Anda di halaman 1dari 14

MATERI BHD (BANTUAN HIDUP DASAR)

OLEH
STAF MEDIS DAN PARAMEDIS UGD
RS PRATAMA GEMA SANTI NUSA PENIDA
KLUNGKUNG, BALI
2018
LATAR BELAKANG

Berdasarkan American Health Association (AHA 2010), Basic Life Support (BLS)
adalah tindakan pertolongan pertama yang dilakukan untuk menyelamatkan nyawa seseorang
yang mengalami kondisi gawat, termasuk yang mengalami serangan jantung/henti jantung
dan henti nafas. Seseorang yang mengalami henti nafas ataupun henti jantung belum tentu ia
mengalami kematian, mereka masih dapat ditolong. Dengan melakukan tindakan pertolongan
pertama berupa Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan pemeriksaan Primary survey (Yenny
Okvitasari , 2017).
Indonesia merupakan salah satu daerah tujuan wisata maritim yang menjadikan
Indonesia memiliki potensi untuk terjadinya kasus tenggelam. Oleh karena itu, diperlukan
pengetahuan mengenai bantuan hidup dasar untuk dapat menangani kasus tersebut di
lapangan. Bantuan hidup dasar ialah tindakan untuk mempertahankan jalan nafas dan
membantu pernafasan dan sirkulasi tanpa menggunakan alat, selain alat bantu nafas
sederhana. Faktor terpenting yang menentukan hasil dari kejadian tenggelam adalah durasi
dan tingkat keparahan hipoksia yang ditimbulkan. Penanganan yang dilakukan pada near
drowning di tempat kejadian meliputi menyelamatkan korban dari air, pemberian nafas
bantuan, kompresi dada, membersihkan muntahan yang memungkinkan terjadinya sumbatan
jalan nafas, mencegah terjadinya kehilangan panas tubuh dan transportasi korban ke fasilitas
gawat darurat terdekat untuk evaluasi dan pemantauan (Prawedana & Suarjaya, 2013).
Pekerja pariwisata terutama di daerah maritim yang bertugas di daerah pantai dan laut
memungkinkan menghadapi kejadian yang tidak diinginkan, sehingga diharapkan memiliki
pengetahuan tentang BHD. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan adalah dengan
pendidikan kesehatan dan pelatihan dasar. Tujuan dari pendidikan kesehatan tentang Bantuan
Hidup Dasar (BHD) pada pelaku pariwisata yang ada di Bali-Nusa Penida, khususnya bagi
staff Fantasi group adalah agar para pelaku wisata ini memiliki pengetahuan tentang BHD
dan dapat melakukan penanganan awal dengan memberikan bantuan hidup dasar yang tepat
serta membantu transportasi korban ke fasilitas gawat darurat terdekat untuk evaluasi dan
pemantauan.
MATERI BHD
Bantuan Hidup Dasar (BHD) suatu tindakan pertolongan yang dilakukan kepada
korban yang mengalami henti napas dan henti jantung. Keadaan ini bisa disebabkan karena
korban mengalami serangan jantung (heart attack), tenggelam, tersengat arus listrik,
keracunan, kecelakaan, dan lain-lain. Pada kondisi napas dan denyut jantung berhenti,
sirkulasi darah dan transportasi oksigen juga berhenti sehingga dalam waktu singkat organ-
organ tubuh terutama organ vital akan mengalami kekurangan oksigen yang berakibat fatal
bagi korban dan mengalami kerusakan. BHD terdiri dari identifikasi henti jantung dan
aktivasi Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), Resusitasi Jantung Paru (RJP)
dini, dan kejut jantung menggunakan automated external defibrillator (AED) atau alat kejut
jantung otomatis. Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah serangkaian tindakan penyelamatan
jiwa untuk meningkatkan kemungkinan bertahan hidup dari korban yang mengalami henti
jantung. Inti dari RJP yang optimal adalah bagaimana cara memberikan RJP sedini mungkin
dan seefektif mungkin, oleh karena itu pada bahasan ini akan dijelaskan mengenai bagaimana
cara mengenali korban henti jantung sedini mungkin hingga bagaimana cara menanganinya.
Rantai Keselamatan (gambar 1) yang mencakup:

