Anda di halaman 1dari 16

1.

JUDUL PRAKTIKUM Pembuatan Media Pembiakan Mikroba

2.

TUJUAN PRAKTIKUM Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan media pembiakan mikroba

3.

LANDASAN TEORI

3.1

Pengertian Media Untuk mengembangbiakkan mikroorganisme seperti jamur, bakteri, ataupun yang lainnya diperlukan sebuah media. Media merupakan suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat untuk menumbuhkan mikroorganisme, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroorganisme. Proses pembuatan media

harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptic untuk menghindari kontaminasi pada media. Pembiakan mikroorganisme dalam laboratorium memerlukan media yang berisi zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai dengan mikroorganisme. Zat hara digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan, sintesis sel, keperluan energi dalam metabolisme, dan pergerakan. Secara umum media biakan berisi air, sumber energi, zat hara sebagai sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfat, oksigen, hidrogen serta unsur-unsur lain. Dalam bahan dasar media dapat pula ditambahkan faktor pertumbuhan berupa asam amino, vitamin atau nukleotida. Media berdasarkan bentuk terbagi menjadi tiga jenis, yaitu media cair, media semi padat, dan media padat. Pertumbuhan mikroorganisme di dalam media dapat tumbuh dengan baik apabila memenuhi persyaratan (Waluyo, 2010), antara lain:

- Media harus mengandung semua nutrien yang mudah digunakan oleh mikroorganisme.

- Media harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan pertumbuhan mikroorganisme.

- Media tidak mengandung zat-zat yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

- Media harus steril sebelum digunakan, supaya mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik.

3.2 Penggolongan media berdasarkan bentuknya

1)

Media padat

2)

Media padat diperoleh dengan cara menambahkan agar-agar. Agar berasal dari ganggang/alga yang berfungsi sebagai bahan pemadat. Media padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau morfologi koloni dan untuk mengisolasi biakan murni. Media setengah padat (semi solid)

3)

Media setengah padat dibuat dengan bahan yang sama dengan media padat, akan tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media cair Media cair dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti pembiakan mikroba dalam jumlah besar, penelaahan fermentasi, dan berbagai macam uji. Beberapa contoh media cair adalah kaldu nutrien, kaldu glukosa, air pepton, dan lain sebagainya.

3.3 Penggolongan media berdasarkan susunan kimianya

1)

Media sintetik

2)

Media sintetik yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti. Komposisi kimia media sintetik biasanya dibuat dari bahan-bahan kimia dengan kemurnian tinggi dan ditentukan dengan tepat. Media ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan makanan mikroorganisme. Contoh media sintetik: cairan Hanks, Locke, Thyrode. Media non sintetik Media non sintetik merupakan media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti. Media ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroorganisme. Misalnya, bahan-bahan yang teradapat dalam kaldu nutrien; yakni ekstrak daging dan pepton memiliki komposisi kimia yang tidak pasti. Contoh lain:

serum, plasma, dan lain sebagainya.

3.4 Penggolongan media berdasarkan fungsinya

1)

Media selektif

daerah jernih di sekitar koloni akibat perusakan sel darah merah).

2)

Media selektif merupakan media yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme tertentu (seleksi) dengan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang lain. Pada media ini ditambahkan bahan penghambat pertumbuhan, misalnya bile salt dan dye (fuchsin, crystal violet, brilliant green) yang akan menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan tidak memberi efek pada bakteri Gram negatif. Media diferensial

3)

Media diferensial digunakan untuk membedakan kelompok mikroorganisme dan bahkan dapat digunakan untuk identifikasi. Contohnya adalah media agar darah, yang merupakan media diferensial sekaligus media penyubur, mampu membedakan antara bakteri hemolitik dan non hemolitik dengan mengetahui sifat lisis eritrosit (ciri:

Media penyubur (enrichment media)

4)

Media penyubur merupakan media yang berguna untuk mempercepat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Media khusus

5)

