Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

MEDIA PEMBIAKAN MIKROBA

DISUSUN OLEH :

AKNASASIA VIRGINIA K
1615041031
( KELOMPOK 27)

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI TEKNIK

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017
1. JUDUL PRAKTIKUM
Judul praktikum ini adalah “MEDIA PEMBIAKAN MIKROBA”

2. TUJUAN PRAKTIKUM
2.1 Untuk mengetahui media pertumbuhan mikroorganisme
2.2 Untuk mempelajari dan menerapkan cara pembuatan media pertumbuhan
mikroorganisme

3. LANDASAN TEORI

Mikroorganisme dapat berkembang biak secara alami maupun dengan


campur tangan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia
di antaranya melalui pertumbuhan menggunakan media. Pada pembuatan
media ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrien yang diperlukan oleh bakteri
dan juga keadaan lingkungan fisik yang dapat menyediakan kondisi optimum
bagi pertumbuhannya.
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri
atas campuran nutrisi (nutrient) yang digunakan oleh suatu mikroorganisme
untuk tumbuh dan berkembangbiak pada media tersebut. Mikroorganisme
memanfaatkan nutrisi pada media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit
untuk menyusun komponen sel-nya. Dengan media pertumbuhan juga bisa
digunakan untuk mengisolasi mikroorganisme, identifikasi dan membuat
kultur murni. Komposisi media pertumbuhan dapat dimanipulasi untuk tujuan
isolasi dan identifikasi mikroorganisme tertentu sesuai dengan tujuan masing-
masing pembuatan suatu media. Media adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna untuk membiakkan mikroba.
Dengan mempergunakan bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi,
perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba.
Media dapat diklasifikasikan berdasar atas susunan kimia, konsistensi
dan fungsinya. Klasifikasi medium berdasarkan susunan kimianya, yakni
medium organik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan organik;
medium anorganik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan anorganik;
medium sintetik, yaitu medium yang susunan kimiawinya dapat diketahui
dengan pasti; dan medium nonsintetik, yaitu medium yang susunan
kimiawinya tidak dapat diketahui dengan pasti (Anonim, 2011).

A. Syarat-syarat medium yang baik


Menurut Anonim (2011), supaya mikroba dapat tumbuh dengan baik,
dalam suatu medium perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Medium harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh
mikroba;
2. Medium harus mempunyai tekanan osmosis;
3. Medium tidak mengandung zat-zat yang menghambat;
4. Medium harus steril, tidak ada kontaminan dari mikroorganisme yang
tidak diinginkan.

B. Bahan-bahan media pertumbuhan


Menurut Kusnadi (2003), bahan-bahan media pertumbuhan mikroba
meliputi:
 Bahan dasar
1. Air (H2O) sebagai pelarut
2. Agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar
sulit didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair
pada suhu 45oC.
3. Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin
adalah polimer asam amino yang diproduksi dari kolagen.
Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu
menguraikannya dibanding agar.
4. Silika gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat.
Fungsinya juga sebagai pemadat media. Silika gel khusus
digunakan untuk memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof
obligat.
 Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk
metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti Carbon (C),
Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Phospor (P), dan unsur
mikro seperti Fe, Mg dan unsur pelikan/trace element.
Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa
senyawa organik atau anorganik sesuai dengan sifat mikrobanya. Jasad
heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari
karbohidrat, lemak, protein, dan asam organik.
Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa
bernitrogen lain. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N
anorganik seperti urea.
 Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke
medium dengan tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam
basa) ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam
organik hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat
pertumbuhan mikroba non-target/kontaminan.
Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media, antara
lain:
a. Agar
Agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau
bubuk dan terbuat dari beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya
adalah sebagai pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh
Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika dicampur
dengan air dingin, agar tidak akan larut. Untuk melarutkannya
harus diaduk dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali
atau sterilisasi yang terlalu lama dapat menurunkan kekuatan agar,
terutama pada pH yang asam.
b. Peptone
Peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati
seperti otot, liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin, dan
kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan
bagaimana cara memperolehnya.
c. Meat extract
Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa,
plasenta, dan daging sapi.
d. Yeast extract
Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat
alkohol. Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap &
vitamin B kompleks.
e. Karbohidrat
Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan
asam amino dan gas dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang
umumnya digunakan dalam amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa,
sukrosa, manitol, dan lain-lain. Konsentrasi yang ditambahkan
untuk analisis fermentasi adalah 0,5-1%.

