Anda di halaman 1dari 12

REFARAT

OBAT ANASTESI INHALASI

Disusun Oleh:

Renata Telaumbanua (102118144)

Rafel Tantyo (102118189)

Pembimbing : dr. Roni, Sp.An

RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI SUMATERA UTARA


FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM
UNIVERSITAS BATAM
BINJAI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala nikmat dan
rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas referat yang berjudul “OBAT-OBAT
ANASTESI INHALASI” . Adapun penulisan referat ini di buat dengan tujuan memenuhi salah
satu tugas dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior di SMF Ilmu Anastesi di RSUD
Dr. RM. Djoelham Binjai. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada dr.
roni, Sp.An selaku pembimbing yang telah membantu dan memberikan bimbingan dalam
penyusunan referat ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada semua pihak yang
telah membantu dan memberi semangat sehingga penyusunan refrat ini terselesaikan dengan
baik.

Demikian kata pengantar ini penulis buat.Untuk segala kekurangan dalam referat ini,
penulis mohon maaf dan juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif bagi
perbaikan referat. Terima Kasih
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..………………………………………………… . i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi ..................................................................................... 2
2.2 Tujuan ...................................................................................... 2
2.3 Cara pemberian ........................................................................ 3
2.4 Berdasarkan kemasan ............................................................... 3
2.5 jeni-jenis obat ........................................................................... 4
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 21
BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Anastesi inhalasi merupakan obat-obatan yang paling sering digunakan untuk keperluan
anastesi umum. Penambahan obat anastesi inhlasi kedalam oksigen inspirasi sebanyak 1% saja
dapat menyebabkan ketidaksadaran dan amnesia, yang mana keadaan tersebut adalah komponen
esensial untuk anastesi umum. Peningkatan sedaei atau hypnosis dan analgesia dapat dicapai
dengan mengkombinasi dengan adjuvant intravena, seperti opioid atau benzodiazepine.

Obat anastesi inhalasi yang paling terkenal pada penggunaan untuk operasi bedah dewasa
adalah isofluran, dan dua jenis baru yaitu sevofluran dan desfluran. Untuk anak-anak, halotan
dan sevofluran adalah yang paling banyak digunakan. Walaupun banyak kesamaan antara obat-
obatan anastesi inhalasi dalam hal efek keseluruhan (misalnya memerlukan dosis tertentu untuk
menghasilkan efek penurunan tekanan darah) terdapat perbedaan-perbedaan yang mempengaruhi
pemilihan obat-obat tersebut oleh petugas medis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi PPOK

PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di
saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. Pada PPOK,
bronkitis kronik dan emfisema sering ditemukan bersama, meskipun keduanya memiliki
proses yang berbeda. Akan tetapi menurut PDPI 2010, bronkitis kronik dan emfisema tidak
dimasukkan definisi PPOK, karena bronkitis kronik merupakan diagnosis klinis, sedangkan
emfisema merupakan diagnosis patologi. Bronkitis kronik merupakan suatu gangguan klinis
yang ditandai oleh pembentukan mukus yang meningkat dan bermanifestasi sebagai batuk
kronik. Emfisema merupakan suatu perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai oleh
pembesaran alveoulus dan duktus alveolaris serta destruksi dinding alveolar.

B. Epidemiologi
Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) merupakan penyakit kronik yang
menjadi penyebab kematian nomor tiga di dunia dan diperkirakan angka kejadiannya
terus meningkat. Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) telah mengakibatkan
lebih dari 3 juta orang meninggal dunia pada tahun 2012 atau sebesar 6% dari total
kematian di dunia pada tahun tersebut (WHO, 2015). Di Amerika Serikat data tahun 2007
menunjukkan bahwa pre-valensi PPOK sebesar 10,1%, pada laki-laki sebesar 11,8%) dan
untuk perempuan 8,5%.

c. Faktor Resiko

1.Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih
penting dari faktor penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan :

a. Riwayat merokok

-Perokok aktif

-Perokok pasif

-Bekas perokok

b. Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang
rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun :
- Ringan : 0-200

- Sedang : 200-600

- Berat : >600

2. Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja

3. Hipereaktiviti bronkus

4. Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang

D. Etiologi

Etiologi
. Merokok dan polusi
Host factor

Patobiologi
-gangguan perkembangan paru
-accelerated decline
-kerusakan paru
-inflamasi paru dan sistemik

Patologi
- Gangguan atau abnormalitas saluran
napas kecil
- emfisema
- efek sistemik

Hambatan aliran udara Manifestasi klinis


- hambatan aliran udara - gejala
yang persisten - eksaserbasi
- komrbiditas
Cara pemberian anastesi inhalan ada 3 macam yaitu:

1. Open drop
Penderita menghirup masker atau kain kasa yang ditetesi dengan obat anastesi
2. Semi closed
Penderita menghirup obat anastesi dari suatu alat (EMO, mesin anastesi lain)
3. Closed system
Dengan suatu alat, obat anastesi yang dikeluarkan oleh penderita dapat dihirup kembali