Contoh media khusus adalah media untuk bakteri anaerob. Biasanya ke dalam media tersebut ditambahkan bahan yang dapat mereduksi kandungan O 2 dengan cara pengikatan kimiawi. Contoh bahan-bahan itu adalah natioglikolat, sistein, asam askorbat. Sebagai indikator anaerob digunakan rezasurin (bila terjadi oksidasi-yang berarti bakteri bersifat aerobik-akan terbentuk warna merah). Media penguji

6)

Media penguji adalah media dengan susunan kimia tertentu yang digunakan untuk pengujian vitamin, asam amino, antibiotik, dan sebagainya. Media serbaguna Media ini merupakan media yang paling umum digunakan dalam mikrobiologi (dapat menunjang pertumbuhan sebagian besar mikroba).

Contoh: media kaldu nutrien. 3.5 Sterilisasi

Sterilisasi dalam mikrobiologi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Prinsip dalam sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik, dan kimiawi.

a) Sterilisasi secara mekanik (filtrasi) Pada sterilisasi secara mekanik yaitu menggunakan suatu saringan

yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.

b) Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.

1)

Pemanasan

-

Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara

langsung, contoh alat jarum inokulum, pinset, batang L, dll.

-

Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60 0 C-180 0 C.

Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi, dll.

-

Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang

mengandung air lebih tepat menggunakan metode ini supaya tidak

terjadi dehidrasi.

-

Uap air panas bertekanan: menggunakan autoklaf

2)

Radiasi

- Sinar Ultra Violet (UV) juga dapat digunakan untuk proses

sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Biological Safety Cabinet (BSC) atau Laminar Air Flow (LAF) dengan disinari lampu UV.

- Gamma bersumber dari Cu60 dan Cs137 dengan aktivitas

sebesar 50-500 kilo curie serta memiliki daya tembus sangat tinggi. Dosis efektifitasnya adalah 2.5 MRad. Gamma digunakan

untuk mensterilkan alat-alat yang terbuat dari logam, karet serta bahan sintesis seperti pulietilen.

c) Sterilisasi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan.

Desinfektan adalah suatu bahan kimia yang dapat membunuh sel-sel vegetatif dan jasad renik, bersifat merusak jaringan. Prosesnya disebut desinfeksi. Contoh: alkohol, fenol, halogen (Vita, 2014).

3.6 Otoklaf Otoklaf adalah suatu bejana yang dapat ditutup, yang diisi dengan uap panas dengan tekanan tinggi. suhu didalamnya dapat mencapai 115 0 C hingga 125 0 C dan tekanan uapnya mencapai 2 hingga 4 ATM (Oswari, 2000). Alat tersebut merupakan ruang uap berdinding rangkap yang diisi dengan uap jenuh bebas udara dan dipertahankan pada suhu serta tekanan yang ditentukan selama periode waktu yang dikehendaki. Waktu yang diperlukan untuk sterilisasi tergantung pada sifat bahan yang disterilkan, tipe wadah dan volume bahan. Kondisi yang baik digunakan untuk sterilisasi adalah pada 15 psi dan temperatur 121 0 C selama 15 menit (Nester et al.,2004). Agar penggunaan otoklaf efektif, uap air harus dapat menembus setiap alat yang disterilkan. oleh karena itu, otoklaf tidak boleh terlalu penuh, agar uap air benar-benar menembus semua area (Volk dan Margareth, 1993 dalam Dhirgo dkk, 2007).

3.7 Spora dari Bakteri Spora ditemukan terpisah oleh Ferdinand Cohn dan Robert Koch pada tahun 1876, segera setelah Pasteur membuat bidang mikrobiologi terkenal. Ketahanan spora bakteri terhadap panas bervariasi di antara strain. Secara garis besar spora dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu spora yang tahan panas (90 0 C selama 15 sampai 145 menit) dan spora yang tidak tahan panas (90 0 C, 3 sampai 5 menit). Spora yang tahan panas secara umum membutuhkan heat shock 75-100'C selama 5 sampai 20 menit untuk proses germinasi (perubahan spora menjadi bentuk sel vegetatif). Spora dari bakteri Bacillus lebih tahan dari bentuk vegetatifnya terhadap pemanasan, kekeringan, bahan preservatif makanan, dan pengaruh lingkungan lainnya (Naim, 2003 dalam Dhirgo dkk, 2007).