C. Berdasarkan Bentuknya
Bentuk media ada tiga macam yang dapat dibedakan dari ada atau
tidaknya bahan tambahan berupa bahan pemadat seperti agar-agar atau
gelatin. Bentuk media tersebut yaitu:
1. Media Padat
Media padat merupakan media yang mengandung banyak agar
atau zat pemadat kurang lebih 15% agar sehingga media menjadi padat.
Media ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis menurut bentuk dan
wadahnya yaitu, media tegak, media miring, dan media lempeng. Media
tegak menggunakan tabung reaksi yang ditegakkan sebagai wadahnya,
media miring menggunakan tabung reaksi yang dimiringkan, sedangkan
media lempeng menggunakan petridish (plate) sebagai wadahnya. Media
ini umumnya digunakan untuk pertumbuhan koloni bakteri atau kapang.
Kalau ke dalam media ditambahkan antara 10-15 gram tepung agar-agar
per 1000 ml media. Jumlah tepung agar-agar yang ditambahkan
tergantung kepada jenis atau kelompok mikroba yang dipelihara. Kalau
ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat, umumnya dipergunakan
untuk pembiakkan mikroalga tetapi juga mikroba lain, terutama bakteri
dan ragi. Ada yang memerlukan kadar air tinggi sehingga jumlah tepung
agar-agar rendah. Tetapi ada pula yang memerlukan kandungan air
rendah sehingga penambahan tepung agar-agar haru sedikit. Media padat
umumya dipergunakan untuk bakteri, ragi, jamur dan kadang-kadang
juga mikroalga.
2. Media semi padat
Media semi padat atau semi cair merupakan media yang
mengandung agar kurang dari yang seharusnya kurang lebih 0,3% -
0,4% sehingga media menjadi kenyal, tidak padat dan tidak begitu cair.
Umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak
memerlukan air dan hidup anerobik dan untuk melihat pergerakan
mikroba.Kalau penambahan zat pemadat hanya 50% atau kurang dari
yang seharusnya. Ini umumnya diperlukan untuk pertumbuhan mikroba
yang banyak memerlukan kandungan air dan hidup anaerobic atau
fakultatif.
3. Media cair
Media cair merupakan media yang tidak ditambahi bahan
pemadat, umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroalga. Kalau ke
dalam media tidak ditambahkan zat pemadat, umumnya dipergunakan
untuk pembiakkan mikroalge tetapi juga mikroba lain, terutama bakteri
dan ragi.

D. Berdasarkan komposisi
Berdasarkan komposisinya media di bagi atas :
1. Media alami/non sintetis merupakan media yang disusun dari bahan-
bahan alami dimana komposisinya yang tidak dapat diketahui secara
pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya seperti:
kentang, tepung, daging, telur, ikan sayur, dsb. Contohnya: Tomato juice
agar.
2. Media semi sintesis merupakan media yang disusun dari bahan-bahan
alami dan bahan-bahan sintesis. Contohnya: Kaldu nutrisi disusun dari
: Pepton 10,0 g, Ekstrak daging 10,0 g, NaCl 5,0 g, dan Aquadest
1000 ml.
3. Media sintesis, yaitu media yang disusun dari senyawa kimia yang
jenis dan takarannya diketahui secara pasti. Contohnya : Mac Conkey
Agar.

