inti steroid
mengikat reseptor B melalui ikatan van der Waals atau ikatan hidrofob. Gugus-
gugus gula mengikatn tempat reseptor C melalui ikatan hidrofob dan ikatan
hydrogen (gugus OH) sehingga stabilitas kompleks cukup besar dan bersifat
takterpulihkan yang semu.
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Penyakit kardiovaskular adalah istilah luas yang digunakan untuk


sekelompok penyakit yang mengenai jantung dan pembuluh darah. Penyakit
kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Pada tahun
2008 ada lebih dari 17 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular. Dari data
yang terkumpul didapatkan sebuah kecenderungan peningkatan penyakit
kardiovaskular di negara berpendapatan rendah dan sedang (low- and middle-
income countries (LMIC)).
Obat-obat penyakit kardiovaskular dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Obat Kardiotonik
2. Obat Aritmia
3. Obat Antihipertensi
4. Obat Antiangina
5. Vasodilator
6. Obat Antilipemik
DAFTAR PUSTAKA

Bustan M. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: PT Rineka Cipta.

World Health Organization. 2011. Global status report on noncommunicable


diseases: World Health Organization.

Mendis S, Puska P, Norrving B. 2011.Global atlas on cardiovascular disease


prevention and control: World Health Organization.

Siswandono dan Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal. Surabaya : Airlangga


University Press. Hal : 309-351

Bueger A, Ed. 1970. Medicinal Chemistry part I and II, 3rded. New York,
London, Sydney, Toronto : Wiley Interscience.

Setiawati A, Nafrialdi. Obat Gagal Jantung. Dalam Gunawan, Sulistia G, editor.


Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta. Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007: 309-311