4.

HASIL PRAKTIKUM

4.1 Bahan Praktikum Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

-

-

-

-

-

-

-

-

Agar Dipotasium pospat (K 2 HPO 4 ) Potasium pospat monobase (KH 2 PO 4 ) Magnesium sulfat (MgSO 4 .7H 2 O) Amonium sulfat ((NH 4 ) 2 SO 4 ) Glukosa Air suling HCl 1N

: 2,24 gram : 2,1 gram : 0,6 gram : 0,06 gram : 0,3 gram : 1,5 gram : 150 gram : ± 3 ml

4.2 Kondisi Larutan

pH awal

-

- pH akhir

- suhu lingkungan (awal)

- suhu akhir I

- suhu akhir II

4.3 Kondisi Media Cair

: 7,9

: 7,3 (dengan penambahan HCl ± 3 ml)

: 30 0 C (suhu ruangan)

: 30 0 C (suhu media cair)

: 95 0 C (suhu media agar)

- Volume 5 ml

- Suhu pasteurisasi 65 0 C (dalam waktu 15 menit)

- Warna bening

4.4 Kondisi Media Agar

- Volume ± 5 ml agar miring dan ± 15 ml cawan petri

- Warna agak keruh

4.5 Hasil pengamatan media

Waktu pengamatan

Hasil pengamatan

0 jam

Media tidak ditumbuhi Mikroba (media masih dalam keadaan steril)

24 jam

Media tidak ditumbuhi Mikroba (media masih dalam keadaan steril)

48 jam

Terdapat bintik-bintik putih pada media padat dalam cawan petri, yang menandakan media terkontaminasi mikroba.

5.

PEMBAHASAN

Pada praktikum pembuatan media pengembangbiakan mikroorganisme ini telah dilakukan pembuatan media sintetis dimana media sintetis yaitu media yang telah diketahui komposisi senyawa kimianya. Pada pembuatan media sintesis ini, media yang dibuat yaitu dalam bentuk cair dan padat. Dalam pembuatan media hal yang harus dilakukan adalah memahami kebutuhan dasar nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme, kemudian memformulasikan suatu bahan yang akan digunakan. Selain itu air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Air yang digunakan dalam pembuatan media sebaiknya menggunakan air suling, janganlah menggunakan air sadah karena air sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ekstrak daging, air dengan kualitas air sadah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat.

Dalam pembuatan media sangat rentan terhadap kontaminasi dari mikroorganisme yang tidak diinginkan, sehingga sebelum melakukan praktikum semua alat yang akan digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan tersebut dari semua bentuk kehidupan. Sterilisasi dilakukan bertujuan untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada suatu benda. Media yang akan dibuat dalam praktikum ini yaitu dalam bentuk cair dan padat. Media cair dan padat yang akan dibuat sebenarnya mempunyai komposisi senyawa kimia yang sama, hanya saja dalam pembuatan media padat ditambahkan agar sebagai pemadat.

Tahapan-tahapan dalam pembuatan media yaitu meliputi: penimbangan, pencampuran bahan-bahan, pengukuran derajat keasaman (pH), pengisian media kedalam tempat/wadah tertentu, sterilisasi media dan penyimpanan media.

Bahan yang akan dibuat menjadi media perkembangbiakan mikroorganisme terlebih dahulu dilakukan penimbangan sesuai kebutuhan akan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba. Dalam praktikum kali ini media sintetik yang ingin kami buat yaitu sebanyak 150 ml, yang nantinya akan dibuat dalam bentuk media cair dan padat.