C. Berdasarkan kemasannya, obat anastesi inhalasi ada 2 macam, yaitu:

1. Obat anastesi umum inhalasi yang berupa cairan yang mudah menguap
a. Derivat halogen hidrokarbon
- Halotan
- Trikhloroetilen
- Chloroform
b. Derivat eter
- Dietil eter
- Metoksifluran
- Enfluran
- Isofluran

2. Obat anastesi umum yang berupa gas.


a. Nitrous oksida (N20)
b. Siklopropan

D. jenis – jenis obat anastesi inhalasi

1. Halotan
halotan berbentuk cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar dan tidak
mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen, tidak irirtatif dan mudah rusak bila terkena
cahaya, tetapi stabil disimpan memakai botol warna gelap.

Dosis
Dosis untuk induksi inhalasi adalah 2-4%, dosis untuk anak 1,5-2%. Pada induksi inhalasi
kedalaman yang cukup terjadi setelah 10 menit

Kontraindikasi
Penggunaan halotan tidak dianjurkan pada pasien:
1. menderita gangguan fungsi hati dan gangguan irama jantung
2. operasi kraniotomi

2. Enflurane
enfluran adalah obat anastesi inhalasi yang berbentuk cair, tidak mudah terbakar, tidak
berwarna, tidak iritatif, lebih stabil dibandingkan halotan, induksi lebih cepat disbanding halotan,
tidak terpengaruh dengan cahaya.

Dosis
a. untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah 2,0-3,0% bersama
dengan N20.
b. untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan, konsentrasinya berkisar antara 1,0-2,5%,
sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 0,5-1%

Kontraindikasi
Hati-hati pada gangguan fungsi ginjal. Pada akhir-akhir ini penggunaan enfluran relatif
jarang karena efeknya terhadap ginjal dan hati

3. isofluran
isofluran merupakan cairan tidak berwarna dan berbau tajam, menimbulkan iritasi jalan
nafas jika dipakai dengan konsentrasi tinggi menggunakan dengan sungkup muka. Tidak mudah
terbakar, tidak terpengaruh cahaya dan proses induksi dan pemulihannya relative cepat
dibandingkan dengan obat-obat anastesi yang ada pada saat ini tapi masih lebih lambat
dibandingkan dengan sevofluran

Dosis
a. untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah 2-3% bersamasama
dengan N20.
b. Untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan konsntrasinya berkisar antara 1-2,5%,
sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 0,5-1%
Pada pasien yang mendapat anastesi isofluran kurang dari 1 jam akan sadar kembali
sekitar 7 menit setelah obat dihentikan. Sedangkan pada tindakan 5-6 jam, kembali sadar sekitar
11 menit setelah obat dihentikan.

Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi yang unik. Hati-hati pada hipovolemik berat.

4. Sevofluran
Sevofluran dikemas dalam bentuk cairan, tidak berwarna, tidak eksplosif, tidak berbau,
stabil ditempat biasa. Obat ini tidak bersifat iritatif terhadap jalan nafas sehingga baik untuk
induksi.

Dosis

a. Untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah 3,0-5,0% bersama-

sama dengan N20.

b. Untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan, konsentrasinya berkisar antara 2,0-3,0%,

sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 0,5-1%.

Kontraindikasi

Hati-hati pada pasien yang sensitif terhadap “drug induced hyperthermia”, hipovolemik

berat dan hipertensi intracranial.

5. Desfluran

Desfluran sangat mudah menguap dibandingkan dengan agen volatile yang lain

Dosis

a. Untuk induksi, disesuaikan dengan kebutuhan.


b. Untuk pemeliharaan tergantung dengan racikan obat yang lain dan disesuaikan dengan

kebutuhan.

Kontraindikasi

Hati-hati pada pasien yang sensitif terhadap “drug induced hyperthermia”, hipovolemik

berat dan hipertensi intracranial.

BAB III
KESIMPULAN

Anastesi inhalasi yang sempurna adalah yang masa induksi dan masa
pemulihannya singkat dan nyaman, peralihan stadium anastesinya terjadi lebih cepat,
relaksasi ototnya sempurna, berlangsung cukup aman, dan tidak menimbulkan efek toksik
atau efek samping yang berat dalam dosis anastetik yang lazim.
Dalam melakukan tindakan anastesi yang perlu dimonitor selama operasi adalah
tingkat kedalaman anastesi, efektivitas kardiovaskular dan efisiensi perfusi jaringan
(tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, MAP, EKG, suhu)

DAFTAR PUSTAKA

Barash, paul G.; Cullen, bruce F.; Stoelting, Robert K. Clinical Anestesia. 2006

Latief, Said A. petunjuk praktis Anestesiologi Edisi 3. jakarta : fakultas kedokteran indonesia.
2007

Mangku, Gde,; Senapathi. Ilmu anastesi dan reanimasi. Jakarta : indeks Jakarta. 2010

Gunawan, Sulistia Gan. Farmakologi dan terapi edisi 5. jakarta : gaya baru. 2007