Gambar. 1

1. Deteksi dini dari henti jantung dan aktivasi sistem pelayanan gawat darurat
terpadu (SPGDT)
Sebelum melakukan tindakan, pertama penolong harus mengamankan lingkungan sekitar
dan diri sendiri. Bersamaan dengan itu, penolong juga perlu memeriksa pernapasan
korban, jika korban tidak sadarkan diri dan bernapas secara abnormal (terengah-engah),
penolong harus mengasumsikan korban mengalami henti jantung. Penolong harus dapat
memastikan korban tidak responsif dengan cara memanggil korban dengan jelas, lalu
menepuk-nepuk korban atau menggoyangkan bahu korban. Jika korban tidak
memberikan respons maka penolong harus segera mengaktifkan SPGDT dengan
menelepon Ambulans Gawat Darurat 118 atau ambulans rumah sakit terdekat. Ketika
mengaktifkan SPGDT, penolong harus siap dengan jawaban mengenai lokasi kejadian,
kejadian yang sedang terjadi, jumlah korban dan bantuan yang dibutuhkan. Rangkaian
tindakan tersebut dapat dilakukan secara bersamaan apabila pada lokasi kejadian terdapat
lebih dari satu penolong, misalnya, penolong pertama memeriksa respons korban
kemudian melanjutkan tindakan BHD sedangkan penolong kedua mengaktifkan SPGDT
dengan menelepon ambulans terdekat dan mengambil alat kejut jantung otomatis (AED).

Gambar 2. Memeriksa kesadaran korban

2. Melakukan RJP secara dini dengan teknik penekanan yang tepat


Resusitasi jantung paru terdiri dari penekanan dada dan bantuan napas dengan
perbandingan 30:2, berarti 30 kali penekanan dada kemudian dilanjutkan dengan
memberikan 2 kali bantuan napas. Bantuan napas diberikan jika penolong yakin
melakukannya. Penekanan dada yang efektif dilakukan dengan prinsip tekan kuat, tekan
cepat, mengembang sempurna, dan interupsi minimal. Untuk memaksimalkan efektivitas
penekanan dada, korban harus berada di tempat yang permukaannya rata. Penolong
berlutut di samping korban apabila lokasi kejadian di luar rumah sakit atau berdiri di
samping korban apabila di rumah sakit. Penolong meletakkan pangkal telapak tangan di
tengah dada korban dan meletakkan tangan yang lain di atas tangan yang pertama dengan
jari-jari saling mengunci dan lengan tetap lurus. Penolong memberikan penekanan dada
dengan kedalaman minimal 5cm (prinsip tekan kuat) dengan kecepatan minimal 100 kali
permenit (prinsip tekan cepat).

Gambar 3. Posisi badan serta tangan penolong pada dada korban

Penolong juga harus meminimalisasi interupsi saat melakukan penekanan (prinsip


interupsi minimal). Bantuan napas diberikan setelah membuka jalan napas korban
dengan teknik menengadahkan kepala dan mengangkat dagu (head tilt – chin lift).
Gambar 4. Membuka jalan napas dengan menengadahkan kepala dan mengangkat dagu.

Setelah itu cuping hidung korban dijepit menggunakan ibu jari dan telunjuk agar tertutup
kemudian diberikan napas bantuan sebanyak dua kali, masing-masing sekitar 1 detik,
buang napas seperti biasa melalui mulut. Napas bantuan diberikan dari mulut ke mulut
atau menggunakan pelindung wajah yang diletakkan di wajah korban. Lihat dada korban
saat memberikan napas bantuan, apakah dadanya mengembang, kemudian tunggu hingga
kembali turun untuk memberikan napas bantuan berikutnya.

Gambar 5. Memberikan napas bantuan


Jika memungkinkan, RJP dilakukan bergantian setiap 2 menit (5 siklus RJP) dengan
penolong lain. Penolong melakukan penekanan dada sampai alat kejut jantung otomatis
(AED) datang dan siap untuk digunakan atau bantuan dari tenaga kesehatan telah datang.