Komposisi dan bahan yang digunakan dalam pembuatan media sintetik ini yaitu: 2,1 gram Dipotasium pospat (K 2 HPO 4 ); 0,6 gram Potasium pospat monobase (KH 2 PO 4 ); 0,06 gram Magnesium sulfat (MgSO 4 .7H 2 O); 0,3 gram Ammonium sulfat ((NH 4 ) 2 SO 4 ); 1,5 gram Glukosa; dan 150 ml air suling. Senyawa-senyawa tersebut berperan penting sebagai sumber nutrisi untuk perkembangbiakan mikroba.

Dipotasium pospat dan potasium pospat monobase adalah senyawa garam anorganik yang mengandung ion fosfor dan kalium yang dapat larut dalam air yang sering digunakan sebagai pupuk, makanan aditif dan agen buffering. Dipotasium pospat dan potasium pospat monobase memiliki bentuk fisik seperti bubuk berwarna putih dan tidak berbau. Ion fosfor dalam senyawa tersebut digunakan sebagai sumber fosfor, sedangkan ion kalium digunakan sebagai sumber mineral. Selain sumber fosfor dan mineral, mikroba juga membutuhkan nutrisi lain untuk perkembangbiakannya diantaranya yaitu sulfur, karbon, nitrogen, dan oksigen. Dimana sumber sulfur dipenuhi dari penambahan senyawa magnesium sulfat, magnesium sulfat adalah senyawa kimia garam anorganik yang mengandung magnesium, sulfur dan oksigen. Senyawa magnesium sulfat memiliki bentuk fisik padatan kristal putih dan tidak berbau. Untuk sumber karbon dipenuhi dari penambahan senyawa glukosa, glukosa adalah adalah heksosa-monosakarida yang mengandung enam atom karbon dan merupakan salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan, yang mempunyai bentuk bubuk putih. Sedangkan sumber nitrogen dipenuhi dari penambahan senyawa ammonium sulfat, Amonium sulfat adalah garam anorganik yang mengandung 21% unsur nitrogen dan 24% unsur belerang. Amonium sulfat memiliki bentuk fisik Granula higroskopik putih halus atau Kristal. Dan untuk sumber oksigen dipenuhi dari penambahan air suling.

Setelah dilakukan penimbangan, selanjutnya dilakukan pencampuran bahan-bahan tersebut. Pencampuran bahan dilakukan didalam bekker glass berukuran 500 ml , pencampuran dilakukan dengan menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan putaran 300 rpm dan didapat waktu yang diperlukan untuk menghomogenkan campuran tersebut yaitu selama 3 menit 1 detik. Untuk menghindari adanya bahan-bahan yang dapat mempengaruhi kelarutan zat yang digunakan, merubah warna media jika kena panas, meracuni atau dapat menghambat pertumbuhan bakteri, maka dalam pembuatan media sintetik tersebut digunakan air suling (aquadest) sebagai pelarutnya.

Kemudian setelah dilakukan penghomogenan prosedur selanjutnya yaitu melakukan pengukuran derajat keasaman (pH). Pengukuran derajat keasaman (pH) media sangat penting, karena jika media terlalu asam atau basa, maka pertumbuhan mikroba akan terhambat. Untuk memperoleh pH media sesuai dengan yang diinginkan maka perlu dilakukan penambahan larutan NaOH 1 N jika pH media terlalu rendah dan sebaliknya jika pH terlalu tinggi maka perlu ditambahkan larutan HCl 1 N.

Derajat keasaman (pH) yang didapat dari pengukuran menggunakan pH meter terhadap media yang telah di homogenkan yaitu sebesar 7.9. Sedangkan nilai pH yang dibutuhkan untuk pembuatan media yaitu sebesar 7.2 7.4 sehingga perlu ditambahkan larutan HCl 1 N untuk mendapatkan pH sesuai yang diinginkan. Larutan HCl yang kami tambahkan pada media yaitu sebanyak ± 3 ml, sehingga nilai pH berubah menjadi 7.3.