E. Berdasarkan fungsinya
Berdasarkan fungsinya media digolongkan menjadi 7 golongan,
yaitu:
1. Medium umum, merupakan media yang ditambahkan bahan bahan
yang bertujuan menstimulasi pertumbuhan mikroba secara umum.
Contoh: Nutrien Agar (NA) untuk menstimulasi pertumbuhan
bakteri, Potato Dextose Agar (PDA) untuk menstimulasi
pertumbuhan fungi.
2. Medium khusus, merupakan medium untuk menentukan tipe
pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan
perubahan-perubahan kimia tertentu. Contoh: medium tetes tebu
untuk Saccharomyces cerevisiae.
3. Media diperkaya (enrichment media), merupakan media yang
ditambahkan bahan-bahan tertentu untuk menstimulasi
pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Hal ini dilakukan untuk
menstimulasi pertumbuhan mikroba yang jumlahnya sedikit dalam
suatu campuran berbagai mikroba. Contoh: Chocolatemedia dan
Yeast-Extract-poptasium Nitrat Agar.
4. Media selektif, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan
tertentu yang akan menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak
diinginkan yang ada dalam suatu spesimen. Inhibitor yang
digunakan berupa antibiotik, garam dan bahan-bahan kimia lainnya.
5. Media differensial, merupakan media yang ditambahkan bahan-
bahan kimia atau reagensia tertentu yang menyebabkan mikroba
yang tumbuh memperlihatkan perubahan-perubahan spesifik
sehingga dapat dibedakan dengan jenis lainnya.
6. Medium penguji (Assay medium), merupakan medium dengan
susunan ertentu yang digunakan untuk pengujian senyawa-senyawa
tertentu dengan bantuan bakteri. Contoh: medium untuk menguji
vitamin-vitamin, antibiotik, dan lain-lain.
7. Medium perhitungan jumlah mikroba yaitu medium spesifik yang
digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan.
Contoh: medium untuk menghitung jumlah bakteri E. Coli air
sumur.

F. Berdasarkan bentuk
Berdasarkan bentuknya media dibagi menjadi 4, yaitu :
1. Media alami, yaitu media yang disusun oleh bahan-bahan alami seperti
kentang, tepung, daging, telur, ikan, umbi-umbian lainnya dan
sebgainya. Pada saat sekarang
2. Media alami yang banyak dipergunakan adalah dalam kultur jaringan
tanaman maupunm hewan. Media untuk budidaya mikroorganisme
memiliki sumber karbon untuk dimasukkan ke dalam biomassa. Kalau
ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat, umumnya
dipergunakan untuk pembiakkan mikroalge tetapi juga mikroba lain,
terutama bakteri dan ragi. Contoh media alami yang paling banyak
dipergunakan adalah telur untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan
virus
3. Media sintetik yaitu media yang disusun oleh senyawa kimia seperti
media untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan bakteri clostridium
tersusun oleh:
 K2HPO4 : 0,5 g
 KH2PO4 : 0,5 g
 MgSO4, 7H2O : 0,1 g
 NaCl : 0,1 g
 FeSO4, 7H2O : 0,01 g
 MnSO4, 7H2O : 0,01 g
 CaCO3 seangin
4. Media semi sintetik yaitu media yang tersusun oleh campuran bahan-
bahan alami dan bahan-bahan sintetis.
4. HASIL PRAKTIKUM

Pada praktikum kali ini diperoleh beberapa data hasil observasi/


pengamatan, antara lain :

a. Bahan yang digunakan untuk membuat media cair :


o Air suling 100 mL
o K2HPO4 1,4 gr
o KH2PO4 0,4 gr
o MgSO4.7H2O 0,04 gr
o (NH4)SO4 0,2 gr
o Glukosa 1 gr
b. Waktu yang digunakan untuk mencapai keadaan homogen adalah selama
5 menit.
c. pH awal = 7,03, pH akhir = 7,34. pH yang baik adalah sekitar 7,2-7,4
dimana untuk menaikkan pH ditambahkan 25 tetes NaOH 1N.
d. untuk membuat media padat ditambahkan agar sebanyak 1,44 gram.
e. Waktu yang digunakan sampai larutan mendidih adalah selama 18 menit.
f. Water batch digunakan pada suhu 65°c dengan waktu 15 menit.
g. Hasil pengamatan media setelah inkubasi

Waktu pengamatan Hasil pengamatan

Media tidak ditumbuhi Mikroba dan


0 jam berwarna bening (media baru dibuat dan
masih dalam keadaan steril).

Media cair nampak lebih keruh dan timbul


endapan, sedangkan untuk media agar
miring dan agar cawan tidak terjadi
perubahan warna. Media cair nampak lebih
24 jam
keruh yang mungkin saja dipengaruhi oleh
adanya kontaminasi dari udara luar saat
pembuatan media.
5. PEMBAHASAN

Praktikum ‘ Media Pembiakan Mikroba’ dilaksanakan pada hari Senin


tanggal 16 Januari 2017 di Laboratorim Mikrobiologi Teknik Kimia
Universitas Lampung. Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk dapat
mengetahui serta membuat media pembiakan untuk pertumbuhan
mikroorganisme. Dimana dalam suatu media pembiakan mikroorganisme
dangan dibutuhkan nutrisi, vitamin dan zat-zat penunjang bagi pertumbuhan
mikroorganisme. Komposisi umum dari suatu media antara lain: hydrogen,
sumber carbon, sumber nitrogen, sulfur, pospat, solven, larutan buffer serta
factor-faktor pertumbuhan lainnya. Media yang akan dibuat adalah jenis
media sintetik cair dan padat.

Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia di antaranya


melalui pertumbuhan menggunakan media. Pada pembuatan media ini,
haruslah dimengerti jenis-jenis nutrien yang diperlukan oleh bakteri dan juga
keadaan lingkungan fisik yang dapat menyediakan kondisi optimum bagi
pertumbuhannya. Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan
yang terdiri atas campuran nutrisi (nutrient) yang digunakan oleh suatu
mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembangbiak pada media
tersebut. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi pada media berupa molekul-
molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel-nya.
Tahapan-tahapan dalam pembuatan media cair sendiri, antara lain:
penyiapan alat dan bahan, sterilisasi alat, penimbangan bahan, pencampuran
bahan-bahan, pengukuran derajat keasaman (pH), pengisian media ke dalam
wadah (tabung reaksi dan cawan petri), sterilisasi media dan penyimpanan
media. Dan untuk media padat hanya berbeda dalam penambahan agar
setelah proses pengukuran pH dan kembali dihomogenisasi sampai larutan
mendidih.

Pertama yang harus dilakukan adalah mengecek dan mengetahui alat-


alat serta bahan-bahan apa saja yang akan digunakan dalam praktikum ini.
Dalam membuat suatu media pembiakan mikroba semua alat yang digunakan
haruslah dalam keadaan steril, jadi semua alat yang akan digunakan harus
disterilisasi. Sterilisasi tersebut bertujuan untuk mematikan seluruh jenis
mikroorganisme yang ada pada alat tersebut yang nantinya akan menghambat
pertumbuhan mikroorganisme. Alat-alat yang digunakan antara lain cawan
petri yang berjumlah 4 buah, tabung reaksi yang berjumlah 4 buah, pipet
tetes, pH meter, sendok, neraca analitik, hot plate, stirrer, tisu kering,
alumuinium foil, gelas ukur 1 buah, gelas bekker 1 buah, stopwatch 1 buah
dan water batch.

Alat-alat tersebut memiliki fungsinya masing masing. Cawan petri


sendiri nantinya akan berfungsi sebagai tempat media, yaitu media agar
cawan. Tabung reaksi nantinya akan berfungsi sebagai wadah untuk media
cair dan media agar miring. Pipet tetes digunakan untuk meneteskan larutan
NaOH 1N dan meneteskan larutan ke dalam tabung reaksi. pH meter
digunakan untuk mengukur pH sampai dengan kadar pH yang diinginkan.
Sendok digunakan untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk
membuat media dengan aturan setiap pengambilan bahan yang berbeda
sendok harus dibersihkan dengan menggunakan tisu. Neraca analitik
digunakan untuk menimbang bahan-bahan yang akan digunakan. Hot plate
dan stirrer digunakan untuk memanaskan serta meng-homogen-kan larutan.
Alumunium foil digunakan untuk menutup semua media dalam tabung reaksi
agar tidak terkena kontaminasi dari udara sekitar yang nantinya akan menjadi
tidak steril. Water batch digunakan untuk mensterilisasi media yang sudah
dibuat agar bebas dari kontaminasi zat-zat luar yang nantinya akan
menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Langkah yang selanjutnya adalah penimbangan bahan-bahan sesuai


kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba. Bahan-
bahan yang digunakan untuk membuat media pertumbuhan mikrooganisme,
antara lain : Air suling sebanyak 100 mL, K2HPO4 sebanyak 1,4gr , KH2PO4
sebanyak 0,4 gr, MgSO4.7H2O sebanyak 0,04 gr, (NH4)SO4 sebanyak 0,2 gr,
Glukosa sebanyak 1 gr. Dan bahan tambahan yaitu agar dengan jumlah 1,44
gram serta NaOH 1N secukupnya. Masing-masing dari bahan yang digunakan
tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam menunjang pertumbuhan
mikroorganisme dalam suatu media.