3. Melakukan Kejut Jantung dengan Alat Kejut Jantung Otomatis (AED)


Alat kejut jantung otomatis (AED) merupakan alat yang dapat memberikan kejutan
listrik pada korban. Pertama, pasang terlebih dahulu bantalan (pad) alat kejut jantung
otomatis pada dada korban sesuai instruksi yang ada pada alat. Setelah dinyalakan, ikuti
instruksi dari alat tersebut yaitu jangan menyentuh korban karena alat kejut jantung
otomatis akan menganalisis irama jantung korban. Jika alat mengidentifikasi irama
jantung yang abnormal dan membutuhkan kejut jantung (untuk mengembalikan irama
kelistrikan jantung menjadi normal), minta orang-orang agar tidak ada yang menyentuh
korban, lalu penolong menekan tombol kejut jantung pada alat. Lanjutkan penekanan
dada segera setelah alat memberikan kejutan listrik pada korban. Hal ini dilakukan untuk
mengembalikan kelistrikan jantung seperti semula.
Gambar 6. Proses Penggunaan alat AED

Posisi Pemulihan
Posisi ini dilakukan jika korban sudah bernapas dengan normal. Posisi ini dilakukan
untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko tersumbatnya jalan
napas dan tersedak. Tidak ada standard baku untuk melakukan posisi pemulihan, yang
terpenting adalah korban dimiringkan agar tidak ada tekanan pada dada korban yang
bisa mengganggu pernapasan. Namun rekomendasi posisi pemulihan adalah
meletakkan tangan kanan korban ke atas, tekuk kaki kiri korban, kemudian tarik
korban sehingga korban miring ke arah kanan dengan lengan di bawah kepala korban.
Berikut gambar mengenai posisi pemulihan.

Gambar 7. Cara melakukan posisi pemulihan

Secara umum, langkah-langkah pertolongan bantuan hidup dasar pada dewasa dari
identifikasi korban sampai pemasangan AED adalah sebagai berikut:
Gambar 8. Algoritma Bantuan Hidup Dasar korban dewasa

Selanjutnya adalah Bantuan Hidup Dasar pada anak. Berikut adalah Rantai Keselamatan
(gambar 11) pada anak:

Gambar 9. Rantai Keselamatan untuk Anak


1. Mencegah terjadinya cedera dan henti jantung
2. Melakukan RJP secara dini dengan teknik penekanan yang tepat
3. Aktivasi sistem pelayanan gawat darurat terpadu (SPGDT)
4. Melakukan Bantuan Hidup Lanjut yang efektif
5. Melakukan resusitasi pasca henti jantung secara terintegrasi
Berikut adalah langkah-langkah dalam BHD pada anak :
1. Pastikan Keselamatan Diri Sendiri dan Korban
Selalu pastikan area penolong dan korban aman untuk kedua belah pihak.
2. Pastikan Korban Membutuhkan RJP
Jika korban bernapas secara normal, tidak perlu melakukan RJP. Jika tidak ada cedera,
segera miringkan kepala korban atau baringkan dalam posisi pemulihan untuk
mematenkan jalan napas dan mencegah tersedak. Namun, jika korban tidak sadarkan diri,
tidak memberikan respons, dan tidak bernapas atau napasnya terengah-engah, segera
mulai lakukan RJP.
3. Mulai Penekanan Dada
Penekanan dada dilakukan secara cepat dengan kecepatan minimal 100 kali per menit,
lalu secara kuat, berikan penekanan dengan gaya tekan hingga sedalam minimal 4 cm
pada bayi dan minimal 5 cm pada anak. Lalu pastikan dada mengembang kembali secara
sempurna untuk memungkinkan darah kembali terisi dahulu pada jantung, minimalisasi
interupsi saat penekanan dada, dan jangan berikan bantuan napas yang berlebihan.
Lakukan penekanan pada permukaan yang datar dan keras. Untuk kasus bayi, penekanan
dada dilakukan pada tulang dada dengan 2 jari, tempatkan jari dibawah garis antara
puting bayi. Jangan sampai melakukan penekanan pada ujung tulang dada dan tulang
rusuk.