Setelah pH media sesuai dengan yang diinginkan, selanjutnya untuk mendapatkan media cair dilakukan pengisian media sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi ( 3 buah ) kemudian ditutup menggunakan aluminium foil.

Sedangkan untuk mendapatkan media dalam bentuk padat, media cair yang tersisa yaitu sebanyak ± 140 ml ditambahkan agar sebanyak 2.24 gram kemudian dipanaskan supaya agarnya larut dan homogen. Suhu dan kecepatan magnetic stirrer yang kami gunakan untuk memanaskan dan menghomogenkan media tersebut yaitu 300 0 C dengan kecepatan putaran 300 rpm dan didapatkan waktu yang dibutuhkan media untuk mendidih yaitu 24 menit 36 detik dimana media mendidih

pada suhu 95 0 C. Dalam memanaskan dan menghomogenkan media sesekali media diaduk menggunakan batang pengaduk pada bagian dasar pinggir bekker glass agar tidak terjadi penggumpalan.

Selanjutnya media yang telah mendidih dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan cawan petri. Sebanyak ± 5-6 ml dimasukan kedalam tabung reaksi ( 2 buah ) dan diletakan dalam posisi miring (agar miring) kemudian ditutup menggunakan aluminium foil, sedangkan sebanyak ± 15 ml dimasukan kedalam cawan petri ( 3 buah ) dengan cara membuka tutup cawan petri sedikit, secara hati-hati dan lakukan dengan cepat sebelum media agar mengental.

Media cair yang telah dibuat harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan, hal tersebut bertujuan agar media yang telah dibuat tidak terkontaminasi mikroba yang tidak diinginkan. Sterilisasi media dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung karakteristik media. Salah satu cara yang paling sering digunakan yaitu menggunakan otoklaf. Prinsip kerja otoklaf adalah uap panas bertekanan (tekanan 1 atm; suhu 121 0 C selama 15 menit ). Cara lain yang dapat digunakan yaitu dengan pasteurisasi untuk media yang mengandung bahan-bahan yang tidak tahan panas tinggi. Untuk mengecek apakah media yang disterilisasi tidak terkontaminasi maka media perlu didiamkan semalam sebelum digunakan. Media yang telah terkontaminasi tidak boleh disteril 2x karena akan merusak media tersebut.

Pada praktikum yang kami lakukan kami mensterilkan media cair menggunakan cara pasteurisasi dengan menggunakan water batch dimana suhu yang digunakan untuk pasteurisasi media cair tersebut yaitu 65 0 C selama 15 menit. Sebenarnya cara pasteurisasi tersebut kurang efektif dalam mensterilkan media karena ada mikroba yang dapat membentuk spora jika dipanaskan, dan ada spora yang tahan panas (90 0 C selama 15 sampai 145 menit) dan spora yang tidak tahan panas (90 0 C, 3 sampai 5 menit). Sehingga jika dalam mensterilkan media menggunakan cara pasteurisasi masih ada spora mikroba yang mampu bertahan dan akan berubah menjadi mikroba kembali setelah media dingin. Sehingga media yang disterilkan menggunakan cara pasteurisasi hanya mampu bertahan sekitar selama

1 minggu saja. Beda halnya dengan media yang disterilkan menggunakan otoklaf yang mampu bertahan selama berbulan-bulan.

Media yang sudah dibuat dan sudah steril mungkin tidak langsung digunakan sehingga sebaiknya disimpan di refrigerator (lemari es). Apabila media disimpan dalam suhu kamar untuk periode lama maka cenderung kehilangan kelembaban (dehidrasi) dan lebih mudah terkontaminasi.