Dipotasium pospat dan potasium pospat monobase adalah senyawa


garam anorganik yang mengandung ion fosfor dan kalium yang dapat larut
dalam air yang sering digunakan sebagai pupuk, makanan aditif dan agen
buffering. Dipotasium pospat dan potasium pospat monobase memiliki
bentuk fisik seperti bubuk berwarna putih dan tidak berbau. Senyawa
magnesium sulfat memiliki bentuk fisik padatan kristal putih dan tidak
berbau. Glukosa adalah adalah heksosa-monosakarida yang mengandung
enam atom karbon dan merupakan salah satu karbohidrat terpenting yang
digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan, yang
mempunyai bentuk bubuk putih. Amonium sulfat adalah garam anorganik
yang mengandung 21% unsur nitrogen dan 24% unsur belerang. Amonium
sulfat memiliki bentuk fisik Granula higroskopik putih halus atau Kristal.
Dan untuk sumber oksigen dipenuhi dari penambahan air suling.

Setelah menyiapkan semua alat dan bahan barulah dibuat media


tempat pertumbuhan mikroba yaitu media cair dan media agar miring di
dalam tabung reaksi serta media agar cawan di dalam cawan petri. Cara yang
digunakan dalam membuat media cair dimulai dengan menimbang semua
bahan yang digunakan sesuai dengan takaran yang telah dihitung dengan
menggunakan neraca analitik yang memiliki kemampuan yang detail dalam
menghitung massa bahan, kemudian satukan didalam gelas kimia dan tuang
100 mL air suling kedalamnya. Masukkan stirrer lalu letakkan di atas hot
plate untuk dipanaskan dan diaduk hingga homogen. Hot plate digunakan
dengan kecepatan 300 rpm dengan menaikkan kecepatan secara perlahan.
Waktu yang didapat sampai larutan cair homogen adalah 5 menit.

Kemudian, ukur pH awal dengan menggunakan pH meter dan didapat


data pH awal yaitu 7,03. Kemudian, ubah pH larutan sampai dengan kisaran
7,2-7,4 dengan menambahkan larutan NaOH 1N. Penambahan larutan NaOH
1N berfungsi untuk menaikkan pH (menjadikannya lebih basa) agar mencapai
kisaran terbaik yang diinginkan. pH merupakan salah satu faktor terpenting
dalam pertumbuhan mikroorganisme. Pengukuran derajat keasaman (pH)
media sangat penting, karena jika media terlalu asam atau basa, maka
pertumbuhan mikroba akan terhambat. pH akhir yang didapat adalah 7,34
dengan penambahan 25 tetes larutan NaOH 1N. Setelah larutan homogen
dengan pH yang sesuai, tuang masing-masing 5 mL media cair ke dalam 2
tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes.

Lalu, media yang selanjutnya dibuat adalah media padat yaitu media
agar miring dan media agar cawan yang langkahnya hanya perlu meneruskan
langkah yang digunakan dalam pembuatan media cair. Larutan cair yang
masih tersisa ditambahkan dengan agar sebanyak 1,44 gram lalu kembali
dipanaskan hingga mendidih sembari diaduk dengan stirrer dengan suhu 300°
dan kecepatan 300 rpm dengan waktu selama 18 menit. Menaikkan kecepatan
harus tetap secara perlahan-lahan. Kemudian tuang larutan yang telah
dicampur dengan agar ke dalam tabung reaksi dan cawan petri. Dalam
menuangkan larutan ke dalam cawan petri jangan membuka penutup dari
cawan petri terlalu besar agar media tidak terkontaminasi dengan udara luar.
Semua media di dalam tabung reaksi di tutup menggunakan alumunium foil
agar tidak terkena kontaminasi dari udara sekitar. Kemudian semua media
dimasukkan ke dalam water batch lalu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam
ruang inkubasi. Fungsi dari pemasukan media ke dalam water batch sebelum
diinkubasi adalah untuk mensterilkan media dari kontaminasi zat-zat
kontaminan lingkungan sekitar. Proses yang dilakukan dalam water batch
berjalan selama 15 menit dengan suhu 65°C.

Dalam praktikum kali ini membutuhkan ketelitian dalam mengukur


bahan-bahan yang akan digunakan karena massanya yang sangat kecil. Juga
kehati-hatian saat memegang gelas setelah dipanaskan. Saat memasukan
larutan ke dalam cawan petri dibutuhkan kehati-hatian jangan sampai media
terkontaminasi dengan udara luar media. Disini media disterilisasi dengan
pemanasan, yang perlu diperhatikan adalah ketika membuka water bath
hendaklah membukanya dari sisi samping agar terhindar dari uap panas yang
keluar dari water bath dan berhati-hati saat mengeluarkan media karena akan
terasa sedikit panas.