Gambar 10. Penekanan pada Bayi


Untuk anak, penekanan dada dilakukan pada bagian setengah bawah dari tulang dada,
dengan 1 atau 2 tangan, menggunakan bagian pangkal dari telapak tangan. Pada anak,
akan lebih baik jika penolong tidak hanya melakukan penekanan, tetapi juga memberikan
napas bantuan. Akan tetapi, jika penolong tidak terlatih untuk memberikan napas
bantuan, maka tidak perlu dilakukan.
4. Buka Jalan Napas dan Beri Napas Bantuan
Pada anak yang tidak sadarkan diri, biasanya lidah menghalangi saluran pernapasan, oleh
karena itu penolong harus membuka jalan napas korban dengan teknik menengadahkan
kepala dan mengangkat dagu seperti pada dewasa. Lakukan penekanan dada dan bantuan
napas secara terkoordinasi. Untuk 1 orang penolong, rasio perbandingan dengan
pemberian napas bantuan yang dilakukan adalah 30:2, dimana setelah dilakukan 30
penekanan terlebih dahulu, diikuti dengan 2 napas bantuan, sebanyak 5 siklus.4 Untuk
korban anak dan bayi, jika terdapat 2 penolong yang merupakan tenaga kesehatan yang
sudah terlatih untuk melakukan bantuan hidup dasar dilakukan bantuan dengan
perbandingan penekanan dada dan napas bantuan sebesar 15:2.1 Untuk bayi, lakukan
pemberian napas dengan teknik mulut penolong ke mulut dan hidung bayi, pastikan
seluruh mulut dan hidung korban tertutup. Untuk anak, lakukan dengan teknik mulut ke
mulut seperti pada orang dewasa. Setiap napas diberikan sekitar 1 detik, pastikan
terdapat kenaikan dada ketika diberikan napas bantuan.
5. Mengaktifkan SPGDT
Jika ada dua penolong, salah satu penolong harus segera mengaktifkan SPGDT
bersamaan dengan Bantuan Hidup Dasar yang dilakukan oleh penolong yang satu. Pada
anak, SPGDT dilakukan setelah melakukan siklus RJP selama 2 menit (5 siklus, di mana
masing-masing siklus terdiri dari 30 penekanan dan 2 bantuan napas). Setelah itu,
penolong harus kembali dan menggunakan alat kejut jantung otomatis (AED) jika ada
atau melanjutkan RJP. RJP dilakukan hingga bantuan datang atau korban bernapas secara
normal kembali.

Daftar Tilik Bantuan Hidup Dasar Dewasa

No. Proses yang Dilakukan (˅)


1 Amankan diri dan lokasi serta perkenalkan diri
2 Memakai perlengkapan perlindungan diri (sarung tangan, pelindung wajah)
3 Mengecek apakah korban bernapas terengah-engah atau tidak bernapas dan
kesadaran korban dengan memanggil korban, menepuk-nepuk korban atau
menggoyangkan bahu korban
4 Minta bantuanAktifkan SPGDT
5 Penekanan dada di tulang dada (di tengah dada) sebanyak 30 kali.
Tekan kuat, tekan cepat, mengembang sempurna, dan interupsi minimal
6 Membuka jalan napas korban dengan teknik menengadahkan kepala dan
mengangkat dagu
7 Menjepit hidung korban lalu memberikan napas bantuan 2 kali masing-masing
sekitar 1 detik melalui mulut ke mulut atau menggunakan pelindung wajah.
Lihat dada korban saat memberikan napas bantuan
8 Siklus RJP dilakukan dengan perbandingan (30:2)
RJP dilakukan hingga ada alat kejut jantung otomatis atau bantuan datang
9 Memasang alat kejut jantung otomatis (AED) pada dada korban, lakukan
sesuai instruksi alat
10 Resusitasi jantung paru sesuai instruksi alat
11 Melakukan posisi pemulihan jika korban bernapas kembali
12 Seluruh langkah dilakukan secara berurutan

Daftar Tilik Bantuan Hidup Dasar Anak

No. Proses yang Dilakukan (V)


1 Amankan diri dan lokasi serta perkenalkan diri
2 Memakai perlengkapan perlindungan diri (sarung tangan, pelindung wajah)
3 Mengecek apakah korban bernapas terengah-engah atau tidak bernapas dan
kesadaran korban.
4 Jika tidak bernapas atau tidak sadar, lakukan RJP selama 2 menit (5 siklus)
yang terdiri atas 30 kali penekanan pada dada dan 2 kali bantuan napas
Penekanan dada
 Penekanan dada pada anak-anak sama seperti orang dewasa atau
hanya menggunakan 1 tangan
 Penekanan dada pada bayi menggunakan kedua ibu jari jika
menggunakan dua tangan atau jari telunjuk dan jari tengah jika
menggunakan satu tangan
 Prinsip: Tekan kuat, tekan cepat, mengembang sempurna, dan interupsi
minimal
Bantuan Napas
 Membuka jalan napas korban dengan teknik menengadahkan kepala dan
mengangkat dagu
 Untuk korban anak, jepit hidung korban lalu berikan napas bantuan 2
kali masing-masing sekitar 1 detik melalui mulut penolong ke mulut
korban
 Untuk korban bayi, berikan napas bantuan 2 kali masing-masing sekitar
1 detik melalui mulut penolong ke mulut dan hidung korban
 Lihat dada korban saat memberikan napas bantuan