Dari hasil pengamatan terhadap media yang telah dibuat, setelah 24 jam disimpan didalam lemari penyimpanan, media tidak mengalami perubahan warna dan belum ada tanda-tanda bahwa media yang telah dibuat mengalami kontaminasi. Tetapi setelah penyimpanan selama 48 jam salah satu media yang telah dibuat diketahui mengalami kontaminasi, media yang terkontaminasi adalah media padat dalam cawan petri. Hal tersebut diketahui setelah media yang telah dibuat dilakukan inokulasi finger print dan ditunggu selama 24 jam, ternyata pada pinggir wadah cawan petri terdapat bintik-bintik berwarna putih. Mikroba yang tumbuh di media mungkin dikarenakan pada saat penuangan media agar sewaktu masih cair, media terkontaminasi oleh udara dilingkungan, yang disebabkan karena kurang sterilnya ruangan yang dipakai dalam melakukan praktikum. Selain itu kontaminasi juga mungkin dapat disebabkan pada saat membuka tutup cawan petri saat penginokulasian dengan finger print udara disekitar kurang steril, sehingga mikroba yang terbang terbawa udara masuk kedalam media dan tumbuh dimedia.

6.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan, maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut:

1) Dalam pembuatan media hal yang harus dilakukan adalah memahami kebutuhan dasar nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme 2) Dalam pembuatan media sangat rentan terhadap kontaminasi dari mikroorganisme yang tidak diinginkan, sehingga sebelum melakukan praktikum semua alat yang akan digunakan harus disterilisasi terlebih

dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan tersebut dari semua bentuk kehidupan Tahapan-tahapan dalam pembuatan media yaitu meliputi: penimbangan,

3)

pencampuran bahan-bahan, pengukuran derajat keasaman (pH), pengisian media kedalam tempat/wadah tertentu, sterilisasi media dan penyimpanan media 4) Pengukuran derajat keasaman (pH) media sangat penting, karena jika media terlalu asam atau basa, maka pertumbuhan mikroba akan terhambat 5) Media cair dan padat yang akan dibuat sebenarnya mempunyai komposisi senyawa kimia yang sama, hanya saja dalam pembuatan media padat ditambahkan agar sebagai pemadat

6) Media cair yang telah dibuat harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan, hal tersebut bertujuan agar media yang telah dibuat tidak terkontaminasi mikroba yang tidak diinginkan dan cara yang paling efektif dalam mensterilkan media yaitu menggunakan otoklaf.

7)

Dari hasil pengamatan selama 48 jam terhadap media yang telah dibuat, ternyata ada beberapa media yang mengalami kontaminasi hal tersebut dibuktikan dengan terdapatnya bintik-bintik putih pada media.

7. DAFTAR PUSTAKA

Adji, Dhirgo, dkk. 2007. Perbandingan Efektivitas Sterilisasi Alkohol 70 %, Inframerah, Otoklaf, dan Ozon Terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus subtilis. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Cahyani, Vita Ratri. 2014. Petunjuk Praktikum M.K. Mikrobiologi Pertanian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Nester, E.W., Denise, G.A. and Evans, R. 2004. Microbiology a Human Perspective. Baltimore: Higher Education. Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Fakultas Kedokteran, Jakarta:

Universitas Indonesia. Waluyo, 2010. Mikrobiologi Umum. Malang: UMPress

8.

LAMPIRAN

No

Gambar

 

Keterangan

1

1 Neraca digital, digunakan dalam penimbangan bahan-bahan untuk pembuatan media

Neraca digital, digunakan dalam penimbangan bahan-bahan untuk pembuatan media

2

2 Cawan petri, digunakan sebagai wadah

Cawan

petri,

digunakan

sebagai

wadah

media padat

 

3

3 Tabung reaksi, digunakan sebagai wadah media cair dan media padat

Tabung reaksi, digunakan sebagai wadah media cair dan media padat

4

4 Bekker glass 500 ml, digunakan untuk mencampurkan bahan-bahan pembuatan media

Bekker glass 500 ml, digunakan untuk mencampurkan bahan-bahan pembuatan media

5

5 Batang pengaduk, digunakan untuk mengaduk media saat dipanaskan agar tidak terjadi penggumpalan didasar dinding bekker

Batang pengaduk, digunakan untuk mengaduk media saat dipanaskan agar tidak terjadi penggumpalan didasar dinding bekker glass saat pembuatan media padat