Media yang telah dibuat didiamkan selama 24 jam dalam ruang


inkubasi dan didapat data bahwa dalam media cair yang telah dibuat terdapat
sedikit endapan berwarna putih pada bagian bawah tabung reaksi dan
warnanya lebih keruh. Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya
kontaminasi dari zat-zat kontaminan di udara/ lingkungan sekitar. Sedangkan,
untuk media agar miring dan media agar cawan tidak terjadi perubahan warna/
tidak menjadi lebih keruh yang mungkin saja dikarenakan media tersebut
bebas dari kontaminasi udara sekitar.

6. KESIMPULAN

 Nutrisi yang telah disisipkan dalam pembuatan media merupakan


penunjang bagi pertumbuhan mikroorganisme
 Media yang digunakan pada praktikum kali ini ada 3, yaitu : media agar
miring, media agar cair, dan media cair
 pH yang digunakan dalam suatu media tidak boleh terlalu basa dan terlalu
asam karena dapat mengganggu pertumbuhan mikroorganisme
 Dalam membuat suatu media sangatlah rawan akan terjadinya suatu
kontaminasi oleh zat-zat kontaminan dari udara luar
 Alat dan media yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba haruslah
dalam keadaan steril agar menghindari kontaminasi
 Dalam membuat media ada beberapa tahap, yaitu : penyiapan alat dan
bahan, sterilisasi alat, penimbangan bahan, pencampuran bahan-bahan,
pengukuran derajat keasaman (pH), pengisian media ke dalam wadah
(tabung reaksi dan cawan petri), sterilisasi media dan penyimpanan media.
 Pertumbuhan mikroba dalam media sudah mulai nampak dan dapat
diamati sejak pengamatan setelah inkubasi 24 jam
 Setelah diinkubsai selama 48 jam, mikroba yang tumbuh jauh lebih
banyak dan diikuti pula dengan pertumbuhan zat-zat kontaminan dari luar
yang menandakan tidak sterilnya media tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Joni. 2016. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Industri. Lampung:


Universitas Lampung.

Hidayat, Yusuf dan Sutarma. 1999. Teknik Pembuatan Kultur Media


Bakteri. Bogor : Balai Penelitian Veteriner.

Kusnadi, Peristiwati dkk. 2003. Mikrobiologi. Bandung: Universitas


Pendidikan Indonesia.

Pelczar. 1996. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas Indonesia


LAMPIRAN
DOKUMENTASI ALAT DAN BAHAN

No. Gambar Keterangan

1.

POTASSIUM
DIHYDROGEN
PHOSPHATE

sumber kalium dan


pospat dalam pembuatan
media

2.

DI-POTASSIUM
HYDROGEN
PHOSPHATE

sumber kalium dan


pospat dalam pembuatan
media

3.

MAGNESIUM
SULFATE

sumber sulfur dan


mineral dalam pembuatan
media
4.

GLUCOSE
MONOHYDRAT

sumber karbon dalam


pembuatan media

5.

AMMONIUM
SULFATE

sebagai sumber nitrogen


dalam pembuatan media

6.

AGAR-AGAR

Bahan pemadat untu


media padat (agar miring
dan agar cawan)
7.

CAWAN PETRI

Wadah media padat

8.

TABUNG REAKSI

Wadah media padat (agar


miring) dan media cair

9.

LARUTAN NaOH 1N
dan PIPET TETES

Pembuat basa (menaikkan


pH) dan memasukan
larutan ke dalam tabung
reaksi

10.

GELAS BEKKER

Tempat mencapur semua


bahan dan air suling
11.

pH METER

mengukur pH larutan

12.

HOT PLATE

Memanaskan larutan

13.

NERACA ANALITIK

Menimbang semua bahan

14.

WATER BATCH

Tempat untuk
mensterilkan media
15.

MAGNETIC STIRRER

Menghomogenkan larutan

16.

MEDIA CAIR

17.

MEDIA PADAT

Media agar cawan

18.

MEDIA PADAT

Media agar miring


LAMPIRAN