5 Minta bantuanAktifkan SPGDT


6 Memasang alat kejut jantung otomatis (AED) pada dada korban, lakukan
sesuai instruksi alat
7 Resusitasi jantung paru sesuai instruksi alat
8 Melakukan posisi pemulihan jika korban bernapas kembali
9 Seluruh langkah dilakukan secara berurutan

Materi Tersedak
Tersedak atau tersumbatnya saluran napas dengan benda asing dapat menjadi
penyebab kematian. Biasanya saat seseorang mengalami tersedak, orang lain dapat membantu
saat korban masih sadar. Penanganan yang dilakukan biasanya berhasil dan tingkat
kelangsungan hidupdapat mencapai 95%. Pada orang dewasa, tersedak paling sering terjadi
ketika makanan tidak dikunyah sempurna, serta makan sambil berbicara atau tertawa. Pada
anak-anak, penyebab tersedak adalah tidak dikunyahnya makanan dengan sempurna dan
makan terlalu banyak pada satu waktu. Selain itu, anak-anak juga sering memasukkan benda-
benda padat kecil ke dalam mulutnya.
Karena pengenalan tanda-tanda tersedak merupakan kunci dari keberhasilan
penanganan, penting bagi kita untuk dapat membedakan tersedak dengan pingsan, serangan
jantung, kejang, atau keadaan-keadaan lain yang juga dapat menyebabkan kesulitan bernapas
tiba-tiba, kebiruan, dan hilang kesadaran. Benda asing dapat menyebabkan penyumbatan
yang ringan atau berat. Penyelamat harus segera melakukan penanganan jika korban tersedak
menunjukkan tanda-tanda penyumbatan yang berat yaitu tanda-tanda pertukaran udara yang
buruk dan kesulitan bernapas, antara lain batuk tanpa suara, kebiruan, dan ketidakmampuan
untuk berbicara atau bernapas. Korban dapat sambil memegang atau mencengkeram
lehernya. Hal itu merupakan tanda umum dari tersedak. Segera tanyakan, “Apa anda
tersedak?” Jika korban mengiyakan dengan bersuara dan masih dapat bernapas, ini dapat
menunjukkan korban mengalami sumbatan saluran napas yang ringan. Jika korban
mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya tanpa berbicara, ini dapat menunjukkan
korban mengalami sumbatan saluran napas yang berat.3 Pada bayi yang tersedak, harus
diperhatikan apakah ada perubahan sikap bayi tersebut karena mereka belum bisa melakukan
tanda umum tersedak. Perubahan yang mungkin terlihat adalah kesulitan bernapas, batuk
yang lemah, dan suara tangisan lemah.
Ketika yang ditemukan adalah tanda-tanda penyumbatan ringan dan korban dapat
batuk, jangan menghalangi proses batuk dan usaha bernapas spontan dari korban. Jika batuk
pada korban menjadi tanpa suara, kesulitan bernapas meningkat, dan disertai suara napas
tidak biasa pada korban, atau jika korban menjadi tidak sadarkan diri yang merupakan tanda-
tanda penyumbatan berat, segera aktivasi SPGDT. Jika terdapat lebih dari satu penyelamat,
satu penyelamat mengaktivasi SPGDT dan satu penyelamat lagi membantu korban.
Terdapat beberapa manuver yang terbukti efektif untuk menangani tersedak, antara lain back
blow (tepukan di punggung), abdominal thrust (hentakan pada perut) disebut juga dengan
manuver Heimlich, dan chest thrust (hentakan pada dada).
Tepukan di punggung (back blow) dilakukan dengan memberikan lima kali tepukan di
punggung korban. Berikut cara melakukan tepukan di punggung (back blow)
1. Berdiri di belakang korban den sedikit bergeser kesamping
2. Miringkan korban sedikit ke depan dan sangga dada korban dengan salah satu tangan
3. Berikan lima kali tepukan di punggung bagian atas di antara tulang belikat menggunakan
tangan bagian bawah
Namun, untuk mempermudah, jika menemukan orang tersedak disarankan untuk langsung
melakukan manuver hentakan pada perut sampai sumbatan hilang. Yang perlu diingat adalah
manuver hentakan pada perut hanya boleh dilakukan untuk anak berusia diatas 1 tahun dan
dewasa. Manuver hentakan pada perut dapat membuat korban batuk yang diharapkan cukup
kuat untuk menghilangkan sumbatan pada saluran napas. Manuver hentakan pada perut
membuat tekanan (penekanan) pada paru-paru dan memaksa udara keluar. Udara yang
dipaksa keluar juga akan memaksa keluar benda yang membuat korban tersedak.
Berikut cara melakukan manuver hentakan pada perut:
1) Miringkan korban sedikit ke depan dan berdiri di belakang korban dan letakkan salah satu
kaki di sela kedua kaki korban.
2) Buat kepalan pada satu tangan dengan tangan lain menggenggam kepalan tangan tersebut.
Lingkarkan tubuh korban dengan kedua lengan kita.
3) Letakkan kepalan tangan pada garis tengah tubuh korban tepat di bawah tulang dada atau
di ulu hati.
4) Buat gerakan ke dalam dan ke atas secara cepat dan kuat untuk membantu korban
membatukkan benda yang menyumbat saluran napasnya. Manuver ini terus diulang hingga
korban dapat kembali bernapas atau hingga korban kehilangan kesadaran.
Gambar 11. Tanda tersedak dan cara melakukan Heimlich Manuver