6

6 Magnetik stirrer, digunakan untuk menghomogenkan media didalam bekker glass

Magnetik stirrer, digunakan untuk menghomogenkan media didalam bekker glass

7

7 Pipet tetes, digunakan untuk penambahan HCl agar pH sesuai dengan yang diinginkan

Pipet tetes, digunakan untuk penambahan HCl agar pH sesuai dengan yang diinginkan

Gelas ukur, digunakan untuk mengukur volume dalam pembuatan media

8

8 Ammonium sulfat, sebagai sumber nitrogen dalam pembuatan media

Ammonium sulfat, sebagai sumber nitrogen dalam pembuatan media

9

9 Magnesium sulfat, sebagai sumber sulfur, dan mineral dalam pembuatan media

Magnesium sulfat, sebagai sumber sulfur, dan mineral dalam pembuatan media

10

10 Dipotasium pospat, sebagai sumber kalium dan pospat dalam pembuatan media

Dipotasium pospat, sebagai sumber kalium dan pospat dalam pembuatan media

11

11 Glukosa, sebagai sumber karbon dalam

Glukosa,

sebagai

sumber

karbon

dalam

pembuatan media

 

13

13 Potasium pospat monobase, sebagai sumber kalium dan pospat dalam pembuatan media

Potasium pospat monobase, sebagai sumber kalium dan pospat dalam pembuatan media

14

14 Agar-agar, digunakan sebagai pemadat dalam pembuatan media padat

Agar-agar, digunakan sebagai pemadat dalam pembuatan media padat

15

15 HCl, digunakan untuk menurunkan pH dalam pembuatan media

HCl, digunakan untuk menurunkan pH dalam pembuatan media

16

16 pH meter, digunakan untuk mengukur derajat

pH

meter, digunakan untuk mengukur derajat

keasaman media

17

17 Proses pencampuran bahan-bahan menggunakan stirrer dan magnetik stirrer

Proses pencampuran bahan-bahan menggunakan stirrer dan magnetik stirrer

18

18 Pengukuran nilai pH setelah penambahan ±3

Pengukuran nilai pH setelah penambahan ±3

ml

HCl 1N

19

19 Proses pencampuran dan pemanasan media yang telah ditambahkan agar-agar untuk pembuatan media padat

Proses pencampuran dan pemanasan media yang telah ditambahkan agar-agar untuk pembuatan media padat

20

20 Proses pengadukan didasar pinggir agar tidak terjadi penggumpalan dan pengukuran suhu

Proses pengadukan didasar pinggir agar tidak terjadi penggumpalan dan pengukuran suhu

21

21 Media cair yang berhasil dibuat dan telah dimasukan kedalam tabung reaksi

Media cair yang berhasil dibuat dan telah dimasukan kedalam tabung reaksi

22

22 Proses sterilisasi media cair menggunakan teknik pasteurisasi didalam water batch

Proses sterilisasi media cair menggunakan teknik pasteurisasi didalam water batch

23

23 Media padat yang berhasil dibuat dan telah dimasukan kedalam tabung reaksi dalam posisi miring

Media padat yang berhasil dibuat dan telah dimasukan kedalam tabung reaksi dalam posisi miring

24

24 Media padat yang berhasil dibuat dan telah dimasukan kedalam cawan petri

Media padat yang berhasil dibuat dan telah dimasukan kedalam cawan petri

25

25 Salah satu media padat yang telah dilakukan proses penyimpanan selama 48 jam dan ternyata terdapat

Salah satu media padat yang telah dilakukan proses penyimpanan selama 48 jam dan ternyata terdapat bintik-bintik putih, yang menandakan bahwa media terkontaminasi