Jika korban kehilangan kesadaran, baringkan korban secara perlahan sehingga posisinya
terlentang dan mulai lakukan RJP. Setiap saluran napas dibuka saat RJP, penyelamat harus
memeriksa apakah terdapat benda asing pada mulut korban dan mengambilnya apabila
menemukannya. Apabila korban tersedak sedang hamil atau mengalami kegemukan, manuver
hentakan pada perut mungkin tidak efektif. Pada keadaaan-keadaan tersebut, dapat dilakukan
manuver hentakan pada dada (Chest Trust).
1) Letakkan tangan di bawah ketiak korban
2) Lingkari dada korban dengan lengan kita
3) Letakkan bagian ibu jari pada kepalan di tengah-tengah tulang dada korban (sama seperti
tempat melakukan penekanan dada pada RJP)
4) Genggam kepalan tangan tersebut dengan tangan satunya dan hentakan ke dalam dan ke
atas.
Perlu diketahui bahwa manuver hentakan pada perut tidak direkomendasikan untuk bayi
dengan usia di bawah 1 tahun karena dapat menyebabkan cedera pada organ dalamnya
sehingga untuk mengatasi tersedak dilakukan manuver tepukan di punggung dan hentakan
pada dada.
Berikut langkah-langkah manuver tepukan punggung dan hentakan dada pada bayi:
1. Posisikan bayi menelungkup seperti pada gambar 12 dan lakukan tepukan di punggung
dengan menggunakan pangkal telapak tangan sebanyak lima kali.
2. Kemudian, dari posisi menelungkup, telapak tangan kita yang bebas menopang bagian
belakang kepala bayi sehingga bayi berada diantara kedua tangan kita (tangan satu
menopang bagian belakang kepala bayi, dan satunya menopang mulut dan wajah bayi).
3. Lalu, balikan bayi sehingga bayi berada pada posisi menengadah dengan telapak tangan
yang berada di atas paha menopang belakang kepala bayi dan tangan lainnya bebas
seperti pada gambar 13.
4. Lakukan manuver hentakan pada dada sebanyak lima kali dengan menggunakan jari
tengah dan telunjuk tangan yang bebas di tempat yang sama dilakukan penekanan dada
saat RJP pada bayi.
5. Jika korban menjadi tidak sadar, lakukan RJP

Gambar 12. Gambar 13.

Jika penyelamat tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan, segera aktivasi SPGDT,
jangan ditunda. Penyelamat mungkin dapat berhasil menghentikan korban tersedak sebelum
bantuan datang namun akan lebih baik jika korban ditangani oleh tenaga medis. Jika masih
terdapat benda asing pada saluran napas, tenaga medis yang datang dapat melakukan
penanganan segera dan membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Gambar 14. Algoritma pertolongan tersedak